STUDI LITERATUR
2.2. Landasan Teori
2.2.3. Moda Transportasi
Transportasi dapat diartikan usaha memindahkan, menggerakkan, mengangkut, atau mengalihkan suatu objek dari satu tempat ke tempat lain, dimana objek tersebut lebih bermanfaat atau dapat berguna untuk tujuan-tujuan tertentu (Miro, 2005). Sedangkan menurut Nasution (2008) transportasi sebagai pemindahan barang dan manusia dari tempat asal ke tempat tujuan.
Transportasi sebuah alat (tools) yang digunakan untuk melakukan proses pemindahan, proses pergerakan, proses mengangkut dan mengalihkan sesuai dengan waktu yang diinginkan (Andriansyah, 2015). Terdapat beberapa unsur pengangkutan/transportasi (Nasution, 2008) meliputi:
a. Muatan yang diangkut
b. Ketersediaan kenderaan sebagai alat angkut.
c. Rute/jalur dapat dilalui.
d. Sumber asal dan tujuan.
e. Tersedia sumber daya manusia dan organisasi atau manajemen yang menggerakkan kegiatan transportasi.
Transportasi berperan penting dalam mendistribusikan produk karena jarang suatu produk diproduksi dan dikonsumsi dalam satu lokasi yang sama.
Strategi distribusi yang diimplementasikan dengan sukses memerlukan pengelolaan transportasi yang tepat. Pengelolaan kegiatan transportasi yang efektif dan efisien akan memastikan pengiriman barang dari perusahaan ke pelanggan tepat waktu, tepat jumlah, tepat kualitas, dan tepat penerima, Selain itu, biaya transportasi merupakan komponen biaya yang terbesar dalam struktur biaya distribusi. Tidak kurang dari 60%
dari total biaya logistik perusahaan merupakan biaya transportasi (Zaroni, 2015).
Pertimbangan pilihan keputusan manajemen transportasi tidak hanya semata-mata didasarkan pada pertimbangan biaya transportasi yang murah, melainkan harus mempertimbangkan aspek kualitas kinerja pelayanan. Ketepatan pengiriman barang akan membantu perusahaan untuk mengurangi ketersediaan barang, biaya penyimpanan dan material handling.
Dalam hal pemilihan moda transportasi untuk mendistribusikan produk, pertimbangan ekonomis sangat menentukan moda transportasi yang akan digunakan antara lain:
a. Jarak
Bertambahnya jarak tempuh akan berakibat bertambahnya biaya.
b. Volume dan berat
Volume dan berat suatu produk akan mempengaruhi ekonomisasi biaya transportasi, yaitu biaya per satuan berat barang.
c. Bentuk
Tingkat kemudahan bentuk juga mempengaruhi biaya transportasi, semakin mudah produk disusun berarti transportasi semakin ekonomis karena akan memaksimalkan kapasitas moda transportasi.
Beberapa moda transportasi yang dapat digunakan untuk mendistribusikan produk, mulai dari transportasi darat (in-land transportation) menggunakan jalan raya (rail road) dan kereta api (railway), transportasi laut (sea freight) serta transportasi udara (air freight). Berikut beberapa jenis moda transportasi yang umum digunakan dalam proses distribusi produk (Zaroni, 2015):
1. Truck
Bisnis transportasi truk terdiri dari dua segmen utama, yaitu TL (truckload) dan LTL (less-than-truckload). Untuk jarak jauh, trucking lebih mahal dari kereta api, tapi menawarkan keuntungan fleksibilitas pengiriman door-to-door dan waktu pengiriman yang lebih pendek, Selain itu, trucking tidak memerlukan transfer antar pickup dan pengiriman. Umumnya TL untuk pengangkutan barang-barang dengan total lebih dari 6 ton yang tidak memerlukan pemberhentian antara dari lokasi asal ke lokasi tujuan. Sementara
LTL umumnya digunakan untuk segmen angkutan barang yang kurang dari 6 ton yang mengharuskan konsolidasi agar dicapai kapasitas maksimal dari truk yang digunakan. Isu-isu kunci untuk industri LTL mencakup lokasi pusat konsolidasi, tingkat beban truk, dan penjadwalan dan penentuan rute pickup dan pengiriman.
Tujuannya untuk meminimalkan biaya operasional melalui konsolidasi tanpa mengorbankan waktu pengiriman dan keandalan.
2. Kereta api
Moda kereta api tepat untuk transportasi barang-barang yang memerlukan kapasitas besar, berat, densitas tinggi, dan jarak jauh, Kelemahan moda kereta api terletak pada kekakuan dalam pengaturan lokasi asal dan tujuan, waktu muat dan bongkar barang, dan waktu singgah.
3. Kapal
Perkembangan perdagangan antarnegara dengan menggunakan jalur maritim telah mendorong pertumbuhan kontainerisasi. Hal ini telah menyebabkan permintaan sea freight yang lebih besar, lebih cepat, dan kapal yang lebih khusus untuk meningkatkan ekonomi transportasi kontainer.
Penundaan di pelabuhan (dwelling time), bea cukai, keamanan, dan pengelolaan kontainer yang digunakan merupakan isu utama dalam pengiriman global. Selain itu, kemacetan akses ke pelabuhan telah menjadi masalah besar.
4. Pesawat
Operator transpotasi udara (air freight) menawarkan layanan transportasi yang sangat cepat, namun dengan biaya transportasi yang mahal. Penggunaan air freight lebih tepat untuk barang-barang ukuran relatif kecil dan bernilai tinggi
atau pengiriman barang yang memerlukan waktu cepat dan jarak yang jauh. Isu-isu penting dalam pengelolaan air freight ini antara lain: lokasi dan jumlah hub, rute pesawat, pengaturan jadwal pemeliharaan pesawat, penjadwalan kru, dan strategi penetapan harga.
2.2.3.1. Model Dasar Transportasi
Menurut Tamin (2000), model transportasi adalah suatu metode yang digunakan untuk mengatur distribusi suatu produk (barang-barang) dari sumber yang menyediakan produk ke tempat tujuan (misalnya gudang) secara optimal.
Sedangkan menurut Taha (1996) usaha untuk menentukan rencana transportasi suatu barang dari beberapa sumber ke sejumlah tujuan disebut sebagai model transportasi. Menurut (Heizer dan Barry, 2005) untuk menggunakan model transportasi harus memperhatikan hal-hal berikut:
a. Titik sumber dan kapasitas (pasokan setiap periode).
b. Titik tujuan dan permintaan pada setiap periode.
c. Biaya pengiriman setiap unit satuan dari sumber ke tujuan.
Pemodelan transportasi suatu prosedur berulang untuk memecahkan permasalahan minimisasi biaya pengiriman produk dari beberapa sumber ke beberapa tujuan. Model transportasi mengasumsikan biaya pengiriman produk pada rute tertentu adalah proporsional dengan banyaknya unit produk yang di kirimkan pada rute tersebut (Hamin, 2007). Dengan demikian model transportasi merupakan penyederhanaan suatu masalah transportasi melalui berbagai bentuk sehingga mudah difahami, dianalisa dan diselesaikan. Pada umunya model
transportasi dapat di tuangkan dalam bentuk model matematik matrik transportasi untuk membantu berfikir secara cepat dan sistematik dari suatu kasus. Menentukan jadwal pengiriman dengan meminimalkan total biaya pengiriman untuk memenuhi batas pasokan dan permintaan dapat diselesaikan dengan metode transportasi khusus dari program linier. Berikut bentuk umum masalah transportasi disajikan pada Gambar 2.1:
Gambar 2.1. Bentuk Umum Masalah Transportasi
Menurut Taha (1996), terdapat m sumber dan n tujuan, tiap sumber dan tujuan memiliki titik (node). Tanda panah menunjukkan rute yang menghubungkan sumber dan tujuan. Panah (m,n) menggabungkan beberapa sumber m ke tujuan n membawa dua informasi yaitu biaya transportasi per unit πππ dan jumlah yang dikirim π₯ππ. Jumlah pasokan di sumber adalah am dan jumlah permintaan di tujuan n adalah bn. Tujuan dari model ini menentukan π₯ππ yang tidak diketahui untuk meminimalkan total biaya transportasi yang memenuhi batas pasokan dan permintaan. Karena salah satu identitas masalah
transportasi untuk minimisasi biaya transportasi maka bentuk khusus penyelesaiannya menggunakan tabel transportasi (Mulyono, 2004) seperti disajikan Tabel 2.1 berikut:
Tabel 2.1. Matriks Model Transportasi
2.2.3.2. Keseimbangan Transportasi
Model transportasi dikatakan seimbang jika total pasokan sama dengan total permintaan, namun kenyataannya batasan tersebut tidak selalu terpenuhi karena pada kenyataannya menurut (Sitorus, 1997) jumlah permintaan lebih besar dari pasokan atau jumlah pasokan lebih besar dari permintaan hal ini disebut model tidak seimbang. Dua kemungkinan persoalan transportasi tidak seimbang yaitu:
1. Pasokan lebih besar daripada permintaan, masalah ini diselesaikan dengan cara menetapkan dummy pada tujuan (kolom) untuk menyerap kelebihan permintaan.
2. Pasokan lebih kecil daripada permintaan, cara penyelesaiannya dengan menetapkan dummy pada sumber (baris) untuk memasok kekurangan permintaan.
2.2.3.3.Metode Transportasi
Dalam Zulfitri (2010) mendefenisikan metode transportasi sebagai cara untuk mengatur distribusi produk yang sama secara optimal dari beberapa sumber yang menyediakan produk ke tujuan yang membutuhkan. Alokasi produk harus diatur sesuai kapasitas dan kebutuhan moda transportasi yang digunakan, karena terdapat perbedaan biaya alokasi dari beberapa sumber ke tujuan yang berbeda. Sedangkan Haryadi (2010) menyimpulkan bahwa metode transportasi merupakan suatu metode yang digunakan untuk mengatur distribusi dari sumber-sumber yang menyediakan produk yang sama ke beberapa tujuan yang membutuhkan secara optimal.
2.2.3.4. Faktor Yang Mempengaruhi Optimalisasi Moda Transportasi Masalah dasar transportasi awalnya dikembangkan oleh Hitchcock tahun 1941 dan secara terpisah awal tahun 1947 Koopsman melakukan studi tentang optimal utilization of the transportation system. Menurut Agustini dan Rahmadi (2004) dalam riset operasional konsep-konsep dasar, masalah transportasi timbul ketika individu atau perusahaan menentukan cara untuk mengirim (mendistribusikan) barang dari beberapa sumber ke beberapa tujuan dengan maksud minimisasi biaya. Dantzig yang sering disebut sebagai bapak linear programming merumuskan permasalahan dan cara pemecahan program linear yang sistematis (Rangkuti, 2013) untuk menyelesaikan masalah transportasi menggunakan metode transportasi dari program linear guna menyelesaikan masalah pengiriman dari sumber ke tujuan. Untuk mencapai
jumlah biaya yang rendah (minimum) atau mencapai jumlah laba yang besar (Prasetyo, 2011). Beberapa penelitian meunjukkan faktor-faktor yang dapat mempengaruhi optimalisasi moda transportasi Menurut He, et al (2014) variasi disrtsibusi produk, biaya transportasi, jumlah moda transportasi, ketersediaan produk di sumber, dan permintaan produk dari outlet. Rani dan Gulati (2014) persediaan, permintaan dan biaya transportasi. Zu, et al (2014) permintaan, kapasitas transportasi, rute tansportasi, waktu pengiriman, jadwal produksi dan biaya transportasi. Roy dan Mahapatra (2014) sumber (warehouse), tujuan, permintaan, moda transportasi dan biaya transportasi. Xiao, et al (2016) karakter produk, volume permintaan, tipe transportasi, rute distribusi lokasi sumber dan tujuan. Ervan dan Irawanto (2016) sumber, tujuan, permintaan dan jumlah distribusi. Timaboot dan Suthikarnnarunai (2018) persediaan, permintaan, nilai produk, jarak, jumlah pelanggan, kapasitas transportasi dan biaya transportasi.
Ding (2018) biaya distribusi, jarak sumber ke tujuan, jumlah produk, tipe transportasi dan rute distribusi.
2.2.3.5. Tipe dan Jumlah Mode Transportasi
Pada journal Timaboot dan Suthikarnnarunai (2018) dilakukan simulasi menggunakan Microsoft Excel dengan Open Solver Software untuk memilih jaringan distribusi dan moda transportasi (truk, air tongkang dan kereta api) guna mengangkut produk singkong untuk keperluan domestik dan pati singkong export. 25 Karena keterbatasan infrastruktur ketera api, maka pemilihan multimoda transportasi jalan darat (truk) dan air (tongkang) menjadi pilihan
sebab dapat memaksimalkan efektifitas transportasi, meningkatkan kuantitas angkut, menghemat energy dan menghemat biaya pengiriman serta nyaman membongkar produk singkong ke pelabuhan laut di Koh Srichang. Sedangkan untuk pengangkutan pati singkong menggunakan transportasi truk roda 6 (enam) karena dapat meminimumkan biaya transportasi, biaya yang tidak ditentukan sebelumnya dan meningkatkan kapasitas angkut.
2.2.3.6. Biaya Transportasi
Penelitian Roy dan Mahapatra (2014) membuat model baru dengan menggabungkan multi choice programming dan stokastik programming pada masalah trasnportasi padat (STP) yang disebut dengan multi-choice stochastic solid 27 transportation problem (MCSSTP) untuk mengatasi ketidakpastian biaya dengan mengasumsikan koefisien biaya dari fungsi objektif adalah multi pilihan dari pilihan tunggal dan ketidakpastian yang melibatkan penawaran, permintaan dan kapasitas yang diikuti oleh distribusi Cauchy. Konsep solusi multi-choice stochastic solid transportation problem (MCSSTP) berbasis pada teknik transformasi baru untuk memilih beberapa alternative yang bertujuan mengoptimalkan fungsi objektif dengan menjadikan koefisien biaya sebagai fungsi objektif dari multi choice programming dan menggabungkan tiga kendala (sumber, tujuan dan kapasitas) dari stokastik programming yang diikuti oleh cauchy distribution dengan tujuan memberikan solusi terhadap masalah multi-choice stochastic solid unbalanced transportation problem dengan mempertimbangkan Cauchyβs distribution semua batasan stokastik diubah
menjadi kendala deterministik yang sama dengan pendekatan pemrograman stokastik, maka koefisien fungsi objektif memberikan solusi optimal dan nilai optimal sebesar x132 = 800.1439, x211 = 700.1235, sisa variable keputusan nol dan biaya minimum fungsi tujuan 15002.67 sedangkan nilai optimal koefisien biaya multi pilihan dari rute terbaik berdasakan sumber, permintaan dan moda transportasi (xijk) ke fungsi objektif untuk dipilih dari program non-linear pada multi-choice stochastic solid transportation problem MCSSTP.adalah 11, 15, 21, 15, 12, 10, 10, 14, 22, 24, 22, 15, 18, 19, 17, 16, 18, 14 masing-masing per seratus rupee.
2.2.4. Kapasitas
Penelitian Gunawan dan Sitompul (2016) mengembangkan model optimasi tangguh di perusahaan make to order untuk mendapatkan solusi optimal agar permintaan outlet terpenuhi dari perencanaan kapasitas produksi. Jenis produk, tenaga kerja, waktu kerja beberapa faktor yang dapat mempengaruhi nilai optimal dari perencanaan kapastias produski. Parameter yang terlibat di tingkat agregat diasumsikan bernilai deterministik sedangkan parameter yang berubah-ubah seperti lead time selama proses produksi bernilai stokastik.
Parameter ketidakpastian lead time pada perencanaan kapasitas produksi yang memilki nilai berubah-ubah (probabilistic) menjadi skenario yang dapat diaplikasikan optimasi tangguh untuk memperoleh solusi optimum dengan mempertimbangkan semua skenario yang mungkin terjadi pada parameter
dengan nilai probabilitas dari kapasitas produksi selama proses produksi berlangsung.