1) Kombes Pol. Drs. Edy S. Setjo, M. M. Direktur Akademik AKPOL Semarang
A. PENDAHULUAN Maha Esa, (2) menjunjung tinggi
Dalam lembaga kepolisian ram- kebenaran keadilan dan kemanusiaan bu-rambu keprofesionalan seorang dalam menegakkan hukum Negara polisi telah jelas tertulis dalam Tri- Kesatuan Republik Indonesia yang brata dan Caturprasetya. Tribrata berdasarkan Pancasila dan Undang-secara lengkap berbunyi “Kami Undang Dasar 1945, dan (3) senan-polisi Indonesia (1) berbakti kepada tiasa melindungi, mengayomi, dan nusa dan bangsa dengan penuh melayani masyarakat dengan keikh-ketaqwaan terhadap Tuhan yang lasan untuk mewujudkan keamanan depan.pdf
Suparlan, Parsudi, 2001, “Kajian Ilmu Kepolisian”, Makalah pada Seminar dan Loka Karya tentang “Pengembangan Kurikulum Pendidikan Perwira Polri” diselenggarakan oleh Pertenaga pendidikan Tinggi Ilmu Kepolisian dan Partnership Governance Refor In Indonesia. Jakarta Sutama, I Ketut, 2012, Pendidikan Vokasi dan Pembangunan Global, Soshum
Jurnal Sosial dan Humaniora, Vol. 2, No. 1, Jurusan Pariwisata Politeknik Negeri Bali, Jln. Kampus Bukit Jimbaran, Bali
Takwin, Bagus. 2001. Filsafat Timur. Penerbit Jalasutra: Yogyakarta.
Wagner, Tony, 2008, The Global Achievement Gap. New York : Basic Books. Wildemeersch, Danny, 2008, Learning Histories and Curriculum Innovation in
Vocational Education and Training: The Case of a Dutch Community College, Edith Stein Institute of Higher Education, Hengelo, Netherlands, Journal of Transformative Education, Volume XX Num-ber X, Month XXXX xx-xx © 2008 Sage Publications, 10.1177/ 154-1344608318881, http://abs.sagepub.com, hosted at http://online. sagepub.com
ABSTRAK
Dalam lembaga kepolisian rambu-rambu keprofesionalan seorang polisi telah jelas tertulis dalam Tribrata dan Caturprasetya. Untuk menciptakan polisi yang profesional tersebut proses belajar-mengajar di Akpol harus mengarah ke aktivitas to know, to do, to be, dan to live together itu. Keberhasilan proses belajar-mengajar ditentukan oleh banyak faktor, yakni komponen-komponen pembelajaran sebagai sebuat struktur, terutama komponen materi pembelajaran, teknik pembelajaran, dan tenaga pendidik. Proses pembelajaran di lembaga pendidikan formal menyangkut banyak faktor. Proses pembelajaran bisa berhasil jika faktor-faktor lain yang ada mendukung. Sebaliknya, jika faktor-faktor lain tidak mendukung, maka proses belajar-mengajar tidak akan berjalan sebagaimana yang diharapkan. Inti proses belajar-mengajar adalah berangkat dari teori belajar sebagai landasan filosofisnya kemudian memilih model pembelajaran sebagai sarana praktiknya, dan melaksanakan proses belajar-mengajar dengan metode dan teknik yang sesuai dalam rangka mencapai tujuan yang telah ditetapkan. Dalam Peraturan Kepala Kepolisian Negara Republik Indonesia Nomor 4 Tahun 2010 tentang Sistem Pendidikan Kepolisian Negara Republik Indonesia pasal 3 disebutkan bahwa tujuan sistem pendidikan Polri meliputi (1) terwujudnya hasil didik yang profesional, bermoral, dan modern sesuai dengan tuntutan kompetensi Polri; (2) terbentuknya potensi peserta didik yang bermoral tinggi, memiliki ilmu pengetahuan, keterampilan, sikap perilaku yang sesuai dengan etika profesi Polri, patuh hukum, dan menjunjung tinggi hak asasi manusia; dan (3) terbentuknya kemampuan potensi kesamaptaan jasmani dan keterampilan peserta didik yang mampu mendukung pelaksanaan tugas pokok Polri. Di Akpol, untuk mencapai tujuan tersebut ditempuh dengan pola pengajaran, pelatihan, dan pengasuhan. Pengajaran lebih menitikberatkan pada capaian ranah kognitif, pelatihan lebih menitikberatkan pada capaian ranah psikomotor, dan pengasuhan lebih menitikberatkan pada capaian ranah afektif.
Kata Kunci: teori belajar, model pembelajaran, tujuan pembelajaran
MODEL PEMBELAJARAN DI AKPOL Oleh : Edy S. Setjo1
1) Kombes Pol. Drs. Edy S. Setjo, M. M. Direktur Akademik AKPOL Semarang
A. PENDAHULUAN Maha Esa, (2) menjunjung tinggi
Dalam lembaga kepolisian ram- kebenaran keadilan dan kemanusiaan bu-rambu keprofesionalan seorang dalam menegakkan hukum Negara polisi telah jelas tertulis dalam Tri- Kesatuan Republik Indonesia yang brata dan Caturprasetya. Tribrata berdasarkan Pancasila dan Undang-secara lengkap berbunyi “Kami Undang Dasar 1945, dan (3) senan-polisi Indonesia (1) berbakti kepada tiasa melindungi, mengayomi, dan nusa dan bangsa dengan penuh melayani masyarakat dengan keikh-ketaqwaan terhadap Tuhan yang lasan untuk mewujudkan keamanan depan.pdf
Suparlan, Parsudi, 2001, “Kajian Ilmu Kepolisian”, Makalah pada Seminar dan Loka Karya tentang “Pengembangan Kurikulum Pendidikan Perwira Polri” diselenggarakan oleh Pertenaga pendidikan Tinggi Ilmu Kepolisian dan Partnership Governance Refor In Indonesia. Jakarta Sutama, I Ketut, 2012, Pendidikan Vokasi dan Pembangunan Global, Soshum
Jurnal Sosial dan Humaniora, Vol. 2, No. 1, Jurusan Pariwisata Politeknik Negeri Bali, Jln. Kampus Bukit Jimbaran, Bali
Takwin, Bagus. 2001. Filsafat Timur. Penerbit Jalasutra: Yogyakarta.
Wagner, Tony, 2008, The Global Achievement Gap. New York : Basic Books. Wildemeersch, Danny, 2008, Learning Histories and Curriculum Innovation in
Vocational Education and Training: The Case of a Dutch Community College, Edith Stein Institute of Higher Education, Hengelo, Netherlands, Journal of Transformative Education, Volume XX Num-ber X, Month XXXX xx-xx © 2008 Sage Publications, 10.1177/ 154-1344608318881, http://abs.sagepub.com, hosted at http://online. sagepub.com
maupun bagian-bagiannya. Adanya Belajar merupakan proses pengem-gagasan transformasi (transforma- bangan pengetahuan, keterampilan,
tion) berarti struktur itu menyang- dan sikap yang terjadi manakala gupi prosedur transformasi yang seseorang melakukan interaksi seca-terus-menerus memungkinkan pem- ra intensif dengan sumber-sumber bentukan bahan-bahan baru. Adanya belajar (Samaldino et al 2005:6). gagasan keteraturan yang mandiri Dalam kondisi pembelajaran sema-(self regulation) berarti tidak memer- cam ini, tuntutan untuk masing-lukan hal-hal di luar dirinya untuk masing komponen menjadi sangat mempertahankan prosedur transfor- tinggi. Tenaga pendidik, misalnya, masinya, struktur itu otonom terha- sebagai salah satu komponen dalam dap rujukan sistem lain. proses belajar-mengajar, haruslah Atas dasar teori Piaget itu, minus merupakan reflective practitioners konsep self regulation–yang tampak- (Carlgren, Handal & Vaage 1994:1-nya tidak bisa sepenuh1994:1-nya diterap- 5), bukan hanya sebagai teknisi atau kan di Indonesia–proses belajar- pelaksana saja. Demikian juga mengajar di Akpol akan menjadi le- dengan materi ajar, keberadaannya bih efektif dan efisien. Pembelajaran dalam proses belajar-mengajar bukan yang efektif adalah pembelajaran hanya sebagai sarana pelengkap, yang dapat memfasilitasi aktivitas melainkan sebagai komponen yang untuk mencapai tingkat kompetensi ikut andil dalam penentuan keberha-berupa pengetahuan, keterampilan, silan proses belajar-mengajar. dan sikap yang optimal. Pembela- UNESCO telah menetapkan empat jaran yang efisien adalah pembela- pilar pendidikan, yaitu learning to jaran yang dapat memberikan hasil know, learning to do, learning to be,
sesuai dengan sumber daya yang dan learning to live together. Proses digunakan (Pribadi 2009:183). belajar-mengajar di lembaga pendi-Aktivitas pembelajaran di lembaga dikan, termasuk di Akpol, agar mam-pendidikan harus merupakan ke- pu mencapai tujuan yang telah dite-giatan yang menarik sehingga dapat tapkan haruslah mengarah ke aktivi-memotivasi peserta didik mempe- tas to know, to do, to be, dan to live lajari pelajaran secara lebih men- together.
dalam. Untuk mewujudkan proses
bela-Untuk mewujudkan proses pem- jar-mengajar yang mengarah ke akti-belajaran yang efektif dan efisien, vitas to know, to do, to be, dan to live seluruh komponen pembelajaran together itu, jika dikembalikan pada
harus digunakan secara optimal. komponen-komponen pendidikan, dan ketertiban (http://my.opera. berkembangnya potensi peserta didik
com). Caturprasetya secara lengkap agar menjadi manusia yang (1) ber-berbunyi “Sebagai insan bhayang- iman dan bertakwa kepada Tuhan kara kehormatan saya adalah berkor- yang Maha Esa; (2) berakhlak mulia, ban demi masyarakat, bangsa, dan dan berkepribadian luhur; (3) ber-negara untuk (1) meniadakan segala ilmu, cakap, kritis, kreatif, dan bentuk gangguan keamanan, (2) inovatif; (4) sehat, mandiri, dan menjaga keselamatan jiwa, raga, percaya diri; (5) toleran, peka sosial, harta, benda, dan hak asasi manusia, demokratis, dan bertanggung jawab. (3) menjamin kepastian berdasarkan Untuk mewujudkan cita-cita hukum, dan (4) memelihara perasaan mulia tersebut semua komponen tenteram dan damai. dalam dunia pendidikan harus
bersi-Dari Tribrata dan Caturprasetya nergi untuk mewujudkannya. Seba-itulah sesungguhnya telah tergam- gai sebuah struktur, proses pendi-barkan secara jelas sosok perwira dikan tidak mungkin bisa mencapai yang menjadi tanggung jawab Ak- tujuan tanpa disertai oleh kekom-pol. Dengan kata lain, pendidikan di pakan unsur yang mendukungnya. Akpol harus mampu melahirkan per- Sebagai sebuah struktur, proses wira-perwira yang mampu mewu- pendidikan di lembaga pendidikan judkan tanggung jawab yang telah formal, termasuk di Akpol, terbentuk tertulis dalam Tribrata dan Catur- atas beberapa komponen, seperti prasetya tersebut. Implementasi pro- kurikulum, sarana-prasarana, mana-gram sarjana strata 1 terapan jemen, tenaga pendidik, dan taruna kepolisian antara lain dimaksudkan atau mahasiswa. Sebagai sebuah agar tanggung jawab Akpol untuk struktur, menurut Piaget (dalam melahirkan perwira-perwira yang Hawkes 1978:16) komponen-kom-profesional tersebut semakin bisa ponen tersebut terikat oleh tiga hal terwujud dengan kualitas yang lebih pokok, yaitu pertama, adanya gagas-tinggi. Selain itu, sebagai salah satu an keseluruhan (wholeness), kedua, bagian dari sistem pendidikan nasio- gagasan transformasi (transforma-nal, seperti yang tertuang dalam tion), dan ketiga, gagasan keteraturan
Peraturan Pemerintah Nomor 17 yang mandiri (self regulation). Ada-Tahun 2010 tentang Pengelolaan nya gagasan keseluruhan (whole-Penyelenggaraan Pendidikan, Akpol ness) berarti bagian atau unsurnya
juga berkewajiban untuk ikut andil menyesuaikan diri dengan seperang-mewujudkan tujuan pendidikan da- kat kaidah intrinsik yang menen-lam membangun landasan bagi tukan, baik keseluruhan struktur
maupun bagian-bagiannya. Adanya Belajar merupakan proses pengem-gagasan transformasi (transforma- bangan pengetahuan, keterampilan,
tion) berarti struktur itu menyang- dan sikap yang terjadi manakala gupi prosedur transformasi yang seseorang melakukan interaksi seca-terus-menerus memungkinkan pem- ra intensif dengan sumber-sumber bentukan bahan-bahan baru. Adanya belajar (Samaldino et al 2005:6). gagasan keteraturan yang mandiri Dalam kondisi pembelajaran sema-(self regulation) berarti tidak memer- cam ini, tuntutan untuk masing-lukan hal-hal di luar dirinya untuk masing komponen menjadi sangat mempertahankan prosedur transfor- tinggi. Tenaga pendidik, misalnya, masinya, struktur itu otonom terha- sebagai salah satu komponen dalam dap rujukan sistem lain. proses belajar-mengajar, haruslah Atas dasar teori Piaget itu, minus merupakan reflective practitioners konsep self regulation–yang tampak- (Carlgren, Handal & Vaage 1994:1-nya tidak bisa sepenuh1994:1-nya diterap- 5), bukan hanya sebagai teknisi atau kan di Indonesia–proses belajar- pelaksana saja. Demikian juga mengajar di Akpol akan menjadi le- dengan materi ajar, keberadaannya bih efektif dan efisien. Pembelajaran dalam proses belajar-mengajar bukan yang efektif adalah pembelajaran hanya sebagai sarana pelengkap, yang dapat memfasilitasi aktivitas melainkan sebagai komponen yang untuk mencapai tingkat kompetensi ikut andil dalam penentuan keberha-berupa pengetahuan, keterampilan, silan proses belajar-mengajar. dan sikap yang optimal. Pembela- UNESCO telah menetapkan empat jaran yang efisien adalah pembela- pilar pendidikan, yaitu learning to jaran yang dapat memberikan hasil know, learning to do, learning to be,
sesuai dengan sumber daya yang dan learning to live together. Proses digunakan (Pribadi 2009:183). belajar-mengajar di lembaga pendi-Aktivitas pembelajaran di lembaga dikan, termasuk di Akpol, agar mam-pendidikan harus merupakan ke- pu mencapai tujuan yang telah dite-giatan yang menarik sehingga dapat tapkan haruslah mengarah ke aktivi-memotivasi peserta didik mempe- tas to know, to do, to be, dan to live lajari pelajaran secara lebih men- together.
dalam. Untuk mewujudkan proses
bela-Untuk mewujudkan proses pem- jar-mengajar yang mengarah ke akti-belajaran yang efektif dan efisien, vitas to know, to do, to be, dan to live seluruh komponen pembelajaran together itu, jika dikembalikan pada
harus digunakan secara optimal. komponen-komponen pendidikan, dan ketertiban (http://my.opera. berkembangnya potensi peserta didik
com). Caturprasetya secara lengkap agar menjadi manusia yang (1) ber-berbunyi “Sebagai insan bhayang- iman dan bertakwa kepada Tuhan kara kehormatan saya adalah berkor- yang Maha Esa; (2) berakhlak mulia, ban demi masyarakat, bangsa, dan dan berkepribadian luhur; (3) ber-negara untuk (1) meniadakan segala ilmu, cakap, kritis, kreatif, dan bentuk gangguan keamanan, (2) inovatif; (4) sehat, mandiri, dan menjaga keselamatan jiwa, raga, percaya diri; (5) toleran, peka sosial, harta, benda, dan hak asasi manusia, demokratis, dan bertanggung jawab. (3) menjamin kepastian berdasarkan Untuk mewujudkan cita-cita hukum, dan (4) memelihara perasaan mulia tersebut semua komponen tenteram dan damai. dalam dunia pendidikan harus
bersi-Dari Tribrata dan Caturprasetya nergi untuk mewujudkannya. Seba-itulah sesungguhnya telah tergam- gai sebuah struktur, proses pendi-barkan secara jelas sosok perwira dikan tidak mungkin bisa mencapai yang menjadi tanggung jawab Ak- tujuan tanpa disertai oleh kekom-pol. Dengan kata lain, pendidikan di pakan unsur yang mendukungnya. Akpol harus mampu melahirkan per- Sebagai sebuah struktur, proses wira-perwira yang mampu mewu- pendidikan di lembaga pendidikan judkan tanggung jawab yang telah formal, termasuk di Akpol, terbentuk tertulis dalam Tribrata dan Catur- atas beberapa komponen, seperti prasetya tersebut. Implementasi pro- kurikulum, sarana-prasarana, mana-gram sarjana strata 1 terapan jemen, tenaga pendidik, dan taruna kepolisian antara lain dimaksudkan atau mahasiswa. Sebagai sebuah agar tanggung jawab Akpol untuk struktur, menurut Piaget (dalam melahirkan perwira-perwira yang Hawkes 1978:16) komponen-kom-profesional tersebut semakin bisa ponen tersebut terikat oleh tiga hal terwujud dengan kualitas yang lebih pokok, yaitu pertama, adanya gagas-tinggi. Selain itu, sebagai salah satu an keseluruhan (wholeness), kedua, bagian dari sistem pendidikan nasio- gagasan transformasi (transforma-nal, seperti yang tertuang dalam tion), dan ketiga, gagasan keteraturan
Peraturan Pemerintah Nomor 17 yang mandiri (self regulation). Ada-Tahun 2010 tentang Pengelolaan nya gagasan keseluruhan (whole-Penyelenggaraan Pendidikan, Akpol ness) berarti bagian atau unsurnya
juga berkewajiban untuk ikut andil menyesuaikan diri dengan seperang-mewujudkan tujuan pendidikan da- kat kaidah intrinsik yang menen-lam membangun landasan bagi tukan, baik keseluruhan struktur
dengan kebutuhan kehidupan, terma- kepentingan daerah harus saling suk di dalamnya kehidupan kema- mengisi dan memberdayakan sejalan syarakatan, dunia usaha dan dunia dengan motto Bhineka Tunggal Ika kerja. Oleh karena itu, pengem- dalam kerangka Negara Kesatuan bangan keterampilan pribadi, kete- Republik Indonesia (NKRI).
rampilan berpikir, keterampilan sosi- Prinsip-prinsip tersebut telah di-al, keterampilan akademik, dan gunakan untuk menyusun kurikulum keterampilan vokasional merupakan di Akpol dengan
penyesuaian-keniscayaan. penyesuaian. Maksud
penyesuaian-4) Menyeluruh dan berkesinam- penyesduaian adalah prinsip tersebut
bungan telah disesuaikan dengan kondisi dan
Substansi kurikulum mencakup kebutuhan Akpol saat ini dan masa keseluruhan dimensi kompetensi, depan. Dengan model kurikulum bidang kajian keilmuan dan mata seperti itu, ditambah dengan kompe-pelajaran yang direncanakan dan tensi tenaga pendidik yang selalu disajikan secara berkesinambungan ditingkatkan dari hari ke hari; proses antarsemua jenjang pendidikan. pembelajaran diharapkan dapat ber-5) Belajar sepanjang hayat sifat efektif dan efesisien, sehingga
Kurikulum diarahkan kepada pada akhirnya dapat mewujudkan proses pengembangan, pembuda- tujuan pendidikan di Akpol pada yaan, dan pemberdayaan peserta khususnya dan mewujudkan tujuan didik yang berlangsung sepanjang pendidikan nasional pada umumnya. hayat. Kurikulum mencerminkan Dari latar belakang tersebut, keterkaitan antara unsur-unsur pen- muncullah persoalan model pembe-didikan formal, nonformal, dan lajaran seperti apa saja yang cocok informal dengan memperhatikan untuk digunakan di Akpol, termasuk kondisi dan tuntutan lingkungan dalam implementasi program sarjana yang selalu berkembang serta arah strata 1 terapan kepolisian; agar pengembangan manusia seutuhnya. mampu mewujudkan perwira yang 6) Seimbang antara kepentingan sikap, perilaku, dan kinerjanya
me-nasional dan kepentingan daerah munculkan jiwa Tribrata dan Catur-Kurikulum dikembangkan de- prasetya polisi.
ngan memperhatikan kepentingan
nasional dan kepentingan daerah B. TUJUAN PENDIDIKAN DI
untuk membangun kehidupan ber- AKPOL
masyarakat, berbangsa, dan ber- Pada hakikatnya tujuan pendi-negara. Kepentingan nasional dan dikan nasional adalah membentuk terutama ditentukan oleh tiga kom- serta didik. Atas dasar tuntutan itulah,
ponen pembelajaran, yakni materi kurikulum dikembangkan dengan pembelajaran, teknik pembelajaran, prinsip-prinsip berikut (Depdiknas dan tenaga pendidik (Tuloli 1996:1). 2010:10-15).
Hal ini berarti, jika tesis tersebut di- 1) Beragam dan terpadu
sempitkan, penyebab kekurangber- Kurikulum dikembangkan dengan hasilan pembelajaran di sebuah memperhatikan keragaman karakte-lembaga pendidikan juga terutama ristik peserta didik, kondisi daerah, bertumpu pada masalah materi ajar, jenjang dan jenis pendidikan, serta teknik pembelajaran, dan kompe- menghargai dan tidak diskriminatif tensi tenaga pendidik karena ketiga- terhadap perbedaan agama, suku, nya pula yang memegang peran pen- budaya, adat istiadat, status sosial ting bagi terwujudnya proses belajar- ekonomi, dan jender. Kurikulum mengajar yang efektif dan efisien. meliputi substansi komponen muatan Materi ajar terlihat dalam kuri- wajib kurikulum, muatan lokal, dan kulum. Kurikulumdi Akpol, terma- pengembangan diri secara terpadu, suk implementasinya ke program serta disusun dalam keterkaitan dan sarjana strata 1 terapan kepolisian, kesinambungan yang bermakna dan telah disusun sesuai dengan tuntutan tepat antarsubstansi.
perkembangan zaman. Kurikulum 2) Tanggap terhadap perkembangan dikembangkan berdasarkan prinsip ilmu pengetahuan, teknologi, dan bahwa peserta didik memiliki posisi seni
sentral untuk mengembangkan kom- Kurikulum dikembangkan atas petensinya agar menjadi manusia dasar kesadaran bahwa ilmu pengeta-yang beriman dan bertakwa kepada huan, teknologi, dan seni yang ber-Tuhan Yang Maha Esa, berakhlak kembang secara dinamis. Oleh kare-mulia, sehat, berilmu, cakap, kreatif, na itu, semangat dan isi kurikulum mandiri dan menjadi warga negara memberikan pengalaman belajar yang demokratis serta bertanggung peserta didik untuk mengikuti dan jawab. Untuk mendukung pencapai- memanfaatkan perkembangan ilmu an tujuan tersebut pengembangan pengetahuan, teknologi, dan seni kompetensi peserta didik disesuai- 3) Relevan dengan kebutuhan kan dengan potensi, perkembangan, kehidupan
ke-butuhan, dan kepentingan peserta Pengembangan kurikulum dila-didik serta tuntutan lingkungan. kukan dengan melibatkan pemangku Memiliki posisi sentral berarti kegi- kepentingan (stakeholders) untuk atan pembelajaran berpusat pada pe- menjamin relevansi pendidikan
dengan kebutuhan kehidupan, terma- kepentingan daerah harus saling suk di dalamnya kehidupan kema- mengisi dan memberdayakan sejalan syarakatan, dunia usaha dan dunia dengan motto Bhineka Tunggal Ika kerja. Oleh karena itu, pengem- dalam kerangka Negara Kesatuan bangan keterampilan pribadi, kete- Republik Indonesia (NKRI).
rampilan berpikir, keterampilan sosi- Prinsip-prinsip tersebut telah di-al, keterampilan akademik, dan gunakan untuk menyusun kurikulum keterampilan vokasional merupakan di Akpol dengan
penyesuaian-keniscayaan. penyesuaian. Maksud
penyesuaian-4) Menyeluruh dan berkesinam- penyesduaian adalah prinsip tersebut
bungan telah disesuaikan dengan kondisi dan
Substansi kurikulum mencakup kebutuhan Akpol saat ini dan masa keseluruhan dimensi kompetensi, depan. Dengan model kurikulum bidang kajian keilmuan dan mata seperti itu, ditambah dengan kompe-pelajaran yang direncanakan dan tensi tenaga pendidik yang selalu disajikan secara berkesinambungan ditingkatkan dari hari ke hari; proses antarsemua jenjang pendidikan. pembelajaran diharapkan dapat ber-5) Belajar sepanjang hayat sifat efektif dan efesisien, sehingga
Kurikulum diarahkan kepada pada akhirnya dapat mewujudkan proses pengembangan, pembuda- tujuan pendidikan di Akpol pada yaan, dan pemberdayaan peserta khususnya dan mewujudkan tujuan didik yang berlangsung sepanjang pendidikan nasional pada umumnya. hayat. Kurikulum mencerminkan Dari latar belakang tersebut, keterkaitan antara unsur-unsur pen- muncullah persoalan model pembe-didikan formal, nonformal, dan lajaran seperti apa saja yang cocok informal dengan memperhatikan untuk digunakan di Akpol, termasuk kondisi dan tuntutan lingkungan dalam implementasi program sarjana yang selalu berkembang serta arah strata 1 terapan kepolisian; agar pengembangan manusia seutuhnya. mampu mewujudkan perwira yang 6) Seimbang antara kepentingan sikap, perilaku, dan kinerjanya
me-nasional dan kepentingan daerah munculkan jiwa Tribrata dan Catur-Kurikulum dikembangkan de- prasetya polisi.
ngan memperhatikan kepentingan
nasional dan kepentingan daerah B. TUJUAN PENDIDIKAN DI
untuk membangun kehidupan ber- AKPOL
masyarakat, berbangsa, dan ber- Pada hakikatnya tujuan pendi-negara. Kepentingan nasional dan dikan nasional adalah membentuk terutama ditentukan oleh tiga kom- serta didik. Atas dasar tuntutan itulah,
ponen pembelajaran, yakni materi kurikulum dikembangkan dengan pembelajaran, teknik pembelajaran, prinsip-prinsip berikut (Depdiknas dan tenaga pendidik (Tuloli 1996:1). 2010:10-15).
Hal ini berarti, jika tesis tersebut di- 1) Beragam dan terpadu
sempitkan, penyebab kekurangber- Kurikulum dikembangkan dengan hasilan pembelajaran di sebuah memperhatikan keragaman karakte-lembaga pendidikan juga terutama ristik peserta didik, kondisi daerah, bertumpu pada masalah materi ajar, jenjang dan jenis pendidikan, serta teknik pembelajaran, dan kompe- menghargai dan tidak diskriminatif tensi tenaga pendidik karena ketiga- terhadap perbedaan agama, suku, nya pula yang memegang peran pen- budaya, adat istiadat, status sosial ting bagi terwujudnya proses belajar- ekonomi, dan jender. Kurikulum mengajar yang efektif dan efisien. meliputi substansi komponen muatan Materi ajar terlihat dalam kuri- wajib kurikulum, muatan lokal, dan kulum. Kurikulumdi Akpol, terma- pengembangan diri secara terpadu, suk implementasinya ke program serta disusun dalam keterkaitan dan sarjana strata 1 terapan kepolisian, kesinambungan yang bermakna dan