• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB I PENDAHULUAN

G. Sistematika Pembahasan

3. Model Kepemimpinan

Dalam sejarah kepemimpinan, para ahli memetakan beberapa model di dalam kepemimpinan itu. Beberapa model kepemimpinan tersebut adalah otoriter, demokratis dan laissez faire (kendali bebas), kharismatik, transaksional dan transformasional. Di sini hanya akan dibahas kepemimpinan demokratis, kharismatik dan kepemimpinan transformasioanal.

1) Kepemimpinan Demokratis

Menurut Dale gaya kepemimpinan demokratik dimana gaya kepemimpinan ini memberikan tanggungjawab dan wewenang kepada semua pihak, sehingga ikut terlibat aktif dalam organisasi, anggota diberi kesempatan untuk memberikan usul serta saran dan kritik demi kemajuan organisasi. Gaya kepemimpinan ini memandang bawahan sebagai bagian dari keseluruhan organisasinya, sehingga mendapat tempat sesuai dengan harkat dan martabatnya sebagai manusia. Pemimpin mempunyai tanggungjawab dan

tugas untuk mengarahkan, mengontrol dan mengevaluasi serta mengkoordinasi.39

Menurut Harold Kontz, seorang pemimpin dalam kepemimpinan gaya demokratis ini tidak banyak menggunakan kekuasaannya, melainkan memberikan kesempatan sebanyak-banyaknya kepada bawahan untuk mandiri dalam melaksanakan pekerjaan mereka. Pemimpin seperti ini akan bergantung pada bawahan mereka untuk menetapkan sendiri tujuan dan cara bawahan dalam hal pencapaian tujuan perusahaan, dan tugas pemimpin adalah menjalin komunikasi baik dengan bawahannya untuk memberikan informasi yang dibutuhkan seorang karyawan dalam penyelesaian pekerjaannya di dalam perusahaan untuk pencapaian tujuan dari perusahaan.40

Menurut Sudarwan Danim pemimpin demokratis memiliki ciri-ciri antara lain: a) Beban kerja organisasi menjadi tanggung jawab bersama personalia organisasi itu. b) Bawahan, oleh pemimpin dianggap sebagai komponen pelaksana secara integral harus diberi tugas dan tanggung jawab. c) Disiplin akan tetapi tidak kaku dan memecahkan masalah secara bersama. d) Kepercayaan tinggi terhadap bawahan dengan tidak melepaskan tanggung jawab pengawasan e) Komunikasi dengan bawahan bersifat terbuka dan dua arah.41

39 Timpe. A. Dale.Seri Manajemen Sumber Daya Manusia Kepemimpinan.(Jakarta: PT. Elex Media Computindo Gramedia; 2002), hlm.122

40 Koontz, Manajemen Edisi Kedelapan,(Jakarta: Penerbit Erlangga;1986),hlm.150

41 Danim, Motivasi Kepemimpinan dan Efektivitas Kelompok.(Jakarta: Penerbit Rineka Cipta;2004).hlm.76

Inti dari kemimpinan demokrasi yang telah dikemukakan oleh para ahli di atas bahwa kekuatan kepemimpinan demokratis ini bukan terletak pada person atau individu pemimpin, tetapi kekuatan justru terletak pada partisipasi aktif dari setiap kelompok. Dengan kata lain model kepemimpinan demokratis selalu berpihak pada kepentingan yang dipimpin, menempatkan sejajar dengan berpegang pada prinsip mewujudkan kebenaran dan keadilan untuk kepentingan bersama. Konsep semacam itu jelas sejalan dengan ajaran Islam yang sangat mengutamakan prilaku yang mampu membedakan antara yang hak dan yang batil. SebagaimanaAllah berfirman:

2) Kepemimpin Kharismatik

Pemimpin karismatik mempunyai pengaruh terhadap pengikut pada tingkat yang tinggi secara luar biasa, bukan karena tradisi atau otoritas tapi karena persepsi pengikut. Kharisma merupakan sebuah fenomena yang berhubungan dengan Atribusional, jadi menurut teori ini atribusi dari pengikut dari kwalitas kharismatik bagi seorang pemimpin adalah ditentukan oleh perilaku, keterampilan pimpinannya dan aspek siatuasi. Atribusi pengikut dari kharisma seorang pemimpin hanya bergantung kepada beberapa bagian perilaku pemimpin sehingga atribusi itu bergantung sampai pada batas-batas situasi kepemimpinannya yang dalam kepemimpinannya tidak mendukung status Quo.42

Para ahli sepakat dalam mengartikan karisma sebagai “suatu hasil persepsi para pengikut dan atribut-atribut yang dipengaruhi oleh

42 Gary Yukl. Kepemimpinan Dalam Organisasi, Leadership In Organisation, Alih Bahasa Budi Supriyanto, Edisi Kelima, (Jakarta : PT. Indeks; 2009), hlm. 291

kemampuan aktual dan perilaku dari para pemimpin dalam konteks situasi kepemimpinan dan dalam kebutuhan-kebutuhn individual maupun kolektif para pengikut ”.43

Dari perspektif Islam, kepemimpinan kharismatik (Spiritual Leadership ) di artikan sebagai kepemimpinan yang sangat menjaga nilai-nilai etis, nilai-nilai moral yang luhur serta menjaga nilai-nilai-nilai-nilai spiritual yang ada dibalik posisinya sebagai pemimpin. Pemimpin macam ini melakukan aktifitasnya benar-benar hanya memuaskan hati pengikutnya melalui pemberdayaan, memulihkan, menguntungkan dan juga tidak hanya mampu memberikan keuntungan financial saja, akan tetapi hati, jiwa, mereka juga dihibur sehingga termotivasi dengan pekerjaan yang efektif, efisien dan produktif.44

Lebih rinci lagi menurut Tobroni, karakteristik kepemimpinan kharismatik yang berbasis Religius adalah didasarkan kepada kejujuran sejati, fairness pengenalan diri sendiri, focus dan konsentrasi kepada amal sholeh, spiritualis yang tidak dogmatis, bekerja lebih efisien, membangkitkan yang terbaik dalam diri sendiri dan orang lain, penuh keterbukaan menerima perubahan, visioner namun focus, disiplin namun tetap fleksibel, santai cerdas dan penuh kerendahan hati.45

Dari beberapa telaah para ahli yang telah dijelaskan di atas, bahwa kepmimpinan kharismatik muncul atau di bangun dari pemimpin itu sendiri

43 Garry Yukl, Kepemimpinan dalam organisasi, terj. Jusuf Udaya, (Jakarta : Prehalindo; 1994),hlm. 269

44 Mas’ud Sa’id, Kepemimpinan Pengembangan Organisasi Team Building dan Perilaku Inovatif, (Malang : UIN Malang Press; 2007),hlm. 110

melalui kemampuan aktual dan perilakunya. Dalam kacamata Islam kemampuan aktual dan perilaku tersebut tentunya berbasis budaya religius Islam.

3) Kepemimpinan Transformatif

Istilah kepemimpinan transformasioanl pertamakali dicetuskan oleh Downton yang kemudian dikembangkan oleh sosiolog politik James MacGregor Burn pada tahun 1978 dalam tajuk leadership. Burn dalam Nothorhouse menawarkan teori kepemimpinan tranformasional, yaitu sebuah proses di mana para pemimpin dan pengikut saling menaikkan diri ke tingkat moralitas dan motivasi dalam diri pemimpin dan pengikut.46

Berbeda dengan Burn, menurut Stepen P Robin kepemimpinan transformasional adalah kepemimpinan yang menginspirasi pengikut untuk melampaui kepentingan dirinya sendiri dan mampu memiliki efek yang besar dan luar biasa pada pengikutnya.47

Lebih lanjut Colqiutt et al. menjelaskan bahwa kepemimpinan transformasional adalah kepemimpinan yang melibatkan inspirasi seluruh anggotanya untuk berkomitmen dalam rangka menuju visi bersama yang memberikan makna terhadap pengembangan potensi mereka sendiri dan beberapa permasalahan dari perspektif bar.48

Dari beberapa konsep kepemimpinan transformasional yang telah dijelaskan oleh para ahli maka ada beberapa indikator yang ditemukan penulis

46 Peter G.Northouse,Kepemimpinan Teori dan Praktek, alih bahasa Cahayani edisi keenam,(Jakarta:PT.Indext;2013),hlm.176

47 Robbins, S. P. Organizational Behaviour, 11th ed.,terj. Jilid 2, edisi ketujuh (Jakarta, PT. Bhuana Ilmu Populer,2005),hlm. 367

antara lain 1) adanya proses yang dilakukan secara bersama-sama antara pemimpin dan follower, 2) secara bersama-sama meningkatkan motivasi dan moral yang excelent, 3) leader dan follower sama-sama menjadi inspirasi, 4) berkomitmen menuju visi bersama.

Dokumen terkait