BAB II: KAJIAN PUSTAKA
B. Nilai Karakter Religious
1) Nilai Illahiyah
Nilai Illahiyah sangat penting untuk diterapkan dalam sebuah lembaga pendidikan, karena dengan nilai Illahiyah yang tertanam dapat menjadikan peserta didik memiliki karakter religius, yang nantinya akan menjadikan dirinya menjadi
5Zakiyah Drajat, Dasar-dasar Agama Islam, (Jakarta: Bulan Bintang, 1992), hlm. 260.
manusia yang dapat memberikan kemanfaatan pada sesama, dan adanya penerapan nilai Illahiyah dalam lembaga pendidikan ini sejalan dengan tujuan pendidikan Islam.
Nilai-nilai Keagamaan menurut Nurcholish Madjid, ada beberapa nilai-nilai keagamaan mendasar yang harus ditanamkan pada anak dan kegiatan menanamkan nilai-nilai pendidikan inilah yang sesungguhnya menjadi inti pendidikan keagamaan. Di antara nilai–nilai yang sangat mendasar itu ialah: a) iman, b) Islam, c) ihsan, d) taqwa, e) ikhlas, f) tawakkal, g) syukur.7
a. Iman, yaitu sikap batin yang penuh kepercayaan kepada Tuhan Masalah iman banyak dibicarakan di dalam ilmu tauhid. Akidah tauhid merupakan bagian yang paling mendasar dalam ajaran Islam, Tauhid itu sendiri adalah men-satu-kan Allah dalam dzat, sifat, af’al dan beribadah hanya kepada-Nya. Tauhid dibagi menjadi empat bagian, yaitu: Asmaa’ wa Ash-Shifaat, Ar-Rubuubiyah, Al-Mulkiyah, Al-Uluuhiyah.8
1) Al-Asmaa’ wa Ash-Shifaat (Keesaan Allah dalam Nama dan Sifat)
2) Mengesakan Allah yang memiliki nama-nama dan sifat-sifat kesempurnaan adalah mutlak. Tidak ada sedikitpun kekurangan pada Allah. Allah yang digambarkan dalam nama dan sifat-Nya seperti dalam 99 nama Allah adalah gambaran kehebatan dan Kesempurnaan-Nya. Oleh karena itu tidak layak kita mencari tandingan lainnya kepada pengakuan keberadaan Allah.
3) Ar-Rubuubiyah (Keesaan Allah sebagai Tuhan Pencipta), Yaitu men-satu-kan Allah dalam kekuasaannya artinya seseorang meyakini bahwa hanya Allah yang menciptakan, memelihara, menguasai dan yang mengatur alam seisinya. Tauhid rububiyyah ini bisa diperkuat dengan memperhatikan segala ciptaan Allah baik benda hidup maupun benda mati. Ilmu-ilmu kealaman disamping mempelajari fenomena alam juga dapat sekaligus membuktikan dan menemukan bahwa Allahlah yang mengatur hukum alam yang ada pada setiap benda. Allah sebagai Pencipta, Pelindung, Pemberi rezeki dan Pengatur alam semesta tidak akan
7Nurcholish Madjid, Masyarakat Religius Membumikan Nilai-Nilai Islam Dalam Kehidupan Masyarakat, (Jakarta, 2000), hlm. 98-100.
mungkin diambil alih oleh yang lain. Allah memiliki kekuasaan yang mutlak yang tak ada satupun yang menyainginya. Oleh karena itu wajib kita mengesakan Allah sebagai Rabb.
4) Al-Mulkiyah (Keesaan Allah sebagai Tuhan Raja/ Penguasa)
Tauhid Mulkiyah adalah mengesakan hanya kepada Allah saja yang memiliki pemerintahan, dan kekuasaan yang meliputi semesta alam.
5) Al-Uluuhiyah (Keesaan Allah sebagai tempat mengabdi/ Menyembah)
Kata Ilah secara umum mempunyai arti yang disembah, baik kepada yang haq maupun batil. Sedangkan tauhid uluhiyyah merupakan suatu kunci dari kehidupan di bawah naungan tauhid. Mengesakan Allah sebagai Ilah mempunyai tuntutan bagi yang mengakuinya. Diantara tuntutan tersebut adalah sholat, puasa, zakat, haji dan menjalankan syari’at Islam. Pada zaman jahiliyah, kaum kafir Quraisy mengakui Allah sebagai Rabb tetapi tidak mengakui Allah sebagi Ilah.
b. Islam, yaitu Ist-Islam (sikap berserah diri) yang membawa kedamaian kesejahteraan (as salaam) dan dilandasi jiwa yang ikhlas (sincerity).9 Menurut Sayyid, Islam adalah kepatuhan kepada hukum-hukum syariat secara keseluruhan yang telah dibawa oleh junjungan kita Nabi Muhammad SAW.10
c. Ihsan, yaitu kesadaran yang sedalam-dalamnya bahwa Allah senantiasa hadir bersama kita dimana saja berada sehingga kita senantiasa merasa terawasi.
d. Taqwa, yaitu sikap yang sadar bahwa Allah selalu mengawasi kita sehingga kita hanya berbuat sesuatu yang diridlai Allah dan senantiasa menjaga diri dari perbuatan yang tidak diridlai-Nya.
e. Ikhlas, yaitu sikap murni dalam tingkah laku dan perbuatan semata-mata demi memperoleh ridla Allah.
f. Tawakkal, yaitu sikap senantiasa bersandar kepada Allah dengan penuh harapan kepada-Nya dan keyakinan bahwa dia akan menolong dalam mencari dan menemukan jalan yang terbaik.
9Toto Tasmara, Etos Kerja Pribadi Muslim (Yogyakarta: PT. Dana Bhakti Wakaf, 1995), Hlm. 152.
10Sayyid Muhammad bin Salim bin Hafidz, Fiqih & tasawuf wanita Muslimah, (Surabaya: Cahaya Ilmu, 2008), hlm. 25.
g. Syukur, yaitu sikap penuh rasa terima kasih dan penghargaan atas segala nikmat dan karunia yang tidak terbilang banyaknya. Amalan yang paling Allah SWT harapkan dilakukan manusia kepada Tuhannya adalah melakukan syukur kepada-Nya. Jika manusia merasa tidak perlu bersyukur maka berarti dia telah mengingkari dan tidak mengimani siapa pemberi nikmat-nikmat itu.11 Allah berfirman dalam Q.S. Ibrahim: 7
Artinya: “Dan (ingatlah juga), tatkala Tuhanmu memaklumkan; "Sesungguhnya jika kamu bersyukur, pasti Kami akan menambah (nikmat) kepadamu, dan jika kamu mengingkari (nikmat-Ku), Maka Sesungguhnya azab-Ku sangat pedih". (Q.S. Ibrahim : 7)12
h. Sabar, yaitu menahan jiwa dalam ketaatan, dan senantiasa menjaganya, memupuknya dengan keikhlasan dan menghiasinya dengan ilmu. Ia adalah menahan diri dari segala kemaksiatan, dan berdiri tegak melawan dorongan hawa nafsu. Ia adalah ridha dengan qadha dan qadar Allah tanpa mengeluh.13
Internalisasi nilai-nilai Illahiyah yang tertanam dalam jiwa siswa akan membuat siswa selalu merasa bahwa Allah melihat dan mengawasi semua perbuatan dan tingkah lakunya, sehingga dengan terbiasanya dengan sikap tersebut secara bertahap mereka menjadi terbiasa, dan akibat terbiasa tersebut akan menjadi karakter dan sikap hidup mereka saat mereka dewasa nanti.
Dari sisi dunia pendidikan proses internalisasi nilai-nilai Illahiyah adalah untuk mewujudkan tujuan pendidikan nasional yang menjadikan manusia sebagai khalifah dimuka bumi yang dapat mengerti akan tugas-tugas yang diberikan Allah
11 Badi’uz-Zaman sa’id an-Nursi, Bersyukurlah Bersabarlah, (Surakarta: Indiva Pustaka, 2009), hlm. 164.
12 Al-Qur’an dan Terjemahannya, (Surabaya: Duta Ilmu Surabaya, 2005), hlm. 346.
13Syaikh Abu Usamah Salim bin ‘Ied al-Hilali as-salafi, Meniru Sabarnya Nabi, (Bogor: CV. Darul Ilmi, 2009), hlm. 5.
kepadanya. Semua perbuatan dan tanggung jawab yang diemban manusia sebagai khalifah akan dimintai pertanggungjawaban dihari kiamat nanti.
Apabila nilai-nilai Illahiyah tertanam pada jiwa manusia maka manusia tersebut akan sadar akan konsekwensi semua yang di berikan Allah padanya didunia ini, karena semua hanya amanat-Nya dan titipan yang nantinya semua itu akan kembali pada-Nya dengan adanya proses peradilan pertanggungjawaban atas semua amanat tersebut. Yang pada intinya manusia akan hati-hati dan bertanggungjawab dalam menjaga semua amanat tersebut, baik berupa, kekuasaan, harta, keluarga, anggota tubuh, dan ilmu.