membuat informasi / sugesti / pesan / saran / usul nasehat mudah masuk kealam bawah sadar. Pola suara yang tepat dapat membuka critical factor, adalah memperhatikan : (1). Kecepatan
suara. Pengaturan kecepatan suara atau tempo
dapat membuat kalimat menjadi lebih bermakna. Kapan lambat dan kapan cepat tergantung dari nuansa yang disampaikan. (2) Kekuatan,
Kekuatan suara dapat diukur dalam rungan yang berisi 30 audence. Mampukah berbicara tanpa mic mencapai audience di belakang ?, (3) Tinggi
rendahnya suara. ( Nada ), Pengaturan nada ini
terkait dengan jenis kalimat yang disampaikan , yakni kalimat berita, kalimat Tanya , atau kalimat lainnya. Kecuali itu pengaturan ini juga terkait dengan suasana himah, resmi, hal – hal yang penting atau lainnya.,.(4) Irama bicara./
Intonasi. Irama bicara mirip dengan tempo
tetapi mengkaitkan irama didalamnya. Intonasi diharapkan selaras dengan apa yang diucapkan dan dirasakan, (5)Penekanan kata.Penekanan kata dimaksudkan untuk menyampaikan kata kunci hal penting, dengan tujuan untuk mengambil perhatian / membuka alam bawah sadarnya., (6) Artikulasi, yakni kejelasan dalam mengucap kata – kata. agar terdengan jelas kata yanhg diucapkan dan tertangkap dengan gampang, bukan hanya sekedar keras. Perhatikan jenis – jenis huruf, gabungan huruf dan cara mengucapkan ( A. B. C, D, dst . men, ber, ter, kan, lah, dst. ), (7) Penggalan jeda kata
yang tepat dalam kalimat. Jeda digunakan
untuk membuat kalimat mendapat perhatian dari pendengar, membuka critical factor, menyampaikan arti yang tepat, bernapas tanpa meninggalkan maksud dan esensi, dan lain–lain. Penggalan kata harus memperhatikan ketepatan mana yang harus dipenggal dan ketepatan waktu, (8) Pengulangan.Pengulangan kata atau kalimat bertujuan untuk memperjelas atau menanamkan informasi tertentu , yang biasanya dibarengi dengan penekanan , intonasi, nada, dan jeda. Agar supaya masuk kedalam alam bawah sadarnya.
Pola bahasa.
Pola bahasa yang dipakai oleh pendidik perlu harus dimengerti, menarik dan mendewasakan , sehingga dalam proses belajar mengajar , anak didik akan memperhatikan,
yang secara otomatis gelombang otak anak didik masuk kedalam gelombang alpa atau teta. seperti pemaparan berikut ini.: (1) Meta model
adalah serangkaian pola bahasa dan keraguan ( pertanyaan ) yang berfungsi untuk mengembalikan atau membalik kata – kata yang dihapus, dikurangi, maupun ditambah dengan dalih – dalih tertentu., contoh :: Saya merasa tidak enak hari ini – Tidak enak yang bagaimana maksudnya ?, (2). Milton model : kata atau kalimat yang tidak lengkap ( dikurangi / dihapus / digeneralisir), memberikan kesempatan lawan bicara untuk mengungkap / menanalisis jawaban jawaban sesuai dengan persepsi , keteledoran atau pengalamannya., contoh : Aku tidak tahu kalau dia akhirnya ( menceriterakan ) seperti itu
(3) Kata Penghubung. Kata penghubung
memiliki kekuatan persuasive yang sangat bisa diandalkan bisa mempengaruhi pikiran rang lain :, yakni : dan, maka, sehingga, tetapi, sayangnya, namun, oleh karena itu, dan seterusnya., (4) Chunk Up ( menggiring ke kesimpulan ), Chunk Side ( menggiring kesamaan level ) dan Chunk Down ( menggiringke hal yng lebih spesifik ), Secara berturut – turut sebagai contoh : Apapun yang terjadi saat ini, sepertinya yang perlu direkontruksi adalah mindsetnya - Karya – karya bangsa lainya adalah sepeti karya seni karya teknologi, karya olah raga - kalau begiti apa yang menjadi contohnya ? ….
Bahasa fisik
Bahasa fisik meliputi pandangan mata, bahasa tubuh, bahasa napas, posisi bodi, dan ekspresi wajah . peran bahasa fisik juga berpengaruh terhadap hasil pembelajaran, karena. bahasa fisik ini merupaka keutuhan / kesempurnaan system penyampaian sugesti / usul / informasi, pesan / saran dan semacamnya, yang menunjukkan perhatian, kedekatan, kewibawaan, sikap, kondisi, perasaan, penghargaan, dan semacamnya.
Sistem representasi visual, auditori dan kinestetik.
Pada dasarnya semua orang memiliki 3 sistem representasi (referensi) , namun orang yang bersangkutan memiliki salah satu sistem representasi dari ketiganya yang merupakan andalan / dominant dalam proses keluarnya informasi dari dalam memori. Bila individu itu
154
lebih didominasi oleh indra visual maka semua jenis informasi yang dikeluarkan lebih didominasi oleh informasi – informasi visual. (Ghannoe, 2010 : 85-88)
Adapun ciri – ciri predikat setiap sistem adalah sebagai berikut (1) Tipe visual ( berbasis penglihatan ).. Tipe visual dalam memandang sesuatu lebih mengandalkan penglihatan, sehingga aktivitas yang dilakukan cenderung melihat, memperhatikan, menonton, menunjukkan, memandang, membayangkan mewarnai, memvisualisasikan, melihat dari sudut pandang, mengamati , dan semacamnya, . (2) Tipe Auditory ( berbasis pendengaran )
Tipe visual dalam memandang sesuatu lebih mengandalkan pendengaran, sehingga perhatiannya cenderung pada bunyi, nada, irama, ritme, sunyi, gemuruh , gemricik.dan semacamnya.. (3) Tipe kinestetik ( berbasis perasaan ).Tipe visual dalam memandang sesuatu lebih mengandalkan perasaan , sehingga perhatiannya lebih cenderung tertuju pada kenyamanan, ketenangan, keheningan, kehaluasan, kerilexan, kekhusukan dan semacamnya.
Pengunaan potensi kata. ( Andri Hakim, 2010 : 121-130 )
Pemilihan dan penyampaian “ kata “ yang tepat akan dapat dengan mudah masuk kedalam alam bawah sadar sasaran didik karena memiliki daya magnetis (1). Electrical Word, Walaupun kelihatan sederhana electrical words bisa menciptakan pola – pola baru dalam neurology seseorang. Kata – kata ini cenderung merupakan pujian . Contoh : menakjudkan, luar biasa, super sekali, sangat brilliant, dan semacamnya. (2) Emosional word. Dalam menciptakan sebuah daya magnetisme diperlukan kata – kata yang bisa mempengaruhi emosiuonal orang lain Contohnya : semakin menantang, lebih nyaman, bersama kita bisa, mulai sekarang dan seterusnya …., dan semacamnya. (3) Kata – kata yang
menarik fokus Kata – kata untuk menarik
focus ini menggiring anda ke hal yang dikehendaki pembicara. Contoh : Bagus.., pada intinya…., baiklah….., oke…., dan semacamnya, . (4) Kata – kata positip.Pikiran, ucapan, perasaan adalah doa. Hati – hati dengan kata – kata negative yang bisa muncul menjadi kenyataan. Apapun yang anda sampaikan , kata – kata , pikiran, perasaaan terakhir harus positip
Contoh μ jangan berisik ……ganti : pelankan suaranya, Kalau malas latihan kamu kalah ganti : untuk meraih kemenangan perlu banyak latihan., (5) Pertanyaan jenius. Setiap pertanyaan membutuhkan jawaban . Setiap pertanyaan menggiring ke sebuah pembelajaran .Pertanyaan harus melejitkan potensi siswa yang mampu membangun proses pembelajaran , memberikan solusi, meningkatkan potensi, dan mengarahkan ke hal – hal yang menjadikan mereka menjadi luar biasa. Contoh : Apakah ini bentuk perhatian anda pada hoby anda ?, Bagaimana anda yaklin padfa kesimpulan andas ? dan semacamnya.
Methapora
Methapora mampu membuka pintu gerbang alam bawah sadar seseorang, sehingga mampu memasukkan pesan, usul, nasehat, gagasan, pelajaran, sugesti , rencana kedalam alam bawah sadar yang memori itu akan tersimpan lama atau permanent. Methapora adalah merupakan salah satu metode Neuro language Programing (NLP) yang menggunakan gambaran – gambaran dengan tujuan tertentu. ( Ghanoe, 2010 : 46-47 ). Dengan gambaran tersebut pesan , saran, sugesti, nasehat disampaikan kepada seseorang dengan tidak secara langsung. Gambaran – gambaran dapat berbentuk sejarah, ceritera , film, kiasan, pengalaman, kisah, pepatah, kata – kata bijak, ceritera cerdas rekaan sendiri.
PEMBAHASAN
Menyimak dari potensi alam bawah sadar pada gambar 1, menunjukkan bahwa alam pikiran sadar dan alam pikiran bawah sadar memiliki fungsi dan peran sendiri – sendiri., sehingga implikasinya pendidik perlu memilih alam pikiran yang tepat untuk melakukan proses pembelajaran tertentu. Kemampuan alam bawah sadar yang mampu menyimpan memory sampai 2.300.000 bit dibanding dengan alam pikiran sadar yang hanya mampu menyimpan memori sampaii 7-9 bit. , maka potensi gudang ini perlu dimanfaatkan. Gudang ini kecuali menyimpan dalam kapasitas super besar, juga menyimpan dengan teliti dan aman Peran potensi alam bawah sadar sekitar 88 % dalam kehidupan manusia , maka proses belajar mengajar perlu memanfaatkan potensi ini secara optimal.. Untuk itu maka proses pembelajaran