Teknologi agroindustri, sebagai salah satu komponen dalam proses penciptaan pertumbuhan, memiliki peran yang strategis. Beberapa peran tersebut adalah: menurunkan kehilangan pasca panen, memperpanjang umur simpan produk, stabilisasi harga bahan baku pada saat panen puncak, menyediakan produk dengan mutu seragam dalam jumlah besar, mengembangkan industri terkait, meningkatkan pengembalian terhadap petani, menciptakan lapangan pekerjaan, serta mempercepat pertumbuhan ekonomi (Yakwezi 2003). Oleh karena itu teknologi diharapkan dapat diadopsi secara menyeluruh dan berkesinambungan dalam pengembangan komoditas.
Di Kepulauan Bangka, telah dilakukan uji coba pengolahan lada secara mekanis di Desa Delas, Kecamatan Air Gegas, Bangka Selatan dan Desa Cambai,
80
Kecamatan Namang, Kabupaten Bangka Tengah. Introduksi teknologi pada kedua daerah ini belum berjalan sebagaimana mestinya. Di desa Delas, peralatan pengolahan lada pada masa uji coba tidak berfungsi dengan baik. Hal ini ditandai oleh banyaknya lada pecah yang dihasilkan dan lada yang tidak terkelupas, selain itu letak bak perendaman berada lebih tinggi dari letak kebun. Di Desa Cambai telah dilakukan ujicoba pengolahan lada secara mekanis, namun demikian mesin dan peralatan tersebut tidak diimplementasikan secara berkesinambungan. Mesin dan peralatan hanya digunakan bila diperlukan untuk kegiatan pelatihan. Beberapa permasalahan teknis yang muncul diduga sebagai akibat dari kinerja mesin dan peralatan yang tidak optimal, selain permasalahan kelembagaan yang berkaitan dengan rendahnya pengalaman dalam menjalankan kegiatan ekonomi bersama dan tidak adanya dukungan dalam bentuk bimbingan teknis dan pendampingan.
Pengalaman responden menggunakan mesin dan peralatan pengolahan lada ditunjukkan pada Gambar 17. Seluruh responden tidak memiliki pengalaman menggunakan mesin perontok, mesin pengupas, mesin pengering, dan mesin sortasi. Sebanyak 3 responden (7,14%) memiliki pengalaman memanfaatkan bak perendaman dalam proses perendaman lada.
Gambar 17. Pengalaman Menggunakan Alat dan Mesin Agroindustri Lada Proses adopsi teknologi dipengaruhi oleh tiga komponen utama yaitu: (1) karakteristik inovasi yang berkaitan dengan manfaat dan biaya, (2) karakteristik inovator atau aktor yang mempengaruhi kemungkinan adopsi inovasi, dan (3) 80
Kecamatan Namang, Kabupaten Bangka Tengah. Introduksi teknologi pada kedua daerah ini belum berjalan sebagaimana mestinya. Di desa Delas, peralatan pengolahan lada pada masa uji coba tidak berfungsi dengan baik. Hal ini ditandai oleh banyaknya lada pecah yang dihasilkan dan lada yang tidak terkelupas, selain itu letak bak perendaman berada lebih tinggi dari letak kebun. Di Desa Cambai telah dilakukan ujicoba pengolahan lada secara mekanis, namun demikian mesin dan peralatan tersebut tidak diimplementasikan secara berkesinambungan. Mesin dan peralatan hanya digunakan bila diperlukan untuk kegiatan pelatihan. Beberapa permasalahan teknis yang muncul diduga sebagai akibat dari kinerja mesin dan peralatan yang tidak optimal, selain permasalahan kelembagaan yang berkaitan dengan rendahnya pengalaman dalam menjalankan kegiatan ekonomi bersama dan tidak adanya dukungan dalam bentuk bimbingan teknis dan pendampingan.
Pengalaman responden menggunakan mesin dan peralatan pengolahan lada ditunjukkan pada Gambar 17. Seluruh responden tidak memiliki pengalaman menggunakan mesin perontok, mesin pengupas, mesin pengering, dan mesin sortasi. Sebanyak 3 responden (7,14%) memiliki pengalaman memanfaatkan bak perendaman dalam proses perendaman lada.
Gambar 17. Pengalaman Menggunakan Alat dan Mesin Agroindustri Lada Proses adopsi teknologi dipengaruhi oleh tiga komponen utama yaitu: (1) karakteristik inovasi yang berkaitan dengan manfaat dan biaya, (2) karakteristik inovator atau aktor yang mempengaruhi kemungkinan adopsi inovasi, dan (3) 80
Kecamatan Namang, Kabupaten Bangka Tengah. Introduksi teknologi pada kedua daerah ini belum berjalan sebagaimana mestinya. Di desa Delas, peralatan pengolahan lada pada masa uji coba tidak berfungsi dengan baik. Hal ini ditandai oleh banyaknya lada pecah yang dihasilkan dan lada yang tidak terkelupas, selain itu letak bak perendaman berada lebih tinggi dari letak kebun. Di Desa Cambai telah dilakukan ujicoba pengolahan lada secara mekanis, namun demikian mesin dan peralatan tersebut tidak diimplementasikan secara berkesinambungan. Mesin dan peralatan hanya digunakan bila diperlukan untuk kegiatan pelatihan. Beberapa permasalahan teknis yang muncul diduga sebagai akibat dari kinerja mesin dan peralatan yang tidak optimal, selain permasalahan kelembagaan yang berkaitan dengan rendahnya pengalaman dalam menjalankan kegiatan ekonomi bersama dan tidak adanya dukungan dalam bentuk bimbingan teknis dan pendampingan.
Pengalaman responden menggunakan mesin dan peralatan pengolahan lada ditunjukkan pada Gambar 17. Seluruh responden tidak memiliki pengalaman menggunakan mesin perontok, mesin pengupas, mesin pengering, dan mesin sortasi. Sebanyak 3 responden (7,14%) memiliki pengalaman memanfaatkan bak perendaman dalam proses perendaman lada.
Gambar 17. Pengalaman Menggunakan Alat dan Mesin Agroindustri Lada Proses adopsi teknologi dipengaruhi oleh tiga komponen utama yaitu: (1) karakteristik inovasi yang berkaitan dengan manfaat dan biaya, (2) karakteristik inovator atau aktor yang mempengaruhi kemungkinan adopsi inovasi, dan (3)
81 karakteristik konteks lingkungan yang memodulasi difusi melalui karakteristik struktural (Wejnert 2002). Pada sektor pertanian, faktor yang mempengaruhi adopsi teknologi secara positif yaitu: tingkat pendidikan, teknologi lokal, profesionalisme keanggotaan, serta keterlibatan pemerintah. Di sisi lain faktor yang mempengaruhi secara negatif yaitu: kendala keuangan, sistem kepemilikan tanah, dan ukuran lahan (Nzomoi et al. 2002). Hal ini menunjukkan bahwa selain faktor internal, proses adopsi juga dipengaruhi oleh faktor eksternal, oleh karena itu dibutuhkan sebuah model proses adopsi teknologi dan penggunaan teknologi tersebut secara berkelanjutan yang mengintegrasikan faktor internal maupun faktor eksternal.
Terdapat beberapa hal yang menjadi latar belakang mengapa tidak dilakukan adopsi teknologi. Sebagai upaya untuk mendapatkan gambaran atas hal tersebut, maka dilakukan penjaringan persepsi petani terhadap peluang adopsi dan kemungkinan alasan yang melatarbelakangi apabila tidak dilakukan adopsi.
Alasan responden tidak memanfaatkan mesin perontok didominasi oleh alasan keterbatasan modal (sebanyak 41 responden atau 97,62%), ketersediaan mesin (sebanyak 40 responden atau 95,24%), dan keterbatasan bimbingan teknologi (sebanyak 39 responden atau 92,86%) (Gambar 18). Ditinjau dari sisi kemampuan mesin memberikan manfaat dan implikasi biaya, jumlah responden yang mempercayai hal tersebut relatif berimbang. Penggunaan mesin ini diharapkan akan dapat menghemat penggunaan tenaga kerja, sebagai komponen biaya utama pengolahan lada.
Alasan responden tidak memanfaatkan bak perendam didominasi oleh alasan keterbatasan modal (sebanyak 40 responden atau 95,24%), ketersediaan bak (sebanyak 40 responden atau 95,24%), dan implikasi biaya (sebanyak 41 responden atau 97,62%), seperti tertera pada Gambar 19. Teknologi dan cara kerja sederhana dari bak perendaman tidak membutuhkan bimbingan teknis, selain itu sebagian besar responden tidak ragu atas tingkat manfaat.
Sebagian besar responden mempercayai bahwa bak perendam dapat memberikan penyelesaian atas permasalahan yang muncul dari perendaman yang dilakukan di sungai atau bekas galian. Kualitas air dan ketersediaan air yang menurun akan memberikan pengaruh terhadap kualitas lada. Selain itu, salah satu
82
kendala yang dihadapi petani dalam tahap perendaman secara tradisional adalah tingginya risiko pencurian lada. Biaya tenaga kerja yang dikeluarkan untuk mengatasi tersebut relatif besar. Oleh karena itu selain penggunaan bak perendam diharapkan dapat meningkatkan peluang pencapaian mutu yang sesuai dengan standar yang berlaku, penggunaan bak perendam juga dapat menyelesaikan permasalahan keamanan.
Gambar 18. Persepsi Kendala Pengambilan Keputusan Penggunaan Mesin Perontok
Gambar 19. Persepsi Kendala Pengambilan Keputusan Penggunaan Bak Perendam
Responden tidak memanfaatkan mesin pengupas disebabkan oleh keterbatasan modal (sebanyak 41 responden atau 97,62%), keterbatasan mesin (sebanyak 40 responden atau 95,24%), keterbatasan bimbingan teknis (sebanyak 39 responden atau 92,86%), seperti tertera pada Gambar 20. Bimbingan teknis diperlukan terkait spesifikasi mesin dan keragaman ukuran lada yang dapat 82
kendala yang dihadapi petani dalam tahap perendaman secara tradisional adalah tingginya risiko pencurian lada. Biaya tenaga kerja yang dikeluarkan untuk mengatasi tersebut relatif besar. Oleh karena itu selain penggunaan bak perendam diharapkan dapat meningkatkan peluang pencapaian mutu yang sesuai dengan standar yang berlaku, penggunaan bak perendam juga dapat menyelesaikan permasalahan keamanan.
Gambar 18. Persepsi Kendala Pengambilan Keputusan Penggunaan Mesin Perontok
Gambar 19. Persepsi Kendala Pengambilan Keputusan Penggunaan Bak Perendam
Responden tidak memanfaatkan mesin pengupas disebabkan oleh keterbatasan modal (sebanyak 41 responden atau 97,62%), keterbatasan mesin (sebanyak 40 responden atau 95,24%), keterbatasan bimbingan teknis (sebanyak 39 responden atau 92,86%), seperti tertera pada Gambar 20. Bimbingan teknis diperlukan terkait spesifikasi mesin dan keragaman ukuran lada yang dapat 82
kendala yang dihadapi petani dalam tahap perendaman secara tradisional adalah tingginya risiko pencurian lada. Biaya tenaga kerja yang dikeluarkan untuk mengatasi tersebut relatif besar. Oleh karena itu selain penggunaan bak perendam diharapkan dapat meningkatkan peluang pencapaian mutu yang sesuai dengan standar yang berlaku, penggunaan bak perendam juga dapat menyelesaikan permasalahan keamanan.
Gambar 18. Persepsi Kendala Pengambilan Keputusan Penggunaan Mesin Perontok
Gambar 19. Persepsi Kendala Pengambilan Keputusan Penggunaan Bak Perendam
Responden tidak memanfaatkan mesin pengupas disebabkan oleh keterbatasan modal (sebanyak 41 responden atau 97,62%), keterbatasan mesin (sebanyak 40 responden atau 95,24%), keterbatasan bimbingan teknis (sebanyak 39 responden atau 92,86%), seperti tertera pada Gambar 20. Bimbingan teknis diperlukan terkait spesifikasi mesin dan keragaman ukuran lada yang dapat
83 menyebabkan risiko lada pecah. Dari sisi kemampuan alat memberikan manfaat dan rendahnya implikasi biaya, jumlah responden yang mempercayai hal tersebut relatif lebih besar.
Gambar 20. Persepsi Kendala Pengambilan Keputusan Penggunaan Mesin Pengupas
Alasan responden tidak memanfaatkan mesin pengering didominasi oleh alasan keterbatasan modal (sebanyak 40 responden atau 95,24%), ketersediaan mesin (sebanyak 39 responden atau 92,86%), dan implikasi biaya (sebanyak 40 responden atau 95,24%), seperti tertera pada Gambar 21. Teknologi dan cara kerja sederhana dari mesin pengering menyebabkan responden berpendapat tidak membutuhkan bimbingan teknis. Terjadinya perubahan cuaca dalam tahap penjemuran lada, menjadi dasar penilaian responden terhadap manfaat atas mesin pengering yang dinyatakan sebanyak 27 responden atau sebesar 64,28%.
Gambar 21. Persepsi Kendala Pengambilan Keputusan Penggunaan Mesin Pengering
83 menyebabkan risiko lada pecah. Dari sisi kemampuan alat memberikan manfaat dan rendahnya implikasi biaya, jumlah responden yang mempercayai hal tersebut relatif lebih besar.
Gambar 20. Persepsi Kendala Pengambilan Keputusan Penggunaan Mesin Pengupas
Alasan responden tidak memanfaatkan mesin pengering didominasi oleh alasan keterbatasan modal (sebanyak 40 responden atau 95,24%), ketersediaan mesin (sebanyak 39 responden atau 92,86%), dan implikasi biaya (sebanyak 40 responden atau 95,24%), seperti tertera pada Gambar 21. Teknologi dan cara kerja sederhana dari mesin pengering menyebabkan responden berpendapat tidak membutuhkan bimbingan teknis. Terjadinya perubahan cuaca dalam tahap penjemuran lada, menjadi dasar penilaian responden terhadap manfaat atas mesin pengering yang dinyatakan sebanyak 27 responden atau sebesar 64,28%.
Gambar 21. Persepsi Kendala Pengambilan Keputusan Penggunaan Mesin Pengering
83 menyebabkan risiko lada pecah. Dari sisi kemampuan alat memberikan manfaat dan rendahnya implikasi biaya, jumlah responden yang mempercayai hal tersebut relatif lebih besar.
Gambar 20. Persepsi Kendala Pengambilan Keputusan Penggunaan Mesin Pengupas
Alasan responden tidak memanfaatkan mesin pengering didominasi oleh alasan keterbatasan modal (sebanyak 40 responden atau 95,24%), ketersediaan mesin (sebanyak 39 responden atau 92,86%), dan implikasi biaya (sebanyak 40 responden atau 95,24%), seperti tertera pada Gambar 21. Teknologi dan cara kerja sederhana dari mesin pengering menyebabkan responden berpendapat tidak membutuhkan bimbingan teknis. Terjadinya perubahan cuaca dalam tahap penjemuran lada, menjadi dasar penilaian responden terhadap manfaat atas mesin pengering yang dinyatakan sebanyak 27 responden atau sebesar 64,28%.
Gambar 21. Persepsi Kendala Pengambilan Keputusan Penggunaan Mesin Pengering
84
Kegiatan sortasi hampir tidak pernah dilakukan oleh petani. Tidak dimanfaatkannya mesin sortasi didominasi oleh alasan keterbatasan modal (92,86%) dan kersediaan mesin (88,09%), seperti tertera pada Gambar 22.
Gambar 22. Persepsi Kendala Pengambilan Keputusan Penggunaan Mesin Sortasi Mesin sortasi dianggap mampu memberikan manfaat secara signifikan dalam proses pemisahan lada berdasarkan mutunya. Adanya implikasi biaya tidak menjadi permasalahan bagi responden karena adanya insentif berupa perbedaan harga yang ditawarkan oleh eksportir berdasarkan mutu lada yang dihasilkan.
Berdasarkan rendahnya tingkat adopsi dan adanya permasalahan keterbatasan modal, ketersediaan mesin dan peralatan, keterbatasan bimbingan teknis, keraguan efektivitas teknologi, dan adanya implikasi biaya, maka dibutuhkan sebuah model yang mampu menganalisis hal tersebut. Beberapa model yang dibangun untuk menganalisis dan memahami faktor-faktor yang mempengaruhi diterimanya penggunaan teknologi antara lain Theory of Reasoned Action (TRA), Theory of Planned Behavior (TPB), dan Technology Acceptance Model (TAM) (Chuttur 2009).
TAM menyatakan bahwa penerimaan pengguna dan penggunaan teknologi ditentukan oleh dua komponen sikap kunci yaitu penggunaan (perceived use) dan kemudahan penggunaan (perceived ease of use) (Sunding dan Zilberman 2000). Sebagai model untuk mengukur dan menduga penerimaan pengguna teknologi baru, TAM telah dipergunakan dalam berbagai bidang kajian termasuk sektor pertanian (Flett et al. 2004). TAM menjelaskan hubungan sebab akibat antara 84
Kegiatan sortasi hampir tidak pernah dilakukan oleh petani. Tidak dimanfaatkannya mesin sortasi didominasi oleh alasan keterbatasan modal (92,86%) dan kersediaan mesin (88,09%), seperti tertera pada Gambar 22.
Gambar 22. Persepsi Kendala Pengambilan Keputusan Penggunaan Mesin Sortasi Mesin sortasi dianggap mampu memberikan manfaat secara signifikan dalam proses pemisahan lada berdasarkan mutunya. Adanya implikasi biaya tidak menjadi permasalahan bagi responden karena adanya insentif berupa perbedaan harga yang ditawarkan oleh eksportir berdasarkan mutu lada yang dihasilkan.
Berdasarkan rendahnya tingkat adopsi dan adanya permasalahan keterbatasan modal, ketersediaan mesin dan peralatan, keterbatasan bimbingan teknis, keraguan efektivitas teknologi, dan adanya implikasi biaya, maka dibutuhkan sebuah model yang mampu menganalisis hal tersebut. Beberapa model yang dibangun untuk menganalisis dan memahami faktor-faktor yang mempengaruhi diterimanya penggunaan teknologi antara lain Theory of Reasoned Action (TRA), Theory of Planned Behavior (TPB), dan Technology Acceptance Model (TAM) (Chuttur 2009).
TAM menyatakan bahwa penerimaan pengguna dan penggunaan teknologi ditentukan oleh dua komponen sikap kunci yaitu penggunaan (perceived use) dan kemudahan penggunaan (perceived ease of use) (Sunding dan Zilberman 2000). Sebagai model untuk mengukur dan menduga penerimaan pengguna teknologi baru, TAM telah dipergunakan dalam berbagai bidang kajian termasuk sektor pertanian (Flett et al. 2004). TAM menjelaskan hubungan sebab akibat antara 84
Kegiatan sortasi hampir tidak pernah dilakukan oleh petani. Tidak dimanfaatkannya mesin sortasi didominasi oleh alasan keterbatasan modal (92,86%) dan kersediaan mesin (88,09%), seperti tertera pada Gambar 22.
Gambar 22. Persepsi Kendala Pengambilan Keputusan Penggunaan Mesin Sortasi Mesin sortasi dianggap mampu memberikan manfaat secara signifikan dalam proses pemisahan lada berdasarkan mutunya. Adanya implikasi biaya tidak menjadi permasalahan bagi responden karena adanya insentif berupa perbedaan harga yang ditawarkan oleh eksportir berdasarkan mutu lada yang dihasilkan.
Berdasarkan rendahnya tingkat adopsi dan adanya permasalahan keterbatasan modal, ketersediaan mesin dan peralatan, keterbatasan bimbingan teknis, keraguan efektivitas teknologi, dan adanya implikasi biaya, maka dibutuhkan sebuah model yang mampu menganalisis hal tersebut. Beberapa model yang dibangun untuk menganalisis dan memahami faktor-faktor yang mempengaruhi diterimanya penggunaan teknologi antara lain Theory of Reasoned Action (TRA), Theory of Planned Behavior (TPB), dan Technology Acceptance Model (TAM) (Chuttur 2009).
TAM menyatakan bahwa penerimaan pengguna dan penggunaan teknologi ditentukan oleh dua komponen sikap kunci yaitu penggunaan (perceived use) dan kemudahan penggunaan (perceived ease of use) (Sunding dan Zilberman 2000). Sebagai model untuk mengukur dan menduga penerimaan pengguna teknologi baru, TAM telah dipergunakan dalam berbagai bidang kajian termasuk sektor pertanian (Flett et al. 2004). TAM menjelaskan hubungan sebab akibat antara
85 keyakinan akan manfaat suatu teknologi dan kemudahan penggunaannya, perilaku, tujuan, serta penggunaan aktual dari pengguna suatu teknologi. Model TAM terus diperluas, dan dikembangkan, sehingga lahir TAM 2 (Venkatesh 2000), dan TAM 3 (Venkatesh dan Bala 2008).
Integrasi beberapa model proses adopsi teknologi menghasilkan sebuah model yang baru yang dinamakan Unified Theory of Acceptance and Use of Technology (UTAUT) (Venkatesh et al. 2003). UTAUT menguji faktor-faktor penentu penerimaan pengguna dan perilaku penggunaan yang terdiri dari: kinerja yang diharapkan, usaha yang diharapkan, pengaruh sosial, dan kondisi fasilitasi. Keempat hal tersebut berkontribusi kepada perilaku penggunaan, baik secara langsung maupun melalui kecenderungan perilaku. UTAUT juga memperhatikan faktor-faktor seperti gender, usia, pengalaman, dan kesukarelaan.
Model proses adopsi teknologi pengolahan lada secara mekanis dimodifikasi dari UTAUT Model yang terdiri dari 2 bagian sub model, yaitu Sub Model Kecenderungan untuk Menggunakan (intention to use) dan Sub model Dukungan Fasilitasi, yang akan mempengaruhi keputusan perilaku penggunaan. Model proses adopsi teknologi tertera pada Gambar 23.
Gambar 23. Model Proses Adopsi Teknologi
85 keyakinan akan manfaat suatu teknologi dan kemudahan penggunaannya, perilaku, tujuan, serta penggunaan aktual dari pengguna suatu teknologi. Model TAM terus diperluas, dan dikembangkan, sehingga lahir TAM 2 (Venkatesh 2000), dan TAM 3 (Venkatesh dan Bala 2008).
Integrasi beberapa model proses adopsi teknologi menghasilkan sebuah model yang baru yang dinamakan Unified Theory of Acceptance and Use of Technology (UTAUT) (Venkatesh et al. 2003). UTAUT menguji faktor-faktor penentu penerimaan pengguna dan perilaku penggunaan yang terdiri dari: kinerja yang diharapkan, usaha yang diharapkan, pengaruh sosial, dan kondisi fasilitasi. Keempat hal tersebut berkontribusi kepada perilaku penggunaan, baik secara langsung maupun melalui kecenderungan perilaku. UTAUT juga memperhatikan faktor-faktor seperti gender, usia, pengalaman, dan kesukarelaan.
Model proses adopsi teknologi pengolahan lada secara mekanis dimodifikasi dari UTAUT Model yang terdiri dari 2 bagian sub model, yaitu Sub Model Kecenderungan untuk Menggunakan (intention to use) dan Sub model Dukungan Fasilitasi, yang akan mempengaruhi keputusan perilaku penggunaan. Model proses adopsi teknologi tertera pada Gambar 23.
Gambar 23. Model Proses Adopsi Teknologi
85 keyakinan akan manfaat suatu teknologi dan kemudahan penggunaannya, perilaku, tujuan, serta penggunaan aktual dari pengguna suatu teknologi. Model TAM terus diperluas, dan dikembangkan, sehingga lahir TAM 2 (Venkatesh 2000), dan TAM 3 (Venkatesh dan Bala 2008).
Integrasi beberapa model proses adopsi teknologi menghasilkan sebuah model yang baru yang dinamakan Unified Theory of Acceptance and Use of Technology (UTAUT) (Venkatesh et al. 2003). UTAUT menguji faktor-faktor penentu penerimaan pengguna dan perilaku penggunaan yang terdiri dari: kinerja yang diharapkan, usaha yang diharapkan, pengaruh sosial, dan kondisi fasilitasi. Keempat hal tersebut berkontribusi kepada perilaku penggunaan, baik secara langsung maupun melalui kecenderungan perilaku. UTAUT juga memperhatikan faktor-faktor seperti gender, usia, pengalaman, dan kesukarelaan.
Model proses adopsi teknologi pengolahan lada secara mekanis dimodifikasi dari UTAUT Model yang terdiri dari 2 bagian sub model, yaitu Sub Model Kecenderungan untuk Menggunakan (intention to use) dan Sub model Dukungan Fasilitasi, yang akan mempengaruhi keputusan perilaku penggunaan. Model proses adopsi teknologi tertera pada Gambar 23.
86
Input yang digunakan dalam analisis ini adalah indikator yang dinyatakan dalam bentuk indikator “tambahan keuntungan” untuk menduga nilai kinerja yang diharapkan (performance expectancy), indikator “efisiensi” untuk menduga nilai proses yang diperkirakan (effort expectancy) dan indikator “peran kelompok tani” untuk menduga pengaruh sosial (social influence). Indikator dukungan fasilitas (support facilities) yang terdiri dari komponen persepsi terhadap dukungan pendanaan, persepsi terhadap dukungan teknologi, dan persepsi terhadap dukungan peningkatan kapasitas.
Penilaian terhadap indikator dilakukan secara terpisah terhadap setiap mesin dan peralatan yang digunakan tahap pengolahan lada putih, yaitu mesin perontok, mesin pengupas, bak perendam, mesin pengering, dan sortasi. Penilaian secara terpisah tidak dilakukan terhadap indikator peran kelompok tani. Nilai individu dinyatakan dalam skala 1 atau 0 dan nilai indikator didekati dengan nilai komulatif sampel untuk penilaian yang sama. Atribut dan fungsi keanggotan variabel input agregasi 1-3 tertera pada Tabel 11-13
Tabel 11. Skala Nilai Variabel Input Agregasi Tahap 1
Variabel Input Skala Nilai
1. Rata-rata nilai tambahan keuntungan 2. Rata-rata nilai efisiensi
3. Peran kelompok tani.
4. Rata-rata nilai persepsi terhadap dukungan pendanaan 5. Rata-rata nilai persepsi terhadap dukungan teknologi
6. Rata-rata nilai persepsi terhadap dukungan peningkatan kapasitas
Sangat Rendah (0-8)
Rendah (9-16)
Sedang (17-24)
Tinggi (25,-32)
Sangat Tinggi (33-42)
Tabel 12. Atribut dan Fungsi Keanggotaan Variabel Input Agregasi Tahap 2
Variabel Input Fuzzifikasi Fungsi Keanggotaan
1. Kinerja yang diharapkan (performance expectancy)
2. Usaha yang diharapkan (effort expectancy) 3. Pengaruh sosial (social influence)
4. Persepsi terhadap dukungan pendanaan 5. Persepsi terhadap dukungan teknologi 6. Persepsi terhadap dukungan peningkatan
kapasitas Sangat Rendah (0,0,3) Rendah (2,4,6) Sedang (5,7,9) Tinggi (8,10,12) Sangat Tinggi (11,15,15)
87 Tabel 13. Atribut dan Fungsi Keanggotaan Variabel Input Agregasi Tahap 3
Variabel Input Fuzzifikasi Fungsi Keanggotaan
1. Kecenderungan untuk Menggunakan (intention to use)
2. Dukungan Fasilitas (support facilities)
Sangat Rendah (0, 0, 3)
Rendah (2, 3.5, 5)
Sedang (4, 5.5, 7)
Tinggi (6, 7.5, 9)
Sangat Tinggi (8, 8, 10)
Proses kajian terdiri dari tahap pemetaan status dan formulasi kebijakan, seperti tertera pada Gambar 24. Pemetaan status adopsi teknologi dilakukan secara berjenjang dengan menggunakan pendekatan fuzzy inference system model Tagaki-Sugeno-Kang (TSK) orde satu. Formulasi kebijakan dilakukan secara analisis deskriptif berdasarkan nilai yang diperoleh dari analisis pemetaan status.
Gambar 24. Tahapan Analisis Proses Adopsi Teknologi
87 Tabel 13. Atribut dan Fungsi Keanggotaan Variabel Input Agregasi Tahap 3
Variabel Input Fuzzifikasi Fungsi Keanggotaan
1. Kecenderungan untuk Menggunakan (intention to use)
2. Dukungan Fasilitas (support facilities)
Sangat Rendah (0, 0, 3)
Rendah (2, 3.5, 5)
Sedang (4, 5.5, 7)
Tinggi (6, 7.5, 9)
Sangat Tinggi (8, 8, 10)
Proses kajian terdiri dari tahap pemetaan status dan formulasi kebijakan, seperti tertera pada Gambar 24. Pemetaan status adopsi teknologi dilakukan secara berjenjang dengan menggunakan pendekatan fuzzy inference system model Tagaki-Sugeno-Kang (TSK) orde satu. Formulasi kebijakan dilakukan secara analisis deskriptif berdasarkan nilai yang diperoleh dari analisis pemetaan status.
Gambar 24. Tahapan Analisis Proses Adopsi Teknologi
87 Tabel 13. Atribut dan Fungsi Keanggotaan Variabel Input Agregasi Tahap 3
Variabel Input Fuzzifikasi Fungsi Keanggotaan
1. Kecenderungan untuk Menggunakan (intention to use)
2. Dukungan Fasilitas (support facilities)
Sangat Rendah (0, 0, 3)
Rendah (2, 3.5, 5)
Sedang (4, 5.5, 7)
Tinggi (6, 7.5, 9)
Sangat Tinggi (8, 8, 10)
Proses kajian terdiri dari tahap pemetaan status dan formulasi kebijakan, seperti tertera pada Gambar 24. Pemetaan status adopsi teknologi dilakukan secara berjenjang dengan menggunakan pendekatan fuzzy inference system model Tagaki-Sugeno-Kang (TSK) orde satu. Formulasi kebijakan dilakukan secara analisis deskriptif berdasarkan nilai yang diperoleh dari analisis pemetaan status.
88
Agregasi tahap 1 dilakukan untuk mendapatkan nilai indikator kinerja yang diharapkan (performance expectancy), hasil yang diharapkan (effort expectancy), persepsi terhadap dukungan pendanaan, persepsi terhadap dukungan teknologi, dan persepsi terhadap dukungan peningkatan kapasitas. Agregasi tahap 1 merupakan rerataan nilai pada seluruh teknologi pada setiap indikator. Agregasi tahap 2 dilakukan untuk mendapatkan nilai Kecenderungan untuk Menggunakan (intention to use) dan Dukungan Fasilitas (support facilities). Agregasi tingkat 3 dilakukan untuk mendapatkan nilai Perilaku Penggunaan (usage behavior). Pada agregasi tahap 2 digunakan 125 aturan, sedangkan pada tahap 3 digunakan 25 aturan.
Output yang dihasilkan dari kajian ini adalah nilai pendugaan tingkat