BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN
B. Temuan Penelitian
2. Mutu Pendidikan di SMAN 1 Krembung
12
2. Mutu Pendidikan
Mutu berarti kualitas, yakni baik atau buruknya sesuatu. Mutuzadalah suatu prosesiterstruktur untukimemperbaiki keluaraniyang dihasilkan. Mutu pendidikan adalahzzzkemampuan lembagazzzpendidikan dalam mendayagunakanzzsumber-sumber pendidikanzzuntuk meningkatkan kemampuanzbelajar seoptimalzmungkin.23 Mutu pendidikan mengukur sampai dimana unit atau sistem telah mencapai SPM (Standar Pelayanan Minimum) atau SNP (Standar Nasional Pendidikan). Mutuzmerupakan tujuanzakhir darizsebuah penyelenggaraanzpendidikan.24 Mutu pendidikan dapat didefinisikan sebagai kualitas lembagazpendidikan yangzbersifat komprehensifzdalam rangkazmemenuhi kebutuhanzpelanggan secara konsistenzdan berkelanjutan yang dapat diukur melalui Standar Nasional Pendidikan. Indikator mutu pendidikan dapat dilihat dari lima hal, yakni fokus pada kostumer, keterlibatan menyeluruh, pengukuran, komitmen, dan perbaikan berkelanjutan.25
3. Implementasi Evaluasi Diri Sekolah Dalam Meningkatkan Mutu Pendidikan
Berpijak pada definisi tentang implementasi evaluasi diri sekolah dan mutu pendidikan diatas, maka yang dimaksud dengan implementasi evaluasi diri sekolah dalam meningkatkan mutu pendidikan adalah
23 Zahroh, Total Quality Management, 28.
24 Nurmaini,i“Implementasi Latdampingidalam RangkaiMenghasilkan RKSiBerbasis Kebutuhan MelaluizModelzEDS,” 69.
25 JeromezS. Arcaro, PendidikaniBerbasis Mutu:iPrinsip-prinsip Perumusanidan TataiLangkah Penerapanz(Yogyakarta:zPustaka Pelajar,z2007), 38.
13
pelaksanaan program review internal yang dilakukan sekolah guna mengetahui kinerja sekolah berdasarkan SPM (Standar Pelayanan Minimum) dan SNP (Standar Nasional Pendidikan), mengidentifikasi kekuatan dan kelemahan sekolah serta sebagai bahan masukan untuk membuat RKS (Rencana Kerja Sekolah) dalam rangka memenuhi kebutuhan pelanggan dan sebagai upaya peningkatan mutu pendidikan secara berkelanjutan.
F. Keaslian Penelitian
Setelahzimelakukan kajianziterhadap beberapazikarya ilmiah,zipeneliti menemukanzibeberapa penelitianziyang memilikizitema serupa,zidiantaranya adalah sebagai berikut:
1. Skripsi berjudul “ManajemenzProgram EvaluasizDiri Sekolahzdi SMP Negeri 9zPurwokerto KabupatenzBanyumas” oleh NitazAnitasari (IAIN Purwokerto) pada tahun 2016. Fokus penelitian Nita Anitasari hanya mendeskripsikan satu variabel yakni pelaksanaan manajemen program Evaluasi Diri Sekolah. Sedangkan penelitian ini berfokus pada dua variabel yakni implementasi Evaluasi Diri Sekolah dan peningkatan mutu pendidikan. Lokasi penelitian dilakukan di SMP Negeri 9 Purwokerto KabupatenzBanyumas, sedangkan penelitian ini dilakukan di SMA Negeri 1 Krembung Kabupaten Sidoarjo. Teori penelitian yang digunakan Nita Anitasari adalah teori dari Rohiat, sedangkan penelitian ini menggunakan teori dari Hanun Asrohah tentang Evaluasi Diri Sekolah. Metode penelitian
14
yang digunakan Nita Anitasari adalah jenis penelitian lapangan dengan metode kualitatif, sedangkan penelitianzini menggunakanzjenis penelitian deskriptifzdengan pendekatanzkualitatif. Hasilzpenelitian Nita Anitasari menunjukkanzbahwa proseszmanajemen programzEvaluasi DirizSekolah di SMPiNegeri 9iPurwokerto meliputiiperencanaan (workshopisekolah dan rapat), pengorganisasian (pembentukan tim pengembang sekolah), pelaksanaan (penggunaaniinstrumen Evaluasi Diri Sekolah dan pelaksanaan program), pengawasanz(dilakukan olehzkepala sekolah), dan penilaian (evaluasizkinerja perzprogram danzpembuatan laporanzEvaluasi Diri Sekolah).26
2. Skripsi berjudul “ImplementasizEvaluasi DirizMadrasah (EDM)zdalam UpayazPenguatan ManajemenzPendidikan di MadrasahiTsanawiyah (MTs) Negeri Surabaya 1” oleh Abdul Wahab (UINiSunan AmpeliSurabaya) pada tahun 2017. Fokus penelitian Abdul Wahab berfokus pada prosedur implementasiiEvaluasi DiriiMadrasah (EDM) dan penguatanimanajemen pendidikan. Sedangkan penelitian ini berfokus pada implementasizEvaluasi DirizSekolah dalamzmeningkatan mutu pendidikan. Perbedaan penelitian Abdul Wahab dengan penelitian ini terletakipada variabelikedua (Y), yaitu penelitianziini menggunakanzivariabel Y berupazipeningkatan mutu pendidikanzsedangkan penelitianzsebelumnya menggunakanzvariabel Y berupa penguatan manajemen pendidikan. Lokasi penelitian dilakukan di
26 Nita Anitasari, “ManajemenzProgram EvaluasizDiri Sekolahzdi SMP Negeriz9 Purwokerto KabupatenzBanyumas,” (Skripsi, IAINzPurwokerto, 2016), 100-102.
15
MTs Negeri Surabaya 1, sedangkanipenelitian iniidilakukan di SMA Negeri 1 Krembung. Teori penelitian yang digunakan Abdul Wahab adalah teori dari Akdon tentang evaluasi, sedangkan penelitian ini menggunakan teori dari Hanun Asrohah tentang Evaluasi Diri Sekolah. Metode penelitian yang digunakan Abdul Wahab adalah pendekatan kualitatif fenomenologis, sedangkan penelitianiini menggunakanijenis penelitianideskriptif dengan pendekatanzkualitatif. Hasilzpenelitian Abdul Wahab menunjukkanzbahwa implementasizEvaluasi DirizMadrasah (EDM)zdi MTszNegeri Surabayaz1 dilaksanakanzimelalui 4zitahap, yaituzipembentukan TimziPengembang Madrasahz(TPM), pengisianzinstrumen EDM, presentasizhasil kerjazTPM, danzpenarikan kesimpulanzdari presentasizTPM. Sedangkanzpenguatan manajemenzpendidikan melalui EDM terhadapzkinerja pendidikanzMTs NegerizSurabaya 1ztergolong baikzkarena hampirzsebagian besarzdari komponen/indikatorzstandar telahzmemenuhi SNP.27
3. Skripsi berjudul “ManajemenziStrategik dalamziMeningkatkan Mutu Pendidikanzdi MTszNegeri 1zGrobogan” oleh YuliazNurul Maulida (UIN Walisongo Semarang) pada tahun 2018. Fokus penelitianzYulia Nurul Maulida berfokus pada manajemenzstrategik dalamzmeningkatkan mutu pendidikan. Sedangkan penelitian ini berfokus pada implementasizEvaluasi DirizSekolah dalamzmeningkatan mutuzpendidikan. Perbedaan penelitian Yulia Nurul Maulida dengan penelitian ini terletakzpada variabelzpertama
27 Abdul Wahab, “ImplementasizEvaluasi DirizMadrasah (EDM)zdalam UpayazPenguatan ManajemenzPendidikan di MadrasahzTsanawiyah (MTs) Negeri Surabaya 1,” (Skripsi, UIN Sunan AmpelzSurabaya, 2017), 127-128.
16
(X), yaituzpenelitian inizmenggunakan variabelzX berupazimplementasi evaluasizdiri sekolahzsedangkan penelitianzsebelumnya menggunakan variabeliX berupaimanajemen strategik. Lokasi penelitian dilakukan di MTs Negeri 1 Grobogan, sedangkan penelitian ini dilakukan di SMA Negeri 1 Krembung. Teori penelitian yang digunakan Yulia Nurul Maulida adalah teori dari Tri Atmadji Sutikno tentang mutu pendidikan, sedangkan penelitian ini menggunakan teori dari Syaiful Sagala tentang mutu pendidikan. Metode penelitian yang digunakan Yulia Nurul Maulida dan penelitianiini adalah metode penelitian yang sama, yaitu menggunakan jenis penelitianzdeskriptif dengan pendekatanzkualitatif. Hasil penelitianzYulia NurulzzMaulida menunjukkan bahwa manajemenzzstrategik dalam meningkatkanimutu pendidikanidi MTsN 1 Grobogan meliputi perencanaan strategik (pengembanganzvisi, misi,zdan tujuan,zperencanaan jangka pendek,imenengah, danipanjang, identifikasiifaktor internalidan eksternal, sertaipenyusunan strategi), pelaksanaanimanajemen strategiki(menentukan kebijakanzimadrasah, memotivasizipendidik danzitenaga kependidikan, mengalokasikanmsumber dayammanusia, danmmengembangkan budaya strategi), dan evaluasimmanajemen strategikm(memonitor seluruhmhasil, mengukurmkinerja individumdan madrasah,mserta mengambilmlangkah perbaikan).28
28 Yulia Nurul Maulida, “ManajemenzStrategik dalamzMeningkatkan MutuzPendidikan dizMTs Negeriz1 Grobogan,” (Skripsi, UINzWalisongo Semarang, 2018), 65.
17
Dari beberapa penelitian terdahulu, perbedaan penelitianzini dengan ketiga skripsizdiatas ialah objek penelitian yang berbeda. Selain itu, ketiga penelitian diataszjuga belumzada yangzmeneliti keduazvariabel yangzsama secara bersamaan yang membahas secara spesifik tentang peningkatan mutu pendidikan melalui implementasi evaluasizdiri sekolah. Untukzitu, penelitian inizbisa menjadizpelengkap darizpenelitian-penelitian sebelumnya. Sehingga penelitian tentang implementasi evaluasi diri sekolah dalam meningkatkan mutu pendidikan inizisangat pentingziuntuk dilakukanzisebagai tambahan wawasan dan keilmuan di bidang manajemen pendidikan.
G. Sistematika Pembahasan
Untukzmempermudah dalamzmemahami alur berpikir penelitian ini, maka peneliti membuatzsistematika pembahasanzsebagai berikut:
BAB I. Babzini merupakanzbab pendahuluanzyang berisizlatar belakang penelitian, fokuszpenelitian, tujuanzpenelitian, manfaatzpenelitian, definisi konseptual, keaslianzpenelitian, dan sistematikazpembahasan.
BAB II. Babzini membahas kajianzpustaka yang meliputi evaluasi diri sekolah, mutu pendidikan, dan implementasizevaluasi dirizsekolah dalam meningkatkan mutuzpendidikan. Evaluasizdiri sekolah terdiri atas penjelasan mengenai pengertian, landasan hukum, prinsip, tujuan dan manfaat, ruang lingkup dan instrumen, serta tahapan pelaksanaanzevaluasi dirizsekolah. Kemudian mutuzpendidikan terdiri atas penjelasan mengenai pengertian, tujuan, karakteristik, dan upaya peningkatan mutu pendidikan. Terakhir akan
18
dijelaskan pula terkait evaluasizdiri sekolahzdalam meningkatkan mutu pendidikan.
BAB III. Babzini membahas tentang metodezpenelitian yang digunakan dalam penelitian, yakni terdirizdari jeniszdan pendekatanzpenelitian, lokasi penelitian, sumberzdata dan informanzpenelitian, metodezpengumpulan data, analisiszdan interpretasizdata, sertazkeabsahan data.
BAB IV. Bab ini memuat hasilzpenelitian danzpembahasan yang berisi deskripsi lokasizpenelitian yang terdiri atas profil sekolah dan dekripsi informan, temuan penelitian yang berisi penyajianzdata yangzmemaparkan fakta-fakta mengenaizmasalah yang diteliti, dan hasil analisiszdata temuan penelitian.
BAB V. Babzini merupakanzbab penutupzyang berisi simpulanzdan saran. Simpulan merupakan jawaban dari fokus penelitian dan saranzsebagai masukan yangzdimunculkan darizhasil penelitian.
BAB II
KAJIAN PUSTAKA
A. Evaluasi Diri Sekolah
1. Pengertian EvaluasiiDiri Sekolah
Evaluasi merupakan kata kunci dalam EvaluasiiDiri Sekolahi(EDS). Evaluasi secara bahasa berarti penilaian.29 Artinya bahwa evaluasi digunakan untukzmengetahui keadaanzsuatu objekzdengan menggunakan instrumenidan hasilnyaidibandingkan dengan tolok ukur untuk memperoleh kesimpulan. Evaluasizibukan sekedarzimenilai suatuzikegiatan secara insidental, namun evaluasi merupakanzkegiatan untukzmenilai sesuatu secarazterencana, sistematik,zdan terarahzberdasarkan atasztujuan yang jelas.30 Hal ini menunjukkan bahwa evaluasi merupakan kewajiban penyelenggara pendidikan yang harus dilakukan secara berkelanjutan.
Jika dikaitkan dengan dunia pendidikan, maka akan ditemukan pada Undang-Undang RI Nomor 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional Pasal 57 ayat (1) yang menjelaskan bahwa evaluasizdilakukan dalamiangka pengendalianimutu pendidikanisecara nasionalisebagai bentuk akuntabilitaszpenyelenggaraan kepadazpihak-pihak yangzberkepentingan, diantaranyazterhadap pesertazdidik, lembaga,zdan programzpendidikan.31
29 “KBBI,” Google, diakses pada 27 November, 2019, https://kbbi.kemendikbud.go.id/entri/ Evaluasi/.
30 M. Chabib Thoha, Teknik Evaluasi Pendidikan, 1.
31 Sukardi, Evaluasi Pendidikan: Prinsip dan Operasionalnya (Yogyakarta: Bumi Aksara, 2011), 1.
20
Evaluasi yang akan menjadi bahasan pokok pada kajian ini adalah evaluasi yang dilaksanakan di sekolah/madrasah yang biasa disebut sebagai Evaluasi Diri Sekolah/Madrasah (EDS/M). Menurut Panayiotis Antoniou “SchoolzSelf-Evaluation couldzbe describedzas an on going questzfor evidence in a school’s transparent sense of purpose, behaviour, relationship andzclassroom performance.zIt’s azcollaborative, reflectivezprocess of schoolzreview”.32 Artinya bahwa evaluasi diri sekolah merupakan program berkelanjutan tentang tujuan, perilaku, hubungan, dan kinerja sekolah, dimana ini semua merupakan proses reflektif dan kolaboratif yang dilakukan oleh sekolah. Hal serupa diungkapkan oleh Hendarman bahwa evaluasizdiri sekolahzmerupakan suatuzproses kolaborasizdan refleksi sebagaizbagian dari review internalzdalam persekolahan, yangzsangat vital dalamzpengembangan pengelolaanzsekolah.33
EDS adalahzalat untukzmenilai secarazinternal, benar,zdan jujur keseluruhanzkinerja sekolahzdilihat dariz8 StandarzNasional Pendidikan yang hasilnyaimerupakan dasaripenulisan RencanaiPengembangan Sekolah (RPS)/ RencanazKerja Sekolahz(RKS).34 Definisi ini juga sesuai dengan pendapat Fitri dan Desi bahwa EDSzmerupakan evaluasizinternal yang dilaksanakanzseluruh stakeholderszdi sekolah guna mengetahuizsecara komprehensif kinerjazsekolah dilihatzdari capaian SPMzdan 8zSNP serta
32 PanayiotiszAntoniou, JacquizMyburgh-Louw, and PeterzGronn, “SchoolzSelf-Evaluation for SchoolzImprovement: Examiningzthe measuringzproperties ofzthe LEADzsurveys,” Australian Journalzof Educationz60 no. 3 (2016): 192.
33 Hendarman,i“Kendala-Kendala PelaksanaaniEvaluasi DiriiSekolah (EDS),” 76.
21
mengetahuizikekuatan dan kelemahannyazisecara signifikanzisehingga diperolehimasukan untukimembuat RPS dan RKS dalam usahaipeningkatan mutuipendidikan yangiberkelanjutan.35
EDS merupakanzproses pemberianzamanat dan tanggungzjawab kepadaisekolah dalam mengevaluasi kinerjaisendiri dan mendorong sekolah untukimenetapkan prioritasiprogram dalam melaksanakaniperbaikan mutu sekolah.36 Ridwan Abdullah Sani dkk mengungkapkan bahwa EDS merupakanzupaya sekolahzuntuk mengetahuizgambaran mengenaizkinerja dan keadaanzdirinya, melaluizpengkajian dan analisiszyang dilakukanzoleh sekolah sendiri,ziberkenaan denganzikekuatan, kelemahan,zipeluang, tantangan,ikendala, bahkaniancaman.37
Jika disimpulkan, maka evaluasi diri sekolah dapat didefinisikan sebagai proses pelaksanaan program evaluasi internal yang dilakukan sekolah untuk mengetahui kinerja sekolah berdasarkan SPM dan SNP, mengidentifikasi kekuatan dan kelemahan sekolah serta sebagai bahan masukan untuk membuat RencanazKerja Sekolahz(RKS) dalam upaya peningkatanimutu pendidikan secaraiberkelanjutan.
35 FitriiNing Tyas dan DesiiNurhikmahyanti, “PenerapaniProgram EvaluasiiDiri Sekolahi(EDS) (StudiiKasus di SMAiNegeri 1iGresik),” Jurnal Inspirasi Manajemen Pendidikan 3 no. 3 (Januari 2014): 91.
36 Kementerian Pendidikan Nasional, Modul Evaluasi Diri Sekolah/Madrasah, 59.
22
2. Landasan Hukum EvaluasiiDiri Sekolah
Secaraziumum, Nanang Fattahzidalam bukunya mengungkapkan setidaknya ada tiga dasar hukum dilaksanakannya Evaluasi Diri Sekolah, diantaranya adalah sebagai berikut.
a. UU RI No. 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional.
b. PeraturanzPemerintah RI No. 19zTahun 2005ztentang StandariNasional Pendidikan.
c. PeraturanzMenteri PendidikanzNasional No. 63zTahun 2009ztentang SistemiPenjaminan MutuiPendidikan.38
Secara lebih lengkap, EvaluasizDiri Sekolahz(EDS) diharapkan dapat membantu sekolah mencapai StandarzNasional Pendidikanz(SNP) dan harapanibeberapa kebijakanipendidikan berikutiini:
a. UU No. 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional. b. UU No. 14iTahun 2005 tentangiGuru daniDosen.
c. Peraturan Pemerintah No. 32 Tahun 2013 tentang Perubahan Atas Peraturan Pemerintah No. 19 Tahun 2005 tentang Standar Nasional Pendidikan.
d. PeraturanzPemerintah No. 17zTahun 2010ztentang Pengelolaanzdan Penyelenggaraan Pendidikan.
e. PeraturanzMenteri PendidikanzNasional No. 7zTahun 2007ztentang Organisasiidan Tata KerjaiLPMP.
38 NanangiFattah, SistemiPenjaminan MutuiPendidikan (Bandung:iRemaja Rosdakarya,i2012), 9-10.
23
f. PeraturanzMenteri PendidikanzNasional No. 8zTahun 2007ztentang Organisasizdan Tata KerjazP4TK.
g. Peraturan MenterizPendidikan NasionalzNomor 12 Tahuni2007 tentang StandarzPengawas Sekolah/Madrasah.
h. Peraturan MenterizPendidikan Nasional No. 50 Tahunz2007 tentang StandarzPengelolaan Pendidikan dan PemerintahzDaerah.
i. Peraturan MenterizPendidikan Nasional No. 63 Tahunz2010 tentang Sistem PenjaminanzMutu Pendidikan.
j. Peraturan MenterizPendidikan Nasional No. 15 Tahunz2010 tentang Standar PelayananzMinimal PendidikanzDasar.
k. Renstra Kemendiknasi2010-2014 l. Renstra Kemenagi2010-2014.39\
3. Prinsip Evaluasi Diri Sekolah
EDSiidiharapkan menjadiiikegiatan rutiniisekolah yangiidilakukan secara berkelanjutan setiapitahun untukimengetahui ketercapaianitahapan pengembanganiiyang diharapkan. Kegiataniiini sebaiknyaiidilaksanakan dengan mengacuipada beberapaiprinsip berikut.
a. Berbasis Tujuan; kegiatan EDS dilakukan berdasarkan tujuan yang telah dicanangkan, karenazhasilnya dapat digunakan untukzmenentukan RencanaiPengembangan Sekolahi(RPS) yang lebihispesifik daniakurat.
24
b. BeracuanzKriteria; kegiatanzEDS dilaksanakanzmengacu padazkriteria yang didasarkan pada SPM dan SNP yang dikembangkan oleh satuan pendidikan maupun oleh pemerintah.
c. Berasas Manfaat; kegiatan EDS dilaksanakan guna memperoleh manfaat untukimeningkatkan mutuipendidikan, salahisatunya dengan menghasilkanirekomendasi untuk penyusunaniRKS.
d. Objektif; kegiataniEDS dilaksanakanijujur dan apaiadanya, sehingga dapat diketahui kondisi riil terkait kekuatan dan kelemahan sekolah.40
4. Tujuanidan ManfaatiEvaluasi DiriiSekolah a. TujuaniEvaluasi DiriiSekolah
Elizabeth Hopkins dkk mengungkapkan bahwa “the purpose of the evaluation is to make decisions”.41 Artinya bahwa tujuan dari adanya evaluasi adalah untuk menentukan dan mengambil keputusan. Secara lebih khusus, berikut tujuan adanya Evaluasi Diri Sekolah:
1) Menilaiikinerja sekolahiberdasarkan SNP dan SPM.
2) Mengetahuiztahapan pengembanganzdalam pencapaianzSPM dan SNP sebagaizdasar peningkatan mutuzpendidikan.
40 BadaniPengembangan SumberiDaya Manusia Pendidikanidan Penjaminan MutuiPendidikan, Evaluasi Diri Sekolah, 4.
41 Elizabeth Hopkins, Helen H., Frank G., Siobhan M., Daniel P., and Luke S., “Teachers’iViews of the Impactiof School Evaluationiand External InspectioniProcesses,” International Journal of Improving School 19 no. 1 (2016): 53.
25
3) Dijadikanzdasar menyusunzRencana Kerja Sekolahz(RKS) sesuai kebutuhanznyata menuju ketercapaian implementasizSPM dan SNP.42
Menurut Association ofiProfessionals in Educationiand Children’s TrustszAspect yang dikutip oleh Hendarman dalam penelitiannya mengungkapkan bahwa ada beberapa tujuan penting penerapan evaluasi diri sekolah, yaitu:
1) Dapat menjadi indikator signifikanidari kinerjaisekolah, dimana hasiliEDS dapatimenetapkan orientasiisekolah.
2) Dapat mengidentifikasiikebutuhan pengembangan profesional guru-guruidan memfasilitasiiproses berbagiipengalaman.
3) Dapatimenjamin keberlangsunganiprogram sekolah.
4) Dapatzmenjadi dasarzpengembangan instrumenzpenilaian yang relevanidalam rangka peningkatan mutu.43
Kemudian secara lebih khusus, Ridwan Abdullah Sani dkk mengungkapkan bahwa ada lima maksud atau tujuan diterapkannya EDS, yaitu:
1) Penyusunaniprofil sekolah yangikomprehensif denganidata terbaru. 2) Perencanaan daniperbaikan diri secaraiberkelanjutan.
3) Penjaminan internalisekolah.
42 BadaniPengembangan Sumber DayaiManusia Pendidikan dan PenjaminaniMutu Pendidikan, Evaluasi Diri Sekolah, 3-4.
26
4) Pemberian informasi mengenai sekolah kepadaimasyarakat dan para stakeholders (pihakitertentu yangimemerlukannya).
5) Persiapan evaluasiieksternal (akreditasi).44 b. ManfaatiEvaluasi Diri Sekolah
Evaluasizidiri sekolah tentu memiliki banyak manfaat yang mendukung terciptanya perbaikan kualitas lembaga pendidikan. Hendarman mengungkapkan bahwa setidaknya ada lima keuntungan atau manfaat dilaksanakannya EDS bagi sekolah, yaitu:
1) Sekolahzmampu mengidentifikasizkekuatan dan kelemahannya sebagaiidasar penyusunan rencanaipengembangan lebih lanjut. 2) Sekolah mampuzmengenal peluang untukzmemperbaiki mutu
pendidikan, menilai keberhasilan upaya peningkatan, dan melakukan penyesuian terhadap program-programiyang ada. 3) Sekolahzmampu mengetahui tantanganzyang sedang dihadapizdan
melakukan pencegahan.
4) Sekolahzdapat mengetahui tingkatzcapaian kinerjazberdasarkan 8 Standar Nasional Pendidikan (SNP).
5) Sekolah dapatimenyediakan laporan resmiikepada paraipemangku kepentingan tentangikemajuan serta hasil yangidicapai lembaganya. Kementerian Pendidikanzzdan Kebudayaanzzmelalui Badan PengembanganiSumber DayaiManusia membagi manfaat evaluasi diri
27
sekolah dalam dua hal, yakni bagi sekolah dan pemerintah yang diuraikan sebagai berikut.
1) BagiiSekolah:
a) Mengidentifikasikan kelebihanzzdan kekuranganzzuntuk merencanakanzpengembangan dan peningkatanzmutu di masa yang akanidatang.
b) Memiliki datazzdasar yang akuratzzsebagai dasarzzuntuk pengembanganidan peningkatanimutu di masaimendatang. c) Mengidentifikasikan kekuatanzdan peluangzpeningkatan mutu
pendidikan, ketepatanzinisiatif peningkatanzmutu, kesesuaian programidengan hasilnya.
d) Memberikan laporanzformal kepada pemangkuzkepentingan sebagai bentukiakuntabilitas sekolah.
2) Bagi PemerintahiPusat/Provinsi/Kabupaten/Kota:
a) Menyediakan datazzdan informasi yangzzpenting untuk perencanaan, pembuatanikeputusan, dan perencanaanianggaran pendidikan pada tingkatikabupaten/kota, provinsi,idan nasional. b) Mengidentifikasikan bidangmzprioritas untukmzmemenuhi
kebutuhan saranaidan prasaranaipendidikan
c) Mengidentifikasikan jenisidukungan yang dibutuhkaniterhadap sekolah.
d) Mengidentifikasikan pelatihanziserta kebutuhanziprogram pengembanganilainnya.
28
e) Mengidentifikasikanikeberhasilan sekolah berdasarkaniberbagai indikator pencapaianisesuai dengan StandariPelayanan Minimal dan StandariNasional Pendidikan.45
Secara lebih lengkap, Ridwan Abdullah Sani juga membagi manfaat evaluasi diri sekolah dalam dua hal, yakni bagi sekolah dan bagi tingkatan lain dalam sistem. Berikut uraian manfaat EDS.
1) BagiiSekolah
a) Membantu mengidentifikasiimasalah, penilaianiprogram, dan pencapaianisasaran.
b) Memperkuatibudaya evaluasiikelembagaan dan analisisidiri. c) Mendorongisekolah meninjau kembaliikebijakan lama.
d) Memberi informasiitentang perbandingan status sekolah dengan sekolah lain.
e) Memiliki datazidasar yang akuratzisebagai dasarzidalam pengembangan danipeningkatan.
f) Mengidentifikasi peluang peningkatkan mutu pendidikan. g) Memberi informasi yang akurat bagi sekolah untuk melihat
peluang dan tantangan sehingga dapat dilakukan penyesuaian. h) Membuat program peningkatan mutu pendidikan.
i) Meningkatkan mutu sebagai persiapan menghadapi akreditasi.
45 BadaniPengembangan Sumber DayaiManusia Pendidikan dan PenjaminaniMutu Pendidikan, Evaluasi DiriiSekolah, 5.
29
j) Memberikan laporanzformal kepada pemangkuzkepentingan untuk meningkatkan akuntabilitasisekolah.
k) Menciptakan budayazpeningkatan mutu pendidikanzdi sekolah secaraiberkelanjutan.
2) Bagi TingkatanzLain dalam Sistemz(Pemerintah Kabupaten/Kota, Provinsi, daniPusat)
a) Menyediakan datazipenting untuk perencanaanzipembuatan keputusan daniperencanaan anggaranipendidikan.
b) Mengidentifikasi bidangiprioritas guna memenuhiikebutuhan sarana daniprasarana.
c) Mengidentifikasi jenisidukungan yang dibutuhkanisekolah. d) Mengidentifikasi pelatihanidan program pengembanganilain. e) Mengidentifikasi keberhasilanisekolah berdasar SPM dan SNP. f) Sebagai dasaripertimbangan penyusunaniperencanaan, analisis
kebutuhanisekolah, pemberian bantuan, dan alokasi dana. g) Memberikan gambaran mutu sekolah.
h) Memetakan sekolah dalamipencapaian standar mutuilayanan pendidikan, khususnya pemenuhanistandar pendidik dan tenaga kependidikan.
i) Menyajikan datazakurat terkait kondisizsarana dan prasarana sekolah, yang dapatidimanfaatkan untuk programirehabilitasi.
30
j) Menyajikan angkazzpartisipasi dalam pendidikan,zzdapat dimanfaatkan sebagaiipemenuhan wajib belajarisehingga dapat diajukanisolusinya.
k) Bermanfaat untuk menganalisis kinerja bidang pendidikan.46
5. Ruang Lingkupidan Instrumen Evaluasi Diri Sekolah
Ruang lingkupzevaluasi diri sekolah meliputizdelapan Standar NasionalzPendidikan (SNP), yaitu Standar Isi,zStandar Proses, Standar KompetensiiLulusan, Standar Pendidikidan Tenaga Kependidikan,iStandar Sarana danzPrasarana, Standar Pengelolaan,ziStandar Pembiayaan,zidan StandariPenilaian.47
Alat yangidigunakan untuk mengukur ketercapaianistandar mutu pada satuan pendidikanzadalah instrumen EvaluasizDiri Sekolah.48 Instrumen EDS terdiri atas:
a. Standar (berjumlah delapan yang disebut sebagai 8 StandarzNasional Pendidikan).
b. Komponen (sub standar atau turunan dari setiap standar). Setiap standar mempunyai beberapa komponen.
46 Sani dkk, Penjaminan Mutu Sekolah, 117-119.
47 Presiden Republik Indonesia, Peraturan Pemerintah Republik Indonesia Nomor 32 Tahun 2013 tentang Perubahan Atas Peraturan Pemerintah Nomor 19 Tahun 2005 tentang Standar Nasional Pendidikan (Jakarta: Kementerian Sekretariat Negara RI, 2013), Pasal 2 ayat (1).
31
c. Indikator (sub komponen atau turunan dari setiap komponen). Setiap komponen mempunyai beberapa indikator yang memberi uraian rinci dariiinformasi kinerjaisekolah.
d. Ringkasan Deskripsi IndikatorzBerdasarkan BuktizFisik (terdiri atas kekuatan dan kelemahan).
e. Bukti-Bukti Fisik (dokumen pendukung deskripsi indikator).
f. Tahapan Pengembangan (menunjukkan sampai dimana kondisi sekolah) yang terdiri atas tahap ke-1z(belum memenuhizSPM), tahapzke-2 (memenuhi SPM),ztahap ke-3 (memenuhizSNP), danztahap ke-4 (melampauiiSNP).
g. Rekomendasiz(rumusan perbaikan tindak lanjut atas bukti fisik, ringkasan deskripsi indikator dan tahapan pengembangan).49
6. Tahapan Pelaksanaan Evaluasi Diri Sekolah
Tahapan pelaksanaanzEvaluasi DirizSekolah menurut Fitri dan Desi dapat diuraikan dalam empat tahapan, yakni: (1) Pelatihan pengisian instrumen EDS; (2) pengumpulanzdata atau informasizyang berupa instrumen yang telahzzdiisi parazzresponden; (3) analisis atau pengorganisasisan data; dan (4) pelaporan hasil evaluasi.50
Direktorat JenderalzPendidikan Dasar danzMenengah (Dikdasmen) KementerianziPendidikan dan Kebudayaanzi(Kemendikbud) Republik
49 Asrohah, Manajemen Mutu Pendidikan, 121-122.
50 Fitri NingiTyas dan DesiiNurhikmahyanti, “PenerapaniProgram EvaluasiiDiri Sekolah (EDS) (StudiiKasus di SMA Negerii1 Gresik),” 94.
32
Indonesia dalam PetunjukziPelaksanaan (Juklak)ziPenjaminan Mutu Pendidikanzioleh SatuanziPendidikan menyebutkan ada lima tahapan pelaksanaan evaluasi diri sekolah, yaitu:51
a. PengembanganiInstrumen
Penyusunaniinstrumen wajib memperhatikan darimana sumber data akanzdidapatkan. Hal ini karena instrumen tersebut nantinya akan menjadizkerangka acuan TPMPSz(Tim Penjaminan MutuzPendidikan Sekolah) dalamzzmelakukan evaluasi. Berikut tahapan dalam mengembangkan instrumen.
1) Penurunan indikatorimutu menjadi butiripertanyaan.
2) Identifikasi sumberzidata yang dibutuhkanziuntuk menjawab pertanyaan.
3) Penyusunan instrumenipemetaan.
4) Penyusunan panduanzteknis instrumen yang meliputiztujuan, isi instrumen,ijadwal, responden, metodeipengisian, dan petugasiyang bertanggungijawab.
Namun, untuk pengembangan dan penyusunan instrumen evaluasi diri sekolah ini telah dilakukan oleh pemerintah sehingga memudahkan satuan pendidikan dalam melakukan evaluasi. Instrumen tersebut dapat dijadikan pedoman atau contoh dalam mengembangkan instrumen.
51 Dirjen PendidikaniDasar dan MenengahiKemendikbud RI, Petunjuk PelaksanaaniPenjaminan Mutu Pendidikanioleh Satuan Pendidikan, 51.
33
b. Pengumpulan Data
Sumber data berasal dari dokumen kegiatan belajar mengajar, hasil kerjazpeserta didik, datazdan informasizpenilaian (dinas pendidikan, komite sekolah, orang tua, dan peserta didik), dokumen sekolah (silabus, RPP, RKS/RKAS,itata tertib dan kebijakanisekolah, laporanisupervisi, laporan evaluasiidiri sebelumnya, rencanaipengembangan sekolah, dan lain-lain), dan hasiliaudit. Berikut tahapan dalam pengumpulan data. 1) Sosialisasi kepadaiseluruh responden atauisumber data mengenai
kegiatanipengumpulan data olehisatuan pendidikan.
2) Penyebaraniinstrumen ke seluruh responden oleh satuan pendidikan. 3) Verifikasi kelengkapaniisian dari setiapiresponden olehiTPMPS. 4) Validasi terhadapidata isian olehiTPMPS.
5) Dokumentasi hasilzipengisian dalam bentukzielektronik untuk memudahkan prosesianalisis yang dilakukan olehiTPMPS.
c. AnalisaiData
Berikut tahapan dalam melakukan analisa data.
1) Penyusunan formatzanalisis dengan pendekatanzyang dipahami stakeholders oleh TPMPS.
2) Pengisian formatisesuai dengan hasil dokumentasiihasil pengisian instrumenioleh Satuan Pendidikanibersama TPMPS.
3) Penentuanimasalah berdasarkan hasil analisaikondisi sekolahioleh Satuan Pendidikanibersama TPMPS dan stakeholdersiterkait.
34
d. Penentuan AkariMasalah
Berikut tahapan dalam menentukan akar masalah.
1) Menganalisis masalahzdengan pendekatan yangzdipahami oleh stakeholders sekolah.
2) Mencari akaridari setiap masalahiyang telah diidentifikasi sebagai hasilianalisis sebelumnya.
3) Mencari hubunganiantar penyebab masalahidengan masalah lain. 4) Membuat prioritaszmasalah yang akan dipecahkanzdalam upaya
peningkatanimutu pendidikan di satuanipendidikan. e. PenyusunaniRekomendasi
Berikut tahapan dalam menyusunirekomendasi.
1) Menyusun prioritaszdari masalah yang palingzmendesak untuk diselesaikanisampai ke masalahiyang kurangimendesak.
2) Menentukan solusiiuntuk memecahkan setiapimasalah. 3) Menyusun laporanihasil evaluasi beserta rekomendasinya.
Setelah seluruh tahapan diatas dilakukan, maka hasil evaluasi diri tersebut dapat digunakan untuk menghasilkan dokumen-dokumen perencanaan, seperti RPS (Rencana Pembelajaran Semester), RKS (RencanazKerja Sekolah), dan RKAS (RencanazKegiatan dan Anggaran Sekolah). Seluruh dokumen-dokumen tersebut akan membuat sekolah dapat merealisasikaniprogram dan kegiataniyang telah dicanangkan. Selain itu, sekolah tidakzkehilangan arahzdalam menentukan kebijakan-kebijakan selanjutnyaidalam rangka meningkatkan mutu lembaganya.
35
B. Mutu Pendidikan
1. Pengertian MutuiPendidikan
Secaraibahasa, mutu didefinisikan sebagai ukuranibaik burukisuatu benda; kadar;itaraf atau derajati(kepandaian, kecerdasan,idan sebagainya); kualitas.52 Secara istilah, mutu dapat diartikan sebagai kualitas yangidiukur berdasarkan relevansi,iefisiensi, keefektifan, danidampak dari program, proses, atauitindakan.53 Namun meski demikian, sesungguhnya mutu merupakan sesuatu yang memiliki pengertian yang bervariasi. Hal ini karena standar setiap individu berbeda.
Berbicara mutu, maka juga berbicara kepuasan konsumen. Garvin dan Davis dalam Asrohah mengungkapkan bahwa mutuiadalah suatuikondisi yang berhubunganidengan produk, tenaga kerja, tugas, dan lingkungan yang memenuhizatau melebihi harapanzpelanggan.54 Deming dalam Djafri dan Rahmad berpendapat bahwa, “the difficulty in defining quality is to translate qualityziis to translatezifuture needs of theziuser intozimeasureable characteristics,zso that azproduct can bezdesigned and turnedzout to give satisfactionzat a price thatzthe user willzpay”.55 Definisi inizmenekankan pada konteks,zpersepsi pelanggan, dan kebutuhanzserta kemampuan pelanggan. Artinyaziuntuk mendefinisikan mutu,ziterlebih dahulu perlu
52 “KBBI,” Google, diakses pada 27 November, 2019, https://kbbi.kemendikbud.go.id/entri/ Mutu/.
53 Badan PengembanganiSumber Daya ManusiaiPendidikan dan PenjaminaniMutu Pendidikan, Evaluasi Diri Sekolah, v.
54 Asrohah, Manajemen Mutu Pendidikan, 20.
55 Novianti Djafri dan Abdul Rahmad, Buku AjariManajemen Mutu Terpadui(Yogyakarta: Zahir Publishing, 2017), 8.
36
dipahamizkarakteristik tentang mutuzitu sendiri. Deming sebenarnya