• Tidak ada hasil yang ditemukan

TWA Cimanggu merupakan kawasan konservasi yang mempunyai fungsi lain yaitu sebagai objek wisata alam. Sehubungan dengan fungsi tersebut, pengembangan TWA Cimanggu diarahkan pada kegiatan wisata yang tidak bersifat mass tourism. Akan tetapi minat wisatawan terhadap objek wisata alam relatif cukup tinggi pertumbuhannya. Hal tersebut menyebabkan terjadinya

penumpukan wisatawan di area tersebut. Penumpukan wisatawan, terutama pada akhir pekan menjadi permasalahan karena menimbulkan stress bagi lingkungan dan juga secara sosial yaitu timbulnya ketidak nyamanan pengunjung yang dapat menurunkan tingkat kepuasan. Untuk mengatasi permasalahan tersebut maka perlu dikembangkan suatu konsep pengelolaan pariwisata berkelanjutan di TWA Cimanggu.

Untuk memahami konsep keberlanjutan pada kegiatan pariwisata, seperti yang di jelaskan oleh Krecher (2003) yaitu “sustainable tourism as tourism which

leads to management of all resources in such a way that economic, social and aesthetic needs can be filled while maintaining cultural integrity, essentials ecological processes, biological diversity and life support systems”, masih menimbulkan keberagaman pemahaman. Hal tersebut terjadi karena adanya keberagaman dalam penentuan indikator, aksi, kebijakan dan trade off yang tidak konsisten dilakukan. Untuk memahami konsep keberlanjutan maka kita harus merujuk pada fungsi utama TWA yang merupakan area konservasi. Maka konsep daya dukung menjadi salah satu alternatif solusi sebagai strategi dalam pengelolaan pariwisata berkelanjutan.

Untuk mengatasi permasalahan tersebut tentunya perlu dikembangkan suatu model pengelolaan yang holistik mengintegrasikan aspek- aspek yang berpengaruh terhadap daya dukung. Dalam menentukan daya dukung TWA perlu diperhatikan bahwa konsep daya dukung lingkungan bukan suatu yang statis. Definisi daya dukung lingkungan dapat diartikan beragam tergantung dari disiplin ilmu atau fokusnya. Menurut Ding (2009) “Carrying Capacity is the

amount of activity or use that can handle by a system before it deteriorate or Carrying capacity is determining how much use a given setting can absorb,

before unacceptable impact occur”. Berdasarkan definisi tersebut dapat dijelaskan bahwa daya dukung lingkungan tidak bersifat statis akan tetapi dinamis dimana kemampuan sistem dapat dikurangi atau ditambah. Rekayasa yang dilakukan dapat menggunakan teknologi. Hal tersebut menjadi lebih jelas bahwa daya dukung dapat dirubah tergantung dari sistemnya.

Dalam pengembangan jasa wisata, Perum Perhutani mempunyai misi

“mengembangkan tujuan utama ekowisata Indonesia”. Hal tersebut menuntut pengelolaan tujuan wisata yang dikelola oleh Perum Perhutani harus mengembangkan konsep pariwisata berkelanjutan, dimana pemanfaatan kawasan wisata harus dikelola tanpa melewati daya dukung lingkunganya. Pada bab II telah dijelaskan mengenai konsep daya dukung, seperti yang disampaikan

O’Reiley dalam Medlik (1991), tourism capacity as the level beyond which tourist flow will decline because certain capacities as perceive by tourist themselves have been exceed, and therefore the destination area cases to satisfy and attract them and hence they will seek alternative destination dan lebih tegas lagi yang dikemukan oleh Stankey dalam Ford (1981), the recreactional carrying capacity is the character of using that can be supported over specific time by area developed at certain level without causing excessive demage to either the physical environment or experience for the visitor.

Definisi daya dukung diatas menyatakan bahwa daya dukung tidak bersifat tunggal, akan tetapi bisa lebih dari satu (multiple state of carrying capacity ) antara lain: 1) daya dukung sosial berupa pengalaman pengujung, atraksi, tujuan wisata, 2) daya dukung ekologi seperti daya asimilasi lingkungan, dan 3) daya dukung ekonomi seperti manfaat ekonomi bagi pengelola dan masyarakat disekitar daerah tujuan wisata. Oleh karena itu penentuan daya dukung perlu dilakukan secara sistemik dan dinamis sehingga dapat dijadikan rujukan oleh pengelola untuk membuat kebijakan-kebijakan dimana ada trade off kepentingan dari penentuan prioritas tujuan-tujuan manajemen yang telah disusun (Focus on managemet Goals). Kompleksitas yang terjadi seperti yang diuraikan diatas menunjukkan bahwa pengelolaan TWA Cimanggu perlu dilakukan dengan pendekatan secara holistik dimana penelitian yang dilakukan berbasis pada pengetahuan nyata. Berpikir sistem adalah bidang ilmu yang mempelajari kompleksitas dinamis dalam sistem manajemen. Pendekatan sistem digunakan karena meningkatnya kompleksitas permasalahan dan interdependensi antar variabel, revolusi dalam teori dan praktik manajemen, meningkatnya kesadaran pembelajar sebagai kunci peningkatan kapabilitas organisasi dan meningkatnya kesadaran global dan pengambilan keputusan lokal. Dalam kerangka penyusunan

strategi pengelolaan TWA Cimanggu berbasis daya dukung ekologi yang kompleks dan dinamis maka perlu dikembangkan model dinamis yang bertujuan: 1) memberikan ilustrasi interaksi komplek antara sistem sosial dengan sistem ekologi dan ekonomi, 2) mengintegrasikan informasi kuantitatif dan kualitatif pada studi kasus di TWA Cimanggu. Diharapkan model ini dapat dijadikan bahan analisis untuk pengembangan skenario atau kebijakan pengelolaan TWA Cimanggu.

4.4.1. Pengembangan Model

Model merupakan alat yang dapat kita gunakan untuk memahami proses yang terjadi pada suatu sistem. Model dapat dikembangkan untuk menunjukkan proses yang terjadi, dapat digunakan untuk memanipulasi fenomena dan digunakan untuk penyusunan solusi permasalahan yang terjadi pada sistem. Pemanfaatan pemodelan telah mengalami peningkatan untuk menggambarkan perilaku sistem dalam jangka waktu yang lama dimana pendekatan eksperimen tidak dapat dilakukan (Patterson et al 2004). Dalam kerangka memahami perilaku sistem di TWA Cimanggu maka dikembangkan model dinamis pengelolaan TWA Cimanggu berdasarkan pada daya dukung ekologi.

Model dikembangkan melalui beberapa tahapan yaitu: (a) identifikasi isu, tujuan dan batasan, (b) konseptualisasi model dengan menggunakan metode seperti diagram kotak dan panah, (c) spesifikasi model, yaitu merumuskan makna diagram dan kuantifikasi komponen model, (d) Evaluasi model, mengamati kelogisan model membandingkan dengan dunia atau model andal yang serupa, (e) penggunaan model membuat skenario ke depan atau alternatif kebijakan. (Grant et al 1997)

a. Identifikasi isu, tujuan dan batasan

TWA Cimanggu merupakan kawasan konservasi yang digunakan sebagai daerah tujuan wisata. Pemanfaatan TWA Cimanggu sebagai tujuan wisata diharapkan dapat memberikan keuntungan ekonomi bagi masyarakat sekitar hutan, pengelola maupun pemerintah tanpa mengganggu fungsi utama sebagai area konservasi. Hasil kajian di TWA Cimanggu menunjukkan bahwa ada beberapa potensi permasalahan pengelolaan TWA Cimanggu yaitu:

1. Adanya potensi dampak terhadap fungsi konservasi TWA Cimanggu akibat pengembangan kawasan tersebut menjadi kawasan wisata. Potensi dampak terdiri dari pencemaran sampah dan pencemaran perairan.

2. Pariwisata Alam di TWA Cimanggu diharapkan dapat memberikan dampak ekonomi kepada masyarakat sekitar TWA Cimanggu berupa kesempatan kerja dan peningkatan pendapatan masyarakat dari kegiatan pariwisata.

3. Kegiatan pariwisata alam di TWA Cimanggu diharapkan dapat memberikan keuntungan bagi pengusahaan TWA Cimanggu dan memberikan pendapatan bagi pemerintah dalam bentuk pajak.

4. Tingkat kepuasan pengunjung TWA Cimanggu termasuk kategori cukup puas sehingga, perlu adanya pelayanan jasa wisata bagi pengunjung 5. Tingkat kepedulian pengunjung yang masih rendah terhadap kelestarian

lingkungan.

Untuk mengatasi potensi permasalahan yang muncul dalam pengelolaan TWA Cimanggu, maka dilakukan pemetaaan kebutuhan berdasarkan tugas pokok dan fungsi stakeholders seperti pada Tabel 26 dan pemetaan permasalahan pada Tabel 28. Untuk mengembangkan model pengelolaan TWA Cimanggu yang berbasis pada daya dukung lingkungan dengan mengakomodasi kepentingan dari setiap stakeholders, maka perlu digali isu pokok yang menjadi permasalahan utama dalam pengelolaan TWA Cimanggu. Isu pokok yang diangkat dalam pemodelan ini adalah pemanfaatan TWA Cimanggu, harus memenuhi tiga kepentingan sebagai area tujuan wisata dan area konservasi dan memberikan nilai ekonomi. Berdasarkan isu pokok tersebut maka tujuan pemodelan ini adalah membuat model sistem dinamis yang mampu mengintegrasikan aspek sosial, ekologi dan ekonomi untuk menyelesaikan permasalah pengelolaan TWA Cimanggu. Melalui model ini dapat dibuat skenario untuk pencapaian tujuan pengelolaan TWA Cimanggu yaitu menjaga keberlanjutan TWA sebagai area konservasi dan daerah tujuan wisata.

Tabel 26. Analisis kebutuhan stakeholders TWA Cimanggu No Pelaku Kebutuhan

1 BKSDA  Kelestarian fungsi TWA Cimanggu sebagai area konservasi

 Pengawetan dan perlindungan flora dan fauna

2 Pemerintah daerah  Peningkatan penerimaan PAD  Peningkatan lapangan kerja

 Peningkatan keterlibatan masyarakat  Keamanan

3 Perum Perhutani  Kelestarian fungsi TWA Cimanggu sebagai area konservasi

 Pengawetan dan perlindungan flora dan fauna

 Peningkatan kontribusi ekonomi pada pendapatan perusahaan

 Diversikasi atraksi

 Peningkatan peran masyarkat dalam mensukseskan TWA Cimanggu sebagai tujuan ekowisata Indonesia

4 Masyarakat  Peningkatan lapangan kerja

 Peningkatan pendapatan dan kesejahteraan

 Kejelasan status kegiatan usaha  Kelestarian lingkungan dan budaya

5 Perguruan tinggi  Kelestarian TWA Cimanggu sebagai laboratorium alam

 Keamanan

6 Tour and Travel  Peningkatan Pendapatan

 Peningkatan kualitas atraksi, ameniti dan aksibilitas

 Diversivikasi atraksi

 Kejelasan hukum status kerjasama  Keberlanjutan usaha

 Keamanan

7 Wisatawan  Fasilitas yang baik  Pelayanan yang baik  Keamanan

 Aksesibilitas

Tabel 27. Analisa formulasi masalah No Pelaku Masalah

1 BKSDA  Dampak negatif kegiatan wisata terhadap fungsi kawasan konservasi

2 Pemerintah daerah  Pembangunan infrastruktur yang mahal  Kurangnya koordinasi dengan

pemerintahaan lebih tinggi dan perhutani

3 Perum Perhutani  Biaya yang mahal untuk pengembangan sarana dan prasarana

 Biaya yang mahal untuk kegiatan promosi 4 Masyarakat  Dampak negatif terhadap lingkungan dan

sosial  keamanan

5 Perguruan tinggi  Informasi kerjasama penelitian yang kurang

 Dampak negatif kegiatan wisata terhadap lingkungan

6 Tour and Travel  Informasi mengenai kegiatan wisata yang relatif sedikit (atraksi)

 Aspek manajerial dan informasi kerjasama belum optimal

7 Wisatawan  Sarana dan prasarana yang menunjang kegiatan wisata belum optimal

 Aksesibilitas

 Produk wisata yang kurang bervariatif  Pelayanan wisata belum optimal  Informasi objek wisata yang sedikit Wilayah penelitian meliputi wilayah TWA Cimanggu didaerah zona pemanfaatan untuk kegiatan wisata. Model sistem dinamis yang dikembangkan dibatasi pada hal-hal yang terkait dengan interaksi antara masyarakat, wisatawan, pengelola wisata alam dan kebijakan pengelolaan hutan oleh pemerintah. Skenario yang dikembangkan merupakan skenario yang masih berada dalam kewenangan pengelola dan tidak meliputi kewenangan diatasnya misalnya pemerintah. Skenario memberikan ilustrasi interaksi antara tingkat pertumbuhan pengunjung, kualitas lingkungan dan manfaat ekonomi

Gambar 32. Diagram venn batasan model

b.Konseptualisasi model

Untuk memahami perilaku sistem TWA Cimanggu, dikembangkan model yang bertujuan untuk menjelaskan perubahan perilaku sistem tersebut. Asumsi pengembangan desain model dibangun berdasarkan karakteristik wisatawan, perilaku pencemaran di TWA Cimanggu dan pola pengelolaan kegiatan ekonomi berdasarkan alokasi budgeting yang digunakan oleh Perum Perhutani. Model ini terdiri dari 4 sub model yaitu: (1) submodel pengunjung, (2) submodel pencemaran, (3) submodel partisipasi masyarakat, dan (4) submodel ekonomi.

Hubungan antara submodel dapat dijelaskan pada Gambar 33. berupa

causal loop yang menjelaskan bahwa pertumbuhan wisatawan menyebabkan peningkatan konsumsi sumber daya yang mengakibatkan terjadinya pencemaran. Selain itu pertumbuhan wisatawan mempengaruhi peningkatan pendapatan pengelola, masyarakat, pemerintah serta partisipasi masyarakat yang dapat mendorong pengembangan daya tarik wisata yang mempengaruhi tingkat kepuasan wisatawan. Submodel pencemaran merupakan loop negatif karena pertumbuhan wisatawan dapat menyebabkan terjadinya peningkatan pencemaran yang dapat mengakibatkan turunnya jumlah wisatawan. Submodel ekonomi merupakan loop positif karena pertumbuhan wisatawan dapat menyebabkan terjadinya peningkatan pendapatan perhutani dan pemerintah berupa pajak serta

TWA Cimanggu Masyarakat Wisatawan Kebijakan Pemerintah Model

mendorong untuk pengembangan amenitas dan atraksi yang dapat meningkatkan indeks daya dukung dan mendorong pertumbuhan pengunjung. Pada submodel partisipasi masyarakat merupakan loop positif, karena pertumbuhan wisatawan menyebabkan penambahan kesempatan bekerja masyarakat lokal dan berkontribusi terhadap pendapatan pemerintah serta mendorong pengembangan daya tarik yang menyebabkan peningkatan pertumbuhan pengunjung. Simulasi model mengambarkan dinamika pertumbuhan jumlah pengunjung, partisipasi masyarakat untuk bekerja dan terlibat pada kegiatan wisata, keuntungan ekonomi berupa pendapatan bagi pengelola, pemerintah daerah berupa pajak dan masyarakat, serta pencemaran yang ditunjukkan oleh nilai Indeks dampak ekologi yaitu perbandingan antara beban pencemaran dan kapasitas pengelolaan pencemaran.

Keberadaan sistem di TWA Cimanggu menggambarkan adanya potensi pertumbuhan wisatawan yang menyebabkan peningkatan konsumsi sumber daya sampai pada titik kemampuan daya tampung pengelolaan limbah sehingga menyebabkan terjadinya pencemaran. Untuk mencapai tujuan pengelolaan TWA Cimanggu sebagai kawasan konservasi dan tujuan wisata alam maka konseptual model pengelolaan TWA Cimanggu dikembangkan seperti pada Gambar 34.

Gambar 34. Struktur dinamika sistem pengelolaan TWA Cimanggu

Skenario yang dibuat untuk tindakan koreksi pengelolaan TWA Cimanggu adalah tindakan pengelolaan pengendalian jumlah pengunjung dan peningkatan kapasitas asimilasi beban pencemaran. Tindakan pengelolaan pengendalian jumlah wisatawan adalah tindakan untuk mengendalikan jumlah wisatawan supaya konsumsi sumber daya tidak melewati daya dukung yang dimiliki. Tindakan pengelolaan peningkatan kapasitas asimilasi adalah peningkatan kemampuan pengelolaan beban pencemaran akibat kegiatan wisata. Dari skenario tersebut digunakan untuk mencari upaya pengendalian jumlah wisatawan dan pencemaran yang dapat menghasilkan indikator kelestarian TWA Cimanggu sebagai kawasan konservasi dan tujuan wisata serta kesejahteraan stakholders.

c. Spesifikasi model

Model konseptual pada Gambar 34. dirinci menjadi diagram stock dan

flow. Diagram tersebut dibuat dengan bantuan perangkat lunak Stella 9. Pada tahapan ini model dalam stock dan flow dikuantifikasi sehingga dapat disimulasikan dengan komputer menggunakan perangkat lunak Stella 9. Adapun spesifikasi model sebagai berikut:

1) Submodel Pencemaran

Dibukanya akses ke area konservasi untuk kegiatan wisata akan menjadi daya tarik dan mendatangkan wisatawan ke area konservasi tersebut. Akibat dari kegiatan wisata tentunya akan memberikan dampak positif maupun dampak negatif. Salah satu dampak negatif dari kegiatan wisata adalah terjadinya pencemaran. Kondisi eksisting menunjukkan bahwa TWA Cimanggu mempunyai potensi permasalahan pencemaran terhadap badan perairan dan sampah. Pencemaran udara dan kebisingan dari kendaraan bermotor relatif tidak memberikan dampak signifikan terhadap peranan kawasan konservasi sebagai paru-paru lingkungan dan habitat flora dan fauna. Oleh karena itu pada subsistem pencemaran lebih difokuskan kepada dampak pencemaran badan perairan dan sampah. Komponen daya dukung yang dikembangkan submodel ini adalah daya tampung limbah untuk mengatasi beban pencemaran yang diakibatkan kegiatan wisata.

Untuk pencemaran badan perairan digunakan kemampuan daya asimilasi kolam pengolahan air limbah untuk mengabsorbsi beban pencemaran domestik berupa ammonium, nitrat, fosfat, Dissolve Oxygen dan Biological Oxygen Demand. Untuk pencemaran sampah komponen daya dukungnya adalah kemampuan pengelola untuk mengelola sampah. Komponen daya dukung tersebut diterjemahkan dalam nilai Indeks dampak ekologi. Nilai indeks ini berupa perbandingan beban pencemaran yang terjadi di kolam pengolahan air limbah dengan kapasitas asimilasi perairan, sedangkan indeks pencemaran sampah adalah perbandingan antara jumlah produksi sampah dengan kemampuan pengelola untuk mengelola sampah. Variabel-variabel yang mempengaruhi submodel pencemaran dan hubungannya dapat dijelaskan pada Gambar 35, variabel, satuan dan definisi operasional pada Tabel 28. dan komponen dan besaran pada Tabel 29. Pada submodel pencemaran ini mensimulasikan bahwa pertumbuhan pengunjung akan berkontribusi terhadap peningkatan beban pencemaran ammonium, nitrat, fosfat, limbah organik dan sampah. Beban pencemaran yang dihasilkan akibat kegiatan wisata tersebut perlu dikelola dengan baik agar tidak mencemari lingkungan dan mengancam fungsi utama TWA Cimanggu sebagai kawasan konservasi. Pencemaran dikelola oleh instalasi pengelolaan limbah akan

tetapi instalasi tersebut mempunyai kemampuan yang terbatas, kemampuan tersebut adalah kapasitas asimilasi. Hasil pengolahan limbah akan dikeluarkan dan masuk ke lingkungan melalui outlet.

Konsentrasi limbah yang dikeluarkan kelingkungan akan aman selama beban pencemaran yang dihasilkan tidak melewati kapasitas asimilasinya, akan tetapi apabila melewati kapasitas asimilasi akan menyebabkan potensi dampak pencemaran lingkungan TWA Cimanggu. Sebagai indikator adanya potensi pengeluaran limbah diatas baku mutu digunakan indikator berupa Indeks dampak ekologi. Nilai Indeks dampak ekologi ≤ 1 mengindikasikan tidak adanya potensi pencemaran bagi lingkungan dan apabila nilai Indeks dampak ekologi > 1 mengindikasikan adanya potensi pencemaran pada lingkungan karena kapasitas asimilasi telah terlampaui.

Tabel 28. Variabel, satuan dan definisi operasional submodel pencemaran No Variabel satuan Definisi operasional

1 Wisatawan orang Jumlah pengunjung pada tahun patokan awal

2 Pertumbuhan

wisatawan

% Persentase rerata pertumbuhan wisatawan

3 Beban Polutan Tidak ada

satuan

Jumlah beban pencemaran akibat aktivitas wisatawan

4 BP BOD Ton/tahun beban pencemaran BOD

5 BP NH4\ Ton/tahun beban pencemaran NH4

6 BP PO4 Ton/tahun beban pencemaran PO4

7 BP NO3 Ton/tahun beban pencemaran NO3

8 BP Sampah Ton/tahun beban pencemaran sampah

9 Fr BOD Mg/L.org Kontribusi beban pencemaran BOD/org

10 Fr NH4\ Mg/L.org Kontribusi beban pencemaran NH4/org

11 Fr PO4 Mg/L.org Kontribusi beban pencemaran PO4/org

12 Fr NO3 Mg/L.org Kontribusi beban pencemaran NO3/org

13 Fr Sampah Kg/org Kontribusi beban pencemaran sampah/org

14 AsimilasiBOD Ton/tahun Kemampuan lingkungan menyerap beban

pencemaran BOD

15 AsimilasiNH4\ Ton/tahun Kemampuan lingkungan menyerap beban

pencemaran NH4

16 AsimilasiPO4 Ton/tahun Kemampuan lingkungan menyerap beban

pencemaran PO4

17 AsimilasiNO3 Ton/tahun Kemampuan lingkungan menyerap beban

pencemaran NO3

18 AsimilasiSampah Ton/tahun Kemampuan lingkungan menyerap beban

pencemaran sampah

19 Aktual BP BOD Ton/tahun beban pencemaran BOD-Asimilasi BOD

20 Aktual BP NH4\ Ton/tahun beban pencemaran NH4-Asimilasi NH4

21 Aktual BP PO4 Ton/tahun beban pencemaran PO4-Asimilasi PO4

22 Aktual BP NO3 Ton/tahun beban pencemaran NO3-Asimilasi NO3

23 Aktual BP Sampah Ton/tahun beban pencemaran sampah-Asimilasi sampah

24 BM BOD Mg/L Baku mutu BOD

25 BM NH4\ Mg/L Baku mutu NH4

26 BM PO4 Mg/L Baku mutu PO4

27 BM NO3 Mg/L Baku mutu NO3

28 BMSampah Ton/tahun Baku mutu sampah

29 IP BOD Tidak ada

satuan

Index Pencemaran BOD (Perbandingan Aktual BP BOD dengan Asimilasi BOD)

30 IP NH4\ Tidak ada

satuan

Index Pencemaran NH4 (Perbandingan Aktual

BP NH4\ dengan Asimilasi NH4\)

31 IP PO4 Tidak ada

satuan

Index Pencemaran PO4 (Perbandingan Aktual

BP PO4 dengan Asimilasi PO4)

32 IP NO3 Tidak ada

satuan

Index Pencemaran NO3 (Perbandingan Aktual

BP NO3dengan Asimilasi NO3)

33 IPSampah Tidak ada

satuan

Index Pencemaran sampah (Perbandingan Aktual BP Sampahdengan Asimilasi Sampah)

34 IP Tidak ada

satuan

Index Pencemaran (rerata dari IP BOD, IP NH4,

Tabel 29. Komponen dan besaran dinamika pencemaran No Variabel Satuan Besaran

1 Fr BOD Mg/l.org 0,002

2 Fr NH4\ Mg/l.org 0,00584

3 Fr PO4 Mg/l.org 0,017

4 Fr NO3 Mg/l.org 5,25

5 Fr Sampah Kg/org 0,803

6 AsimilasiBOD Ton/tahun 148,65

7 AsimilasiNH4\ Ton/tahun 260

8 AsimilasiPO4 Ton/tahun 9

9 AsimilasiNO3 Ton/tahun 1666

10 AsimilasiSampah Ton/tahun 240

11 BM BOD Mg/L 3

12 BM NH4\ Mg/L 0,5

13 BM PO4 Mg/L 0,2

14 BM NO3 Mg/L 10

Sumber: Olahan data dan KepMenKLH No 02/MENKLH/1988

2) Submodel Partisipasi Masyarakat

Pemanfaatan TWA Cimanggu sebagai tujuan wisata diharapkan dapat memberikan dampak positif kepada masyarakat sekitar hutan. Salah satunya adalah memberikan kesempatan partisipasi kepada masyarakat berupa kesempatan kerja pada bidang yang berhubungan langsung dengan kegiatan wisata di TWA Cimanggu. Pada submodel ini digambarkan perilaku sistem berupa jumlah tenaga kerja yang diperlukan seiring dengan dinamika pertumbuhan pengunjung.

Variabel yang mempengaruhi banyaknya tenaga kerja yang diperlukan terdiri dari rasio pengunjung yang menggunakan jasa atau akomodasi yang ditawarkan dan fraksi perbandingan antara jumlah pengunjung dan tenaga kerja yang dibutuhkan. Jasa dan akomodasi terdiri dari jasa intrepretasi, pelayanan restoran, jasa akomodasi hotel dan jasa lainnya yang terdiri dari toko souvenir, kebersihan, tukang parkir dll. Besaran variabel yang menentukan tersebut dikembangkan oleh Perum Perhutani sebagai asumsi dalam pengembangan rencana karya pengusahaan pariwisata 30 tahun yang dikeluarkan pada tahun 2003. Variabel-variabel yang mempengaruhi submodel partisipasi masyarakat dan

hubungannya dapat dijelaskan pada Gambar 36, variabel, satuan dan definisi operasional pada Tabel 30. dan komponen dan besaran pada Tabel 31.

Gambar 36. Submodel Partisipasi Masyarakat

Tabel 30. Variabel, satuan dan definisi operasional submodel partisipasi masyarakat

No Variabel satuan Definisi operasional

1 Partispasi

masyarakat

orang Jumlah pekerja yang dibutuhkan

2 Rasio restoran % Persentase jumlah pengunjung yang

menggunakan jasa restauran

3 Rasio Intreperter % Persentase jumlah pengunjung yang

menggunakan jasa intrepretasi

4 Rasio Hotel % Persentase jumlah pengunjung yang

menggunakan jasa hotel

5 Rasio AK % Persentase jumlah pengunjung yang

menggunakan jasa lain-lain

6 Fr restaurant Tidak ada

satuan

Fraksi jumlah pekerja yang dibutuhkan terhadap jumlah pengunjung restauran

7 Fr guide Tidak ada

satuan

Fraksi jumlah pekerja yang dibutuhkan terhadap jumlah pengunjung yang mengunakan jasa guide

8 Fr Hotel Tidak ada

satuan

Fraksi jumlah pekerja yang dibutuhkan terhadap jumlah pengunjung hotel

9 Fr AK Tidak ada

satuan

Fraksi jumlah pekerja yang dibutuhkan terhadap jumlah pengunjung yang menggunakan jasa lain-lain Sumber: Perhutani (2003)

Tabel 31. Komponen dan besaran dinamika partisipasi masyarakat No Variabel Satuan Besaran

1 Rasio restaurant % 30

2 Rasio Intreperter % 10

3 Rasio Hotel % 30

4 Rasio AK % 20

5 Fr restaurant Tidak ada

satuan

0,3

6 Fr guide Tidak ada

satuan

0,1

7 Fr Hotel Tidak ada

satuan 0,2 8 Fr AK Tidak ada satuan 0,2 Sumber: Perhutani (2003) 3) Sub model pengunjung

Submodel ini menggambarkan dinamika jumlah pengunjung TWA Cimanggu. Ada beberapa variabel yang mempengaruhi dinamika jumlah pengunjung yaitu amenitas, atraksi, kapasitas, Indeks dampak ekologi, kepuasan dan tingkat pertumbuhan pengunjung. Pertumbuhan pengunjung dipengaruhi oleh tingkat kepuasan pengunjung terhadap produk wisata yang ditawarkan. Produk

Dokumen terkait