Keputusan Menteri Keuangan Nomor 30/KMK.01/2007 tentang Reformasi Birokrasi di Lingkungan Departemen Keuangan. Ini menjadi satu tahapan lagi dalam Reformasi Keuangan di Kementerian Keuangan karena sejak saat itu, secara legal formal kegiatan Reformasi Birokrasi Kementerian Keuangan diinisiasi.
BAB 3
S
epanjang tahun 2007, kata “reformasi birokrasi” acap bergaung. Di antaranya dalam pidato kenegaraan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono pada 16 Agustus 2007.Presiden menyebutkan, keberhasilan pembangunan sangat ditentukan oleh kualitas tata pemerintahan serta efektivitas dan kinerja birokrasinya. “Oleh karena itu, untuk meningkatkan kinerja birokrasi dan menciptakan tata kelola yang bersih dan baik (good and clean governance), pemerintah melaksanakan reformasi birokrasi secara bertahap dan terencana. Reformasi birokrasi, mencakup perbaikan yang seimbang antara sistem kerja, pengukuran kinerja, dan penerapan disiplin dan remunerasi,”
tutur Presiden.
Lebih lanjut, Presiden menyebutkan, langkah awal reformasi birokrasi ini telah dimulai oleh Kementerian Keuangan, Kementerian Negara Pendayagunaan Aparatur Negara, Mahkamah Agung, dan Badan Pemeriksa Keuangan.
Dalam Rencana Pembangunan Jangka Menengah 2004–
2009, Reformasi Birokrasi menjadi salah satu program pemerintah yang sangat krusial dan harus segera dilaksanakan.
Sementara itu, di lingkungan Kemenkeu, seperti diutarakan Menteri Keuangan Sri Mulyani, Reformasi Birokrasi merupakan konsekuensi logis dari reformasi kebijakan di bidang keuangan negara yang termanifestasi dalam UU Nomor 17 Tahun 2003 Tentang Keuangan Negara; UU Nomor 1 Tahun 2004 Tentang Perbendaharaan Negara; dan UU Nomor 15 Tahun 2004 Tentang
Pemeriksaan Pengelolaan dan Tanggung Jawab Keuangan Negara. “Dalam konteks ini, Kementerian Keuangan memperoleh kepercayaan untuk menjadi pilot project program reformasi birokrasi,” ujar Sri Mulyani.
Saat menyusun paket UU tentang keuangan tersebut, seperti diutarakan Mulia P Nasution, disadari bahwa reformasi yang dilakukan tidak cukup hanya dari aspek legal. “Keberhasilan UU yang baru ini harus ditopang oleh birokrasi, yaitu organisasi, business process, yang sesuai UU. Dan juga yang sangat penting itu, didukung oleh SDM yang profesional, bersih, dan berwibawa,”
tutur Mulia.
Melalui dinamika sepanjang tahun 2007, reformasi birokrasi di Kemenkeu menjadi program yang secara formal memiliki dasar pijakan yang kuat dan didukung kekuatan-kekuatan politik di Indonesia. Proses formalisasi dan legalisasi reformasi birokrasi diawali pada Rapat Kerja Komisi XI DPR-RI dengan Menteri Keuangan pada 12 Juli 2007. Pembahasan lebih mendalam dilakukan pada rapat kerja berikutnya, pada 11 September 2007, dengan agenda melanjutkan pembahasan seputar reformasi birokrasi dan sistem remunerasi Kementerian Keuangan.
Rapat yang dihadiri oleh 50 anggota Komisi XI DPR-RI dan Menteri Keuangan Sri Mulyani beserta jajarannya menghasilkan kesimpulan bahwa Komisi XI DPR-RI pada prinsipnya dapat memahami dan menyetujui langkah-langkah kebijakan dan tujuan dari reformasi birokrasi, termasuk remunerasi di Kementerian
Keberhasilan uu yang baru ini harus ditopang oleh birokrasi, yaitu organisasi, business process, yang sesuai uu. Dan juga yang sangat penting itu,
didukung oleh SDM yang profesional, bersih, dan berwibawa
Keuangan. Untuk itu, Komisi XI DPR-RI meminta agar dalam pelaksanaannya, penerapan prinsip reformasi birokrasi pada semua jenjang jabatan dapat benar-benar diterapkan dalam rangka peningkatan kinerja Kementerian Keuangan, termasuk peningkatan mutu pelayanan publik.
Untuk mewujudkan hal itu, Mulia yang kala itu menjabat sebagai Sekretaris Jenderal Kemenkeu, mengatakan, dibentuk tim cikal bakal Tim Reformasi Birokrasi (TRB) pada tingkat pusat di Kementerian Keuangan. Tim inilah yang menyusun berbagai langkah yang dituangkan ke dalam dokumen, yang kemudian disampaikan Menteri Keuangan kepada Komisi XI DPR-RI sebagai rencana kerja.
Mulia menjelaskan, tim inti disusun terdiri atas para pejabat sebagai agents of change dari seluruh unit eselon I di lingkungan Kemenkeu. “Di masing-masing unit eselon juga ada tim reformasi yang kami yakini ‘tersesat di jalan yang benar’,” paparnya.
Hal itu, menurut Mulia, karena dalam suatu sistem yang pada masa lalu cukup permisif, sulit sekali bagi seorang pegawai pemerintahan untuk benar-benar taat peraturan dan melakukan pelayanan. “Bisa dikatakan masa itu sudah selesai. Tim ini harus benar-benar bisa menggerakkan teman-teman di masing-masing eselon I untuk berubah,” ujarnya.
Perjuangan meyakinkan para wakil rakyat di DPR bukanlah hal yang mudah. Menteri Keuangan beserta tim harus benar-benar mempersiapkan semua bahan yang dibutuhkan untuk menjawab pertanyaan yang diajukan Komisi XI. Misalnya saja, seperti dikisahkan Marwanto Harjowiryono yang kala itu ditunjuk sebagai Kepala Pelaksana Harian (Kalakhar) Tim Reformasi Birokrasi Kementerian Keuangan, muncul pertanyaan terkait proses bisnis.
Namun, hal tersebut sudah diantisipasi tim yang secara tertib telah menyusun berbagai uraian jabatan (urjab) dan standard operating procedures (SOP) di Kemenkeu. Tidak tanggung-tanggung, untuk meyakinkan DPR bahwa proses bisnis di
Kemenkeu telah berubah, tim membawa hard copy Urjab dan SOP sebanyak tiga troli. “Orang-orang pada kaget, padahal itu baru sebagian kecil. Itu upaya kami untuk menunjukkan bahwa kami berada on the right track,” tutur Marwanto.
Dapat dimaklumi, opini yang berkembang saat itu seperti banyak diberitakan di media massa, reformasi birokrasi
“bertujuan” meningkatkan remunerasi. Pada 2006, misalnya,
sempat ramai diberitakan terkait kenaikan gaji pejabat Kementerian Keuangan sebesar 400 persen.
Tak pelak, hal ini menjadi sorotan dan sasaran kritik.
Seperti ditegaskan oleh Mulia pada pegawai Kemenkeu,
“Remunerasi ini jangan dianggap take it for granted, diberikan tanpa dikaitkan dengan yang sudah dikerjakan. Kalau kerjanya baik, akan mendapatkan THP yang besar, tunjangan meningkat.
Kalau tidak berprestasi, tunjangan dikurangi,” paparnya. Singkatnya, meningkatnya remunerasi adalah konsekuensi logis sebagai hasil dari kinerja birokrasi yang meningkat setelah direformasi.