KAJIAN PUSTAKA
2.1 Landasan Teori
2.1.12 Model Pembelajaran Kooperatif Tipe Numbered Heads Together (NHT)
“Model pembelajaran adalah suatu perencanaan atau suatu pola yang
digunakan sebagai pedoman dalam merencanakan pembelajaran di kelas atau
pembelajaran dalam tutorial dan untuk menentukan perangkat-perangkat
pembelajaran termasuk di dalamnya buku-buku, film, komputer, dan lain-lain”
mengartikan bahwa “model pembelajaran adalah kerangka konseptual yang
melukiskan prosedur sistematik dalam mengorganisasikan pengalaman belajar
untuk mencapai tujuan belajar tertentu dan berfungsi sebagai pedoman bagi
perancang pembelajaran dan para guru dalam merencanakan dan melaksankan
aktivitas pembelajaran”. Pengertian yang hampir sama dikemukakan oleh Trianto
(2010: 53), bahwa “model pembelajaran diartikan sebagai kerangka konseptual
yang melukiskan prosedur sistematik dalam mengorganisasikan pengalaman
belajar untuk mencapai tujuan belajar tertentu dan berfungsi sebagai pedoman
bagi perancang pembelajaran dan para guru dalam merancang dan melaksanakan
pembelajaran”.
Dari beberapa pendapat di atas, dapat disimpulkan bahwa model
pembelajaran adalah suatu rencana yang disusun sebagai pedoman guru dalam
merancang dan melaksanakan pembelajaran untuk mencapai tujuan belajar
tertentu.
Berkaitan dengan model pembelajaran tersebut di atas, “Numbered Heads
Together atau penomoran berpikir bersama merupakan jenis model pembelajaran
kooperatif yang dirancang untuk mempengaruhi pola interaksi siswa dan sebagai
alternatif terhadap struktur kelas tradisional” (Trianto 2007: 62). Lie (2004: 59)
menjelaskan bahwa teknik belajar Numbered Heads Together dapat memberikan
kesempatan kepada siswa untuk saling berbagi ide-ide dan mempertimbangkan
jawaban yang paling tepat. Coffey (n.d) mengungkapkan pendapatnya tentang
Numbered Heads Together sebagai berikut:
Numbered heads together is a cooperative strategy that offers an alternative to the competitive approach of whole-class question-answer, in which the teacher asks a question and then calls on one of
the students with a raised hand. In the numbered heads together approach, the teacher has students number off (e.g. 1-4), asks a question, and then tells the students to “put their heads together” to develop a complete answer to the question. When the teacher calls out a number, the students with that number raise their hands to respond. This structure facilitates positive interdependence, while promoting individual accountability. It also gives confidence to lower achievers because they know they will have the correct answer to give to the class.
Dari kutipan di atas dapat dijelaskan bahwa yang dimaksud dengan
Numbered Heads Together adalah strategi kooperatif yang menawarkan sebuah
alternatif adanya pendekatan kompetisi tanya jawab dalam kelas. Guru
memberikan pertanyaan dan menunjuk siswa yang mengangkat tangan. Dalam
pendekatan ini, setiap siswa dalam kelompok mempunyai nomor yang berbeda
yaitu 1, 2, 3, atau 4. Saat guru memberi pertanyaan, siswa mendiskusikan
jawabannya bersama dengan kelompoknya. Kemudian guru menyebutkan sebuah
nomor dan siswa yang mempunyai nomor tersebut mengangkat tangan dan
menjawab pertanyaan guru. Hal ini dapat menumbuhkan ketergantungan positif
dan meningkatkan pertanggung jawaban siswa. Selain itu, cara seperti ini dapat
memberi kepercayaan bagi siswa yang kurang pandai karena mereka yakin bahwa
mereka dapat memberi jawaban yang benar untuk teman-teman sekelas mereka.
Berdasarkan uraian di atas dapat disimpulkan bahwa Numbered Heads
Together (NHT) merupakan salah satu bentuk tipe dari model pembelajaran
kooperatif yang ciri khasnya adalah guru membentuk kelompok-kelompok kecil,
memberikan nomor yang berbeda pada setiap anggota kelompok, memberikan
permasalahan atau soal-soal yang harus dipecahkan bersama dan menunjuk siswa
secara acak melalui nomor yang diambil guru.
dicapai dalam model pembelajaran kooperatif tipe Numbered Heads Together
(NHT) yaitu: hasil belajar akademik struktural, pengakuan adanya keragaman,
pengembangan keterampilan sosial.
Pertama, hasil belajar akademik stuktural. Model pembelajaran kooperatif
tipe Numbered Heads Together bertujuan untuk meningkatkan kinerja siswa
dalam tugas-tugas akademik. Dengan adanya peningkatan kinerja tersebut dapat
berpengaruh pada kemampuan belajar akademik yang ditunjukkan dengan
meningkatnya hasil belajar siswa.
Kedua, pengakuan adanya keragaman. Masyarakat Indonesia terdiri dari
bermacam-macam suku, ras dan budaya. Begitu pula dengan siswa, mereka terdiri
dari beraneka ragam latar belakang. Latar belakang tersebut misalnya dari agama,
status sosial, kemampuan akademik. Berkaitan dengan hal itu, model
pembelajaran kooperatif tipe Numbered Heads Together bertujuan agar siswa
dapat menerima teman-temannya yang mempunyai berbagai latar belakang.
Ketiga, pengembangan keterampilan sosial. Berkaitan dengan latar
belakang siswa yang berbeda-beda, Model pembelajaran kooperatif tipe
Numbered HeadsTogether bertujuan untuk mengembangkan keterampilan sosial
siswa. Keterampilan yang dimaksud antara lain berbagi tugas, aktif bertanya,
menghargai pendapat orang lain, mau menjelaskan ide atau pendapat, bekerja
dalam kelompok dan sebagainya.
Pelaksanaan model pembelajaran kooperatif tipe Numbered Heads
Together yang baik akan memberikan manfaat bagi proses pembelajaran. Adapun
beberapa manfaat sebagaimana yang dikemukakan Lundgren dalam Ibrahim
kehadiran; (3) penerimaan terhadap individu menjadi lebih besar; (4) perilaku
mengganggu menjadi lebih kecil; (5) konflik antara pribadi berkurang; (6)
pemahaman yang lebih mendalam; (7) meningkatkan kebaikan budi, kepekaan
dan toleransi; (8) hasil belajar lebih tinggi
Agar dalam pelaksanaan model pembelajaran kooperatif tipe Numbered
Heads Together berjalan sesuai dengan tujuan yang diharapkan maka perlu
memahami langkah-langkahnya. Adapun langkah-langkah model pembelajaran
kooperatif tipe Numbered Heads Together menurut Trianto (2007: 63) terdiri dari
empat fase yaitu penomoran, mengajukan pertanyaan, berpikir bersama,
menjawab.
Langkah pertama yaitu fase penomoran. Guru membagi siswa ke dalam
kelompok kecil. Setiap kelompok terdiri 3-5 orang dan kepada setiap anggota
kelompok diberi nomor antara 1-5.
Langkah kedua yaitu fase mengajukan pertanyaan. Guru mengajukan
sebuah pertanyaan kepada siswa secara bervariasi. Diharapkan pertanyaan yang
diberikan merata pada tiap siswa dalam kelas.
Langkah ketiga yaitu fase berpikir bersama. Setiap anggota dalam
kelompok bekerja sama menyatukan pendapatnya terhadap jawaban pertanyaan
guru dan meyakinkan tiap anggota kelompok mengetahui jawaban tim.
Langkah keempat yaitu fase menjawab. Guru memanggil satu nomor
tertentu, kemudian siswa yang nomornya sesuai mengacungkan jari tangannya