• Tidak ada hasil yang ditemukan

Modal T erbatas

Dalam dokumen Konscp, Studi Kelayakan, dan Jaringan Kerja (Halaman 155-158)

Oleh karena alasan tertentu, pimpinan per­ usahaan kadang-kadang memberikan batasan jumlah maksimal dana yang boleh digunakan untuk proyek pada waktu tertentu. Keadaan demikian dikenal sebagai capital rationing. Prosedur memilih proyek-proyek dengan modal terbatas adalah memilih kombinasi yang menghasilkan NPV terbesar, yaitu yang total biayanya tidak melewati batas maksimal yang ditentukan. Contoh pada tabel di bawah ini menggambarkan keadaan tersebut.

145

Total Anggaran : Rp1 0 juta

Proyek: a b c d e

Biaya (Rp juta) 5,0 3,0 2,0 2,0 4,0 3,0 NPV (Rp juta) 2,5 1 ,0 0,5 0,6 1 ,2 -0,1 Karena jumlah dana yang disediakan (ang­ garan) maksimal Rp10 juta maka kombinasi yang terbaik adalah a + b + c = 10, atau a + b

+ d = 10, atau a + f + c = 10 atau a + f + d =

10. Dilihat dari NPV maka (NPV)d > (NPV)c

dan (NPV)f negatif. Dengan demikian bila proyek-proyek tersebut tidak boleh dipecah maka kombinasi yang menghasilkan NPV terbesar adalah a + b

+ d

= Rp10 juta.

Analisis mencari kombinasi terbaik bagi sejumlah besar proyek-proyek dapat dilaku­ kan dengan program matematis.

J . Membandingkan NPV dan I RR Telah dibahas kriteria seleksi proyek dengan menggunakan metode NPV dan IRR. Perta­ nyaan yang mungkin timbul adalah apakah kedua metode tersebut memberikan hasil yang sama dilihat dari sudut menarik tidaknya pro­ yek yang bersangkutan untuk diterima atau ditolak? Dari peninjauan lebih lanjut akan ter­ lihat bahwa kedua kriteria di atas menghasil­ kan kesimpulan sebagai berikut:

1 . Memberikan Hasil Kesimpulan yang Sama

Kedua kriteria akan memberikan hasil ranking yang sama terhadap menarik tidak­ nya suatu usulan proyek, dengan catatan berikut:

Aliran kas proyek harus mengikuti pola yang sejenis (aliran keluar pada masa awal dan selanjutnya aliran kas masuk berkesinambungan sampai akhir umur proyek).

Proyek berdiri sendiri dan bukan pro­ yek yang bersifat saling meniadakan (mutually exclusive project).

2 . Memberikan Kesimpulan yang Berbeda

Kriteria yang satu dapat memberikan ke­ putusan ditolak atau diterima yang berbed a dengan kriteria yang lain bilamana terdapat hal-hal berikut:

146

• Pola aliran kas proyek tidak sejenis,

terjadi beberapa kali perubahan tanda

(+)

dan (-).

• Proyek-proyek bersifat saling menia­

dakan.

• Proyek-proyek tersebut memiliki ukur­

an atau skala yang banyak berbeda. Fakta yang perlu diperhatikan adalah bahwa NPV memberikan angka absolut sedangkan IRR memberi angka perbandingan sehingga tidak memasukkan faktor skala atau ukuran proyek. Dengan demikian, NPV dianggap lebih superior dibanding metode IRR. Oleh karena itu, metode NPV inilah yang dianjurkan untuk digunakan dalam mengana­ lisis aliran kas rencana proyek (investasi).

Menerima, Menol ak, dan Rangking

Telah disebutkan sebelumnya bahwa analisis dengan memakai salah satu metode diskonto (NPV, IRR) dapat memberikan hasil yang sama mengenai diterima atau ditolaknya usulan proyek, tetapi belum tentu metode-

N P V (Rp ribu) 7.000 A 6.000 5.000 4.000 3.000 2.000 1 .000 Proyek a

Gambar 7-1 3 Arus diskonto (1).

Bagian If: Kelayakan Proyek dan KeputuEan Investasi metode tersebut memberikan urutan rangking yang sama. Sedangkan untuk proyek-proyek yang bersifat saling meniadakan, rangking ini amat penting untuk menentukan pilihan. Be­ berapa faktor yang dapat menghasilkan urutan

rangking berbeda adalah umur dan ukuran

proyek yang bersangkutan. Analisis di bawah ini akan menjelaskan hal tersebut.

Misalnya, proyek a dan b mempunyai profil NPV masing-masing sebagai berikut:

Proyek a

Pada nilai i = 0 maka besar NPV = Rp7.000. Untuk (NPV)a = 0 diperoleh arus pengemba­ lian (i)a = (IRR)a = 18%.

Untuk (NPV)a = Rp3.000 arus pengembalian (i)a = 8%.

Di titik potong F, (NPV)a = (NPV)b = Rp900 dengan (i)a = 15%.

Proyek b

Pada nilai (i)b = 0 maka besar (NPV)b = Rp5.000. = 1 5%

r

( I R R)a = 1 8% (I R R)b = 21 % A' B'

Aspek Finansial

Untuk (NPV)b = 0 diperoleh (i)b = (IRR)b = 21%.

Untuk (NPV)a = Rp2.000 arus pengembalian (i)b = 8%.

Di titik potong F, (NPV)a = (NPV)b= Rp900 dengan (i)b = 15%.

AF dengan BF:

Di zona ini (NPV)a > (NPV)b, tetapi (IRR)a < (IRR)b, sehingga untuk sifat proyek yang saling meniadakan akan terjadi konflik dalam memilih atau menentukan rangking antara ke­ duanya.

FA' dengan FB':

Di zona ini (NPV)b > (NPV)a dan (IRR)b > (IRR)a. Dengan demikian, tidak terjadi kon-

..

Risiko Finansial

Salah satu masalah penting yang berkaitan dengan penyusunan anggaran modal untuk investasi membangun proyek adalah meng­ evaluasi risiko. Investor akan melihat bagai­ mana bentuk dan berapa besar risiko yang ada sebelum bersedia menanamkan modalnya. Perusahaan selalu berusaha mencari keseim­ bangan yang paling baik antara tingkat keuntungan yang akan diperoleh dan risiko yang dihadapi.

Dalam konteks ini, persoalan yang perlu dipecahkan adalah bagaimana menentukan atau memilih skala yang tepat hubungan antara tingkat keuntungan dengan risiko yang menyertainya. Untuk menyederhanakan analisis suatu usulan proyek pada pembahas­ an terdahulu digunakan asumsi berikut:

1. Risiko proyek yang diusulkan mempunyai karakteristik dan kompleksitas sama satu dengan yang lain, bahkan juga dianggap sama dengan risiko perusahaan yang memiliki, sehingga pada kriteria seleksi dipakai arus diskonto yang sama besamya. 2. Pada waktu menyusun aliran kas Gumlah biaya pertama, pendapatan, dan penge­ luaran) didasarkan atas estimasi kondisi

147

flik dalam memilih atau menentukan rangking.

Proyek

a

dan b Secara Keseluruhan

Bila harus memilih antara menerima atau menolak salah sa tu dari proyek a dan b secara keseluruhan maka perlu kembali kepada prin­ sip proyek: mana yang paling besar dapat me­ naikkan keuntungan perusahaan, yaitu, yang memiliki NPV lebih besar. Dalam hubungan dengan contoh di atas, terlihat bahwa pada angka i antara 0-15% proyek a lebih dominan dari b, sedangkan untuk i hanya dominan pada rentang yang kecil (antara 15-18%), sehingga secara total proyek a lebih menarik.

Dari contoh di atas terlihat bahwa angka i menentukan besar NPV, sehingga dalam me­ milih proyek (investasi) bergantung pada besar i atau tingkat keuntungan yang dikehendaki.

di waktu yang akan datang yang menca­ kup kurun waktu selama unit yang di­ bangun masih beroperasi dan berproduksi secara ekonomis. Sejauh ini digunakan pendekatan sederhana, yaitu membuat asumsi dasar, dan menyusun angka aliran kas. Estimasi demikian tentu banyak menghadapi hal-hal yang belum pasti (un­

certainty) dan mengandung risiko. Unsur

risiko ini belum diperhitungkan pada pembahasan terdahulu.

Mengingat bahwa pada kenyataan sesung­ guhnya proyek mempunyai risiko yang berbeda-beda, demikian pula adanya fakta besarnya unsur-unsur ketidakpastian yang dihadapi dalam menyiapkan perkiraan aliran kas yang bersangkutan, maka pada sub bab ini faktor risiko akan dimasukkan dan diper­ hitungkan untuk meneliti menarik atau tidak­ nya suatu usulan proyek. Pembahasan perta­ ma adalah pengertian tentang risiko, dilanjut­ kan dengan identifiKasi risiko yang melekat pada suatu proyek dan hubungannya dengan risiko perusahaan pemilik. Kemudian diakhiri dengan mencoba mengukur risiko yang relevan dengan proyek.

148

Arti dan Macam Risiko Fi nansial Proyek

Dalam dokumen Konscp, Studi Kelayakan, dan Jaringan Kerja (Halaman 155-158)