• Tidak ada hasil yang ditemukan

Dr. Muhammad Solihin di dalam bukunya Terapi Sufistik, menyebutkan ada 6 model terapi yaitu:45

a. Terapi Client Centered. Terapi jenis ini menaruh kepercayaan dan meminta tanggung jawab yang lebih besar kepada klien dalam menanggulangi masalah-masalahnya.

b. Terapi Realitas. Yaitu terapi jangka pendek yang berfokus pada saat sekarang, menekankan kekuatan pribadi dan pada dasarnya merupakan jalan agar para klien dapat belajar bertingkah laku yang lebih realistik sehingga dapat mencapai keberhasilan.

c. Terapi Relaksasi. Terapi jenis ini diberikan kepada orang yang mudah disugesti. Terapi model ini umumnya dilakukan oleh seorang terapis yang ahli dalam bidang hipnotis. Dengan terapi sugesti ini klien diarahkan untuk dapat melakukan relaksasi.

d. Terapi Perilaku. Yaitu terapi yang bermaksud agar klien berubah baik sikap maupun perilakunya terhadap objek atau situasi yang menakutkan. Secara bertahap, klien dilatih dan dibimbing menghadapi berbagai objek atau situasi yang menimbulkan panik atau phobik. Pelatihan ini dilakukan berulang-ulang sampai pada akhirnya klien dapat melakukannya tanpa bantuan dari orang lain. Sudah tentu

43

J.P Chaplin, penerjemah Kartini Kartono, Kamus Lengkap Psikologi, (Jakarta: Rajawali Press, 1981), cet. Ke-1, h. 198.

44

M.A. Subandi, Psikoterapi, (Yogyakarta: Pustaka Pelajar, 2001), cet.ke-1, h. 9.

45

xxxvii

latihan perilaku ini didahului dengan pemberian psioterapi untuk memperkuat kepercayaan diri.

e. Terapi Keagamaan. Terapi keagamaan adalah terapi yang dilakukan dengan menggunakan pendekatan keagamaan seperti menggunakan ayat-ayat suci al-Qur’an, hadits Nabi dan pemikiran-pemikiran keislaman yang secara implisit mengandung terapi. Adapula yang menggunakan dzikir dan do’a-do’a tertentu yang pada intinya memohon kepada Allah agar diberi ketenangan hati. Dengan terapi jenis ini diharapkan seseorang dapat terbebas dari rasa cemas, tegang, depresi dan lain-lain.

f. Terapi Holistik. Terapi holistik adalah terapi yang mencakup keseluruhan aspek manusia, dalam artian bahwa terapi dilakukan tidak hanya melalui obat-obatan semata, atau hanya ditujukan pada aspek-aspek kejiwaan akan tetapi mencakup aspek-aspek lain seperti organobilogy, psikologi, psikososial, psikoritual dan lain sebagainya, sehingga klien dapat diobati secara menyeluruh. Pada intinya terapi holistik ini adalah bentuk terapi yang memandang keseluruhan aspek pada klien.

Konseling dan Ruang Lingkupnya Pengertian Konseling

Secara etimologis istilah konseling berasal dari bahasa latin, yaitu “consillium” yang berarti “dengan” atau “bersama” yang dirangkai dengan “menerima” atau “memahami”. Kata ini berarti perundingan, pertimbangan atau musyawarah.46

Selanjutnya konseling didefinisikan sebagai pemberian bantuan yang bersifat permissif (memberi kelonggaran), personalisasi dan individualisasi dalam upaya mengembangkan skill untuk mengembangkan atau meraih kembali pemahaman dan pengarahan terhadap dirinya sendiri yang menerangi kehidupan sosialnya.47

Counseling, berbeda dengan membimbing atau memberi nasehat, yang banyak digunakan dalam counseling adalah wawancara untuk

46

Prayitno, Dasar-dasar Bimbingan dan Konseling, (Jakarta: Rineke Cipta, 1994), h. 99.

47

M. Arifin, Teori-teori Konseling Agama dan Umum, (Jakarta: PT. Golden Terayan Press, 1996), h. 96.

xxxviii

mendapatkan sesuatu yang diharapkan dan diinginkan dari yang diwawancarai (klien), sehingga counseling di sini dapat disebut terjadinya komunikasi antarpribadi. (relationship).48

Konseling merupakan proses pemberian bantuan yang dilakukan melalui wawancara konseling oleh seorang ahli (konselor) kepada individu yang mengalami sesuatu masalah (klien), yang bermuara pada teratasinya masalah yang dihadapi klien. Istilah ini pertama kali digunakan oleh Frank Parsons di tahun 1908 saat ia melakukan konseling karier. Selanjutnya juga diadopsi oleh Carl Rogers yang kemudian mengembangkan pendekatan terapi yang berpusat pada klien (client centered).49

Ada pula yang mengatakan konseling ialah proses pemberian informasi obyektif dan lengkap, dilakukan secara sistematik dengan paduan ketrampilan komunikasi interpersonal, teknik bimbingan dan penguasaan pengetahuan klinik bertujuan untuk membantu seseorang mengenali kondisinya saat ini, masalah yang sedang dihadapi dan menentukan jalan keluar/ upaya untuk mengatasi masalah tersebut.50

Tujuan Konseling

Adapun beberapa statemen tujuan konseling yang sering dipakai oleh beberapa pakar, dikemukakan oleh Shertzer dan Stone, yang disadur singkat dalam: Perubahan tingkah laku (behavioral change), kesehatan mental positif (positive mental health), pemecahan masalah (problem resolution), keefektifan pribadi (personal efectiveness), dan pembuatan

48

Abu Bakar Baraja, Psikologi Konseling dan Teknik Konseling, (Jakarta: Studia Press, 2006), cet. Ke-2, h. 1.

49

http://www.wikipedia.co.id, artikel diakses pada 07 Oktober 2008.

50

Saifuddin, “pengertian konseling,” artikel diakses pada 07 Oktober 2008 dari http://www.google.com.

xxxix

keputusan (decision making).51 Penyajian berikut ini dimulai dengan yang berkecenderungan afektif, lalu yang lebih kognitif, dan terakhir yang behavioristik.

a. Kesehatan Mental Positif

Konselor yang berkecondongan afektif menyatakan bahwa pemeliharaan atau mendapatkan mental sehat merupakan tujuan konseling. Jika mental sehat dicapai maka individu memiliki integrasi, penyesuaian dan identifikasi positif terhadap orang lain. Di sini individu belajar menerima tanggung jawab, jadi mandiri, dan mencapai integrasi tingkah laku.

b. Keefektifan Pribadi

Tujuan konseling yang erat hubungannya dengan kesehatan mental, berorientasi afektif, dan agak condong ke orientasi kognitif adalah “keefektifan pribadi”. “Pengertian pribadi efektif menurut Blocher, yang diadaptasikan di sini, adalah:

1) Pribadi yang tampak menyelaraskan diri dengan cita-cita, memanfaatkan waktu dan tenaga dan bersedia mengambil tanggung jawab ekonomi, psikologis, dan fisik.

2) Orang yang punya pribadi demikian tampak mempunyai kemampuan (kompetensi) mengenal, merumuskan dan memecahkan masalah-masalah.

3) Orang demikian itu tampak relatif ajeg (konsisten) dalam menjalani situasi khusus peranannya.

4) Orang demikian itu menampak dapat berpikir lain dan asli, yaitu secara kreatif.

5) Orang demikian itu mampu mengontrol dorongan-dorongan (impuls) dan melakukan respons yang tepat terhadap frustasi, permusuhan dan pertentangan.” 52

c. Pembuatan Keputusan

51

Andi Mappiare, Pengantar Konseling dan Psikoterapi, (Jakarta: PT RajaGrafindo Persada, 2006), h.46.

52

xl

Para konselor yang condong pada orientasi kognitif, sedikit masih ada unsur afektifnya, menyatakan tujuan konseling sebagai pembuatan keputusan mengenai hal-hal genting bagi seseorang konseli. Dalam hal ini, konselor tidaklah menetapkan keputusan-keputusan yang akan dibuat konseli, ataupun memilihkan cara alternatif bagi tindakan konseli. Konseli harus tahu mengapa dan bagaimana ia membuat keputusan.

Dengan demikian, di sini konseling membantu individu mengkaji apa yang perlu dipilih, belajar membuat alternatif-alternatif pilihan, dan selanjutnya menentukan pilihan sehingga pada masa depan ia dapat mendiri membuat keputusan.

d. Perubahan Tingkah Laku

Inilah pernyataan tujuan konseling yang paling banyak dipakai orang akhir-akhir ini. Para pakar konseling ada yang memadukan antara tujuan-tujuan berkenaan dengan perubahan struktur pribadi sampai pada perubahan perilaku tampak, ada yang ketat terpaku hanya pada perubahan perilaku tampak saja.

Seperti yang diungkapkan oleh Shertzer dan Stone53 menyatakan bahwa perubahan tingkah laku sebagai suatu tujuan konseling mungkin terbatas khusus seperti perubahan respon khusus terhadap frustasi ataupun perubahan-perubahan sikap terhadap orang lain atau terhadap diri sendiri.

53

xli Metode dan Teknik Konseling

Metode lazim diartikan dengan cara untuk mendekati masalah sehingga diperoleh hasil yang memuaskan, sementara teknik merupakan penerapan metode tersebut dalam praktek.54

Lebih lanjut Aunur Rahim Faqih mengemukakan bahwa ada dua metode konseling dan tekniknya, yaitu:55

a. Metode Langsung

1) Individual, yaitu pembimbing melakukan komunikasi langsung secara individual dengan pihak yang dibimbingnya. Tekniknya dengan percakapan pribadi, home visit (kunjungan ke rumah) serta kunjungan dan observasi kerja.

2) Kelompok, yaitu melakukan komunikasi langsung dengan klien dalam kelompok. Tekniknya dengan diskusi kelompok, karyawisata, sosiodrama dan group teaching. b. Metode Tidak Langsung

1) Individual, yaitu melakukan komunikasi secara individual melalui media massa. Tekniknya dengan surat menyurat, telepon, dan lain-lain.

2) Kelompok, yaitu melakukan komunikasi secara kelompok melalui media massa. Tekniknya dengan papan bimbingan, surat kabar/majalah, brosur, radio dan televisi. Faktor-faktor yang Mempengaruhi Keberhasilan Konseling

a. Faktor Individual

54

Aunur Rahim Faqih, Bimbingan dan Konseling dalam Islam, (Yogyakarta: UII Press, 2001), h. 53.

55

xlii

Orientasi cultural (keterikatan budaya) merupakan faktor individual yang dibawa seseorang dalam melakukan interaksi. Orientasi ini merupakan gabungan dari:

1) Faktor Fisik

Kepekaan panca indera pasien yang diberi konseling akan sangat mempengaruhi kemampuan dalam menangkap informasi yang disampaikan konselor. 2) Sudut Pandang

Nilai-nilai yang diyakini oleh pasien sebagai hasil olah pikirannya terhadap budaya dan pendidikan akan mempengaruhi pemahamannya tentang materi yang dikonselingkan.

3) Kondisi Sosial

Status sosial dan keadaan disekitar pasien akan memberikan pengaruh dalam memahami materi.

4) Bahasa

Kesamaan bahasa yang digunakan dalam proses konseling juga akan mempengaruhi pemahaman pasien. b. Faktor Situasional

Percakapan dipengaruhi oleh kondisi lingkungan, situasi percakapan kesehatan antara konselor dan klien akan berbeda dengan situasi percakapan antara polisi dengan pelanggar lalu lintas.

xliii

Agar efektif, suatu interaksi harus menunjukkan perilaku kompeten dari kedua pihak. Keadaan yang dapat menyebabkan putusnya komunikasi adalah:

a) Kegagalan menyampaikan informasi penting. b) Perpindahan topik bicara yang tidak lancar. c) Salah pengertian.56

56

xliv BAB III

Dokumen terkait