• Tidak ada hasil yang ditemukan

Bagan 1 Proses Pemilihan Artikel

L., Ädel, E., &

2) Neglectful

Menurut Bjorklund & Blasi (2012), pola asuh dimana orang tua tidak terlibat dengan remaja sehingga memiliki sifat yang dingin/apatis, serta sedikit menuntut terhadap anak remaja.

Dalam penelitian Utami & Raharjo (2019) menyatakan bahwa kenakalan remaja dimulai saat orang tua acuh terhadap perilaku anaknya yang mana kenakalan remaja lebih sering terjadi pada gender pria (Kingsbury et al., 2019).

Program Pelatihan Pola Asuh

Pola asuh authoritative diartikan sebagai tingginya kontrol orang tua beserta tingginya kehangatan orang tua terhadap anak sehingga terjalin hubungan yang berkesinambungan pada keluarga (Lorence et al., 2019). Pola asuh ini memberikan keuntungan di lapangan dimana terkontrolnya perilaku dan psikologis anak, memicu peningkatan prestasi, dan terpenuhinya tugas perkembangan anak remaja sehingga hal ini efektif bagi orang tua yang memberikan kontrol kurang serta kehangatan yang kurang (Kauser et al., 2019). Hal ini juga dibuktikan oleh Garvin (2017) dan diteliti juga oleh Shek et al (2019) bahwa tingkatan kenakalan remaja berkorelasi negatif dengan jenis pola asuh authoritative.

Simpulan dan Rekomendasi

Pola asuh memiliki karakteristik dan pengaruh bagi permasalahan pada anak remaja.

Permasalahan kecemasan dipengaruhi oleh pola asuh authoritarian. Sementara, permasalahan kenakalan remaja dipengaruhi oleh kurangnya kontrol dari orang tua pada pola asuh indulgent/permissive, dan neglectful. Rekomendasi kepada orang tua dengan gaya pengasuhan yang dipilih perlu disesuaikan pola kontrol perilaku, tetapi orang tua juga memberikan pengarahan dengan hangat sehingga remaja dapat memahami makna positif dari pengasuhan tersebut. Selain itu, peran perawat dalam memberikan dukungan, seperti mengarahkan/mengajarkan keluarga dalam mengadaptasi pola asuh authoritative. Rekomendasi untuk peneliti selanjutnya dapat meninjau lebih lanjut faktor yang memengaruhi orang tua mengambil pola asuh tertentu. Selain itu, peneliti selanjutnya dapat meneliti faktor lain yang mengakibatkan remaja mengalami masalah eksternalisasi dan internalisasi. Review ini memiliki limitasi potensial. Penggunaan narrative review sendiri dalam area penelitian belum banyak, belum terdapat format khusus penulisan, penulisan dengan metode ini terlalu subjektif berhubungan dengan tidak adanya teknik analisis data khusus, dan bias tidak terukur sehingga peneliti harus menggunakan data yang kredibel untuk mengurangi keterbatasan ini.

Daftar Pustaka

Eun, J. D., Paksarian, D., He, J. P., & Merikangas, K. R. (2018). Parenting style and mental disorders in a nationally representative sample of US adolescents. Social psychiatry and psychiatric epidemiology, 53(1), 11-20.

182

Garvin, G. (2018). Pola asuh orang tua dan kecenderungan delinkuensi pada remaja. Psibernetika, 10(1).

Guyer, A. E., Jarcho, J. M., Pérez-Edgar, K., Degnan, K. A., Pine, D. S., Fox, N. A., & Nelson, E.

E. (2015). Temperament and parenting styles in early childhood differentially influence neural response to peer evaluation in adolescence. Journal of abnormal child psychology, 43(5), 863-874.

Hurlock, E. (1973). Adolescent development. New York: Mc Graw Hill.

Kauser, R., & Pinquart, M. (2019). Effectiveness of an indigenous parent training program on change in parenting styles and delinquent tendencies (challenging behaviors) in Pakistan: A randomized controlled trial. Journal of experimental child psychology, 188, 104677.

Keliat, B.A., , A.P. Wiyono, dan , H. Susanti. Manajemen Kasus Gangguan Jiwa: CMHN (Intermediate Course). EGC. Jakarta. 2012.

Kingsbury, M., Sucha, E., Manion, I., Gilman, S. E., & Colman, I. (2020). Adolescent mental health following exposure to positive and harsh parenting in childhood. The Canadian Journal of Psychiatry, 65(6), 392-400.

Lorence, B., Hidalgo, V., Pérez-Padilla, J., & Menéndez, S. (2019). The Role of Parenting Styles on Behavior Problem Profiles of Adolescents. International Journal of Environmental Research and Public Health, 16(15), 2767.

Moule, P & Goodman, M 2009. Nursing Research: An Introduction. Sage Publications Ltd, London. pp. 143-160

Muarifah, A. (2012). Hubungan kecemasan dan agresivitas. Humanitas (Jurnal Psikologi Indonesia), 2(2), 102-112.

Shek, D. T., & Zhu, X. (2019). Paternal and maternal influence on delinquency among early adolescents in Hong Kong. International journal of environmental research and public health, 16(8), 1338.

Shute, R., Maud, M., & McLachlan, A. (2019). The relationship of recalled adverse parenting styles with maladaptive schemas, trait anger, and symptoms of depression and anxiety.

Journal of affective disorders, 259, 337-348.

Suryandari, S. (2020). Pengaruh Pola Asuh Orang Tua terhadap Kenakalan Remaja. JIPD (Jurnal Inovasi Pendidikan Dasar), 4(1), 23-29.

Utami, A. C. N., & Raharjo, S. T. (2019). Pola Asuh Orang Tua Dan Kenakalan Remaja. Focus:

Jurnal Pekerjaan Sosial, 2(1), 150-167.

Zakiyah, Z. (2014). Pengaruh dan Efektifitas Cognitive Behavioral Therapy (Cbt) Berbasis Komputer terhadap Klien Cemas dan Depresi. E-Journal Widya Kesehatan dan Lingkungan, 1(1).

183 Artikel 20SEM083

GAMBARAN PERILAKU PROSOSIAL REMAJA DALAM MENCEGAH PERILAKU ANTISOSIAL PADA REMAJA SMP

Yuni Sufyanti Arief, Ilya Krisnana, Iqlima Dwi Kurnia, Praba Diyan Rachmawati Faculty of Nursing Universitas Airlangga

Email: [email protected]

ABSTRAK

Masalah-masalah sosial yang terjadi pada siswa remaja menimbulkan adanya perilaku antisosial.

Perilaku antisosial adalah gangguan penyesuaian diri terhadap lingkungan sosial yang disebabkan oleh lemahnya kontrol diri. Tujuan dari penelitian ini adalah memberikan gambaran perilaku prososial remaja SMP sehingga dapat dilakukan upaya pencegahan meningkatnya perilaku antisosial pada remaja SMP. Metode yang digunakan pada penelitian ini adalah dengan design descriptive study untuk melihat gambaran perilaku prososial remaja SMP. Populasi dari penelitian ini adalah siswa-siswi SMP di salah satu SMP negeri di Surabaya. Sampel dari penelitian ini sebanyak 40 orang siswa-siswi yang dikumpulkan dengan purposive sampling. Pengumpulan data dilakukan dengan menggunakan kuisioner. Variabel dalam penelitian ini adalah pengetahuan remaja tentang perilaku prososial. Data dikumpulkan dan dilakukan analisa secara deskriptif. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pengetahuan remaja tentang perilaku prososial sebagian besar berada pada kategori kurang (70%) dan kategori cukup (30%). Remaja sebagian besar belum memahami pengertian dari perilaku prososial, dan belum mengetahui contoh perilaku prososial.

Simpulan Pengetahuan remaja tentang perilaku prososial yang kurang dapat ditingkatkan dengan memberikan pendidikan kesehatan dan penguatan konseling sebaya dalam mengembangkan perilaku prososial pada remaja.

Kata kunci : Antisosial, prososial, remaja.

184 Pendahuluan

Fase remaja merupakan fase peralihan dari masa kanak-kanak menuju dewasa dan ditandai dengan adanya perubahan fisik, sosial, dan emosional (Paramitasari and Alfian 2012).

Permasalahan yang sering muncul pada fase ini adalah remaja sangat rentan terhadap pengaruh hal-hal yang negatif seperti merokok, minum-minuman keras, penyalahgunaan obat-obatan, dan terlibat dalam seks bebas. Tugas perkembangan remaja yang berhubungan dengan penyesuaian sosial antara lain penyesuaian diri dengan meningkatkan pengaruh kelompok sebaya, perubahan dalam perilaku sosial, pengelompokan sosial yang baru dalam selesksi persahabatan, nilai-nilai baru dalam dukungan, dan persoalan sosial (Hurlock 2003). Tahapan perkembangan remaja sebagai salah satu tugas perkembangan manusia juga memiliki peranan salah satunya sebagai penolong (perilaku prososial). Perilaku prososial adalah segala bentuk perilaku yang memberikan konsekuensi positif bagi si penerima, baik dalam bentuk materi, fisik, ataupun psikologis tetapi tidak memiliki keuntungan yang jelas bagi pemiliknya (Baron, Byrne, and Barncombe 2006). Tipe ralasi antar individu baik karena suka, merasa berkewajiban, memiliki pamrih dan empati merupakan faktor yang mempengaruhi perilaku prososial (Myers and Rosenberger 2012). Biasanya seseorang lebih sering membantu orang yang dikenalnya dibandingkan dengan orang yang tidak dikenal. Namun demikian, memberikan pertolongan kepada orang asing bukanlah hal yang jarang terjadi.

Berdasarkan fenomena yang ada dalam kehidupan masyarakat khususnya pada remaja, perilaku prososial kini semakin rendah. Gambaran menurunnya perilaku prososial dapat dilihat dari fenomena perilaku acuh dan pasif pada remaja, dapat dilihat dalam perilaku yang ditunjukkan remaja dalam aktifitas selama di sekolah seperti bullying, memalak temannya, dan lain sebagainya.

Masalah-masalah sosial yang terjadi pada siswa remaja menimbulkan adanya perilaku antisosial.

Perilaku antisosial adalah gangguan penyesuaian diri terhadap lingkungan sosial yang disebabkan oleh lemahnya kontrol diri (Taylor et al. 2009). Oleh sebab itu perlu adanya gambaran tentang perilaku prososial remaja, sebagai upaya untuk mempersiapkan remaja agar memiliki pemahaman tentang perilaku prososial sehingga kepedualian terhadap lingkungan sekitar semakin baik

Metode Penelitian

Metode penelitian yang digunakan adalah dekriptive studi, untuk mendeskripiskan gambaran pengetahuan remaja tenatng perilaku prososial. Populasi dalam penelitian ini adalah remaja SMP di salah satu SMPN di wilayah Surabaya timur dengan jumlah sampel yang memenuhi kriteria inklusi adalah 40 orang. Variabel yang diukur dalam kegiatan ini adalah pengetahuan remaja tentang perilaku prososial dan antisosial yang diukur dengan menggunakan kuesioner. Pengumpulan data dilakukan secara online melalui google form. Sebelum mengisi siswa diberikan penjelasan terlebih dahulu tentang maksud dan tujuan pelaksanaan penelitian, dan informed concent diberikan kepada orang tua.

Hasil Penelitian

Penelitian ini melibatkan 40 reponden sebagai sampel penelitian. Berikut merupakan karakteristik demografi responden secara umum berdasarkan jenis kelamin, usia, dan pengetahuan perilaku prososial pada responden

Tabel 1. Karakteristik responden berdasarkan jenis kelamin dan usia (n=40)

Karakteristik Responden Frekuensi (f) Persentase (%)

Jenis Kelamin Laki-laki Perempuan

17 23

42.5 57.5 Usia

12-13 tahun 13-14 tahun 14-15 tahun

6 24 10

15 60 25 Sumber: data primer atau sekunder