• Tidak ada hasil yang ditemukan

1.6. Kebaruan Penelitian

2.1.2 Morfologi S serrata

Bentuk badan kepiting secara umum adalah badan yang pendek dengan abdomen yang tereduksi. Badan yang pendek diakibatkan oleh fusi antara kepala dan toraks membentuk cefalotoraks dan ditutupi oleh karapas. Sedangkan

abdomen tereduksi menjadi tipis, rata dan terlipat di bawah cefalotoraks, karena itu kepiting dinamakan brachyura atau ekor pendek (Garth & Abbott 1980). Tabel 1 Karakteristik jenis kepiting bakau (Scylla spp.) menurut Keenan

et al. (1998).

No Jenis Pola poligon dan warna

Ciri morfologis/faktor pembeda

1 Scylla serrata Pola poligon dan warna

Duri pada dahi Duri pada bagian luar cheliped

Chela dan kaki-kakinya memiliki pola poligon yang sempurna untuk kedua jenis kelamin dan pada abdomen betina. Warna bervariasi dari unggu, hijau sampai hitam kecoklatan. Tinggi, sempit, dan agak tumpul, dasar

cekungan (lembah) diantara dua duri membulat. Sepasang duri tajam pada carpus dan. dua duri tajam pada propodus di bagian tepi atas, di belakang dactilus.

2 Scylla

tranquebarica

Pola poligon dan warna

Duri pada dahi Duri pada bagian luar cheliped

Chela dan dua pasang kaki jalan pertama berpola poligon samar-samar, serta dua pasang kaki yang lain mempunyai pola yang lebih jelas. Pola poligon bervariasi terdapat pada abdomen betina dan tidak ada pada abdomen jantan. Warna bervariasi mirip dengan S. serrata. Duri pada dahi agak tinggi, tumpul, dan lembah antara dua duri membulat.

Sepasang duri tajam pada carpus dan. dua duri tajam pada propodus di bagian tepi atas, di belakang dactilus.

3 Scylla

paramamosain

Pola poligon dan warna

Duri pada dahi

Duri pada bagian luar cheliped

Chela dan kaki-kakinya berpola poligon yang samar-samar untuk kedua jenis kelamin. Warna bervariasi dari ungu, hijau sampai coklat kehitaman tergantung habitat.

Agak tinggi, berbentuk segitiga dengan tepian yang bergaris lurus dan lembah antara dua duri berbentuk siku (2 duri tengah lebih tinggi). Pada dewasa tidak ada duri pada bagian luar carpus, tetapi dengan 1 duri tumpul kecil (pada juvenile) dan propodus mempunyai sepasang duri agak tajam berukuran sedang pada bagian tepi atas, di belakang dactylus, diikuti dengan gerigi ke arah posterior..

4 Scylla Olivaceae

Pola poligon dan warna

Duri pada dahi Duri pada bagian luar cheliped

Chela dan kaki-kakinya tanpa pola poligon yang jelas untuk kedua jenis kelamin. Warna

bervariasi dari oranye kemerahan, coklat sampai coklat kehitaman tergantung habitat.

Rendah, membulat dengan lembah yang dangkal diantaranya.

Umumnya pada dewasa tidak ada duri pada carpus (pada betina ada**), tetapi dengan 1 duri kecil tumpul pada tepi luar (pada juvenile). Sedangkan propodus dengan sepasang duri tumpul di bagian atas belakang dactylus, dimana juvenile dan kepiting muda berduri, duri bagian dalam lebih besar daripada nyang luar.

Kepiting bakau ditutupi oleh karapas yaitu kulit yang terdiri atas khitin bercampur bahan kapur yang telah mengeras. Karapas berbentuk bulat pipih, dilengkapi dengan sembilan duri pada sisi kiri dan kanan. Empat duri yang lain terdapat diantara kedua matanya. Mempunyai sepasang kaki jalan yang bentuknya besar disebut capit yang berfungsi untuk memegang, tiga pasang kaki jalan dan sepasang kaki renang berbentuk bulat telur dan pipih seperti alat pendayung (Motoh dalamKarim 1998 ).

Untuk membedakan kepiting jantan dan betina dapat dilakukan dengan mengamati ruas-ruas abdomennya. Kepiting jantan ruas abdomennya sempit, sedangkan pada betina lebih besar. Perut kepiting betina berbentuk lonceng (stupa) sedangkan jantan berbentuk tugu. Perbedaan lain adalah pleopod yang terletak dibawah abdomen, dimana pada kepiting jantan yaitu pleopod berfungsi sebagai alat kopulasi, sedangkan pada betina sebagai tempat melekatnya telur (Moosa et al. 1985).

Ciri-ciri umum dari genus Scylla adalah memiliki karapas berbentuk menyerupai segi enam, agak bulat atau oval, ukuran chela kanan lebih panjang daripada chela kiri, pasangan kaki terakhir berbentuk pipih dan diadaptasikan untuk berenang, sisi anteroteral karapas berduri sembilan buah dengan ukuran yang hampir sama, jarak antar ruang rongga mata (orbital) luas, bagian depan

Gambar 2 Kepiting betina dan kepiting jantan. A. S. serrata betina dewasa kelamin B. S. serrata jantan moulting Foto: Phelan & Grubert (2007)

mempunyai enam buah duri, serta memiliki ruas propodus cheliped yang menggembung.

Pasangan kaki pejalan yang terakhir (pleopod V) berbentuk memipih pada ruas terakhirnya (propodus dan daktilus). Capit (pleopod I) mempunyai bagian propodus menggembung dengan permukaan yang licin (Gambar 3).

Selanjutnya Siahainenia (2008) yang memodifikasi dari Keenan (1998) menambahkan bahwa kriteria klasifikasi S. serrata dewasa adalah warna bervariasi dari ungu sampai hijau dan coklat kehitaman. Pola poligonal terlihat jelas pada hampir semua bagian tubuh. Duri pada bagian dahi karapas lebar, tinggi dan agak tumpul, berbentuk segitiga. Empat duri yang di tengah berukuran panjang hampir sama sehingga terlihat rata. Terdapat dua duri yang tajam pada propodus dan dua duri yang tajam pada carpus.

Gambar 3 Morfologi Scylla serrata. Foto: Pratiwi & Wijaya (2010)

Berbagai jenis krustasea hidup di mangrove menggali tanah sampai permukaan air sebagai adaptasi terhadap pasang surut perairan dan juga terhadap predator. Jenis-jenis Portunidae seperti S. serrata dapat menggali lubang hingga 5 meter keluar dari sisi tebing sungai masuk ke mangrove. Lubang yang digali bervariasi fungsinya, bergantung pada spesiesnya, yaitu sebagai tempat menghindar dari predator, tempat menampung air, sumber bahan pakan organik, sebagai rumah atau daerah teritorial dalam berpasangan dan kawin, tempat

karapas  kaki jalan I 

kaki jalan II  kaki jalan III 

basis  ischium  kaki renang  daktilus  propondus  karpus  merus  mata  antene 

pertahanan, dan tempat mengerami telur atau anaknya. Dengan adanya kaki perenang (menyerupai dayung), jenis S. serrata memiliki kemampuan berenang yang cepat yang bertujuan untuk proteksi diri dari predator dan menangkap mangsa (Kasry 1996). Pada saat larva, jenis S. serrata dan kebanyakan jenis kepiting lainnya hidup sebagai plankton, berenang-renang bebas, terbawa arus, dan setelah dewasa hidup di dasar perairan .

Kepiting bakau dewasa merupakan salah satu dari biota yang hidup pada kisaran kadar garam yang luas (euryhaline) dan memiliki kapasitas untuk menyesuaikan diri (adaptasi) yang cukup tinggi. Kepiting bakau juga memiliki kemampuan untuk bergerak dan beradaptasi pada daerah teresterial serta pada tambak yang cukup tersedia cukup pakan bagi kelangsungan hidupnya. Kemampuan tersebut berbeda dengan organisme lain, karena kepiting bakau memiliki vaskularisasi dinding ruang insang untuk memudahkan menyesuaikan diri dengan habitatnya.

2.1.3 Daur hidup Scylla serrata

Scylla serrata merupakan jenis biota yang melakukan ruaya selama daur hidupnya, sehingga pada setiap tahapan hidupnya S. serrata menempati habitat yang berbeda sesuai dengan kebutuhan hidupnya. Organisme, jarang yang secara acak menyebar di sepanjang lingkungan (Condit et al.; Bertnes et al.; dalam Webley et al. 2009). Pada hewan, distribusi yang tidak acak ini dibangkitkan oleh mekanisme pilihan tempat tinggal. Kematian, merupakan salah satu mekanisme yang mungkin terjadi. Hewan yang rekruit secara acak, dan sebagian mati di tempat yang tidak nyaman, namun akan bertahan hidup di tempat lain akan menyebar secara tidak acak dan berasosiasi dengan habitat yang sesuai (Crowe & Underwood dalam Webley 2009). Pemahaman akan biologi S. serrata dan ekologi lingkungannya diperlukan agar dapat mengelola sumberdaya S. serrata dengan benar.

Pada kondisi lingkungan yang memungkinkan, kepiting dapat bertahan hidup hingga mencapai umur 3-4 tahun dan mencapai ukuran lebar karapas maksimum lebih dari 200 mm (Perrine; Heasman dalam Bonine et al. 2008). Scylla serrata betina matang pada ukuran lebar karapas antara 80-120 mm (Hill;

A B

Heasman et al. dalam Bonine et al. 2008). Sedangkan S. serrata jantan matang secara fisiologis ketika lebar karapas berukuran 90-110 mm, namun tidak cukup berhasil bersaing untuk pemijahan sebelum dewasa secara morfologis (yaitu dari ukuran capit) dengan lebar karapas 140-160 mm (Perrine; Heasman dalam Bonine et al. 2008). Scylla serrata menunjukkan sifat seksualitas dimorfisme, dimana kepiting jantan cenderung menjadi lebih berat dibanding kepiting betina pada lebar karapas yang sama (Chakrabarti dalam Bonine et al. 2008; Siahainenia 2008).

Di wilayah tropis, reproduksi S. serrata berlangsung sepanjang tahun, dengan puncaknya pada musim hujan (Le Vay 2001). Scylla serrata melangsungkan perkawinan di perairan mangrove dan secara berangsur-angsur sesuai dengan perkembangan telurnya, kepiting betina akan beruaya (berenang) ke laut dan memijah, sementara kepiting jantan tetap di perairan hutan bakau atau muara sungai (Hill 1975). Kasry (1996) menyatakan bahwa kepiting betina yang telah beruaya ke perairan laut akan berusaha mencari perairan yang kondisinya cocok untuk tempat melakukan pemijahan, khususnya terhadap suhu dan salinitas air laut. Peristiwa pemijahan S. serrata terjadi pada periode bulan-bulan tertentu, terutama awal tahun. Jarak yang ditempuh dalam beruaya untuk memijah tidak lebih dari satu kilometer ke arah laut menjauhi pantai.

Motoh (1979) menyatakan bahwa perkembangan kepiting bakau S. serrata mulai dari telur hingga mencapai dewasa mengalami beberapa tingkat perkembangan, yaitu: stadia zoea, stadia megalopa, stadia kepiting muda (juvenil), dan stadia kepiting dewasa.

Sekitar 12 hari setelah pemijahan, telur menetas, dan melalui fase larva yang disebut dengan zoea, yaitu sebagai larva tingkat I (Zoea I) dan terus menerus berganti kulit, sambil terbawa arus perairan pantai, hingga mencapai Zoea V. Proses ini memerlukan waktu minimal 18 hari (Warner 1977).Kemudian berganti kulit menjadi megalopa yang bentuk tubuhnya sudah mirip dengan kepiting dewasa kecuali masih memiliki bagian ekor yang panjang. Tahap megalopa berlangsung antara 7-9 hari (Phelan & Grubert 2007).

Pada tingkat megalopa ini, kepiting mulai beruaya pada dasar perairan berlumpur menuju perairan pantai, dan biasanya pertama kali memasuki perairan

muara sungai, kemudian ke perairan berhutan bakau untuk kembali melangsungkan perkawinan (Gambar 4). Secara ringkas siklus hidup kepiting bakau S. serrata menurut Afrianto & Liviawaty (1993) dapat digambarkan dalam diagram sebagai berikut:

Pembuahan Telur Larva Zoea

Kepiting Kepiting Megalopa

dewasa muda

Gambar 4 Diagram siklus hidup kepiting bakau.

Untuk menjadi kepiting dewasa, zoea membutuhkan pergantian kulit kurang lebih sebanyak 20 kali. Proses pergantian kulit pada zoea berlangsung relatif cepat, yaitu sekitar 3-4 hari tergantung pada kemampuan tubuhnya. Pergantian kulit tersebut juga tergantung pada faktor umur, pakan dan habitat. Pada tingkat zoea terjadi ± 5 kali pergantian kulit untuk menjadi megalopa (Afrianto & Liviawaty 1993).

Setelah megalopa berganti kulit, maka kepiting akan memasuki fase kepiting muda. Kepiting betina muda sudah dapat melangsungkan perkawinan pada tingkat kepiting muda ke-16 (setelah 16 kali berganti kulit dalam fase kepiting muda). Umur kepiting diperkirakan 1 tahun dengan lebar karapas lebih kurang 99 mm (Phelan & Grubert 2007).

2.1.4 Karakter dewasa kelamin

Siahainenia (2008) menyatakan, dewasa kelamin adalah tingkat dalam siklus hidup kepiting bakau dimana alat-alat reproduksi telah berkembang secara baik dan siap melakukan proses reproduksi. Untuk tujuan pengelolaan populasi ataupun untuk tujuan budidaya kepiting bakau perlu diketahui secara pasti status dewasa kelamin kepiting bakau mengingat ketika memasuki masa reproduksi yang diawali dengan proses perkawinan, kepiting bakau harus telah mencapai tingkat dewasa kelamin. Warner (1977) menyatakan pada tingkat dewasa kelamin, kepiting bakau jantan telah menghasilkan sperma dan siap melakukan stimulasi untuk merangsang kepiting bakau betina melakukan ganti kulit (moulting) agar

proses kopulasi dapat berlangsung serta mampu melakukan proses kopulasi dengan cara memasukkan pleopodnya ke bukaan kelamin dan mentransfer spermatophore (kantong berisi sperma) ke dalam wadah sperma (spermatheca) yang terdapat pada tubuh kepiting bakau betina. Ketika mencapai tingkat dewasa kelamin kepiting bakau betina telah siap melepaskan traktan kimiawi (pheromon) untuk menarik perhatian jantan juga telah siap menerima sperma untuk kemudian disimpannya di dalam spermatheca, serta menghasilkan telur-telur untuk dipijahkan, dibuahi dan ditetaskan. Jadi ketika kepiting bakau mencapai tingkat dewasa kelamin, semua organ yang berkaitan dan mendukung urutan aktifitas reproduksi harus telah siap untuk digunakan, dengan demikian akan terjadi perubahan morfologi tubuh yang menyertai perkembangan kepiting bakau ke arah tingkat dewasa kelamin.

Tutup abdomen kepiting bakau jantan dewasa kelamin mudah dibuka sebaliknya tutup abdomen pada kepiting bakau jantan pradewasa kelamin sulit dibuka. Hal ini disebabkan karena tutup abdomen kepiting bakau jantan dewasa kelamin dihubungkan pada thorachic sternum melalui sepasang otot yang lentur sebaliknya tutup abdomen pada kepiting bakau jantan pradewasa kelamin menempel sangat rapat pada thorachic sternum melalui sepasang pengait yang terdapat pada ruas dada (thorachic) ke-enam. Selain itu ada thorachic sternum dari kepiting bakau jantan dewasa kelamin terutama pada bagian ujung atas terlihat adanya pigmentasi yang kuat yang membentuk warna kuning kecoklatan sebaliknya pada jantan pradewasa kelamin pigmentasi pada bagian ujung atas thorachic sternum belum nampak sehingga terlihat bersih.

Untuk mengenal kepiting bakau jantan dewasa kelamin dapat juga digunakan ukuran chela sebagai karakter pembeda dimana umumnya kepiting bakau jantan dewasa kelamin memiliki chela yang berkembang cepat sehingga ukuran lebih besar sebaliknya kepiting bakau jantan pradewasa kelamin memiliki ukuran chela yang kecil, ukuran chela yang besar pada kepiting bakau jantan dewasa kelamin sangat berfungsi ketika mendekap atau mengepit kepiting bakau betina selama masa percumbuan yakni ketika kedua individu kepiting bakau ini berada dalam posisi "doublers" serta untuk membalik tubuh kepiting bakau betina ketika proses kopulasi akan berlangsung. Chela yang besar juga dibutuhkan

kepiting bakau jantan dewasa kelamin untuk bertarung dengan jantan lainnya dalam upaya mempertahankan wilayah kawin (matting teritory), mempertahankan dirinya sendiri serta melindungi dan mempertahankan betina yang menjadi pasangan kawinnya, mengingat menjelang kopulasi kepiting bakau betina melakukan pergantian kulit (moulting) sehingga bertubuh lunak dan sangat rentan terhadap serangan atau bahkan pemangsaan dari kepiting bakau lainnya.

Selain itu terdapat juga tanda-tanda khusus pada bagian tubuh kepiting bakau jantan yang dapat menjadi karakter pembeda tingkat dewasa kelamin, seperti adanya goresan atau pengikisan selaput kulit terutama pada bagian posterior chela dan pada bagian ventral tubuh serta adanya parutan bekas luka pada permukaan tubuh terutama pada kaki-kaki jalan yang mengindikasikan suksesnya kepiting bakau jantan melakukan kopulasi, yang secara otomatis berarti kepiting bakau tersebut telah mencapai tingkat dewasa kelamin. Goresan atau pengikisan selaput kulit terjadi karena selama masa "doublers" kepiting jantan mengepit kepiting bakau betina dengan posisi betina berada dibawah abdomennya dan karena proses ini berlangsung cukup lama sehingga terjadi pergesekan tubuh kepiting bakau tersebut. Tanda-tanda luka dapat disebabkan karena terjadi pertarungan dengan jantan lainnya dalam upaya mempertahankan wilayah kawin maupun karena upaya melindungi kepiting bakau betina selama berada dalam kondisi kulit tubuh yang lunak akibat moulting dari serangan maupun pemangsaan kepiting bakau lain (Siahainenia 2008).

Tutup abdomen pada kepiting bakau betina dewasa kelamin umumnya lebih besar, melebar ke samping dan cekung membentuk ruang dalam abdomen yang luas serta memiliki ruang antar ruas yang pendek. Sebaliknya bentuk tutup abdomen pada kepiting bakau betina pradewasa kelamin umumnya lebih sempit, memanjang keatas, relatif datar sehingga membentuk ruang dalam abdomen yang sempit serta memiliki ruang antar ruas yang panjang. Pigmentasi pada tutup abdomen kepiting bakau betina dewasa kelamin lebih kuat yakni membentuk kecoklatan sebaliknya pada kepiting bakau betina pradewasa kelamin pigmentasi pada abdomen belum nampak jelas. Pada kepiting bakau betina kelamin tutup abdomen menempel pada thorachic sternum melalui sepasang otot yang lentur. Sebaliknya pada kepiting bakau betina pradewasa kelamin tutup abdomen

umumnya menempel sangat rapat pada thorachic sternum melalui sepasang pengait yang terdapat pada ruas dada ke-enam. Oleh karena itu tutup abdomen kepiting bakau betina dewasa kelamin lebih mudah dibuka, sebaliknya tutup abdomen pada kepiting bakau betina pradewasa kelamin sulit dibuka.

Bila tutup abdomen dibuka akan nampak empat pasang pleopod yang merupakan tempat menempelnya masa telur setelah dikeluarkan dari tubuh melalui proses pemijahan, sehingga pleopod pada kepiting bakau betina juga pelengkap organ kelamin yaitu sebagai organ inkubasi telur. Bentuk pleopod pada kepiting bakau betina juga dapat menjadi salah satu karakter pembeda tingkat dewasa kelamin. Pada pleopod kepiting bakau betina kelamin terdapat rambut- rambut yang lebih panjang, banyak dan rapat, sedangkan pada kepiting bakau betina pradewasa kelamin rambut-rambut pleopod pendek dan jarang.

Pada thorachic sternum kepiting bakau betina terdapat sepasang bukaan kelamin (Oviduct Openings) atau yang juga disebut gonophores yang merupakan corong saluran keluarnya telur ketika memijah. Lewat corong ini juga bakau jantan mentransfer spermathophore berisi sperma melalui pleopod-nya ke dalam spermatheca pada tubuh kepiting bakau betina. Pada kepiting bakau betina dewasa kelamin pasangan bukaan kelamin nampak besar terbuka, berbentuk lingkaran oval yang dibatasi oleh selaput yang lembut. Pada kepiting bakau betina pradewasa kelamin pasangan bukaan kelamin terlihat tertutup, membentuk celah sempit dan dibatasi oleh selaput lembut yang menonjol.

Perubahan karakter tubuh yang nyata antara kepiting bakau betina dewasa kelamin dan pradewasa kelamin juga nampak terlihat melalui pigmentasi pada bagian ujung atas thorachic sternum. Pada kepiting bakau betina dewasa kelamin terjadi pigmentasi kuat membentuk warna kuning kecoklatan seperti warna karat sebaliknya pada kepiting bakau betina pradewasa kelamin pigmentasi belum nampak. Selain itu karakter pembeda tampak terjadi pada ruas dactylus, propodus, carpus, merus dan basi-ischium (endopod) kaki jalan dan kaki renang. Pada kepiting bakau betina dewasa kelamin, endopod telah ditumbuhi bulu-bulu halus yang panjang, sebaliknya pada kepiting bakau betina pradewasa kelamin, rambut- rambut pada endopod terlihat lebih pendek (Siahainenia 2008).

2.1.5 Kepiting bakau sebagai hewan air (kehalalan kepiting bakau)

Konsumsi kepiting bakau pada masyarakat di Indonesia belum se-populer krustasea yang lain, seperti udang. Hal ini diduga terjadi karena sampai saat ini, sebagian masyarakat masih banyak yang meragukan kehalalan kepiting, terutama jenis kepiting bakau, sebagai bahan makanan. Keraguan ini disebabkan perilaku kepiting bakau yang mampu bertahan hidup lebih lama dibandingkan hewan air lainnya, dalam kondisi tidak ada air, sehingga kepiting bakau sering dianggap sebagai hewan yang hidup di dua alam, seperti halnya katak/kodok. Pemahaman ini sedikit banyak berimbas pada rendahnya tingkat permintaan kepiting di negara-negara muslim, utamanya di Indonesia sendiri.

Namun yang sebenarnya, berdasarkan ketetapan Komisi Fatwa Majelis Ulama Indonesia yang ditetapkan/difatwakan pada tanggal 15 Juli 2002, kepiting dinyatakan halal untuk dikonsumsi sepanjang tidak menimbulkan bahaya bagi kesehatan manusia. Rapat Komisi Fatwa MUI menyampaikan, ada empat jenis kepiting bakau yang sering dikonsumsi dan menjadi komoditas yaitu, Scylla serrata, Scylla tranquebarrica, Scylla olivacea, dan Scylla paramamosain. Keempat jenis kepiting bakau ini oleh masyarakat umum hanya disebut dengan 'kepiting' saja.

Kepiting ini disebut binatang air dengan alasan; a) bernafas dengan insang; b) berhabitat di air; c) tidak akan pernah mengeluarkan telur di darat melainkan di air karena memerlukan oksigen dari air.

Kepiting termasuk keempat jenis diatas tidak ada yang hidup atau berhabitat di dua alam: di laut dan di darat. Jadi, rapat Komisi Fatwa MUI dalam hal kepiting menyatakan adalah jelas bahwa kepiting, adalah binatang air baik di air laut maupun di air tawar dan bukan binatang yang hidup atau berhabitat di dua alam.

Secara morfologis penjelasan atas kemampuan kepiting bakau bertahan hidup cukup lama dalam kondisi kekurangan air adalah karena kepiting bakau bernafas dengan insang dan memiliki vaskularisasi dinding ruang insang untuk memudahkan menyesuaikan diri dengan habitatnya. Ruang-ruang pernafasan terletak dibawah atap insang. Masing-masing ruang dilindungi oleh selaput kutikular yang memisahkannya dari hepatopankreas di sebelah anterior dan dari

bagian dalam karapas di sebelah posterior. Ujung depan masing-masing insang menyempit dan dibelakangnya terletak suatu ruang pompa kecil melindungi skapognatit. Di dalam ruang pernafasan juga terletak maksiliped-maksiliped dan epipod, maksiliped II dan III membersihkan permukaan ventral insang-insang. Sedangkan epipod maksiliped I yang panjang menyapu permukaan dorsal insang. Arus pernafasan masuk ke ruang pernafasan melalui celah-celah yang berambut antara kaki-jalan dan ujung bawah dari atap insang. Lubang atau pintu terbesar milne-edwards terletak di basis capit. Setelah air melalui insang lalu menuju ruang di bawah insang. Pertukaran gas terjadi saat arus melewati masing-masing insang. Hal ini dilakukan oleh sistem arus yang teratur, dengan sistem ini darah mengalir di dalam insang dari arah yang berlawanan dengan aliran air diantara lamela- lamela (ada 9 insang). Dalam masing-masing ruang pernafasan, arus air mengalir ke ruang pompa. Dari ruang skapognatit air dikeluarkan melalui lubang pengeluaran. Lubang pengeluaran terletak di kedua sisi epistoma tepat di bawah mulut (Warner 1977).

Kepiting bakau dewasa merupakan salah satu dari biota yang hidup pada kisaran kadar garam yang luas (euryhaline) dan memiliki kapasitas untuk menyesuaikan diri (adaptasi) yang cukup tinggi. Selain itu kepiting bakau memiliki alat gerak berupa kaki jalan dan kaki renang, sehingga mampu untuk bergerak dan beradaptasi pada daerah teresterial yang cukup menyediakan pakan bagi kelangsungan hidupnya.

Dokumen terkait