Musik Sebelum Indonesia Raya
2.1. Etude Syailendra
2.1.4. Musik Upacara Masyarakat Pekantan
Masyarakat Pekantan adalah masyarakat yang sekarang terletak di Keca-matan Pekantan, Kabupaten Mandailing Natal, Sumatra Utara. Masyara-kat Pekantan adalah salah satu komunitas yang cukup terisolir dari dunia luar. Hal ini membuat kebudayaan Pekantan cukup terjaga dari pengaruh dunia luar, meskipun, beberapa perubahan juga sudah terjadi, terutama
sejak agama Islam masuk. Sistem pemerintahan masyarakat Pekantan, se-perti halnya masyarakat adat lainnya di Indonesia, adalah kerajaan. Jika disebut bahwa masyarakat Pekantan mengenal sistem kerajaan, jangan dibayangkan yang dimaksud dengan kerajaan adalah kerajaan modern dengan wilayah dan kuasa yang luas. Budaya Pekantan mengenal banyak raja, yang artinya raja mengatasi berbagai aspek kehidupan masyarakat adat atau suku. Jadi, lebih tepatnya, raja adalah semacam kepala suku yang mengepalai suatu komunitas atau pemukiman.
Biasanya raja dalam masyarakat Pekantan tinggal di dataran yang le-bih tinggi dari masyarakat biasa. Dalam sistem kekastaan ini berarti raja mendapatkan air yang paling dekat dengan sumber mata air, artinya air tersebut belum tercemar.13 Ini sekaligus menandakan pentingnya air da-lam kehidupan masyarakat Pekantan. Rumah tempat raja tinggal bernama bagas na godang atau bagas borlang. Raja dalam masyarakat adat Pekantan memiliki fungsi administratif dan yudikatif sekaligus bertugas memimpin upacara adat. Raja menjalankan tugas eksekutifnya dari sebuah pendopo bernama sopo godang atau sopo gordang, di mana dalam pendopo tersebut raja memimpin upacara ritual atau mengadakan pertemuan dengan pe-mimpin suku lain. Sopo godang terletak di dataran yang lebih tinggi dari pemukiman rakyat biasa. Di dalam sopo gordang inilah tersimpan alat musik orkes gordang sembilan, alat musik yang dianggap paling suci berdasarkan sistem kelas masyarakat Pekantan.14
Masyarakat adat Pekantan, seperti layaknya masyarakat adat di Nusantara lainnya, memiliki berbagai upacara ritual keagamaan.15 Musik menempati peran yang teramat penting dalam ritual upacara keagamaan masyarakat Pekantan Mandailing sehingga tidak bisa dipisahkan dari ritual-ritual kea-gamaan tersebut. Hanya dalam ritual upacara tertentu saja orkes gordang sembilan boleh dimainkan, misalnya dalam upacara kematian raja. Lebih te-patnya, hanya raja dan keturunannya yang dapat menggelar acara di mana
13 Sistem kasta masyarakat Pekantan terbagi menjadi tiga kelas, yaitu bangsawan, masya-rakat biasa dan budak.
14 Gordang sembilan tersusun dari sembilan gendang, perkusi berbahan metal atau metalo-fon dan alat musik tiup dengan reed ganda.
15 Upacara keagamaan di sini berarti upacara menghormati leluhur atau upacara persem-bahan untuk leluhur untuk berterima kasih atas keberhasilan panen, misalnya. Bukan ritual keagamaan seperti yang kita kenal sekarang, tetapi ide dasarnya kurang lebih sama.
orkes gordang sembilan dimainkan. Upacara besar dikenal dengan nama Horja na godang sedangkan upacara kecil atau biasa-biasa saja dikenal de-ngan nama Horja na menek. Jika kematian raja dikategorikan sebagai upaca-ra besar, maka upacaupaca-ra kelahiupaca-ran anak penduduk biasa, misalnya, diklasifi-kasikan sebagai upacara kecil dan hanya bisa dirayakan dengan alat musik orkes biasa saja.
Seperti kebanyakan masyarakat adat di Nusantara, masyarakat Pekantan mengenal paham dualisme. Musik, terutama musik ansambel, diakui se-bagai bentuk ekspresi paling luhur karena dianggap mampu mendamaikan pertentangan antara dua kutub bertentangan, yaitu sintaksis musik (ben-tuk) dan ekspresi emosional (isi) yang dikiaskan.16 Apabila bunyi gendang dan metalofon terkesan kaku dan terkekang oleh irama yang tidak beru-bah-ubah, itu karena memang dimaksudkan demikian. Di sini, peran alat musik tiup dan vokal menjadi penting sebab kedua instrumen itulah yang memberikan improvisasi bebas atas fondasi yang diberikan oleh gendang dan metalofon.
Ada sebelas komposisi yang digubah untuk tujuan upacara besar; lima di antaranya untuk dimainkan dalam upacara-upacara utama, sedangkan enam lainnya hanya dimainkan untuk upacara kematian, pernikahan dan upacara untuk membangkitkan semangat. Orkes ansambel yang boleh di-mainkan oleh anggota masyarakat Pekantan berbeda-beda tergantung pada posisi kasta pemilik hajat. Apabila ada tiga kelas kasta dalam sistem masyarakat Pekantan, maka ada tiga pula kelas orkes ansambel mengikuti kelas kasta di mana gordang sembilan menempati posisi puncak. Jenis in-strumen dalam setiap kelas orkes cenderung sama, yang berbeda adalah jumlah gendang yang boleh dimainkan sehingga akhirnya dinamika dari komposisi musik berbeda pula.17 Sudah jelas dari namanya, gordang
sembi-16 Dalam hal ini, kebudayaan musik masyarakat Pekantan tidak sendirian. Kebudayaan musik barat juga mengenal pertentangan yang sama antara isi dan bentuk. Keseimbangan terjadi bila bentuk dapat menyampaikan isi yang tepat. Musik yang hanya menekankan bentuk tidak akan memiliki isi atau pesan, tetapi di sisi lain mustahil ada isi tanpa memiliki bentuk. Oleh sebab itu, tegangan antara isi dan bentuk adalah dua jenis aspek yang harus diperhatikan dalam menggubah sebuah karya seni, tidak hanya musik.
17 Dinamika dalam musik adalah tingkat kuatnya sebuah bagian dimainkan. Dinamika se-buah komposisi bisa berubah-ubah tergantung dari orkestrasi atau komposisi. Sese-buah kom-posisi yang baik biasanya memiliki aneka rupa penanda dinamika yang akhirnya bisa diter-jemahkan ketika karya tersebut ditampilkan. Sekalipun komponis memberikan petunjuk dinamika dalam sebuah komposisi, adalah pengaba yang bebas menerjemahkan sejauh apa
lan memiliki sembilan jenis gendang maka dari itu, komposisi yang dimain-kan dengan gordang sembilan cenderung lebih membahana.
Gordang sembilan dimainkan oleh lima orang yang bertugas menabuh de-ngan sekuat tenaga sehingga menghasilkan suara menggelegar. Jumlah gendang yang boleh dimainkan dalam musik adat Pekantan selalu berjum-lah ganjil. Sama halnya dengan upacara pengorbanan kerbau yang juga ha-rus berjumlah ganjil. Diperkirakan sembilan gendang yang sekarang dike-nal pertama-tama hanya berjumlah tujuh saja. Hal ini diperkuat dengan temuan di beberapa daerah yang masih menggunakan tujuh gendang.
Konon katanya, jumlah gendang dalam susunan instrumen gordang sem-bilan pada awalnya hanya berjumlah lima sehingga dikenal dengan nama gordang lima.18
Penambahan jumlah gendang ke dalam susunan instrumen gordang meru-pakan perlambangan dari penyerapan marga ke dalam pemerintahan Raja Pekantan. Dari kacamata ini, gordang lima dianggap sebagai awal mula dari masyarakat Pekantan di mana kemudian sedikit demi sedikit jumlah marga yang terserap bertambah. Hal inilah yang dilambangkan dengan penamba-han juga jumlah gendang menjadi tujuh dan kemudian sembilan. Sejumlah lima gendang dalam susunan gordang sembilan melambangkan marga Nasu-tion, Lintang, Hasibuan, Kotalanca dan Hutagambir. Tiga gendang dianggap sebagai perwakilan dari marga Lubis yang terdiri dari Lubis Hutanopan, Lubis Singasora dan satu marga turunan lain. Susunan ini menyisakan satu gendang sebagai lambang Raja Pekantan yang mengepalai seluruh marga tersebut. Raja Pekantan sendiri harus berasal dari marga Lubis.
Jika dulu gondang sembilan hanya boleh dimainkan atas persetujuan atau permintaan raja, maka sekarang ini saudagar kaya boleh mengadakan pe-ngorbanan kerbau dengan diiringi oleh orkes gondang sembilan.19 Prosesi
seharusnya amanat sang komponis dijalankan. Itulah sebabnya, kita sering kali mendengar banyak variasi, terutama dalam dinamika dan tempo, meskipun lagu yang dimainkan sama.
18 Gordang lima sampai sekarang masih digunakan dalam upacara-upacara yang berkaitan dengan sihir atau ilmu gaib.
19 Hanya rajalah pada waktu itu yang boleh dan mampu mengorbankan kerbau dengan diiringi orkes gondang sembilan. Tentu saja ini wajar karena harga kerbau tidak murah.
Pengadaan upacara di zaman dahulu biasanya akan dimusyawarahkan dalam sebuah forum masyarakat bertempat di sopo godang, di mana jenis dan kelas upacara itu akan ditentukan
upacara yang paling panjang adalah ketika raja atau keturunan bangsawan meninggal dunia. Upacara kematian ini bisa memakan waktu beberapa bulan dan selama itu pula jenazahnya tidak akan dikubur sampai semua kerabatnya datang. Penundaan penguburan itu terutama dilakukan untuk menunggu orang-orang yang berutang bisa hadir dan membawa persem-bahan sesuai dengan kemampuan masing-masing.20
Upacara penguburan raja akan berlangsung selama kurang lebih sembilan hari dan sembilan malam, atau dalam kasus tertentu, sampai persediaan makanan dari hewan kurban habis.21 Adapun gunanya upacara kematian itu adalah untuk mengantar arwah yang meninggalkan dunia ini ke alam selanjutnya. Selain raja dan keturunannya, yang mendapat kehormatan untuk diberikan upacara begitu megah adalah harimau. Jika raja dianggap sebagai penguasa manusia, harimau dianggap sebagai penguasa alam. Apa-bila seekor harimau kedapatan bersalah dalam membunuh manusia maka ia akan dibunuh kemudian dipotong-potong menjadi beberapa bagian lalu dikubur.22 Bagian tubuh harimau yang sudah terbagi menjadi beberapa po-tongan akan dikuburkan di bawah lumbung, di mana ia akan menjadi lam-bang kesuburan.