HASIL KAJIAN DAN PEMBAHASAN
H. Pembentukan Misi Monitoring Aceh
I. Penyelesaian Konflik
4.2.3 MoU Helsinki, UUPA, dan Perdamaian a) Pemahaman Terhadap MoU Helsinki
Ditandatanganinya nota kesepahaman antara GAM dengan Pemerintah Republik Indonesia pada 15 Agustus 2005 di Finlandia atau yang disebut se-bagai Momerandum of Understanding (MoU) di Helsinki menjadi babak baru perjalanan Aceh dalam catatan sejarah keberadaannya dibawah naungan bing-kai NKRI. Sebagian besar media cetak dan media elektronikdi tingkat lokal, na-sional, dan internasional menyiarkan keberhasilan perundingan GAM dan RI ini.
Ada pihak yang menyambut baik dicapainya perdamaian ini, tapi tidak sedikit juga mereka yang mencibir dan bahkan, menghujat GAM dengan berb-agai pemberitaan yang rada miring. Mereka yang terakhir ini seperti tidak per-nah memahami bagaimana menderitanya rakyat Aceh selama berlangsungn-ya Darurat Operasi Militer (DOM). Selama diberlakukan DOM amat rentan terjadi kekerasan dan membuka peluang bagi para pihak untuk menghalalkan segala cara, termasuk pelanggaran HAM.
Gambar 4.19 Karakteristik berdasarkan pekerjaan Sumber: Hasil Kajian Lapangan, 2019 (Diolah)
KAJIAN MOU HELSINKI DAN IMPLEMENTASI UUPA
94
Persoalannya, setelah adanya MoU di Helsinki atau nota kesepa-haman antara GAM dengan pemerintah pusat, apakah masyarakat tahu informasi adanya perjanjian damai tersebut. Gambar 4.20 dapat men-jelaskan terdapat 74 persen informan sudah mengetahui adanya perjan-jian MoU, sementara itu terdapat 26 persen informan menyatakan belum mengetahui adanya perjanjian tersebut.
Gambar 4.20 Informasi adanya MoU Helsinki Sumber: Hasil Kajian Lapangan, 2019 (Diolah)
Sementara informasi mengenai adanya perjanjian berupa nota kes-epahaman (Memorandum of Understanding-MoU) antara GAM dan Pe-merintah Republik Indonesia pada 15 Agustus 2005 di Finlandia tersebut tidak semua masyarakat mengetahuinya. Seperti disajikan pada Gambar 4.21, sumber informasi yang diperoleh masyarakat mengenai adanya MoU Helsinki ternyata lebih banyak diperoleh dari media massa cetak dan elektronik (41 persen informan). Selanjutnya, 23 persen informan menyatakan memperolehnya dari pihak pemerintah, 20 persen lagi dari pembicaraan di tempat umum, dan sisanya dari para tokoh masyarakat.
Persoalan selanjutnya adalah, lebih tiga belas tahun telah berlalu, sudah-kah masyarakat Aceh memahami dengan tentang MoU Helsinki yang memuat perjanjian kesepahaman antara GAM dan RI tersebut? Sebagaimana dijelaskan Gambar 4.20, terdapat 25 persen informan yang menyatakan hasil perundingan yang tertuang dalam MoU Helsinki tersebut telah dipahami oleh masyarakat Aceh.
Namun demikian, kajian ini juga menunjukkanmasih ada anggota mas-yarakat yang belum memahami dengan baik tentang MoU Helsinki. Jumlah mereka yang tidak memahami MoU Helsinki ini tidak sedikit, yakni menca-pai 53 persen. Disamping itu, terdapat sebanyak 22 persen informan yang tidak memberikan jawaban atas hal ini. Ini pun mengindikasikan, bahwa masih ada elemen masyarakat Aceh yang harus diberi sosialisasi atau pemahaman agar mereka dapat memahami naskah MoU Helsinki tersebut.
Hal ini juga dikuatkan dengan keterangan langsung dari beberapa tokoh masyarakat yang turut merespon terkait harapan mereka terhadap MoU Hel-sinki seperti kutipan berikut:
“Masih banyak dari masyarakat yang tidak mengetahui secara detail isi MoU walaupun sudah 15 tahun yang lalu, terlebih lagi dari segi pembangunan
Gambar 4.21 Sumber informasi adanya MoU Helsinki Sumber: Hasil Kajian Lapangan, 2019 (Diolah)
KAJIAN MOU HELSINKI DAN IMPLEMENTASI UUPA
96
belum banyak yang sudah berubah seperti yang terbayang oleh kami sebagai kompensasi dari perjanjian MoU tersebut. Ini menunjukkan pemerintah pusat belum sepenuh hati untuk melaksanakan perjanjian tersebut.”
Selain keterangan diatas beberapa akademisi juga memberikan catatan yang serupa, berikut kutipannya:
“MoU Helsinki semestinya menjadi harapan baru bagi masyarakat untuk bangkit dari keterpurukan akibat konflik yang panjang, dan be-gitulah harapan mereka sehingga wajar ketika sampai saat ini jangankan penerapannya, isi perjanjian MoU tersebut pun belum banyak dipahami oleh masyarakat secara keseluruhan. Ini terkesan pemerintah tidak mem-berikan ruang yang optimal bagi masyarakat untuk lebih mengetahui ter-kait MoU tersebut. Sehingga terkesan ini sebuah pembiaran supaya mas-yarakat tidak banyak menuntut.”
Hal serupa juga tergambar dari keterangan para kombatan yang merespon persoalan perdamaian pasca MoU Helsinki yang dihubungkan dengan kondisi ril saat ini. Berikut petikan komentarnya:
“Sebagai mantan kombatan, kami terlibat langsung dalam proses sebelum perdamaian ini dan kemudian kami menyaksikan kondisi saat ini. Banyak harapan kami melalui perjanjian MoU ini masyarakat dan kami dapat melihat terwujudnya butir-butir MoU tersebut seperti yang diperjanjikan. Namun, kenyataannya masih jauh dari harapan. Lahan un-tuk pengembangan usaha ekonomi para kombatan tidak kunjung kami dapati seperti yang tertulis di MoU. Sementara sudah lebih dari 15 tahun berlalu. Kami melihat pemerintah pusat masih setengah hati dengan per-janjian tersebut. Tentunya, ini menjadi potensi munculnya konflik yang dapat merusak perdamaian.”
Kondisi tersebut memberikan gambaran, bahwa kondisi pascaper-damaian belum seperti yang diharapkan, terutama dari sisi kesejahteraan masyarakat yang terimbas konflik. Hal ini juga dapat dikaitkan dengan belum sepenuhnya masyarakat luas memahami isi perjanjian MoU Hel-sinki, seperi yang disajikan dalam gambar 4.22 berikut:
Begitu juga halnya dengan pemahaman masyarakat terhadap adan-ya UUPA No. 11 tahun 2006 Tentang Pemerintahan Aceh. Undang-undang ini merupakan pemberian hak otonomi oleh pemerintah pusat kepada Aceh melalui otonomi khusus berupa hak, wewenang, dan kewajiban bagi Pemerin-tah Aceh mengatur serta mengurus sendiri urusan pemerinPemerin-tahan dan kepent-ingan masyarakat Aceh.
Gambar 4.23 menjelaskan, bahwa secara umum masyarakat (76 persen) sudah mengetahui adanya UUPA No. 11 tahun 2006. Namun, masih terdapat 24 persen informan yang menyatakan belum mengetahui adanya UUPA terse-but.
Gambar 4.22 MoU Helsinki telah dipa-hami oleh sebagian besar masyarakat Aceh
Sumber: Hasil Kajian Lapangan, 2019 (Diolah)
Gambar 4.23 Pemahaman tentang adanya UUPA Sumber: Hasil Kajian Lapangan, 2019 (Diolah)
KAJIAN MOU HELSINKI DAN IMPLEMENTASI UUPA
98
Dalam perkembangannya, pengakuan negara atas keistimewaan dan kekhususan Aceh yang telah ditetapkan dalam UU No. 11 tahun 2006 telah disosialisasikan kepada masyarakat. Gambar 4.24 menjelaskan terdapat seban-yak 47 persen informan yang mengetahui informasi UUPA melalui media ce-tak/elektronik. Sementara itu, terdapat 27 persen informan yang memperoleh informasi tersebut melalui sosialisasi dari pemerintah. Selanjutnya, mereka yang memperoleh informasi tentang undang-undang ini dari sumber lain, yai-tu sebanyak 18 persen informan mendapatkan melalui pembicaraan ditempat umum dan 8 persen lagi dari tokoh masyarakat.
Gambar 4.24 Sumber informasi adanya UUPA Sumber: Hasil Kajian Lapangan, 2019 (Diolah)
b) Sosialisasi MoU Helsinki
Nota kesepahaman yang lahir pasca perundingan GAM dengan RI yang tertuang dalam MoU Helsinki sepatutnya harus diketahui oleh seluruh mas-yarakat. Merupakan tanggung jawab dari pihak pemerintah untuk melakukan sosialisasi kepada rakyat Aceh (khususnya) dan rakyat Indonesia pada umumn-ya. Hal ini penting agar masyarakat Aceh dan rakyat Indonesia memahami
bah-wa konflik yang terjadi di Aceh selama 30 tahun mampu diselesaikan melalui perundingan yang sangat alot.
Kendatipun proses perundingannya menghabiskan waktu yang lama, na-mun pemahaman masyarakat Aceh terhadap MoU Helsinki masih belum op-timal disebabkan minimnya sosialisasi oleh para pihak. Berdasarkan Gambar 4.25, sedikitnya 46 persen informan mengaku jika sosialisasi yang dilakukan belum memberikan hasil yang maksimal, sehingga belum semua masyarakat Aceh memahami MoU Helsinki dengan baik. Hanya sebanyak 28 persen in-forman yang menyatakan dan mengakui jika sosialisasinya sudah memberikan hasil yang sesuai dengan yang diharapkan. Terdapat pula sebanyak 26 persen informan yang tidak memberikan respon (bersikap netral) ketika ditanyakan tentang hal ini. Berkenaan dengan hal ini, mantan kombatan merespon (infor-man) dengan menyatakan,
“Kondisi Aceh Pasca MoU belum membaik dalam arti karena masih ban-yak persepsi atau pandangan masyarakat yang pro dan kontra terhadap pen-erapan MoU tersebut yang terkesan setengah-setengah. Sementara itu pusat terkesan masih menzalimi Aceh, dengan tertundanya poin-poin penting dalam MoU tersebut, terutama yang menyangkut pengalokasian sumber daya alam yang ada di wilayah Aceh yang terkesan selama ini belum transparan.”
Gambar 4.25 Sosialisasi MoU Helsinki oleh pemerintah telah memberikan hasil maksimal Sumber: Hasil Kajian Lapangan, 2019 (Diolah)
KAJIAN MOU HELSINKI DAN IMPLEMENTASI UUPA
100