LOMBOK TIMUR
6. DAMPAK KELEMBAGAAN AWIG-AWIG TERHADAP SUMBER DAYA PERIKANAN PANTAI DI KABUPATEN
6.5.1 Bioekonomi Surplus Produks
6.5.3.3 DEA dengan nelayan pancing dan nelayan bagan sampan sebagai DMU
6.5.3.3.2 Nelayan bagan sampan
Data nilai input-output dari nelayan bagan sampan yang menjadi responden dapat dilihat pada Tabel 6.21. Data responden nelayan bagan sampan berjumlah 10 orang. Seperti pada nelayan pancing rawai, jumlah ini didapatkan dari hasil wawancara dengan nelayan lokal yang menggunakan alat tangkap bagan sampan yang melakukan kegiatan di wilayah perairan Kabupaten Lombok Timur yang bersedia berbagi informasi mengenai kegiatan penangkapan yang dilakukan. Berdasarkan hasil wawancara, menunjukkan kegiatan penangkapan oleh nelayan bagan sampan yang satu tidak jauh berbeda dari informasi yang yang diberikan oleh nelayan bagan yang lain.
Hasil penilaian efisiensi nelayan bagan sampan sebagai DMU dengan menggunakan analisis DEA dapat dilihat pada Tabel 6.22; Gambar 6.11; dan Lampiran 7. Hasil penilaian menunjukkan nelayan bagan sampan1, nelayan bagan sampan9, dan nelayan bagan sampan10 yang memiliki nilai 1, sedangkan nelayan bagan sampan2, nelayan bagan sampan4, dan nelayan bagan sampan5 memiliki nilai 0,8. Nelayan bagan sampan3 dan nelayan bagan8 memiliki nilai efisiensi 0,6; dan nelayan bagan sampan6 dan nelayan bagan sampan7 memiliki nilai efisiensi 0,4. Keadaan ini seperti pada nelayan pancing rawai, di mana, kurang dari 50% nelayan bagan sampan yang menjadi responden yang melakukan kegiatan penangkapan secara efisien.
Hasil ranking dari nilai efisiensi terlihat nelayan bagan sampan1, nelayan bagan sampan9, dan nelayan bagan sampan 10 menempati ranking pertama. Nelayan bagan sampan2, nelayan bagan sampan5 menempati ranking keempat. Nelayan bagan sampan3 dan nelayan bagan sampan8 menempati ranking ketujuh, dan nelayan bagan sampan6 dan nelayan bagan sampan7 yang paling tidak efisien menempati
Tabel 6.21 Data nelayan bagan sampan sebagai DMU
DMU (i)Upaya (hari melaut) (i)Ukuran sampan (GT) (i)Ukuran mesin (PK) (i)Tenaga kerja (ABK) (o)Produksi (ton) Bagan Sampan1 8.004 414,00 1104 276 1,38 Bagan Sampan2 8.004 414,00 1104 276 1,10 Bagan Sampan3 5.016 396,00 528 264 0,79 Bagan Sampan4 5.016 346,50 528 264 1,06 Bagan Sampan5 8.004 414,00 1104 276 1,10 Bagan Sampan6 8.004 362,25 1104 276 0,56 Bagan Sampan7 5.016 396,00 528 264 0,53 Bagan Sampan8 8.004 362,25 1104 276 0,83 Bagan Sampan9 8.004 414,00 1104 276 1,38 Bagan Sampan10 5.016 346,50 528 264 1,32
70
ranking kesembilan. Gambaran secara grafik dari nilai efisiensi nelayan bagan sampan terlihat pada Gambar 6.11
Ketidakefisienan dari kegiatan penangkapan yang dilakukan oleh nelayan bagan sampan, dapat dilihat dari analisis Projection of Potential Improvement (Tabel 6.23). Sebagai contoh, nelayan bagan10 memiliki nilai efisiensi 1 yang menggunakan nilai input selama setahun sebesar upaya 5.016 hari melaut; ukuran sampan 346 GT; ukuran mesin 528 PK; dan tenaga kerja 264 ABK; dengan hasil output produksi sebesar 1,32 ton. Sedangkan nelayan bagan sampan6 yang memiliki nilai efisiensi paling kecil yakni 0,4 menggunakan nilai input selama setahun sebesar upaya 8.004 hari melaut; ukuran sampan 363 GT; ukuran mesin 1104 PK; tenaga kerja 276 ABK; dengan nilai output produksi sebesar 0,55 ton.
Keadaan ini memperlihatkan bahwa nilai efisiensi nelayan bagan sampan6 kecil karena penggunaan input yang melebihi batas maksimum input untuk pendapatkan per satuan output. Agar kegiatan penangkapan oleh nelayan bagan sampan6 menjadi efisien, nelayan bagan sampan6 harus mengurangi nilai upaya sebesar 74%; GT 60%, PK 80%; dan ABK 60%.
Gambar 6.9 Grafik nilai efisiensi nelayan bagan sampan
0 0,1 0,2 0,3 0,4 0,5 0,6 0,7 0,8 0,9 1 Bagan Sampan10 Bagan Sampan1 Bagan Sampan5 Bagan Sampan8 Bagan Sampan6 Efficiency DM U
Tabel 6.22 Nilai efisiensi nelayan bagan sampan sebagai DMU
No. DMU Score Rank
1 Bagan Sampan1 1 1 2 Bagan Sampan2 0,8 4 3 Bagan Sampan3 0,6 7 4 Bagan Sampan4 0,8 4 5 Bagan Sampan5 0,8 4 6 Bagan Sampan6 0,4 9 7 Bagan Sampan7 0,4 9 8 Bagan Sampan8 0,6 7 9 Bagan Sampan9 1 1 10 Bagan Sampan10 1 1
71
Tabel 6.23 Projection of potential improvement nelayan bagan sampan sebagai DMU No. DMU Score Projection Difference %
I/O Data
1 Bagan Sampan1 1
Upaya (hari melaut) 8.004 5.244 -2.760 -34,48% Ukuran sampan (GT) 414 362,25 -51,75 -12,50% Ukuran mesin (PK) 1.104 552 -552 -50,00% Tenaga kerja (ABK) 276 276 0 0,00% Produksi (ton) 1,38 1,38 0 0,00% 2 Bagan Sampan2 0,8
Upaya (hari melaut) 8.004 4.195,2 -3.808,8 -47,59% Ukuran sampan (GT) 414 289,8 -124,2 -30,00% Ukuran mesin (PK) 1.104 441,6 -662,4 -60,00% Tenaga kerja (ABK) 276 220,8 -55,2 -20,00% Produksi (ton) 1,104 1,104 0 0,00% 3 Bagan Sampan3 0,6
Upaya (hari melaut) 5.016 3.009,6 -2.006,4 -40,00% Ukuran sampan (GT) 396 207,9 -188,1 -47,50% Ukuran mesin (PK) 528 316,8 -211,2 -40,00% Tenaga kerja (ABK) 264 158,4 -105,6 -40,00% Produksi (ton) 0,792 0,792 0 0,00% 4 Bagan Sampan4 0,8
Upaya (hari melaut) 5.016 4.012,8 -1.003,2 -20,00% Ukuran sampan (GT) 346,5 277,2 -69,3 -20,00% Ukuran mesin (PK) 528 422,4 -105,6 -20,00% Tenaga kerja (ABK) 264 211,2 -52,8 -20,00% Produksi (ton) 1,056 1,056 0 0,00% 5 Bagan Sampan5 0,8
Upaya (hari melaut) 8.004 4.195,2 -3.808,8 -47,59% Ukuran sampan (GT) 414 289,8 -124,2 -30,00% Ukuran mesin (PK) 1.104 441,6 -662,4 -60,00% Tenaga kerja (ABK) 276 220,8 -55,2 -20,00% Produksi (ton) 1,104 1,104 0 0,00% 6 Bagan Sampan6 0,4
Upaya (hari melaut) 8.004 2.097,6 -5.906,4 -73,79% Ukuran sampan (GT) 362,25 144,9 -217,35 -60,00% Ukuran mesin (PK) 1.104 220,8 -883,2 -80,00% Tenaga kerja (ABK) 276 110,4 -165,6 -60,00% Produksi (ton) 0,552 0,552 0 0,00% 7 Bagan Sampan7 0,4
Upaya (hari melaut) 5.016 2.006,4 -3.009,6 -60,00% Ukuran sampan (GT) 396 138,6 -257,4 -65,00% Ukuran mesin (PK) 528 211,2 -316,8 -60,00% Tenaga kerja (ABK) 264 105,6 -158,4 -60,00% Produksi (ton) 0,528 0,528 0 0,00% 8 Bagan Sampan8 0,6
Upaya (hari melaut) 8004 3146,4 -4857,6 -60,69% Ukuran sampan (GT) 362,25 217,35 -144,9 -40,00% Ukuran mesin (PK) 1104 331,2 -772,8 -70,00% Tenaga kerja (ABK) 276 165,6 -110,4 -40,00% Produksi (ton) 0,828 0,828 0 0,00% 9 Bagan Sampan9 1
Upaya (hari melaut) 8.004 5.244 -2.760 -34,48% Ukuran sampan (GT) 414 362,25 -51,75 -12,50% Ukuran mesin (PK) 1104 552 -552 -50,00% Tenaga kerja (ABK) 276 276 0 0,00% Produksi (ton) 1,38 1,38 0 0,00% 10 Bagan Sampan10 1
Upaya (hari melaut) 5.016 5.016 0 0,00% Ukuran sampan (GT) 346,5 346,5 0 0,00% Ukuran mesin (PK) 528 528 0 0,00% Tenaga kerja (ABK) 264 264 0 0,00% Produksi (ton) 1,32 1,32 0 0,00%
72
Hasil ini mendukung hasil analisis efisiensi pada alat tangkap, tahun, dan nelayan pancing rawai sebagai DMU, di mana, penggunaan input untuk kegiatan penangkapan oleh nelayan lokal di Kabupaten Lombok Timur saat ini telah melebihi kapasitas maksimum input untuk mendapatka per satuan output.
Hasil evaluasi dampak kelembagaan awig-awig terhadap sumber daya perikanan pantai memperlihatkan bahwa ketidakefektifan kelembagaan awig-awig pengelolaan sumber daya perikanan pantai masih memberikan dampak negatif terhadap sumber daya perikanan pantai. Keadaan ini diduduk dari hasil analisis bioekonomi surplus produksi, analisis degradasi dan depresiasi, sert analisis efisiensi. Berdasarkan hasil analisis bioekonomi, peningkatan nilai upaya aktual tahun 2002- 2011 diikuti dengan penurunan hasil produksi; nilai upaya yang ada telah melebihi nilai upaya pada kondisi MSY dan MEY; dan nilai rente ekonomi yang terus mengalami penurunan. Hasil analisis degradasi dan depresiasi menunjukkan bahwa nilai laju degradasi dan depresiasi telah mendekati nilai ambang batas degradasi. Hasil analisis efisiensi teknologi yang digunakan dalam kegiaat penangkapan oleh nelayan lokal menunjukkan bahwa penggunaan input telah melebihi kapasiatas maksimum input untuk mendapatkan per satuan output. Hasil analisis yang ada menynjukkan bahwa sangat penting untuk melakukan kegiatan monitoring; dan kejelasan batas-batas pengaturan, terutama dalam batasan penggunaan alat tangkap, alat bantu penangkapan, sampan, mesin, dan tenaga kerja dalam kegiatan penangkapan. Pada kenyataannya, memang sangat sulit untuk membatasi kegiatan penangkapan, tetapi kegiatan penangkapan ini dapat dialihkan pada kegiatan konservasi atau kegiatan pariwisata seperti persewaan kapal oleh nelayan lokal yang dapat dilakukan dengan bekerja sama dengan nelayan yang lain.
6.6 Simpulan
Hasil analisis evaluasi kelembagaan awig-awig di Kabupaten Lombok Timur menunjukkan ketidakefektifan kelembagaan awig-awig pengelolaan sumber daya perikanan pantai berdampak pada bagaimana sumber daya perikanan dimanfaatkan.