• Tidak ada hasil yang ditemukan

Mudharabah Dalam Perspektif Fiqih dan Perlindungan

E. Tujuan dan Analisis Pembiayaan BMT

I. Kendala dan Hambatan yang dihadapi oleh BMT

2.2 Pembiayaan Mudharabah

2.2.2 Mudharabah Dalam Perspektif Fiqih dan Perlindungan

Menurut Ibnu Hazm, mudharabah merupakan bagian dari bahasan fiqih yang tidak mempunyai dasar acuan langsung dalam al-Qur‟an dan al -hadist karena praktek Mudharabah ini sebenarnya telah dipraktekan sejak zaman sebelum Islam dan Islam mengakuinya dengan tetap ada dalam sistem Islam (Afzalur Rahman,1995: 395). Bahkan dalam hukum Italia, istilah mudhorobah dikenal dengan nama Comenda.

Para ahli hukum Islam sendiri masih berbeda pendapat mengenai sifat, isi dan persyaratan tentang mudharabah. Namun demikian, terdapat kesepakatan bulat bahwa kemitraan antara pemberi modal ( mudharib,

atasan, atau penabung ) dan pemakain modal (dharib, manajer, pengusaha atau wakil) adalah halal di dalam Islam.

Ketika harta yang dijadikan modal tersebut di pergunakan oleh Mudhorib / pengelola, maka harta tersebut sesungguhnya telah berada dibawah kekuasaan pengelola, sedangkan harta tersebut bukan miliknya, sehingga harta tersebut berkedudukan sebagai amanat ( titipan). Apabila harta tersebut rusak bukan karena kelalaian pengelola, ia wajib menanggungnya (Hendi Suhendi, 2007: 141).

Begitu pula apabila kesepakatan-kesepakatan yang telah disepaati antara pemilik modal dengan pengelola telah diingkari oleh salah satu pihak, maka keadaan tersebut menyebabkan kecacatan dalam perjanjian tersebut sehingga pengelolaan dan penguasaan harta tersebut dianggap ghasab (Abdurrahman al-Jaziri, 2009: 42).

Akad mudharabah sendiri terdapat ketentuan–ketentuan yang mendasari aktivitas mudharabah tersebut. Terkait modal, para ulama mengemukakan bahwa modal tersebut dapat direalisasikan dalam bentuk sejumlah mata uang yang beredar sehingga para ulama melarang modal tersebut dalam berupa komoditi karena ketidak stabilan harganya.

Para ulama mazhab yang empat melarang untuk menjadikan modal tersebut dijadikan hutang bagi pengelola terhadap pemilik modal. Hal ini karena dapat dipahami bahwa dengan adanya praktek tersebut dimungkinkan pemilik modal mendapatkan keuntungan dari pinjaman tersebut sementara hal tersebut termasuk ke dalam riba. Praktek tersebut

dapat menjadikan pengusaha tersebut terekploitasi manakala terjadi kerugian dalam usahanya tersebut sehingga merugikan pihak pengusaha. (Abdurrahman al-Jaziri, 2009: 78).

Terkait manajemen, mudhorib atau pengusaha mempunyai kebebasan dalam mengelola usahanya. Dalam hal ini mudhorobah bersifat mutlak dalam arti pemilik modal tidak mengikat pengelolaan harta untuk berdagang di negara tertentu, memperdagangkan barang-barang tertentu, pada waktu-waktu tertentu. Sehingga bila terdapat persyaratan-persyaratan mudhorobah tersebut tidak sah. Hal ini dikemukakan oleh ulama mazhab Syafi‟i dan Maliki sedangkan menurut Abu Hanifah dan Ahmad bin Hambal, mudhorobah yang terdapat persyaratan-persayratan masih tetap sah untuk dilaksankan (Hendi Suhendi, 2007: 140).

Dilihat dari segi masa berlakunya kontrak, pengikut mazhab Maliki dan Syafi‟i berpendapat, berlakunya kontrak akan membuat kontrak batal. Namun pengikut mazhab Hanafi dan Hambali tetap memperkenankan klausa tersebut. Para ulama lebih banyak berpegang pada pendapat pertama, hal ini karena batasan waktu yang terdapat pada kontrak mudhorobah dapat menyebabkan kehilangan kesempatan emas bagi pihak mudhorib untuk dapat mengembangkan usahanya atau merusak rencana-rencanaya, sebagai akibat mudhorib tidak dapat merealisasikan tujuan utama dari kontrak tersebut, yaitu mendapatkan keuntungan (profit) dari usaha yang dijalankannya (Abdullah Saeed, 2008:96).

Akad mudhorobah, pihak pemilik modal tidak dapat menuntut jaminan dari mudhorib atas usaha yang dijalankannya. Karena dalam kontrak mudhorobah pemilik modal dan mudhorib sama-sama harus menaggung resiko. Apabila pemilik modal menuntut adanya persyaratan tersebut maka menurut Imam Malik dan Imam Syafi‟i kontrak tersebut tidak sah (Ibnu Rusyd, 2007:179).

Hal yang tidak kalah pentingnya dalam sitem mudhorobah adalah mengenai bagi hasil ( Profit and Loss Sharing ). Pada dasarnya, kerjasama dalam mudhorobah ini adalah untuk mendatangkan keuntungan yang kemudian keuntungan tersebut di bagikan kepada pemilik modal dan mudhorib sesuai dengan kesepakatan di awal mengenai persentase keuntungan yang didapat masing-masing.

Pekerjaan, modal dan resiko menentukan sekali dalam menentukan keuntungan dalam sebuah kontrak mudhorobah. Pembagian keuntungan dilakukan melalui tingkat perbandingan ratio , bukan ditentukan dalam jumlah yang pasti. Menentukan jumlah keuntungan secara pasti kepada pihak yang terlibat dalam kontrak akan menjadikan kontrak tersebut tidak berlaku (Abdullah Saeed, 2008:98).

Rukun mudharabah adalah ijab dan qobul yang keluar dari orang yang memiliki keahlian. Tidak disyaratkan adanya lafadz tertentu, tetapi dapat dengan bentuk apa saja yang menunjukkan makna mudharabah. Karena yang dimaksudkan dalam akad ini adalah tujuan dan maknanya, bukan lafadz dan susunan kata. Menurut Sayyid Sabiq (hanafiyyah)

tersebut adalah madzhab Hanafi, bahwa rukun mudharabah yang paling mendasar adalah ijab dan qobul (offer andacceptence).

Adapun rukun dan syarat dalam mudharabah menurut Sayyid Sabiq (hanafiyyah) :

A. Rukun mudharabah

1) Pihak yang berakad :

a) Pemilik modal (shahibul maal) b) Pengelola modal (mudharib) 2) Objek yang diakadkan :

a) Modal b) Kegiatan usaha c) Keuntungan 3) Sighat/ akad : a) Serah b) Terima A.Syarat Mudharabaah

1) Pihak yang berakad, kedua belah pihak harus mempunyai kemampuan dan kemauan untuk kerjasama mudharabah.

2) Objek yang diakadkan :

a) Harus dinyatakan dalam jumlah atau nominal yang jelas

b) Jenis pekerjaan yang dibiayai dan jangka waktu kerjasama pengelolaan dananya

c) Nisbah (porsi) pembagian keuntungan telah disepakati bersama dan tata cara pembayaranya

3) Sighat atau akad :

a) Pihak-pihak yang berakad harus jelas dan disebutkan

b) Materi akad yang berkaitan dengan modal kegiatan usaha dan telah disepakati bersama saat perjanjian (akad).

c) Resiko yang akan timbul dari proses kerjasama ini harus diperjelas pada saat ijab qobul (apabila terjadi kerugian usaha maka akan ditanggung oleh pemilik modal dan pengelola dalam tidak mendapat keuntungan dari usaha yang telah dilakukan). d) Untuk memperkecil resiko terjadinya kerugian usaha, pemilik

modal dapat menyertakan persyaratan kepada pengelola dalam menjalankan usahanya dan harus disepakati secara besama (SOP Koperasi Jasa Keuangan, 2007).

Sedangkan (Sutan Remi Syahdeini, 2007: 48-52), mengatakan syarat-syarat utama yang menyangkut perjanjian

Mudharabah bagi perBMTan Islam adalah:

1. BMT menerima dana dari masyarakat atas dasar mudharabah. Tidak disyaratkan adanya pembatasan-pembatasan bagi BMT dalam menggunakan dana nasabah, baik yang menyangkut kegiatan yang dapat dilakukan BMT, jangka waktu, maupun alokasi kegiatan itu ( Mudharabah mutlaqah ).

2. BMT berhak menanamkan dana yang didepositkan oleh nasabah langsung dalam bentuk investasi dan untuk keperluan

overhead cost dari BMT itu sendiri dan atau menawarkan dana itu kepada para pengusaha BMT.

3. BMT boleh menggabungkan keuntungan dan kerugian dari investasi-investasi lain dan berbagai keuntungan bersih dengan para penyimpan dana berdasarkan perbandingan yang sudah ditentukan sebelumnya.

4. Berbeda dengan perjanjian mudharabah antara nasabah penyimpan dana dan BMT yang melakukan mudharabah tidak terbatas. Dalam hal ini BMT sebagai pemberi dana (shahib al-mal) mempunyai hak untuk menentukan syarat-syarat atas penggunaan dana tersebut yang menyangkut jenis dari kegiatan-kegiatan itu, jangka waktu, lokasi dari proyek, dsb. 5. BMT tidak diperkenankan meminta jaminan apapun dari

nasabah ( mudharib) yang bersangkutan, yang bertujuan untuk menjamin modal dalam hal terjadi kerugian.

6. Tanggung jawab dari BMT dalam kedudukannya sebagai

shahib al-mal, terbatas hanya sampai pada modal yang disediakan. Sedangkan tanggung jawab nasabah dalam kedudukan sebagai mudharib terbatas semata-mata kepada kerja dan usahanya.

7. Nasabah berbagi keuntungan dengan BMT sesuai dengan perbandingan yang telah disetujui sebelumnya, yaitu sebelum fasilitas mudharabah itu diberikan oleh BMT.

8. Sampai investor itu menghasilkan keuntungan, BMT diperbolehkan membayar gaji nasabah yang bersangkutan (demi menunjang gaji nasabah yang bersangkutan). Gaji tersebut ditentukan berdasarkan tingkat gaji yang berlaku di pasar.

B. Bentuk-bentuk Akad Mudharabah a. Mudharabah Muthlaqah (unrestricted)

Adalah salah satu akad mudharabah, dimana mudharib

diberikan hak yang tidak terbatas untuk investasi oleh shahibulmal.

Dengan kata lain transaksi mudharabah mutlaqah adalah bentuk kerja sama antara shahibul maal dan mudharib yang cakupannya sangat luas dan tidak dibatasi oleh spesifikasi jenis usaha, waktu dan daerah bisnis.

b. Mudharabah Muqayyadah

Adalah salah satu akad mudharabah, dimana mudharib dibatasi haknya oleh sahibul mal, antara lain dalam hal jenis usaha,waktu dan tempat usaha (Ascarya, 2008:56).

Berbeda pendapat dengan (Adiwarman A Karim, 2004: 201) bahwa pada prinsipnya, mudharabah sifatnya mutlak dimana shahib al-mal menetapkan restriksi atau syarat-syarat tertentu kepada si mudharib. Bentuk mudharabah ini disebut mudharabah mutlaqah, atau

dalam bahasa Inggrisnya dikenal sebagai Unsertricted Investment Account (URIA). Namun demikian, apabila dipandang perlu shahib al-mal boleh menetapkan atau batasan-batasan atau syarat-syarat tertentu guna menyelamatkan modalnya dari resiko kerugian. Syarat-syarat atau batasan-batasan ini harus dipenuhi oleh mudharib. Apabila mudharib melanggarnya, dia harus bertanggungjawab atas kerugian yang timbul. Jenis mudharabah seperti ini disebut mudharabah muqayyadah (mudharabah terbatas atau dalam bahasa Inggrisnya disebut (Restricted Investment Account). Jadi pada dasarnya, terdapat dua bentuk mudharabah, yakni mutlaqah dan muqayyadah.

Namun demikian dalam praktik perBMTan syari‟ah modern, kini dikenal dua bentuk mudharabah muqayyadah, yakni yang on balance sheet dan off balance sheet. Misalnya pertanian, manufaktur, dan jasa. Nasabah investor lainnya mungkin mensyaratkan dananya hanya boleh dipakai untuk pembiayaan di sektor pertambangan, properti, dan pertanian. Selain berdasarkan sektor, nasabah investor bisa saja mensyaratkan berdasarkan jenis akad yang digunakan, misalnya hanya boleh digunakan berdasarkan akad cicilan saja, atau penyewaan cicilan saja, atau kerja sama usaha saja skema ini disebut on balance sheet karena dicatat dalam neraca BMT. (Adiwarman A Karim, 2004:201)

Skema bentuk-bentuk mudharabah di BMT syariah sebagai berikut: Keterangan Skema :

Muqayyadah (RIA: Restricted Investment Account

Sumber : BMT Islam: Analisis Fiqih dan Keuangan (Adiwarman A Karim, 2004:201)

Akadmudharabah muqayyadah off balance sheet, aliran dana berasal dari satu nasabah investor kepada nasabah pembiayaan (yang dalam BMT konvensional disebut debitur). Disini, BMT syari‟ah bertindak sebagai arranger saja. Pencatatan transaksinya di BMT dilakukan secara off balance sheet saja. Sedangkan bagi hasilnya hanya melibatkan investor dan pelaku usaha saja. Besaran bagi hasil tergantung kesepakatan antara nasabah investor dan nasabah pembiayaan. BMT hanya memperoleh arrranger fee. Skema ini disebut off balance sheet karena transaksi ini tidak dicatat dalam neraca BMT, tetapi hanya dicatat dalam rekening administrasi. “mudharabah mutlaqah adalah bentuk kerjasama antara shahibul maal

dengan mudharib yang cakupannya sangat luas dan tidak dibatasi oleh spesifikasi jenis usaha, waktu, dan daerah bisnis.

Dokumen terkait