• Tidak ada hasil yang ditemukan

MODEL PEMBUATAN TANAMAN SI STEM POT ( POTTI NG PLANTI NG

Dalam dokumen Index of /ProdukHukum/kehutanan (Halaman 117-126)

REHABI LI TASI HUTAN DAN LAHAN POLA MODEL

D. MODEL PEMBUATAN TANAMAN SI STEM POT ( POTTI NG PLANTI NG

SYSTEM)

1.

Penyusunan Rancangan

Rancangan pembuatan tanaman sistem pot disusun 1 (satu) tahun sebelum pelaksanaan (T-1), namun dalam kondisi tertentu dapat dilaksanakan pada tahun berjalan (T-0). Rancangan disusun oleh Tim yang dibentuk oleh Kepala BPDAS. yang mengurusi kehutanan dan dalam Tim penyusun rancangan disarankan melibatkan Penyuluh Kehutanan setempat.

Penyusunan rancangan dilaksanakan berdasarkan hasil orientasi lapangan, pengukuran dan pemetaaan calon lokasi serta wawancara dengan masyarakat setempat dan dalam penyusunannya dilakukan secara partisipatif. Rancangan memuat rancangan teknis dan biaya serta rancangan kelembagaan, yang secara operasional digunakan sebagai dasar untuk melaksanakan kegiatan pembuatan tanaman sistem pot.

Pelaksanaan penyusunan rancangan adalah sebagai berikut: a. Penetapan Calon Lokasi

Dalam menentukan lokasi pembuatan tanaman sistem pot, mempertimbangkan sebagai berikut :

1) Tanah terbuka milik rakyat, tanah desa, tanah negara bebas serta tanah lainnya yang bukan kawasan hutan yang didominasi oleh batuan, solum tanah sangat tipis dan menurut kemampuannya kurang cocok untuk pertanian tanaman pangan, tetapi baik untuk tanaman keras.

2) Tanah calon sasaran tersebut diatas berada di bagian hulu atau tengah DAS dan perlu dihutankan untuk perbaikan dan perlindungan mata air. 3) Areal tanaman sistem pot untuk setiap satu unit rancangan minimal

mencakup lahan dengan luas areal minimal 25 Ha.

4) Sebelum rancangan disusun, terlebih dahulu dilakukan pemantapan calon lokasi tersebut yang dilaksanakan oleh Dinas Kabupaten/ Kota. 5) Lokasi yang telah definitif, dilakukan prakondisi terhadap masyarakat

setempat. b. Penataan Areal.

1) Pengukuran, penataan dan pemancangan patok batas luar, batas blok atau petak yang dituangkan dalam peta rancangan dengan polygon tertutup. Data pengukuran dilengkapi sket lapangan (tanpa skala) dan buku ukur untuk peta rancangan sesuai kegiatan dan operasional pelaksanaan pemetaan.

2) Penataan pola tanaman, tata letak dan jarak tanam dalam kaitannya dengan teknis konservasi yang ada di lapangan.

a) Pola tanam di lahan terbuka dapat berupa : (1) Baris/ jalur dan larikan tanaman lurus.

Pola tanam ini sesuai untuk lahan dengan kelerengan landai/ datar tanah peka erosi. Larikan tanaman dibuat lurus dengan jarak tanam teratur dan jumlah tanaman minimal 400 batang/ Ha.

(2) Pola tanam mengikuti garis contour.

Pola tanam ini sesuai untuk lahan dengan kelerengan agak curam sampai dengan curam. Sistim penanaman cemplongan dengan jumlah tanaman minimal 400 btg per Ha.

b) Pola tanam pada lahan yang telah ada tanamannya (pengayaan) Pada lahan berbatu yang sudah terdapat tanaman kayu- kayuan/ MPTS yang tersebar di seluruh hamparan lahan, maka tanaman baru sebagai tanaman pengkayaan maksimal 200 btg per Ha.

c. Pengumpulan Data dan I nformasi

Pengumpulan data dan informasi untuk rancangan teknis pembuatan tanaman sistem pot meliputi:

1. Aspek biofisik, yaitu kesesuaian dan kesiapan lahan, curah hujan, tipe iklim, ketinggian dan topografi, aksesibilitas dan vegetasi.

2. Aspek Sosial Ekonomi, menyangkut demografi, hak kepemilikan lahan, adat-istiadat, organisasi sosial, keadaan harga, sarana prasarana transportasi, kondisi pendidikan, matapencaharian, pemilikan lahan dan pendapatan masyarakat. Hal lain yang penting adalah budaya kerja masyarakat yang bisa mendukung pembuatan tanaman di lahan berbatu dan mempunyai keinginan (motivasi) untuk mengembangkan tanaman sistem pot.

d. Pengolahan dan Analisa Data

Berdasarkan hasil survei, dilakukan tabulasi, sortasi dan validasi informasi sebagai bahan untuk penyusunan rancangan. Pola tanam dirancang sesuai dengan kaidah teknis RHL dan teknik konservasi tanah.

e. Rencana Anggaran Biaya (RAB)

Sesuai dengan analisa rencana pekerjaan/ komponen kegiatan yang dihasilkan atas hasil survey dan pengolahan data, maka dilakukan analisa kebutuhan bahan dan peralatan per komponen pekerjaan.

Berdasarkan analisa rencana pekerjaan dihitung kebutuhan tenaga kerja, kemudian berdasarkan survey sosial dan ekonomi dilakukan analisa untuk menentukan ketersediaan tenaga kerja dari desa sekitar dan pemenuhan tenaga kerja yang dibutuhkan.

Berdasarkan butir a dan b tersebut diatas, dibuat analisa kebutuhan biaya (bahan, peralatan dan tenaga kerja) dan harga pasar yang wajar, disajikan dalam Rencana Anggaran Biaya per komponen kegiatan.

f. Pembuatan Gambar dan Peta

Hasil pengumpulan data, sket lapangan dan buku ukur, dilakukan pengolahan dan analisa data dan dituangkan dalam gambar dan peta. 1) Peta situasi skala 1 : 100.000 yang menunjukkan situasi dan letak

lokasi kegiatan pada wilayah DAS, Kabupaten/ Kota.

2) Peta rancangan yang menggambarkan peta kerja dengan memuat batas-batas blok, petak, rencana jalan inspeksi (jika ada/ diperlukan), rencana tanaman, dengan skala 1 : 1.000 – 1 : 5.000. Pada peta rancangan harus dilengkapi dengan nama petani pemilik serta batas kepemilikan lahan masing-masing peserta.

3) Peta rancangan dibuat sesuai dengan kaidah perpetaan dengan inzet lokasi dan ruang penilaian dan pengesahan peta.

4) Gambar/ bestek yang perlu dibuat adalah : d) Gubuk Kerja

e) Papan nama

f) Tata ruang/ tata letak pertanaman (pola tanam) g. Perancangan Kelembagaan

Petani/ masyarakat yang akan terlibat dalam kegiatan pembuatan tanam sistem pot, diprakondisikan terlebih dahulu melalui sosialisasi/ penyuluhan untuk menumbuhkembangkan kelembagaan kelompok tani dan motivasi untuk berpartisipasi secara aktif dalam kegiatan yang direncanakan.

h. Tata waktu

Dalam rancangan harus dibuat tata waktu pelaksanaan kegiatan mulai dari persiapan, pembuatan tanaman sampai dengan pemeliharaan tahun ke 2. Untuk lebih mudah membacanya, maka tata waktu tersebut perlu digambarkan dalam bentuk barchart.

i. Hasil Kegiatan.

Hasil kegiatan pembuatan rancangan adalah buku rancangan pembuatan tanaman hutan rakyat sistem pot, yang telah dinilai oleh Balai Pengelolaan DAS dan telah disahkan oleh Kepala Dinas Kabupaten/ Kota.

j. Format Rancangan

Format rancangan sebagaimana diatur dalam Bab I I .B.4. 2. Pembuatan Tanaman Sistem Pot

a. Persiapan

1) Penyiapan Kelembagaan

Bagi petani / masyarakat yang belum terbentuk kelompok tani, diarahkan untuk membentuk kelompok tani dengan pendampingan oleh Penyuluh Kehutanan Lapangan/ LSM. Kelompok tani diarahkan untuk mampu melaksanakan pembuatan tanaman dengan sistem pot antara lain :

a) Mengikuti sosialisasi, penyuluhan dan pelatihan

b) Menyusun rencana kegiatan bersama-sama tim BPDAS, Penyuluh Kehutanan Lapangan atau LSM

c) Meyiapkan lahan untuk lokasi kegiatan pembuatan tanaman dengan sistem pot

d) Menyelenggarakan pertemuan – pertemuan kelompok tani e) Menyiapkan administrasi kelompok tani

f) Menyusun perangkat aturan atau kesepakatan internal kelompok tani

2) Pembuatan sarana dan prasarana.

Pembuatan sarana dan prasarana antara lain berupa pembaguanan gubuk kerja, papan pengenal, tandon/ bak air dan lajan inspeksi jika diperlukan. Gubuk kerja lokasinya diusahakan di tengah-tengah lokasi penanaman dan ditepi jalan. Luas gubuk kerja dapat disesuaikan dengan luas areal penanaman.

Papan pengenal di lapangan harus dibuat yang memuat keterangan tentang lokasi, luas, jenis tanaman, nama kelompok tani dan jumlah peserta serta tahun pembuatan tanaman.

Untuk kepentingan penyiraman tanaman, mungkin dibeberpa tempat perlu dibuat bak/ tandon air yang berada di areal tanaman. Demikian juga jika perlu dan dananya memungkinkan dapat dibuat jalan setapak inspeksi dan atau gorong-gorong di dalam lokasi tanaman.

3) Penataan Areal Tanaman

Lokasi untuk areal pembuatan tanaman dengan sistem pot, baik yang masih semak belukar maupun lahan tandus bekas pertanian perlu ditata dengan baik sebelum dilakukan kegiatan penanaman. Sebelum melakukan penataan calon lokasi penanaman, maka perlu dilakukan survey secara cermat.

Berdasarkan data dan informasi survey tersebut, ditentukan batas- batas dan letak areal yang akan ditanami, misalnya : calon lokasi penanaman, bagian yang tidak boleh dibuka, calon lokasi gubuk kerja. Areal tanaman dibagi dalam beberapa blok sesuai dengan pembagian kelompok.

Adapun tahapannya adalah :

a) Pemancangan tanda batas dan pengukuran lapangan, untuk menentukan luas serta letak yang pasti sehingga memudahkan perhitungan kebutuhan bibit.

b) Penentuan arah larikan serta pemancangan ajir tanaman jalur lurus atau sejajar dengan garis tinggi (kontur).

c) Pembuatan lubang tanaman yang ukurannya + 60x60 cm dan dalam + 60cm.

d) Pembuatan gubuk kerja dan papan pengenal di lapangan. b. Pemilihan jenis tanaman

Pemilihan jenis tanaman dengan sistem pot disesuaikan dengan kebutuhan masyarakat, kesesuaian agroklimat dan jika memungkinkan secara ekonomi bisa menguntungkan. Pemilihan jenis tanaman ini yang diwujudkan melalui kesepakatan kelompok.

Komposisi jenis tanaman terdiri dari tanaman kayu-kayuan minimal 60 % dan jenis tanaman MPTS (multi purpose trees spesies) maksimal 40 % . Pengadaan bibit dilakukan bersama-sama dengan pengadaan bibit untuk kegiatan GERHAN lainnya oleh pihak ke I I I yang dikoordinasikan oleh BPDAS. Kebutuhan bibit untuk lahan terbuka adalah 400 batang/ ha ditambah 40 batang untuk pemeliharaan/ sulaman tahun berjalan. Sedangkan untuk lahan yang sebagian telah ada pepohonannya dilakukan pengayaan dengan jumlah bibit 220 batang/ ha termasuk untuk penyulaman tahun berjalan.

Bibit dari perusahaan pengadaan disimpan di Tempat Penyimpanan Sementara yang ditentukan oleh BPDAS. Keadaan bibit saat sudah siap ditanam di lapangan adalah bibit yang memenuhi persyaratan sebagai berikut:

1) Bibit tumbuh normal dengan tinggi minimal 50 cm. 2) Batang lurus dan daun subur yang berwarna hijau 3) Bibit tidak terserang oleh hama dan penyakit

Setelah ditentukan jumlah bibit yang dapat ditanam kemudian disiapkan untuk diangkut ke lapangan. Bibit yang akan diangkut dimasukkan dalam keranjang atau kotak yang dibuat secara khusus. Pada saat memasukan bibit ke dalam kotak atau keranjang, batang dan pucuk bibit tidak boleh berhimpitan karena dapat menyebabkan kerusakan. Pengangkutan bibit dari lokasi penyimpanan sementara ke lapangan dianjurkan pada pagi hari atau sore.

c. Pola dan Sistem Penanaman

Pola tanaman ditentukan sesuai dengan Rancangan yang telah disusun baik pola tanaman murni kayu-kayuan maupun campuran kayu-kayuan dan MPTS. Bibit ditanam menurut jalur lurus maupun jalur mengikuti garis kontur. Sistem penanaman dilakukan dengan sistem cemplongan karena tanahnya berbatuan sehingga tanaman yang ada dalam jalur/ larikan sebaiknya dipertahankan untuk menahan erosi dan mempercepat pelapukan batuan.

1) Sistem cemplongan jalur mengikuti garis kontur

Sistem penanaman cemplongan adalah pembuatan tanaman sistem pot dimana pembersihan lahan hanya dilakukan pada piringan tanaman (sekitar pot) secara individual tanpa pembersihan sepanjang jalur/ larikan tanaman. Sistem cemplongan dengan jalur tanaman mengikuti garis kontur diterapkan pada lahan bergelombang sampai curam (kemiringan > 8% ). Pembuatan tanaman jalur tersebut bisa dilaksanakan dengan jenis tanaman murni kayu-kayuan atau campuran kayu-kayuan minimal 60 % dan tanaman MPTS maksimal 40 % .

2) Sistem cemplongan jalan lurus

Sistem cemplongan jalur lurus adalah pembuatan tanaman dengan sistem pot yang dilaksanakan pada jalur jalur lurus dilakukan pada lahan yang relatif datar sampai landai < 8% . Pembuatan tanaman jalur tersebut bisa dilaksanakan dengan jenis tanaman murni kayu-kayuan atau campuran kayu-kayuan minimal 60 % dan tanaman MPTS maksimal 40 % .

d. Teknik Penanaman

Pengaturan jarak tanam pada lahan terbuka bisa diusahakan sekitar 5 x 5 m atau pohon ditanam menyebar merata dengan jumlah tanaman 400 batang per ha. Sedangkan pada lahan yang sebagian telah ada tanamannya, maka bibit ditanam pada ruang kosong yang tersedia dan memungkinkan dibuat tanaman sistem pot.

Calon lokasi penanaman perlu dibersihkan berdasarkan batas–batas yang telah ditentukan pada saat penataan calon lokasi penanaman. Pembersihan lokasi dilakukan dengan menyingkirkan berbagai jenis tumbuhan pengganggu sekitar lubang tanaman untuk menghindarkan terjadinya kompetisi hara.

Pengembangkan tanaman dengan sistim pot dilakukan dengan cara membuat lubang tanaman pada lahan berbatu dengan ukuran panjang kali lebar

±

60 cm x 60 cm dan dalam 60 cm. Lubang tersebut diisi dengan tanah permukaan (top soil) dari lokasi lain dan kompos/ pupuk kandang dan pupuk dasar secukupnya. Pengisian pot dengan tanah dan kompos/ pupuk kandang sebaiknya mulai dilakukan 1 (satu) minggu sebelum kegiatan penanaman dimulai.Tinggi bibit minimal untuk penanaman dengan sistem pot adalah

±

50 cm.

Penanaman sistim pot harus dilengkapi dengan irigasi tetes yang menggunakan botol kemasan air minum atau botol infus atau bambu yang diikatkan pada ajir atau wadah air lainnya yang sesuai dengan kondisi setempat. Air dalam botol atau bambu atau wadah air lainnya harus diisi pada saat sudah kosong.

Hal-hal yang harus diperhatikan dalam penanaman, yaitu :

1) Bibit dimasukan dalam tanah (lubang tanaman) sedalam leher akar, 2) Ujung akar tunggang supaya tetap lurus,

3) Tanah sekitar batang harus dipadatkan, diusahakan ditutup mulsa. 4) Akar cabang diusahakan kesamping,

5) Permukaan tanah harus rata atau agak cembung supaya tidak tergenang air.

6) Tiap tanaman ditandai dengan ajir kayu atau bambu.

Teknik pembuatan tanaman sistem pot seperti digambarkan berikut ini.

Gambar 10. Tanaman sistem pot dengan irigasi tetes menggunakan limbah botol kemasan air minum.

60 cm Ajir kayu/bambu Bibit > 50 cm 60 cm Permukaan tanah 60 cm Sumbu

Botol kemasan air minum 1 lt

Media tumbuh : Tanah mineral, kompos, arang dan pupuk dasar

Gambar 11. Tanaman sistem pot dengan irigasi tetes menggunakan limbah botol infus.

Media tumbuh : Tanah mineral, kompos, arang dan pupuk dasar

Gambar 12. Tanaman sistem pot dengan irigasi tetes menggunakan bambu

60 cm Ajir kayu/bambu Bibit > 50 cm

Botol infus

Media tumbuh : Tanah mineral, kompos, arang dan pupuk dasar

Batu Regulator infus 60 cm 60 cm Ajir kayu/bambu Bibit > 50 cm 60 cm Permukaan tanah 60 cm Sumbu Bambu wadah air

e. Pemeliharaan

Pemeliharaan tanaman terdiri dari kegiatan pemeliharaan tahun berjalan, tahun ke-1 dan pemeliharaan tahun ke-2 .

Adapun jenis kegiatan pemeliharaan adalah: 1) Penyiangan dan Penyulaman

Penyiangan dilakukan dengan cara pembersihan rumput-rumputan, tumbuhan bawah mengganggu pertumbuhan tanaman pokok. Penyiangan areal tanam dilakukan secara rutin setiap 3 bulan sekali. Penyulaman dilakukan apabila tanaman tumbuh tidak normal, tidak tumbuh atau mati setelah ditanam. Bibit yang tumbuh tidak normal atau mati tersebut harus diganti dengan bibit yang baru agar jumlah tanaman yang ditanam tidak berkurang dan dapat tumbuh secara seragam.

2) Penyiraman

Penyiraman tanaman yang baru ditanam perlu dilakukan pada musim kemarau karena daerah bebatuan biasanya memiliki curah hujan yang relatif kecil dan periode hujannya dalam satu tahun relatif pendek. Sistem penyiraman di lahan kering dan berbatu ini bisa dilaksanakan dengan teknologi sederhana seperti penyiraman/ irigasi sistem tetes dengan menggunakan botol plastik bekas air minum kemasan sebagai tempat menyimpan air yang diisi setiap kali botol telah kosong.

3) Pemupukan

Pemupukan tanaman perlu dilakukan karena areal yang kurang subur. Pupuk yang dapat digunakan untuk pemupukan adalah pupuk kandang, kompos atau pupuk buatan seperti NPK atau MLT (Majemuk Lepas Terkendali).

4) Pengendalian Hama dan Penyakit

Manajemen hama dan penyakit perlu dilakukan terutama jenis-jenis tanaman yang ditanam secara monokultur. Kegiatan yang bisa dilakukan dengan menggunakan insektisida, herbisida, predator dan peralatan lainnya.

5) Pengamanan Terhadap Kebakaran

Kebakaran hutan adalah bahaya yang paling ditakuti oleh petani. Bahaya kebakaran umumnya terjadi pada musim kemarau. Untuk mencegah bahaya kebakaran perlu diciptakan sistem pengamanan oleh kelompok tani dengan cara peningkatan kesadaran diantara anggota kelompok tentang bahayanya api, pembuatan papan peringatan bahaya kebakaran dan jika memungkinkan dibuat sekat bakar.

f. Tahapan dan Jadwal Kegiatan.

Tahapan dan jadwal kegiatan pembuatan tanaman sistem pot adalah sebagai berikut :

1) Persiapan lapangan yang terdiri dari penyiapan kelembagaan, pembuatan sarana dan prasarana serta penataan areal tanaman dilakukan sebelum memasuki musim hujan.

2) Penanaman dilakukan pada musim hujan.

3) Pemeliharaan tahun berjalan dilakukan setelah penanaman selesai. 4) Pemeliharaan tahun pertama dilakukan pada tanaman yang telah

berumur satu tahun dan dilaksanakan pada musim hujan.

5) Pemeliharaan tahun kedua dilakukan pada tanaman yang telah berumur dua tahun dan dilaksanakan pada musim hujan.

6) Perlindungan tanaman dari gangguan hama dan penyakit serta bahaya kebakaran pada prinsipnya dilakukan sepanjang tahun sesuai kebutuhan sampai tanaman menghasilkan.

g. Hasil Kegiatan

Terwujudnya tanaman hutan rakyat sistem pot dengan jumlah 400 batang/ ha sesuai dengan rancangan yang telah disahkan.

E. PEMBUATAN HUTAN RAKYAT PADA DAERAH TANGKAPAN AI R ( DTA)

Dalam dokumen Index of /ProdukHukum/kehutanan (Halaman 117-126)