1.7 Sistematika Penulisan Skripsi
2.1.3 Model Pembelajaran Taba .1 Definisi Model Pembelajaran Taba.1Definisi Model Pembelajaran Taba
Model pembelajaran Taba merupakan salah satu model pembelajaran yang didasarkan pada penalaran induktif dan beraliran konstruktivisme. Nama dari model pembelajaran tersebut diambil dari nama penemunya, yaitu Hilda Taba. Model pembelajaran Taba terlahir atas pemikiran Hilda Taba yakni keterbutuhan atas model pembelajaran yang menekankan pada proses berpikir. Tiga postulat tentang berpikir oleh Hilda Taba melahirkan ide bahwa kemampuan berpikir dapat diajarkan melalui model pembelajaran yang khusus. Mengenai model pembelajaran tersebut, Eggan et al. (1979: 192) menyatakan sebagai berikut.
The underlying goal of Taba Model is the development of thinking skills in the students, i.e., to teach students how to think. Taba, a curriculum theorist who had a significant impact on current social studies education, felt that teachers too often deliver prepackaged generalizations to students rather than have them process information to form their own generalization. As a solution to this problem, she developed a model to teach students to make observations and to form different types of inferencecs from these observations.
Sebagai salah satu model pembelajaran yang menggunakan penalaran induktif, model pembelajaran Taba memiliki proses berpikir dari spesifik menuju general. Eggen et al. (1979: 110) juga menjelaskan tentang penalaran induktif atau Inductive Reasoning sebagai berikut.
In inductive thinking the individual makes a number of observations which are then processed into a concept or generalization. In inductive thinking, the individual does not have prior knowledge of the abstraction but only arrives at it after observing and analyzing the observations.
Penalaran induktif menuntun siswa untuk menemukan sendiri kesimpulan atau generalisasi dari hasil observasi yang telah dilakukan. Hal tersebut akan lebih mudah diterima siswa dibandingkan dengan menerima konsep dari guru secara langsung tanpa keterlibatan siswa dalam penarikan kesimpulan. Apabila materi disampaikan secara deduktif aksiomatis seperti matematika pada perguruan tinggi, siswa akan mengalami kesulitan dalam menguasai materi tersebut. Apabila materi disampaikan secara induktif, siswa akan menemukan keyakinan atas konsep tersebut. Dengan keyakinan tersebut, ingatan siswa akan lebih tahan lama. Oleh karena itu, pembelajaran matematika pada sekolah dasar dan menengah lebih banyak menggunakan penalaran induktif.
Penalaran induktif memiliki tujuan sejalan dengan konstruktivisme. Penalaran induktif menggarisbawahi tujuannya yaitu membangun kemampuan siswa dalam berpikir, sedangkan konstruktivisme menitikberatkan pada kemampuan siswa dalam menemukan konsep dan membangun pengetahuannya sendiri.
Model Taba telah diterapkan dalam pembelajaran pengetahuan sosial. Namun demikian, sebagai salah satu model yang beralur pemikiran induktif dan beraliran konstruktivisme, model Taba layak untuk diterapkan dalam pembelajaran matematika. Penalaran induktif dan aliran konstruktivisme model pembelajaran tersebut sesuai untuk membangun kemampuan berpikir kreatif siswa dalam menyelesaikan soal segiempat yang rumit.
2.1.3.2Langkah-langkah Model Pembelajaran Taba
Setiap model pembelajaran memiliki langkah-langkah yang dijadikan patokan untuk mengaplikasikan model tersebut. Tujuh langkah model Taba menurut Hilda Taba dalam Eggan et al. (1979: 198-199) adalah sebagai berikut. (1) Listing
Tahap ini memiliki tujuan untuk mengantarkan siswa kepada materi yang akan dipelajari dan mengajak siswa melakukan observasi. Hasil observasi yang dilakukan digunakan sebagai data pada tahap selanjutnya.
(2) Grouping
Pada tahap ini, guru mendorong siswa untuk mempertimbangkan data yang diperoleh dari tahap pertama. Selain itu siswa juga membentuk kategori-kategori berdasarkan kesamaan yang dimiliki oleh data yang telah dikumpulkan. (3) Labelling, dilanjutkan dengan Data Collection
Siswa memberi nama atau label pada tiap kategori yang telah disepakati. Guru membimbing siswa untuk membuat kategori yang tepat dengan memberikan pertanyaan-pertanyaan. Diantara tahap tiga dan empat, ada tahapan yang harus dilakukan yaitu mengumpulkan data mengenai tiap-tiap kategori yang ada. Tujuannya adalah untuk mengorganisir dan menunjukkan informasi data yang dimiliki.
(4) Generalizing
Tahap ini diawali dengan analisis yang dilakukan siswa terhadap data yang ada. Kemudian, siswa menyimpulkan sesuai dengan fakta yang ditemukan.
(5) Comparing
Pada tahap ini siswa melakukan analisis lebih dalam. Pada tahap ini siswa dilibatkan dalam analisis perbandingan antarkategori dalam membangun kesimpulan yang lebih mendalam.
(6) Explaining
Pada tahap ini, siswa memberikan penjelasan mengenai data yang diperoleh dan generalisasi yang mereka bangun. Selain itu siswa juga menjelaskan mengenai perbandingan antarkategori yang mereka lakukan.
(7) Predicting, dilanjutkan dengan Closure
Pada tahap ini, siswa melakukan prediksi mengenai apa yang akan terjadi jika ditemukan suatu sebab. Siswa berpikir lebih mendalam dan ditantang menggunakan kreativitasnya dalam memanfaatkan informasi-informasi yang ada untuk memprediksi suatu kasus. Pada akhirnya, model Taba membawa siswa untuk merangkum dan menggeneralisasikan mengenai materi yang dipelajari bersama.
Pelaksanaan penelitian ini membutuhkan RPP. Ketujuh langkah model pembelajaran Taba tersebut dijadikan dasar dalam penyusunan RPP pada kelompok eksperimen. Setiap langkah pada model pembelajaran Taba memberikan dukungan penuh dalam mengembangkan kemampuan berpikir kreatif siswa. Lampiran 20 sampai dengan Lampiran 23 berisi RPP yang digunakan pada kelas eksperimen 1 sedangkan Lampiran 24 sampai dengan Lampiran 27 berisi RPP yang digunakan pada kelas eksperimen 2.
2.1.3.3Kelebihan dan Kekurangan Model Pembelajaran Taba
Kelebihan yang dimiliki model pembelajaran Taba yaitu model memberi ruang kreativitas seluas-luasnya untuk siswa. Kegiatan pembelajaran mengalir disesuaikan dengan kemampuan siswa dalam menalar sehingga siswa benar-benar tahu karena mereka menemukan sendiri konsep-konsep yang dipelajari. Model Taba beralurkan penalaran induktif. Penalaran tersebut lebih mudah diterima oleh siswa SMP dibandingkan dengan alur deduktif aksiomatis. Titik tekan model Taba juga menjadi salah satu kelebihan yang belum tentu dimiliki oleh model lain, yakni model Taba menekankan pada bagaimana membantu siswa dalam membangun alur berpikir atau dengan kata lain menuntun siswa untuk belajar how to think (Eggan et al., 1979: 192).
Kekurangan pada model Taba adalah pelaksanaan model tersebut membutuhkan waktu yang relatif lama. Kekurangan tersebut telah dievaluasi sehingga sintaks model Taba diperingkas. Tahap yang membutuhkan waktu relatif lama adalah tahap labelling dilanjutkan data collection. Sintaks dari model Taba yang termodifikasi terdiri atas empat langkah, yaitu generalizing, comparing, explaining, dan predicting yang dilanjutkan dengan closure. Pada model Taba termodifikasi, tahap pengumpulan data diganti dengan penyajian tabel atau grafik atau bentuk lain dari data secara langsung.
Meskipun demikian, peneliti memilih tetap menggunakan tahap satu hingga tujuh secara lengkap. Hal tersebut dilakukan atas pertimbangan bahwa tahap listing, grouping, dan labelling dilanjutkan data collection merupakan tahap penting. Ketiga tahap awal tersebut merupakan kegiatan penggalian dan
pengumpulan data yang mana akan lebih bermakna apabila siswa ikut secara langsung dalam proses penggalian tersebut.
2.1.4 Teori Belajar yang Mendukung