F. Manfaat Penelitian
7. Nafkah Suami Terhadap Anak
Anak berasal dari kata al-Walad yang berarti keturunan yang kedua, orang yang lahir dari rahim seorang ibu, baik laki-laki maupun perempuan atau khunsa sebagai hasil dari persetubuhan antara dua lawan jenis. Anak adalah buah yang diharapkan dari pernikahan. Dan melahirkan keturunan merupakan salah satu tujuan terpenting dari pernikahan. Hal ini dikarenakan anak merupakan benih (cikal bakal) kehidupan manusia di masa depan, dan
132
Ahmad Tirmidzi, dkk, Ringkasan Fikih Sunnah Sayyid Sabiq, (Jakarta: Pustaka Al-Kautsar. 2013), hlm.471
generasi baru yang mewarisi kehidupan dan menjaga kelangsungannya
sepanjang masa.133
Islam membedakan antara anak yang masih kecil (belum baligh) dan anak yang sudah baligh. Anak yang masih kecil belum mumayyiz (belum bisa membedakan yang hak dan yang bathil) dan ada yang mumayyiz. Hukum-hukum yang berhubungan dengan anak antara lain; nasab (keturunan), kewarisan (ilmu faraid), penyusuan (Rada‟ah), pemeliharaan (hadanah), dan perwalian (waliyat).
Dalam hukum Islam, nafkah anak erat hubungannya dengan
hadanah. Hadanah berarti pemeliharaan anak laki-laki dan perempuan yang
masih kecil atau anak dungu yang tidak dapat membedakan sesuatu dan belum dapat berdiri sendiri, menjaga kepentingan anak, melindunginya dari segala yang membahayakan dirinya, mendidik jasmani dan rohani serta akalnya, supaya si anak dapat berkembang dan mengatasi persoalan hidup
yang dihadapinya.134
Pengertian tersebut selaras dengan pendapat yang dikemukakan oleh Syeikh Sayyid Sabiq (w. 1420 H.), bahwa hadanah adalah melakukan pemeliharaan anak-anak yang masih kecil, laki-laki ataupun perempuan, atau yang sudah besar tetapi belum tamyiz, tanpa perintah daripadanya, menyediakan sesuatu yang menajdikan kebaikannya, menjaga dari sesuatu yang menyakiti dan merusaknya, mendidik jasmani, rohani, dan akalnya
133
Sobri Mersi Al-Faqi, Solusi Problematika Rumah Tangga Modern, penerjemah Najib
Junaedi, (Surabaya: Pustaka Yassir, 2011), 127. 134
agar mampu berdiri sendiri menghadapi hidup dan memikul tanggung
jawabnya.135
Nafkah adalah semua kebutuhan dan keperluan yang berlaku menurut keadaan dan tempat, seperti makanan, pakaian, rumah dan
lain-lain.136 Tentang nafkah, Hamid Sarong mengatakan bahwa hubungan
perkawinan menimbulkan kewajiban nafkah atas suami untuk istri dan anak-anaknya. Ayah berkewajiban mencukupkan nafkah anak-anaknya apabila mereka memerlukan, demikian pula anak berkewajiban mencukupkan nafkah ibu bapaknya apabila mereka memerlukan, tanpa memperhatikan agama yang dianutnya apakah sama atau berlainan. Kecuali itu diperoleh pula ketentuan bahwa setiap kerabat yang mempunyai hak waris dari kerabat lain berkewajiban memberi nafkah apabila memerlukan. Menurutnya juga, kewajiban ayah memberikan nafkah kepada
anak-anaknya memerlukan syarat-syarat sebagai berikut:137
a. Anak-anak membutuhkan nafkah (fakir) dan tidak mampu bekerja. Anak dipandang tidak mampu bekerja apabila masih kanak-kanak atau telah besar tetapi tidak mendapatkan pekerjaan atau perempuan.
b. Ayah memiliki kemampuan dalam harta dan mampu untuk memberi nafkah, baik karena memang mempunyai pekerjaan yang menghasilkan atau memiliki kekayaan yang menjadi penompang hidupnya.
Atas dasar adanya syarat-syarat tersebut, apabila anak yang fakir telah sampai pada umur mampu bekerja, meskipun belum baligh, dan tidak
135
Sayyid Sabiq, Fiqh Sunnah, Juz 8, hlm. 173.
136
Syaikh Ḥasan Ayyub, Fikih Keluarga, hlm. 443.
ada halangan apapun untuk bekerja, maka gugurlah kewajiban ayah untuk memberi nafkah kepada anak. berbeda halnya apabila anak telah mencapai umur dapat bekerja itu terhalang untuk bekerja disebabkan sakit atau kelemahan-kelemahan lain, maka ayah tetap berkewajiban memberikan nafkah untuk anaknya itu.
Anak perempuan dibebankan kepada ayah untuk memberikan nafkah kepadanya sampai ia kawin, kecuali apabila anak telah mempunyai pekerjaan yang dapat menjadi penompang hidupnya tetapi ia tidak boleh dipaksa untuk bekerja mencari nafkah sendiri. Apabila ia telah kawin, nafkahnya menjadi kewajiban suami. Apabila suaminya meninggal dan tidak mendapat warisan yang cukup untuk nafkah hidupnya, ayahnya berkewajiban lagi memberi nafkah kepadanya, seperti pada waktu belum menikah.
Apabila ayah dalam keadaan fakir, tetapi mampu bekerja dan memang benar-benar telah bekerja tetapi penghasilannya tidak mencukupi, kewajiban memberi nafkah kepada anak-anaknya itu tidak gugur. Apabila ibu anak-anak berkemampuan, dapat diperintahkan mencukupkan nafkah anak-anaknya yang menjadi kewajiban ayah mereka itu tetapi dapat dapat diperhitungkan sebagai utang ayah yang dapat ditagih pada saat ayah sudah mampu. Misalnya, apabila suatu ketika anak sakit dan harus dirawat di rumah sakit, yang biayanya tidak terpikul oleh ayah hingga ibu harus menjual perhiasannya untuk menutup biaya anaknya itu, ibu berhak menagih ayah untuk mengganti biaya yang pernah sakit dulu itu.
Tampaknya, contoh itu agak janggal, seorang ibu harus menagih kepada ayah karena harta yang dikeluarkan untuk pengobatan anak. Namun, mengingat demikian besar tanggung jawab ayah terhadap anak-anaknya, dan mungkin pada akhirnya terjadi perceraian antara ibu dan bapak, rasa janggal itu akan hilang.
Apabila tiba-tiba ibu pun termasuk fakir juga, nafkah anak dimintakan kepada kakek (bapak ayah), dan pada saatnya, kakek berhak minta ganti nafkah yang diberikan kepada cucunya itu kepada ayah. Apabila bapak itu tidak ada lagi, nafkah itu dibebankan kepada kakek (bapak ayah) sebab kakek berkedudukan sebagai pengganti ayah dalam kondisi ayah telah tiada. Demikianlah menurut jumhur fukaha. Menurut pendapat Imām Mālik bin Anas (w. 179 H.), wajib nafkah hanya terbatas pada anak-anak sebab ayat Al-Qur‟an dengan tegas menyebutkan bahwa sudah menjadi kewajiban ayah untuk memberi nafkah kepada anak-anaknya. Dengan demikian, kakek, menurut Imām Mālik bin Anas (w. 179 H.), tidak dibebani nafkah
untuk cucu-cucunya.138