• Tidak ada hasil yang ditemukan

Musafir yang Mengerjakan Salat secara Tamam

Dalam dokumen BELAJAR FIKIH Untuk Tingkat Pemula (Halaman 98-101)

1. Jika dia tidak tahu bahwa musafir harus meng-qoshr salatnya, salat yang sudah dikerjakannya adalah sah.2

2. Dia tahu hukum salat dalam bepergian, tetapi tidak tahu sebagian darinya (yakni, dari rincian hu-kumnya) atau tidak tahu kalau dirinya sebagai musafir, maka salat yang sudah dikerjakannya harus diulangi lagi.3*

Masalah: seseorang harus mengerjakan salatnya secara sempurna. Akan tetapi jika dia meng-qoshr

salat, maka da-lam kondisi apapun salatnya batal.4**

Kesimpulan Pelajaran

1. Seseorang dalam bepergian harus meng-qoshr salat yang empat rakaat (salatnya yang empat rakaat harus dikerjakan dalam dua rakaat saja) dengan syarat; jarak bepergiannya tidak kurang dari 45 km.

2. Dalam bepergian, seorang musafir bisa meng-qoshr salatnya jika sudah jauh sampai dia tidak melihat lagi dinding-dinding kota tempat tinggalnya dan tidak lagi mendengar azan di sana. 3. Jika dia pergi dari suatu tempat yang tidak memiliki dinding, maka dia harus mengandaikan

bahwa sekira-nya tempat tersebut memiliki dinding, maka sampai di daerah tertentu dinding itu sudah tak terlihat lagi.

4. Pada beberapa hal di bawah ini, salat harus dikerjakan secara sempurna:

a. Bepergian di mana sebelum 45 km musafir sudah sampai di daerah tempat tinggalnya. b. Musafir tidak berniat bepergian sejarak 45 km.

c. Pekerjaan musafir adalah bepergian. d. Orang yang bepergiannya adalah haram.

5. Wathon (tempat tinggal) dan tempat yang di situ musafir berniat mukim selama sepuluh hari, maka salatnya harus dikerjakan secara sempurna.

6. Wathon (tempat tinggal) adalah tempat yang dipilih oleh seseorang untuk tinggal dan hidupnya.

7. Selama seseorang tidak berniat tinggal untuk selamanya di tempat yang bukan wathon-nya, maka tempat itu tidak bisa dihitung sebagai wathon-nya.

8. Musafir yang kembali ke tempat tinggalnya, ketika sam-pai di daerah yang dari situ dia bisa melihat dinding-dinding tempat tinggalnya dan mendengar azannya, maka dia harus mengerjakan salatnya secara sempurna.

9. Seorang musafir tidak tahu hukum qoshr salat musafir sehingga dia mengerjakan salatnya secara tamam (sem-purna), maka salatnya sah. Akan tetapi, jika dia tahu pokok masalahnya (bahwa musafir harus meng-qoshr salat yang empat rakaat) hanya saja dia tidak tahu rinciannya, lalu dia mengerjakan salatnya secara sem-purna, maka dia harus mengulangi salat tersebut.

10. Seseorang wajib mengerjakan salat secara sempurna. Apabila dia mengerjakannya secara

qoshr, maka dalam kondisi apapun salatnya batal.

Pertanyaan

:

1. Salat harian yang berapa rakaatkah yang harus diring-kas selama bepergian?

2. Ibid, masalah ke-1342.

3. Ibid, masalah ke-1359.

4. Ibid, masalah ke-1360-1361-1362.

* Gulpaigani-Khu’i: jika dia tahu setelah waktunya lewat maka tidak berkewajiban untuk meng-qodho-nya, (masalah

ke-1369).

5. Ibid, masalah ke-1363.

** Khu’i: kecuali musafir yang berniat menetap selama sepuluh hari di satu tempat, dan karena tidak tahu hukum ia

SALAT MUSAFIR

99

2. Seseorang dari tempat tinggalnya pergi ke kota bagian timur yang jaraknya 32 km lalu kembali ke tempat tinggalnya, kemudian dia pergi lagi ke kota bagian barat yang jaraknya dari desa pertama (bagian timur) adalah 50 km, kemudian kembali lagi ke tempat tinggalnya. Apakah salatnya harus tamam atau qoshr di dua desa itu dan di tengah perjalanannya?

3. seorang pegawai atau tentara yang karena tugas mereka tinggal di suatu tempat selama bertahun-tahun; apakah tempat itu termasuk tempat tinggal mereka?

4. Jelaskan tolok ukur suatu tempat itu menjadi tempat tinggal seseorang!

5. Seorang petani pulang dan pergi ke sawahnya setiap hari, dan jarak antara rumah dan sawah adalah 3 farsakh, bagaimana hukum salatnya?

6. Seseorang dari desa pergi ke kota untuk bekerja. Ketika sedang dalam perjalanan kembali ke desa, apakah dia harus mengerjakan salat secara tamam atau qasar?

Pelajaran 26

SALAT QODHO

Pada pelajaran 13 telah dijelaskan bahwa salat qodho adalah salat yang dikerjakan setelah habis waktunya. Jelas bahwa setiap orang harus mengerjakan seluruh salat wajib pada waktunya, dan jika tanpa uzur salatnya menjadi qodho, maka dia terhitung sebagai pendosa dan harus bertaubat serta mengerjakan salat qodho.

1. Pada dua hal mengerjakan salat qodho adalah wajib: a. Jika salat wajibnya tidak dikerjakan pada waktunya.

b. Setelah lewat waktunya dia paham, bahwa salatnya tadi batal.1

2. Seseorang yang memiliki salat qodho tidak boleh mere-mehkannya, akan tetapi tidak wajib untuk bersegera mengerjakannya.2

3. Macam-macam kondisi seseorang sekaitan dengan salat qodho:

a. Dia yakin bahwa dirinya tidak punya tanggungan salat qodho, maka tidak ada kewajiban atas dirinya.

b. Dia ragu; apakah punya tanggungan salat qodho atau tidak, maka tidak ada kewajiban atas dirinya.

c. Dia menduga ‘mungkin’ dirinya punya tanggungan salat qodho, maka sunah mengerjakan salat qodho.

d. Dia yakin punya tanggungan salat qodho, akan tetapi tidak tahu berapa jumlahnya, misalnya tidak tahu apakah 4 atau 5; jika dia mengerjakan 4 (yang lebih sedikit) maka itu sudah cukup baginya.

e. Dia tahu jumlah salat qodho tetapi lupa, maka jika dia mengerjakan jumlah yang lebih sedikit, ini sudah cukup baginya.

f. Dia tahu jumlah salat qodho-nya, maka dia harus me-ngerjakan sesuai jumlah tersebut.3 4. Meng-qodho salat harian tidak harus* dikerjakan secara tertib, misalnya jika seseorang pada

hari ini tidak salat Asar lalu besoknya tidak salat Zuhur, dia tidak harus meng-qodho salat Asar terlebih dahulu kemudian meng-qodho salat Zuhur.4

5. Salat qodho bisa dikerjakan secara berjamaah, baik salat imam jamaah itu salat qodho ataupun salat ada’an (salat pada waktunya), dan tidak harus makmum dan imam mengerjakan salat yang sama. Misalnya, jika makmum mengerjakan salat qodho Subuh secara berjamaah dengan imam yang sedang mengerjakan salat Zuhur atau salat Asar, maka tidak ada masalah.5

6. Jika seorang musafir—yang wajib meng-qoshr salat—ternyata salat Zuhur, atau Asar, atau Isyanya menjadi salat qodho, maka dia harus mengerjakan salat qodho-nya itu secara qoshr (ringkas; menjadi dua rakaat), walaupun dia ingin mengerjakan salat qodho-nya pada saat tidak sedang bepergian.6

1. Taudhih Al-Masail, masalah ke-1370-1371.

2. Ibid, masalah ke-1372.

1. Ibid, masalah ke-1374 dan ke-1383.

* Araki: harus dikerjakan secara tertib, masalah ke-1368).

2. Ibid, masalah ke-1375,

3. Ibid, masalah ke-1388.

Dalam dokumen BELAJAR FIKIH Untuk Tingkat Pemula (Halaman 98-101)

Dokumen terkait