Berdasarkan temuan-temuan yang ditemukan melalui hasil analisis buku-buku di atas, maka dapat ditarik simpulan bahwa materi dalam buku-buku tersebut menggunakan modus berpikir sirkuler atau melingkar yang umumnya digunakan oleh masyarakat Indonesia. Modus berpikir ini tampak dari penyajian materi dalam buku pelajaran Bahasa Indonesia. Penulis memaparkan materi pelajaran yang dimulai dari pemaparan hal-hal yang bersifat sederhana menuju ke hal-hal yang bersifat lebih kompleks. Temuan ini tampak dari adanya penyajian materi yang dimulai dengan apersepsi yang menyinggung pengalaman belajar dan pengetahuan awal yang telah dimiliki siswa mengenai materi ajar yang sudah dikuasainya sebelum siswa diajak mempelajari materi ajar lanjutan dari materi sebelumnya yang bersifat sekuler. Temuan ini tampak pada baik buku teks SD, SMP, maupun SMA. Berikut contoh sajian materi ajar yang menggunakan modus berpikir sekuler.
“Ada beberapa hal yang perlu dikuasai pada saat berpidato, di antaranya sebagain berikut.
a. Intonasi
Intonasi di sini mencakup tempo, jeda, dan tekanan suara. Tekanan berhubungan dengan keras atau lemahnya suatu kata dan frase yang diucapkan.
b. Lafal
Lafal merupakan cara mengucapkan kata-kata secara jelas, enak, dan mudah didengar sesuai dengan makna yang terkandung dalam kata-kata yang
diucapkan.
c. Volume Suara
Dalam berpidato pakailah volume suara yang keras dan besar, sehingga suara akan terasa berbobot, mantap, dan berwibawa.
d. Sikap Pidato
1) Berpidato dengan rendah hati dan tidak mengunggulkan kelebihan diri sendiri.
.... (TP, h.104).”
“Ada berbagai macam cara berpidato, yaitu membaca naskah,
menghafalkan naskah, menggunakan kerangka pidato, dan tanpa naskah. Pada pelajaran ini, kamu akan belajar berpidato dengan membaca naskah.
Pada pelajaran sebelumnya, kamu sudah belajar menyusun naskah pidato. Naskah pidato tersebut harus dibacakan dengan intonasi yang tepat agar menarik perhatian orang yang mendengarkannya.
Kamu mungkin pernah mendengarkan seseorang yang berpidato. Ada yang berpidato dengan menarik, ada pula yang tidak. Agar kamu dapat berpidato dengan baik, bacalah dan pahami naskah pidato dengan baik. Persiapan yang baik sebelum berpidato akan mengurangi rasa gugupmu ketika berpidato sehingga kamu pun dapat berpidato dengan baik.
Hal-hal yang harus diperhatikan ketika berpidato menggunakan naskah adalah sebagai berikut.
1. Sebelum berpidato, bacalah naskah untuk memahami isinya.
2. Mengetahui hal-hal penting (tujuan, nama acara, dan undangan yang hadir) dalam naskah.
3. Ketika berpidato, gunakan intonasi yang tepat.
4. Pandangan mata jangan selalu terarah pada naskah. Sesekali mata diarahkan pada hadirin (TK, h.74-75).”
Penyampaian informasi seperti pada TP yang disampaikan secara langsung dapat dikategorikan sebagai modus berpikir linier, sedangkan gaya penyampaian seperti pada TK yang disampaikan secara tidak langsung dapat dikategorikan ke dalam modus berpikir sirkuler atau melingkar. Modus berpikir sirkuler atau melingkar ini lebih mudah dipahami oleh siswa karena sebelum masuk ke materi/ide pokok, siswa atau pembaca disuguhi ilustrasi-ilustrasi yang mampu menarik perhatian siswa untuk memokuskan pikiran. Berbeda halnya dengan penyampaian informasi secara langsung seperti TP yang mengakibatkan siswa merasa bahwa teks yang dibaca hanya bersifat hapalan karena
disampaikan tanpa adanya ilustrasi atau penjelasan yang dapat memberikan imajinasi kepada siswa.
BAB IV
PENUTUP
4.1 Simpulan
Dari temuan dan pembahasan pada bab III, dapat ditarik kesimpulan bahwa untuk buku orang Indonesia sebaiknya memerhatikan hal-hal berikut ini.
(1) Kosa kata yang tepat digunakan dalam meyajikan sebuah buku adalah kosa kata yang sesuai dengan psikologi pembaca, baik berhubungan dengan usia, tingkat kesulitan pemahaman, maupun perkembangan kognitif pembaca. Pemilihan kosakata (diksi) yang tepat dan sesuai dengan keadaan dan tingkat psikologi pendidikan pembaca akan mempermudah proses pemahaman. Semakin diterima sajian kosa kata dalam sebuah buku, maka akan semakin mudah pembaca untuk memahaminya. Demikian juga sebaliknya, semakin sulit sajian kosakata dalam sebuah buku, maka akan semakin sulit pembaca memahami uraian buku tersebut. (2) Konstruksi kalimat apabila dikaji pada tataran panjang pendeknya kalimat
memperlihatkan bahwa semakin panjang sebuah kalimat yang ada pada suatu buku khususnya buku pelajaran maka pembaca akan cenderung mengalami kesulitan untuk memahaminya. Demikian pula sebaliknya, semakin pendek sajian kalimat dalam suatu buku khususnya buku pelajaran maka pembaca akan
cenderung lebih memahami sajian dalam buku tersebut.
(3) Konstruksi materi apabila dikaji pada tataran kelengkapan struktur kalimat memperlihatkan bahwa semakin lengkap struktur kalimat yang disajikan dalam sebuah buku khususnya buku pelajaran, pembaca cenderung akan lebih mudah melakukan pemahaman terhadap materi-materi yang ada di dalam buku tersebut. Struktur kalimat lengkap (minimal terdapat unsur S dan P) lebih mudah dipahami daripada kalimat tanpa S atau tanpa P.
(4) Konstruksi materi apabila ditinjau dari tataran penyampaian ide memperlihatkan bahwa ide-ide yang disampaikan dengan kalimat-kalimat runtut lebih mudah dipahami. Ketepatan penyampaian ide yang disampaikan oleh penulis buku sangat
menentukan keberhasilan pembaca dalam memahami uraian materi yang terdapat pada buku tersebut.
(5) Modus berpikir yang digunakan dalam pola pikir masyarakat di Indonesia adalah modus berpikir sirkuler atau melingkar. Modus berpikir sirkuler atau melingkar merupakan modus berpikir yang dimulai dari hal-hal yang sederhana menuju ke hal-hal yang lebih bersifat kompleks. Buku-buku yang ditulis oleh orang
Indonesia cenderung mengajak para pembacanya untuk menjalankan pola pikir sirkuler (melingkar). Orang Indonesia lebih mudah memahami teks yang menggunakan modus berpikir sirkuler.
4.2 Saran
Berdasarkan temuan dan pembahasan di atas, kami dapat menyampaikan beberapa saran antara lain sebagai berikut.
(a) Penulis buku khususnya mata pelajaran Bahasa dan Sastra Indonesia harus memperhatikan rambu-rambu penulisan buku yang digunakan dan mudah dipahami masyarakat Indonesia yakni dengan menggunakan modus berpikir sirkuler atau melingkar.
(b) Penulis buku khususnya mata pelajaran Bahasa dan Sastra Indonesia harus memperhatikan penggunaan kalimat yang sederhana namun efektif, struktur kalimat yang lengkap, dan ide yang disajikan secara baik.
(c) Penerapan Linguistik Terapan dan Linguistik Edukasional dalam proses belajar mengajar khususnya dalam penyusunan buku pelajaran akan mampu membuat peserta didik untuk lebih mudah mempelajari bahasa yang disesuaikan dengan tingkat kognitif dan perkembangan psikologisnya.