• Tidak ada hasil yang ditemukan

TINJAUAN PUSTAKA

2.6. Bahan- bahan yang digunakan untuk memacu dentin tertier

2.6.1. Mineral Trioxide Aggregate (MTA)

MTA merupakan semen portland yang bahan utamanya adalah partikel-partikel hydrophilic halus dan komponen-komponen utamanya adalah kalsium fosfat dan kalsium oxide (Koh, dkk. 1998). Komersialnya dipasarkan sebagai Pro Root MTA (Tulsa Dental, Tulsa OK). Material ini mengeras ± 3 – 4 jam dan menimbulkan pH 12,5 sama seperti kalsium hydroksida. MTA menunjukkan compresive strength pada saat mengeras sama dengan IRM, yaitu ± 70 Mpa dan tidak resorbable.

MTA adalah semen silikat bioaktif yang sudah menunjukkan hasil yang memuaskan pada kaping pulpa gigi primata. MTA terdiri atas dua jenis yaitu grey dan white. MTA yang berwarna grey memiliki unsur besi. MTA memiliki partikel yang

58

kecil, kemampuan isolasi yang bagus, pH yang basa dan dapat melepas ion kalsium.

MTA juga dapat merangsang proliferasi sel pulpa, melepas sitokin dan merangsang pertumbuhan jaringan keras (Bogen dkk. 2008, Hilton 2009).

MTA memiliki kemampuan untuk merangsang diferensiasi sel yang membentuk jaringan termineralisasi. Inkubasi fibroblas gingiva dan ligamen periodontal dengan MTA memicu ekspresi alkali fosfatase yang merupakan fenotip pertumbuhan jaringan keras.MTA juga memicu produksi BMP-2 dan TGF-β 1 yang menyebabkan produksi kolagen tipe I dan ekspresi osteoblast-like cell pada fibroblas.

(In Vitro) (Okiji dkk., 2009).

MTA memiliki kelemahan yaitu kelarutan yang tinggi, 24% MTA larut setelah disimpan selama 78 hari di dalam air. Unsur besi dalam MTA mengakibatkan diskolorasi gigi. MTA juga memiliki setting time awal yang lama yaitu sekitar 165 menit dan butuh waktu 24 jam untuk setting sempurna. Setting time yang lama menyebabkan prosedur kaping pulpa harus dilakukan dalam dua kali kunjungan. MTA juga memiliki harga yang mahal. Satu gram MTA setara dengan 24 gram pasta kalsium hidroksida (Hilton dkk., 2013).

Bahan ini merupakan material yang menjanjikan karena sifat-sifat superiornya sebagai bahan kaping pulpa direk dibandingkan dengan Ca(OH)2. Pada beberapa model hewan coba, hasil-hasil penelitian (Koh dkk., 1998); Cox dkk., 2002) menunjukkan pembentukan gambaran dentin dengan respon sel inflamasi minimal.

59

Penelitian-penelitian menunjukkan bahwa MTA merupakan bahan yang mempunyai biokompabilitas yang tinggi, sitotoksik yang minimal, adaptasi marginal yang sangat baik dan dapat mengaktifkan sitokin pada sel-sel osteoblast manusia (Torabinejad dkk., 1995 ; Koh dkk., 1998 ; Zhu dkk,. 2000). Penempatan kapas basah diatas MTA dapat menginduksi pengerasan yang baik dari bahan tersebut. (Torabinejad dkk., 1995) dan begitu mengeras material tidak mengalami kerusakan oleh darah atau kelembaban.

Pemakaian MTA dalam aplikasi klinik saat ini antara lain pada perawatan kaping pulpa, penutupan ujung akar, perbaikan perforasi dan resorpsi internal serta memacu perkembangan akar pada perawatan pulpotomi (Osario dkk., 1998 ; Torabinejad and Chivian, 1999 ; Holland dkk., 2001). Penelitian-peelitian terakhir mengenai MTA yaitu pemakaian bahan tersebut sebagai bahan kaping pulpa bersama-sama dengan system adhesive.

Foraco Jr dan Holland (2004) dalam penelitiannya, menemukan bahwa MTA – putih dapat dipertimbangkan sebagai bahan kaping pulpa direk. Pembentukan jaringan keras berupa jembatan dentin terlihat pada semua spesimen, tanpa adanya zone nekrotik superfisial walaupun dari beberapa spesimen dijumpai juga sedikit defek

“tunnel” tetapi keadaan ini berdekatan dengan bahan kaping. De Queiro dkk. (2005) dalam penelitiannya membandingkan MTA dan kalsium hidroksida pada perawatan kaping pulpa direk yang dilakukan pada gigi-gigi anjing, menunjukkan bahwa MTA dapat menginduksi respon biologi pada sel-sel osteoblastik karena adhesi yang baik;

60

meningkatkan sitokin dan porduksi osteocalcin yang merupakan protein non kolagen yang disintesis oleh osteoblast dan dapat digunakan sebagai bahan yang menghasilkan matriks ekstraseluler dentin.

2.6.2. Biodentine

Biodentine merupakan suatu bahan pengganti dentin yang bersifat bioaktif ,merupakan bahan semen yang berbasis trikalsium silikat(3Ca).SiO2) dan telah diperkenalkan oleh Septodont (2009) dan dipasarkan dengan nama dagang Biodentine.

Sama deperti MTA bahan ini bahan yang dapat dikategorikan sebegai bahan semen kalsium . Bahan ini terdiri dari bubuk dan cairan ( Gambar 2.7), komponen utama pada bubuk bahan ini adalah trikalsium silikat dengan tambahan bubuk kalsium karbonat (CaCO3) dan zirkonium dioksida (ZrO2). Cairan penyampurnya adalah larutan kalsium klorida (CaCl2) dengan tambahan agen pereduksi air. CaCO3 pada bubuk berfungsi sebgai filler dan ZrO2 berfungsi sebagai radiopasitas dari bahan (Tabel 2.1)

Gambar 2.7 Paket Biodentine yang beredar di pasaran

61

Tabel 2.1 Komposisi bubuk dan cairan Biodentine

Sama seperti bahan semen lainnya pada pada reaksi setting bahan ini mengalami perubahan bentuk menjadi struktur gel dan terjadi perubahan ion.

Dibandingkan dengan semen kalsium lainnya bahan ini mempunyai waktu setting yang cepat yaitu 12 menit dan sifat mekanis yang baik. Reaksi setting bahan ini terlihat dari pengerasan semen. Trikalsium silikat yang dihidrasi membentuk gel kalsium silika terhidrasi (C-S-H gel) dan kalsium hidroksida.

Compressive strength dari Biodentine menyerupai dentin yaitu 300 Mpa setelah aplikasi 1 bulan. Hardness dari Biodentine adalah sebesar 51 HVN setelah 2 jam setting dan terus bertamabah sampai 69 HVN setelah 1 bulan. Kalsium karbonat yang berperan untuk kekerasan bahan tersebut. Pembentuk gel kalsium silika mengurangi terjadinya porousitas dari bahan. Flexural strength dari Biodentine sebesar 23 MPa, hasil ini lebih baik bila dibandingkan dengan SIK konvensional sebesar 18 Mpa.

Ikatan Biodentine dengan struktur dentin lebih baik, hal ini karena terbentuk struktur yang menyerupai hidroksiapatit yang akan beradhesi dengan dentin serta Kristal kalsium karbonatbonat yang terbentuk setelah proses setting membentuk

62

penjangkaran yang masuk kedalam tubuli dentin sehingga terbentuk micromechanical tag yang membantu meningkatkan ikatan bahan ini ke struktur gigi.

Biodentine memiliki setting time yang cepat (12 menit), biokompabilitas tinggi, kekuatan kempresif tinggi, kemampuan sealing baik, dan mudah untuk digunakan dalam aplikasi klinis seperti perforasi akar, apeksifikasi, resorpsi, retrograde filling, prosedur kaping pulpa, dan pengganti dentin.

Biodentine dalam prosedur perbaikan dan restoratif di bidang endodontik yaitu tidak meninggalkan stain pada gigi yang dirawat. Selain itu, biodentine bisa menstimulasi regenerasi jaringan dan memiliki respon yang baik terhadap pulpa.

Zaini,dkk (2012) menyatakan biodentine bersifat bioaktif karena menginduksi diferensiasi sel-sel mirip odontoblas serta meningkatkan proliferasi sel dan dan biomineralisasi pulpa. Biodentine menjaga vitalitas pulpa tanpa menimbulkan reaksi radang dan mempercepat proses penyembuhan pulpa. Biodentine bekerja dengan menginduksi mineralisasi setelah diaplikasikan. Mineralisasi terjadi dalam bentuk osteodentin dengan meningkatkan sekresi Transforming Growth Factor Beta 1 (TGF-β1) dari sel pulpa, serta menstimulasi odontoblas dan sel diferensiasi yang akan membentuk dentin reactionary dan dentin tersier.

Penelitian yang dilakukan oleh Goldberg (2009) terhadap gigi molar maksila tikus yang dipreparasi dengan kavitas bentuk setengah lingkaran (kelas V) kemudian diisi dengan Biodentine dan Fuji IX GIC menunjukkan bahwa setelah 8 hari, inflamasi

63

pulpa moderat di sepertiga mesial ruang pulpa. Inflamasi pulpa hilang setelah 15 hari.

Selanjutnya penelitian yang dilakukan Shayegan (2012) untuk melihat respon sel inflamasi dan pembentukan jaringan keras pada gigi hewan coba yang telah dikaping pulpa dengan biodentine menghasilkan jaringan pulpa yang normal tanpa adanya tanda inflamsi. Dalam sebuah studi klinis dan histologis, Nowicka dkk (2013) melihat respon dari pulpa gigi manusia yang dilapisi dengan biodentine. Mereka menemukan mayoritas dari spesimen membentuk jembatan dentin yang komplit tanpa adanya respon inflamasi pulpa.