• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB IV DATA DAN ANALISIS DATA

A. PELAKSANAAN PENELITIAN

3. Minat Belajar

2. Bagaimanakah keaktifan siswa SMP Yos Sudarso Cigugur kelas VIII pada materi pembiasan cahaya melalui penerapan metode inkuiri? 3. Bagaimanakah minat belajar siswa SMP Yos Sudarso Cigugur kelas

VIII pada materi pembiasan cahaya melalui penerapan metode inkuiri?

C. TUJUAN PENELITIAN

Dari rumusan permasalahan yang telah dikemukakan di atas, maka tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui:

1. Peningkatan pemahaman konsep siswa SMP Yos Sudarso Cigugur kelas VIII untuk materi pembiasan cahaya melalui penerapan metode inkuiri.

2. Keaktifan siswa SMP Yos Sudarso Cigugur kelas VIII pada materi pembiasan cahaya melalui penerapan metode inkuiri.

3. Minat belajar siswa SMP Yos Sudarso Cigugur kelas VIII pada materi pembiasan cahaya melalui penerapan metode inkuiri.

D. MANFAAT PENELITIAN

1. Bagi Sekolah

Hasil dari penelitian ini diharapkan berguna sebagai salah satu pertimbangan sekolah dalam upaya meningkatkan pemahaman konsep, keaktifan, dan minat siswa SMP Yos Sudarso Cigugur terhadap mata pelajaran fisika melalui metode inkuiri.

2. Bagi guru dan calon guru

Penelitian ini dapat bermanfaat bagi guru dan calon guru sebagai gambaran mengenai pembelajaran inkuiri dalam pembelajaran fisika, serta pengaruhnya terhadap pemahaman konsep, keaktifan, dan minat siswa.

3. Bagi penelitian

Penelitian ini bermanfaat sebagai informasi mengenai metode pembelajaran inkuiri.

5

BAB II

KAJIAN PUSTAKA

A. HAKIKAT IPA

Ilmu Pengetahuan Alam sering disingkat menjadi IPA. Hakikat pembelajaran IPA dapat diklasifikasikan menjadi 3 bagian (Susanto, 2013: 168-170):

1. IPA sebagai Produk

IPA sebagai produk yaitu kumpulan hasil penelitian yang telah ilmuwan lakukan dan sudah membentuk konsep yang telah dikaji sebagai kegiatan empiris dan kegiatan analitis. Bentuk IPA sebagai produk, antara lain: fakta-fakta, prinsip, hukum, dan teori-teori IPA. 2. IPA sebagai Proses

IPA sebagai proses bagaimana cara untuk menggali dan memahami pengetahuan tentang alam. Karena IPA merupakan kumpulan fakta dan konsep, maka IPA membutuhkan proses dalam menemukan fakta dan teori yang akan digeneralisasi oleh ilmuwan. Adapun proses dalam memahami IPA disebut dengan keterampilan proses sains yaitu keterampilan yang dilakukan oleh para ilmuwan, seperti mengamati, mengukur, mengklasifisikasikan, dan menyimpulkan.

3. IPA sebagai Sikap

Sikap di sini yaitu sikap ilmiah yang harus dikembangkan dalam pembelajaran sains. Hal ini sesuai dengan sikap yang harus dimiliki oleh seorang ilmuwan dalam melakukan penelitian dan mengomunikasikan hasil penelitiannya. Menurut Sulistyorini (2006, dalam Susanto, 2013: 169), ada sembilan aspek yang dikembangkan dari sikap ilmiah dalam pembelajaran sains, yaitu: sikap ingin tahu, ingin mendapat sesuatu yang baru, sikap kerja sama, tidak putus asa, tidak berprasangka, mawas diri, bertanggung jawab, berpikir bebas, dan kedisiplinan diri.

Dari uraian di atas dapat dipahami bahwa pembelajaran sains merupakan pembelajaran yang berdasarkan prinsip, fakta, hukum & proses yang dapat menumbuhkan sikap ilmiah terhadap konsep-konsep IPA.

Norman Lederman (dalam Suparno, 2012: 7) menjelaskan hakikat sains sebagai (1) body of knowledge; (2) method; dan (3) way of knowing. Ini jelas mengacu pada epistemologi sains, yaitu sains sebagai cara mengerti, sebagai nilai dan beliefs. Sebagai body of knowledge berarti fisika lebih dilihat sebagai kumpulan hukum dan teori fisika. Sebagai method berarti fisika dilihat sebagai proses menemukan hukum itu. Inilah yang disebut sebagai metode ilmiah. Dan sebagai nilai dan beliefs atau cara mengerti, dapat disebut sebagai sikap yang diperlukan dalam belajar fisika.

B. PEMBELAJARAN KONSTRUKTIVIS

Menurut Von Glasersfeld (dalam Suparno, 1997: 18), konstruktivisme adalah salah satu filsafat pengetahuan yang menekankan bahwa pengetahuan kita adalah konstruksi (bentukan) kita sendiri. Pengetahuan bukanlah suatu tiruan dari kenyataan (realitas). Pengetahuan bukanlah gambaran dari dunia kenyataan yang ada. Pengetahuan selalu merupakan akibat dari suatu konstruksi kognitif kenyataan melalui kegiatan seseorang.

Menurut Piaget (dalam Suparno, 1997: 18), pengetahuan bukanlah tentang dunia lepas dari pengamat tetapi merupakan ciptaan manusia yang dikonstruksikan dari pengalaman atau dunia sejauh dialaminya. Proses pembentukan ini berjalan terus menerus dengan setiap kali mengadakan reorganisasi karena adanya suatu pemahaman yang baru.

Menurut kaum konstruktivis, belajar merupakan proses aktif pelajar mengkonstruksi arti entah teks, dialog, pengalaman fisis, dan lain-lain. Belajar juga merupakan proses mengasimilasikan dan menghubungkan pengalaman atau bahan yang dipelajari dengan pengertian yang sudah dipunyai seseorang sehingga pengertiannya dikembangkan (Suparno, 1997: 61).

C. METODE INKUIRI

1. Pengertian Metode Inkuiri

Menurut Trowbridge dan Bybee (dalam Suparno, 2007: 65) secara umum inkuiri adalah proses di mana para saintis mengajukan pertanyaan tentang alam dunia ini dan bagaimana mereka secara sistematis mencari jawabannya. Kindsvatter, Wilen & Ishler (dalam Suparno, 2007: 65) mendeskripsikan bahwa inkuiri adalah model pengajaran di mana guru melibatkan kemampuan berfikir kritis dari siswa untuk menganalisis dan memecahkan persoalan secara sistematik. Menurut Sanjaya strategi pembelajaran inkuiri adalah rangkaian kegiatan pembelajaran yang menekankan pada proses berpikir secara kritis dan analitis untuk mencari dan menemukan sendiri jawaban dari suatu masalah yang dipertanyakan (2011: 196).

2. Fungsi Metode Inkuiri

Menurut Hanafiah dan Suhana (2012: 78), fungsi metode inkuiri adalah sebagai berikut:

a. Membangun komitmen di kalangan peserta didik untuk belajar, yang diwujudkan dengan keterlibatan, kesungguhan, dan loyalitas terhadap mencari dan menemukan sesuatu dalam proses pembelajaran.

b. Membangun sikap kreatif, dan inovatif dalam proses pembelajaran dalam rangka mencapai tujuan pembelajaran.

c. Membangun sikap percaya diri dan terbuka terhadap hasil temuannya.

3. Langkah Metode Inkuiri

Menurut Kindsvatter, Wilen & Ishler (dalam Suparno, 2007: 66), langkah-langkah metode inkuiri adalah sebagai berikut:

a. Identifikasi dan klarifikasi persoalan

Langkah awal adalah menentukan persoalan yang ingin didalami atau dipecahkan dengan metode inkuiri. Persoalan dapat disiapkan atau diajukan oleh guru. Sebaiknya persoalan yang ingin dipecahkan disiapkan sebelum mulai pelajaran. Persoalan sendiri harus jelas, real, dapat dikerjakan oleh siswa, dan sesuai dengan kemampuan siswa. Sangat baik bila persoalan itu sesuai dengan tingkat hidup dan keadaan siswa.

b. Membuat Hipotesis

Langkah berikutnya adalah siswa diminta untuk mengajukan jawaban sementara tentang persoalan itu. Inilah yang disebut hipotesis. Hipotesis siswa perlu dikaji, apakah jelas atau tidak. Bila belum jelas, sebaiknya guru mencoba membantu memperjelas maksudnya lebih dulu.

Guru diharapkan tidak memperbaiki hipotesis siswa yang salah, tetapi cukup memperjelas maksudnya saja. Hipotesis yang salah nantinya akan kentara setelah pengambilan data dan analisis data yang diperoleh.

c. Mengumpulkan Data

Langkah selanjutnya adalah siswa mencari dan mengumpulkan data sebanyak-banyaknya untuk membuktikan apakah hipotesis mereka benar atau tidak. Dalam bidang fisika biasanya untuk dapat mengumpulkan data, siswa harus menyiapkan suatu peralatan yang dapat digunakan untuk pengumpulan data. Maka guru perlu membantu bagaimana siswa mencari peralatan, merangkai peralatan dan mengoperasikan peralatan sehingga dapat berjalan dengan baik. Dalam bahasa fisika, langkah ini disebut dengan langkah percobaan atau eksperimen.

d. Menganalisis data

Data yang sudah dikumpulkan harus dianalisis untuk dapat membuktikan hipotesis apakah benar atau tidak. Untuk mempermudah menganalisis data, data sebaiknya diorganisasikan, dikelompokkan, diatur sehingga dapat dibaca dan dianalisis dengan dengan mudah. Biasanya disusun dalam bentuk tabel agar lebih mudah dibaca dan dianalisis. Dalam menganalisis seringkali diperlukan alat hitung seperti rumus matematika ataupun statistik yang memudahkan siswa mengambil keputusan atau mengambil generalisasi.

e. Ambil kesimpulan

Dari data yang telah dikelompokkan dan dianalisis, kemudian diambil kesimpulan dengan generalisasi. Setelah diambil

kesimpulan, kemudian dicocokkan dengan hipotesis awal, apakah hipotesis kita diterima atau tidak. Bila ternyata hipotesis mereka tidak dapat diterima, mereka diminta untuk mencari penjelasan mengapa demikian. Guru dapat membantu dengan beberapa pertanyaan penolong.

4. Syarat agar Inkuiri Dapat Berjalan dengan Baik

Suchman (dalam Suparno, 2007: 69) menjelaskan beberapa syarat agar metode inkuiri dapat berjalan dengan baik, yaitu:

a. Kebebasan

Siswa perlu diberi kebebasan untuk menemukan dan mencari informasi, mengungkapkan hipotesisnya, menyusun eksperimen yang mau digunakan, dan mencari informasi apapun yang dianggap perlu untuk memecahkan persoalan dalam penelitiannya.

b. Lingkungan atau suasana yang responsif

Lingkungan ini maksudnya adalah seperti laboratorium, komputer, kelas, pustaka, dan sarana yang mendukung terjadinya proses inkuiri.

c. Fokus

Persoalan yang mau didalami harus jelas arahnya, dan dapat dipecahkan siswa.

d. Low pressure

Maksud dari low pressure ini adalah siswa jangan sampai mendapat banyak tekanan dari siapapun agar siswa dapat berpikir lebih kreatif dan kritis. Kadang siswa tidak dapat melakukan penyelidikan secara sungguh-sungguh mendalam karena ada tekanan dari luar seperti dari guru, waktu, teman, dll. Hal ini perlu dihilangkan atau diminimalisir.

5. Keunggulan dan Kelemahan Metode Inkuiri

Hanafiah dan Suhana menguraikan beberapa keunggulan dan kelemahan metode inkuiri (2012: 79):

a. Keunggulan Metode Inkuiri

1) Membantu peserta didik untuk mengembangkan, kesiapan, serta penguasaan keterampilan dalam proses kognitif.

2) Peserta didik memperoleh pengetahuan secara individual sehingga dapat dimengerti dan mengendap dalam pikirannya. 3) Dapat membangkitkan motivasi dan gairah belajar peserta didik

untuk belajar lebih giat lagi.

4) Memberikan peluang untuk berkembang dan maju sesuai dengan kemampuan dan minat masing-masing.

5) Memperkuat dan menambah kepercayaan pada diri sendiri dengan proses menemukan sendiri karena pembelajaran berpusat pada peserta didik dengan peran guru yang sangat terbatas.

b. Kelemahan Metode Inkuiri

1) Siswa harus memiliki kesiapan dan kematangan mental, siswa harus berani dan berkeinginan untuk mengetahui keadaan sekitarnya dengan baik.

2) Keadaan kelas yang memiliki jumlah siswa yang banyak maka metode ini tidak akan mencapai hasil yang memuaskan.

3) Guru dan siswa sudah terbiasa dengan PBM gaya lama maka metode inkuiri dapat mengecewakan.

4) Inkuiri terlalu mementingkan proses pengertian saja, kurang memerhatikan perkembangan sikap dan keterampilan siswa.

D. PEMAHAMAN KONSEP

1. Pengertian Pemahaman

Menurut Bloom (dalam Susanto, 2013: 6), pemahaman diartikan sebagai kemampuan untuk menyerap arti dari materi atau bahan yang dipelajari. Pemahaman menurut Bloom ini adalah seberapa besar siswa mampu menerima, menyerap, dan memahami pelajaran yang diberikan oleh guru kepada siswa, atau sejauh mana siswa dapat memahami serta mengerti apa yang ia baca, yang dilihat, yang dialami, atau yang ia rasakan berupa hasil penelitian atau observasi langsung yang ia lakukan.

Carin dan Sund (dalam Susanto, 203:7-8) mengungkapkan bahwa pemahaman dapat dikategorikan menjadi beberapa aspek dengan kriteria sebagai berikut:

a. Pemahaman merupakan kemampuan untuk menerangkan dan menginterpretasikan sesuatu; ini berarti bahwa seseorang yang telah memahami sesuatu atau telah memperoleh pemahaman akan mampu menerangkan atau menjelaskan kembali apa yang telah ia terima.

b. Pemahaman bukan sekadar mengetahui, yang biasanya hanya sebatas mengingat kembali pengalaman dan memproduksi apa yang telah dipelajari. Bagi orang yang benar-benar telah paham ia akan mampu memberikan gambaran, contoh, dan penjelas yang lebih luas dan memadai.

c. Pemahaman lebih dari sekadar mengetahui, karena pemahaman melibatkan proses mental yang dinamis; dengan memahami ia akan mampu memberikan uraian dan penjelasan yang lebih kreatif, tidak hanya memberikan gambaran dalam satu contoh saja tetapi mampu memberikan gambaran yang lebih luas dan baru sesuai kondisi saat ini.

d. Pemahaman merupakan suatu proses bertahap yang masing-masing tahap mempunyai kemampuan tersendiri seperti, menerjemahkan, menginterpretasikan, ekstrapolasi, aplikasi, analisis, sintesis dan evaluasi

2. Pengertian Konsep

Menurut Dorothy J. Skeel (dalam Susanto, 2013: 8), konsep merupakan sesuatu yang tergambar dalam pikiran, suatu pemikiran, gagasan, atau suatu pengertian. Jadi konsep ini merupakan sesuatu yang telah melekat dalam hati seseorang dan tergambar dalam pikiran, gagasan, atau suatu pengertian. Orang yang telah memiliki konsep, berarti orang tersebut telah memiliki pemahaman yang jelas tentang suatu konsep atau citra mental tentang sesautu. Sesuatu tersebut dapat berupa objek konkret ataupun gagasan yang abstrak.

3. Pengertian Pemahaman Konsep

Dari uraian di atas dapat disimpulkan bahwa pemahaman konsep adalah kemampuan untuk menerima, menyerap dan memahami materi yang dipelajari, kemudian menggambarkannya dalam pikiran.

E. KEAKTIFAN

1. Pengertian Keaktifan

Menurut Daryanto dan Rahardjo, keaktifan yaitu keterlibatan intelektual emosional siswa dalam kegiatan belajar mengajar yang bersangkutan, asimilasi dan akomodasi kognitif dalam pencapaian pengetahuan, perbuatan serta pengalaman langsung terhadap balikannya (feedback) dalam pembentukan keterampilan dan

penghayatan serta internalisasi nilai-nilai dalam pembentukan sikap (2012: 2-3).

2. Ciri-ciri Keaktifan

Sudjana (2010: 61) menyatakan bahwa keaktifan siswa dapat dilihat dari beberapa hal, yaitu:

a. Siswa turut serta dalam melaksanakan tugas belajarnya. b. Siswa terlibat dalam pemecahan masalah.

c. Siswa bertanya kepada siswa lain atau kepada guru apabila tidak memahami persoalan yang dihadapinya.

d. Siswa berusaha mencari berbagai informasi yang diperlukan untuk pemecahan masalah.

e. Siswa melaksanakan diskusi kelompok sesuai dengan petunjuk guru.

f. Siswa menilai kemampuan dirinya dan hasil-hasil yang diperolehnya.

g. Siswa melatih diri dalam memecahkan soal atau masalah yang sejenis.

h. Siswa menggunakan atau menerapkan apa yang telah diperolehnya dalam menyelesaikan tugas atau persoalan yang dihadapinya.

F. MINAT BELAJAR

1. Pengertian Minat Belajar

Menurut Sukardi (dalam Susanto, 2013: 57), minat dapat diartikan sebagai suatu kesukaan, kegemaran atau kesenangan akan sesuatu. Susanto menegaskan bahwa minat merupakan dorongan diri seseorang atau faktor yang menimbulkan ketertarikan atau perhatian secara efektif, yang menyebabkan dipilihnya suatu objek atau kegiatan yang menguntungkan, menyenangkan dan lama kelamaan akan mendatangkan kepuasan dalam dirinya (2013:58).

Dalam kaitannya dengan belajar, Hansen (dalam Susanto, 2013: 57-58), menyebutkan bahwa minat belajar siswa erat hubungannya dengan kepribadian, motivasi, ekspresi, dan konsep diri atau identifikasi, faktor keturunan dan pengaruh eksternal atau lingkungan.

Menurut Slameto, suatu minat dapat diekspresikan melalui suatu pertanyaan yang menunjukkan bahwa siswa lebih menyukai suatu hal daripada hal lainnya, dapat pula dimanifestasikan melalui partisipasi dalam suatu aktivitas. Siswa yang memiliki minat terhadap subyek tertentu cenderung untuk memberikan perhatian lebih besar terhadap subyek tersebut (2010: 180).

2. Ciri-ciri Minat

Elizabet Hurlock (dalam Susanto, 2013: 62-63) menyebutkan ada 7 ciri-ciri minat, yaitu:

1) Minat tumbuh bersamaan dengan perkembangan fisik dan mental. Minat di semua bidang berubah selama terjadi perubahan fisik dan mental, misalnya perubahan minat dalam hubungannya dengan perubahan usia.

2) Minat tergantung pada kegiatan belajar. Kesiapan belajar merupakan salah satu penyebab meningkatnya minat seseorang. 3) Minat tergantung pada kesempatan belajar. Kesempatan belajar

merupakan faktor yang sangat berharga, sebab tidak semua orang dapat menikmatinya.

4) Perkembangan minat mungkin terbatas. Keterbatasan ini mungkin dikarenakan keadaan fisik yang tidak memungkinkan.

5) Minat dipengaruhi budaya. Budaya sangat mempengaruhi sebab jika budaya sudah luntur mungkin minat juga ikut luntur.

6) Minat berbobot emosional. Minat berhubungan dengan perasaan, maksudnya bila suatu objek dihayati sebagai sesuatu yang sangat berharga, maka akan timbul perasaan senang yang akhirnya dapat diminatinya.

7) Minat berbobot egosentris, artinya jika seseorang senang terhadap sesuatu, maka akan timbul hasrat untuk memilikinya.

3. Pengaruh Minat Terhadap Kegiatan Belajar Siswa

Minat merupakan faktor yang sangat penting dalam kegiatan belajar siswa. Suatu kegiatan belajar yang dilakukan tidak sesuai dengan minat siswa akan memungkinkan berpengaruh negatif

terhadap hasil belajar siswa yang bersangkutan. Dengan adanya minat dan tersedianya rangsangan yang ada sangkut pautnya dengan diri siswa, maka siswa akan mendapatkan kepuasan batin dari kegiatan belajar tadi.

Dalam dunia pendidikan di sekolah, minat memegang peranan penting dalam belajar. Hal ini dikarenakan minat merupakan suatu kekuatan motivasi yang menyebabkan seseorang memusatkan perhatian terhadap seseorang, suatu benda, atau kegiatan tertentu. Maka, minat merupakan faktor yang sangat penting untuk menunjang kegiatan belajar siswa demi tercapainya keberhasilan belajar. Bahan pelajaran, pendekatan, ataupun metode pembelajaran yang tidak sesuai dengan minat peserta didik menyebabkan hasil belajar siswa tidak maksimal (Susanto, 2013: 66-67).

G. PEMBIASAN CAHAYA

Dalam satu medium, cahaya akan merambat lurus. Namun apabila cahaya merambat dari medium satu ke medium yang lain, maka arah cahaya itu akan dibelokkan di perbatasan antara kedua medium. Pembelokkan arah perambatan cahaya itu terjadi karena cahaya masuk ke medium yang berbeda. Peristiwa tersebut dinamakan pembiasan. Misalkan cahaya masuk dari udara ke air. Udara sebagai medium I dan air sebagai medium II (lihat gambar 1).

Gambar 1. Pembiasan Cahaya

Sinar di medium I disebut sinar datang, sedangkan sinar di medium II disebut sinar bias. Sudut yang dibentuk sinar datang dengan garis normal disebut sudut datang dan sudut yang dibentuk sinar bias dengan garis normal disebut sudut bias (Arini dkk, 2007: 464).

Hukum pembiasan cahaya (yang dikemukakan oleh Willebrord Snellius, seorang ahli matematika berkebangsaan Belanda) yakni sebagai berikut:

1. Sinar datang, garis normal, dan sinar bias terletak pada satu bidang datar, dan ketiganya berpotongan pada satu titik (hukum I Snellius atau hukum I Pembiasan)

2. Sinar datang dari medium kurang rapat ke medium lebih rapat dibiaskan mendekati garis normal. Sebaliknya, sinar datang dari medium lebih rapat ke medium kurang rapat, dibiaskan menjauhi garis normal (hukum II Snellius atau hukum II Pembiasan) (Humizar dan Sarlem, 2005: 168). medium I medium II sinar datang sinar bias garis normal

Udara memiliki kerapatan lebih kecil dibandingkan air dan kaca. Kaca merupakan medium yang lebih rapat dibandingkan air, sedangkan air merupakan medium yang lebih rapat dibandingkan udara. Berkas-berkas sinar dibiaskan mendekati garis normal bila datang dari medium kurang rapat ke medium yang lebih rapat, contohnya dari udara ke kaca. Berkas-berkas sinar akan dibiaskan menjauhi garis normal bila datang dari medium yang lebih rapat ke medium yang kurang rapat, contohnya dari kaca ke udara (Sukabdiyah dkk, 2007: 181).

Pembelokan cahaya pada dua medium yang berbeda disebabkan oleh perbedaan cepat rambat cahaya di kedua medium tersebut. Cepat rambat cahaya di medium yang rapat lebih kecil dibandingkan dengan cepat rambat cahaya di medium yang kurang rapat. Semakin rapat medium yang dilalui, cepat rambat cahaya yang melewatinya semakin kecil. Cepat rambat cahaya terbesar dicapai ketika cahaya berada di ruang hampa. Cepat rambat cahaya di ruang hampa dilambangkan dengan c, yang mempunyai nilai sebesar 3 x 108 m/s.

Jika sinar datang pada dua medium dengan sudut datang yang sama, maka sudut biasnya belum tentu sama. Hal ini bergantung pada kerapatan mediumnya. Dengan kata lain, pembiasan cahaya dari medium yang satu berbeda dengan medium yang lain.

Kemampuan medium untuk membiaskan cahaya yang melaluinya dinyatakan dengan bilangan yang disebut indeks bias (n). Indeks bias (n)

tersebut menunjukkan besarnya pembiasan yang dialami cahaya (Arini dkk, 2007: 465-466).

Nilai indeks bias suatu medium menunjukkan perbandingan cepat rambat cahaya di ruang hampa dengan cepat rambat cahaya di dalam medium tersebut. Jika cepat rambat cahaya di suatu medium adalah v dan cepat rambat di ruang hampa adalah c, maka indeks bias medium tersebut dinyatakan dengan n bernilai sebagai berikut:

Keterangan:

n = indeks bias medium

c = cepat rambat cahaya di ruang hampa = 300.000.000 m/s v = cepat rambat cahaya di medium (Arini dkk, 2007: 466).

Dari uraian di atas dapat dilihat bahwa selain tergantung pada kerapatan medium, indeks bias juga tergantung pada panjang gelombang cahaya yang melewatinya. Meskipun mediumnya sama, tetapi bila panjang gelombang cahayanya berbeda, maka nilai indeks biasnya akan berbeda. Sebagai contoh, nilai indeks bias air untuk cahaya merah berbeda dengan indeks bias untuk cahaya hijau (Arini dkk, 2007: 466).

Contoh-contoh pembiasan cahaya dalam kehidupan sehari-hari adalah sebagai berikut:

1. Saat sebuah pensil kita masukkan setengahnya ke dalam air, kita melihat seolah-olah pensil itu tampak patah.

2. Saat kita menangkap ikan dalam aquarium, posisi ikan tersebut tidak berada pada posisi tepat kita melihatnya.

3. Saat kita melihat kolam yang berair jernih dan tenang, kolam itu kelihatannya dangkal, tetapi sebenarnya dalam.

Benda gelap tembus cahaya yang hampir meneruskan seluruh cahaya yang mengenainya dikenal dengan istilah benda optik. Beberapa benda optik, di antaranya kaca plan paralel, prisma, dan lensa. Kaca plan paralel merupakan kaca tebal yang permukaannya rata. Sinar datang yang melalui kaca plan paralel akan mengalami dua kali pembiasan. Pembiasan pertama saat sinar datang menuju kaca plan paralel dan pembiasan kedua saat sinar meninggalkan kaca plan paralel.

Sinar datang dari udara menuju kaca dibiaskan mendekati garis normal dalam kaca. Selanjutnya, sinar yang merambat dalam kaca menuju udara dibiaskan menjauhi garis normal. Arah sinar datang yang menuju kaca plan paralel dan arah sinar keluar dari dalam kaca plan paralel adalah sejajar. Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa sudut datang sinar menuju kaca sama dengan sudut bias sinar meninggalkan kaca (Aloysius, dkk, 2008).

24

BAB III

METODE PENELITIAN

A. DESAIN PENELITIAN

Pada penelitian ini, peneliti menggunakan desain penelitian eksperimental kuantitatif dan kualitatif. Penelitian eksperimental merupakan penelitian dengan memberikan perlakuan pada partisipan. Pada penelitian ini, perlakuan yang diberikan yaitu pembelajaran dengan menggunakan metode inkuiri. Setelah diberi perlakuan, variabel kemudian diukur dengan instrumen yang telah dibuat. Untuk memperkuat penelitian ini, peneliti menggunakan kelas pembanding atau kelas kontrol supaya dapat mengetahui pengaruh penggunaan metode inkuiri terhadap kelas eksperimen atau kelas treatment. Pada kelas kontrol, metode pembelajaran yang digunakan yaitu metode pembelajaran ceramah aktif. Data yang diperoleh kemudian dianalisis dalam bentuk skor atau angka yang diberikan penjelasan. Maka dari itu penelitian ini dikatakan penelitian kuantitatif. Selain penelitian kuantitatif, peneliti juga melakukan analisis jawaban siswa serta observasi guna memperkuat data. Maka dari itu

Dokumen terkait