• Tidak ada hasil yang ditemukan

Muqaddimah Ilmiah Ketiga METODE MENASEHATI PENGUASA

Sudah menjadi kewajiban atas setiap muslim untuk senantiasa nasehat-menasehati sesama mereka dalam hal kebaikan dan dalam hal kesabaran, hal ini sebagaimana ditegaskan dalam banyak ayat dan hadits, diantaranya dalam surat Al ‘Ashr:

َ ر صَع لاَو

“Demi masa, sesungguhnya manusia itu benar-benar berada dalam kerugian, kecuali orang-orang yang beriman, dan mengerjakan amal saleh, dan nasehat- menasehati supaya mentaati kebenaran, dan nasihat-menasihati supaya menetapi kesabaran.” (QS. Al ‘Ashr: 1-3)

Kewajiban ini bukan hanya berlaku diantara sesama rakyat biasa saja, akan juga berlaku diantara rakyat dengan penguasanya. Rasulullah shollallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

نإ

”Sesungguhnya Allah meridhoi bagi kalian tiga perkara dan memurkai atas kalian tiga perkara, Dia meridhoi bagi kalian agar menyembah-Nya dan tidak menyekutukan-Nya dengan sesuatu, berpegang teguh

dengan tali Allah (syariat Allah), dan jangan berpecah belah dan menasehati orang yang Allah jadikan sebagai pemimpin kalian.”

(Riwayat Malik dan Ahmad)

Rasulullah shollallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

نيدلا

nasehat.” Mereka berkata: ”Wahai Rasulullah bagi siapa?” Rasulullah menjawab: ”Bagi Allah, kitab-Nya, Rasul-Nya, para pemerintah kaum muslimin, dan seluruh kaum muslimin secara umum.” (Riwayat Abu Dawud, At Tirmizy & An Nasa’i)

Kewajiban rakyat, adalah bekerja sama dengan pemerintah, institusi terkait dan setiap individu yang menyeru kepada kebenaran, wajib berkerjasama dalam kebenaran, menegakkannya, dan mendakwahkannya, serta saling membahu dalam membasmi kerusakan. Inilah kewajiban yang menjadi tanggung jawab seluruh kaum muslimin dengan cara-cara yang dibenarkan Allah pada firman-Nya:

”Serulah manusia kepada jalan Tuhanmu dengan hikmah dan pelajaran yang baik dan bantahlah mereka dengan cara baik.” (QS. An Nahl: 125) Dan pada Firman-Nya:

نمو

”Siapakah yang lebih baik perkataannya daripada orang yang menyeru kepada Allah dan mengerjakan amal sholeh.” (QS. Fusshilat: 33)

Dan pada Firman-Nya:

”Dan janganlah kamu berdebat dengan Ahli Kitab melainkan dengan cara yang paling baik kecuali orang-orang yang dholim diantara mereka.” (QS. Al Ankabut: 46)

Dan pada Firman-Nya:

”Maka disebabkan rahmat dari Allah-lah kamu berlaku lemah lembut terhadap mereka. Sekiranya kamu bersikap keras lagi berhati kasar, tentulah mereka menjauhkan diri dari sekelilingmu.” (QS. Ali Imran:

159)

Dan pada firman Allah kepada Nabi Musa dan Harun saat diutus menuju Fir’aun:

”Maka berbicaralah kamu berdua kepadanya dengan kata-kata yang lemah-lembut, mudah-mudahan ia ingat atau takut.” (QS. Thoha: 44)

Dan merupakan kewajiban atas orang-orang yang memiliki kecemburuan karena Allah, dan atas para da’i untuk memperhatikan batasan-batasan syariat, dan menasehati pemimpin mereka dengan ucapan yang baik, bijak serta dengan cara yang baik pula, agar kebaikan itu bertambah banyak dan kejelekan semakin berkurang. Dan agar da’i kepada jalan Allah bertambah, semakin giat untuk berdakwah dengan cara yang baik, bukan dengan kekerasan, menasehati para pemimpin dengan segala cara yang baik dan selamat, serta mendoakan mereka di tempat yag terpisah: semoga Allah memberi hidayah kepada mereka, menunjukkan dan membantu mereka kepada kebaikan. Dan semoga Allah menolong mereka untuk dapat meninggalkan kemaksiatan yang mereka lakukan, serta menegakkan kebenaran.

Demikianlah, dia berdo’a kepada Allah dan betul-betul mengharap dari Allah, semoga Allah menunjukkan mereka ke jalan yang lurus, membantu mereka untuk meninggalkan kebatilan dan menegakkan kebenaran, dengan cara yang baik. Demikian juga ia bersikap dengan saudara-saudaranya yang memiliki kecemburuan, ia menasehati dan mengingatkan mereka, agar mereka giat dalam berdakwah dengan cara yang baik, bukan dengan kekerasan. Dengan metode inilah kebaikan akan bertambah banyak dan kejelekan akan berkurang, dan Allah akan memberi petunjuk kepada para pemimpin kepada kebaikan dan keistiqamahan, dan hasilnya pun akan menjadi baik bagi semua orang.

Diantara cara yang tidak baik dan tidak bijak dalam menjalankan kewajiban menasehati penguasa atau orang lain ialah menyampaikan teguran atau kritikan dehadapan khalayak ramai.

Imam As Syafi’i rahimahullah berkata:

نم

“Barang siapa menegur saudaranya dengan cara tersembunyi, maka ia telah menasehati dan menghiasinya, dan barang siapa yang menegur saudaranya dengan cara terus terang di hadapan khalayak, maka ia telah membeberkan aibnya dan menjelek-jelekkannya.”

Pada suatu saat dinyatakan kepada Mis’ar bin Qidaam rahimahullah:

“Sukakah engkau kepada orang yang memberitahukanmu tentang aib/kekuranganmu? Beliau menjawab: “Bila ia menyampaikan nasehat kepadaku di tempat sunyi, maka saya akan menyukainya, dan bila ia menegurku di hadapan khalayak ramai, niscaya aku tidak akan menyukainya.”

Al Ghazali, mengomentari perkataan Mis’ar bin Qidaam dengan berkata:

“Sungguh ia telah benar, karena sesungguhnya nasehat yang disampaikan di hadapan khalayak ramai adalah penghinaan.” (Ihya’

‘Ulumuddin 2/182).

Bila hal ini berlaku pada perorangan, maka lebih pantas untuk diindahkan ketika kita hendak menyampaikan nasehat kepada para penguasa, pejabat pemerintahan, atau pemimpin suatu negara.

Dan diantara metode yang tidak islamy ialah menyebarkan kejelekan atau kesalahan atau perbuatan dosa orang lain disaat ia tidak ada dihadapannya. Perbuatan ini dinyatakan sebagai perbuatan ghibah (menggunjing) dan ghibah diharamkan dalam syari’at, sebagaimana dalam firman Allah Ta’ala berikut ini:

ََيََ

اًض عَ ب

“Hai orang-orang yang beriman, jauhilah kebanyakan dari prasangka, sesungguhnya sebagian prasangka itu adalah dosa dan janganlah kamu mencari-cari kesalahan orang lain dan janganlah sebahagian kamu menggunjing sebahagian yaang lain. Sukakah salah seorang di antara kamu memakan daging saudaranya yang sudah mati. Maka tentulah kamu merasa jijik kepadanya. Dan bertaqwalah kepada Allah.

Sesungguhnya Allah Maha Penerima taubat lagi Maha Penyayang.” (QS.

Al Hujuraat: 12)

Bila hal ini diharamkan untuk kita lakukan kepada sesama rakyat, maka diharamkan juga untuk kita lakukan terhadap para penguasa.

Dan syari’at ingkar mungkar kepada penguasa yang digariskan pada ayat di atas lebih ditegaskan lagi oleh Rasulullah shollallahu ‘alaihi wa sallam pada sabdanya berikut ini:

ْنَم

“Barangsiapa yang hendak menasehati penguasa dengan suatu perkara maka janganlah ia menyampaikannya secara terbuka (di hadapan umum -pen) akan tetapi hendaknya ia mengambil tangan sang penguasa dan berdua-duaan dengannya (empat mata). Jika sang penguasa menerima (nasehat) darinya maka itulah (yang diharapkan-pen), dan jika tidak (menerima) maka ia telah menunaikan apa yang menjadi kewajibannya.” (Riwayat Ahmad, At-Thobrooni, dan Ibnu Abi

‘Ashim, dan Hadits ini dishahihkan oleh Syaikh Al-Albani dalam Zhilaalul Jannah)

Pada hadits ini sangatlah jelas bagaimana metode yang diajarkan Nabi shollallahu ‘alaihi wa sallam dalam menasehati penguasa. Oleh karena itu hadits ini dibawakan oleh Al-Hafizh Abu Bakr ‘Amr bin Abi ‘Ashim Ad-Dhohhak dalam kitabnya yang masyhur “As-Sunnah” dalam bab

َفْيَك

ُةَحْيِصَن

ِةَّيِعَّرلا

ِةَلاُوْلِل