Model pembelajaran bagi anak berkebutuhan khusus seharusnya berdasarkan pada Kurikulum Berbasis Kompetensi. Model tersebut dirancang berdasarkan kebutuhan nyata oleh guru kelas agar dapat mengembangkan ranah pendidikan sebagai sasaran akhir pembelajaran. Tujuannya berupa pencapaian pengetahuan, keterampilan, sikap, dan psikomotor tertentu dari setiap peserta didik. Model ini menunjang "Gerakan Peningkatan Mutu Pendidikan" yang telah dicanangkan oleh menteri pendidikan nasional pada tanggal 2 Mei 2002.
Kompetensi merupakan perpaduan dari pengetahuan, keterampilan, nilai, dan sikap yang direfleksikan dalam kebiasaan berpikir dan bertindak seperti yang dikemukakan oleh Mc Ashan (1981: 45) sebagai berikut.
" ... is a knowledge, skills, and abilities or capabilities that a person achieves, which become part of his or her being to the extent he or she can satisfactorily perform particular cognitive, afective, and psychomotor behavior"
Kompetensi yang harus dikuasai peserta didik perlu dinyatakan sedemikian rupa agar dapat dinilai, sebagai wujud akhir hasil belajar peserta didik yang mengacu pada pengalaman langsung dirinya. Peserta didik perlu mengetahui tujuan belajar dan tingkat-tingkat penguasaan yang akan digunakan sebagai kriteria pencapaian secara eksplisit dan memiliki kontribusi terhadap kompetensi-kompetensi yang sedang dipelajari.
Beberapa aspek atau ranah yang terkandung dalam konsep kompetensi menurut Gibson (1988:109), sebagai berikut.
1. Pengetahuan, merupakan kesadaran dalam bidang kognitif. Misalnya, seorang guru mengetahui cara melakukan identifikasi kebutuhan belajar dan bagaimana melakukan pembelajaran terhadap peserta didik sesuai dengan kebutuhannya.
2. Pemahaman, merupakan kedalaman kognitif dan afektif yang dimilki oleh individu. Misalnya, seorang guru yang akan melaksanakan pembelajaran harus memiliki pemahaman yang baik tentang karakteristik dan kondisi peserta didiknya agar dalam proses pembelajaran berjalan secara efektif dan efisien.
3. Kemampuan, merupakan suatu kemampuan yang dimiliki oleh individu untuk melakukan tugas atau pekerjaan yang dibebankan kepadanya. Misalnya, kemampuan guru dalam memilih dan membuat alat peraga sederhana untuk memberikan kemudahan belajar peserta didiknya.
4. Nilai, merupakan suatu standar perilaku yang telah diyakini dan secara psikologis telah menyatu dalam diri seseorang. Misalnya, standar perilaku guru dalam pembelajaran apakah itu kejujuran, rasa demokratis, dan sebagainya.
5. Sikap, merupakan perasaan(senang-tidak senang, atau suka-tidak suka) atau reaksi terhadap suatu rangsangan yang datang dari luar. Misalnya, reaksi terhadap krisis ekonomi, perasaan terhadap kenaikan upah dan sebagainya.
6. Minat, merupakan kecenderungan seseorang untuk melakukan sesuatu perbuatan. Misalnya, minat untuk mempelajari atau melakukan sesuatu (dalam Mulyasa, E., 2004:39).
Pemanfaatan keterampilan yang dimiliki seorang guru saat berlangsungnya pembelajaran, merupakan perilaku yang efektif. Perilaku efektif berarti, bahwa guru secara sistematik menyajikan kompetensi-kompetensi yang efektif dalam berbagai situasi belajar. Pembelajaran yang efektif adalah pembelajaran yang mampu mencapai sasaran kompetensi dengan memanfaatkan kemampuan, minat, dan kesiapan menerima pembelajaran dari setiap peserta didik.
Pembelajaran individual meliputi enam elemen, yaitu: elicitors, behaviors, reinforcers, entering behavior, terminal objective, dan enroute. Keenam elemen konseptual model pembelajaran tersebut sangat berperan dalam proses pembelajaran. Pembelajaran tersebut diartikan sebagai berikut.
1. Elicitors (E), yakni peristiwa atau kejadian yang dapat menimbulkan atau menyebabkan perilaku. Elicators dapat terjadi melalui:
a). peralatan pembelajaran, seperti alat permainan, bentuk permainan edukatif, buku instrumen tes, gambar-gambar, alat tulis crayon;
b). dapat juga berupa bentuk-bentuk arahan, suruhan, permintaan, demonstrasi
atau seperangkat arahan-arahan atau petunjuk- petunjuk tertentu; dan
c). dapat melalui orang dengan perilaku seperti: senyuman sebagai tanda persetujuan, atau kerutan di dahi sebagai tanda tidak setuju. Penyebab perilaku dapat terjadi oleh salah satu atau gabungan dari Elicitors tersebut.
2. Behaviors atau perilaku ( B ), merupakan kegiatan peserta didik terhadap sesuatu yang dapat ia lakukan, antara lain berlari, berjalan, berbicara, menulis, menyusun atau memasang papan permainan, membaca, men-jawab pertanyaan, atau duduk di kursinya.
3. A Reinforcers atau penguatan ( R ) adalah suatu kejadian atau peristiwa yang muncul sebagai akibat dari perilaku dan dapat menguatkan perilaku tertentu yang dianggap baik. Penguatan dapat berupa peningkatan kepuasan dari perilaku untuk masa depan. Stimulus yang mengikuti perilaku yang tidak memuaskan atau yang tidak sesuai tidak diberikan penguatan.
4. Entering Behavior atau kesiapan menerima pelajaran. Sebelum guru memulai untuk melakukan kegiatan pembelajaran terhadap peserta didiknya, sangat esensial bila guru kelas mengetahui kesiapan setiap peserta didiknya. Kesiapan tersebut berupa kesiapan peserta didik untuk melakukan tugas-tugas kegiatan akademik dan kegiatan belajar berkaitan dengan perilaku-perilaku yang sesuai dengan situasi pembelajaran khusus. Artinya bahwa bentuk elicitors manakah dari setiap peserta didik dapat melakukan tanggapan, perilaku manakah yang dimunculkan oleh setiap peserta didik, dan penguatan atau reinforcers yang dapat mem-perkuat respon-respon yang diinginkan dan dapat berguna.
5. Terminal Objective. Beberapa program pembelajaran seharusnya dapat menghasilkan perubahan sebagai hasil akhir atau keluaran. Oleh karena itu terminal objective dapat menghubungkan antara tujuan yang satu dan tujuan lainnya. Dapat dikatakan secara singkat bahwa sebagai "sasaran antara" dari pencapaian suatu tujuan pembelajaran yang bersifat tahunan.
6. Enroute Objective, merupakan langkah dari entering behavior menuju ke terminal objective yang terbagi dalam beberapa langkah kegiatan pembe-lajaran, yang disebut dengan enroute objectives. Setiap enroute objective dapat menggambarkan pencapaian "sasaran antara" yang harus dicapai oleh setiap peserta didik sebelum mereka pindah ke enroute objective berikutnya.
Model konseptual secara nyata akan memunculkan suatu proses kegiatan pembelajaran yang menyediakan guru kelas untuk dapat melakukan pengidentifikasian terhadap:
1. tingkat kemampuan akademik atau tingkat kemampuan sosial setiap peserta didiknya, 2. arah tujuan dari pembelajaran, dan
3. langkah-langkah yang perlu dilakukan untuk mencapai sasaran.
Model dari proses pembelajarannya memungkinkan guru kelas mampu: 1. melakukan pengidentifikasian secara tepat pada setiap titik sasaran,
2. kapan peserta didik mulai sesuai dengan entering behavior atau kesiapan menerima pelajaran, 3. enroute objectives yaitu suatu keadaan sesuai dengan urutan pembela-jaran, dan
Rincian Elemen Konseptual Model dapat dilihat pada Gambar 6.1 dan Gambar 6.2. di bawah ini. Gambar 6.1. Elements of the Conceptual Model
( Peter, L.J., 1975:14) Gambar 6.2. Future Behavior
( Intended achievement at termination of program ) (Peter L.J., 1975:17)
A. Model Pembelajaran Menggunakan Kurikulum Berbasis Kompetensi Inti model pembelajaran bagi anak berkebutuhan khusus yang berdasarkan Kurikulum Berbasis Kompetensi (KBK) adalah mengembangkan lingkungan belajar terpadu dari peserta didik bersangkutan dengan memperhatikan prinsip-prinsip umum dan khusus.
Prinsip-prinsip umum pembelajaran meliputi motivasi, konteks, keterarahan, hubungan sosial, belajar sambil bekerja, individualisasi, menemukan, dan prinsip memecahkan masalah.
Sedangkan prinsip-prinsip khusus disesuaikan dengan karakteristik spesifik dari setiap penyandang kelainan peserta didik. Misalnya, untuk anak tunanetra menggunakan prinsip kekonkritan, prinsip pengalaman yang menyatu, dan prinsip belajar sambil melakukan. Peserta didik tunarungu menggunakan prinsip keterarahan wajah. Peserta didik tunalaras memerlukan prinsip-prinsip yang meliputi kebutuhan dan keaktifan, kebebasan yang mengarah, pemanfaatan waktu luang dan kompensasi, kekeluargaan dan kepatuhan terhadap orang tua, setia kawan dan idola, serta perlindungan. Untuk tungrahita diperlukan prinsip-prinsip pembelajaran berkaitan dengan:
1. bentuk-bentuk atensi yang meliputi waktu atensi, fokus, dan selektivitas.
2. mediatoral, di antaranya menggunakan teknik yang efektif, teknik yang bersifat khusus, dan intervensi guru yang khusus;
3. memperkuat daya ingatan atau memori; dan
4. transfer atau penggeneralisasian terhadap pengetahuan, keterampilan tugas-tugas yang baru baginya, pemecahan masalah belajar, dan pemberian pengalaman-pengalaman (Smith et al., 2002:252).
Model pembelajaran anak berkebutuhan khusus yang menggunakan Kurikulum Berbasis Kompetensi diperlukan komponen-komponen tertentu meliputi rasional, visi dan misi pembelajaran, tujuan pembelajaran, isi pembelajaran, pendukung sistem pembelajaran, dan komponen dasar pembelajaran.
1. Rasional
Layanan pendidikan dan pembelajaran untuk sekolah yang melayani anak berkebutuhan khusus seharusnya sejalan dan tidak terlepas dari prinsip, kebijakan, dan praktek dalam pendidikan berkebutuhan khusus. Terutama setelah konferensi dunia di Salamanca Spanyol pada tanggal 7-10 Juni 1994. Konferensi tersebut menghasilkan perluasan gerakan pendidikan untuk semua (education for all). Selanjutnya hasil konferensi dunia tersebut ditindaklanjuti dengan Deklarasi Dakar tahun 2000. Deklarasi tersebut menjadi kerangka kerja dalam merespon kebutuhan dasar belajar warga masyarakat yang menekankan bahwa pendidikan harus menyentuh semua lapisan masyarakat tanpa mengenal batas kelompok, ras, agama, dan kemampuan potensial yang dimiliki oleh peserta didik.
Perubahan tersebut sangat besar artinya serta mendasar, sehingga layanan pendidikan terhadap anak berkebutuhan khusus tidak menutup kemungkinan untuk memberikan hak anak, mendapatkan kesempatan (opportunity right), dan hak sebagai makhluk Tuhan yang perlu mendapatkan kesejahteraan sosial (human right, social and welfare right).
2. Visi dan Misi
Bertolak dari hasil pengamatan dan harapan kebutuhan di lapangan, maka model pembelajaran anak berkebutuhan khusus mengarah pada visi dan misi sebagai sumber pengertian bagi perumusan tujuan dan sasaran yang harus ditetapkan.
Visi pembelajaran berdasarkan Kurikulum Berbasis Kompetensi, adalah membantu peserta didik berkebutuhan khusus untuk dapat memiliki sikap, wawasan, akhlak yang tinggi, kemerdekaan dan demokrasi, toleransi dan menjunjung hak azasi manusia, saling pengertian, dan berwawasan global (Mulyasa, E. , 2004:19). Sasaran utama sebagai hasil keluaran (out come) dari pembelajaran adalah kemampuan setiap peserta didik dalam mengembangkan sikap, pengetahuan dan keterampilan sebagai pribadi maupun anggota masyarakat (Kurikulum Pendidikan Luar Biasa, 1994:6).
Misi pembelajaran berdasarkan Kurikulum Berbasis Kompetensi, adalah pemberian layanan terhadap anak berkebutuhan khusus agar setiap peserta didik yang mempunyai kelainan atau hambatan perkembangan menjadi individu yang mandiri, beriman, dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, berbudi luhur, terampil, dan mampu berperan sosial (Mulyasa,E., 2004:20). Dalam mengantisipasi kehidupan masa depan anak berke-butuhan khusus, maka intervensi khusus yang dipersiapkan oleh guru kelas dalam pembelajaran harus mampu menyentuh semua aspek perkembangan perilaku dan kebutuhan setiap peserta didik berkaitan dengan kompetensi yang merupakan perpaduan dari pengetahuan, keterampilan, nilai, dan sikap yang direfleksikan dalam kebiasaan berpikir dan bertindak.
3. Tujuan Pembelajaran Berdasarkan Kurikulum Berbasis Kompetensi Berdasarkan visi dan misi pembelajaran yang berdasarkan Kurikulum Berbasis Kompetensi, dapat ditentukan tujuan dari pembelajaran, sebagai berikut.
1. Agar dapat menghasilkan individu yang mampu melakukan kegiatan sehari-hari tanpa bantuan orang lain melalui kemampuan dirinya dalam menggunakan persepsi pendengaran, penglihatan, taktil, gerak halus (fine motor), dan gerak kasar (gross motor).
2. Agar dapat menghasilkan individu yang mempunyai kematangan diri dan sosial. Misalnya, dapat berinisiatif, dapat memanfaatkan waktu luang, cukup atensi, serta bersikap tekun.
3. Menghasilkan individu yang mampu bertanggung jawab secara pribadi dan sosial. Misalnya, dapat berhubungan dengan orang lain, dapat turut berperan-serta, dan dapat melakukan suatu peran tertentu di lingkungannya.
4. Agar dapat menghasilkan individu yang mempunyai kematangan untuk melakukan penyesuaian diri dan sosial. Misalnya, mampu berkomunikasi dengan orang lain melalui kematangan berbahasa.
4. Komponen Dasar Model Pembelajaran
Berdasarkan pada visi dan misi kebutuhan peserta didik secara khusus, dan tujuan pembelajaran dengan menggunakan Kurikulum Berbasis Kompetensi, isi layanan pembelajaran dikelompokkan ke dalam bagian-bagian sebagai berikut.
1. Masukan terdiri atas:
a). masukan mentah berupa Elicitors, behaviors, dan reinforcers;
b). masukan instrumen, terdiri atas program, guru kelas, tahapan dan sarana; serta c) masukan lingkungan, berupa norma, tujuan, lingkungan, dan tuntutan.
2. Proses terdiri atas Program Pembelajaran Individual, Pelaksanaan intervensi, dan Refleksi hasil pembelajaran, dan Kurikulum Berbasis Kompetensi.
3. Keluaran berupa perubahan kompetensi setiap peserta didik yang mempunyai kesulitan atau hambatan perkembangan diri.
Pendukung Sistem Model Pembelajaran Menggunakan Kurikulum Berbasis Kompetensi
Komponen pendukung sistem (the component system) adalah kegiatan-kegiatan manajemen yang bertujuan untuk memantapkan, memelihara, dan meningkatkan program pembelajaran. Kegiatan-kegiatannya diarahkan pada:
1. pengembangan dan manajemen program, dengan upaya meliputi: perencanaan,
pelaksanaan, penilaian, analisis, dan tindak lanjut program;
2. pengembangan staf pengajar guna penguasaan terhadap aspek-aspek kompetensi yang terdiri atas: pengetahuan, pemahaman, kemampuan, nilai, sikap dan minat; serta
3. pemanfaatan sumber daya masyarakat dan pengembangan atau penataan terhadap kebijakan dan petunjuk teknis.
Untuk memperjelas model pembelajaran bagi anak berkebutuhan khusus dengan menggunakan Kurikulum Berbasis Kompetensi dapat dilihat pada Diagram 6.3 berikut.