SEJARAH DAN TEORI PENDIDIKAN ANAK USIA DINI
C. PEMBELAJARAN ANAK USIA DINI
2. Model-model Pembelajaran Anak Usia Dini
Para ahli mencoba membuat kategori jenis-jenis belajar yang se-ring kita kenal sebagai taksonomi belajar. Salah satu yang terkenal adalah taksonomi yang disusun oleh Benyamin S. Bloom, jenis-jenis belajar yang disusun oleh Robert M. Gagne, Montessori, High scope dan yang paling mutakhir oleh Perserikatan Bangsa-Bangsa dalam hal ini UNESCO yang dikenal dengan empat pilar fondasi pembel-ajaran yang disusun oleh sebuah komisi yang diketuai oleh Jaques
Delors, dan juga dalam Undang-undang Sistem Pendidikan Nasional Nomor 20 Tahun 2003.
a. Taksonomi Bloom
Taksonomi Bloom terdiri dari tiga kategori yaitu dikenal seba-gai domain atau ranah kognitif (Slavin, 1986), afektif, dan ranah psikomotorik. Yang dimaksud dengan ranah-ranah ini oleh Bloom adalah perilaku-perilaku yang memang diniatkan untuk ditun-jukkan oleh peserta didik atau pebelajar dalam cara-cara tertentu, misalnya, bagaimana mereka berpikir (ranah kognitif), bagaimana mereka bersikap dan merasakan sesuatu (ranah afektif) dan bagai-mana berbuat (ranah psikomotorik). Pertama, pada ranah kognitif ini terdapat tingkatan yang mulai dari hanya bersifat pengetahuan tentang fakta-fakta sampai kepada proses intelektual yang tinggi yaitu mengevaluasi sejumlah fakta. Tingkatan tersebut adalah pe-ngetahuan: didasarkan pada kegiatan-kegiatan untuk mengingat berbagai informasi yang pernah diketahui, tentang fakta, metode atau teknik maupun mengingat hal-hal yang bersifat aturan, prin-sip-prinsip, atau generalisasi. Pemahaman: merupakan kemampu-an untuk menkemampu-angkap arti dari apa ykemampu-ang tersaji, kemampukemampu-an untuk menerjemahkan dari satu bentuk ke bentuk yang lain dalam kata-kata, angka, maupun interprestasi berbentuk penjelasan, ringkasan, prediksi, dan hubungan sebab akibat.
Aplikasi: kemampuan ini meliputi kemampuan untuk meman-faatkan bahan-bahan yang telah dipelajari dalam situasi yang baru.
Kegiatan ini mengharuskan penerapan dan prinsip-prinsip, teori, rumusan ataupun aturan-aturan. Analisis dan sintesis: kemampuan analisis merupakan kemampuan mengurai bahan-bahan yang te-lah dipelajari menjadi komponen-komponen atau bagian-bagian se-hingga struktur dari yang dipelajari itu menjadi lebih jelas. Kemam-puan menganalisis ini akan memungkinkan seseorang memahami hubungan-hubungan dan dapat mengenali bagian-bagian dari su-atu keseluruhan dengan lebih baik (jelas). Kemampuan melakukan sintesis menunjuk kepada bagaimana orang mengkombinasikan unsur-unsur yang terpisah-pisah sehingga menjadi bentuk kesatu-an ykesatu-ang baru. Sebagai contoh, seseorkesatu-ang dapat dikatakkesatu-an memiliki kemampuan mensintesiskan kalau ia dapat meramu sejumlah kon-sep menjadi suatu karangan yang bermakna dan komprehensif atau
ia dapat merekayasa suatu hasil teknologi dengan menggunakan bagian-bagian yang lebih kecil yang semula makna atau nilainya kurang dari sebelumnya.
Evaluasi: kemampuan ini mencakup kemampuan untuk mem-beri penilaian terhadap bahan-bahan ataupun fakta berdasarkan kriteria-kriteria tertentu. Objek yang dinilai bersifat objektif. Ber-beda dengan penilaian dalam ranah afektif, penilaian pada ranah kognitif menghasilkan kesimpulan yang lebih objektif pula. Kata sifat yang digunakan sebagai hasil penilaian tersebut bukan baik atau tidak baik tapi misalnya efektif atau kurang efektif, efisien atau kurang efisien.
Jenis belajar ini menjadi bersifat hirarkis karena yang satu lebih tinggi dari yang lain, kecuali pada tahap analisis dan sintesis. Tu-juan-tujuan yang bersifat kognitif telah dikembangkan sedemikian rupa membentuk suatu model berupa terjemahan ke dalam bentuk-bentuk evaluasi dan tes sehingga membangun formula persamaan sebagai berikut: tujuan sama dengan perilaku, sama dengan teknik evaluasi, sama dengan soal-soal tes. Dalam buku Formative and Su-mative evaluation, Bloom menuangkan formula tersebut dalam ben-tuk rancangan dan contoh-contoh yang lebih konkret. Tujuan-tuju-an yTujuan-tuju-ang bersifat kognitif ini lebih bersifat eksplisit sehingga secara relatif lebih mudah diterjemahkan ke dalam hasil belajar. Meskipun demikian, terdapat perbedaan dalam kompleksitas dari tujuan atau jenis belajar tersebut dapat ditafsirkan sebagai tujuan atau perilaku yang merupakan tujuan akhir; artinya, memang tujuannya adalah mengetahui beberapa fakta tertentu. Bandingkan dengan tingkat kemampuan pemahaman yang mensyaratkan dikuasainya konsep, fakta dan pengetahuan yang dapat dijadikan sebagai contoh, analo-gi, ataupun anatonim.
Kedua, Bloom berpendapat bahwa sikap memiliki tiga komponen yakni kognitif, afektif, dan konatif. Komponen kognitif merupakan pengetahuan individu tentang objek sikap, komponen afektif meru-pakan keyakinan individu dan penghayatan orang tersebut tentang objek sikap, apakah ia merasa senang atau tidak senang, bahagia atau tidak bahagia. Komponen konatif merupakan kecenderungan kuat untuk berbuat, melakukan sesuatu sesuai dengan perasaan dan pengetahuannya terhadap objek. Ketiganya berinteraksi dalam memahami, merasakan objek dan bertindak terhadap objek tersebut
terdapat contoh, tujuan ditayangkan iklan untuk membentuk sikap terhadap suatu objek dengan memberikan informasi tentang pro-duk tersebut. Atau ala bisa karena biasa.
Sikap memiliki tiga ciri-ciri: pertama, intensitas yaitu kekuatan perasaan terhadap objek; kedua, arah terhadap objek, apakah positif atau negatif ataupun netral dan ketiga, target, merupakan sasaran sikap terhadap apa sikap ditujukan.
Dalam taksonomi yang disusun oleh Krathwol dan Bloom & Masia (1964) sikap disusun lagi sedemikian rupa sehingga menunjukkan tahapan yang hierarkis. Tingkatan tersebut dimulai dengan perta-ma, menerima stimulus secara pasif; kedua, memberi respons secara aktif, ketiga, memberi penilaian terhadap respons yang dilakukan;
keempat, mengorganisasikan, artinya menjadikan objek tersebut sebagai bagian dari dirinya; kelima, karakterisasi. 1) Menerima atau menaruh perhatian, proses ini dimulai dengan kesadaran paling se-derhana akan hadirnya sesuatu (benda, musik, lukisan, fenomena).
Subjek minimum tidak menghindar dari objek tersebut. Taraf beri-kutnya adalah menerima, yang antara lain terwujud ke inginan un-tuk mengambil bagian dalam kegiatan yang berhubungan dengan objek. Selanjutnya, memberi perhatian secara terpilih (selective at-tention) yaitu berupa perhatian pada bagian-bagian khusus objek.
2) Memberi Respons, kegiatan yang dilakukan seseorang meliputi proses memaksa diri sendiri untuk berpartisipasi serta kemauan untuk mengikuti aturan-aturan. Keinginan untuk merespons bu-kan disebabbu-kan oleh adanya rasa takut abu-kan hukuman, melainbu-kan merupakan kegiatan untuk melakukan sesuatu secara suka rela. Ke-giatan-kegiatan yang dilakukan atas dasar suka rela, misalnya praktikkan cara hidup sehat, ikut dalam kegiatan penelitian, mem-praktikkan kegiata hobi dan lain sebagainya. Pada tahapan ini ia sudah menunjukkan tanggung jawab atas apa yang dikerjakannya, dan telah menikmati apa yang dilakukannya. 3) Memberi Penilaian, pada tahap ini individu meneruskan kegiatan untuk melakukan se-suatu, merasa menjadi bagian kelompok dari pelaku-pelaku kegiat-an ykegiat-ang sama, dkegiat-an bertkegiat-anggung jawab atas kegiatkegiat-an tersebut. Secara gradual ia senang membantu orang lain agar memiliki kecakapan seperti yang dimilikinya, mau mengemukakan pendapat secara li-san maupun tertulis di media massa. Di samping perilakunya yang terbuka ia melakukan refleksi tentang objek atau kegiatan tersebut.
Pada dirinya mulai tumbuh rasa pengabdian dengan melibatkan diri secara lebih aktif. 4) Pengorganisasian, apa yang dilakukan di-yakini dan mengkristal di dalam dirinya dalam bentuk tata krama.
Ia membangun penilaian untuk menentukan tingkat kelayakan bagi sesuatu yang relevan dikerjakan oleh orang lain atau masyarakat.
Hal-hal yang diyakininya mulai dibandingkan dengan standar eti-ka, melalui bacaan, ataupun sumber lainnya. Proses ini dinamakan konseptualisasi nilai. 5) Kepribadian, pada tahap ini individu siap untuk menilai ulang apa yang yang telah diyakininya jika bukti-buk-ti menunjukkan adanya keharusan untuk merevisi pandangan yang dipegangnya. Masalah-masalah dilihat lagi dengan lebih objektif, re-alistik, dan dengan sikap yang toleran. Pada tahap ini ia tidak bersi-fat dogmatik tetapi lebih logis, ilmiah dan menghargai bukti-bukti.
Ketiga, belajar psikomotorik menekankan keterampilan motorik yaitu bekerja dengan benda-benda atau aktivitas yang memerlukan koordinasi saraf dan otot. Untuk menjelaskan konsep tersebut digu-nakan contoh kegiatan berbicara, menulis, berbagai aktivitas pem-belajaran jasmani, dan program-program keterampilan.
Tiga kategori ini sering dinyatakan sebagai tiga serangkai:
kognisi-konasi-perasaan (cognition-conation-feeling) atau berpikir-berkehendak-bertindak (thinking-willing-acting) (Slavin, 1986). Da-lam kehidupan sehari-hari tak ada bukti seseorang berbuat tanpa melibatkan pikiran dan perasaan betapapun kecil posisinya. Setiap orang merespons dalam berbagai bentuk aktivitas sebagai makhluk yang utuh, yang total. Kategorisasi jenis belajar ini disusun untuk menentukan cara-cara pendidik mengevaluasi hasil belajar.
b. Kategori Jenis Belajar Menurut Robert M Gagne
Kategori belajar menurut Gagne meliputi lima jenis kemampu-an mkemampu-anusia yaitu: Pertama, Kecakapkemampu-an Intelektual. Gagne membagi-bagi jenis belajar ini ke dalam hierarki yang dimulai dengan ben-tuk-bentuk yang sangat dasar seperti misalnya asosiasi, kemudian bergerak ke belajar membeda-bedakan atau mendiskriminasikan, melangkah ke tingkat berikutnya yaitu belajar tentang konsep-kon-sep. Selanjutnya, dari belajar konsep meningkat lagi ke tahap yang lebih tinggi termasuk ke dalam tingkatan belajar memecahkan ma-salah. Kondisi-kondisi atau persyaratan untuk terjadinya peristiwa belajar yang terdiri atas keadaan atau kondisi di dalam diri orang
belajar (internal) dan kondisi yang terdapat di luar diri seseorang yang belajar (eksternal), dikatakan sebagai usaha-usaha instruk-sional untuk memungkinkan terjadinya peristiwa belajar. Kedua, strategi kognitif. Strategi kognitif merupakan cara yang digunakan individu yang belajar mengatur proses dalam dirinya, misalnya pro-ses memusatkan perhatian kepada hal yang akan dipelajari, belajar mengingat-ingat dan berpikir. Proses ini diberi nama berbeda-beda, misalnya oleh Bruner disebut “cognitive strategy”, suatu proses un-tuk memecahkan masalah baru. Skinner menyebutnya “self ma-nagement behavior”, sedangkan yang senang dengan pendekatan sistem informasi seperti Greeno dan Byork (1973) memberi nama
“executive control process”. Ketiga, informal verbal. Belajar verbal ini diperlukan karena pada dasarnya jika seseorang membuat pernya-taan, berarti ia memberitahu kepada orang lain atau memberi tahu dirinya sendiri. Disebut verbal karena informasi dirumuskan dalam kalimat dan dinyatakan dalam tulisan atau kecakapan. Kemampuan yang berhubungan dengan informasi verbal penting karena orang perlu mengetahui fakta-fakta seperti nama, hari, bulan, tahun, kota, negara sebagai pengetahuan biasa yang diharapkan diketahui oleh setiap orang dewasa. Informasi verbal mempunyai fungsi penyerta untuk belajar yang lain.
Pengetahuan dalam hal yang khusus perlu dimiliki oleh setiap ahli dalam berbagai bidang, seorang ahli kimia, maka ia juga harus megetahui tentang informasi lain tentang kimia. Keempat, belajar kecakapan motorik. Jenis belajar ini paling mudah diamati diban-dingkan dengan kecakapan lain. Menulis dan melempar bola me-rupakan contoh jenis belajar ini. Seseorang dikatakan menguasai kecakapan motoris bukan saja karena ia dapat melakukan hal-hal atau gerakan yang telah ditentukan, tetapi juga karena mereka me-lakukannya dalam keseluruhan gerak yang lancar dan tepat waktu.
Kelancaran dan ketepatan waktu dalam kecakapan motoris terse-but menunjukkan bahwa individu memiliki organisasi internal yang tinggi. Kelancaran serta ketepatan waktu kecakapan motoris itu diperbaiki ketelitiannya melalui latihan terus-menerus pada wak-tu yang cukup panjang. Kelima, belajar sikap dan nilai. Sikap dide-finisikan sebagai keadaan internal seseorang yang memengaruhi pilihan-pilihan atas tindakan-tindakan pribadi yang dilakukannya.
Sikap dipandang mempunyai komponen afektif atau emosional,
as-pek kognitif dan berakibat pada tingkah laku atau behavioral conse-quences. Beberapa peneliti memandang sikap berasal dari perbeda-an keyakinperbeda-an, sedperbeda-angkperbeda-an ahli lain melihatnya sebagai pernyataperbeda-an emosi. Gagne menekankan pada efek sikap terhadap pilihan-pilihan tingkah laku individu. Keadaan internal yang memengaruhi pilihan-pilihan ini mungkin mempunyai aspek intelektual maupun aspek emosional.
Meskipun demikian, akibat pada perbuatan seseorang bersifat dipelajari. Sebagai contoh adalah memilih jenis musik, memilih un-tuk menuruti aturan atau melanggarnya saja, memilih unun-tuk me-ngemukakan pendapat secara independen atau mengekor saja dan memilih calon-calon tertentu dalam suatu acara pemilihan seorang ketua. Semua tidakan ini dipengaruhi oleh keadaan internal. Ini di-peroleh sepanjang hidupnya melalui pergaulannya baik dirumah, di sekolah maupun di lingkungan ketiga. Tentu saja, perbuatan yang dipilih seseorang dipengaruhi kejadian-kejadian khusus pada waktu itu, tetapi, kecenderungan yang bersifat tetap mengakibatkan ting-kah laku yang konsisten dalam siatuasi tertentu dan itulah yang dimaksud dengan sikap. Jelas, bahwa mengamati dan lebih-lebih mengukur kecenderungan tersebut tidak mudah.
Sikap dipelajari dengan cara bermacam-macam, bisa merupa-kan hasil kejadian tunggal, misalnya terkejut oleh geramerupa-kan ular atau karena tersengat api. Tetapi, sikap bisa juga disebabkan oleh peng-alaman atas keberhasilan dalam melakukan suatu tugas. Cara lain adalah melalui peniruan atau imitasi terhadap orang lain, misalnya guru, kawan, orangtua, atau orang yang diidolakan.
c. Konsep Montessori
Dalam metode pendidikan Montessori ada beberapa aspek pen-didikan di mana lingkungan menjadi prinsip metode penpen-didikan Montessori. Di antaranya adalah konsep kebebasan, struktur dan urutan, realistis dan kealamian, keindahan dan nuansa, serta prin-sip alat permainan Montessori.