• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB IV. GAMBARAN UMUM PENGRAJIN BATIK PEKALONGAN

5.2. Analisis Data

5.2.9. Motif dan Ragam Hias Batik Pekalongan

5.2.9.1. Motif yang Dikenal Informan

Dengan banyaknya nama motif dan ragam hias batik sekarang ini, membuat informan lebih leluasa dalam membuat berbagai motif dan hasil kain batik yang bervariasi, berikut hasil wawancara yang diperoleh tentang informasi apa yang diketahui pengrajin batik tulis mengenai motif batik dan ragam hiasnya dan motif apa saja yang dibuat dalam mengkreasi batik mereka dapat dilihat pada lampiran tabel 5.2.9.1.

Semakin banyak motif batik dan ragam hias batik Pekalongan ini menjadikan informan kurang mengenal nama-mana motif batik yang sudah terkenal di Indonesia dan khususnya motif batik khas Pekalongan. Mereka hanya mengetahui saja bahwa ada banyak motif, tetapi tidak mengenal dengan baik. Seperti diungkapkan oleh informan Abdul Haris dan Zamroni, sebagai berikut:

“Oh... ada Mbak, motifnya yaaa nama-namanya ada Mbak banyak”(Abdul Haris)

Mereka sedikit binggung ketika peneliti menanyakan apa saja motif yang informan ketahui, mereka pengrajin batik yang tidak begitu mempedulikan nama motif dan nama ragam hias batik pekalongan.

Ada dari informan yang mengungkapkan bahwa mereka tidak begitu mengenal motif batik karena memang mereka sebagai pengrajin batik tetapi hanya membuat produk kain bermotif batik saja, dan mereka sudah begitu banyak memproduksi berbagai jenis motif kain batik sehingga informan kurang menghafal nama-nama motif batik yang ada. Seperti diutarakan oleh informan Khaerudin dan Daanan, sebagai berikut:

“Ora, wes sayah mbak asale….wes kemaremen dadi wes ora nggatekake kui motif apa, nek maune tak perhatikan motif iki motif opo… saiki wes ora nggatekake mbak, wes ora sempet. Wong adole ora potongan mbak, adole kie mgko borongan kadi tokone mbak, kekne neng toko mgko tokone gawe aran dewe, gawe aran motif apa dewe rhaa….ha’ah malah nang tokone sing ngarang, kene gawe produk totok…pokoke gawe kreasi sing apik, batik Pekalongan ha’ah kokui bae wes. Panora tokone sing ngarang nama motif dewe Nok, nek kene ngarang terus sing nggo ngarang kui suko nggo ngarang liyone Nok, heheheee kui kan pikirane kayak kui mbak.. hehehe”(Khaerudin)

“Yo akeh Nok…. Wes akeh saiki motif batik kui… sangkin akehe yoo Aku ora ngerti ono piro sing penting iso nggawene Nok, masalah aran e motif opo yo Aku ora paham Nok. Wong batik sing tak gawe kie kui langsung di gowo areng toko-toko, kompeksi nopo dadi mengko sing ngarani kui kadi kono ne nok. Aku ora paham”(Daanan)

Sedangkan ada satu dari informan yang mengetahui motif batik khas Pekalongan, seperti yang dituturkan oleh Sutoyo, sebagai berikut:

“Oh.. iya... ya kayak jlamprang, seno, sekar jagad, nyi roro kidul juga ada mbak, cawung, manuk cemiri, bunga-bunga, dan abstrak seperti itu aja sih mbak. Motif batik kan banyak mbak, apalagi di Pekalongan kan selalu bervariasi.”

Menurut pernyataan kelima informan diatas, dapat disimpulkan bahwa dengan begitu banyaknya variasi motif dan ragam hias batik Pekalongan tidak membuat informan memahami dengan benar akan nama-nama motif batik yang mereka hasilkan, mereka hanya memproduksi, dan tidak mengambil pusing tentang nama-nama motif batik.

5.2.9.2. Motif dan Ragam Hias Batik yang Diproduksi

Motif dan ragam hias batik sangat mempengaruhi perkembangan usaha batik karena dengan membuat kain batik semakin terkenal dan menjadi nilai seni tinggi ini terdapat pada corak motif dan ragam hias yang digunakan, selain proses membatiknya yang begitu telaten. Berikut hasil wawancara peneliti dengan informan mengenai motif dan ragam hias batik apa yang digunakan dalam mengembangkan usaha batik mereka dapat dilihat pada lampiran tabel 5.2.9.2.

Informan dalam membuat motif batik tidak membuat dengan motif jlamprang saja, melainkan sekarang sudah mempunyai kreatifitas masing-masing dalam menuangkan ide dan pikiran tentang kombinasi dari motif batik kuno dan modern. Seperti motif batik fashion, motif abstrak, tema-tema binatang dan bunga-bunga, seperti yang digambarkan diatas tabel. Seperti yang diutarakan oleh Zamroni, sebagai berikut:

“Oh... yaa.. biasanya motif abstrak, fashion, ya ada Mbak trus motif alam... emmm.. motif ikan, tema-tema bunga sama binatang, seringnya yaa itu tok Mbak.”

“Kalau motif-motif parang, kalau kayak jlamprang, jogjanan kui

“Ha’ah,.... motif parang, trus truntum, seno, sri, untuk kombinasi aja Mbak”

Sedang ada pula informan yang membuat motif batik dari corak ciri khas berbagai daerah di Indonesia, seperti corak Irian Jaya dengan motif corak ada gambar patung-patung, tifa berbentuk gendang untuk menabuh, dan corak motif aceh yang biasa bergambar pintu Aceh, serta corak kalimantan dan sumatra. Mereka memproduksi batik atas pesanan pelanggan. Kain batik yang dihasilkan akan dikirim langsung ke berbagai pulau di Indonesia kemudian yang memberi nama motif adalah mereka yang menjadi pelanggan dari para pengrajin batik Pekalongan, sehingga hak cipta mereka belum terlindungi, yang memproduksi para pengrajin batik di Pekalongan, tetapi kain tersebut diberi cap di kota-kota besar dan sudah memberi cap atas nama pemilik toko. Seperti yang disampaikan oleh Daanan sebagai berikut:

“Akeh Nok, akeh teo rhaa Nok. Sing biasane yaa… burung-burung, bunga, patung-patung Irian jaya, Tifa irian, motif Bengkulu, motif Aceh, Motif Sumatra, motif Aceh dengan nama Pintu Aceh, motif Lampung dengan nama gajah karena banyak gambar gajahnya, motif Batak dengan nama ulos dibuat untuk syal, motif irian buatan Pekalongan sini Nok, tapi dipasarkan ke Irian, disana ana pengusaha batik dari Pekalongan yang merantau ke Irian dia jadi sukses disana Nok. Kabeh nggawe kadi kene Nok, mengko di kirim nong kono sumatra, kalimantan, kabeh,”

Disini penulis berusaha menerjemakan isi dari jawaban informan, sebagai berikut:

“Banyak Nok, banyak sekali sekarang. Yang biasanya yaa burung-burung, bunga, patung-patun Irian Jaya, Tifa Irian, motif Bengkulu, motif Aceh, Motif Sumatra, moti Aceh dengan pintu Aceh, motif Lampung dengan mana gajah karena banyak gambar gajahnya, motif Batak dengan

nama ulos dibuat untuk syal, motif irian buatan Pekalongan sini Nok, tapi dipasarkan ke Irian, disana ada pengusaha batik dari Pekalongan yang merantau ke Irian dia jadi sukses disana Nok. Semua itu dibuat dari sini, nanti dikirim ke sumatra, kalimantan, semua”

Sama halnya dengan produk batik yang dihasilkan oleh Abdul Haris, sebagai berikut:

“Oh... yaa.. biasanya motif kalimantan mbak, motif kalimantan yang memang saya sudah rutin menyetok dari sana yang meminta. Batik tulis corak Kalimantan ini kalau dipasarkan disini ya kurang diminati mbak, begitu juga kalau batik motif jawa dan jogja itu dipasarkan ke Kalimantan ya sananya tidak mau. Karena begini mbak, saya membuat batik ya membuat batik saja, masalah nama nanti dari tokonya yang memberikan, nantinya yang mengecap nama itu sana.”

Dari hasil pernyataan kelima informan diatas dan pemantauan lapangan dapat disimpulkan bahwa informan masih memproduksi motif jlamprang sebagai motif khas Pekalongan dan berbagai macam motif yang ada. Tetapi sekarang sudah mulai membuat kombinasi dari berbagai motif tersebut sehingga menghasilkan motif yang bervariasi dan tidak monoton. Dengan adanya motif bercorak ragam khas daerah-daerah di Indonesia, maka informan membuat corak daerah seperti Kalimantan, Sumatra, Irian Jaya, Lampung, dan sebagainya. Semua hasil karya seni mereka dikirim langsung ke daerah-daerah tujuan pemasaran tanpa nama motif yang jelas, sehingga hak cipta mereka belum tersentuh dan belum terlindungi. Seperti yang diutarakan oleh Abdul Haris sebagai berikut:

“Yoo... ndak. Iya itu belum punya. Sini memproduksi barang nanti dari pihak toko atau pemesannya yang memberi nama.Ya itu ha’ah mbak wes kawit biyen ngunu.”

Untuk itu kendala dari informan sendiri adalah tentang hak cipta yang belum mereka miliki, sehingga walaupun produk batik yang memproduksi adalah pengrajin batik tulis Pekalongan tetapi hak cipta atas nama batik tersebut sudah dimiliki oleh pengusaha-pengusaha di luar jawa yang memesan batik dari mereka. Oleh karena itu perlu adanya pencantuman nama untuk setiap produk batik yang mereka miliki dengan mengurus hak cipta batik mereka.

Dokumen terkait