KAJIAN PUSTAKA A.Internet
C. Model Pembelajaran Diskusi Kelompok
Diskusi adalah suatu proses penglihatan dua atau lebih individu yang berinteraksi secara verbal dan saling berhadapan muka mengenai tujuan atau sasaran yang sudah ditentukan melalui cara tukar menukar informasi, mempertahankan pendapat, atau pemecahan masalah. Sedangkan metode diskusi adalah suatu cara penyajian bahan pelajaran di mana guru memberi kesempatan kepada para siswa (kelompok-kelompok siswa) untuk mengadakan perbincangan ilmiah guna mengumpulkan pendapat, membuat kesimpulan, atau menyusun berbagai alternative pemecahan suatu masalah (Hasibuan dan Moedjiono, 2008: 20) Diskusi yang baik menurut Kasmadi (1990: 106) bukan semata timbul dari peran guru, akan tetapi lebih tepat apabila timbul dari murid setelah memahami masalah dan situasi yang dihadapinya. Tetapi dalam hal ini guru dapat pula memberikan arahan kepada peserta didik dalam memperoleh masalah yang tepat untuk didiskusikan, yang sebelumnya kepada peserta didik diberikan tugas untuk
memepelajari, memahami dan menganalisis masalah yang akan menjadi topik diskusi.
Ada beberapa kelebihan metode diskusi (kelas maupun kelompok), antara lain: (1) memungkinkan adanya interaksi antara dosen/guru dengan mahasiswa/siswa, juga antara sesama mahasiswa/siswa; (2) dosen/guru dapat membaca pikiran mahasiswa/siswa tentang konsep yang baru dipelajarinya, seperti menilai pemahaman mereka apakah mereka salah mengerti atau bias terhadap konsep baru tersebut (Budiardjo, L., 1997:8-17). Keuntungan metode diskusi menurut Semiawan, dkk. (1998:76) adalah: (1) mempertinggi peran serta secara perorangan; (2) mempertinggi peran serta kelas secara keseluruhan; (3) memupuk sikap saling menghargai pendapat orang lain.
Persoalan yang tepat untuk didiskusikan adalah: (1) menarik perhatian siswa; (2) sesuai dengan tingkat perkembangan siswa; (3) memiliki lebih dari satu kemungkinan pemecahan masalah atau jawaban; (4) pada umumnya tidak mencari jawaban mana yang benar, melainkan mengutamakan pertimbangan atau perbandingan.
Metode diskusi dalam proses pembelajaran menurut Kusmadi (1990: 106) mempunyai maksud: (1) melibatkan murid sebagai bagian komponen sistem; (2) menstimulasi dan memotivasi murid; (3) melatih mereka agar kritis dalam menganalisis; dan (4) mengembangkan kemampuan bekerja sama.
Beberapa upaya guru agar diskusi berhasil dengan baik menurut Sagala (2009: 209) adalah:
1. Masalahnya harus kontroversial, artinya mengandung pertanyaan dari peserta didik. Masalahnya harus menarik perhatian mereka karena bertalian dengan pengalaman mereka.
2. Guru harus menempatkan dirinya sebagai pemimpin diskusi. Ia membagi-bagi pertanyaan dan memberi petunjuk tentang jalannya diskusi. Guru juga berperan sebagai penangkis terhadap pertanyaan yang diajukan peserta didik.
3. Guru hendaknya memperhatikan pembicaraan agar fungsi guru sebagai pemimpin diskusi dapat dilaksanakan sebagaimana mestinya.
D.Vektor
Menurut Suradi dan Zenab (2014:26), besaran-besaran fisika terdiri dari dua yaitu besaran skalar dan besaran vektor. Besaran skalar adalah besaran yang hanya mempunyai nilai, contohnya semua besaran pokok, jarak, massa, laju, usaha, energi, daya, dan lain-lain. Besaran vektor adalah besaran yang mempunyai nilai dan arah, contohnya perpindahan, kecepatan, impuls, medan listrik, gaya, momentum, dan lain-lain.
A. Mengenal vektor 1. Notasi vektor
Cara menuliskan vektor sebagai berikut:
a. Menulis tanda vektor atau anak panah di atas nama vektor. Contoh: πβ dan OAββββββ
b. Menuliskan nama vektor dengan huruf yang ditebalkan. Contoh: π dan ππ
Nama vektor dapat dituliskan dengan satu huruf atau dengan dua huruf. Huruf depan menyatakan titik tangkap dan huruf belakang mrnunjukkan arahnya. Vektor dilambangkan (digambarkan) dengan sinar garis atau garis yang ujungnya diberi anak panah. Contoh: ββββββOA, berarti O sebagai titik tangkap vektor dan A arah vektor dari O.
c. Menggambar vektor
Sebuah vektor digambarkan dengan sebuah anak panah yang terdiri dari pangkal (titik tangkap), ujung dan panjang anak panah. Panjang anak panah menyatakan nilai dari vektor dan arah panah menunjukkan arah vektor.
Pada gambar (2.1) digambar vektor dengan titik pangkalnya P, titik ujungnya Q serta sesuai arah panah dan nilai vektornya sebesar panjang.
Gambar 2.1: gambar sebuah vektor PQ Titik P: titik tangkap (titik pangkal)
Titik Q: ujung
Panjang PQ: nilai (besarnya) vektor tersebut 2. Besar vektor
Besar suatu vektor πβ secara grafis dinyatakan dengan panjang garis sedangkan arahnya berdasarkan sinar garis tersebut. Besar suatu vektor dinyatakan:
π = |πβ|
3. Penguraian vektor
Pada bidang (dua dimensi), komponen-komponen vector dibagi dalam arah atau sumbu X dan Y sehingga suatu vektor diuraikan menjadi dua buah vektor yang saling tegak lurus.
Gambar 2.2: penguraian vektor
Dari gambar diatas, vektor πβ diuraikan menjadi dua vektor yang saling tegak lurus, yaitu πββββπ₯ dan πββββπ¦. πββββπ₯ adalah komponen πβ pada arah X
Y X ππ₯ ββββ ππ¦ ββββ πΌ P Q
sedangkan πββββπ¦ adalah komponen πβ pada arah Y. Besar πββββπ₯ dan πββββπ¦ dinyatakan sebagai:
rx = π cos πΌ
ry = π sin πΌ
Vektor satuan dalam arah X dilambangkan dengan πΜ , vektor satuan dalam arah Y dilambangkan dengan πΜ, dan vektor satuan dalam arah Z dilambangkan dengan πΜ. Vektor juga dapat dinyatakan dalam koordinat Cartesius maupun dalam vektor satuan sebagai berikut:
πβ = (rx,ry)
= rxπΜ + ryπΜ
Apabila vektor yang diuraikan adalah vektor tiga dimensi, maka vektor tersebut dinyatan sebagai berikut:
πβ = (rx,ry, rz)
= rxπΜ + ryπΜ + rzπΜ
B. Penjumlahan dan Pengurangan Vektor 1. Penjumlahan vektor secara geometris
a. Menggunakan metode segitiga πβ
(a) (b) Gambar 2.3: (a) penjumlahan vektor menggunakan metode segitiga, (b) pengurangan vektor menggunakan metode segitiga. b. Menggunakan metode polygon(segi banyak)
Gambar 2.4: penjumlahan menggunakan metode polygon c. Menggunakan metode jajargenjang
πβ πβ A B C A B πβ βπ ββββββ πββ πβ (a). penjumlahan πβ βπ ββββββ (b). pengurangan
Gambar 2.5: (a) penjumlahan vektor menggunakan metode jajar genjang, (b) pengurangan vektor menggunakan metode jajaar
genjang. 2. Penjumlahan vektor secara analitis
Gambar 2.6: penjumlahan vektor secara analitis
Pada penjumlahan dua vektor diatas, vektor πβ adalah vektor hasil penjumlahan (vektor resultan) antara vektor πβ dan πββ dengan sudut antara vektor πβ dan πββ adalah π. Besar vektor resultan βπββ dari dua vektor diatas dan membentuk sudut π dirumuskan sebagai berikut:
βπββ = ββπββ2+ βπβββ2 + 2βπββ2βπβββ2πππ π
Untuk penjumlahan dua vektor atau lebih dapat dilakukan dengan menguraikan vektor-vektor tersebut kearah sumbu X dan sumbu Y. selanjutnya, resultan vektor pada kedua sumbu dapat dihitung menggunakan persamaan umum penjumlahan vektor.
πββ π
Gambar 2.7 Penjumlahan vektor secara analitis
Dari gambar diatas dapat diperoleh resultan vektor pada masing-masing sumbu:
1. Sumbu X:βπ£βπ = π£β1πππ πΌ β π£β2πππ π½
2. Sumbu Y:βπ£βπ¦ = π£β1sin πΌ + π£β2sin π½
Setelah resultan seluruh vector dihitung dengan persamaan, diperoleh:
βπ£ββ = βββπ£βπβ2 + ββπ£βπβ2
3. Penjumlahan vektor berdasarkan komponen vektor satuan
Vektor juga dapat dijumlahkan atau dikurangkan tanpa harus menggambarkannya, tetapi dengan mengetahui informasi komponen vektor dalam bentuk vektor satuan.
Berikut ini contoh vektor πβ, πββ, dan πβ dengan kompenen-komponenya.
πβ = ππ₯πΜ + ππ¦πΜ πββ = ππ₯πΜ + ππ¦πΜ πβ = ππΜ + ππ¦πΜ Y X πΌ π½ π£β1 π£β2 π£β2πππ π½ π£β1πππ πΌ π£β1π ππ πΌ π£β2π ππ π½
Ketiga vektor tersebut dijumlahkan atau dikurangkan dengan cara menjumlahkan atau mengurangkan komponen-komponenya.
π β = πβ + πββ β πβ
= (ππ₯+ ππ₯β ππ₯)πΜ + (ππ¦+ ππ¦ β ππ¦)πΜ = π π₯πΜ + π π¦πΜ
Besar, norma, atau magnitude suatu vektor yaitu:
π = βπ ββ = βπ π₯2+ π π¦2+ π π§2 dengan
π π₯= ππ₯+ ππ₯β ππ₯ π π¦ = ππ¦+ ππ¦β ππ¦
C. Perkalian Vektor
Untuk operasi perkalian dua buah vektor, ada dua macam operasi, yaitu: 1. Perkalian skalar dengan vektor
Sebuah besaran skalar dengan nilai sebesar k, dapat dikalikan dengan sebuah vektor A yang hasilnya sebuah vektor baru C yang nilainya sama dengan nilai k dikali nilai A. Jika nilai k positif, maka arah C searah dengan A dan jika nilai k bertanda negatif, maka arah C berlawanan dengan arah A. Secara matematis dapat dituliskan sebagai berikut:
C = kA
2. Perkalian vektor dengan vektor
a. Perkalian titik atau perkalian skalar (dot product atau scalar produt) Perkalian titik dari dua vektor A dan B dilambangkan dengan A β B. Didalam fisika perkalian titik vektor ini dijumpai misalnya dalam rumus usaha, yaitu:
Gaya F dan perpindahan s kedua-duanya merupakan besaran vektor, sedangkan usaha W merupakan besaran skalar. Berarti, hasil perkalian titik dua besaran vektor merupakan besaran skalar.
Definisi perkalian titik dari dua vektor A dan B yang mengapit sudut π
dapat dituliskan sebagai berikut: A β B = AB cos π
Jika vektor yang diketahui dinyatakan dalam komponen-komponen vektor satuan, dapat mengalikan kedua vektor dalam notasi vektor satuan pula. Sifat-sifat perkalian titik di antara vektor satuan sebagai berikut:
i β i = j β j = k β k = 1 i β j = i β k = j β k = 0
Dari sifat-sifat perkalian titik vektor-vektor satuan, perkalian titik vektor A dan B adalah:
A β B = (Ax i + Ay j + Az k)( Bx i + By j + Bz k)
= Ax i Bx i + Ax i Bv j + Ax i Bz k + Ay j Bx i + Ay j Bv j + Ay j Bz k + Az k Bx i + Az k Bv j + Az k Bz k
A β B = AxBx + AyBy + AzBz
Pada perkalian titik dari dua vektor, berlaku sifat komutatif, yang berarti A β B = B β A.
b. Perkalian silang atau perkalian vektor (cross product atau vector product)
Perkalian silang adalah perkalian vektor yang didefinisikan sebagai: C = A Γ B
Dimana C merupakan vektor baru hasil perkalian silang antara vektor A dan B. Besar vektor C adalah:
Dengan A adalah besar vektor A dan B adalah besar vektor B, sedangkan ΞΈ adalah sudut antara keduanya. Arah dari vektor C ini tegak lurus dengan bidang yang dibentuk oleh dua vektor tersebut. Di mana arahnya adalah sesuai dengan aturan tangan kanan di mana ujung vektor A menuju ujung vektor B searah dengan lipatan empat jari sedangkan jempol menunjukkan arah vektor C (lihat gambar di bawah).
Gambar 2.8 Arah Vektor C
Pada perkalian silang vektor ini tidak berlaku sifat komutatif, jadi AΓB β BΓA. Akan tetapi berlaku sifat anti-komutatif, yaitu AΓB= -BΓA. Artinya besar vektor BΓA memiliki besar yang sama dengan vektor AΓB namun arahnya berlawanan.
Untuk menentukan nilai resultan vektor dan persamaan perkalian vektor, dapat digunakan sifat-sifat perkalian silang sesama vektor satuan:
ο· Perkalian silang antara dua vektor satuan yang sama besar dan searah bernilai nol. Misalnya, iΓi = 0, jΓj = 0, dan kΓk = 0. ο· Perkalian antara dua vektor satuan yang berbeda akan bernilai
positif jika searah jarum jam, dan bernilai negatif jika berlawanan arah dengan jarum jam.
iΓj = k jΓk = i kΓi = j jΓi = -k kΓj = -i iΓk = -j
Berdasarkan sifat-sifat perkalian silang antara vektor satuan tersebut, maka perkalian silang antara dua vektor A dan B dapat diperoleh sebagai berikut:
AΓB = (Ax i + Ay j + Az k)Γ(Bx i + By j + Bz k)
= (AyBz β AzBy) i β (AxBz β AzBx) j + (AxBy β AyBx) k
Untuk mempermudah dalam mengingat rumus di atas bisa menggunakan metode determinan seperti berikut ini:
AΓB = i AyBz + j AzBx + k AxBy β k AyBx β i AzBy β j AxBz = (AyBz β AzBy) i β (AxBz β AzBx) j + (AxBy β AyBx) k E.Penelitian Yang Relevan
Penelitian yang akan dilakukan bertujuan untuk mengetahui sejauh mana efektivitas pembelajaran menggunakan internet pada materi vektor dan
pengaruhnya terhadap hasil belajar siswa kelas X MIA SMAS Katolik Ruteng. Penelitian yang akan dilakukan peneliti akan menggunakan tes sebagai instumen penelitian yang nantinya akan diolah dalam tata cara pengolahan data penelitian. Sekalipun begitu, penelitian yang akan dilakukan peneliti juga akan menggunakan angket sebagai pelengkap dan pendukung data penelitian.
Sebuah penelitian serupa telah dilakukan oleh Fatannio Putra mahasiswa Pendidikan Fisika Universitas Sanata Dharma Yogyakarta dalam penulisan skripsinya tentang pemanfaatan internet dalam kehidupan sehari-hari, dalam pembelajaran di Sekolah, dan dalam pembelajartan fisika oleh siswa SMA kelas XI jurusan IPA di Kecamatan Sintang dan Kabupaten Wonogiri tahun ajaran 2016/2017. Ada kemiripan tujuan penelitian yang telah dilakukan Fatannio (2017) dengan penelitian yang akan dilakukan peneliti yaitu melihat pemanfaatan internet bagi siswa tingkat Sekolah Menengah Atas (SMA). Yang menjadi pembeda adalah tempat penelitian. Fatannio (2017) melakukan penelitian di Kecamatan Sintang dan Kabupaten Wonogiri sedangkan peneliti melakukan penelitian di SMA X. Sampel penelitian yang akan dilakukan peneliti adalah siswa/i kelas X jurusan IPA SMA X. Metode pengambilan data yang akan dilakukan peneliti adalah menggunakan tes dan observasi. Berbeda dengan yang telah dilakukan Fatannio (2017) yang mana menggunakan kuisioner dan observasi untuk pengambilan data dalam penelitiannya.
Dalam hasil penelitiannya, Fatannio (2017) menyebutkan bahwa siswa SMA kelas XI jurusan IPA di Kecamatan Sintang dan Kabupaten Wonogiri dalam memanfaatkan internet adalah sebagai berikut:
1. Pemanfaatan internet dalam kehidupan sehari-hari
a. Rata-rata para siswa mengenal internet pertama kali sari teman mereka dengan persentase sebesar 44,10% atau 198 siswa.
b. Tujuan utama para siswa mengakses internet adalah untuk berkomunikasi dengan persentase sebesar 47,66% atau 214 siswa.
c. Perangkat utama yang digunakan oleh para siswa untuk mengakses internet adalah smartphone dengan persentase sebesar 84,63% atau 380 siswa. d. Tempat para siswa sering mengakses internet adalah di rumah dengan
persentase sebesar 72,16% atau 324 siswa.
e. Para siswa paling sering mengakses situs pencarian informasi saat mengunjungi warung internet (warnet) dengan persentase sebesar 63,25% atau 284 siswa.
f. Para siswa mengakses internet setiap hari dengan waktu rata-rata penggunaan internet 6 sampai 9 jam dalam satu hari.
g. Pengeluaran rata-rata biaya penggunaan internet oleh para siswa dalam satu bulan adalah kurang dari Rp 50.000 dengan persentase sebesar 56,13% atau 252 siswa.
h. Para siswa sangat jarang mengunjungi warnet.
i. Rata-rata para siswa memiliki 3-5 media social yang digunakan dengan persentase sebesar 61,25 % atau 275 siswa.
j. Media social yang paling banyak digunakan oleh para siswa di Kecamatan Sintang adalah Blackberry messenger (BBM) sedangkan di Kabupaten Wonogiri adalah WhatssApp.
2. Pemanfaatan internet dalam pembelajaran di sekolah
a. Para siswa baik di Kecamatan Sintang maupun di Kabupaten Wonogiri yang disekolahnya dilarang membawa handphone paling sering mengakses internet di laboratorium computer dan para siswa yang di sekolahnya diperbolehkan membawa handphone paling sering mengakses internet di kelas.
b. Format materi pelajaran yang paling sering dicari oleh para siswa diinternet adalah berupa teks berisi penjelasan dengan persentase sebesar 80,40% atau 361 siswa.
c. Waktu yang dihabiskan oleh para siswa dalam mengakses internet untuk keperluan belajar atau mengerjakan tugas sekolah adalah rata-rata 1 sampai 2 jam sengan persentase sebesar 55,46% atau 249 siswa.
d. Mata pelajaran yang dicari diinternet oleh para siswa di Kecamatan Sintang jika diurutkan dari yang paling banyak ke yang paling sedikit adalah Bahasa Inggris, Biologi, Fisika, Kimia, Bahasa Indonesia, dan Matematika. Sedangkan di Kabupaten Wonogiri mata pelajaran yang dicari diinternet oleh para siswa jika diurutkan dari yang paling banyak ke yang paling sedikit adalah Biologi, Fisika, Bahasa Inggris, Bahasa Indonesia, Kimia, dan Matematika.
3. Pemanfaatan internet dalam pembelajaran fisika
a. Para siswa merasa senang belajar fisika melalui internet. Hal ini terbukti dengan motivasi utama yang mendorong para siswa mencari materi tambahan fisika di internet ada adalam diri mereka sendiri dengan persentase sebesar 80,85% atau 363 siswa.
b. Media ajar yang paling sering digunakan oleh guru fisika baik di Kecamatan Sintang maupun di Kabupaten Wonogiri adalah buku teks dengan persentase sebesar 74,83% atau 336 siswa.
c. Format materi tambahan fisika yang paling sering dicari oleh para siswa diinternet adalah berupa teks berisi penjelasan dan contoh-contoh soal dengan persentase sebsar 64,59% atau 290 siswa.
d. Para siswa paling sering mencari materi tambahan fisika dari internet di rumah dengan persentase sebesar 60,80% atau 273 siswa.
e. Waktu yang dihabiskan para siswa dalam mengakses internet untuk keperluan belajar fisika, mencari materi tambahan fisika ataupun mengerjakan tugas fisika dari sekolah adalah rata-rata 1 sampai 3 jam dengan persentase sebesar 52,34% atau 235 siswa.
Dalam penelitian ini, materi yang akan dibahas adalah tentang βVEKTORβ. Persoalan yang biasa dihadapi yaitu siswa susah menguasai penjumlahan vektor
baik secara geometris maupun secara analitis. Dan persoalan ini yang akan ditekankan oleh peneliti dalam penelitiannya. Internet digunakan sebagai sumber utama materi yang artinya keseluruhan materi yang diajarkan berasal dari internet dan siswa mempelajari materi dari internet.
Analisis materi yang diambil dari internet berupa video yang dapat diambil dari youtube. Video menyediakan satu cara belajar yang amat menarik dan langsung. Dengan menggunakan video, siswa dapat dengan mudah mengerti karena video menyajikan secara rinci materi yang dibahas dan bisa langsung menggambar. Video digunakan di kelas selama proses pembelajaran berlangsung. Video pembelajaran dikelas ditentukan oleh peneliti (resourcing) dan video pembelajaran diluar kelas untuk menyelesaika tugas kelompok yang diberikan peneliti dicari oleh peserta didik sendiri (searching). Peserta didik tidak diwajibkan untuk mencari sendiri, akan tetapi bisa menggunakan video yang telah ditentukan oleh peneliti, dan apabila kurang lengkap pada video yang peneliti tentukan peserta diidk diperbolehkan untuk mencari sendiri. Peneliti memberikan tugas diluar kelas hanya satu kali, karena sepenuhnya kegiatan pembelajaran berlangsung di kelas. Kegiatan yang dilakukan dikelas meliputi menonton video di youtube, kemudian berdiskusi dengan kelompok sesuai LKS yang dibagikan peneliti, presentasi, dan mengerjakan soal latihan.