• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB II KAJIAN PUSTAKA

C. Model Integrasi Islam dan Kimia

Model integrasi Islam dan kimia sudah banyak yang dikembangkan di dunia, menurut Anas (2013)umodel-modelypengintegrasiantIslam dan sains yang telahgdigagaskanuoleh cendekiawan-cendekiawanuMuslim dari seluruh dunialterdapathsepuluh model, yakni: IFIAS Model, ASASI Model, Islamic Worldview Model, Structure of Islamic Knowledge Model, Bucaillisme Model, Knowledge Integration based on Classical Philosophy Model, Knowledge Integration based on Tasawuf Model, Knowledge Integration based on Fiqh Model, Ijmali Group Model, Aligargh Group Model.

Model-model di atas merupakan model yang dibuat untuk menjawab westernisasi dan sekularisme sains. Menurut Huzni Thoyyar (2008) tidaklah mudah dalam merumuskan model-model integrasi keilmuan secara konsepsional. Hal ini dikarenakan berbagai ide dan gagasan integrasi keilmuan muncul secara tak menentu baik konteks tempat, waktu, maupun argumen yang melatarbelakanginya. Terdapat beberapa faktor yang melatarbelakangi gagasan ini, diantaranya yaitu sejarah hubungan sains dengan agama; adanya tekanan yang kuat dari kelompok ilmuwan yang menolak doktrin “bebas nilainya” sains; krisis sains dan teknologi; dan ketertinggalan umat Islam dalam bidang iptek. Dari faktor-faktor tersebut, maka secara umum dapat dikelompokkan model-model integrasi keilmuan sains-agama sebagai berikut:

1. Model IFIAS

Model integrasi keilmuan IFIAS (International Federation of Institutes of Advance Study) pertama kali muncul dalam sebuah seminar yang diselenggarakan di Stickholm pada September 1984 mengenai “Knowledge and Values”. Model ini dirumuskan dalam Gambar 2.1.

Berdasarkan Gambar 2.1 dapat dijelaskan Bahwa iman kepada Tuhan membuat ilmuwan muslim lebih sadar akan segala aktivitasnya. Mereka menempatkan akal di bawah otoritas Tuhan dan menjadi bertanggungjawab atas segala perilakunya. Dalam Islam tidak ada pemisahan antara sarana dan tujuan sains, sehingga keduanya tunduk pada tolak ukur etika dan nilai keimanan. Dengan begitu, seorang ilmuwan muslim harus mempertanggungjawabkan seluruh aktivitasnya kepada Tuhan, dan ia harus menjalankan fungsi sosial, serta meningkatkan institusi etika dan moralnya.

2. Model Akademi Sains Islam Malaysia (ASASI)

Model integrasi keilmuan ASASI (Akademi Sains Islam Malaysia) pertama kali muncul pada Mei 1977. Para ilmuwan muslim di Malaysia bergabung dan membentuk integrasi keilmuan yang berdasarkan pada ajaran kitab suci al-Qur‟an. Melalui model ASASI ini menjelaskan bahwa ilmu tidak akan terpisah dari prinsip Islam, dan ingin mendukung penggabungan nilai-nilai dan ajaran Islam dalam kegiatan ilmiah; menggalakan kajian keilmuan di kalangan masyarakat; menjadikan

al-Nilai-Nilai Positif Nilai-Nilai Negatif

13

Qur‟an sebagai sumber inspirasi dan petunjuk serta rujukan dalam kegiatan keilmuan. Dengan adanya model ini, berharap bisa menyatukan ilmuwan-ilmuwan muslim untuk memajukan masyarakat Islam dalam bidang sains dan teknologi.

3. Model Islamic Worldview

Model ini terbentuk dimulai dari pandangan dunia Islam (Islamic Worldview) yang merupakan dasar epistemology keilmuan Islam secara menyeluruh dan integral. Model ini dikembangkan dan digagas oleh dua pemikir muslim, salah satunya yaitu Alparslan Acikgenc yang merupakan Guru Besar Filsafat pada Fatih University, Istanbul Turki. Alparslan mengembangkan empat pandangan dunia Islam sebagai kerangka komprehensif keilmuan Islam, yaitu: iman sebagai dasar struktur dunia, ilmu sebagai struktur pengetahuan, fiqih sebagai struktur nilai, dan kekhalifahan sebagai stuktur manusia.

Pandangan dunia Islam menurut Alparslan Acikgenc didasarkan pada epistemolog keilmuan pada umumnya, yakni kerangka yang paling umum, kerangka pemikiran medukung seluruh aktivitas epistemolgi yang disebut dengan struktur pengetahuan, rencana konseptual keilmuan secara umum maupun secara spesifik.

4. Model Struktur Pengetahuan Islam

Model Struktur Pengetahuan Islam (SPI) dikembangkan oleh Osman Bakar, Professor of Philosophy of Science pada University of Malaya. Osman Bakar mengembangkan model ini berdasarkan pada kenyataan bahwa ilmu telah diorganisasikan secara sistematik dalam berbagai disiplin akademik. Menurut Osman, model SPI merupakan upaya mengembangkan hubungan antara ilmu dan agama.

Osman Bakar mengembangkan empat komponen yang disebut sebagai struktur pengetahuan teoritis. Komponen pertama ialah subjek dan objek ilmu yang membentuk tubuh pengetahuan dalam bentuk konsep

(concepts), fakta (facts), teori (theories), dan hukum atau kaidah ilmu (laws). Komponen kedua terdiri dari asumsi-asumsi dasar yang menjadi dasar epistemologi keilmuan. Komponen ketiga berkenaan dengan metode-metode pengembangan ilmu. Komponen terakhir berkenaan dengan tujuan yang ingin dicapai. Menurut Osman, dalam membangun kerangka pengetahuan keislaman, keempat komponen tersebut perlu dihubungkan dengan tradisi keilmuan Islam, seperti teologi, metafisika, kosmologi, dan psikologi.

5. Model Bucaillisme

Model ini menggunakan nama seorang ahli medis Perancis bernama Maurice Bucaille, yang pernah menggegerkan dunia Islam dengan tulisan bukunya yang berjudul “La Bible, le Coran et la Science”, yang juga telah diterjemahkan ke dalam Bahasa Indonesia. Model ini ditujukan untuk mencari kesesuaian penemuan ilmiah dengan ayat al-Qur‟an.

Model ini mendapat banyak kritikan, hal ini dikarenakan penemuan ilmiah yang bersifat sementara dan dapat berubah di masa depan, sehingga al-Qur‟an dianggap juga masih bisa berubah. Model ini disebut “Model Remeh” di kalangan ilmuwan muslim Malaysia, karena tidak mengindahkan sifat ketidakkekalan penemuan teori sains Barat disbanding dengan sifat mutlak dan abadi al-Quran.

6. Model Integrasi Keilmuan Berbasis Filsafat Klasik

Model integrasi keilmuan berbasis filsafat klasik ini digagas oleh Seyyed Hossein Nasr. Menurut Seyyed, pemikir muslim klasik berusaha memasukkan prinsip Tauhid ke dalam skema teori. Prinsip Tahuhid merupakan Kesatuan Tuhan yang dijadikan sebagai prinsip kesatuan alam tabi‟i. Pendukung model ini juga meyakini bahwa alam tabi‟i merupakan tanda atau ayat bagi adanya wujud dan kebenaran yang mutlak. Sementara itu, hanya Allah lah kebenaran yang sebenar-benarnya, dan alam tabi‟i hanyalah kebenaran di wilayah terbawah. Seyyed Hossein Nasr

15

berpendapat bahwa untuk mencapai tujuan integrasi keilmuan keislaman, ilmuwan Islam modern harus mengimbangi dua pandangan yaitu antara tanzih dan tasybih.

7. Model Integrasi Keilmuan Berbasis Tasawuf

Pemikir muslim yang terkenal sebagai penggagas model ini ialah Syed Muhammad Naquib Al-Attas, kemudian model tersebut diistilahkan dengan konsep Islamisasi Ilmu Pengetahuan (Islamization of Knowledge). Model ini muncul pertama kali pada saat konferensi Al-Attas mengenai “Islamisasi Ilmu Pengetahuan” di Makkah.

8. Model Integrasi Keilmuan Berbasis Fiqh

Model ini digagas oleh Ismail Raji al-Faruqi. Pada tahun 1982, ia menulis sebuah buku berjudul Islamization of Knowledge: General Principles and Work Plan yang diterbitkan oleh International Institute of Islamic Thought, Washington. Al-Faruqi merupakan salah satu pemikir muslim pertama yang mencetuskan perlu adanya gagasan Islamisasi Ilmu Pengetahuan, sehingga tidaklah mudah menjadikan al-Faruqi sebagai tokoh penggagas model integrasi keilmuan berbasis fiqh ini. Selain itu, pemikiran al-Faruqi juga tidak berakar pada tradisi sains Islam yang dikembangkan oleh tokoh-tokoh muslim lainnya, seperti al-Biruni, Ibnu Sina, al-Farabi, dan lain-lain. Melainkan berpedoman pemikiran ulama fiqh untuk menjadikan al-Quran dan as-Sunnah sebagai puncak kebenaran. Kaidah fiqh adalah kaidah penentuan hukum dalam ibadah yang dikemukakan oleh para ahli fiqh Islam melalui keseluruhan deduksi al-Qur‟an dan korpus al-Hadist. Model ini tidak menggunakan warisan sains Islam terdahulu yang dipelopori oleh al-Biruni, Ibnu Sina, dan al-Farabi, karena menurut al-Faruqi sains Islam yang seperti itu tidak Islami dan tidak bersumber dari teks al-Qur‟an dan Hadist. Kelemahan model ini adalah dikarenakan menggunakan kaidah fiqh yang hanya menentukan status sains berdasarkan hukum saja dan oleh karenanya hanya mampu

melakukan Islamisasi pada level aksiologis saja. Akan tetapi, pengembangan model al-Faruqi mengenai Islamisasi Ilmu Pengetahuan ini mendapat respon yang baik dari beberapa pemikir Islam.

9. Model Kelompok Ijmali (Ijmali Group)

Model Ijmali digagas oleh Ziauddin Sardar yang merupakan pemimpin sebuah kelompok dengan nama Kumpulan Ijmali (Ijmali Group). Menurut Sardar tujuan sains Islam bukan hanya untuk mencari kebenaran akan tetapi untuk melakukan penyelidikan sains berdasarkan etos Islam yang berpedoman dengan al-Qur‟an. Sardar meyakini sains merupakan syarat nilai dan sudah umum dijalankan dalam pemikiran dan paradigma tertentu. Sardar menggunakan konsep „adl dan zulm sebagai kriteria dalam menentukan bidang sains yang perlu dikaji. Sardar juga menggunakan beberapa istilah dari al-Qur‟an seperti tauhid, ibadah, khilafah, halal, haram, taqwa, „ilm, dan istislah. Tidak jauh berbeda dengan al-Faruqi, Sardar mengemukakan konsep-konsep yang tidak merujuk pada tradisi sains Islam klasik. Menurut Sardar sains adalah is a basic problem-solving tool of any civilization (perangkat pemecahan masalah utama setiap peradaban).

10. Model Kelompok Aligargh (Aligargh Group)

Model ini digagas oleh Zaki Kirmani yang merupakan seorang pemimpin Kelompok Aligargh University, India. Model ini menjelaskan bahwa sains Islam berkembang dengan „ilm dan tasykir untuk menghasilkan gabungan antara ilmu dan etika. Zaki mengembangkan model ini berdasarkan wahyu dan taqwa, dan juga mengembangkan struktur sains Islam dengan konsep paradigma Thomas Kuhn. Selain itu, Zaki menggagas makroparadigma mutlak, mikroparadigma mutlak, dan paradigma bayangan.

17

Selain model integrasi ilmu yang dijelaskan oleh Husni Thoyyar, Terdapat konsep integrasi Islam-sains yang ditentukan berdasarkan jumlah konsep dasar yang menjadi komponen utama model tersebut, diantaranya sebagai berikut (Hamzah, 2015):

1. Model Monadik

Model ini dijelaskan oleh fundamentalis religius dan fundamentalis sekuler. Menurut fundamentalis religius, sains hanyalah suatu bagian dari kebudayaan agama adalah satu-satunya kebenaran. Sebaliknya, menurut pandangan fundamentalis sekuler menyatakan bahwa agama yang merupakan suatu bagian dari kebudayaan dan sains adalah satu-satunya kebenaran. Dengan demikian, model ini memberikan penegasan bahwa sains dan agama memiliki eksistensi masing-masing dan keduanya tidak dapat disatupadukan.

2. Model Diadik

Model ini menjelaskan bahwa sains dan agama merupakan satu kesatuan yang tidak bisa dipisahkan. Model diadik disebut juga dengan model diadik komplementer.

Gambar 2.2 Model Monadik

3. Model Diadik Dialogis

Model ini digambarkan dengan dua buah diagram lingkaran sama besar dengan saling berpotongan. Dua diagram tersebut menggambarkan agama dan sains yang memiliki kesamaan dan berhubungan.

4. Model Triadik

Model ini menjelaskan bahwa terdapat unsur ketiga yang menjadi penghubung di antara sains dan agama. Unsur penghubung tersebut adalah filsafat. Dengan demikian, model triadik ini merupakan model perkembangan dari model diadik komplementer, dikarenakan terdapat filsafat diantara sains dan agama.

Sedangkan menurut Anshori dan Zaenal Abidin (2016) terdapat tiga model paradigma atau konsep dasar keilmuan ketika seseorang membangun sains Islam, antara lain:

1. Islamisasi Ilmu Pengetahuan

Paradigma islamisasi ilmu pengetahuan dikemukakan oleh Seyyed Seyyed Hossein Nasr, Naquib al-Attas dan Ismail Raji Al-Faruqi. Menurut al-Attas, islamisasi ilmu pengetahuan adalah Pembebasan manusia dari tradisi magis, mitologis, animistis, kultur nasional yang bertentangan dengan Islam dan dari belenggu paham sekuler. Atau dapat disimpulkan bahwa usaha islamisasi ilmu harus dimulai melalui kajian mendalam

Gambar 2.4 Model Diadik Dialogis

19

terhadap asas-asas metafisika dan epistemologi Islam yang telah dirumuskan dengan elegan oleh pemikir Islam klasik (Anshori & Abidin, 2016). Menurut Al-Faruqi, Islamisasi adalah usaha untuk mendefinisikan kembali, menyusun ulang data, memikirkan kembali argumen dan rasionalisasi yang berkaitan dengan data itu, menilai kembali kesimpulan dan tafsiran, memproyeksikan kembali tujuan-tujuan dan melakukan semua itu sedemikian rupa sehingga disiplin-disiplin ini memperkaya wawasan Islam dan bermanfaat bagi cita-cita (Sholeh, 2017).

Dari pengertian Islamisasi pengetahuan diatas dapat disimpulkan bahwa Islamisasi dilakukan dalam upaya membangun kembali semangat umat Islam dalam mengembangkan ilmu pengetahuan melalui kebebasan penalaran intelektual dan kajian-kajian rasional, empirik dan filosofis dengan tetap merujuk kepada kandungan al-Quran dan Sunnah Nabi. Sehingga umat Islam akan bangkit dan maju menyusul ketinggalan dari umat lain, khususnya Barat. Islamisasi ilmu pengetahuan ini bisa dilaksanakan dengan dua cara. Yakni yang pertama, dengan cara mengislamkan ilmu-ilmu pengetahuan yang ada maupun yang sedang berkembang. Yang kedua, dengan cara mengilmukan Islam. Berdasarkan dua gagasan tentang Islamisasi pengetahuan di atas, setidaknya ada tiga model Islamisasi pengetahuan yang dapat dikembangkan dalam pembaharuan madrasah yaitu (Mukhibat, 2013):

a. Model Purifikasi

Purifikasi berarti pembersihan atau penyucian. Dengan kata lain, proses Islamisasi berupaya memberikan pendidikan yang sesuai dengan nilai-nilai dan norma Islam secara kaffah, lawan dari Islam yang parsial. Kemudian berkomitmen untuk menjunjung tinggi dalam menjaga dan memelihara ajaran dan nilai-nilai Islam dalam segala aspek kehidupan.

Adapun empat langkah kerja model Islamisasi yang dikembangkan oleh Al-Faruqi dan Al-Attas, meliputi penguasaan khazanah ilmu pengetahuan muslim, penguasaan khazanah ilmu

pengetahuan masa kini, indentifikasi kekurangan-kekurangan ilmu pengetahuan itu dalam kaitannya dengan ideal Islam, dan rekonstruksi ilmu-ilmu itu sehingga menjadi suatu paduan yang selaras dengan wawasan dan ideal Islam.

b. Model Modernisasi Islam

Modernisasi berarti proses perubahan menurut fitrah atau sunnatullah. Model ini berangkat dari kepedulian terhadap keterbelakangan umat Islam yang disebabkan oleh sempitnya pola pikir dalam memahami agamanya, sehingga sistem pendidikan Islam dan ilmu pengetahuan agama Islam tertinggal jauh dari bangsa non-muslim. Islamisasi disini cenderung mengembangkan pesan Islam dalam proses perubahan sosial, perkembangan IPTEK, adaptif terhadap perkembangan zaman tanpa harus meninggalkan sikap kritis terhadap unsur negatif dan proses modernisasi (Mujib, 2010, hlm. 3).

Modernisasi berarti berfikir dan bekerja menurut fitrah atau sunnatullah yang hak. Untuk melangkah modern, umat Islam dituntut memahami hukum alam (perintah Allah swt) sebelumnya yang pada giliran berikutnya akan melahirkan ilmu pengetahuan. Modern berarti bersikap ilmiah, rasional, menyadari keterbatasan yang dimiliki dan kebenaran yang didapat bersifat relatif, progresif dinamis, dan senantiasa memiliki semangat untuk maju dan bangun dari keterpurukan dan ketertinggalan.

c. Model Neo-Modernisme

Model ini mejelaskan suatu ajaran-ajaran dan nilai-nilai mendasar yang terkandung dalam al-Quran dan al-Hadits dengan memlihat kepada khazanah intelektual Muslim klasik serta mencermati kesulitan-kesulitan dan kemudahan-kemudahan yang ditawarkan iptek (Gofur, 2010, hlm. 48).

21

Islamisasi model ini bertolak dari landasan metodologis, diantaranya persoalan-persoalan kontemporer umat harus dicari penjelasannya dari tradisi, dari hasil ijtihad para ulama terdahulu hingga sunnah yang merupakan hasil penafsiran terhadap al-Quran, bila dalam tradisi tidak ditemukan jawaban yang sesuai dengan kehidupan kotemporer, maka selanjutnya menelaah konteks sosio-historis dari ayat-ayat al-Quran yang dijadikan sasaran ijtihad ulama tersebut, melalui telaah historis akan terungkap pesan moral al-Quran sebenarnya yang merupakan etika sosial al-al-Quran, dari etika sosial al-Quran itu selanjutnya diamati relevansi dengan umat sekarang berdasarkan bantuan hasil studi yang cermat dari ilmu pengetahuan atas persoalan yang dihadapi umat tersebut (Baihaki, 2010, hlm. 28).

Dari ketiga model Islamisasi pengetahuan di atas, semuanya bertujuan untuk memutuskan mata rantai dikotomi ilmu pengetahuan guna menghindari keberlanjutan praktik dikotomi ilmu ini dalam dunia pendidikan yang berakibat pada terhambatnya kebebasan melakukan penalaran intelektual dan kajian-kajian rasional empirik. Model paradigma atau konsep dasar keilmuan ketika seseorang membangun sains Islam selanjutnya ialah pengilmuan Islam.

2. Pengilmuan Islam

Secara harfiah, “Pengilmuan Islam” berarti menjadikan Islam sebagai ilmu. Dengan “Pengilmuan Islam”, yang ingin ditujunya adalah aspek universalitas klaim Islam sebagai rahmat bagi alam semesta, bukan hanya bagi pribadi-pribadi atau masyarakat Muslim (Mukhlis, 2013). Pengilmuan Islam lahir dari keprihatinan terhadap ilmu modern Barat yang melenceng dari semangat Renaissans yang pada mulanya bertujuan memanusiakan manusia, malah yang terjadi dehumanisasi dan sekularisasi (Raharjo & Laily, 2018). Pengilmuan Islam juga bermaksud merespons gagasan Islamisasi ilmu, yang dipandang sebagai sebuah tekstualisasi,

yakni menjadikan ilmu-ilmu Barat selaras dengan Islam. Pengilmuan Islam bermaksud menempatkan Islam sebagai sebuah paradigma dalam memotret realitas. Kuntowijoyo membandingkan pengilmuan Islam dengan kodifikasi Islam dan Islamisasi Ilmu. Pengilmuan Islam (yang dalam konteks ini disebutnya sebagai demistifikasi Islam) adalah gerakan dari teks ke konteks; Islamisasi adalah sebaliknya, dari konteks ke teks; sementara kodifikasi berkutat di sekitar eksplorasi teks, nyaris tanpa memperhatikan konteks (Mukhlis, 2013).

Kuntowijoyo menawarkan dua langkah yang harus diambil sebagai upaya mengimplemantasikan pengilmuan Islam, yaitu integralisasi dan objektivikasi. Integralisasi ialah pengintegralisasian kekayaan keilmuan manusia dengan wahyu (petunjuk Allah dalam Al-Qur‟an beserta pelaksanannya dalam Sunnah Nabi). Sedangkan objektivikasi ialah menjadikan pengilmuan Islam sebagai rahmat untuk semua orang (Anshori & Abidin, 2016). Pada integralisasi, Kuntowijoyo menyusun tahapan dari kelahiran ilmu-ilmu integralistik sebagai berikut:

Terdapat empat tahapan dalam menghasilkan ilmu-ilmu yang integralistik. Pertama dimulai dari pandangan agama, yang berlanjut pada lahirnya teo-antroposentrisme yang merupakan perpaduan dari pandangan ketuhanan dan sekaligus kemanusiaan. Hasilnya, maka lahirlah dediferensiasi atau perekatan kembali ilmu-ilmu yang terpisah. Dediferensiasi merupakan lawan dari diferensiasi. Pada akhirnya, lahirlah ilmu-ilmu yang disebut dengan ilmu integralistik atau ilmu yang terpadu (Raharjo & Laily, 2018).

Selanjutnya paradigma keilmuan yang dikembangkan oleh M. Amin Abdullah, Rektor UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta yang disebut dengan paradigma integrasi-interkoneksi.

23

3. Paradigma Integrasi-Interkoneksi

Paradigma keilmuan integrasi-interkoneksi adalah paradigma yang peneliti gunakan dalam penelitian ini. Paradigma ini merupakan paradigma yang digagas oleh M. Amin Abdullah yang mentrialogikan antara nilai-nilai subjektif, objektif, dan intersubjektif. Amin Abdullah menyatakan bahwa integrasi-interkoneksi adalah trialektika antara tradisi teks (hadarat an-nas), tradisi akademik ilmiah (hadarat al-„ilm), dan tradisi etik kritis (hadarat al-falsafah). Epistemologi integrasi-interkoneksi dijelaskan melalui jaring laba-laba yang dapat dilihat pada Gambar 2.6 (Abdullah, 2006).

Berdasarkan Gambar 2.2 layer pertama pada jaring laba-laba tersebut menjelaskan bahwa al-Qur‟an dan al-Hadist merupakan sumber normatif Islam dan akar dari segala ilmu. Selanjutnya melalui berbagai metode dan pendekatan lahirlah layer kedua yang berisikan berupa ilmu-ilmu tradisional Islam, yakni ilmu fiqh, hadist, tafsir, tasawuf, falsafah, tarikh, kalam, dan lughah. Pada layer ketiga yang merupakan ilmu-ilmu teoritik yakni terdiri dari mathematic, physic chemistry biology, hermeneutics,

philology, archeology, anthropology sociology, history, philosophy, psychology, phenomenology, dan ethics. Perkembangan ilmu modern seperti ilmu-ilmu alam dan ilmu sosial-humaniora yang terdapat pada layer ketiga dibutuhkan untuk memperkaya makna dan kontekstual ilmu-ilmu pada layer kedua. Sebaliknya, ilmu-ilmu keislaman pada layer kedua dibutuhkan untuk memperkaya pengembangan ilmu-ilmu yang ada pada layer ketiga. Dengan adanya komunikasi antar layer maupun antar disiplin ilmu dalam satu layer tersebut akan menjadikan ilmu-ilmu baru. Layer terakhir merupakan layer yang berisi pengetahuan aplikatif, yakni isu-isu aktual seperti hukum internasional, pluralism agama, hak asasi manusia, teknologi, ekonomi, politik, budaya, gender, dan juga lingkungan (Abdullah, 2006).

M. Amin Abdullah memperkenalkan beberapa model kajian yang terdapat dalam kajian paradigma integrasi-interkoneksi, antara lain:

a. Model Informatif

Model informatif yaitu jika suatu disiplin ilmu diperkaya informasi yang dimiliki oleh disiplin ilmu lainnya agar siswa memperoleh wawasan yang lebih luas. Ciri khas dari model informatif adalah menuntut siswa dan guru untuk menggali dan memahami informasi tidak hanya dari satu mata pelajaran saja, tetapi juga menggunakan informasi yang dimiliki mata pelajaran lainnya untuj memperkaya informasi.

b. Model Konfimatif/Klarifikasi

Model konfirmatif ialah jika disiplin ilmu tertentu perlu memperoleh penegasan dari disiplin ilmu lainnya agar dapat membangun teori yang kokoh. Materi pelajaran tidak diberikan secara langsung kepada siswa, tetapi guru mengajak siswa untuk menemukan suatu konsep dengan untuh secara mandiri.

c. Model Korektif

Model korektif merupakan model yang didalamnya terdapat suatu teori ilmu tertentu yang mendapatkan pengkoreksian dari ilmu lainnya

25

atapun sebaliknya, sehingga menghasilkan teori yang lebih dinamis. Adanya korektif antar satu disiplin ilmu dengan disiplin ilmu lainnya tentu bertujuan untuk menambah pengetahuan dan meningkatkan taraf berpikir siswa, dan bisa menjadi refleksi atas suatu disiplin ilmu tersebut.

d. Model Similarisasi

Model similarisasi diartikan sebagai model yang adanya penyamaan konsep antara konsep sains dan konsep keislaman meskipun belum tentu sama. Dalam praktiknya, konsep-konsep yang ada di dalam al-Qur‟an dapat dilihat dari struktur kata dan tafsirannya. Kemudian dari sanalah disamakan dengan konsep-konsep kimia.

e. Model Paralelisasi

Model paralelisasi adalah model yang berisikan konsep sains yang dianggap sejalan dengan konsep yang berasal dari al-Qur‟an karena adanya kemiripan konotasi tanpa menyamakan maknanya.

f. Model Komplementasi

Model komplementasi yaitu jika ilmu sains dan ilmu agama saling melengkapi dan memperkuat satu sama lain, akan tetapi tetap mempertahankan eksistensi masing-masing. Contohnya, siswa memberikan pendapat dengan siswa lainnya agar saling melengkapi. Dengan demikian, saling bertukar informasi untuk melengkapi kekurangan materi sehingga didapatkan konsep yang bulat.

Dokumen terkait