BAB II LANDASAN TEORI
D. Model Pembelajaran Kooperatif
1. Pengertian Model Pembelajaran Kooperatif
Pembelajaran kooperatif adalah model pembelajaran yang berfokus pada penggunaan kelompok kecil siswa untuk bekerja sama dalam memaksimalkan kondisi belajar untuk mencapai tujuan belajar (Sugiyanto,2010:37).Menurut pendapat Lie A (2010:29) bahwa model pembelajaran kooperatif tidak sama dengan sekedar belajar dalam kelompok. Ada unsur-unsur dasar pembelajaran cooperative learning yang membedakannya dengan pembagian kelompok yang dilakukan asal-asalan. Pelaksanaan prosedur model cooperative learning dengan benar akan memungkinkan pendidikan mengelola kelas dengan lebih efektif.
Cooperative Learning menurut Slavin (2005:4-8) merujuk pada
berbagai macam model pembelajaran dimana para siswa bekerja sama dalam kelompok-kelompok kecil yang terdiri dari berbagai tingkat prestasi, jenis kelamin, dan latar belakang etnik yang berbeda untuk saling membantu satu sama lain dalam mempelajari mata pelajaran. Dalam kelas kooperatif, para siswa diharapkan dapat saling membantu, saling mendiskusikan, dan beragumentasi untuk mengasah
pengetahuan yang mereka kuasai saat itu dan menutup kesenjangan dalam pemahaman masing-masing. Cooperative learning lebih dari sekedar belajar kelompok karena dalam model pembelajaran ini harus ada struktur dorongan dan tugas yang bersifat kooperatif sehingga memungkinkan terjadi interaksi secara terbuka dan hubungan-hubungan yang bersifat interdependensi efektif antara anggota kelompok.
Dari beberapa pendapat ahli diatas dapat disimpulkan bahwa pembelajaran kooperatif adalah model pembelajaran yang menempatkan siswa dalam kelompok kecil beranggotakan 2-5 orang dengan anggotanya yang bersifat heterogen untuk saling membantu dan bekerja sama mempelajari materi pelajaran agar hasil belajar semua anggota dapat maksimal.
2. Tipe-tipe Model Pembelajaran Kooperatif
Ada beberapa tipe pembelajaran dalam model pembelajaran kooperatif yang dapat digunakan yaitu:
1) Students Teams – Achievemnt Division (STAD)
Tipe STAD yang dikembangkan oleh Slavin ini merupakan salah satu tipe kooperatif yang menekankan adanya aktivitas dan interaksi di antara siswa untuk saling memotivasi dan saling membantu dalam menguasai materi pelajaran guna mencapai prestasi yang maksimal. Menurut Slavin, tipe STAD merupakan salah satu metode pembelajaran kooperatif yang paling sederhana
dan merupakan modelyang paling baik untuk permulaan bagi para guru yang baru menggunakan pendekatan kooperatif.
2) Jigsaw
Metode ini dikembangkan dan diuji oleh Elliot Aronson dan rekan sejawatnya ( Aronson dan Patnoe dalam Arends, 2008:13). Pada tipe Jigsaw, siswa ditempatkan dalam tim belajar yang heterogen. Berbagai materi disajikan kepada siswa dalam bentuk teks dan setiap siswa bertanggung jawab mempelajari satu porsi materinya. Para anggota kelompok yang berbeda, tetapi membahas materi yang sama berkumpul untuk saling membantu mempelajari topik tersebut. Selain itu, siswa kembali ke kelompok asal dan mengajarkan sesuatu yang telah dipelajari dalam kelompok ahli kepada anggota kelompoknya.
3) Numbered Heads Together (NHT)
Menurut Arends (2008:16), NHT adalah suatu pendekatan yang melibatkan banyak siswa dalam menelaah materi pelajaran. Pendekatn ini bertujuan untuk mengecek pemahaman siswa terhadap materi pelajaran. Pendekatan NHT terdiri atas empat langkah yaitu penomoran, mengajukan pertanyaan, berpikir bersama, dan menjawab.
4) Teams Games Tournaments (TGT)
Secara umum TGT sama dengan STAD kecuali satu hal: TGT menggunakan turnamen akademik, dan menggunakan kuis-kuis
dan sistem skor kemajuan individu, dimana para siswa berlomba sebagai wakil tim mereka dengan anggota tim lain yang kinerja akademik sebelumnya setara seperti mereka.
5) Group Investigation (GI)
Dalam Sugiyanto (2010:46), metode GI sering dipandang sebagai metode yang paling kompleks dan paling sulit untuk dilaksanakan dalam pembelajaran kooperatif. Metode GI melibatkan siswa sejak perencanaan baik dalam menentukan topik maupun cara untuk mempelajarinya melalui investigasi. Para siswa memilih topik yang ingin dipelajari mengikuti investigasi mendalam terhadap berbagai sub topik yang telah dipilih, kemudian menyiapkan dan menyajikan laporan didepan kelas secara keseluruhan.
3. Ciri-ciri Model Pembelajaran Kooperatif
Pembelajaran Kooperatif adalah suatu sistem yang didalamnya terdapat elemen-elemen yang saling terkait. Menurut Lie A (2004), elemen-elemen tersebut antara lain:
1) Saling ketergantungan positif
Dalam pembelajaran kooperatif, guru menciptakan suasana yang mendorong agar siswa merasa saling membutuhkan. Hubungan yang saling membutuhkan inilah yang dimaksud dengan saling ketergantungan positif.
2) Interaksi tatap muka
Interaksi tatap muka akan memaksa siswa saling tatap muka dalam kelompok sehingga mereka dapat berdialog. Dialog tidak hanya dilakukan dengan guru. Interaksi semacam ini sangat penting karena siswa merasa lebih mudah belajar dari sesamanya. Ini juga mencerminkan konsep pengajaran teman sebaya.
3) Akuntabilitas Individual
Pembelajaran kooperatif menampilkan wujudnya dalam belajar kelompok. Penilaian ditujukan untuk mengetahui penguasaan siswa terhadap materi pelajaran secara individual. Hasil penilaian secara individual selanjutnya disampaikan oleh guru kepada kelompok agar semua anggota kelompok mengetahui siapa anggota kelompok yang memerlukan bantuan dan siapa yang dapat memberikan bantuan.
4) Ketrampilan menjalin hubungan antar pribadi
Ketrampilan sosial seperti tenggang rasa,sikap sopan terhadap teman, mengkritik ide dan bukan mengkritik teman, berani mempertahankan pikiran logis, tidak mendominan orang lain, mandiri dan berbagai sifat lain yang bermanfaat dalam menjalin hubungan antar pribadi (interpersonal relationship) tidak hanya diasumsikan tetapi secara sengaja diajarkan.
4. Prosedur Model Pembelajaran Kooperatif
Menurut Suyadi (2013:68) dalam penerapan strategi pembelajaran kooperatif terdapat empat tahapan yang harus dilaksanakan. Berikut adalah penjelasan keempat tahapan penerapan model pembelajaran kooperatif:
1) Penjelasan materi
Pada awal pembelajaran, guru menjelaskan pokok materi pelajaran kepada siswa sebelum belajar kelompok. Guru dapat menggunakan metode ceramah atau tanya jawab. Tujuan penjelasan ini adalah pahamnya siswa akan tugas-tugasnya dalam belajar kelompok.
2) Belajar dalam kelompok
Setelah pokok materi dijelaskan, maka siswadiminta untuk belajar dalam kelompok yang telah dibentuk sebelumnya. Pembentukan kelompok oleh guru ini bersifat heterogen .
3) Penilaian
Penilaian dalam pembelajaran kooperatif dapat dilakukan melaui tes maupun kuis, baik individu maupun kelompok. Tes individu untuk mengetahui kemampuan setiap siswa, dan tes kelompok untuk mengetahui kemampuan suatu kelompok. 4) Pengakuan tim
Pengakuan tim adalah penetapan tim yang dianggap paling unggul. Pengakuan tim diharapkan dapat memotivasi kelompok
yang lain untuk bekerjasama lebih kompak dan belajar lebih keras. Demikian pula tim yang telah dinyatakan unggul hendaknya dapat mempertahankan dan terus meningkatkan prestasinya.
Masih dalam Suyadi (2013:70), dalam implementasinya, efektifitas keempat prosedur pembelajaran koopeartif tersebut dapat dikembangkan menjadi enam tahapan. Keenam tahapan pembelajaran tersebut dapat disajikan dalam tabel berikut:
Tabel 2.1 Tahap Pelaksanaan Cooperative Learning Tahapan Cooperative learning Tindakan Guru Tahap 1 Menyampaikan tujuan dan
motivasi siswa
Guru menyampaikan tujuan pelajaran yang ingin dicapai dan memotivasi siswa
Tahap 2 Menyajikan informasi Guru menyajikan informasi kepada siswa dengan cara demonstrasi atau lewat bahan baacaan
Tahap 3 Mengorganisasikan peserta didik ke dalam kelompok-kelompok belajar
Guru menjelaskan kepada siswa bagaimana caranya membentuk kelompok belajar dan membantu setiap kelompok agar melakukan transisi secara efisien
Tahap 4 Membimbing kelompok bekerja dan belajar
Guru membimbing kelompok-kelompok belajar pada saat mereka mengerjakan tugas Tahap 5 Evaluasi Guru mengevaluasi hasil belajar
tentang materi yang telah dipelajari atau masing-masing kelompok mempresentasikan hasil kerjanya
Tahap 6 Memberikan penghargaan Guru mencari cara-cara untuk menghargai baik upaya individu maupun hasil belajar individu atau kelompok
E. Model Pembelajaran Kooperatif tipe Numbered Heads Together (NHT)