• Tidak ada hasil yang ditemukan

2.7 Mempersiapkan1Input1ArcSWAT

2.8.4. Debil Puncak Limpasan (Peak Runoff Rate)

2.8.4.4. Modifikasi Rumus Rasional1

αtc, min = = = ... (2-45) dimana1besarnya1αtc1adalah1tconc / 24 ≤ αtc ≤ 1,0

AVSWAT1memperkirakan1fraksi1dari1curah1hujan yang terjadi1dalam1waktu kosentrasi1tertentu1sebagai1fungsi1fraksi1dari1curah hujan harian dengan waktu setengah jam dari itensitas hujan1maksimumnya :

αtc = 1 - exp[2 . tconc . ln(1 – α0.5)] ... (2-46) dimana :

tconc = Fraksi curah hujan harian selama waktu setengah jam dari intensitas hujan tertingginya.

α0.5 = Waktu kosentrasi di sub DAS (jam) 1

2.8.4.4. Modifikasi Rumus Rasional1

Modifikasi1rumus1rasional1digunakan1untuk1memperkirakan1besarnya1debit puncak1limpasan, 1didapatkan1dengan1menggunakan1rumus : 1

qpeak = ... (2-47) dimana :

qpeak = Debit1puncak1limpasan11 (peak runoff rate) 1 (m3/dt) 1

α

tc = Fraksi1curah1hujan1harian1yang1terjadi1selama1waktu1kosentrasinya1 Area = Luas1wilayah1sub1DAS11 (km2)

tconc = Waktu1kosentrasi1di1sub1DAS11 (jam) 3.6 = Faktor1konversi

Qsurf = Kedalaman1hujan berlebih1 (accumulated runoff/rainfall excess) (mm) 2.8.5. Metode perhitungan besarnya erosi

Untuk11memperhitungkan1besarnya 1erosi1  menggunakan  metode1  MUSLE (ModifiedUniversal Soil Loss Equation). Metode MUSLE merupakan modifikasi dari USLE (Universal Soil Loss Equation) yang dikembangkan oleh Williams (1995)

Modified1Universal1Soil1Loss Equation1 (Wiliams, 1995) adalah1sebagai1berikut (SWAT1Theoretical1Documentation12009, 120121: 1252) 1:

dimana1:

sed = hasil1sedimen1per1hari (ton)

Qsurf = volume1aliran1limpasan1permukaan (mm/ha) qpeak = debit1puncak1limpasan1 (peak runoff rate) (m3/dtk) areahru = luas1hru1 (hydrologic response unit) (ha)

KUSLE = faktor1erodibilitas1tanah USLE

CUSLE = faktor (pengelolaan) cara bercocok1tanam USLE PUSLE = faktor praktek konservasi1tanah1 (cara mekanik) USLE LSUSLE = faktor1topografi1USLE1

CFRG = faktor1pecahan1batuan1kasar 2.8.5.1.Faktor1Erodibilitas1Tanah1

K adalah1faktor1erodibilitas1tanah1untuk1horizon1tanah1tertentu, 1dan merupakan kehilangan1tanah1per1satuan1luas1untuk1indeks1erosivitas1tertentu. Faktor erodibilitas tanah (K) menunjukkan1resistensi partikel1tanah1terhadap pengelupasan1dan1transportasi partikel-partikel1tanah tersebut1oleh1adanya1energi1kinetik air1hujan. Meskipun besarnya resistensi1tersebut1tergantung1pada1topografi, kemiringan lereng, dan1besarnya gangguan oleh manusia, besarnya1erodibilitas atau resistensi1tanah juga1ditentukan oleh karakteristik tanah1seperti1tekstur tanah, stabilitas1agregat tanah, kapasitas1infiltrasi, dan kandungan1organik1dan1kimia1tanah. Karakteristik1tanah1tersebut bersifat1dinamis, selalu1berubah, oleh1karenanya, karakteristik1tanah1dapat1berubah1seiring dengan perubahan1waktu1dan1tata guna lahan1atau sistem1pertanaman. Dengan1demikian, angka erodibilitas1tanah juga akan1berubah. Perubahan1erodibilitas1tanah1yang signifikan berlangsung ketika1terjadi1hujan1karena1pada1waktu tersebut1partikel-partikel1tanah tersebut mengalami1perubahan1orientasi dan karakteristik1bahan1kimia1dan fisika tanah (Asdak, 2004.p.360).

Beberapa1usaha telah1dilaksanakan1untuk1membuat model1hubungan fungsional sederhana antara besarnya erodibilitas suatu jenis tanah dengan karakteristik tanah yang bersangkutan. Wischmeier et al. (1971)  1mengembangkan1persamaan matematis yang menghubungkan1karakteristik1tanah dengan1tingkat erodibilitas1tanah sebagai berikut (SWAT Theoretical Documentation 2000, 2002 : 217 dalam Suhartanto, 2008,p.41) :

dimana :

KUSLE = faktor1erodibilitas1tanah USLE

M = persentase1ukuran1partikel (% debu + pasir sangat halus) (100% liat) OM = persen1unsur1organik

csoilstr = kode1klasifikasi struskturvtanah (granular, platy, massive, dll) cperm = kelas1permeabilitas1tanah

Perhitungan M dapat1dirumuskan1sebagai1berikut :

... (2-50) dimana :

msilt = persentase1debu (silt) (diameter partikel 0.002-0.05 mm) mvfs = persentase1pasir sangat halus (very fine sand)

(diameter partikel 0.05-0.10 mm)

mc = persentase1liat (clay) 1 (diameter1partikel < 0.0021mm) OM dapat1dihitung1dengan1persamaan1sebagai1berikut :

... (2-51) dimana :

orgC = persentase1karbon1organik

Selanjutnya1dengan data1sifat1tanah tersebut, Wischmeier (1971) mengembangkan nomograph1erodibilitas1 seperti pada Gambar 2.12. untuk1menduga1indeks erodibilitas tanah. Untuk dapat menggunakan1nomograph erodibilitas1tanah, maka diperlukan pengamatan struktur dan sifat fisik tanah1yang lain. Untuk keperluan ini struktur tanah diamati di lapang berdasarkan1bentuk dan ukurannya, kemudian dibedakan menjadi 4 kelas.

Gambar 2.12. Nomograph1untuk pendugaan erodibilitas1tanah, K. Sumber : Utomo (1994,p.51)

Pembagian1kelas1tanah1berdasarkan1kriteria ukuran1partikel1tanahnya1dapat berbeda-beda sesuai1dengan struktur tanahnya, ringkasannya dapat dilihat pada Tabel 2.13. Sifat tanah yang lain, dalam hal ini presentase debu, pasir halus, pasir kasar serta kandungan1bahan organik1dan permeabilitas1ditentukan1di1laboratorium. 1Selanjutnya permeabilitas digolongkan menjadi enam kelas, mulai dari sangat lambat sampai cepat, seperti yang dicantumkan pada Tabel 2.14.

Tabel 2.13.

Klasifikasi Struktur Tanah

Kelas Keterangan

1 2 3 4

Granuler1sangat1halus (very fine granular) Granuler1halus (fine1granular)

Granuler1sedang-kasar (medium1or coarse granular)

Massif kubus, lempeng (blocky, platy, prismlike or massive) Sumber : Utomo (1994,p.50)

Tabel 2.14.

Klasifikasi Ukuran1Partikel1Struktur Tanah Klasifikasi

Ukuran

Bentuk1Struktur

Platy Prismatic1danColumnar Blocky Granular Very1fine Fine < 1 mm 1-2 mm < 10 mm 10-20 mm < 5 mm 5-10 mm < 11mm 1-21mm

Medium Coarse Very coarse 2-5 mm 5-10 mm > 10 mm 20-50 mm 50-1001mm > 100 mm 10-20 mm 20-50 mm > 501mm 2-51mm 5-10 mm > 101mm Sumber : SWAT Theoretical Documentation 2009(2002,p.215)

Tabel 2.15.

Klasifikasi Permeabilitas

Kelas Keterangan Permeabilitas1 (cm/jam)(Utomo, 1987) Permeabilitas1 (mm/jam)(SWAT 2000, 2003) 1 2 3 4 5 6 Cepat1 Agak1cepat Sedang Agak1lambat Lambat Sangat1lambat > 12,5 6,25 – 12,5 2,00 – 6,25 0,50 – 2,00 0,125 – 0,50 < 0,125 > 150 50-150 15-50 5-15 1-5 < 1

Sumber : Utomo, 11987: 76 (SWAT1Theoretical1Documentation 2000, (2002,p.219) dalam Suhartanto, ( 2008,p.43))

Di Indonesia, 1beberapa1peneliti1juga1telah1mencoba1untuk menggunakan nomograph1erodibilitas1untuk menduga1indeks erodibilitas1tanah (a.l. Ambar1dan Syarifuddin, 1979; Utomo dan Mahmud, 1983). Bols (1979) dan Utomo (1985) mengadakan1pengukuran1indeks1erodibilitas tanah1di DAS Brantas1dengan percobaan lapang dan kemudian1membandingkannya1dengan hasil1pendugaan nomograph erodibilitas. Hasil yang diperoleh seperti yang dicantumkan pada Tabel 2.16., menunjukkan bahwa hasil yang diperoleh dengan kedua metode tersebut tidak banyak berbeda. Ambar dan Wiresum (1980) telah mencoba menghubungkan beberapa nilai1indeks erodibilitas yang diperoleh dari beberapa metode. Ambar1dan1Wiresum1mengukur1erodibilitas

dengan1tes1dinamik1pada1infiltrasi1dan1stabilitas1agregat1dan faktor erodibilitas K. Utomo1mengemukakan1bahwa1dengan erosivitas1yang tinggi, seperti1halnya di Indonesia, maka1dengan klasifikasi yang1dibuat Dangler dan1El-Swaifi (1976) akan diperoleh erosi nyata1yang sangat besar variasinya di dalam satu kelas erodibilitas. Disamping itu Utomo (1985) juga mengamati1hasil1pengukuran erodibilitas tanah yang dilakukan oleh peneliti-peneliti di Indonesia yang pada umumnya nilai indeks erosibilitas, K, tertinggi1masih dibawah K = 0,4 dengan1sebagian besar K= 0,2-0,3 (Tabel 2.7.). Oleh karena itu Utomo (1985) mengusulkan1 klasifikasi1erodibilitas1tanah di Indonesia.

Tabel 2.16.

Hasil Pengamatan1Indeks1Erodibilitas1Tanah1di Beberapa1Daerah di Indonesia dengan Percobaan1Lapang1dan1Nomograph1Erodibilitas

Percobaan1Lapang Nomograph

Andosol,Lembang1 0.161 0.141 Bols, 11979

Latosol, Dramaga1 0.02 - 0.04 0.041

Latosol, Citaman1 0.1351 0.121

Podsolik, Jonggol1 0.131 0.151

Mediteran merah, Punung 0.171 0.141

Mediteran merah, Putat 0.251 0.151

Grumosol, Jegu1 0.24 - 0.31 0.241

Litosol, Sentolo1 0.18 - 0.19 0.191

Regosol, Wajak1 0.291 0.261 Utomo, 1985

Latosol, Dampit1 0.161 0.191

Andosol, Batu1 0.071 0.121

Mediteran, Pajaran 0.321 0.311

Kambisol, Ngantang1 0.131 0.161

Sumber : Utomo dalam Erosi dan Konservasi Tanah (1994,p.52)

2.8.5.2. Faktor Pengelolaan Tanaman (Cover and Management Factor) (C)

Faktor1C1menunjukkan1keseluruhan1pengaruh1dari1vegetasi, 1seresah, 1kondisi permukaan tanah, 1dan1pengelolaan1lahan1terhadap1besarnya1tanah yang hilang (erosi). Oleh karenanya, besarnya1angka C tidak1selalu sama1dalam1kurun1waktu1satu tahun. Meskipun kedudukan C dalam1persamaan1USLE1ditentukan1sebagai1faktor1independen, nilai sebenarnya dari faktor1C ini kemungkinan1besar1tergantung pada faktor-faktor lain yang1termasuk1dalam1persamaan1USLE.

Tabel 2.17.

Perkiraan1Besarnya1Nilai1K pada1Beberapa1Tanah1di Jawa

Tanah Nilai K Sumber

Regosol, Jatiluhur1 0.23 - 0.31 Ambar1dan1Syarifuddin, 1979

Litosol, Jatiluhur1 0.16 - 0.29

Latosol merah, Jatiluhur1 0.12

Latosol merah kuning1 0.26 - 0.31

Latosol coklat1 0.31

Grumosol, Jatiluhur 0.21

Gley Humic, Jatiluhur1 0.2

Hidromorf kelabu 0.2

Mediteran, Yogyakarta1 0.26 Kurnia1dan1Sujarwo, 1977

Grumosol, Yogyakarta 0.24 - 0.31

Mediteran, Caruban 0.21 - 0.32 PSLH_Unibraw, 1984

Grumosol, Caruban1 0.26

Andosol, Batu1 0.08 - 0.1

Andosol, Pujon1 0.04 - 0.1

Cambisol, Pujon 0.12 - 0.16

Mediteran, Ngantang 0.20 - 0.30

Litosol, Malang selatan 0.26 - 0.30 Regosol, Malang selatan1 0.16 - 0.28 Cambisol, Malang Selatan 0.17 - 0.3

Mediteran, Dampit1 0.21 - 0.3

Latosol, Malang Selatan 0.14 - 0.20

Sumber : Utomo dalam Erosi dan Konservasi Tanah (1994,p.54)

Faktor1C1yang1merupakan1salah satu1parameter dalam rumus USLE saat ini telah dimodifikasi1untuk1dapat1dimanfaatkan1untuk menentukan besarnya erosi di daerah berhutan atau lahan dengan dominasi vegetasi berkayu. Sembilan parameter telah ditentukan sebagai faktor yang1berpengaruh1dalam1menentukan1besarnya1erosi di daerah bervegetasi kayu tersebut. Kesembilan unsur tersebut adalah konsolidasi tanah, sisa-sisa tanaman, tajuk vegetasi, 1sistem perakaran, 1efek1sisa perakaran1dari kegiatan pengelolaan lahan, faktor kontur, kekasaran permukaan tanah, 1gulma dan1rumput-rumputan1 (Asdak, 2004,p.372).

Vegetasi1yang tumbuh1pada suatu1lahan dapat bervariasi sesuai dengan pola tata tanam dan masa pertumbuhan tanaman, sehingga SWAT1 merubah CUSLE dengan persamaan sebagai1berikut (Suhartanto, 2008,p.44) :

...(2-52) dengan :

= nilai1minimum1faktor pengelolaan1tanaman

= jumlah1residue1 (mulsa, sisa-sisa tanaman) 1di permukaan tanah (kg/ha)

Nilai minimum1faktor1pengelolaan1tanaman1dapat1dihitung1dari1nilai rata-rata tahunan faktor C dengan1menggunakan persamaan (Arnold and Williams, 1995) :

...(2-53) dimana :

  =  nilai rata-rata tahunan faktor C

Pada Tabel 2.18. di bawah ini ditunjukkan beberapa nilai C yang diperoleh dari hasil penelitian yang dilakukan oleh Wischmeier dan Arnoldus yang dimodifikasi oleh Boediono (1982) dan1disarankan1oleh1Soelistyari1 (1986) 1untuk1digunakan pada keseluruhan pola tanam.

2.8.5.3.Faktor1Pengelolaan1dan1Konservasi1Tanah1 (Support1Practice1Factor) (P)

Pengaruh1aktivitas1pengelolaan1dan1konservasi1tanah (P) 1terhadap besarnya erosi dianggap1berbeda dari1pengaruh1yang1ditimbulkan oleh aktivitas pengelolaan tanaman (C), oleh karenanya, dalam rumus USLE faktor P tersebut1dipisahkan1dari1faktor C. Tingkat erosi yang terjadi sebagai akibat pengaruh aktivitas pengelolaan dan konservasi tanah (P) bervariasi, 1terutama1tergantung1pada1kemiringan lereng.

Faktor P adalah nisbah antara tanah tererosi rata-rata dari lahan yang mendapat perlakuan konservasi tertentu terhadap tanah tererosi rata-rata dari lahan yang diolah tanpa tindakan konservasi, dengan catatan faktor-faktor penyebab erosi yang lain diasumsikan tidak berubah. Praktek bercocok tanam yang kondusif terhadap penurunan kecepatan limpasan permukaan dan yang memberikan kecenderungan bagi limpasan permukaan untuk mengalir langsung ke tempat yang lebih rendah dapat memperkecil nilai P.

Di ladang1pertanian, 1besarnya1harga1faktor1P1menunjukkan1jenis1aktivitas pengolahan tanah (pencangkulan dan persiapan tanah lainnya). Dalam pemakaian di bidang konstruksi, besarnya1P1menunjukkan1kekasaran1permukaan1tanah sebagai akibat cara kerja traktor dan mesin-mesin pertanian lainnya. Besarnya faktor P yang telah berhasil ditentukan berdasarkan penelitian di Pulau Jawa adalah seperti pada Tabel 2.19.

Tabel 2.18.

Nilai C untuk1Berbagai1Jenis1Tanaman1dan Pengelolaan Tanaman

No Jenis Tanaman Nilai C

1 Lahan tanpa tanaman 1.000

2 Hutan :

a. tak terganggu1 0.001

b. tanpa tanaman bawah 0.130

c. tanpa tanaman bawah dan serasah1 0.500

3 Semak :

a. tak terganggu1 0.010

b. sebagian berumput 0.100

4 Kebun1

b. kebun1 0.070

c. pekarangan 0.200

5 Perkebunan1

a. penutupan tanah sempurna1 0.100

b. ditumbuhi alang-alang1 0.020

c. pembakaran alang-alang setahun sekali 0.060

d. jenis serai (citronella grass) 0.650

e. savana dan padang rumput 0.010

f. rumput Brochioria1 0.002 6 Tanaman pertanian1 a. umbian bakar1 0.630 b. biji-bijian1 0.510 c. kacang-kacangan 0.360 d. tembakau1 0.580 e. kapas, tembakau 0.500 f. campuran1 0.430 g. padi irigasi 0.020 7 Perladangan:

a. satu tahun tanam, satu tahun bero1 0.280

b. satu tahun tanam, dua tahun bero 0.190

8 Pertanian dengan pencagaran tanah

a. Mulsa jerami1 0.06 - 0.20

b. Mulsa kacang tanah 0.20 - 0.40

c. strip1 0.10 - 0.30

d. strip Crotalaria 0.640

e. teras1 0.040

f. teras guludan 0.140

Sumber : Utomo dalam Erosi dan Konservasi1Tanah (1994,p.151)

Tabel 2.19.

Nilai faktor P pada1Berbagai1Aktivitas Konservasi Tanah di Jawa

Teknik Konservasi Tanah Nilai P

Teras Bangku :

a. baik1 0,20

b. jelek1 0,35

Teras bangku : jagung-ubi kayu/kedelai1 0,06

Teras bangku : sorghum-sorghum1 0,02

Teras tradisional1 0,40

Teras gulud : padi-jagung1 0,01

Teras gulud : jagung-kacang + mulsa sisa tanaman1 0,01

Teras gulud : kacang kedelai1 0,11

Tanaman dalam kontur :

a. kemiringan 0-8 %1 0,50

b. kemiringan 9-20 %1 0,75

c. kemiringan >20 %1 0,90

Tanaman dlm. jalur-jalur : jagung-kacang tanah + mulsa1 0,05 Mulsa limbah jerami : 1

a. 6 ton/ha/tahun1 0,30

b. 3 ton/ha/tahun1 0,50

c. 1 ton/ha/tahun1 0,80

Tanaman perkebunan :

a. disertai penutup tanah rapat 1 0,10

b. disertai penutup tanah sedang1 0,50

Padang rumput : 1

a. baik1 0,04

b. jelek1 0,40

Sumber : Abdurachman dalam Asdak (2004,p.375)

2.8.5.4.Faktor Topografi Panjang Lereng (L) 1dan1Kemiringan Lereng (S)

Faktor1indeks1topografi L1dan S, 1masing-masing1mewakili pengaruh panjang dan kemiringan lereng terhadap1besarnya erosi. Panjang lereng1mengacu1pada aliran air permukaan, yaitu lokasi1berlangsungnya erosi dan kemungkinan1terjadinya deposisi sedimen. Pada umumnya, kemiringan1lereng diperlakukan1sebagai faktor yang seragam.

Besarnya nilai LS1 (faktor topografi) dihitung1dengan menggunakan1rumus (SWAT Theoretical Documentation 2000, 2002 : 222 dalam Suhartanto, 2008,p.46) : ...(2-54) dengan :

  = panjang1lereng (m) m = syarat1eksponensial

= sudut1lereng

Syarat eksponensial1m1dihitung dengan :

dengan :

slp = kemiringan1lereng1HRU1 (Hydrologic Response Unit) =

2.8.5.5. Faktor1Pecahan1Batu Kasar (Coarse1Fragment Factor)

Faktor1pecahan batuan kasar1ini dihitung1dengan persamaan1sebagi berikut (SWAT Theoretical Documentation 2000, 2002:220 dalam1Suhartanto, 2008:47) :

CFRG = exp (-0,053 . rock)... (2-56) dengan :

rock = persentase1batuan1pada lapisan tanah.

2.8.6. Hasil1Sedimen1 (Sediment Yield)

Sedimen1merupakan1hasil proses erosi, 1baik berupa erosi permukaan, erosi parit, atau jenis erosi tanah lainnya. Sedimen umumnya1mengendap di bagian bawah kaki bukit, di daerah genangan banjir, di saluran air, sungai, dan waduk.

Hasil1sedimen1tergantung1pada1besarnya erosi total1di DAS/sub-DAS1dan tergantung1pada1transpor1partikel-partikel1tanah1yang tererosi1tersebut keluar dari daerah tangkapan1air DAS/sub-DAS. Produksi1sedimen1umumnya1mengacu1kepada besarnya laju sedimen1yang mengalir1melewati satu1titik pengamatan1tertentu dalam suatu sistem DAS. Besarnya hasil sedimen biasanya bervariasi mengikuti karakteristik fisik DAS/sub-DAS1 (Asdak, 2004,p.404).

2.8.6.1.Transportasi1Sedimen

Besarnya1transpor sedimen dalam aliran sungai merupakan fungsi dari suplai sedimen dan energi aliran sungai (stream energy).

Williams1 (1980) mengembangkan1sebuah metode untuk menentukan degradasi sebagai fungsi dari kemiringan saluran dan kecepatan, 1dimana1metode1tersebut didefinisikan dari metode energi aliran sungai Bagnold (1977). Dimana besarnya suplai sedimen merupakan fungsi dari kecepatan aliran puncak, dengan persamaan sebagai berikut (SWAT Theoretical Documentation 2000, 2002 : 368 dalam Suhartanto, 2008,p.47) :

... (2-57) dengan :

= debit aliran1puncak (m3/dtk) = Luas1saluran (m2)

Debit aliran1puncak1didefinisikan dengan1persamaan sebagai berikut :

... (2-58) dengan :

= peak1rate1adjustment factor = debit aliran1rata-rata (m3/dtk)

Sehingga1konsentrasi1maksimum1sedimen1yang dapat1diangkut dihitung dengan rumus : ... (2-59) dengan :

= konsentrasi1maksimum1sedimen1yang1terangkut1 (ton/m3 atau kg/L) = koefisien1

= nilai eksponen1 (dalam 1kondisi normal bervariasi1antara 1,0-2,0, sedangkan1di1dalam1persamaan1energi aliran sungai Bagnold bernilai 1,5) Jika konsentrasi1sedimen di dalam sungai1pada1suatu1waktu1adalah concsed,ch,i, dan terjadi kondisi concsed,ch,i > concsed,ch,mx maka deposisi sedimen merupakan proses yang dominan1terjadi1pada1waktu1dan1section di sungai tersebut, 1dan berat1bersih deposisi sedimen1dapat dihitung1dengan persamaan1sebagai berikut :

... (2-60) dengan :

= total1sedimen1yang1terdeposisi di sungai (ton) = Volume1air1di section1sungai (m3)

Jika concsed,ch,i < concsed,ch,mx, maka akan terjadi proses degradasi di segment sungai tersebut, dimana1berat bersih1total1sedimen1dari1proses1degradasi1dihitung1dengan persamaan1sebagai berikut :

... (2-61) dimana :

= total sedimen hasil1degradasi di sungai (ton) 1 = faktor1erodibilitas saluran1 (cm/jam/Pa) 1 = faktor1penutup1saluran1

Setelah1memperhitungkan1total1deposisi1dan1degradasi1sedimen di sungai, maka total sedimen yang ada1di sungai1tersebut dapat dihitung dengan persamaan :

... (2-62) dengan :

= total1sedimen1melayang1di sungai (ton)

= total sedimen1melayang di sungai pada permulaan periode waktu (ton) = total1sedimen1yang terdeposisi di setiap1section sungai (ton)

= total1sedimen hasil degradasi1di setiap section sungai (ton)

Untuk1total1sedimen yang terangkut1keluar1dari sungai tersebut ditentukan dengan persamaan sebagai berikut :

... (2-62) dengan :

= total sedimen1yang1terangkut1keluar sungai (ton)

= volume1outflow1selama waktu1konsentrasinya1 (m3) = volume1air1di section sungai1tersebut1 (m3)

52

Dokumen terkait