TUGAS PENDAHULUAN MODUL ARC, AAD DAN TEMPLATE
1.3 Multi Product Process Chart
Multi product process chart (MPPC) merupakan suatu peta yang
digunakan untuk menganalisa aliran barang dalam pabrik yang sudah ada maupun untuk perencanaan pabrik baru dan mempunyai keterkaitan dengan peta proses operasi. Fungsi dari peta ini yaitu untuk menunjukan keterkaitan produksi antar komponen atau antar produk mandiri, bahan, bagian, pekerjan, atau kegiatan.
Tujuan dari pembuatan multi product process chart (MPPC) yaitu untuk dapat
memahami aliran proses produksi suatu produk secara keseluruhan beserta dengan total waktu pengoperasian mesin yang digunakan (Wignjosoebroto, 2009).
Berdasarkan multi product process chart (MPPC) tersebut akan dipelajari
perencanaan tata letak seperti aliran balik dimana dalam hal ini ditunjukan dengan adanya aliran balik akibat fasilitas produksi tidak di tempatkan sesuai dengan urutan proses. Aliran balik dalamproses perencanaan tata letak merupakan indikator penting karena hal tersebut akan menunjukan langkah pemindahan material yang sama sekali tidak efisien. Pengelompokan pola aliran yaitu pengelompokan komponen yang memiliki urutan proses pengerjaan dan menggunakan mesin yang sama. Hal ini akan penting dalam penyusunan tata letak berdasarkan pengelompokan proses produksi (Wignjosoebroto, 2009)
2.1 Luas Lantai
Luas lantai produksi digunakan untuk mengetahui luas lahan yang akan digunakan dalam perencanaan tata letak fasilitas dan perusahaan yang akan didirikan. Perhitungan luas lantai produksi dimulai dari luas kebutuhan lahan sampai perkantoran dengan memperhatikan segala fasilitas pendukungnya. Dalam melakukan suatu perencanaan tata letak fasilitas dan pemindahan bahan dibutuhkan beberapa kebutuhan luas lantai untuk kegiatan produksi pabrik yang akan didirikan, serta fasilitas-fasilitas pendukung lainnya, dengan demikian perlu dihitung berapa luas lantai yang disiapkan, terutama untuk kegiatan bagian produksi. Perhitungan luas lantai ini didasarkan pada bahan baku yang akan
disiapkan. Berdasarkan hal tersebut maka akan didapat luas lantai receiving
(gudang bahan baku) model tumpukan dan rak. Tumpukan digunakan untuk material yang rata-rata mempunyai dimensi yang besar sehingga tidak memungkinkan untuk dimasukan ke dalam suatu wadah atau tempat tertentu. Sedangkan untuk material yang menggunakan model penyimpanan menggunakan rak, digunakan untuk material yang berdimensi kecil (Apple, 1990),.
2.2 Luas Lantai Bahan Baku
Luas lantai bahan baku merupakan luas lantai yang dibutuhkan untuk menyimpan bahan baku untuk pembuatan produk. Luas lantai bahan baku memiliki dua model, yaitu luas lantai gudang bahan baku model tumpukkan dan luas lantai gudang bahan baku model rak (Wignjosoebroto, 2000).
Luas lantai gudang bahan baku model tumpukan biasanya digunakan untuk mengetahui luas area yang dibutuhkan untuk menyimpan komponen utama. Data-data yang diperlukan untuk perhitungan luas lantai gudang bahan baku model tumpukan yaitu nomor komponen, nama komponen, jumlah komponen, tipe material, dan ukuran per potong. Luas lantai gudang bahan baku model rak biasanya digunakan untuk mengetahui luas area yang dibutuhkan untuk menyimpan komponen tambahan. Data yang diperlukan dalam perhitungan nomor komponen, nama komponen, jumlah komponen, volume pemakaian, ukuran per potong, dan unit tersedia (Elib Unikom, 2013).
2.3 Luas Lantai Mesin
Perhitungan yang cermat untuk lokasi dan lebar gang merupakan salah satu faktor penting dalam alokasi ruang. Manfaat gang antara lain adalah sebagai tempat perpindahan bahan baku dan barang jadi, perjalanan pekerja, jalan masuk pemadam kebakaran, peletakan ulang dan penggantian peralatan serta sebagai
tempat pembuangan scrap. Perhitungan luas lantai mesin berguna dalam
menghitung mesin yang diperlukan untuk mengetahui luas lantai yang dibutuhkan setiap mesin pada masing-masing departemen yang ada dalam pabrik. Prosedur menghitung kebutuhan luas lantai, yaitu (Apple, 1990):
1. Masing-masing mesin atau stasiun kerja diukur panjang dan lebarnya, hal ini
dilakukan untuk menentukan luas seluruh mesin, yaitu kebutuhan lahan untuk meletakkan sejumlah mesin yang sejenis.
2. Menentukan toleransi bahan, yaitu kelonggaran yang diberikan untuk
penyimpanan sementara bahan yang akan diproses, yang harus diperhatikan dalam menentukan besarnya toleransi bahan adalah ukuran material atau bahan dan karakteristik material atau bahan.
3. Panjang dan lebar mesin, masing-masing diberi kelonggaran, untuk
memberikan ruang bagi barang setengah jadi Work In Process (WIP),
operator atau mungkin tempat peralatan.
4. Menghitung kelonggaran untuk gang (aisles), kelonggaran gang diberikan
didapat kelonggaran gang, maka luas total lantai produksi dapat dihitung dengan cara menjumlahkan luas seluruh mesin dengan kelonggaran gang.
2.4 Luas Lantai Gudang Barang Jadi
Gudang barang jadi terdapat 2 komponen, yaitu meja belajar yang sudah menggunakan kemasan dan lantai untuk kemasan sendiri, tanpa isi. Luas lantai gudang barang jadi harus diperhitungkan untuk dijadikan tempat penyimpanan produk yang sudah jadi. Langkah-langkah perhitungan luas lantai gudang barang jadi, yaitu (Purnomo, 2004) :
1. Menentukan ukuran produk, yaitu ukuran atau dimensi dari kemasan atau
kardus untuk tempat produk jadi perusahaan.
2. Menentukan produk jadi per-satu periode, yaitu produk yang dihasilkan untuk
periode tertentu, berdasarkan produksi per-jam dari perusahaan. Penentuan periode didasarkan pada periode pengiriman produk jadi ke pasaran, kapasitas maksimum lahan (jika terbatas) dan karakteristik produk jadi tersebut.
3. Menentukan volume produk total, yaitu volume kebutuhan untuk produk jadi
per periode tertentu.
4. Menentukan luas lantai, yaitu lahan yang dibutuhkan berdasarkan volume
produk total, setelah ditumpuk sesuai dengan tinggi maksimum tumpukkan yang diijinkan dan cara penumpukkannya.
5. Menentukan kelonggaran, yaitu kelonggaran yang diberikan untuk
penanganan bahan. Penentuan besarnya kelonggaran didasarkan pada alat angkut, cara pengangkutan, cara penumpukan dan ukuran material.
6. Menentukan total luas lantai, yaitu kebutuhan gudang bahan jadi setelah
ditambah kelonggaran.
3.1 Pengertian Ongkos Penanganan Bahan
Merancang tata letak pabrik, maka aktivitas pemindahan bahan (material
handling) merupakan salah satu faktor yang cukup penting untuk diperhatikan dan
diperhitungkan. Aktivitas pemindahan tersebut dapat ditentukan dengan terlebih dahulu memperhatikan aliran bahan yang terjadi dalam suatu operasi. Selanjutnya
hal yang harus diperhatikan adalah type layout yang akan digunakan. Ongkos penaganan bahan adalah ongkos yang dikeluarkan untuk melakukan pemindahan material dari satu departemen menuju departemen yang lain untuk dilakukannya proses produksi selanjutnya (Apple, 1990).
Penaganan bahan adalah suatu seni dan ilmu pengetahuan mengenai pemindahan, pengepakan dan penyimpanan, pengepakkan dan penyimpanan semua jenis /bentuk material /bahan yang terjadi di dalam pabrik termasuk pemindahan bahan baku dari sumbernya kepabrik serta pemindahan barang jadi sampai ketangan konsumen. Seni dan ilmu pengetahuan dari perpindahan, penyimpanan, perlindungan dan pengawasan material penanganan material dalam jumlah yang tepat dari material yang sesuai, dalam kondisi yang baik, pada tempat yang cocok, pada waktu yang tepat, pada posisi yang benar, dalam urutan yang sesuai, dengan biaya yang murah dan menggunakan metode yang benar (Purnomo, 2004).
Bila ditinjau kegiatan produksi maka akan terlihat masalah yang utama dalam produksi adalah bergeraknya bahan-bahan dari suatu tingkat proses ke tingkat proses produksi yang berikutnya. Hal ini dapat kita lihat sejak bahan- bahan diterima di tempat penerimaan, kemudian dipindahkan dari tempat penerimaan atau pemeriksaan ke tempat penyimpanan bahan tersebut. Apabila bahan akan diproses atau diolah, maka bahan tersebut dipindahkan dari tempat penyimpanan ke tempat produksi yang pertama, dan setelah diproses kemudian dipindahkan lagi ke tempat proses berikutnya, demikian seterusnya sampai proses selesai. Jadi dapat dikatakan bahwa material handling adalah kegiatan mengangkat, mengangkut dan meletakan bahan atau barang dalam proses di dalam pabrik yang dimulai dari bahan baku sampai barang jadi. Sedangkan dalam pemindahan tersebut menyangkut biaya. Dengan kata lain yang dimaksud dengan OMH adalah ongkos yang dikeluarkan untuk memindahkan bahan atau barang dari suatu tempat ke tempat lain yang melibatkan jarak tempuh, frekuensi pengangkutan peralatan yang dipakai dan biaya pengangkutan (Apple, 1990).