“SWAKELOLA” DALAM KELEMBAGAAN IRIGASI DI
7.2 Model Irigasi “Lelang” dan Model Irigasi “Swakelola”
Model irigasi lelang merupakan model irigasi kontrak antara petani (sebagai pemilik lahan, pengguna air) dengan pengelola air (sebagai pengelola air) untuk mengelola air irigasi selama periode tertentu (biasanya 3-10 tahun) dengan menyediakan biaya investasi di awal pengelolaan untuk mendapatkan hak pengelolaan. Model irigasi lelang, selanjutnya disebut
“model lelang”.
Istilah “Model lelang” diambil dari sistem kontrak yang penentuan pengelola air irigasi didasarkan pada pemenang lelang. Pihak desa selaku fasilitator akan memfasilitasi pertemuan “rapat anggota” yang di dalamnya terdapat petani dan “calon pengelola air”. Dalam pertemuan itu pihak desa akan mengawali pertemuan dengan pertanyaan bagaimana pengelolaan air irigasi di kelompok P3A ini? Biasanya terdapat dua model kontrak yang selama ditawarkan, yaitu “model P3A lelang” dan “model P3A swakelola”.
Kedua model ini berbasis kontrak antara petani dan pengelola air irigasi (P3A) di mana petani menyerahkan urusan pengelolaan air irigasi kepada pengelola termasuk penyediaan investasi dalam pengelolaan infrastuktur pengairan, drainase dan infrastruktur usahatani. Perbedaan kedua model ini adalah dalam model lelang biaya investasi disediakan oleh pengelola P3A pada awal penentuan pengelola sebagai syarat dalam memenangkan lelang. Sedangkan dalam model swakelola biaya investasi disediakan oleh pengelola secara periodik setelah pengelola mendapatkan penerimaan dari pengelolaan tersebut. Penentuan pengelola dalam model swakelola ditentukan dengan musyawarah untuk mencapai mufakat.
Kedua model pengelolaan ini banyak diaplikasikan oleh petani di daerah irigasi Klambu Wilalung, Jawa Tengah. Sebagian petani lebih memilih model lelang dan sebagian lainnya lebih memilih model swakelola.
Pemilihan model ini tergantung kesepakatan (kontrak) antara petani dan
96 Kelembagaan Irigasi
calon pengelola P3A. Petani dapat memilih atau mengganti model tersebut jika dirasa tidak sesuai dengan keinginan (harapan) berdasarkan capaian pada periode sebelumnya. Tabel 7.1 berikut digunakan untuk mengetahui persamaan dan perbedaan model lelang dan model swakelola.
Tabel 7.1 Persamaan dan Perbedaan Model Irigasi Lelang dan Swakelola
Deskripsi Lelang Swakelola
Perbedaan
Cara penentuan pengelola Lelang terbuka di mana penawar tertinggi akan
Di awal pengelolaan Di akhir pengelolaan
Penggunaan dana investasi Dilakukan oleh panitia yang ditunjuk bersama
- Terdapat kontrak (petani membayar iuran air, P3A mengelola air)
- Kontrak pengelolaan air dalam durasi waktu tertentu
Sumber: Rondhi, 2016
Terlihat bahwa pada kedua model terdapat sistem kontrak yang dibangun oleh petani dan P3A untuk memastikan kewajiban masing-masing pelaku dan hak-hak yang diterima. Hak yang diterima satu pelaku ekonomi adalah kewajiban yang dilakukan oleh pelaku ekonomi lainnya. Kewajiban petani adalah membayar iuran air sedangkan haknya adalah mendapatkan distribusi air baik kuantitas maupun kualitas (termasuk waktu sampainya air di lahan). Kewajiban P3A adalah mendistribusikan air ke lahan petani dan membangun infstruktur, sedangkan haknya adalah menerima iuran petani yang digunakan untuk biaya operasional, simpanan untuk investasi di akhir musim, dan sebagian untuk pendapatan pengelola (pengurus P3A).
Model “Lelang” dan Model “Swakelola” dalam Kelembagaan … 97
Perbedaan keduanya adalah pada model lelang biaya investasi dibayarkan di muka (di awal) untuk mendapatkan hak atas pengelolaan air irigasi, sedangkan pada model swakelola biaya investasi dibayarkan di akhir (di tengah) pengelolaan air irigasi. Perbedaan lainnya adalah penentuan pengelola model lelang dilakukan dengan sistem lelang, sedangkan penentuan model swakelola ditentukan dengan musyawarah. Untuk memperjelas model lelang berikut diberikan ilustrasi model kontrak lelang yang pernah dilakukan di salah satu P3A di Jawa Tengah.
Besar dana lelang periode kontrak 4 tahun (2007-2011) pada luas lahan 88 bahu2 adalah Rp 40 juta. Dana tersebut digunakan untuk membangun infrastruktur pengairan dan pertanian secara umum dalam menunjang usahatani di wilayah P3A tersebut. Nilai kontrak tersebut disepakati men-jadi Rp 50 juta pada periode lelang selanjutnya (2011-2015). Kenaikan ini dengan pertimbangan kenaikan harga barang-barang (inflasi) sehingga barang-barang untuk pembelian bahan bangunan juga mengalami kenaikan.
Penggunaan dana investasi tersebut telah disepakati pada saat rapat anggota.
Tabel 7.2 Lama Kontrak, Nilai Lelang dan Kegunaan Dana Lelang pada P3A Sido Makmur, Kabupaten Kudus, Jawa Tengah.
Tahun
2007-2011 4 40.000.000 Pembangunan jembatan penyebrangan,
2011-2015 4 50.000.000 Pembangunan jembatan penyebrangan sisi barat, pengerasan jalan
100 kg gabah kering sawah
Sumber: diolah dari Rondhi, 2016 Keterangan:
* Nilai lelang untuk luas areal 88 bahu.
2 1 bahu = ¾ ha. Satuan ini secara umum digunakan pada pengukuran lahan (termasuk jual beli) di wilayah penelitian, Jawa Tengah.
98 Kelembagaan Irigasi
Dalam model lelang pembangunan infrastruktur pertanian dan pengairan dilakukan oleh pihak yang ditunjuk (semacam komisi pembangunan) berdasarkan kesepakatan bersama antara P3A terpilih dan pihak desa. Dalam proses pembangunan pihak P3A mengontrol apa yang dilakukan oleh komisi pembangunan tersebut.
Kewajiban petani adalah membayar iuran air yang besarnya 100 kg/bahu. Pengumpulan iuran air (yang berupa gabah tersebut) dilakukan oleh pengurus P3A pada saat petani memanen padinya di lahan. Pengurus menjual gabah jika gabah sudah terkumpul sejumlah satu rit (biasanya sekitar 7 ton) kepada pembeli yang biasanya datang ke gudang yang dimiliki P3A. Hasil penjualan gabah tersebut digunakan untuk membayar biaya operasional selama satu musim dan sisanya dibagikan kepada pengurus P3A.
Pada model swakelola pengelola P3A tidak perlu membayar sejumlah uang di awal pengelolaan untuk mendapatkan hak pengelolaan. Akan tetapi hak pengelolaan lebih didasarkan pada musyawarah bersama antara petani, calon pengelola P3A difasilitasi oleh pihak desa. Model ini juga bagian dari model kontrak untuk mengelola air irigasi, akan tetapi tidak seperti lelang yang harus menyediakan uang di awal pengelolaan untuk investasi membangun infrastruktur pengairan dan pertanian, namun lebih menekanan asas kebersamaan.
Selanjutnya dalam model swakelola juga disepakati tentang hak dan kewajiban P3A dan petani. P3A berkewajiban menyediakan air irigasi dengan kuantitas dan kualitas tertentu dan juga menyediakan infrastruktur fisik (sesuai yang disepekati) pada akhir periode pengelolaan. Selain itu, P3A menerima hak berupa penerimaan yang didapatkan dari iuran air petani. Di sisi pengguna air petani memiliki hak untuk medapatkan air dalam kuantitas dan kualitas tertentu, di sisi lain memiliki kewajiban membayar iuran air yang besarnya 100kg/bahu. Untuk memperjelas berikut diberikan ilustrasi model swakelola.
Model “Lelang” dan Model “Swakelola” dalam Kelembagaan … 99
Tabel 7.3 Lama Kontrak, Pengelolaan Dana Iuran Air pada P3A Waduk Rejo, Kabupaten Kudus, Jawa Tengah.
untuk pembangunan Penggunaan dana
bangunan Besarnya iuran
Sumber: Laporan Hasil Pembangunan P3A Waduk Redjo,2010-2013.
Luas lahan yang dikelola P3A Waduk Rejo seluas 112 bahu dengan periode kontrak selama 3 tahun. Selama periode kontrak tersebut P3A telah melakukan pembangunan sebanyak 6 kali setelah panen setiap musimnya yang total nilainya sebesar Rp 70,1 juta. Pada model swakelola pembangunan infrastuktur dilakukan secara swakelola oleh P3A tersebut.
Pihak desa melakukan kontrol pada proses pembangunan tersebut.
Berdasarkan dua model tersebut perlu diketahui besarnya dana pembangunan persatuan luas. Untuk mengetahui besarnya dana pembangunan pada kedua model kontrak tersebut, berikut dibandingkan besarnya kontrak persatuan luas (bahu). Namun perlu ditegaskan kembali bahwa pembayaran untuk model lelang dilakukan di awal, sedangkan untuk model swakelola setelah panen waktu berjalan.
Tabel 7.4. Besarnya biaya invetasi pembangunan infrastruktur persatuan luas.
Deskripsi Model kontrak
Lelang Swakelola
Besarnya dana pembangunan 50.000.000 70.850.000
Waktu kontrak 8 musim (4 tahun) 6 musim (3 tahun)
Luas lahan (bahu) 88 112
Dana pembangunan per luas
lahan/musim 71,000 113.800
Sumber: Tabel 7.2 dan tabel 7.3
100 Kelembagaan Irigasi
Terlihat bahwa besarnya dana investasi persatuan luas permusim dengan model swakelola lebih besar dibandingkan dengan model lelang.
Perbandingan mungkin terasa tidak adil karena tidak memperhitungkan nilai uang berdasarkan waktu dan juga tidak memperhitungkan resiko yang ditanggung. Dalam model swakelola resiko biaya investasi tersebut ditanggung dua pihak (pengelola P3A dan petani) sedangkan pada model lelang, semuanya ditanggung oleh pengelola P3A.
Tentu, kedua model tersebut memiliki kelebihan dan kekurangan masing-masing yang akan dibahas pada sub bab berikutnya. Namun yang ditekankan di sini adalah adanya model kontrak (baik lelang maupun swakelola) merupakan salah satu model yang muncul di masyarakat petani dalam mengelolan air irigasi untuk mendapatkan kemanfaatan yang lebih besar.
7.3 Sejarah dan Evolusi Model Swakelola dan Model Lelang