• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB IV. PROGRAM KATEKESE UMAT MODEL SCP UNTUK

A. Gambaran Umum Katekese Umat

5. Model-model Katekese Umat

Model-model Katekese Umat ada tiga yaitu model pengalaman hidup, model biblis dan model campuran: biblis dan pengalaman hidup (Sumarno Ds, 2009: 11-14).

a. Model Pengalaman Hidup

Model Pengalaman Hidup secara garis besar memiliki langkah-langkah yaitu: Introduksi, penyajian suatu pengalaman hidup, pendalaman pengalaman hidup, rangkuman pendalaman pengalaman hidup, pembacaan Kitab Suci atau Tradisi Gereja, Pendalaman teks Kitab suci atau Tradisi, rangkuman pendalaman teks Kitab Suci atau Tradisi, penerapan dalam hidup konkret, penutup (Sumarno Ds, 2009: 11).

1) Introduksi

Introduksi berisi lagu-lagu dan doa pembuka yang disesuaikan dengan tema pertemuan katekese. Katekis sebagai pendamping katekese berperan untuk membantu, mengingatkan dan menghubungkan dengan tema-tema yang telah dibahas dalam katekese yang lampau, bila sebelumnya pernah diadakan pertemuan katekese (Sumarno Ds, 2009:11).

2) Penyajian suatu Pengalaman Hidup

Penyajian suatu pengalaman hidup biasanya diambil dari suatu peristiwa konkrit sesuai dengan tema dan situasi peserta. Pengalaman ini bisa diambil dari surat kabar atau cerita yang relevan bagi peserta (Sumarno Ds, 2009: 11).

3) Pendalaman Pengalaman Hidup

Pendalaman pengalaman hidup mengajak peserta untuk mengaktualisasikan pengalaman yang diperoleh dari surat kabar atau cerita dalam situasi hidup mereka yang nyata. Biasanya didalami dalam kelompok kecil dengan dibantu pertanyaan-pertanyaan pendalaman yang merangsang peserta untuk mengambil perhatian dalam sikap hidup moral konkrit sesuai dengan tema untuk hidup sehari-hari (Sumarno Ds, 2009:11).

4) Rangkuman Pengalaman Hidup

Rangkuman pengalaman hidup menyarikan gambaran umum dari sikap-sikap yang dapat diambil oleh peserta berhubung dengan tema dalam penyajian pengalaman hidup dengan teks Kitab Suci atau Tradisi yang hendak dipakai dalam langkah berikutnya (Sumarno Ds, 2009: 11).

5) Pembacaan Kitab Suci atau Tradisi Gereja

Setiap peserta hendaknya mempunyai teks, beserta daftar pertanyaan pendalaman di sekitar tema dalam hal-hal yang mengesan dan pesan inti dari teks tersebut. Teks dibaca oleh salah satu peserta, kemudian hening sejenak untuk merefleksikan teks Kitab Suci dengan bantuan pertanyaan-pertanyaan pendalaman (Sumarno Ds, 2009: 11-12).

6) Pendalaman teks Kitab Suci atau Tradisi

Peserta mencoba menjawab bersama pertanyaan-pertanyaan yang telah direnungkan secara pribadi setelah pembacaan teks. Baik pula apabila teks Kitab Suci dibaca lagi oleh katekis. Katekis berperan untum membantu peserta mencari dan mengungkapkan pesan inti menurut peserta sendiri yang berhubungan dengan tema. Katekis membantu menciptakan suasana terbuka sehingga peserta tidak takut mengungkapkan tafsiran mereka (Sumarno Ds, 2009: 12).

7) Rangkuman Pendalaman Teks Kitab Suci atau Tradisi

Katekis menghubungkan pesan inti yang diungkapkan peserta dengan pesan inti yang telah disiapkannya berdasarkan sumber-sumber yang sudah diolah sehubungan dengan tema. Katekis berperan memberi input (masukan) dari apa yang telah disiapkan dengan bantuan buku-buku tafsir atau komentar yang bersangkutan dengan teks. Yang penting dan perlu digarisbawahi di sini adalah tafsiran katekis diharapkan membatasi pada pesan pokok yang dapat dimengerti peserta sehubungan dengan tema atau tujuan pertemuan (Sumarno Ds, 2009: 12).

8) Penerapan dalam Hidup Konkret

Katekis mengajak peserta mengambil beberapa kesimpulan praktis sekitar tema sekitar hidup sehari-hari dalam situasi nyata yang mereka hadapi di masyarakat, Gereja, lingkungan, wilayah, paroki, keluarga, dsb. Kemudian dalam saat hening peserta diajak merenungkan serta mengumpulkan buah-buah pribadi dari proses katekese itu untuk hidup sehari-hari, dapat berupa niat atau tindakan apa yang akan diambil untuk hidup selanjutnya (Sumarno Ds, 2009: 12).

9) Penutup

Bagian penutup dimulai dengan mengungkapkan doa-doa spontan hasil buah katekese dan bisa pula doa-doa umat lainnya. Bila diperlukan katekis selaku pendamping dapat mengakhiri proses katekese dengan doa penutup yang merangkum keseluruhan tema dan tujuan katekese. Kemudian diakhiri dengan suatu doa bersama atau nyanyian yang disesuaikan dengan tema (Sumarno Ds, 2009: 12).

b. Model Biblis

Model biblis secara garis besar memiliki langkah-langkah yaitu: doa pembuka dan nyanian pembuka, pembacaan Kitab Suci atau tradisi, pendalaman teks Kitab Suci atau Tradisi, pendalaman pengalaman hidup, penerapan dalam hidup peserta, doa penutup (Sumarno Ds, 2009: 12).

1) Doa Pembuka dan Nyanyian Pembuka

Doa pembuka dan nyanyian pembuka hendaknya dibuat atau dipilih sesuai dengan tema Kitab Suci atau Tradisi yang ditentukan untuk pertemuan katekese. Katekis membantu menghubungkan tema katekese dengan tema sebelumnya, bila pernah dilaksanakan (Sumarno Ds, 2009: 12).

2) Pembacaan Kitab Suci atau Tradisi

Pembacaan Kitab Suci atau Tradisi dilakukan oleh salah seorang peserta langsung dari Kitab Suci atau Tradisi. Bila mungkin, teks Kitab Suci atau Tradisi diperbanyak untuk peserta. Pembacaan diikuti saat hening untuk merefleksikan pertanyaan-pertanyaan pendalaman (Sumarno Ds, 2009: 12).

3) Pendalaman Teks Kitab Suci atau Tradisi

Pendalaman teks Kitab Suci atau Tradisi dapat diawali dalam kelompok kecil untuk mengungkapkan hasil renungan pribadi dari jawaban-jawaban atas pertanyaan-pertanyaan pada langkah kedua. Kemudian pendamping membuat rangkuman dari jawaban peserta terutama pesan inti teks yang berhubungan dengan tema. Akhirnya, katekis mencoba untuk menghubungkan rangkuman jawaban peserta dengan hasil persiapan pibadi yang diolah berdasarkan renungan maupun bacaan dari sumber-sumber lain, terutama yang berhubungan dengan tema, sehingga peserta semakin diperkaya juga dengan informasi atau masukan pengetahuan iman. Peranan katekis adalah menjadi salah satu nara sumber yang mampu menampilkan isi atau pesan inti kitab suci yang relevan dan mudah ditangkap oleh peserta, tetapi selalu berhubungan dangan tema dan tujuan pertemuan (Sumarno Ds, 2009: 12-13).

4) Pendalaman Pengalaman Hidup

Pendalaman pengalaman hidup memungkinkan peserta untuk menghubungkan pesan inti Kitab suci atau Tradisi dengan pengalaman hidup yang sesuai dengan tema sebagaimana terdapat dalam peristiwa yang ada dalam kebudayaan, tradisi setempat, hidup bermasyarakat, menggereja, berkeluarga, bekerja, belajar (Sumarno Ds, 2009: 13).

5) Penerapan dalam Hidup Peserta

Mengajak dan merangsang peserta untuk merefleksikan serta memikirkan apa yang sebaiknya bisa dilaksanakan dalam kehidupan konkret sehari-hari

peserta dalam situasi dan kondisi setempat. Semangat, jiwa serta kekuatan mana yang biasa diambil dari pesan inti teks Kitab Suci yang dapat diwujudkan dalam praktek hidup sehari-hari dalam menghadapi permasalahan atau keprihatinan, baik berupa peristiwa atau kejadian maupun situasi hidup pribadi, berkeluarga, bermasyarakat dan menggereja (Sumarno Ds, 2009: 13).

6) Doa Penutup

Terdiri dari refleksi pribadi terpimpin dalam keheningan. Kemudian dibuka kesempatan untuk doa-doa spontan dari peserta. Akhirnya katekis menutup katekese dengan doa penutup yang merangkum keseluruhan proses dengantema dan tujuan serta doa bersama atau nyanyian bersama yang sesuai dengan tema Kitab Suci atau Tradisi (Sumarno Ds, 2009: 13).

c. Model Campuran: Biblis dan Pengalaman Hidup

Model campuran merupakan gabungan dari model biblis dan pengalaman hidup. Model campuran pada umumnya berlangsung dalam langkah-langkah pokok yaitu: doa pembuka, pembacaan teks kitab suci atau Tradisi, penyajian pengalaman hidup, pendalaman pengalaman hidup dan teks biblis atau Tradisi, penerapan meditatif, evaluasi singkat dan doa penutup (Sumarno Ds, 2009: 13).

1) Doa pembuka

Doa pembuka mengungkapkan pokok-pokok tema dari katekese dan menghubungkan dengan tema-tema katekese-katekese sebelumnya, bilamana ada. Demikian pula, lagu hendaknya disesuaikan dengan tema dan tujuan yang diharapkan dalam katekese (Sumarno Ds, 2009: 13).

2) Pembacaan teks kitab suci atau Tradisi

Pembacaan teks Kitab Suci atau Tradisi dibaca oleh peserta secara langsung dari Kitab suci atau dokumen yang memuat Tradisi. Bila dirasa perlu, katekis bisa mengulangi pembacaan tersebut secara pelan-pelan. Setelah pembacaan, peserta diberi kesempatan untuk hening sejenak merenungkan bacaan tersebut (Sumarno Ds, 2009: 13).

3) Penyajian pengalaman hidup

Penyajian pengalaman hidup disampaikan melalui sarana media komunikasi yang dipersiapkan oleh katekis, bila mungkin dengan sarana audio-visual, atau dengan sarana-sarana lain yang dapat membangkitkan semangat dan gairah peserta untuk menanggapinya (Sumarno Ds, 2009: 13-14).

4) Pendalaman pengalaman hidup dan teks biblis atau Tradisi

Pendalaman pengalaman hidup dan teks Kitab Suci atau Tradisi meliputi tahap: Pertama peserta diajak untuk mengungkapkan, dalam kelompok-kelompok kecil kesan-kesan pribadi serta hal-hal yang mengesan dalam penyajian pengalaman hidup. Kedua peserta diajak untuk mencoba secara objektif mencari apa yang sebetulnya terjadi dalam penyajian pengalaman hidup tadi. Ketiga peserta diajak untuk menemukan sendiri apa yang menjadi tema atau pesan pokok dari penyajian pengalaman hidup tadi. Keempat peserta diundang untuk merefleksikan dan menganalisa pesan tersebut untuk hidup sehari-hari dan mengkonfrontasikannya dalam hubungannya dengan teks Kitab Suci atau Tradisi yang dibacakan. Kelima katekis berperan untuk merangkum refleksi pengalaman

pribadi atau kelompok dengan menarik perhatian serta kesimpulan umum sehubungan dengan tema tersebut. Bila memungkinkan peserta diajak untuk memikirkan suatu tindakan konkret pribadi atau bersama, atau paling tidak sampai pada suatu niat pribadi atau bersama (Sumarno Ds, 2009: 14).

5) Penerapan meditatif

Penerapan meditatif diprakarsai oleh katekis dengan membuat pertanyaan-pertanyaan refleksi yang menghubungkan pengalaman-pengalaman konkret dalam hidup dan situasi peserta, refleksi-pemikiran yang muncul selama pendalaman pengalaman hidup dalam konfrontasi dengan teks Kitab suci atau Tradisi. Dengan demikian katekis merangsang peserta untuk menarik pelajaran-pelajaran nyata dalam hidup pribadi, keluarga, maayarakat dan Gereja (Sumarno Ds, 2009: 14).

6) Evaluasi singkat

Evaluasi singkat terhadap proses katekese, isi, tema dan langkah-langkah katekese yang berlangsung. Evaluasi dilakukan dengan harapan pada pertemuan berikutnya menjadi lebih baik, lebih sesuai dan lebih relevan sesuai dengan kebutuhan dan aspirasi peserta (Sumarno Ds, 2009: 14).

7) Doa Penutup

Doa penutup diawali dengan saat hening dan dilanjutkan dengan doa-doa umat spontan dari peserta. Katekis bisa mengakhiri dengan doa penutup yang merangkum keseluruhan isi yang telah tercapai selama katekese. Nyanyian penutup bisa dipilih sesuai dengan tema (Sumarno Ds, 2009: 14).

6. Shared Christian Praxis sebagai Model Katekese yang Cocok untuk