4 MUSEUM NEGERI PROVINSI LAMPUNG
4.4 Museum Sebagai Bagian dari Sistem Pendidikan Nasional
4.4.2 Museum Sebagai Perangkat Sistem Pendidikan Nasional
Di negera-negara maju seperti Amerika dan Inggris peran museum sebagai institusi pendidikan informal telah dirancang menjadi bagian penting dari sistem pendidikan nasional. Di Amerika pada tahun 1984 American Association of Museums (AAM) membentuk komisi yang disebut the Commision on Museum for a New
Century yang bertugas melakukan studi tentang pandangan publik terhadap museum
dan posisioningnya yang tepat di dalam masyarakat (Hein, 1998: 8). Dalam laporannya komisi tersebut menyatakan bahwa museum belum merealisasikan secara penuh peran potensialnya sebagai institusi pendidikan. Oleh karena itu, pada tahun 1992 AAM menunjuk sejumlah professional educator dan direktur museum untuk melakukan konferensi. Hasil konferensi tersebut adalah menguatkan komitmen profesional pendidikan atau belajar di museum dan kembali menguatkan tema pelayanan terhadap komunitas merupakan hal yang esensial bagi museum. AAM Dalam laporannya menyatakan :
Komunitas museum di Amerika Serikat harus berbagi tanggungjawab dengan institusi pendidikan lainnya untuk memberikan kesempatan belajar seluas-luasnya bagi semua orang dan menjadi lingkungan yang dapat memberi pencerahan, sehingga dapat membentuk masyarakat yang lebih menghargai nilai masa lalunya, lebih bijaksana dan sensitif terhadap perkembangan masa kini, dan menentukan masa depannya dengan berbagai pengalaman dan berbagai cara pandang (American Association of
Museum, dikutip dalam Hein, 1998: 8-9).
Sementara itu di Inggris, pencanangan kurikulum nasional baru pada tahun 1989 menentukan pemanfaatan museum untuk mendukung mandat negara dalam mencapai tujuan pendidikan (Hein, 1998: 9). Amanat ini mengharuskan pengelola museum bekerja sama dengan pihak berwenang di bidang kurikulum pendidikan. Hanya sayangnya, secara kebetulan topik yang menjadi tanggungjawab museum tidak dapat dipenuhi oleh museum karena museum tidak mempunyai koleksi yang dapat mendukung pendidikan (Hein, 1998: 9). Menurut Anderson, museum di Inggris nampak selalu terlihat sebagai institusi pendidikan, namun masih dibutuhkan penelitian mendalam untuk menguji peran pendidikan mereka secara penuh (Anderson, dikutip dalam Hein, 1998: 9). Publikasi ini memperlihatkan kesadaran baru tentang kontribusi museum untuk menjadi tempat belajar seumur hidup, dan kontribusi ini dapat berikan di masa depan jika tugas museum dikoordinasikan dengan pihak pemerintah lokal, regional dan nasional.
Uraian di atas dapat menjadi inspirasi dan memperlihatkan harapan besar bagi museum untuk menjadi mitra pendidikan formal dalam mewujudkan tujuan pendidikan nasional. Meskipun kedua negara tersebut menggunakan pendekatan yang berbeda dalam menentukan peran pendidikan museum, namun pada dasarnya perbedaan cara tersebut mengarah pada penguatan peran museum sebagai institusi pendidikan informal yang dapat mendukung proses belajar pendidikan formal. Dengan demikian jelas bagaimana posisi museum dalam sistem pendidikan nasional
4.4.2.1 Penguatan Kelembagaan Museum Secara Internal
Untuk mendukung proses pendidikan formal, perubahan secara kelembagaan pada museum dapat terjadi dalam lingkup internal, yaitu penguatan yang didorongan oleh profesional museum melalui Asosiasi Museum Indonesia (AMI) dan dalam lingkup eksternal melalui penguatan dengan menerbitkan aturan perundang-undangan yang memastikan bahwa museum memiliki tanggungjawab untuk mendukung proses belajar pendidikan formal.
Melakukan penguatan secara internal, dapat dilakukan dengan meninjau kembali definisi museum berdasarkan International Council of Museum (ICOM, 2006):
Museum adalah lembaga permanen yang tidak mencari keuntungan
(not-for-profit), diabdikan untuk kepentingan dan pembangunan masyarakat,
serta terbuka untuk umum. Museum mengumpulkan, melestarikan, meneliti, mengkomunikasikan, memamerkan bukti-bukti bendawi manusia dan lingkungannya untuk tujuan studi, pendidikan dan kesenangan.
Definisi tersebut dengan jelas menyatakan bahwa museum adalah tempat yang ideal bagi orang yang ingin melakukan studi dan belajar sambil bersenang-senang. Ini artinya potensi yang dimiliki museum semestinya dapat digunakan untuk mengembangkan lingkungan yang ideal untuk belajar. Berdasarkan definisi tersebut AMI dapat membuat interpretasi yang lebih konkrit mengenai museum sebagai lingkungan belajar yang ideal bagi siswa. AMI di daerah dapat melakukan kerja sama dengan institusi pendidikan formal untuk mencari titik temu antara potensi yang dimiliki museum dengan kebutuhan pihak sekolah.
Selanjutnya, dari sisi kelembagaan museum, sebagai perhimpunan museum Indonesia AMI dapat mengupayakan suatu pertemuan untuk membahas satu visi bersama museum-museum di Indonesia untuk mengambil bagian dalam mendukung pendidikan formal demi mewujudkan tujuan pendidikan nasional. Visi bersama tersebut dapat dijadikan sebagai pedoman bagi profesional museum untuk
menentukan kebijakan-kebijakan operasional yang dapat mendukung terwujudnya museum yang dapat mendukung pendidikan formal. Masing-masing museum, terutama museum negeri provinsi perlu didorong melakukan interpretasi ulang terhadap eksebisinya agar dapat menjadi tempat belajar yang ideal bagi siswa. Interpretasi tersebut dapat melibatkan pihak sekolah untuk mendapatkan informasi tentang materi pelajaran yang dapat diajarkan di museum. Jadi penentuan strategi yang sesuai untuk museum sebagai sarana pendidikan, idealnya dilakukan bersama antara museum dan sekolah, terutama di dalam menyusun garis besar isi program media atau jenis sumber belajar (Sudharto, 2001: 35). Tanpa adanya kebersamaan di dalam menyusun program kunjungan tersebut, pelaksanaan program tidak akan berkualitas.
4.4.2.1 Penguatan Kelembagaan Museum Secara Eksternal
Di lain pihak pemerintah baik di tingkat pusat, maupun daerah dapat membuat peraturan perundang-undangan yang dapat memperkuat posisi museum untuk ikut memiliki kontribusi terhadap proses pembelajaran institusi pendikan formal. Dengan demikian arah kebijakan terhadap sekolah dan museum akan jelas. Sekolah dapat menjadikan museum sebagai salah satu sumber belalajarnya. Sementara museum dapat menentukan bahwa target kunjungan adalah siswa. Bentuk arahan ini akan menempatkan museum sebagai institusi pendidikan informal yang penting bagi sekolah, karena materi yang diajarkan di sekolah mempunyai keterkaitan dengan eksebisi yang disajikan di museum. Dengan demikian, di satu sisi sekolah akan mendapatkan mitra strategis dalam bidang belajar mengajar, sementara di sisi lain museum dapat menjalankan peran utamanya sebagai institusi pendidikan dengan baik. Ini artinya kualitas kunjungan akan meningkat seiring dengan kuantitas kunjungan siswa yang jumlahnya signifikan.
Secara konkrit aturan yang dibuat pemerintah itu memberi arahan terhadap desain kerja sama yang dapat dilakukan antara museum dan sekolah. Bentuknya dapat berupa kurikulum sekolah yang melibatkan museum sebagai laboratorium bagi mata palajaran tertentu, seperti mata pelajaran IPS terpadu. Sementara perangkat
aturan yang ditujukan kepada museum juga memberi gambaran yang konkrit mengenai semua tugas pokok dan fungsi museum sebagai salah satu laboratorium bagi sekolah.
Peran terbesar dari kerja sama ini dapat dibebankan menjadi tanggungjawab museum negeri provinsi. Hal ini bukan mengecilkan fungsi dari museum-museum khusus yang dikelola pemerintah atau museum swasta yang dikelola yayasan. Namun pertimbangan ini berpijak pada koleksi yang dipreservasi, dirawat, diteliti dan disajikan oleh museum. Museum negeri provinsi sebagai museum umum (general
museum) merupakan museum yang berhubungan dengan pola berpikir interdisipliner
sehingga dapat memberi perluang untuk menjabarkan secara visual mengenai kehadiran manusia dan alam lingkungannya, baik lingkungan alamiah yang memberikan segala sumber daya hidup, maupun mengenai lingkungan sosial budayanya (Sutaarga, 1997: 69). Pola berpikir interdispliner tersebut dapat dilakukan oleh museum negeri provinsi, karena dalam menterjemahkan kehadiran manusia dan alam lingkungannya museum membaginya menjadi 10 bidang kajian ilmiah yang kemudian dijadikan klasifikasi koleksi. Sebagaimana telah diuraikan pada Bab 3, bahwa klasifikasi koleksi museum negeri provinsi terdiri atas 10 jenis. Klasifikasi tersebut didasarkan pada disiplin ilmu. Tujuan dari pembagian berdasarkan disiplin ilmu agar koleksi dapat dijadikan sebagai objek studi dan pendidikan. Ini artinya, museum negeri provinsi dapat menjadi referensi banyak bidang ilmu dibandingkan dengan museum khusus yang dikaji oleh satu bidang saja. Dengan demikian, mata pelajaran sekolah yang terdiri atas berbagai bidang ilmu akan lebih cocok untuk datang ke museum negeri provinsi dibandingkan pada museum khusus. Namun museum khusus dapat menjadi referensi yang lebih lengkap bila siswa mempunyai minat khusus di bidang studi tertentu. Siswa dapat melihat artefak, spesimen dan fenomena yang lebih detail dari museum khusus.
Hal lain yang menjadi pertimbangan pemilihan museum negeri provinsi adalah karena hingga saat ini museum negeri provinsi telah ada di 26 provinsi. Ini artinya, persebaran museum negeri provinsi lebih luas dibanding museum khusus, sehingga dapat menjadi referensi bagi sekolah-sekolah yang berada di daerah. Di
samping itu, karena koleksi yang dikumpukannya adalah koleksi yang berasal dari lingkup provinsinya masing-masing, maka sekolah yang menjadikan museum sebagai laboratorium akan mendapatkan referensi tentang potensi yang dimiliki daerahnya masing-masing. Referensi ini seringkali tidak dijumpai dari buku sekolah yang umumnya memberi ilustrasi dan contoh dari daerah-daerah tertentu saja. Oleh karena itu, museum dapat memperkaya wawasan siswa dengan ilustrasi visual dari berbagai kelompok suku yang ada di wilayah provinsinya masing-masing.
Dengan demikian jelas bahwa museum negeri provinsi mempunyai potensi yang cukup memadai untuk mendukung berbagai mata pelajaran yang diajarkan di sekolah. Dalam konteks tesis ini pembahasan hanya akan difokuskan pada mata pelajaran IPS saja. Mata pelajaran IPS menarik untuk dibahas di samping karena museum memiliki berbagai koleksi yang berkaitan dengan materi yang diajarkan di tingkat SMP, ternyata sekolah juga mempunyai kesulitan untuk memberikan pengalaman laboratoris untuk materi pembelajaran IPS, karena laboratorium IPS tidak ekonomis untuk dibuat di sekolah.