• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB V KESIMPULAN DAN SARAN

BAGAN 2 Model Komunikasi Wilbur Schramm

Model Komunikasi Wilbur Schramm

Encoder Decoder

Sumber : Ikhsan, Fauzar, FISIP USU (2011, 35)

Menurut Schramm komunikasi senantiasa membutuhkan setidaknya 3 unsur : 1. Sumber bisa berupa seoramg individual berbicara, menulis, menggambar, dan

bergerak atau sebuah organisasi komuniasi (koran, rumah produksi, televisi) 2. Pesan bisa berupa tinta dalam kertas, gelombang suara dalam udara, lambaian

tangan, atau sinyal-sinyal lain yang memiliki makna.

3. Sasaran dapat berupa individu yang mendengarkan , melihat, membaca, anggota dari sebuah kelompok seperti diskusi kelompok mahasiswa dalam perkuliahan, khalayaak massa, pembaca surat kabar, penonton televisi, dll.

Bagan 3

Model Komunikasi Wilbur Schramm

Sumber : Ikhsan, Fauzar, FISIP USU (2011, 36) Sinyal

Source Sinyal Destination

34

Schramm mengenalkan konsepfield of experience, yang menurut Schramm sangat berperan dalam menentukan apaah komunikasi diterima sebagaimana yang diinginkan oleh komunikan. Schramm menekankan bahwa tanpa adanya field of experience yang saam (bahasa yang sama, latar belakang yang sama, kebudayaan yang sama, dll) hanya ada sedikit kesempatan bahwa suatu pesan akan diinterpretasikan dengan tepat. Dalam hal ini model Schramm diatas adalah pengembangan dari model Shannon dan Weaver. Schramm mengatakan bahwa pentingnya feedback adalah suatu cara untuk megatasi masalah noise. Menurut Schramm feedback dapat membantu kita mengetahui bagaimana pesan kita diinterpretasikan. Sumber dapat menyandi dan sasaran dapat menyandi balik pesan berdasarkan pengalaman yang dimilikinya masing-masing. Jika wilayah irisan semakin besar, maka komunikasi lebih mudah dilakukan dan efektif.

Bagan 4

Model Komunikasi Wilbur Schramm

Sumber : Ikhsan, Fauzar, FISIP USU (2011, 36)

Pada model ini Schramm percaya bahwa ketika komunikan memberikan umpan balik maka ia akan berada pada posisi komunikan (source). Setiap individu dilihat sebagai sumber sekaligus penerima pesan dan komunikasi dilihat sebagai suatu proses sirkular daripada suatu proses satu arah seperti pada dua model

Decoder Penerjemah decoder Decoder Penerjemah decoder Pesan Pesan

Schramm sebelumnya. Model yang ketiga ini disebut juga model Osgood dan Schramm.

Pesan menurut teori Cutlip dan Center yang dikenal dengan The 7C’s of

Communication, (Rosady Ruslan, 2005:83-84) meliputi :

a. Credibility yaitu komunikasi yang membangun kepercayaan antara komunikator dan komunikan.

b. Context yaitu komunikasi dapat berlangsung jika situasi dan kondisi setempat tidak ada gangguan antara komunikator dengan komunikan serta sarana atau media komunikasi saloing berkaitan.

c. Content yaitu komunikator dapat menyampaikan pesan kepada komunikan dalam hal ini komunikan dapat memahami maksud komunikator sehingga komunikator merasa puas.

d. Clarity yaitu antara komunikator harus menyampaikan pesan atau berita secara jelas sehingga tujuan dapat tercapai.

e. Continuity and consistency yaitu komunikasi berlangsung secara terus dan pesan atau berita tidak saling bertentangan (tidak berubah-ubah/tetap). f. Capability of audience yaitu komunikator harus memperhatikan

kemampuan komunikan (pihak penerima) dalam menerima pesan, agar tidak terjadi kesalah fahaman.

g. Channels of distribution yaitu komunikasi harus meggunakan media/alat komunikasi yang sudah biasa digunakan oleh umum misalnya media cetak (surat kabar, majalah), media elektronik (televisi, radio).

II.4 Televisi

Televisi merupakan media massa elektronik yang diciptakan manusia dengan menggunakan prinsip-prinsip radio karena televisi lahir sesudah radio. Istilah televisi terdiri dari dua kata yakni “tele” dan “visi”, tele berarti jauh dan visi berarti penglihatan. Segi jauhnya ditransmisikan dengan prinsip-prinsip radio, sedangkan penglihatan diwujudkan dengan kamera sehingga menjadi gambar baik dalam bentuk gambar hidup, bergerak maupun diam (still picture). Istilah televisi sendiri baru dicetuskan pada tanggal 25 Agustus 1900 di kota Paris, yang saat

36

dikota itu berlangsung pertemuan para ahli dibidang elektronika dari berbagai Negara.

Televisi merupakan sebuah media telekomunikasi yang berfungsi sebagai penerima siaran gambar bergerak dengan suara, baik itu yang monokrom (hitam putih) ataupun berwarna. Televisi juga merupakan media massa yang digunakan untuk menyebarkan informasi. Televisi merupakan gabungan dari media dan gambar. Gambar yang disajikan televisi juga merupakan gambar yang hidup yang dapat menimbulkan kesan tersendiri kepada khalayak yang menontonnya. Informasi yang disajikan melalui televisi juga banyak dinikmati oleh masyarakat karena bersifat lebih cepat, lugas, dan lengkap meliput sebuah berita atau peristiwa.

Televisi menghadirkan berbagai bentuk program yang dikemas sangat berbeda dari yang lain. Sehingga dapat menarik perhatian penontonnya. Banyak acara televisi, diantaranya acara seperti berita, hiburan, infotaiment, talk show, kuis, maupun kuliner. Penonton juga berhak memilih acara mana yang layak untuk di tonton dan menjadikan wawasan bertamba luas juga menghibur. Televisi banyak memberikan nilai tambah dalam pola berfikir masyarakat. Daya tarik yang dimiiki oleh televisi melebihi rasio dari bioskop, karena tayangan yang ada pada televisi dapat dinikmati dirumah oleh masyarakat dengan aman dan nyaman (Effendy,2002:177)

Kemajuan yang pesat dalam pertelevisian telah mencapai taraf yang begitu memuaskan bagi manusia seperti sekarang adalah berkat ditemukannya alat yang disebut inconoscope (‘icon” berarti gambar, “scopein” berarti melihat) oleh Dr.Vladimir K. Zwarklyn dari Rusia pada tahun 1920. Iconoscope merupakan alat semacam pistol listrik yang digunakan untuk melakukan peradapan terhadap gambar dari suatu objek yang diambil lensa kamera. Segaris demi segaris namun cepat sehingga bagi orang yang melihatnya bagaikan gambar yang berkesinambungan.

Iconoscope yang berupa lampu terhadap didalam kamera elektronik yang fungsinya mengubah gambar menjadi getaran listrik, kemudian ditransmisikan setelah ditangkap oleh pesawat penerima. Dalam pesawat penerima proses perubahan getaran listrik menjadi gambar yang sama dengan yang diambil kamera

dengan alat yang dinamakan kenescipe. Dengan bantuan alat tersebut maka muncullah gambar-gambar dari objek yang diambil kamera

II.4.1 Sejarah Televisi di Indonesia

Televisi bukanlah dilihat sebagai barang mewah lagi di Indonesia seperti pertama kali ada. Saat ini televisi merupakan salah satu bahn kebutuhan pokok bagi kehidupan masyarakat di Indonesia. Masyarakat menjadikan televisi sebagai sumber hiburan dan sumber informasi. Dalam kata lain, informasi sudah merupakan bagian dari hak manusia untuk aktualisasi diri.

Televisi Republik Indonesia (TVRI) merupakan televisi pertama di Indonesia yang mengudara pada tanggal 19 Agustus 1962 dengan studionya yang sederhana di kompleks Senayan Jakarta. Dibandingkan dengan Negara-negara yang maju seperti Amerika Serikat, Inggris, Australia, Jepang dan Negara-negara lain yang di Eropa, Indonesia termasuk Negara yang relatif baru dalam bidang televisi. tetapi bila dibandingkan dengan beberapa Negara Asia, seperti Malaysia dan Singarpura, Indonesia sudah terlebih dahulu (Effendy, 2005;190).

Pada tanggal 18 Agustus 1988 hadir dalam pertelevisian di Indonesia stasiun televisi oleh pihak swasta pertama kalinya yaitu Rajawali Citra Televisi Indonesia (RCTI). Dengan kehadirannya RCTI kemudian disusul dengan lahirnya Surya Citra Televisi Indonesia (SCTV) pada tanggal 18 Agustus 1990. Pada awalnya siaran kedua televisi swasta ini belum dapat di terima oleh semua masyarakat di Indonesia dan hanya ditayangkan di Jakarta dan sekitarnya.

Pada awal tahun 1991 disusul dengan hadirnya stasiun televisi lainnya dengan tema pendidikan yaitu Televisi Pendirikan Indonesia (TPI). Pada awal berdirinya stasiun televisi ini dapat mengudara secara nasional dan dapat diterima oleh semua masyarakat di seluruh wilayah Indonesia tetapi hanya berlangsung dari pagi hingga siang hari. Dengan kehadiran TVRI, RCTI, SCTV dan TPI, televisi banyak mengalami perbaikan dan kemajuan, baik dalam bidang mutu siaran maupun penayangan.

38

Untuk lebih meningkatkan mutu siarannya dipertengahan tahun 1993, RCTI mengudara secara nasional dan membangun transmisi di beberapa kota besar Indonesia seperti Jakarta, Bandung, Medan, Batam dan lainnya. Saat ini ada 11 stasiun televisi swasta yang dapat dinikmati oleh masyarakat Medan, Antara lain : ANTV, GlobalTV, Indosiar, MetroTV, MNCTV, RCTI, SCTV, Trans TV, Trans7, tvOne, NET. Ditambah dengan TVRI sebagai TV milik pemerintah dan ada DeliTV dan DAAI TV sebagai TV lokal. Pada televisi swasta saat ini berlomba-lomba menyajikan acara Televisi yang beragam dan menarik serta cepat dan fenomenal. Kesebelas televisi swasta ini menunjukkan bagaimana tingkat kemauan khalayak dalam memilih stasiun TV mana yang menyajikan program- program yang berbeda dan yang tidak ada pada stasiun TV lainnya.

BAB III

METODOLOGI PENELITIAN

III.1 Deskripsi Lokasi Penelitian

Sebelum peneliti memaparkan metodologi penelitian yang digunakan dalam penelitian ini, peneliti terlebih dahulu akan memaparkan lokasi penelitian yakni Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Sumatera Utara. Keseluruhan data dalam pemaparan lokasi penelitian ini bersumber dari Subag Pendidikan FISIP USU. Berikut pemaparannya

III.1.2 Sejarah Fakultas Ilmu Sosial dan Politik

Berikut merupakan sejarah mengenai Fakultas ilmu Sosial dan Ilmu Politik (FISIP) Universitas Sumatera Utara yang di dapat dari Ksubag Fakultas ilmu Sosial dan Ilmu Politik (FISIP) Universitas Sumatera Utara:

Fakultas ilmu Sosial dan Ilmu Politik (FISIP) Universitas Sumatera Utara merupakan fakultas kesembilan di lingkungan Universitas Sumatera Utara. kelahiran fakultas ini tidak jauh beda dari fakultas lainnya di lingkungan Univeritas Sumatera Utara. Pada awal pendiriannya (1980), Fakultas ilmu Sosial dan Ilmu Politik (FISIP) Universitas Sumatera Utara masih merupakan jurusan Pengetahuan Masyarakat pada Fakultas Hukum Universitas Sumatera Utara.

Setahun kemudian jurusan Pengetahuan Masyarakat berubah menjadi Ilmu-Ilmu Sosial (IIS). Pada tahun 1982, jurusan Ilmu-Ilmu Sosial resmi menjadi Fakultas ilmu Sosial dan Ilmu Politik dengan menggunakan gedung perkuliahan di Fakultas Kedokteran Gigi (FKG) Universitas Sumatera Utara. Dalam pengembangannya, jurusan yang ada di FISIP USU tidak dibuka sekaligus. Hal ini disesuaikan dengan kebutuhan masyarakat dan pemerintah daerah serta tenaga pengajar yang dibutuhkan sesuai dengan bidangnya.

Pada tahun ajaran 1980/1981, FISIP USU hanya membuka 2 jurusann saja, diantaranya :

1. Jurusan Ilmu Komunikasi

Barulah pada tahun ajaran 1983/1984, FISIP USU membuka jurusan lainnya, yaitu :

1. Jurusan Sosiologi

2. Jurusan Kesejahteraan Sosial dan menerima jurusan Antropologi dari Fakultas Sastra.

Sesuai dengan SK Mendikbud RI No. 0535/0/83 tahun 1983 tentang jenis jumlah jurusan pada fakultas di lingkungan Universitas Sumatera Utara, dinyatakan Bahwa FISIP USU mempunyai 6 (enam) Jurusan, yaitu:

1. Jurusan Sosiologi

2. Jurusan Ilmu Kesejahteraan Sosial 3. Jurusan Antropologi Sosial

4. Jurusan Ilmu Administrasi Negara 5. Jurusan Ilmu Komunikasi

6. Jurusan Mata Kuliah Dasar Umum (MKDU)

Jurusan MKDU akhirnya diputuskan untuk diserahkan pengelolaanya di luar FISIP USU dengan pertimbangan bahwa jurusan tersebut bukan suatu disiplin Ilmu yang berdiri sendiri, melainkan mengelola mata kuliah yang termasuk pada kelompok Mata Kuliah Dasar Umum. Sejalan dengan perkembangan dan kebutuhan masyarakat serta pemerintah daerah dan didukung oleh ketersediaan staf pengajar yang dibutuhkan, FISIP USU dengan SK Dikti No. 108/Dikti/Kep/2001 tanggal 30 April 2001 menambah satu program studi baru yaitu Ilmu Politik. Dengan demikian, hingga saat ini ada 6 jurusan yang berada di naungan FISIP USU.

Era otonomi daerah mulai bergulir sejak dikeluarkannya UU No. 22 tahun 1990 dan direvisi lagi dengan UU No.32/2004 tentang Pemerintah Daerah menuntut Perguruan Tinggi, termasuk Universitas Sumatera Utara untuk menyediakan tenaga tenaga pemikir dan peneliti berkaitan dengan berbagai perubahan dan terobosan yang dilakukan bagi penempatan proses pembangunan, baik secarakonseptual teoritik maupun empiric. Apalagi perubahan status USU menuju era Otonomi pendidikan menuju perguruan tinggi berbadan hokum

(BUMN) pada 11 Nopember 2003 menuntut FISIP USU sebagai salah satu fakultas yang ada di Universitas Sumatera Utara untuk berbenah diri, antara lain menyesuaikan kembali visi fakultas yang searah dengan visi universitas yakni “University for Industry”, menurut FISIP USU untuk segera melakukan perubahan-perubahan yang berkaitan berbagai program dan kebijakan seperti pengembangan program studi, penataan, pengembangan, kurikulum, pengelolaan, personalia dan pengembangan SDM, pengelolaan/pengembangan sumber-sumber dana dan pengembangan kerjasama dengan berbagai steakholder.

III.1.2 VISI

Visi Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Sumatera Utara adalah : “Menjadi Pusat Pendidikan dan Rujukan Bidang-Bidang Ilmu Sosial dan Politik di Wilayah Barat"

III.1.3 MISI

Misi Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Sumatera Utara adalah :

1. Menghasilkan alumni dengan skala kualitas global dan menjadi pusat riset kajian dalam studi ilmu sosial dan politik.

2. Menjalin kerjaia sama yang saling menguntungkan dengan selurus stakeholders dan mitra pendidikan. Misi ini berhubungan dengan fungsi relasi yang harus dibangun oleh Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Sumatera Utara sebagai suatu organisasi professional pendidikan. Bentuk kolaborasi dengan organisasi lain perlu dijajaki dengan sikap open minded dan professional. Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Sumatera Utara harus mampu melihat peluang kerjasama yang ditawarkan atau malah mampu menawarkan kerjasama tersebut pada pihak lain.

3. Membentuk lingkungan kerja sehat, harmonis dan professional bagi staff dan mitra kerja. Misi ini berhubungan dengan azas professionalitas dalam menjalankan pekerjaan. Lingkungan dan suasana kerja yang dibangun harus memperhatikan situasi fisik dan psikologis seluruh aktivitas akademika. Harus ada mekanisme yang mampu membangun suasana tersebut. prinsip

Profesional juga harus didukung dengan prinsip dan persaudaraan dan pertemanan (makna positif) dengan kemampuan menempatkan dan menjalankan fungsi masing-masing

4. Menjadi institusi bagi kepentingan public. Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Sumatera Utara sangat potensial sebagai institusi pendidikan yang membawa misi diatas dengan melihat pengalaman- pengalaman yang telah dilalui oleh Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Sumatera Utara sendiri.

III.2 Metode Penelitian

Metode penelitian yang digunakan adalah metode korelasional. Metode korelasional meneliti korelasional hubungan atau pengaruh sebab akibat. Keuntungan metode ini adalah kemampuannya memberikan bukti nyata mengenai hubungan sebab akibat yang langsung bisa dilihat (Krisyantono, 2006:62). Penelitian yang dirancang untuk menentukan tingkat hubungan variabel-variabel yang berbeda dalam suatu populasi disebut metode korelasional. Perbedaan utama dengan metode lain adalah adanya usaaha untuk menafsir hubungan dan bukan sekedar deskripsi (Umar, 2002: 45). Peneliti dapat mengetahui seberapa besar kontribusi variabel-variabel bebas terhadap variabel terikat serta besarnya arah hubungan yang terjadi.

Metode ini digunakan untuk meneliti bagaimana pengaruh tayangan Mario Teguh Golden Ways terhadap konsep diri mahasiswa FISIP USU. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis hubungan antara variabel yang ada.

III.3 Sekilas Tentang Metro TV

Berikut pemaparan sekilas tentang sejarah berdirinya PT. Media Televisi Indonesia atau disebut sebagai Metro TV berdasarkan data yang di dapat dari website Metro TV:

Sebuah stasiun televisi swasta di Indonesia yang didirikan oleh PT. Media Televisi Indonesia. Stasiun ini resmi mengudara sejak 25 November 2000 di Jakarta. PT. Media Televisi Indonesia merupakan anak oerusahaan dari Media Group, suatu kelompok usaha yang dipimpin oleh Surya Paloh, yang juga

merupakan pemilik surat kabar Media Indonesia. PT. Media Televisi Indonesia mendapatkan memperoleh izin penyiaran atas nama “MetroTV” pada tanggal 25 Oktober 1999. Pada tanggal 25 November 2000, MetroTV megudara untuk pertama kalinya dalam bentuk siaran uji coba di 7 kota. Pada awalnya hanya bersiaran 12 jam sehari, sejak tanggal 1 April 2001 MetroTV mulai bersiaran selama 24 jam. Dari awalnya memulai operasi dengan 280 orang karyawan, saat ini MetroTV mempekerjakan lebih dari 900 orang karyawan sebagian besar di ruang berita dan daerah produksi.

Surya Paloh memutuskan untuk membangun sebuah televisi berita mengikuti perkembangan teknologi dari media cetak ke media elektronik. MetroTV bertujuan untuk menyebarkan berita dan informasi ke seluruh pelosok Indonesia. Selain bermuatan berita, MetroTV juga menayangkan beragam program informasi mengenai kemajuan teknologi, kesehatan, pengetahuan umum, seni, dan budaya guna mencerdaskan bangsa. MetroTV berdri dari 70% berita (news), yang ditayangkan dalam 3 bahasa yakni : mandarin, Indonesia dan Inggris, ditambah dengan 30% program non berita (non news) yang edukatif. metroTV dapat ditangkap secara tangkap terestial di 280 kota yang tersebar di tanah air Indonesia yang di pancarkan dari 52 transisi. Selain secara teresterial, siaran MetroTV juga dapat ditangkap melalui televisi kabel di seluruh Indonesia, melalui satellite Palapa 2 ke seluruh Negara-negara di ASEAN, termasuk di Hongkong, Cina Selatan, India, Taiwan, Macao, Papua New Guinea, dan sebagian Australia serta Jepang.

MetroTV melakukan kerjasama dengan beberapa televisi asing diantaranya kerja sama dalam pertukaran berita dan kerja sama pengembangan tenga kerja. Stasiun televisi tersebut adalah CCTV, Channel 7 Australia, Voice of America (VOA). Selain bekerja sama dengan stasiun televisi Internasional, Metro TV juga memiliki contributor internasional yang tersebar di Jepang, China, USA, dan Inggris. Dengan kerjasama International ini, MetroTV berusaha memberikan Sumber berita mengenai keadaan dalam Negara yang dapat dipercaya dan komprehensif kepada dunia luar dan juga hal ini mendukung MetroTV untuk menjadi media yang secara cepat, tepat, dan cerdas dalam mendapatkan beritanya.

III.3.1 Logo dan Arti MetroTV

Bagan 5 Logo MetroTV

(Sumber : http://www.metrotvnews.com )

Logo dari MetroTV dirancang tampil dalam citraan tipografis sekaligus kecitraan gambar. Oleh karena itu komposisi visualnya gabungan antara tekstual (diwakii huruf-huruf : M-E-T-R-T-V) dengan visual (diwakili simbol bidang elips emas kepala burung elang). Elips emas dengan kepala burung elang pada posisi huruf “0” dengan pertimbangan kesamaan struktur huruf “O” dengan elips emas, dan menjadi pemisah bentuk-bentuk teks M-E-T-R dengan T-V. hal itu melafalkan M-E-T-R-T-V sebagai METROTV.

Logo MetroTV dalam kehadirannya secara visual tidak saja dimaksudkan sebagai simbol informasi atau komunikasi MetroTV secara institusi, tetapi berfungsi sebagai sarana pembangunan image yang tepat dan cepat dari masyarakat terhadap isntitusi MetroTV. Melalui tampilah logo, masyarakat luas mendapatkan gerbang masuk, mengenal, memahami, serta meyakini visi, misi serta karakter MetroTV sebagai institusi. Logo MetroTV dalam rancangan rupa bentuknya berlandaskan pada hal-hal berikut:

- Simpel, tidak rumit

- Memberikan kesan global dan modern - Menarik dilihat dan mudah diingat - Dinamis dan lugas

- Berwibawa namun familiar

- Memenuhi syarat-syarat teknis dan estetis untuk aplikasi print, elektronik dan filmis

Selain mendapatkan unsur simbol teks / huruf, MetroTV menampilkan juga simbol gambar yaitu : Bidang elips dan kepala burung elang.

1. Bidang Elips Emas

Sebagai latar dasar teraan kepala burung elang, merupakan proses metamorphosis atas beberapa bentuk, yaitu:

a. Bola Dunia

Sebagai simbol cakupan yang global dari sifat informasi, komunikasi dan seluruh kiprah operasional institusi MetroTV. b. Telur Emas

Sebagai simbol Bold yang tampil penuh kewajaran. Telur juga merupakan simbol kesempurnaan dan merupakan image suatu bentuk (institusi) tabf secara struktur kokoh, akurat, dan artistic sedangkan tampilan emas adalah sebagai simbol puncak prestasi dan puncak kualitas.

c. Elips

Sebagai simbol citraan lingkar (ring) benda planet, tampil miring kekanan sebagai kesan bergerak, dinamis, lingkar (ring) planet sendiri sebagai simbol dunia cakrawala angkasa, satelit sesuatu yang erat kaitannya dengan citraan dunia elektronik dan penyiaran.

2. Elang

Simbol kewibawaan kemandirian, keluasan penjelajahan dan wawasan. Simbol kejelian, awas, tajam, tungkas namun penuh keanggunan gerak hidupnya anggun.

III.3.2 Visi dan Misi MetroTV a. Visi

Untuk menjadi stasiun televisi Indonesia yang berbeda dan menjadi nomor satu dalam program beritanya, menyajikan program hiburan dan gaya hidup yang berkualitas. Memberikan konsep unik

dalam beriklan untuk mencapai loyalitas dari pemirsa maupun dari pemasangan.

b. Misi

• Untuk membangkitkan dan mempromosikan kemajuan. Bangsa dan Negara melalui suasana yang demokratis, agar unggul dalam kompetensi global, dengan menjunjung tinggi moral dan etika.

• Untuk memberikan nilai tambah di Industri pertelevisian dengan memberikan pandangan baru, mengembangkan penyajian informasi yang berbeda dan memberikan hiburan yang berkualitas.

• Dapat mencapai kemajuan yang signifikan dengan membangun dan menambah asset perusahaan, untuk meningkatkan kualitas dan kesejahteraan para karyawannya dan mengjasilkan keuntungan yang signifikan bagi pemegang saham.

III.4 Metode Penelitian

Metode penelitian yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode korelasional, yang bertujuan untuk meneliti sejauhmana varian pada suatu faktot berkaitan dengan varian pada faktor yang lain. Kelebihan menggunakan metode korelasional adalah dapat mengukur hubungan diantara berbagai variabel, meramalkan variabel tidak bebas, dapat memudahkan untuk membuat pandangan penelitian eksperimental. Sedangkan kelemahannya adalah korelasi tidak selalu menunjukkan kualitas, walaupun kadang-kadang korelasi yang menunjukkan sebab-akibat.

III.5 Populasi dan Sampel 1. Populasi

Populasi menurut Sugiono dalam buku statistika untuk penelitian dikutip oleh Rosady Ruslan (2003:107), adalah wilayah generalisasi yang terdiri dari

objek dan subjek yang mempunyai kuantitas dan karakteristik tertentu yang diharapkan oleh peneliti untuk dipelajari, dan kemudian ditarik kesimpulannya.

Populasi dalam penelitian ini adalah seluruh Mahasiswa S1 Ilmu Komunikasi yang masih aktif kuliah di FISIP USU. Peneliti hanya meneliti mahasiswa S1 angkatan 2011-2012 karena belum disibukkan dengan adanya tugas akhir.

Tabel 2

Jumlah Mahasiswa Fakultas Ilmu Komunikasi USU

Angkatan Jumlah

2011 145

2012 122

Total 267

Sumber: Subag pendidikan FISIP USU 2013

2. Sampel

Sampel merupakan bagian dari populasi yang diambil dengan menggunakan cara-cara tertentu yang disebut dengan teknik sampling. Arikunto menjelaskan apabila subjek yang diteliti kurang dari 100 lebih baik diambil keseluruhannya sehingga penelitiannya merupakan penelitian populasi. Sedangkan jika subjeknya lebih dari 100 orang maka dapat diambil antara 10%- 15% atau 20%-25% (Arikunto,2006:12) N=nx25% N=267x25% N=66,75 N=67 Keterangan : N = Jumlah populasi

n = sampel

maka jumlah sampel dalam penelitian ini 25% dari 267 adalah 67 orang. III.6 Teknik Penarikan Sampel

Teknik sampel yang digunakan peneliti adalah: 1) Purposive Sampling

Teknik ini adalahh teknik pengambilan sampel yang diseleksi dengan kriteria-kriteria tertentu yang di buat peneliti berdasarkan tujuan penelitian

Dokumen terkait