• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

2.3 Kebisingan

2.3.5 Nilai Ambang Batas (NAB)

Nilai Ambang Batas (NAB) kebisingan sebagai faktor bahaya di tempat kerja adalah standar sebagai pedoman pengendalian agar tenaga kerja masih dapat mengahadapinya tanpa mengakibatkan penyakit atau gangguan kesehatan dalam pekerjaan sehari-hari untuk waktu tidak melebihi 8 (delapan) jam sehari dan 5 (lima) hari kerja seminggu atau 40 jam seminggu. Sebagaimana telah dinyatakan sebelumnya yang dimaksud dengan kebisingan dalam NAB ini adalah semua suara yang tidak dikehendaki yang bersumber dari alat-alat proses produksi dan atau alat-alat kerja yang pada tingkat tertntu dapat menimbulkan gangguan pendengaran (Suma’mur, 2013).

NAB kebisingan adalah 85 dB (A). NAB kebisingan tersebut merupakan ketentuan dalam Keputusan Menteri Tenaga Kerja RI Nomor: Kep-51/MEN/1999

tentang Nilai Ambang Batas Faktor Fisika di Tempat Kerja dan merupakan Standar Nasional Indonesia (SNI) 16-063-2004 Nilai Ambang Batas iklim kerja (panas), kebisingan, getaran tangan-lengan dan radiasi sinar ultra ungu di tempat kerja (Rusjadi, 2015).

Berdasarkan Permenaker No.13 /MEN/X/2011 tentang NAB Faktor Fisika dan kimia di Tempat Kerja, batas-batas NAB kebisingan adalah sebagai berikut : Tabel 2.1 : Intensitas dan waktu paparan bising yang diperkenankan.

Waktu pemaparan per hari Intensitas kebisingan dalam dBA 8

Sumber : Permenaker No.13 /MEN/X/2011 tentang NAB Faktor Fisika dan Kimia di Tempat Kerja

Batas kebisingan yang diperkenankan menurut Permenaker No.13 /MEN/X/2011 adalah maksimal 139 dBA sehingga tenaga kerja tidak boleh terpajan lebih dari 140 dBA walaupun sesaat.

2.3.6 Efek Kebisingan Kepada Daya Kerja

Bahwa kebisingan mempengaruhi daya kerja seseorang dan efek tersebut merugikan baik ditinjau dari pelaksanaan kerja maupun dari hasil kerja boleh dikatakan telah merupakan pendapat masyarakat pada umumnya. Pengaruh negatif demikian adalah sebagai berikut:

a. Gangguan Secara Umum

Sesuai dengan definisinya, kebisingan adalah suara atau bunyi yang tidak dikehendaki, maka dari itu kebisingan di mana pun menyebabkan gangguan bagi siapa yang berada pada lingkungan bising yang bersangkutan. Terhadap kegiatan hidup sehari-hari kebisingan dapat mengganggu konsentrai dan menyebabkan pengalihan perhatian sehingga tidak fokus kepada masalah yang sedang dihadapi.

Kebisingan dapat mempengaruhi ketelitian seseorang untuk berbuat dan bertindak. Selain gangguan terhadap kemampuan memusatkan perhatian atau mengalihkan perhatian atau melemahkan motivasi, kebisingan dapat menyebabkan rasa terganggu yang merupakan reaksi psikologis seseorang.

Kebisingan menyebabkan orang tidak dapat tenang beristirahat atau terganggu tidur sehingga tidak dapat memulihkan kondisi fisik dan psikisnya.

b. Gangguan Komunikasi Dengan Pembicaraan

Sebagai pegangan, gangguan komunikasi oleh kebisingan telah terjadi, apabila komunikasi pembicaraan dalam pekerjaan harus dijalankan dengan suara yang kekuatannya tinggi dan lebih nyata lagi apabila dilakukan dengan cara berteriak. Gangguan komunikasi seperti itu menyebabkan terganggunya pekerjaan, bahkan mungkin mengakibatkan kesalahan atau kecelakaan, terutama

pada penggunaan tenaga kerja baru oleh karena timbulnya salah faham dan salah pengertian.

c. Efek Pada Pekerjaan

Kebisingan mengganggu perhatian yang perlu terus-menerus dicurahkan kepada pelaksanaan pekerjaan dan juga pencapaian hasil kerja yang sebaik-baiknya. Maka dari itu, tenaga kerja yang melakukan pengamatan dan pengawasan terhadap satu proses produksi atau hasilnya dapat membuat kesalahan-kesalahan, akibat dari terganggunya konsentrasi dan kurang fokusnya perhatian. Demikian pula, terganggunya pelaksanaan dan pencapaian hasil kerja oleh kebisingan dapat dikarenakan adanya perasaan terganggu atau melemahnya semangat kerja atau masalah lainnya seperti, kurang sempurnanya istirhat, terganggunya pencernaan, sistem kardiovaskuler, sistem saraf, dan lainnya.

Menurut Sri Rejeki (2015) efek atau dampak kebisingan terhadap pekerja, antara lain :

a. Gangguan Fisiologis

Bising dengan intensitas tinggi dapat menyebabkan pusing atau sakit kepala.

Hal ini disebabkan bising dapat merangsang situasi reseptor vestibular dalam telinga yang menyebabkan pusing atau vertigo.

b. Gangguan Psikologis

Gangguan psikologis dapat berupa rasa tidak nyaman, kurang konsentrasi, susah tidur, dan cepat marah. Bila kebisingan diterima dalam waktu lama dapat menyebabkan penyakit psikosomatik berupa, gastritis, jantung, stres, kelelahan, dan lain-lain.

c. Gangguan Komunikasi

Gangguan komunikasi biasanya disebabkan masking effect (bunyi yang menutupi pendengaran yang kurang jelas) atau gangguan kejelasan suara.

Komunikasi pembicaraan harus dilakukan dengan cara berteriak. Gangguan ini menyebabkan terganggunya pekerjaan, sampai pada kemungkinan terjadinya kesalahan karena tidak mendengar isyarat atau tanda bahaya.

d. Gangguan Keseimbangan

Bising yang sangat tinggi dapat menyebabkan kesan berjalan di ruang angkasa atau melayang, yang dapat menimbulkan gangguan fisiologis berupa kepala pusing dan mual-mual.

e. Efek Pada Pendengaran

Pengaruh utama dari bising pada kesehatan adalah kerusakan pada indera pendengaran, yang menyebabkan tuli progresif.

MenurutIndah Rachmatiah (2015), efek dari kebisingan adalah:

1. Efek Psikologis 2. Gangguan komunikasi 3. Efek Fisiologis

2.3.7 Pengendalian Kebisingan

Menurut Suma’mur (2013), kebisingan dapat dikendalikan dengan : a. Pengurangan kebisingan pada sumbernya

Pengurangan kebisingan pada sumbernya dapat dilakukan misalnya dengan menempatkan peredam pada sumber getaran, tetapi umumnya hal itu dilakukan

dengan melakukan riset dan membuat perencanaan mesin atau peralatan yang baru.

b. Penempatan penghalang pada jalan transmisi

Isolasi tenaga kerja atau mesin atau unit operasi adalah upaya segera dan baik dalam upaya mengurangi kebisingan. Untuk itu perencanaan harus matang dan material yang dipakai untuk isolasi harus mampu menyerap suara. Penutup atau pintu ke ruang isolasi harus mempunyai bobot yang cukup berat, menutup dengan benar lobang yang ditutupnya dan lapisan dalamnya terbuat dari bahan yang menyerap suara agar tidak terjadi getaran yang lebih hebat sehingga merupakan sumber kebisingan.

c. Proteksi dengan sumbat atau tutup telinga

Alat pelindung diri sumbat atau tutup telinga harus diseleksi, sehingga dipilih yang tepat ukurannya bagi pemakainya. Dengan memakai tutup atau sumbat telinga, perbaikan cara komunikasi harus diperbaiki sebagai akibat teredamnya intensitas suara pembicaraan yang masuk ke dalam telinga.

Menurut Dodi Rusjadi (2015), pengendalian kebisingan antara lain : a. Pengendalian pada sumber

Pengendalian pada sumber dapat dilakukan dengan membatasi ambien kebisingan atau emisi kebisingan yang dipancarkn oleh sumber. Cara lain yang dapat dilakukan adalah dengan membuat peredam yang menutupi sumber bising tersebut.

b. Pengendalian pada medium perambatan

Pengendalian kebisingan pada medium perambat biasanya dengan membuat suatu penghalang bising (noise barrier) yang dibangun diantara sumber bising dan penerima yang umumnya merupakan tembok atau dapat juga berupa bangunan.

Penghalang bising ini berfungsi untuk mengurangi transmisi bising yang dirambatkan melalui udara dan memberikan zona bayangan yang mempunyai bising yang lebih kecil pada penerima.

c. Pengendalian pada penerima

Pengendalian pada penerima adalah dengan membuat papan peringatan untuk menggunakan alat pelindung telinga dengan tujuan untuk mengurangi paparan kebisingan yang masuk ke dalam telinga.

2.3.8 Alat Pelindung Diri

Menurut Ridwan Harrianto (2012), bila pajanan bising tidak dapat dihindari, penerima bising harus menggunakan alat pelindung diri. Alat pelindung diri dibedakan atas :

a. Sumbat telinga atau earplug

Sumbat telinga atau earplug dapat dibedakan atas tiga, yaitu pertama sumbat telinga sekali pakai. Dibuat dari bahan yang lunak, sehingga ukuran dapat berubah untuk menyesuaikan bentuk liang telinga. Agar tidak menyebabkan timbulnya infeksi, bahannya harus berongga untuk dapat menyerap udara dan uap air. Kedua, sumbat telinga yang dipakai berulang. Dibuat dari bahan karet silikon lunak agar dapat disterilisasi dengan alkohol atau dengan pemanasan. Ketiga, Sumbat telinga ketat. Sumbat telinga yang dibuat dari bahan yang seperti karet,

difiksasi dengan pita penutup yang dilekatkan dengan ketat untuk menambah daya pengurangan intensita bising.

b. Penutup telinga atau earmuff

Terdiri dari dua buah mangkok yang dihubungkan dengan tangkai penghubung untuk menempel dengan ketat pada telinga pemakai. Bantalan pentutup mangkok harus diganti secara teratur setiap 3-6 bulan sekali untuk menjamin penutupan telinga tetap ketat dan nyaman.

Ada dua alat pelindung diri untuk perlindungan terhadap kebisingan, antara lain earplugs dan earmuffs. Earplugs memiliki bentuk yang lebih kecil dan lebih murah daripada earmuffs. Earmuffs memberi daya proteksi yang lebih baik.

Pekerja-pekerja sering tidak menggunakan alat pelindung diri dengan alasan tidak nyaman dan mengganggu komunikasi (Winarsunu, 2008)

2.3.9 Pengukuran Kebisingan

Telinga manusia sama sekali tidak dapat dijadikan “referensi” tingkat kebisingan yang terdapat pada sebuah temapat. Berdasarkan hasil percobaan, pada intensitas kebisingan sesungguhnya berkurang 2 dB dari tingkat kebisingan awal, pengurangan kebisingan yang dirasakan oleh telinga manusia adalah sekitar 15%, sedangkan pada saat pengurangan (actual) sebesar 20% maka kebisingan yang dirasakan akan berkurang sebesar 81%. Untuk mendapatkan hasil pengukuran tingkat kebisingan yang akurat, diperlukan alat-alat khusus (Tambunan, 2005).

Bunyi diukur dengan satuan yang disebut decibel. Dalam hal ini mengukur besarnya tekanan udara yang ditimbulkan oleh gelombang bunyi. Satuan decibel diukur dari 0 sampai 140, atau bunyi terlemah yang masih dapat didengar oleh

manusia sampai tingkat bunyi yang dapat mengakibatkan kerusakan permanen pada telinga manusia. Desibel biasa disingkat dB dan mempunyai skala A, B, dan C. Skala yang terdekat dengan pendengaran manusia adalah skala A atau dBA (Anies, 2009).

Dua suara atau lebih dengan intensitas sama, jika digabungkan akan menghasilkan intensitas kebisingan yang lebih tinggi. Untuk memperoleh hasil pengukuran kebisingan di tempat kerja yang teliti, maka kebisingan dari setiap sumber sebaiknya diukur secara terpisah atau satu per satu (Subaris dan Haryono, 2008).

Menurut Suma’mur (2013), maksud dilakukannya pengukuran kebisingan ada dua hal, yaitu:

a. Memperoleh data tentang frekuensi dan intensitas kebisingan di perusahaan atau di mana saja.

b. Menggunakan data hasil pengukuran kebisingan untuk mengurangi intensitas kebisingan tersebut, sehingga tidak menimbulkan gangguan dalam rangka upaya konservasi pendengaran tenaga kerja, atau perlindungan masyarakat dari gangguan kebisingan atas ketenangan dalam kehidupan masyarakat atau tujuan lainnya.

Alat utama dalam pengukuran kebisingan adalah Sound Level Meter. Alat ini mengukur kebisingan antara 30 – 130 dB dan dari frekuensi 20 – 20.000 Hz.

Suatu sistem kalibrasi terdapat dalam alat itu sendiri, kecuali untuk kalibrasi mikrofon diperlukan pengecekan dengan kalibrasi tersendiri. Sebagai alat kalibrasi dapat dipakai pengeras suara yang kekuatan suaranya diatur oleh

amplifier. Atau suatu piston phone dibuat untuk maksud kalibrasi tersebut yang tergantung pada tekanan udara, sehingga perlu koreksi berdasarkan atas perbedaan tekanan barometer. Kalibrator dengan intensitas tinggi (125 dB) lebih disukai oleh karena alat pengukur intensitas kebisingan demikian mungkin dipakai untuk mengukur kebisingan yang intensitasnya tinggi (Suma’mur, 2013).

Adapun bagian-bagian yang terdapat pada Sound Level Meter adalah sebagai berikut (Subaris dan Haryono) :

a. Tombol pengatur hidup/mati atau power on/off b. Tombol pengontrol battery

c. Tombol pengatur penunjuk cepat lambat (slow/fast) d. Tombol pengukur skala angka puluhan

e. Tombol pengatur penunjuk maksimum (max hold) f. Microphone

g. Filter microphone h. Kalibrator

i. Display

Komponen dasar sebuah Sound Level Meter adalah sebuah microphone, penguat suara (amplifier) dengan pengatur frekuensi dan sebuah layar indikator.

Sesuai namanya, fungsi dasar minimum yang harus ada pada sebuar Sound Level Meter adalah sebagai alat ukur tingkat suara (dB). Fungsi-fungsi tambahan lain cukup bervariasi, seperti fungsi pengukuran TWA (Time Weigted Average) secara otomatis dan pengukuran dosis kebisingan (Tambunan, 2005).

2.4 Kerangka Konsep

1. Variabel independen ialah intensitas kebisingan yang terdapat pada bagian produksi di PT Indojaya Agrinusa Unit Aquafeed

2. Variabel dependen ialah gangguan pendengaran pekerja yang bekerja pada bagian produksi di PT Indojaya Agrinusa Unit Aquafeed

Gangguan Pendengaran Intensitas Kebisingan

Penelitian ini menggunakan jenis penelitian survei analitik dengan desain penelitian cross sectional yaitu suatu penelitian untuk mempelajari kolerasi antara faktor-faktor risiko dengan efek, dengan cara pendekatan, observasi atau pengumpulan data sekaligus pada suatu saat (Notoadmojo, 2005).

3.2 Lokasi dan Waktu Penelitian 3.2.1 Lokasi

Penelitian dilaksanakan di PT Indojaya Agrinusa Unit Aquafeed, Jl Medan-Tanjung Morawa Km 12.8 Desa Bangun Sari Kab. Deli Serdang, Medan.

3.2.2 Waktu Penelitian

Penelitian ini dilaksanakan pada Februari 2018 sampai Juli 2018 3.3 Populasi dan Sampel

3.3.1 Populasi

Populasi adalah keseluruhan objek penelitian atau objek yang diteliti (Notoadmodjo, 2015). Populasi yang digunakan dalam penelitian ini adalah pekerja yang bekerja pada bagian produksi PT Indojaya Agrinusa Unit Aquafeed adalah sebanyak 18 orang, yaitu pada stasiun intake sebanyak 3 orang, stasiun bagging sebanyak 6 orang, stasiun panel produksi sebanyak 1 orang, stasiun hand add 1 sebanyak 1 orang, stasiun hand add 2 sebanyak 1 orang, stasiun chia-tung dan pressmill sebanyak 3 orang, dan stasiun triump 1 dan triump 2 sebanyak 3 orang.

3.3.2 Sampel

Sampel adalah sebagian kecil populasi yang digunakan dalam uji untuk memperoleh informasi statistik mengenai keseluruhan populasi. Teknik pengambilan sampel dalam penelitian ini adalah total sampling. Total sampling adalah teknik pengambilan sampel dimana jumlah sampel sama dengan populasi.

Untuk itu, jumlah sampel dalam penelitian ini adalah 18 orang pekerja.

3.4 Metode Pengumulan Data 3.4.1 Data Primer

Data primer merupakan data hasil pengukuran tes pendengaran audiometri yang bertujuan untuk mengetahui keadaan fungsi pendengaran pada pekerja yang terpapar bising.

3.4.2 Data Sekunder

Data sekunder merupakan data yang diperoleh dari pihak PT Indojaya Agrinusa Unit Aquafeed.

3.5 Variabel dan Defenisi Operasional 3.5.1 Variabel

1. Variabel Bebas (Independent Variable)

Variabel bebas adalah variabel yang diduga sebagai factor yang mempengaruhi variabel terikat. Variabel bebas dalam penelitian ini adalah kebisingan lingkungan kerja.

2. Variabel Terikat (Dependent Variable)

Variabel terikat adalah variable yang dipengaruhi oleh variable bebas.

Variabel terikat dalam penelitian ini adalah gangguan pendengaran.

3.5.2 Definisi Operasional

a. Intensitas kebisingan adalah suara yang tidak dikehendaki yang bersumber dari mesin-mesin produksi di pabrik. Pada penelitian ini, kebisingan di tempat kerja diukur dengan alat ukur Sound Level Meter.

b. Gangguan pendengaran adalah ketidakmampuan secara parsial atau total untuk mendengarkan suara pada salah satu atau kedua telinga. Pada penelitian ini gangguan pendengaran diukur dengan tes pendengaran audiometri.

c. Umur adalah lamanya pekerja hidup yang dinyatakan dalam tahun.

d. Masa kerja adalah lamanya pekerja bekerja di perusahaan yang dinyatakan dalam tahun.

e. Riwayat gangguan pendengaran adalah penyakit yang diderita pekerja sebelumnya yang berkaitan dengan pendengaran.

3.6 Metode Pengukuran 3.6.1 Pengukuran Kebisingan

Hasil pengukuran kebisingan dikelompokan menjadi 2 kelompok, yaitu : 1. Kebisingan diatas Nilai Ambang Batas (>85 dBA)

2. Kebisingan dibawa Nilai Amabang Batas (≤85 dBA)

Pengukuran dilakukan dengan menggunakan alat sound level meter, dengan cara pengukuran sebagai berikut :

1. Nyalakan alat terlebih dahulu.

2. Sebelum digunakan, perlu dilakukan pengecekan kalibrasi dari alat ini agar dapat memastikan nilai akurasi pada alat ini sesuai dalam melakukan pengukuran.

3. Menentukan range dan juga satuan yang akan digunakan. Dimana pada umumnya, satuan yang digunakan satuan dB (decibel).

4. Pasang wind screen pada microphone agar suara pada angin tidak ikut masuk didalam Sound Level Meter dan juga mencegah debu jika mengukur pada tempat kerja yang terdapat debu-debu dari kimia korosif supaya tidak merusak microphone.

5. Waktu mengukur, Sound Level Meter diletakkan setinggi telinga.

6. Arahkan mikrophon kearah rambatan gelombang suara dengan membentuk sudut 70 derajat.

7. Lakukan pengukuran dimana tenaga kerja menghabiskan waktu kerjanya.

8. Lalu selanjutnya amati angka yang ada atau tertera pada layar Sound Level Meter.

3.6.2 Pengukuran Gangguan Pendengaran

Gangguan pendengaran diukur dengan pemeriksaan audiometri yang bertujuan untuk mengetahui keadaan fungsi pendengaran pada pekerja dengan menggunakan alat ukur audiometri nada murni, dengan hasil pengukuran dikelompokkan menjadi :

1. Normal : 0-25 dB 2. Tuli ringan : 26-40 dB 3. Tuli sedang : 41-60 dB

4. Tuli berat : 61-90 dB 5. Tuli sangat berat : >90 dB

Adapun cara pengukuran sebagai berikut :

1. Pengukuran audiometri dilakukan di ruangan kedap suara dengan alat audiologi.

2. Pasien menggunakan headphone, dimana buds yang berwarna biru diletakkan pada telinga kiri dan buds yang berwarna merah di telinga kanan.

3. Kemudian operator akan mengoperasikan audiometer.

4. Pasien akan memberikan respon terhadap rangsangan tone yang diberikan.

5. Tone yang diberikan dengan cara dari frekuensi rendah ke tinggi . Tone sebesar 1000 Hz diberikan kepada pasien sebagai rangsangan awal, jika respon positif maka level tone akan diturunkan menjadi 500 Hz sampai pasien tidak memberikan respon. Pada rangsangan pertama jika pasien tidak mendengar maka level tone dinaikkan menjadi 2000 Hz sampai terdengar oleh pasien.

6. Intensitas bunyi yang diujikan antara 0 – 80 dB.

3.7 Pengolahan dan Analisis Data 3.7.1 Teknik Pengolahan Data

Data yang telah diperoleh, dianalisis melalui proses pengolahan data yang mencakup kegiatan-kegiatan sebagai berikut :

1. Editing, penyuntingan data dilakukan untuk menghindari kesalahan atau kemungkinan adanya kuesioner yang belum terisi.

2. Coding, pemberian kode atau scoring pada tiap jawaban untuk memudahkan entry data.

3. Entry data, data yang telah diberi kode tersebut kemudian dimasukkan dalam program komputer untuk selanjutnya akan diolah.

4. Cleaning, dilakukan pengecekan dan perbaikan terhadap data yang masuk sebelum data dianalisis.

5. Data-data yang telah dikumpulkan dianalisis dengan analisis univariat dan bivariat.

3.7.2 Metode Analisis Data

Data yang telah diolah melalui teknik pengolahan data dengan bantuan komputer menggunakan program pengolahan data statistik :

1. Analisis Univariat

Analisis univariat adalah analisis yang dilakukan terhadap setiap variabel dari hasil penelitian yang akan menghasilkan distribusi dan presentasi dari tiap variabel.

2. Analisis Bivariat

Analisis bivariat dilakukan terhadap dua variabel yang diduga berhubungan.

Analisis ini digunakan untuk menguji hipotesis dengan menentukan hubungan variabel bebasdan variabel terikatmelalui uji korelasi-spearman dengan tingkat kepercayaan 95%. Analisa data dilakukan dengan membandingkan nilai probabilitas dengan α (0,05). Ho diterima jika p>α berarti tidak ada hubungan dan Ho ditolak jika p<α berarti ada hubungan.

BAB IV

HASIL PENELITIAN

4.1

Gambaran Umum Tempat Penelitian 4.1.1 Sejarah Umum Perusahaan

PT. Indojaya Agrinusa merupakan industri yang memproduksi pakan ternak, seperti pakan ayam, pakan puyuh dan pakan ikan. PT. Indojaya Agrinusa berdiri pada tanggal 26 Oktober 1995. Pada bulan Desember PT. Indojaya Agrinusa mendapatkan surat akte lainnya berupa Surat Penanaman Modal Dalam Negeri SK BKPM No.671/I/PMDN/5 Desember 1995 kemudian pada bulan yang sama perusahaan mendapatkan Izin Lokasi No.640/65/IL/XII/95 Tanggal 12 Desember 1995.

PT. Indojaya Agrinusa berdiri berdasrkan Surat Akte Notaris Nomor 131 oleh Notaris Ishara Wisnurwardani, SH dengan luas bangunan 11.801 m2 pada tanah seluas 11 Ha. Surat Akte ini tercatat dalam Tambahan Berita Negara RI Tanggal 5 Maret 1996 Nomor 19. Pada tahun 1997, PT. Indojaya Agrinusa mendapat Izin Bangunan No.503.647/3498/BG Tanggal 21 Desember 1997, diikuti dengan adanya Izin Usaha Tetap dan Izin Gudang pada tahun 1999.

PT. Indojaya Agrinusa mendapat Izin Usaha Industri dan Tanda Daftar Perusahaan pada tahun 2002, sedangkan pada tahun 2003 perusahaan mendapat izin Gangguan/HO No. 207/I/PENDA/V/2003 Tanggal 01 Mei 2003. PT.

Indojaya Agrinusa beroperasi dengan kapasitas produksi 4000 ton/bulan dan dimulai secara komersial pada tanggal 9 Januari 1997. Sebagai cabang dari PT.

Japfa Comfeed Indonesia yang berpusat di Jakarta. Perkembangan PT. Indojaya

dan peralatan, perluasan tanah, penambahan fasilitas-fasilitas pendukung dan kendaraan. PT. Indojaya Agrinusa juga telah mendapatkan ISO 9001:2008.

Perusahaan ini merupakan bagian dari Japfa Group yang dimana group ini tersebar luas di seluruh Indonesia. Grup yang memproduksikan pakan ternak hanya ada di Sumatera Utara, yakni PT Indojaya Agrinusa, yang memiliki luas tanah sebesar 8 Ha terletak di Jl Raya Medan – Tanjung Morawa KM 12.8 Desa Bangunsari Kab. Deli Serdang, Medan.

Perusahaan Indojaya Agrinusa memiliki dua unit dalam proses produksinya, yakni unit poultryfeed yang memproduksi pakan ternak unggas dan unit aquafeed yang produksi pakan ternak ikan. Pada proses produksi unit aquafeed, bagian dalam unit ini terdiri dari bagian teknik, seperti workshop dan listrik, bagian gudang seperti bahan baku dan bahan jadi, dan bagian produksi

4.1.2 Visi dan Misi Perusahaan a. Visi

“Menjadi Market Leader dan produsen aquafeed terbaik di Sumbagut”

b. Misi

1. Turut serta membangun industri perikanan budidaya yang berkesinambungan

2. Turut mensejahterakan kehidupan pembudidaya

3. Menjadi wadah bagi petani mengembangkan sistem dan teknologi budidaya 4. Menyediakan aquafeed yang berkualitas, higienis dan aman

Menjadi wadah bagi karyawan untuk tumbuh kembang bersama dengan prinsip growing toward mutual prosperity

Pembina

Ketua

Sekretaris

Wakil Ketua

Safety Audit Investagasi &

Rekomendasii Tanggap Darurat

Hazard &

Operasional Study 4.1.3 Panitia Pembina Keselamatan dan Kesehatan Kerja (P2K3)

STRUKTUR KEPENGURUSAN KOMITE P2K3 PT. INDOJAYA AGRINUSA SUB UNIT AQUAFEED

Sumber :

Gambar 4.1 Perusahaan PT Indojaya Agrinusa Unit Aquafeed 4.1.4 Jam Kerja

Jam kerja yang berlaku di PT. Indojaya Agrinusa dibagi atas dua bagian, yaitu:

a. Bagian Kantor

Untuk bagian ini hanya ada 1 shift kerja dengan 8 jam per hari dan 40 jam per minggu adalah sebagai berikut:

Tabel 4.1 Jam Kerja Karyawan Bagian Kantor PT Indojaya Agrinusa

Hari Kerja Jam Kerja Keterangan

Senin-Jumat 07.30-12.00 12.00-14.30 14.30-17.00

Kerja aktif Istirahat Kerja aktif

b. Bagian Produksi

Untuk bagian pengolahan pekerja dibagi atas 2 shift, yaitu:

1. Shift I : (Pukul 07.30-15.30) 2. Shift II : (Pukul 15.30-23.30) 3. ShiftIII : (Pukul 23.30-07.30)

Waktu istirahat untuk karyawan bagian pengolahan diberikan selama 1 jam tetapi tidak ditentukan jadwal yang tetap. Waktu istirahat tersebut tergantung pada pengaturan waktu tenaga kerja di stasiun kerja masing-masing dengan ketentuan di setiap stasiun tidak boleh kosong. Pergantian shift dilakukan setiap 1 bulan sekali dan mendapat hari libur 1 hari yaitu hari Minggu.

4.1.5 Proses Pengolahan

Sifter

Cooler

Vitamin & air

(QUALITY CONTROL)

PRODUK

Gambar 4.2 Proses Produksi di PT Indojaya Unit Aquafeed Sumber : Profil PT. Indojaya Agrinusa Unit Aquafeed

INTAKE HAND ADD 1

HAND ADD 2 CHIATUNG

&

PRESSMILL

PRESSMILL

Dokumen terkait