BAB VI. TOLERANSI RESIKO KEUANGAN
6.4. Model Teotrikal
Terdapat dua tipe investor dalam kaitannya dengan preferensi terhadap resiko, yaitu risk averse (menghindari resiko) dimana seorang investor akan memilih investasi yang memberikan keuntungan dengan resiko terkecil dan risk taker (menyukai resiko) yang akan memilih investasi dengan tingkat pengembalian tinggi walaupun menghadapi resiko yang besar. Selain itu juga ada orang yang bersikap netral terhadap resiko (Manurung dan Rizky, 2009: 116).
6.4. Model Teotrikal
Terdapat empat perspektif teorikal yang dapat menjelaskan masalah toleransi resiko dalam kaitannya dengan faktor demografi dan pendapatan, yaitu Model Standard Utility Maximization, Teori Hirarki Kebutuhan Maslow, Perspective Theory, dan Family Development Theory (Chaulk et al., 2003 : 259 – 263). Keempatnya akan diuraikan berikut ini.
Model standard utility maximization untuk sifat takut terhadap resiko (risk aversion) menekankan pada keseimbangan antara potensi untung dan rugi. Keberanian mengambil resiko terjadi bila tingkat kekayaan tinggi dan utiliti marjinal yang berhubungan dengan fluktuasi kekayaan adalah rendah (Chaulk et al.., 2003 : 260).
Teori hirarki kebutuhan Maslow (1954) mengatakan bahwa individu memberi prioritas pada kebutuhan dasar dan rasa aman jika sumber dayanya rendah dan karena itu mereka tidak mau mengambil resiko. Jika sumber daya mereka sudah tercukupi maka kebutuhan lain yang lebih menonjol adalah kebutuhan untuk berkembang. Investasi beresiko akan diambil bila potensi pertumbuhan besar. Teori ini berdasar pada prediksi terhadap akumulasi kekayaan individu dan menunjukkan model standar ekonomi sehubungan dengan pengambilan keputusan yang beresiko (Xiao dan Anderson (1997 dalam Chaulk et al., 2003 : 260).
Prospect theory dikembangkan oleh dua orang psikholog, Daniel Kahneman dan Amos Tversky di tahun 1979. Teori ini pada dasarnya mencakup dua disiplin ilmu, yaitu psikologi dan ekonomi (psikoekonomi). Titik berangkatnya adalah pada analisis prilaku seseorang dalam mengambil keputusan (ekonomi) di dalam dua pilihan (Suweca, 2010 : 1). Perilaku manusia dalam pengambilan keputusan dapat dibedakan menjadi risk-aversion dan risk-seeking. Keputusan seseorang dipengaruhi oleh frame yang dianutnya. Frame tersebut ditentukan oleh formulasi masalah yang dihadapi, norma dan kebiasaan, serta karakteristik para pengambil keputusan. Studi Kahneman dan Tversky menemukan bahwa sikap tentang resiko menghadapi keuntungan (gain) akan sangat berbeda dengan sikap tentang resiko menghadapi kerugian. Contoh yang dikemukakannya adalah sebagai berikut : pada saat sekelompok orang dihadapkan pada pilihan pasti mendapatkan uang $1.000 atau kurang-lebih 50 persen dari kemungkinan mendapatkan uang $2,500, ternyata orang akan lebih memilih yang pasti yaitu sebesar $1.000. Hal ini menunjukkan perilaku risk-aversion. Akan tetapi, pada kelompok orang yang sama, jika kepadanya diberikan pilihan untuk pasti rugi sebesar $1.000 atau kurang-lebih 50 persen kemungkinan tidak akan rugi, maka mereka akan cenderung membuat pilihan yang lebih beresiko. Hal ini merupakan contoh risk-seeking. Dalam kondisi rugi, seseorang akan cenderung lebih nekat menanggung resiko dibandingkan pada kondisi berhasil (Suweca, 2010 : 2).
Sehubungan dengan taruhan (bet), prospect theory mengatakan bahwa semua taruhan dipertimbangkan dalam hubungannya dengan posisi kekayaan yang terakumulasi pada diri seseorang. Kekayaan akan meningkatkan toleransi resiko. Model ini terkait dengan keragaman mental accounting pada penerimaan untung rugi. Perasaan rugi dua kali lebih penting dalam perilaku pembuatan keputusan dibandingkan dengan perasaan untung. Model ini memberi pemahaman mengapa keluarga dan faktor demografi mempengaruhi toleransi resiko. Model ini dapat menjelaskan mengapa variabel gender, usia, status perkawinan, dan jumlah anak dapat berubah dalam konteks penaksiran potensi keuntungan, dan yang lebih penting, potensi rugi dalam situasi
investasi. Secara lebih spesifik, ketika individu membuat keputusan yang beresiko maka persepsi terhadap potensi untung rugi akan berhubungan dengan standar ekonomi, faktor psikologi, serta perubahan dalam konteks kemasyarakatan (Kahneman dan Tversky, 1979 dalam Chaulk et al., 2003 : 260).
Prospect theory juga menyatakan bahwa keputusan sering dipengaruhi oleh bagaimana pilihan itu dibentuk, bukan pilihannya. Sehubungan dengan resiko, individu sering menunjukkan sikap risk aversion (Damodaran 2011 : 17).
Teori Family Development menekankan peran perubahan harapan dalam keluarga ketika terjadi perubahan anggota keluarga, kebutuhan pengembangan individu, dan kemasyarakatan. Ekspektasi dan perilaku invidu dan keluarga dapat berubah pada setiap tahapan keperluan kelurga. Tahapan keluarga selalu berubah sehingga menyebabkan ketidakpastipastian dalam kehidupan. Hal ini merubah kerangka persepsi dalam perilaku dan pengambilan kepurusan saat ini dan di masa yang akan datang (White 1991, Chaulk et al., 2003 : 260). Ketika seseorang memutuskan untuk menikah, harapan dan perilakunya dapat berbeda dan juga berpotensi untuk berperan sebagai orang tua bila mendapatkan anak. Saat menjadi orang tua, harapan dan perilaku selama beberapa tahun juga dapat berbeda. Perubahan harapan dan kejadian-kejadian akan berkembang mulai dari anak berumur satu tahun sehingga lahir anggota keluarga baru. Anak yang lahir kemudian mempunyai pengaruh yang unit pada hubungan keluarga. Ketika anak sudah mandiri, harapan juga akan berubah. Akhirnya, teori family development memprediksi perubahan dalam perilaku harapan dan pengambilan keputusan berdasarkan pada harapan societal bagi suami dan juga istri.
6.5. Studi Kasus
Penelitian mengenai toleransi keuangan telah dilakukan oleh Fachrudin (2012) dengan judul Analisis Pengaruh Faktor Demografi dan Pendapatan Terhadap Financial Risk Tolerance. Populasi penelitian ini adalah investor pasar modal. Populasi
sasaran adalah investor pasar modal yang tergabung dalam mailing
list (milis) kelompok yahoo
(http://groups.yahoo.com/group/saham/). Milis yang terdiri atas 7218 orang ini menjadi tempat bagi para investor maupun periset saham untuk berdiskusi dan berbagi informasi mengenai pergerakan harga-harga saham serta potensinya di masa yang akan datang. Milis ini termasuk milis yang terbesar. Milis ini cukup aktif. Hal ini terlihat dari banyaknya pesan yang dituliskan, contohnya pada bulan Februari 2012 terdapat 3264 email. Menurut pra survey yang dilakukan, mereka telah memiliki cukup pengalaman dan nyaman berinvestasi dalam saham.
Kuesiner penelitian ini disebar melalui email dalam milis ini. Bartlett et al. (2001 : 48) telah mengembangkan tabel untuk menentukan tabel untuk menentukan ukuran sampel minimum yang returned (Table for determining minimum returned sample size) dengan memperhatikan tingkat kesalahan. Ukuran sampel tersebut bergantung pada ukuran populasi, jenis data, dan alpha. Untuk populasi antara 4000 sampai 10.000 orang, continuous data, dan alpha 5%, ukuran sampel minimal yang harus returned adalah 119 orang. Dengan demikian ditetapkan bahwa jumlah sampel adalah 119 orang. Ketika kuesioner dikirim via email, respon kuesioner diterima hingga mencapai kuota 119 orang.
Data penelitian ini adalah data primer yang bersifat cross section. Penelitian ini bersifat kausalitas. Analisis data akan menghasilkan kesimpulan umum untuk populasi sasaran.
Analisis data dilakukan dengan regresi logistik karena variabel dependen bersifat dikotomus sesuai penelitian Anbar dan Eker (2010 : 503 - 522). Regresi logistik akan menghasilkan persamaan untuk melihat pengaruh variabel independen terhadap probabilitas terjadinya kejadian, dalam hal ini financial risk tolerance. Nilai 1 menunjukkan financial risk tolerance yang tinggi, dan 0 selainnya. Tingkat kepercayaan yang digunakan adalah 95%, yang berarti bahwa alpha adalah 5%.
Persamaan, Pengukuran, dan Definisi Operasional
Persamaan regresi binary, fungsi distribusi logistik, dan model logistik yang digunakan untuk pengujian hipotesis satu adalah sebagai berikut :
Persamaan regresi binary :
Y1 = b0 + b1X1 + b2X2 + b3X3 + b4X4 + b5X5 Fungsi distribusi logistik:
Pi1 = 1 / [1 + exp (b0 + b1X1 + b2X2 b3X3 + b4X4 + b5X5)] Model logistik :
Ln [Pi1 / (1-Pi1)] = b0 + b1lnX1 + b2lnX2 + b3lnX3 + b4lnX4 + b5lnX5 Keterangan:
Pi1 = probabilitas atau peluang toleransi resiko b0 = konstanta atau intercept
b1 dan b5 = koefisien dari variabel independen X1 sampai X5 Alat analisis yang dalam hal ini SPSS akan mengolah regeresi binary menjadi model logistik sehingga perhitungan odds dapat dihitung dari logaritma naturalnya (Ghozali, 2005). Odds adalah probabilitas dibagi satu kurang probabilitas. Dengan demikian peluang meningkatnya toleransi resiko keuangan dapat diketahui.
Variabel penelitian dan definisi operasional :
Variabel dependen adalah status toleransi resikio keuangan yang merupakan variabel kategorikal. Nilainya adalah :
Y1 = 1 untuk toleransi di atas rata-rata = 0 selainnya
Variabel independen (Covariates) X1 = usia
X2 = gender
X3 = status perkawinan X4 = jumlah anak X5 = pendapatn
Y adalah Financial Risk Tolerance Y = 1 untuk financial risk tolerance = 0 selainnya
Mengukur tingkat toleransi resiko seseorang agak sulit karena ia merupakan keseimbangan dari berbagai komponen. Beberapa teknik pengukuran telah dikembangkan. Salah satunya
oleh Grable dan Lytton (1990). Pertanyaan yang dirancangnya telah beberapa kali diuji coba oleh para peneliti seperti (Adem dan Eker, 2010 : 503-522; Gilliam, Grable, and Hampton (2011 : 27 - 40), Gilliam, Chatterjee, and Grable (2010 : 30 – 83) ; serta Grable dan Schumm, 2010 : 117 – 131). Grable dan Schumm (2010 : 117 – 131) tersebut menguji reliabilitas dari alat ukur tersebut karena dalam literatur sebelumnya reliabilitas alat ukur ini belum dipublikasikan. Dengan berbagai pendekatan, hasilnya memang alat ukur tersebut reliable.
Pertanyaan untuk mengukur toleransi resiko tersebut berjumlah 13 yang dirancang untuk mengukur toleransi seseorang terhadap resiko investasi, resiko keuangan, dan resiko spekulatif. Skor untuk tiap jawaban telah ditentukan. Skor yang tinggi menunjukkan toleransi resiko yang tinggi, yaitu orang yang berani mengambil resiko. Sebaliknya skor yang rendah menunjukkan orang yang takut resiko (risk averse) (Gilliam et al., 2010 : 33). Setiap pertanyaan dalam kuesioner yang dikembangkan Grable dan Lyton (1990) tersebut telah memiliki skornya masing-masing. Kemudian skor tiap responden akan dijumlah. Bila nilainya di atas skor rata-rata maka akan diberi nilai 1, selainnya adalah nol (Anber dan Malek, 2010 : 511).
Usia dan pendapatan diukur dengan skala ordinal. Gender dinominalkan dengan 1 untuk laki-laki dan 2 untuk wanita. Demikian juga status perkawinan, 1 untuk yang sudah menikah dan 2 untuk yang belum. Usia diukur dengan skala rasio. Pendapatan diukur dengan skala ordinal.
Hasil Penelitian dan Pembahasan
a. Hasil Uji Statistik
Dari hasil statistika deskriptif terlihat gambaran responden. Secara umum dari nilai mean dapat diketahui bahwa usia investor dalam penelitian ini adalah remaja sampai dewasa kurang dari 40 tahun. Sebanyak 68.1% berjenis kelamin pria dan 31.9% wanita. Status menikah 49.6% dan yang belum menikah 50.4%. Sebanyak 58.8% responden belum memiliki anak; 10,1% memiliki 1 anak; 19,3% memiliki 2 anak, 10,1% memiliki 3 anak; dan ada orang atau 1.7% yang memiliki 4 anak. Penghasilan mayoritas adalah satu juta
rupiah sampai enam juta rupiah, yaitu sebanyak 79.8%, sedangkan sisanya mempunyai penghasilan di atas itu. Toleransi resiko dalam skala 1-4 menunjukkan bahwa 16% mempunyai skor toleransi resiko 2, 79,8% mempunyai skor 3, dan 4.2% mempunyai skor 4. Artinya secara rata-rata investor dalam penelitian ini takut resiko karena skornya rendah. Hasil uji statistik disajikan dalam tabel berikut ini:
Tabel 6.1. Hasil Regresi Logistik
Variabel Independen B Exp(B)
Usia -0.104 0.901 (0.698) Gender -0.590 0.554 (0.186) Status Perkawinan -0.277 0.758 (0.508) Jumlah anak 0.489 1.631 (0.007) Pendapatan 0.369 1.446 (0.025) Constant -0.535 0.586 (0.582) n 119 Chi-Square 11.860 Nagelkerke R Square 0.130
Hosmer and Lemeshow 0.132
Predicted Percentage Correct 70.6
Angka dalam kurung menunjukkan ρ value Sumber : Hasil olahan data penelitian, (2013) b. Penilaian Goodness of Fit Model
Penilaian model dalam regresi logistik dapat dilihat dari angka chi-Square serta tingkat signifikansinya, Negerkerke R2, Hosmer and Lemeshow test, Omnibus Test of Model Coefficient menunjukkan angka chi-Square sebesar 11.860. Dari tabel chi-Square dengan alpha 5% diperoleh angka 11.070. Dengan demikian chi-Square model lebih besar dari chi-Square tabel. Hal
ini menunjukkan bahwa penambahan variabel independen dalam model memperbaiki model fit. Angka signifikansi menunjukkan 0.037 yang lebih kecil daripada alpha 5%, artinya model telah fit dengan data. Dengan kata lain model dapat memprediksi nilai observasinya.
Untuk melihat seberapa besar variabilitas variabel dependen dapat dijelaskan oleh variabilitas variabel independent dapat dilihat dari angka Negelkerke R2. Dari output diperoleh angka Negelkerke R2 sebesar 0.130. Hal ini menunjukkan bahwa variabilitas toleransi resiko hanya mampu dijelaskan oleh variabilitas variabel independennya sebesar 13%.
Hosmer and Lemeshow Test menunjukkan tingkat
signifikansi sebesar 0.132. Angka yang lebih besar dari alpha 5% ini menunjukkan bahwa model mampu memprediksi nilai observasinya atau dapat dikatakan bahwa model dapat diterima karena cocok dengan data observasinya.
Classification Table menunjukkan angka predicted
Percentage correct sebesar 70.6. Angka ini menunjukkan bahwa ketepatan model ini adalah sebesar 70.6%. Variabel independen yang berpengaruh signifikan adalah jumlah anak (ρ value sebesar 0.007) dan pendapatan (ρ value sebesar 0.025). Jumlah anak menunjukkan beta 0.489 yang artinya berpengaruh positif. Pendapatan menunjukkan angka beta 0.369 yang artinya berpengaruh positif. Artinya untuk memprediksi probabilitas toleransi seseorang meningkat atau menurun dapat dilakukan dengan melihat jumlah anak serta penghasilannya. Angka Exp(B) atau odds ratio sebesar masing-masing sebesar 1.631 dan 1.446. Hal ini menunjukkan bahwa peningkatan jumlah anak akan meningkatkan probabilitas atau peluang peningkatan toleransi resiko sebesar 1.631 kali dan peningkatan 1 unit pendapatan akan meningkatkan probabilitas atau peluang peningkatan toleransi resiko sebesar 1.446 kali.
Pembahasan
Usia berpengaruh negatif dan tidak signifikan pada probabilitas toleransi resiko keuangan pada alpha 5%. Hal ini menunjukkan bahwa preferensi investor pasar modal yang
tergabung dalam mailing list yahoo.com untuk mengambil resiko keuangan tidak terkait dengan usia secara signifikan. Hasil ini tidak sejalan dengan Grable and Lytton (1998 : 64) yang mengatakan bahwa investor yang lebih tua memerlukan sedikit waktu untuk pulih dari potensi kerugian yang disebabkan oleh investasi yang beresiko.
Penelitian ini menunjukkan bahwa usia dewasa tidak menyebabkan toleransi resiko menurun secara signifikan. Ada investor muda yang memiliki toleransi tinggi, ada pula yang rendah. Demikian juga sebaliknya. Kedewasaan toleransi tidak dilihat dari usia biologis seseorang.
Gender ditemukan berpengaruh negatif dan tidak signifikan pada alpha 5% terhadap probabilitas toleransi resiko. Hal ini tidak mendukung temuan Anbar dan Eker (2010 : 507) yang mengatakan bahwa secara umum wanita lebih konservatif daripada pria serta Grable (2000 : 61), Grable dan Lytton (1998 : 68), Faff (2008 : 21) yang menemukan bahwa wanita lebih takut akan resiko daripada pria. Namun penelitian ini sesuai dengan Embrey dan Fox (1997 : 33) serta Grable dan Lytton (1999 : 7). Dari nilai rata-rata toleransi resiko pada skala 0 sampai 1 ditemukan bahwa toleransi resiko pria 0.395 dan wanita 0.316 namun perbedaan ini tidak signifikan secara statistik. Hal ini mengindikasikan kesetaraan gender dalam hal toleransi resiko.
Status perkawinan ditemukan berpengaruh negatif dan tidak signifikan terhadap probabilitas toleransi resiko pada alpha 5%. Investor yang belum menikah belum tentu lebih berani bersikap toleran terhadap resiko. Menurut teori, secara umum orang yang lajang lebih berani karena belum memilik tanggungan. Temuan ini juga tidak dapat menjelaskan Family Development Theory terkait toleransi resiko. Sebagaimana diketahui, terdapat berbagai tahap kehidupan (stages of life) dalam progresifitas keluarga. Transisi terbesar dalam hidup seseorang adalah ketika mereka memutuskan untuk menikah, yang melibatkan begitu banyak penyesuaian, yang bisa sangat radikal bentuknya, mulai dari kemantapan di dalam pekerjaan, kelahiran anak, pertumbuhan anak sampai usia remaja, anak-anak menginjak dewasa dan hidup mendiri, dan kemudian orang tua benar-benar tinggal berdua saja di
rumah. Penelitian ini menunjukkan bahwa status perkawinan tidak menyebabkan peningkatan atau penurunan tingkat toleransi resiko. Jumlah anak berpengaruh positif dan signifikan terhadap probabilitas financial risk tolerance pada 5%. Secara sederhana dapat dikatakan jumlah anak berpengaruh terhadap financial risk tolerance. Hal ini dapat dijelaskan oleh Family Development Theory. Ketika seseorang menjadi orang tua, harapan dan perilaku berubah. Demikian juga ketika jumlah anak semakin bertambah. Pertimbangan dalam pengambilan keputusan dapat berubah. Dalam penelitian ini terlihat bahwa seseorang semakin toleran terhadap resiko. Artinya ia semakin berani mengambil resiko untuk meningkatkan kesejahteraannya. Temuan ini sejalan dengan Faff (2008 : 21). Padahal orang yang memiliki anak mempunyai toleransi resiko yang lebih sedikit daripada yang tidak punya anak karena mereka memerlukan lebih banyak dana untuk mencukupi kebutuhan hidup dasar dan mengurangi pengeluaran untuk investasi beresiko (Chaulk et al.., 2003 : 260) dan ingin pengembalian yang tetap. Penelitian ini tidak sejalan dengan Riley dan Russon (1995 : 69) dan Chaulk et al. (2003 : 275) yang menemukan bahwa financial risk tolerance berkurang dengan meningkatnya jumlah anak.
Pendapatan berpengaruh positif dan signifikan terhadap financial risk tolerance. Hal ini dapat menjelaskan Prospect Theory, yaitu ketika individu membuat keputusan yang beresiko maka persepsi terhadap potensi untung dan rugi akan berhubungan dengan standar ekonomi (Kahneman dan Tversky, 1979 dalam Chaulk et al., 2003 : 260). Temuan ini menunjukkan bahwa pendapatan dan jumlah anak berpengaruh positif dan signifikan. Secara umum di masyarakat, standar ekonomi secara umum terkait dengan pendapatan dan juga jumlah anak.
Temuan terkait pengaruh pendapatan ini juga sejalan dengan Model Standard Utility Maximization yang mengatakan bahwa keberanian mengambil resiko terjadi bila tingkat kekayaan tinggi. Teori Hirarki Kebutuhan Maslow juga dapat dijelaskan hasil temuan ini. Jika sumber daya telah mencukupi, yang diindikasikan saat pendapatan tinggi, arah investasi yang lebih beresiko dengan potensi pertumbuhan yang lebih besar akan muncul. Pendapatan
yang tinggi dapat mengakumulasi kekayaan individu sehingga kebutuhan dasar sudah tercukupi sehingga seseorang dapat bergerak pada kebutuhan lain yang lebih beresiko.
Kesimpulan
Jumlah anak dan pendapatan ditemukan berpengaruh positif dan signifikan terhadap financial risk tolerance pada alpha 5%. Usia, gender, dan status perkawinan ditemukan berpengaruh negatif namun tidak signifikan. Model ini mampu menjelaskan variabilitas financial risk tolerance sebesar 13% dengan ketepatan klasifiukasi sebesar 63%.
Implikasi
Manajer investasi perlu mempertimbangkan jumlah anak dan pendapatan dalam membuat produk keuangan yang akan ditawarkan pada tipe investor tertentu. Demikian juga bagi perencana keuangan, untuk investor yang mempunyai sedikit anak dan penghasilan rendah, dapat direncanakan investasi resiko rendah, misalnya deposito, dan sebaliknya.
Alrock, Pamela L., 2003, The Survey Research Handbook : Third Edition : McGraw Hill Education.
Al-Tamimi Hussein A. Hassan, 2004, “Factors Influencing Individual Investor Behavior: An Empirical study of the UAE Financial Markets,” Associate Professor Department ofBusiness Administration College of Business and Management. United Arab Emirates: University of Sharjah, pp. 1-24
Anbar, Adem and Melek Eker,2010, An Empirical Investigation for Determining of theRelation Between Personal Financial Risk Tolerance and Demographic Characteristic, Age Academic Review, 10 (2): 503 – 522.
Anderson, A., Henker, J., and Owen,S. 2005. Limit Order Trading Behavior and Individual Investor Performance. The Journal of Behavioral Finance. 6(2) : 71-89.
Andreassen , Tor Walin, 1994, Satisfaction Loyalty and Reputation as Indicators of Customer Orientation in The Public Sector, International Journal of Public Sector Management, 7 (2). Badriyah, Laela, 2013, Ciri – ciri investasi Bodong : Iming- iming tak
berpotensi rugi. ( www.metrotvnews.com/metronews/.) Barber, B.M. and Odean, T. 2000. Trading is Hazardous to Your
Wealth: The Common Stock Investment Performance of Individual Investors. The Journal of Finance. 55 (2) : 773– 806.
Barberis, N. and Thaler, R. 2003. A survey of behavioral finance. In: Constantinides, Handbook of the Economics of Finance. Edition 1. Volume 1. NorthHolland. Amsterdam.
Barberis, N. and Odean T. 2001. Boys Will Be Boys : Gender, Overconfidence, And Common Stock Investment. The Quaterly Jurnal of Economics. 261-292.
Bartlett, J.E., Kotrlik J.W. dan C.C. Higgins. 2001. Organizational Research: Determining Appropriate Sample Size In Survey Research. Information Technology, Learning, and Performance Journal. 19(1) : 43-50.
Bartlett, James .E., Kortlik Joe W. and Chadwick C Higgins, 2001, Organizational Research : Determining Appropriate Sample Size in Survey Research. Information Technology, Learning, and Performance Journal, 9(1) : 43 – 50.
Bloemer, Josee, Ko de Ruyter, dan Pasca Peters. 1998. Investigating Drivers of Bank Loyalty: The Complex Relationship Between Image, Service Quality, and Satisfaction. International Journal of Bank Marketing. 17(7).
Brigham, Eugene F., and Phillip R. Daves, 2007, Intermediate Financial Management : Ninth Edition : Thomson – South Western.
Chaulk, Barbara., Phylis J. Johnson, and Richard Bulcroft, 2003, Effects of Mariage and Children on Financial Risk Tolerance : A Synthesis of Family Development and Prospect Theory, Journal of Family and Economic Issues, 24 (3): 257 – 279. Chen, Tser-Yieth. 1999. Critical Success Factors For Various
Strategies in The Banking Industry. International Journal Of Banking Marketing,17(2).
Copeland, Thomas E., J. Fred Weston., and Kuldeep Shastri, 2004, Financial Theory and Corporate Policy: International Edition : Prentice Hall.
Damodaran, 2011, Strategic Risk Taking, ebook www.pages.stern.nyu.edu/adamodar/pdfiles/valrisk.
DeBondt, W.F.M. and Thaler, R. 1985. Does The Stock Market Overreact?. Journal of Finance. 40 (3) : 793–805.
Devenow, Andrea dan Welch, Ivo. 1996. Rational Herding in Financial Economics. European Economic Review. 40 : 603-615.
Djumena, erlangga, 1 Maret 201 , “ ini daftar investasi Bodong yang sudah makan korban., kompas , 23 maret 2013. www. Bisnis keuangan. Kompas.com
Fachrudin, Khaira A., 2013, Analisis Pengaruh Faktor Demografi Dan Pendapatan Terhadap Financial Risk Tolerance. Proceeding S1-DIES Univ.Sumatera Utara, 664-674.
Ferdinand, Augusty, 2006, Metode Penelitian Manajemen : Edisi 2 : Badan Penerbit Universitas Diponegoro.
Ghozali, Imam, 2005, Aplikasi Analisis Multivariate dengan Program SPSS : Edisi 3 : Badan Penerbit Universitas Diponegoro. Ghozali, Imam. 2011. Aplikasi Multivariate Lanjutan Dengan
Program SPSS. Badan Penerbit Universitas Diponegoro. Semarang.
Gilliam, John E., and Swan Chatterjee, 2011, The Influence of Birth Order Financial Risk Tolerance, Journal of Business dan Economics Research, 9(4): 43-50.
Gilliam, John E., John E Grable, and Vickie L Hampton, 2011, The Impact of Decision Power on Financial Risk Tolerance and Assets Allocation, Journal of Business and Economics Research, 9(5):27 – 40.
Gilliam, John., Swarn Chatterjee, and John Grable, 2010, Measuring the Perception of Financial Risk Tolerance : a Tale of Two Measures, Journal of Financial Counseling and Planning, 21(2): 30-83.
Grable, J. and Lytton, R.H., 1998, Investor Risk Tolerance : Testing the Efficacy of Demographics as Differentiating and Classifying Factors, Financial Counseling and Planning, 9(1): 61-73.
Grable, John E. and Walter Schumm,2010, An Estimate of the Reliability of the Survey of Consumer Finance Risk Tolerance Question, Journal of Personal Finance, (9):117 – 131.
Kahneman, D. and Tversky, A. 1979. Prospect theory: an analysis of decision-making under risk. Journal of Econometrica. 47 (2) : 263–291.
Kotler,Phillip, Amstrong,Gary. 2008. Prinsip-Prinsip Pemasaran. Penerbit Erlangga
Kumar Alok, 200 , “Dynamic Style Preferences of Individual Investors and Stock Return”, Journal of Financial dan Quantitative Analysis
Lai, M. 2001. Are Malaysian Investors Rational?. Journal of Psychology and Financial Markets. 2 (4) : 210–215.
Laksana, Fajar. 2008. Manajemen Pemasaran. Pendekatan Praktis. Yogyakarta, Penerbit Graha Ilmu