BAB II LANDASAN TEORI
3. Model Pembelajaran Kooperatif
dan merupakan model yang paling baik untuk permulaan bagi para guru yang baru menggunakan pendekatan kooperatif. Menurut Trianto (2009:68) pembelajaran kooperatif tipe STAD merupakan salah satu tipe dari model pembelajaran kooperatif dengan menggunakan kelompok-kelompok kecil dengan jumlah anggota tiap kelompok 4-5 orang siswa secara heterogen.Model pembelajaran kooperatif tipe STAD merupakan pendekatan pembelajaran kooperatif yang menekankan pada aktivitas dan interaksi antar siswa untuk saling memotivasi dan saling membantu dalam menguasai materi
pembelajaran guna mencapai prestasi yang maksimal. Penggunaan model pembelajaran kooperatif tipe STAD dapat membantu anak dalam memecahkan masalah yang sedang dihadapi melalui diskusi kelompok sehingga siswa lebih memahami materi pembelajaran dan prestasi belajar siswa akan meningkat. Minat belajar siswa terhadap kegiatan pembelajaran juga akan meningkat karena siswa mendapatkan motivasi dari teman satu kelompok sehingga siswa akan lebih bersemangat dalam mengikuti kegiatan pembelajaran. Oleh karena itu penggunaan model pembelajaran kooperatif tipe STAD diharapkan mempunyai dampak yang baik terutama dalam peningkatan minat dan prestasi belajar siswa.
Berdasarkan uraian tersebut peneliti tertarik untuk melaksanakan penelitian yang berjudul “PENINGKATAN MINAT DAN PRESTASI BELAJAR MATA PELAJARAN MATEMATIKA MENGGUNAKAN MODEL PEMBELAJARAN KOOPERATIF TIPE STAD PADA SISWA KELAS III SD NEGERI KARANGMLOKO 2 TAHUN PELAJARAN 2014/2015”. Dengan menggunakan salah satu model pembelajaran yang telah dikenal oleh peneliti, dengan harapan siswa nantinya menjadi lebih berminat dalam belajarnya karena model pembelajaran kooperatif ini mungkin saja merupakan hal yang baru bagi mereka. Penelitian Tindakan Kelas (PTK) yang akan dilaksanakan nantinya diharapkan dapat meningkatkan minat dan prestasi belajar siswa.
B. Pembatasan Masalah
Berdasarkan latar belakang di atas,maka pembatasan masalah dalam penelitian ini adalah sebagai berikut:
1. Penelitian dilakukan pada murid kelas III SD Negeri Karangmloko 2 tahun pelajaran 2014/2015.
2. Penelitian ini dibatasi pada mata pelajaran matematika KD 5.1 keliling persegi dan persegi panjang.
3. Model yang digunakan dalam pembelajaran adalah model pembelajaran kooperatif tipe STAD.
4. Minat belajar siswa dalam penelitian ini dibatasi pada indikator perhatian, partisipasi, kemauan berkembang, dan rasa senang.
C. Perumusan Masalah
Perumusan masalah yang hendak dijawab dalam penelitian ini adalah: 1. Bagaimana upaya meningkatkan minat dan prestasi belajar mata
pelajaran matematika pada siswa kelas III SD Negeri Karangmloko 2 tahun pelajaran 2014/2015 menggunakan model pembelajaran kooperatif tipe STAD?
2. Apakah penerapan model pembelajaran kooperatif tipe STAD dapat meningkatkan minatbelajar mata pelajaran matematika pada siswa kelas III SD Negeri Karangmloko 2 tahun pelajaran 2014/2015?
3. Apakah penerapan model pembelajaran kooperatif tipe STAD dapat meningkatkan prestasi belajar mata pelajaran matematika pada siswa kelas III SD Negeri Karangmloko 2 tahun pelajaran 2014/2015?
D. Batasan Pengertian
Dalam penelitian ini ada beberapa batasan yang dibuat oleh peneliti agar tidak menimbulkan persepsi yang berbeda-beda. Beberapa istilah tersebut adalah:
1. Minat belajar adalah dorongan dalam diri seseorang yang mendasari untuk memilih atau menolak suatu objek dan kegiatan. Indikator minat belajar yang digunakan dalam penelitian ini adalah perhatian, partisipasi, kemauan berkembang, dan rasa senang.
2. Prestasi belajar merupakan hasil yang diperoleh seseorang setelah menempuh kegiatan pembelajaran.
3. Model pembelajaran kooperatif tipe STAD merupakan salah satu model pembelajaran kooperatif yang memiliki ciri yang khas daripada model pembelajaran yang lain. Ciri khasnya adalah metode pembelajaran ini lebih sederhana dan model yang paling baik untuk permulaan bagi para guru yang baru menggunakan pendekatan kooperatif. Langkah yang digunakan dalam STAD yaitu penyampaian tujuan dan motivasi, pembagian kelompok, presentasi dari guru, kegiatan belajar dalam tim, kuis (evaluasi) serta penghargaan prestasi tim.
4. Mata pelajaran matematika suatu disiplin ilmu yang berhubungan dengan bilangan serta konsep-konsep abstrak yang dapat digunakan untuk meningkatkan kemampuan berpikir sehingga dapat digunakan untuk menyelesaikan masalah dalam kehidupan sehari-hari.
E. Tujuan Penelitian
Berdasarkan perumusan masalah tersebut, maka tujuan penelitian ini adalah untuk:
1. Mengetahui upaya meningkatan minat dan prestasi belajar siswa kelas III SD Negeri Karangmloko 2 tahun pelajaran 2014/2015 dalam pembelajaran matematika menggunakan model pembelajaran kooperatif tipe STAD.
2. Meningkatkan minat belajar serta mengetahui peningkatan minat belajar mata pelajaran matematika pada siswa kelas III SD Negeri Karangmloko 2 tahun pelajaran 2014/2015 menggunakan model pembelajaran kooperatif tipe STAD.
3. Meningkatkan prestasi belajar serta mengetahui peningkatan prestasi belajar mata pelajaran matematika pada siswa kelas III SD Negeri Karangmloko 2 tahun pelajaran 2014/2015 menggunakan model pembelajaran kooperatif tipe STAD.
F. Manfaat Penelitian
Penelitian ini diharapkan memberikan manfaat sebagai berikut: 1. Bagi sekolah
Penelitian ini dapat digunakan sebagai pertimbangan dalam menciptakan pembelajaran yang aktif, inovatif dan kreatif untuk meningkatkan minat dan prestasi belajar pada materi keliling persegi dan persegi panjang.
2. Bagi guru
Penelitian ini diharapkan dapat memberikan wawasan baru kepada guru dalam mengajarkan materi tentang keliling persegi dan persegi panjang menggunakan model pembelajaran kooperatif tipe STAD.
3. Bagi siswa
Penelitian ini diharapkan dapat mempermudah siswa dalam memahami materi matematika khususnya mengenai keliling persegi dan persegi panjang, serta membantu siswa dalam meningkatkan minat dan prestasi belajar pada mata pelajaran matematika.
4. Bagi peneliti
Menambah wawasan mengenai model pembelajaran kooperatif tipe STAD dan melatih keterampilan peneliti dalam menerapkan model pembelajaran tersebut.
10
BAB II
LANDASAN TEORI
Bab II berisi tentang teori-teori yang mendasari pelaksanaan penelitian ini, yaitu kajian pustaka, hasil penelitian yang relevan, kerangka berpikir, dan hipotesis tindakan.
A. Kajian Pustaka 1. Minat Belajar
a. Pengertian Minat Belajar
Minat adalah kecenderungan seseorang untuk memilih atau menolak sesuatu kegiatan (Arikunto,1990:103). Sedangkan menurut Munthe (2010:29) minat adalah keadaan yang mendasari motivasi individu, keinginan yang berkelanjutan, dan orientasi psikologis. Sejalan dengan Munthe, Susanto (2013:58) mengungkapkan bahwa minat merupakan dorongan dalam diri seseorang atau faktor yang menimbulkan ketertarikan atau perhatian secara efektif yang menyebabkan dipilihnya suatu objek atau kegiatan yang menguntungkan, menyenangkan, dan lama-kelamaan akan mendatangkan kepuasan dalam dirinya.
Berdasarkan pengertian minat menurut para ahli di atas, dapat disimpulkan bahwa minat merupakan dorongan dalam diri seseorang
yang mendasari untuk memilih atau menolak suatu objek dan kegiatan.
b. Indikator Minat Belajar
Pada dasarnya minat seseorang terhadap sesuatu akan diekspresikan melalui kegiatan atau aktivitas yang berhubungan dengan minatnya. Slameto (2010:180) suatu minat diekspresikan melalui kecenderungan yang tetap untuk memperhatikan terus-menerus disertai rasa senang, dapat pula dimanifestasikan melalui partisipasi dalam suatu aktifitas. Sejalan dengan Slameto, Susanto (2013:66) menyatakan bahwa minat merupakan sesuatu yang sangat penting, karena dengan adanya minat seseorang dapat memusatkan perhatian pada seseorang, benda dan lain-lain. Sedangkan menurut Rohani (2004:170) minat ditunjukkan melalui kemauan dan usaha peserta didik dalam mencapai kebutuhan belajarnya.
Berdasarkan dari beberapa pendapat tokoh di atas, dapat disimpulkan bahwa indikator minat terdiri dari: (1) perhatian atau memusatkan perhatian, (2) partisipasi, (3) kemauan untuk berkembang, dan (4) rasa senang. Penelitian yang dilakukan juga menggunakan keempat indikator tersebut sebagai acuan untuk mengetahui minat siswa. Berikut merupakan bagan indikator minat belajar yang digunakan dalam penelitian ini.
Gambar 2.1 Bagan Indikator Minat Belajar
2. Prestasi Belajar
a. Pengertian Prestasi Belajar
Djamarah (2010:12) mengatakan bahwa prestasi belajar adalah hasil yang diperoleh sebagai pengaruh dari proses belajar. Pengertian lain, disampaikan oleh Mulyasa (2013:189) bahwa prestasi belajar adalah hasil yang diperoleh seseorang setelah menempuh kegiatan belajar, sedangkan belajar pada hakekatnya Slameto (2010:180) 1. Memperhatikan secara terus menerus 2. Partisipasi 3. Rasa senang Rohani (2004:170) Kemauan dan usaha peserta didik dalam mencapai kebutuhan belajarnya.
Indikator Minat Belajar 1. Perhatian/ memusatkan perhatian. 2. Partisipasi. 3. Kemauan berkembang. 4. Rasa senang. Susanto (2013:57) Memusatkan perhatian pada seseorang, benda dan lain-lain.
merupakan usaha sadar yang dilakukan seseorang untuk memenuhi kebutuhannya. Tidak jauh berbeda dengan Djamarah dan Mulyasa, Lanawati (Hawadi, 2006:168) menyatakan bahwa prestasi belajar adalah hasil penilaian pendidik terhadap proses belajar dan hasil belajar siswa sesuai dengan tujuan intruksional yang menyangkut isi pelajaran dan perilaku yang diharapkan dari siswa.
Dari pengertian di atas dapat diambil kesimpulan bahwa prestasi belajar adalah hasil yang diperoleh seseorang setelah menempuh kegiatan pembelajaran.
b. Faktor-faktor yang Mempengaruhi Prestasi Belajar
Prestasi belajar dipengaruhi oleh beberapa faktor. Menurut Slameto (2003:54) pada garis besarnya prestasi belajar dipengaruhi oleh 2 faktor, yaitu faktor intern dan faktor ekstern. Berikut ini merupakan penjelasan dari masing-masing faktor.
1) Faktor intern
Dalam faktor ini dibahas 2 faktor yaitu: a) Faktor jasmaniah mencakup:
(1) Faktor kesehatan (2) Cacat tubuh
b) Faktor psikologis mencakup: (1) Intelegensi
(2) Perhatian (3) Minat
(4) Bakat (5) Motivasi (6) Kematangan (7) Kesiapan 2) Faktor ekstern
Faktor ini dibagi menjadi 3 faktor, yaitu: a) Faktor keluarga mencakup:
(1) Cara orang tua mendidik (2) Relasi antar anggota keluarga (3) Suasana rumah
(4) Keadaan ekonomi keluarga (5) Pengertian orang tua (6) Latar belakang kebudayaan
b) Faktor sekolah meliputi metode mengajar, kurikulum, relasi guru dengan siswa, relasi siswa dengan siswa, disiplin sekolah, alat pelajaran, waktu sekolah, standar pelajaran di atas ukuran, keadaan gedung, metode belajar, dan tugas rumah.
c) Faktor masyarakat meliputi kegiatan dalam masyarakat, mass media, teman bermain, bentuk kehidupan bermasyarakat.
3. Model Pembelajaran Kooperatif
a. Pengertian Model Pembelajaran Kooperatif
Huda (2012:32) mengemukakan bahwa pembelajaran kooperatif mengacu pada metode pembelajaran dimana siswa bekerja sama dalam kelompok kecil dan saling membantu dalam belajar. Seperti yang diungkapkan oleh Nurulhayati (Rusman, 2013:203) pembelajaran kooperatif adalah strategi pembelajaran yang melibatkan partisipasi siswa dalam satu kelompok kecil untuk saling berinteraksi. Sejalan dengan Huda dan Nurulhayati, Siregar & Nara (2011:115) juga mengungkapkan bahwa cooperative learning (pembelajaran kooperatif) merupakan model pembelajaran yang menekankan aktivitas kolaboratif siswa dalam belajar yang berbentuk kelompok, mempelajari materi pelajaran dan memecahkan masalah secara kolektif kooperatif. Sedangkan menurut Slavin (Solihatin dan Raharjo, 2007:4) cooperative learning adalah suatu model pembelajaran dimana siswa belajar dan bekerja dalam kelompok-kelompok kecil secara kolaboratif yang anggotanya terdiri dari 4 sampai 6 orang dengan struktur kelompoknya yang bersifat heterogen.
Berdasarkan pendapat dari beberapa tokoh di atas dapat disimpulkan bahwa pembelajaran kooperatif adalah pembelajaran dimana siswa di bagi dalam beberapa kelompok yang beranggotakan
4 sampai 6 orang untuk saling membantu dan bekerja sama dalam memecahkan masalah.
b. Unsur-unsur Model Pembelajaran Kooperatif
Menurut Rusman (2013:208) unsur-unsur dasar dalam pembelajaran kooperatif adalah sebagai berikut:
1) Siswa dalam kelompoknya haruslah beranggapan bahwa mereka sehidup sepenanggungan bersama.
2) Siswa bertanggung jawab atas segala sesuatu di dalam kelompoknya, seperti milik mereka sendiri.
3) Siswa haruslah melihat bahwa semua anggota di dalam kelompoknya memiliki tujuan yang sama.
4) Siswa haruslah membagi tugas dan tanggung jawab yang sama diantara anggota kelompoknya.
5) Siswa akan dikenakan evaluasi atau diberikan hadiah/ penghargaan yang juga akan dikenakan untuk semua anggota kelompok.
6) Siswa berbagi kepemimpinan dan mereka membutuhkan keterampilan untuk belajar bersama selama proses belajarnya. 7) Siswa diminta mempertanggungjawabkan secara individual
materi yang ditangani dalam kelompok kooperatif. c. Ciri-ciri Model Pembelajaran Kooperatif
Menurut Rusman (2013:208-209) model pembelajaran kooperatif ini memiliki ciri-ciri sebagai berikut:
1) Siswa belajar dalam kelompok secara kooperatif untuk menuntaskan materi belajarnya.
2) Kelompok dibentuk dan siswa yang memiliki kemampuan tinggi, sedang dan rendah.
3) Bilamana mungkin, anggota kelompok berasal dari ras, budaya, suku, jenis kelamin berbeda-beda.
4) Penghargaan lebih berorientasi kelompok ketimbang individu.