• Tidak ada hasil yang ditemukan

Cultivation Based on Land Suitability Class in Timor island)

F. Nilai Harapan Lahan

Suku Bunga Riil (%) 1 2010 6,5 5,13 22 2 2011 6,58 5,38 19 3 2012 5,77 4,28 28 4 2013 6,48 6,97 -6 5 2014 6,92 6,42 7

Berdasarkan hasil perhitungan pada Tabel 1 di atas, diperoleh nilai suku bunga riil sebesar 13,9%. Nilai ini digunakan dalam penghitungan compound factor selama daur, dan sebagai suku bunga riil dalam penghitungan LEV. Sebagai pembanding dalam kelayakan usaha, digunakan pula dua tingkat suku bunga lain yakni 12,9% dan 14,9%.

F. Nilai Harapan Lahan

Perubahan pola tanam berimplikasi pada tingkat keuntungan masyarakat petani cendana. Perbedaan kelas kesesuaian lahan juga akan memberikan tingkat keuntungan yang berbeda pula. Sehingga, perlu dilakukan suatu perhitungan yang mendasarkan pada analisis

perpetual untuk mengetahui perubahan ekonomi petani cendana dan untuk menentukan

tindakan-tindakan yang mungkin dilakukan dalam rangka efisiensi. Land Expectation Value merupakan suatu metode yang mampu memberikan analisis komprehensif dalam mengukur kemampuan petani cendana. Perbedaan pola tanam dan kelas kesesuaian lahan perlu kiranya untuk diketahui seberapa besar memberikan perubahan pada tingkat ekonomi petani cendana. Sehingga hasilnya juga dapat menggambarkan kemampuan maksimum masyarakat petani dalam menerapkan sistem atau pola tanam tertentu.

Nilai harapan lahan (LEV) untuk empat kelas kesesuaian lahan di Pulau Timor dihitung berdasarkan cash flow yang ada. Hasil perhitungan disajikan dalam Tabel 2 dan Gambar 2 yang menyatakan perubahan LEV pada tiga tingkat suku bunga riil yang dicoba.

Tabel 2. LEV pada empat kelas kesesuaian lahan cendana dengan 3 tingkat bunga yang digunakan

Suku Bunga Riil Kelas Sesuai Lahan

1 2 3 4

12,9% 164.930.262,21 130.498.535,66 91.280.717,39 65.669.300,13 13,9% 133.354.247,81 105.091.825,30 72.730.732,72 51.731.131,69 14,9% 107.887.436,48 84.614.906,76 57.795.036,09 40.517.302,57 Perbedaan tingkat suku bunga ternyata memberikan pengaruh yang cukup signifikan, dengan nilai seluruhnya positif. Pada tingkat suku bunga 12,9%, pada kelas sesuai lahan 1, 2, 3 dan 4 memberikan nilai LEV yang positif, berturut-turut adalah Rp. 164.930.262,21; Rp. 130.498.535,66; Rp. 91.280.717,39; Rp. 65.669.300,13. Demikian juga untuk tingkat suku bunga 13,9% dan 14,9%, semuanya memberikan nilai LEV yang positif, sebagaimana disajikan dalam Tabel 2. Nilai LEV terbesar diperoleh pada kelas sesuai lahan 1 dengan tingkat suku bunga 12,9%, yakni Rp. 164.930.262,21. Sementara nilai LEV terkecil didapat pada kelas sesuai lahan 4 dengan tingkat suku bunga 14,9%, yakni Rp. 40.517.302,57. Perbedaan ini disebabkan oleh tingkat kesuburan lahan yang berbeda dan tingkat suku bunga riil yang berbeda pula.

Gambar 2. Perubahan nilai LEV oleh tiga tingkat suku bunga yang dicoba pada keempat kelas kesesuaian lahan cendana

Figure 2. The changing of LEV by three rate of interest level and four cendana land suitability classes. Pergerakan perubahan nilai LEV untuk setiap kelas kesesuaian lahan relatif sama, dengan perbedaan nilai yang cukup besar oleh perubahan tingkat suku bunga riil. Pergerakan perubahan nilai LEV ini dapat dilihat pada Gambar 2. Nilai LEV pada setiap kelas sesuai lahan ternyata cukup peka atau sensitif terhadap perubahan suku bunga, sehingga usaha efisiensi terhadap kinerja pengusahaan tanaman sangat dibutuhkan untuk masa yang akan datang. Pada kelas kesesuaian lahan 1, rata-rata perbedaan nilai LEV untuk setiap perubahan suku bunga riil adalah Rp. 28.521.412,87 atau sekitar 21,39% dari LEV pada tingkat suku bunga 13,9%. Pada kelas kesesuaian lahan 2, rata-rata perbedaan nilai LEV adalah Rp. 22.941.814,45 atau sekitar 21,83%. Pada kelas kesesuaian lahan 3, rata-rata

12,9% 13,9% 14,9%

1 164,930,262.21 133,354,247.81 107,887,436.48 2 130,498,535.66 105,091,825.30 84,614,906.76 3 91,280,717.39 72,730,732.72 57,795,036.09 4 65,669,300.13 51,731,131.69 40,517,302.57

perbedaan nilai LEV adalah Rp. 16.742.840,65 atau sekitar 23,02%. Sedangkan Pada kelas kesesuaian lahan 4, rata-rata perbedaan nilai LEV adalah Rp. 12.575.998,78 atau sekitar 24,31%.Terlihat perbedaan terbesar perubahan nilainya oleh perubahan tingkat suku bunga riil berturut-turut adalah kelas kesesuaian lahan 1, diikuti oleh kelas kesesuaian lahan 2, 3 dan 4. Namun secara persentase menunjukkan kecenderungan sebaliknya. Ini berarti secara relatif, budidaya cendana pada kelas kesesuaian lahan 4 lebih rentan terpengaruh perubahan suku bunga. Gambar 3 menunjukkan nominal perubahan nilai LEV pada setiap kelas kesesuaian lahan, pada perubahan tingkat suku bunga dari 12,9% ke 13,9% dan dari 13,9% ke 14,9%.

Gambar 3. Perbedaan nilai LEV oleh perubahan tingkat suku bunga riil pada setiap kelas kesesuaian lahan cendana.

Figure 3. The difference of LEV by real rate of interest changing on each cendana land suitability class.

Kepekaan nilai LEV terhadap perubahan tingkat suku bunga kemungkinan besar disebabkan oleh adanya pos-pos biaya yang besar muncul pada tahun-tahun awal rotasi, sedangkan pos-pos pendapatan yang besar muncul pada tahun-tahun akhir rotasi. Akibatnya, biaya pada awal rotasi akan ter-compound pada akhir rotasi dengan tingkat akumulasi yang tinggi. Sedangkan pendapatan yang muncul pada akhir rotasi akan terakumulasi dengan tingkat compound factor yang jauh lebih rendah. Faktor pajak dan biaya sewa lahan juga sangat berkontribusi terhadap kepekaan nilai LEV. Semakin besar pajak atau biaya sewa lahan tiap tahunnya, maka semakin besar pula tingkat perubahan nilai LEV.

Alasan yang dihubungkan dengan dampak pajak atas lahan hutan atau pertanian adalah adanya peningkatan fragmentasi lahan hutan, dengan meningkatnya pembangunan di sekitarnya. Nilai pajak menjadi tinggi, sehingga menjadi tidak menguntungkan apabila tetap mempertahankan pengusahaan lahan hutan. Pemilik lahan akan lebih cenderung menjual tanahnya dan kondisi ini akan semakin mempercepat terjadinya fragmentasi lahan. Struktur dari pajak properti dapat mempercepat konversi lahan hutan pada saat keuntungan unit usaha berkurang atau hilang (Wear and Newman, 2004). Hasil penelitian Cushing (2006) menunjukkan bahwa pada beberapa kasus pajak dapat mengurangi nilai dari lahan atas

1, 12,9%-13,9%, 31,576,014.41 1, 13,9%-14,9%, 25,466,811.33 2, 12,9%-13,9%, 25,406,710.36 2, 13,9%-14,9%, 20,476,918.54 3, 12,9%-13,9%, 18,549,984.67 3, 13,9%-14,9%, 14,935,696.63 4, 12,9%-13,9%, 13,938,168.43 4, 13,9%-14,9%, 11,213,829.12 1 2 3 4

tanaman (pohon) yang diusahakan, hingga mencapai 50%. Total pengurangan relatif atas nilai LEV untuk pemilik lahan individu setelah seluruh pajak adalah berkisar 19 – 51%. Untuk perusahaan adalah 41 – 80%. Discount rate dan biaya penanaman kembali memiliki dampak terbesar atas LEV (Cushing, 2006).

Faktor lainnya adalah perubahan iklim. Perubahan iklim memiliki efek pengurangan atas harga produk-produk kehutanan pada pasar global dikarenakan tingkat pertumbuhan yang lebih tinggi dan meningkatnya penawaran, khususnya di negara-negara berkembang (Sohngen and Sedjo, 2005). Umur daur ekonomi optimal pada kondisi iklim masa yang akan datang adalah lebih rendah dibandingkan yang sekarang. Perubahan iklim akan berpengaruh baik pada hasil maupun frekuensi gangguan atas lahan hutan. Keduanya ini akan berpengaruh secara tetap pada nilai lahan pada saat lahan tersebut digunakan untuk menghasilkan produk-produk kehutanan (Johnston and Williamson, 2005).

Dengan demikian, dapat dipahami bahwa pengusahaan tanaman cendana layak untuk dijalankan pada setiap kelas kesesuaian lahan dan tingkat suku bunga riil yang dicoba. Namun, hasil perhitungan ini sangatlah conditional, artinya pada keadaan perekonomian yang berbeda serta tingkat harga input dan output yang berbeda, akan memberikan hasil yang berbeda pula. Efisiensi kinerja perusahaan dalam penggunaan input dan output serta dalam pemasaran akan pula meningkatkan kemampuan unit usaha pertanian cendana dalam menghadapi perubahan kondisi perekonomian yang terjadi.

Nilai LEV ini dapat dijadikan acuan bagi unit usaha pertanian cendana dalam melaksanakan sistem kelola usahanya, mengingat asumsi-asumsi yang digunakan dalam penghitungan LEV ini juga mengambil data dari praktek usaha pertanian cendana yang ada di lapangan. Perlu pula diperhitungkan keuntungan yang diperoleh unit usaha yang ada apabila sistem bagi hasil diterapkan. Kemungkinannya adalah lebih kecil dari nilai yang ada sekarang. Pada keadaan dimana keuntungan unit usaha akan lebih kecil apabila system bagi hasil tidak diterapkan, yang disebabkan oleh tekanan masyarakat yang sangat kuat, maka terdapat nilai opportunity cost atau tingkat keuntungan yang hilang apabila sistem bagi hasil tidak diterapkan.

Perbedaan besar biaya untuk masing-masing pos biaya dan pendapatan juga akan sangat berpengaruh terhadap nilai LEV-nya. Pada penelitian ini seluruh nilai LEV yang dihasilkan adalah positif untuk setiap nilai suku bunga yang dicobakan. Pada tingkat suku bunga yang jauh lebih besar, nilai LEV dapat menjadi negatif. Ini berarti bahwa pada kondisi perekonomian tersebut dimana tingkat suku bunga riil sangat tinggi, maka pengusahaan tanaman cendana menjadi kurang ekonomis, dilihat dari munculnya nilai opportunity cost yang melebihi nilai LEV nya. Apabila sistem bagi hasil diterapkan, nilai negatif ini akan tercapai lebih cepat pula oleh perubahan tingkat suku bunga.

Pada akhirnya, bagaimanapun analisis finansial berdasarkan LEV dapat digunakan dengan adjustment tertentu yang mempertimbangkan keadaan sosial, ekonomi dan sistem pengelolaan hutan makro atau paradigma yang memayunginya.

A. Kesimpulan

1. Budidaya cendana dengan kelas kesesuaian l, 2, 3 dan 4 berturut-turut menghasilkan nilai LEV sebesar : Rp. 133.354.247,81; Rp. 105.091.825,30; Rp. 72.730.732,72; dan Rp. 51.731.131,69 untuk tingkat suku bunga 13,9%. Hal ini menunjukkan bahwa budidaya cendana pada keempat kelas kesesuaian lahan di Pulau Timor masih layak untuk dilakukan.

2. Pergerakan perubahan nilai LEV untuk setiap kelas kesesuaian lahan relatif sama, dengan perbedaan nilai yang cukup besar oleh perubahan tingkat suku bunga riil. Perbedaan terbesar perubahan nilainya oleh perubahan tingkat suku bunga riil berturut-turut adalah kelas kesesuaian lahan 1 (Rp. 28.521.412,87) diikuti oleh kelas kesesuaian lahan 2 (Rp. 22.941.814,45),3 (Rp. 16.742.840,65) dan 4 (Rp. 12.575.998,78). Namun demikian, secara persentase menunjukkan hal sebaliknya, kelas sesuai lahan 4 adalah paling rentan dipengaruhi oleh suku bunga diikuti oleh kelas sesuai 3, 2 dan 1.

3. B. Saran

1. Perlu adanya penyesuaian tertentu dalam setiap penerapan analisis finansial beserta interpretasinya, dengan mempertimbangkan keadaan lokal sistem sosial ekonomi dan paradigma pengelolaan yang berkembang.

2. Kemampuan sebenarnya petani cendana dalam melakukan usaha budidaya cendana dapat diketahui apabila penggunaan input dan pencapaian serta pemasaran output telah dilaksanakan dengan cara yang efisien. Sehingga, sangat terbuka kemungkinannya untuk meneliti dan mengetahui tingkat kemampuan petani cendana dalam melaksanakan kelola usahanya.

DAFTAR PUSTAKA

Anonim. 2010. Master Plan Pengembangan dan Pelestarian Cendana Provinsi Nusa Tenggara Timur Tahun 2010-2030.

Barrett DR and Fox JED, 1996. Santalum album: Kernel Composition, Morphological and Nutrient Characteristics of Pre-parasitic Seedlings under Various Nutrient Regimes. Barrett DR, Wijesuriya SR, Fox JED. 1985. Observations on foliar nutrient content of

sandalwood (Santalum spicatum R.Br. D.C.). Mulga Research Centre Journal 8: 81±91. Cushing, T.L. 2006. A Comparison of The Relative Reduction in Land Expectation Value Due

to Taxation of Private Forest Land in The United States. A Dissertation Submitted to the Graduate Faculty of The University of Georgia in Partial Fulfillment of the Requirements for the Degree. Athens, Georgia.

Davis, L.S., dan K.N. Johnson. 1987. Forest Management. McGraw-Hill, Inc. New York. Dhanya, B., S. Viswanath, and S. Purushothman. 2010. Sandal (Santalum album L.)

Conservation in Southern India: A review of policies and their impacts. Journal of Tropical Agriculture 48 (1–2) : 1–10, 2010.

Dinas Kehutanan Propinsi NTT (Forestry Office of East Nusa Tenggara Province), 2009. Progress Pengembangan Hutan Tanaman Cendana Provinsi Nusa Tenggara Timur

Dalam Rangka Mewujudkan Tekad Propinsi Cendana: Kondisi Bulan Juni 2009 (Progress

on Sandalwood Forest Development in an Effort to Regain Sandalwood Province Status: as of June 2009), Dinas Kehutanan Propinsi NTT, Kupang.

Faustmann, M. 1849. Calculation of the value which forest land and immature stands possess for forestry. Allgemeine Forst- und Jagd-Zeitung 25:441-455. Translated in W. Linnard and M. Gane. 1968. Martin Faustmann and the evolution of discounted cash flow. Commonwealth Forestry Institute Paper 42, University of Oxford. Reprinted in 1995.

Journal of Forest Economics 1(1):7-44.

Iyengar AV. 1960. The relation of soil nutrients to the incidence of spike disease in sandalwood (Santalum album Linn.). Indian Forester 86: 220±230.

Johnston, M and T. Williamson. 2005. Climate Change Implications for Stand Yields and Soil Expectation Values : A northern Saskatchewan Case Study. The Forestry Chronicle, 85, (1) : 683-690.

Kengen, S.. 1997. Forest Valuation for Decision Making (Lessons of experience and proposals

for improvement). Food and Agriculture Organization of The United Nations. Roma.

Kurniawan, H. 2014. Kesesuaian Lahan Sebagai Bagian Dari Solusi Pengembangan Cendana (Santalum album Linn.) di Nusa Tenggara Timur. Warta Cendana, Edisi VII No.3, November 2014. Balai Penelitian Kehutanan Kupang.

Klemperer, W.D.. 1996. Forest Resource Economics and Finance. McGraw-Hill, Inc. Singapore.

Ormeling, F.J. 1955. The Timor Problem : A geographical interpretation of an under developed island. PhD. Thesis, University of Indonesia. J.B. Wolters, Djakarta and Groningen.

Pusat Penelitian Tanah dan Agroklimat, 1993. Petunjuk Teknis Evaluasi Lahan. Puslittanak, Bogor.

Ramaiah PK, Parthasarathi K, Rao PS. 1962. Studies on sandal spike: a histological study of sandal root haustoria in relation to mineral nutrition. Indian Academy of Wood Science. 56B: 111±113.

Rangaswamy CR, Jain SH, Parthasarthi K. 1986. Soil properties of some sandalwood bearing areas. Van Vigyan 24 : 61±68.

Suripto, J. 1996. Pemulihan potensi cendana di NTT. Makalah disampaikan pada Seminar Hari Bakti Departemen Kehutanan Propinsi NTT, Kupang.

Sohngen, B. and R. Sedjo. 2005. Impacts of climate change on forest product markets : Implications for North-American producers. The Forestry Chronicle 81(5): 669–674. Sreenivasan Rao YV. 1933. Contributions to the physiology of sandal (Santalum album L).

In¯uence of the host plants on the nitrogen metabolism of sandal. Journal of the Indian

Institute of Science 16A: 164±184.

Struthers R, Lamont BB, Fox JED, Wijesuriya S, Crossland T. 1986. Mineral nutrition of sandalwood (Santalum spicatum). Journal of Experimental Botany 37: 1274±1284. Sumardi, M. Hidayatullah dan D. Yuniati. 2011. Pembuatan Peta Digital dalam Perencanaan

Insentif Riset Percepatan Difusi dan Pemanfaatan IPTEK. Balai Penelitian Kehutanan Kupang. NTT.

Viswanath, S., B. Dhanya, and T.S. Rathore. 2008. Financial viability of sandal (Santalum album L.) cultivation practices. In: Proc. National Seminar on Conservation, Improvement, Cultivation and Management of Sandal. Gairola, S., Rathore, T.S., Joshi, G., Arun Kumar A. N. and Aggarwal, P. K. (eds), Institute of Wood Science and Technology, Bangalore, pp 158–164.

Viswanath, S., B. Dhanya, and T.S. Rathore. 2009. Domestication of sandal (Santalum album L.) in India: Constraints and prospects. Asia Pacific Agrofor. Newsl., 34: 9–12.

Wear, D. N. and D. H. Newman. 2004. The speculative shadow over timberland values in the U. S. south. Journal of Forestry. 102(8):25-31.

www.bi.go.id. Data inflasi Tahun 2010 – 2014. Diakses tanggal 21 Januari 2015. www.bi.go.id. Data SBI Tahun 2010 – 2014. Diakses tanggal 21 Januari 2015.

Zobrist, K.W. 2005. Economically Sustainable Working Forests : Financial Analysis Principles

and Applications. Northwest Environtmental Forum, College of Forest Resources,