V. HASIL DAN PEMBAHASAN
5.6 Model Pemberian Hak Kepemilikan dan Penataan Peran Para Pihak
Tanah Timbul
Hutan mangrove sekunder yang tumbuh kembali setelah dilakukan upaya penanaman kembali telah menginduksi kemunculan lahan baru yang dikenal dengan istilah “tanah timbul”. Kemunculan kembali hutan mangrove dengan kehadiran tanah timbul yang kemudian ditumbuhi hutan mangrove telah mengubah kepemilikan menjadi kepemilikan negara. Perubahan hak kepemilikan tersebut
terjadi secara gradual dan merupakan alur yang tidak terpisahkan (path
dependence) daripada rejim dan strata kepemilikan sebelumnya.
Rejim kepemilikan privat dengan tingkat kesempurnaan yang tinggi sampai pada tingkatan dapat menjual, kemudian berubah tanpa hak karena hilangnya sumberdaya, lalu direhabilitasi sehingga lahan yang telah hilang muncul kembali dengan meluasnya lahan baru telah mengubah hak kepemilikan berubah menjadi milik negara. Adanya inisiasi masyarakat, trauma akan kejadian abrasi yang telah menghilangkan sumberdaya hutan/lingkungan, ketidakjelasan regulasi mekanisme pengaturan kemunculan tanah timbul telah mendorong terjadinya perubahan hak kepemilikan dan pola pengelolaan hutan mangrove. Inisiasi masyarakat dalam melanjutkan bentuk-bentuk distribusi pengelolaan hutan mangrove merupakan langkah kehati-hatian berkaca pada peristiwa masa lalu.
Berdasarkan regulasi pertanahan siapa pun yang memohon pertama kali pada lahan timbul dan sesuai dengan tujuan dan fungsi lahan tersebut maka akan dapat disistribusikan kepada pihak pemohon. Perubahan kepemilikan kepada pihak Universitas Lampung pada periode 2005-2010 telah mengubah tipe hak kepemilikan seperti yang disampaikan oleh Schlager & Ostrom (1992) yaitu
memiliki tiga tipe kepemilikan: 1) hak memasuki dan memanfaatkan (access &
withdrawal), 2) hak mengelola (management), dan 3) hak mengeluarkan (exclution). Proses pemindahan hak kepemilikan dari negara ini mengikuti kaidah administrasi yang dilakukan oleh Universitas Lampung kepada negara dalam hal ini Kabupaten Lampung Timur dalam memohon areal hutan mangrove.
Hak memasuki dan memanfaatkan yang dilakukan oleh pihak Universitas Lampung meliputi hak dalam memasuki areal hutan mangrove seluas 700 ha, memanfaatkan bagi kepentingan pendidikan dan penelitian. Sedangkan hak memasuki pada komunitas masyarakat adalah hak untuk melakukan pengabdian kepada masyarakat terhadap hasil-hasil penelitian dan penerapan teknologi tepat guna yang dilakukan oleh pihak perguruan tinggi. Hak mengelola meliputi hak untuk menyusun program dan kegiatan bersama dengan masyarakat dan pemerintah daerah Kabupaten Lampung Timur tentang keberadaan dan kelestarian hutan mangrove 700 ha, pemanfaatan hasil hutan non kayu, dan kerjasama dengan pihak lainnya. Sedangkan hak mengeluarkan (eksklusi) adalah hak untuk mengeluarkan yang tidak berhak dalam pengelolaan bersama hutan mangrove. Hak mengeluarkan ini merupakan kerjasama dengan pihak pemerintah daerah kabupaten terutama terhadap pencurian kayu dan hasil non kayu hutan mangrove yang dilakukan oleh pihak masyarakat dan pihak luar.
Dari analisis kelembagaan Ostrom (1999) memperlihatkan bahwa dengan adanya inisiasi masyarakat, aturan yang dipergunakan (Perdes, MoU, Nota Kesepakatan, Surat Keputusan Bupati Lampung Timur), keberagaman aktor telah menimbulkan pola interaksi yang memperhatikan keberadaan hutan mangrove, kelestarian produktivitas wilayah daratan dengan tetap mengikuti program kerja yang tersusun selama 10 tahun (2005-2015).
Nampak dalam model pemberian hak kepemilikan tetap tidak melupakan sejarah masa lalu pengelolaan, karakteristik sumberdaya hutan, peran aktor, pola interaksi aktor dan sumberdaya (meliputi program dan kegiatan), aturan yang diterapkan, kinerja pengelolaan, dan pengambilan kebijakan. Pada setiap periode pengelolaan terlihat dengan bahwa pengelolaan hutan mangrove memberikan dampak yang nyata terhadap perubahan sumberdaya hutan itu sendiri.
Pada sumberdaya hutan mangrove dengan karakteristik milik bersama ternyata sangat rentan apabila dilakukan upaya mengkonversi menjadi peruntukan lainnya dengan cara menghilangkan tegakan untuk dibudidayakan dengan jenis hidupan lainnya. Semula upaya privatisasi lahan tambak dalam peningkatan status kepemilikan lahan tambak dengan upaya mengkonversi hutan mangrove dilakukan. Tetapi, rupanya dalam jangka waktu tertentu sumberdaya hutan mangrove dengan
karakteristik milik bersama tidak dapat menahan terjadinya kegagalan pasar akibat rusaknya sumberdaya itu sendiri pada rejim kepemilikan privat.
Kerusakan sumberdaya hutan mangrove dengan kepemilikan privat memerlukan campur tangan pemerintah dalam memulihkan kembali, menetapkan tujuan, dan mendistribusikan dalam menjamin keberlanjutan kepentingan- kepentingan masyarakat dalam upaya memenuhi kebutuhan untuk mencapai kesejahteraannya. Hal ini sesuai dengan amanat dalam Undang-Undang Dasar Republik Indonesia Pasal 33 ayat 1 bahwa bumi dan air yang terkandung di dalamnya dikuasai oleh negara dan dikuasai untuk hajat hidup orang banyak.
Penetapan tujuan bersama pada sumberdaya hutan mangrove yang bersifat CPRs diperlukan dalam upaya menjaga keberlanjutan keberadaan, fungsi, dan manfaatnya. Mekanisme pengaturan yang berbasis inisiasi masyarakat diperlukan dalam menjamin kebutuhan dasar pengelolaan dan menggali permasalahan-
permasalahan yang ada di lapangan (grass root problem). Keterlibatan para pihak
sesuai fungsi dan peran masing-masing sangat diperlukan dalam menyesuaikan dengan karakteristik sumberdaya dan kesesuaian keterlibatan para pihak dalam “menggiring” keberlanjutan pengelolaan sumberdaya hutan mangrove yang dinamis dan rentan terhadap terjadinya kerusakan.
Menyadari akan kondisi sumberdaya hutan, kondisi masyarakat, dan aturan yang diperlukan dalam menjamin keberlanjutan pengelolaannya. Kedinamisan sumberdaya hutan mangrove memerlukan sebuah pertimbangan yang sangat “matang” untuk diberikan haknya secara privat.
Ketidakberlanjutan pengelolaan hutan mangrove ini telah memberikan kesadaran kepada masyarakat bahwa pengkonversian hutan mangrove menjadi areal tambak udang tradisional dengan kepemilikan privat telah menyebabkan terjadinya abrasi dan dengan adanya kegiatan rehabilitasi hutan mangrove oleh negara telah mengembalikan lahan terabrasi dan kemunculan tanah timbul.
Pada kondisi yang demikian memunculkan potensi konflik kepemilikan dan peluang kegiatan ekonomi baru. Keberlanjutan pengelolaan hutan mangrove juga sangat dipengaruhi oleh rejim, strata, dan tipe kepemilikan yang melekat atasnya. Hal ini dikarenakan akan mempengaruhi interaksi antara pemegang hak dengan
sumberdaya yang dikelolanya. Kepemilikan privat tidak dapat menjamin keberlangsungan pengelolaannya dalam mencapai privatisasi yang efisien.
Pengaturan negara dengan memberikan hak pengelolaan kepada Universitas Lampung berdasarkan inisiasi masyarakat adalah suatu bentuk pengelolaan dengan memadukan kepentingan pendidikan, pembangunan masyarakat dan daerah dalam rangka kesejahteraan dan keberlanjutan sumberdaya itu sendiri.
Universitas Lampung sebagai lembaga pendidikan tinggi di Provinsi Lampung
dapat berfungsi sebagai inisiator, katalisator, liaison, dan koordinator dalam
menempatkan bagaimana seharusnya mengelola sumberdaya hutan mangrove yang bersifat milik bersama. Dengan mekanisme pengaturan memahami karakteristik sumberdaya, program dan kegiatan yang sesuai, berlanjut, pengembangan jejaring kerja, penggalian aspirasi masyarakat dan pemerintah menempatkan Universitas Lampung-Masyarakat-Kabupaten Lampung Timur sebagai pemain kunci (keyplayer) dalam pengelolaan terpadu hutan mangrove.
Universitas Lampung diterima karena telah melakukan penyamaan pemahaman di antara para pihak yang bekerjasama, yaitu pihak pemerintah Kabupaten Lampung Timur dan jajarannya dan masyarakat sekitar hutan mangrove.
Selanjutnya, pihak universitas melalui Lampung Mangrove Center telah menyusun
masterplan pengelolaan hutan mangrove selama 15 tahun (2005-2010) kerjasama dengan Dinas Kehutanan Provinsi Lampung pada tahun 2006. Masterplan ini dijadikan panduan dalam mencapai tujuan bersama. Program dan kegiatan yang disusun bersama telah berjalan selama 8 tahun dari tahun 2006-2013. Universitas
Lampung mendapatkan kepercayaan (trust) dan penerimaan (acceptability) dari
masyarakat dan pemerintah Kabupaten Lampung Timur. Seperti yang disampaikan oleh Hero (2012) bahwa pengelolaan Hutan Pendidikan Gunung Walat untuk kepentingan pendidikan dapat bertahan dari tahun 1969 sampai saat ini (2013)
karena Fakultas Kehutanan IPB berhasil membangun kemampuan (credibility)
pelaku (ilmu pengetahuan, jaringan kerjasama, kepentingan, dan kekuasaan)
sehingga pihak luar (eksternal) dapat menerima (acceptability) dan percaya (trust)
terhadap pengelolaan Hutan Pendidikan Gunung Walat (HPGW) IPB.
Pembelajaran yang dapat dipetik dari kasus ini adalah kesadaran masyarakat akan sangat kuat apabila telah terjadi suatu kerusakan akibat kegagalan dalam
mengelola hutan mangrove. Peran para pihak yang dapat menjembatani proses pengelolaan diperlukan dalam menyusun program dan kegiatan bersama sesuai dengan karakteristik sumberdaya hutan itu sendiri. Keberlangsungan pengelolaan hutan mangrove adalah kesadaran berbagai pihak tentang pemanfaatan dan upaya pelestarian untuk melindungi sumberdaya sehingga terjaga kepentingan jangka panjangnya.
Secara lebih jelas mekanisme model pemberian hak pengelolaan hutan mangrove dengan kemunculan tanah timbul dari Kabupaten Lampung Timur kepada Universitas Lampung dapat dilihat pada Gambar 22. Kemunculan tanah timbul berhutan mangrove di Kabupaten Lampung Timur akibat terkena abrasi menimbulkan status kepemilikan kepada negara dalam hal ini adalah pemerintah Kabupaten Lampung Timur. Berdasarkan regulasi pertanahan bahwa pada lahan yang telah bersertifikat kemudian hilang akibat bencana alam maka hilang secara otomatis hak kepemilikannya. Apabila di kemudian hari tanah tersebut muncul kembali akibat telah dilakukan kegiatan rehabilitasi atau pun reklamasi, maka tanah tersebut adalah milik negara. Barangsiapa mengajukan kepada negara untuk dilakukan pengelolaan dan pemanfaatannya sesuai fungsinya maka pemohon mengajukan secara administrasi kepada negara dalam hal ini Kabupaten Lampung Timur. Atas inisiasi masyarakat yang diwakilkan oleh kelompok mangrove dan Kepala Desa memberikan dukungan kepada Universitas Lampung untuk dijadikan hutan pendidikan.
Atas dasar kekuatan inisiasi masyarakat tersebut, Universitas Lampung melakukan beberapa pendekatan: 1) melakukan survey lokasi bersama masyarakat dan para pihak terkait (pemerintah daerah Kabupaten Lampung Timur dan Lembaga Sumberdaya Masyarakat; 2) melakukan audiensi dengan pihak terkait di pemerintah Kabupaten Lampung Timur dengan konsep tripartit; 3) melakukan penyamaan persepsi pengelolaan hutan mangrove terpadu di antara para pihak [Pemda Kabupaten Lampung Timur dan jajarannya, Pemerintah Daerah Provinsi, Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) Provinsi dan Kabupaten, Balai Pengelolaan Daerah Aliran Sungai (BPDAS) Way Seputih Way Sekampung Provinsi Lampung, akademisi, dan Lembaga Swadaya Masyarakat]; 4) mendapatkan aspek legal pengelolaan (MoU dan Ijin Kelola Bupati Lampung
Timur); 5) menyusun masterplan pengelolaan selama jangka waktu 15 tahun (2005- 2015) meliputi aspek ekologi, pemberdayaan dan peningkatan perekonomian
masyarakat, research center, dan kesekretariatan; dan pelaksanaan program dan
kegiatan pengelolaan hutan mangrove (2005-sekarang).
Keberlanjutan pengelolaan hutan mangrove secara terpadu dengan kemunculan tanah timbul di Kabupaten Lampung Timur tergantung pada komitmen di antara para pihak yang bekerjasama yaitu antara masyarakat-Universitas Lampung- Kabupaten Lampung Timur dalam sebuah kerjasama Tripartit. Universitas Lampung sebagai lembaga pendidikan tinggi di Provinsi Lampung dengan
Tridharma Perguruan Tinggi (pendidikan, penelitian, dan pengabdian
masyarakat) dan konsep kerjasama tripartit merupakan lembaga pengelola yang
dipercaya (trusted) dan diterima (acceptable) yang mampu mengatasi kedinamisan
pengelolaan hutan mangrove dengan karakteristik bersama tersebut dengan peran para pihak. Nurse dan Kabamba (1999) menyatakan bahwa kerusakan hutan mangrove di beberapa negara berkembang salah satunya disebabkan karena ketidakmampuan pemerintah dalam melindungi dan mengelolanya. Untuk itu diperlukan partisipasi aktif masyarakat lokal dan lembaga lain dalam pengembangan jejaring pengelolaan hutan mangrove, dan (Armitage 2002) meningkatkan kerjasama di antara para pihak di wilayah pesisir
Kekuatan dukungan masyarakat kepada Universitas Lampung dalam pengelolaan hutan mangrove perlu tetap dipertahankan dan dijadikan prioritas dalam melaksanakan program pengelolaan. Brinkerhoff dan Goldsmith (1992) menyatakan bahwa faktor-faktor kelembagaan memegang peranan penting dalam keberlanjutan pengelolaan. Kekuatan dan kualitas institusi yang mampu membawa secara bersama-sama tujuan pengelolaan yang diinginkan masyarakat akan mampu membawa kepada keberlanjutan pengelolaan sumberdaya hutan. Armitage (2002) menyatakan bahwa keberlanjutan pengelolaan hutan mangrove salah satunya ditentukan oleh strategi pengelolaan berbasis masyarakat yaitu: 1) meningkatkan secara luas partisipasi para pihak dalam penentuan kebijakan pengelolaan; 2) menyediakan kerangka kerja yang memperhatikan pengetahuan lokal masyarakat, strategi pengelolaan, dan mengacu hukum adat yang berlaku; dan 3) meningkatkan kerjasama di antara para pihak di wilayah pesisir.
Pendapat ahli kelembagaan Ostrom (1999) dan Anderies et al. (2004) bahwa keberlanjutan pengelolaan sumberdaya alam dipengaruhi oleh karakteristik sumberdaya; bentuk pengelolaan; dan interaksi di antara para pihak dengan sumberdaya. Bentuk interaksi pengelolaan di antara para pihak merupakan suatu kelembagaan. Menurut Ascher (2000) bahwa perilaku organisasi pengelolaan sumberdaya alam dan lingkungan menentukan keberlanjutannya. Adanya 6 persyaratan dalam organisasi yang harus dipenuhi kesesuaiannya dalam pengelolaan sumberdaya secara lestari yaitu: 1) adanya doktrin pengelolaan; 2) jangka waktu pengelolaan yang pendek; 3) kurangnya pengawasan pemerintah; 4) pengurangan keanekaragaman; 5) kurang tanggap terhadap kesalahan kebijakan; dan 6) lemahnya penegakan peraturan pemanfaatan dan lingkungan. Lebih jauh Ostrom (1999) telah menetapkan prinsip kelestarian pengelolaan milik bersama yang digunakan untuk menganalisis pengelolaan hutan mangrove oleh Universitas Lampung telah memenuhi asas kelestarian. Keberlanjutan pengelolaan tripartit Universitas Lampung dengan mempertahankan keberadaan hutan mangrove, seperti penelitian yang dilakukan oleh Ariyanto (2007) menyatakan bahwa dengan mempertahankan keberdaan hutan mangrove akan memperoleh manfaat ekonomi yang lebih tinggi jika dibandingkan dengan mengkonversi menjadi lahan tambak tradisional maupun semi intensif.
Masyarakat (Pelaksana/peneri-
ma manfaat)
Tanah Timbul ber- mangrove hasil rehabilitasi seluas 700 Ha
Tanah Negara berdasar:
Keppres 32 Th 1990, UU 26 Th 2006, Surat MenAgraria No. 410-1293 Tahun 1996, SK 256/Kpts-II/2000 ttg
Penunjukan Kawasan Hutan dan Perairan Lampung, P.16 Tahun 2004 ttg
Penatagunaan Tanah pasal 11 dan 12, P.30/MENHUT-II/2012 Pasal 3 tentang Penataan Hasil Hutan yang Berasal dari Hutan Hak, Permenhut No.44/MENHUT- II/2012 Pasal 4 ayat 2 ttg Pengukuhan Kaw. Hutan.
Kepala Desa a.n masyarakat menginisiasi
menyerahkan ke Universitas Lampung
1. Lembaga yg dipercaya dan diterima; serta bertujuan untuk pendidikan dan penelitian;
2. Tidak membatasi akses masyarakat Universitas Lampung (Liaison) Kerjasama Tripartit Pemda Lampung Timur (mengatur) 1.Aspek Legal:
a. Surat dukungan masy No.170.07.02.2008/143/2005 tgl 21 Maret 2005, Perdes No. 2 Tahun 2006 tentang Perlindungan dan Pelestarian Hutan Mangrove; MoU Pemdakab Lampung Timur dan Universitas Lampung; Naskah Kerjasama No.660305/04/SK/2005 dan 1546/J.26/KL/2005; SK Bupati Lamtim No. B.136/04/SK/2005 Pembentukan Tim Koordinasi & Tim Sekretariat Program Pengelolaan Terpadu Wilayah Pesisir Pantai Timur Program Pengelolaa Lampung Timur.
b.SK Bupati No:303/22/SK/2005 ttg Ijin Kelola Unila dari Kabupaten Lamtim.
Tipe hak: access & withdrawal; management; dan exclusion.
2.Masterplan pengelolaan (2005-2015): a.Research Center
b.Pemberdayaan dan peningkatan perekonomian masyarakat c.Perbaikan kondisi hutan mangrove.
5.5 Evolusi Hak Kepemilikan Hutan Mangrove dengan Kemunculan Tanah Timbul
Ekosistem hutan mangrove di lokasi penelitian adalah salah satu bentuk ekosistem yang mempunyai karakteristik berbeda dengan hutan mangrove
lainnya. Kondisi hutan tersebut pada awalnya adalah berupa jalur hijau (green
belt) (1977-1990), kemudian hutan hilang terabrasi (1991-1997), hutan tumbuh
kembali dengan tambahan tanah timbul ke arah laut setelah dilakukan rehabilitasi (1998-2004), dan hutan tetap dibiarkan tumbuh alami (2005-2010).
Perubahan pengelolaan hutan mangrove di lokasi penelitian telah berjalan selama 23 tahun dengan berbagai latar belakang yang mempengaruhinya.
Perubahan tersebut terjadi seiring dengan interaksi ekonomi yang
mempertemukan antar kepentingan dengan sumberdaya yang ada. Kedinamisan perubahan kelembagaan pengelolaan tersebut sangat ditentukan oleh berubahnya nilai-nilai dan kultur masyarakat sesuai dengan perubahan masa dan perubahan kondisi sumberdaya hutan mangrove. Perubahan tersebut mendorong terjadinya perubahan di dalam prinsip regulasi, organisasi, perilaku, dan pola-pola interaksi di dalam sistem sosial yang kompleks.
Perubahan kelembagaan merupakan perubahan yang terjadi secara terus- menerus untuk memperbaiki kualitas interaksi (ekonomi) antar pelaku (Kasper & Streit 1998) dan Yustika (2006). Demikian juga perubahan kelembagaan pengelolaan hutan mangrove dengan kemunculan tanah timbul selain untuk memperbaiki kualitas interaksi (ekonomi) antar pelaku juga untuk perbaikan kualitas lingkungan. Perubahan kelembagaan dapat terjadi secara bertahap (gradual) dan kadang-kadang secara cepat karena individu mengembangkan pola- pola perilaku alternatif (tindakan ekonomi dan sosial) sebagai respons atas proses evaluasi terhadap biaya dan keuntungan baru yang dirasakan (North 1993).
Proses perubahan kelembagaan pengelolaan hutan mangrove dalam hak kepemilikan terjadi secara terus-menerus (permanen) dan membentuk alur yang
merupakan bagian yang tidak terpisahkan (path dependence) merupakan bagian
penting dari perubahan kelembagaan. Sebagai akibat dari perubahan kelembagaan pengelolaan melalui mekanisme transformasi permanen, maka perubahan kelembagaan pengelolaan hutan mangrove dapat menjadi faktor
pengaruh utama terhadap perubahan struktur dan sistem sosial masyarakat di sekitar hutan mangrove. Perubahan kelembagaan pengelolaan hutan mangrove mempunyai kekuatan aktif (besar) yang mempengaruhi aspek-aspek kehidupan sosial, hukum, ekonomi, politik, dan lain-lain. Apabila norma yang mengatur interaksi sosial masyarakat sekitar hutan mangrove berubah maka seluruh pola hubungan sosial dan jaringan sosial yang sudah dikembangkan oleh anggota masyarakat dapat pula berubah.
Basis utama dari perubahan hak kepemilikan adalah kesadaran bahwa aspek-aspek sosial terus berkembang sebagai respon dari perubahan bidang- bidang ekonomi, budaya, politik, hukum, lingkungan, dan sebagainya. Kasper dan Streit (1998) menyatakan bahwa keberadaan hak kepemilikan terus mengalami perubahan dikarenakan beberapa hal yang mempengaruhinya yaitu perubahan waktu dan teknologi. Bromley (1992) menegaskan bahwa hak kepemilikan adalah bentuk klaim untuk mendapatkan aliran manfaat dengan pengakuan oleh negara dalam menjamin kepastian aliran manfaat tersebut. Hak akan tiada artinya tanpa adanya sebuah kewajiban yang melekat atasnya, dan adanya permasalahan
pada pengelolaan sumberdaya yang open access dimana tidak adanya sebuah
pelarangan pengguna dalam memanfaatkannya (Bromley 1991). Kepemilikan bukanlah sebuah obyek melainkan lebih kepada hubungan sosial satu sama lainnya dalam pengakuan atau penghargaan terhadap aliran manfaat sesuatu.
Kepemilikan memiliki tiga refleksi yaitu aliran manfaat, pemegang hak, dan adanya sebuah kewajiban terhadapnya. Rejim kepemilikan adalah sebuah refleksi perilaku manusia dalam instrument fundamental secara alami. Rejim kepemilikan mempunyai karakter khusus dengan bukti-bukti persepsi kolektif adanya kelangkaan dan nilai keberadaannya. Keberadaan dan fungsi hak kepemilikan publik sangat persis dengan rejim hak kepemilikan pribadi dan rejim kepemilikan Negara. Beberapa tidak berjalan sebagaimana mestinya, sementara itu yang lain berjalan dengan baik (Bromley 1992).
Gambar 21. Evolusi Hak Kepemilikan Pengelolaan Ekosistem Hutan Mangrove HARGA UDANG DI PASARAN DUNIA 3.AKTIVITAS EKONOMI BARU (1977) MANGROVE MENJADI TAMBAK UDANG PRIVAT (1977-1990) PENGUSAHAAN 13 BIDANG TAMBAK UDANG KEGAGALAN & HUTAN MANGROVE HILANG TERABRASI (1991) ABRASI DAN PENYAKIT UDANG
LAHAN TAMBAK YANG SUDAH MENJADI LAUTAN 2.ABRASI MENAKUTKAN MASYARAKAT REHABILITASI HUTAN MANGROVE 1995 & 1997 OLEH DISHUT PROPINSI LAMPUNG
HUTAN MANGROVE TUMBUH KEMBALI 1998-2004 (NEGARA) STATUS LAHAN NEGARA UUPA 5 TH 1967 KEMUNCULAN MANGROVE KEMBALI BERPOTENSIAL KONFLIK KEPENTINGAN PEMILIK
SEBELUMNYA DAN ORG BARU UNTUK MEMBUKA KEMBALI HUTAN MENJADI TAMBAK UDANG KEPALA DESA DAN KEOMPOK TANI NELAYAN MENYERAH KAN HUTAN MANGROVE KEPADA UNIVERSITAS LAMPUNG DIBENTUK KERJASAMA TRIPARTIT (MASY-UNILA- PEMDA LAMTIM) 2005-SKR
Perubahan pengelolaan dan hak kepemilikan pengelolaan hutan mangrove dengan kemunculan tanah timbul secara lebih jelas dapat dilihat pada Gambar 21. Sedangkan analisis kelembagaan evolusi hak kepemilikan dan penataan peran para pihak dalam pengelolaan hutan mangrove dapat dilihat pada Tabel 15.
Konversi hutan mangrove secara besar-besaran dilakukan oleh masyarakat luar sebanyak 13 orang dengan memperoleh ijin dari Kepala Desa. Pada saat itu tanpa disadari telah terjadi perubahan kondisi sumberdaya hutan menjadi areal pertambakan udang tradisional yang memerlukan areal terbuka sebagai areal budidaya. Penerapan teknologi budidaya udang telah mempengaruhi perilaku masyarakat dalam memanfaatkan hutan mangrove.
Upaya privatisasi sumberdaya telah dilakukan oleh petambak dalam upaya
keamanan lahan tambak (land secure) dan peningkatan produktivitas lahan
tambak. Lahan hutan mangrove yang semula adalah lahan yang terbuka bagi
siapa saja yang memanfaatkan (open access resources) telah mengalami
perubahan status lahan menjadi kepemilikan pribadi (privat property).
Selama kurun waktu tujuh tahun (1980-1987) upaya privatisasi tersebut
telah memberikan keuntungan (profit) yang memberikan kesuksesan pengelolaan
hutan mangrove secara ekonomi, namun tidak secara ekologi/lingkungan. Privatisasi lahan tambak telah meningkatkan status pengelolaan sampai pada
kesempurnaan hak memindahtangankan atau menjual kepada orang lain (tradable
right), selain hak memasuki, mengelola, mengeluarkan yang tidak berhak. Upaya privatisasi lahan tambak sebanyak 13 bidang telah meningkatkan biaya untuk meregistrasinya oleh lembaga yang berwenang dalam rangka mencegah terjadinya konflik kepemilikan dan adanya pengakuan pihak lainnya.
Upaya peningkatan keamanan, realokasi, dan peningkatan investasi lahan menurut Platteau (1996) dan Dachang (2001) merupakan upaya efisiensi, keadilan sosial, dan peningkatan stabilitas poitik, semisal usaha pertambakan udang. Seperti yang disampaikan Platteau (1996) juga mengemukakan bahwa upaya privatisasi lahan akan menimbulkan pilihan untuk peningkatan status lahan dengan pengurusan administrasinya kepada negara. Upaya yang dilakukan petambak untuk melakukan administrasi lahan tambaknya adalah dalam rangka pengakuan status kepemilikan dan kejelasan usaha yang dilakukannya.
Secara ekologi/lingkungan, rupanya upaya privatisasi pengelolaan hutan mangrove dengan teknologi mengkonversinya tidak menjamin keberlanjutan usahanya. Pola interaksi antara aktor/petambak dengan sumberdaya telah mengakibatkan eksploitasi terhadap lahan tambak yang menyebabkan penurunan kesuburan dan daya dukung lingkungan terhadap aktivitas pertambakan udang itu sendiri. Pemakaian bahan pakan udang yang tidak alami lagi dan dalam jumlah besar telah menurunkan kualitas lingkungan perairan pertambakan sekitar hutan mangrove. Kondisi tersebut juga telah menurunkan daya tahan udang budidaya terhadap serangan hama dan penyakit.
Penurunan kuantitas dan kualitas budidaya udang terjadi pada kurun waktu tiga tahun yaitu tahun 1987-1990. Terlebih lagi dengan adanya pembukaan hutan mangrove menurunkan kemampuan alami hutan mangrove menahan abrasi laut. Fungsi utama hutan mangrove sebagai jalur hijau. Sementara itu, abrasi laut terus menerus terjadi. Pada akhirnya, usaha pertambakan udang tradisional dengan cara mengkonversi hutan mangrove menemui kegagalan dengan lenyapnya hutan mangrove oleh kekuatan abrasi laut.
Privatisasi lahan tambak menemui kegagalan pada hutan mangrove dengan
karakteristik sumberdaya milik bersama (Common Pool Resources).
Kesempurnaan hak kepemilikan telah mengalami perubahan menjadi hak negara. Hal ini terjadi karena sumberdaya hutan mangrove yang telah berubah menjadi areal pertambakan telah hilang. Rasionalisasi dan upaya efisiensi pengelolaan hutan mengarah kepada perubahan status sumberdaya itu sendiri (Irimie dan Essman, 2009). Begitu juga menurut Kasper & Streit (1998) biasanya perubahan hak kepemilikan privat akan berubah menjadi kepemilikan bersama apabila ada