• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB II KAJIAN PUSTAKA

2.5 Nilai-nilai dan Kultur Sosial dalam mendukung

Dalam suatu masyarakat tumbuh suatu nilai dan kultur sosial yang menjadi budaya dalam menjalani segala aspek di kehidupannya. Sebuah kebiasaan yang bernilai dan terus menerus diterapkan dalam menjalani kehidupan akan berakar dan tertanam di dalam individu serta berkembang kepada kelompok hingga

menciptakan suatu masyarakat yang berbudaya kerja efisien dan efektif. Nilai dan kultur sosial ini menjadikan individu-individu memiliki sebuah karakter kewirausahaan yang kuat, baik di dalam sebuah perusahaan swasta maupun perusahaan nasional. Dalam aplikasinya mereka menciptakan inovasi dan perubahan dalam pengelolaan organisasi perusahaan serta menularkan semangat kewirausahaan disetiap aktivitas kegiatan.

Nilai dan kultur sosial dalam masyarakat dapat dicermati dari suatu etnis.

Nilai dan kultur sosial mempengaruhi segala bentuk sikap dan tindakan manusia ditengah-tengah kehidupan bermasyarakat dalam menjalani berbagai aspek kehidupan, termasuk dalam aspek ekonomi. Nilai-nilai yang ditanamkan sejak kecil sangat berpotensi menghasilkan kekuatan yang sangat besar bagi setiap individu yang mampu menyadarinya dan mengelolanya dengan baik. Banyak perusahaan milik suatu golongan tertentu yang mampu eksis dan bertahan bahkan meningkatkan profit mereka dalam perekonomian lokal daerah sampai tingkat nasional berkat kuatnya kultur sosial yang menjadi faktor pendukung bertahannya suatu usaha.

Menurut Wilderom,dkk dalam (Kusdi, 2011:112) basis teori yang digunakan dalam studi-studi hubungan kultur kinerja adalah pendekatan resources-based: bahwa kemampuan daya saing suatu organisasi ditentukan oleh kepemilikan sumber daya yang berharga, langka, dan sulit ditiru oleh pesaing (Baney, 1991, 1997). Kultur organisasi terdiri dari unsur-unsur seperti tacit knowledge, jaringan sosial (social interconnections), dan kekhasan (specificity) yang dapat menjadi sumber keunggulan yang unik dan sulit ditiru oleh para

pesaing. Keunikan ini pada gilirannya memperkokoh keunggulan bersaing organisasi, dan diasumsikan akan mendorong kepada pencpaian kinerja yang tinggi.

Definisi Konsep

1. Entrepreneurship

Entrepreneurship diartikan sebagai perilaku menggerakkan dan memanfaatkan modal sebagai kekuatan untuk menghasilkan keuntungan dengan cara bekerja sama dan berkoordinasi untuk keberlanjutan produktivitas. Entrepreneurship yang dimaksud dalam penelitian ini adalah perilaku memanfaatkan jaringan, ikatan keanggotaan dan daya upaya untuk mempertahankan usaha.

2. Strategi

Strategi adalah taktik atau cara yang telah disusun sedemikian rupa untuk mencapai suatu tujuan. Biasanya setiap perusahaan memiliki suatu strategi dalam memasarkan produk atau menjual jasanya.

3. Nilai-nilai

Nilai-nilai dalam penelitian ini adalah suatu cara pandang atau gagasan yang telah turun temurun dianggap benar dan baik oleh suatu kelompok dalam melakukan tindakan wirausaha.

4. Perusahaan keluarga

Perusahaan keluarga adalah perusahaan yang dimiliki oleh anggota keluarga dan akan diteruskan secara turun temurun dari generasi ke generasi, dengan begitu perusahaan keluarga akan memiliki suatu cara dan budaya yang tertanam dalam keluarga untuk dapat tetap mempertahankan usahanya.

5. Persaingan

Persaingan disini adalah keadaan dimana suatu perusahaan berada diantara perusahaan-perusahaan baru yang muncul dan menghadirkan produk yang sejenis dengan berbagai keunggulan-keunggulan tertentu, oleh sebab itu perusahaan akan mengalami keikutsertaan dalam kompetisi dan akan terjadi suatu proses seleksi alam yang memungkinkan suatu perusahaan akan bertahan atau tersingkirkan.

6. Etos kerja

Etos kerja adalah semangat dan daya yang dimiliki oleh sekelompok orang atau pun perorangan untuk dapat melakukan tugas dan pekerjaannya dengan sebaik mungkin tanpa mengenal kata menyerah dalam kesulitan kerja karena etos kerja merupakan ciri khas dan keyakinan seseorang dalam bekerja. Etos kerja disini menjadi ciri khas dan keyakinan dalam melakukan perdagangan untuk mendapatkan keuntungan dalam usahanya.

7. Kultur sosial

Kultur sosial adalah budaya yang lahir dari interaksi antar individu dan kelompok yang telah berlangsung beberapa lama hingga menjadi sebuah kebiasaan dan ciri khas dalam pola pertemanan dan hubungan antar individu.

Kultur sosial dapat mempengaruhi perilaku individu dan kelompok dan masyarakat secara keseluruhan, sehingga kultur sosial dapat mempengaruhi cara bertindak seseorang baik dalam bekerja dan mampu menciptakan jiwa kewirausahaan.

BAB III

METODE PENELITIAN

3.1 Jenis Penelitian

Penelitian ini menggunakan metode deskriptif dengan pendekatan kualitatif dimana metode penelitian tersebut berusaha menganalisis, mengkaji, mempelajari serta memahami apa dan bagaimana fenomena yang terjadi di sekitar daerah penelitian. Pendekatan atau metode yang digunakan bukan lah menggunakan statistik atau angka-angka layaknya metode kuantitatif namun disini proses penelitian lebih mengarah kepada penggalian informasi yang dilakukan dengan pengamatan mencoba menafsirkan objek dari sudut pandang subjektif serta menggunakan wilayah sekitar penelitian sebagai alat bantu penelitian dengan tahapan dan strategi yang tertata. Penelitian disini mencoba melihat bagaimana perusahaan keluarga bertahan dan bagaimana nilai-nilai entrepreneurship itu diterapkan dalam perusahaan PT. Pabrik Es Siantar.

3.2 Lokasi Penelitian

Penelitian berlokasi di suatu pabrik bernama PT.Pabrik Es Siantar, tepatnya di Jalan Pematang, kota Pematangsiantar, Sumatera Utara. Alasan peneliti memilih tempat ini karena Pabrik ini merupakan Pabrik tertua di Sumatera Utara, merupakan produsen produk lokal minuman soda pertama di

Indonesia yang dapat bertahan selama hampir seratus tahun. Untuk itulah peneliti merasa tertarik menelitinya.

3.3 Unit Analisis dan Informan

3.3.1 Unit Analisis

Unit analisis adalah satuan yang diperhitungkan sebagai subyek penelitian.Unit analisis merupakan hal yang begitu penting dalam mencari dan menemukan data-data atau informasi sebagai bahan yang akan dikelola untuk kepentingan penelitian ini. Unit analisis disini adalah beberapa karyawan yang bekerja di PT. Pabrik Es Siantar.

3.3.2 Informan

Informan adalah orang-orang atau siapapun yang dapat memberikan informasi dan data yang dibutuhkan untuk suatu kepentingan termasuk kegiatan penelitian. Informan sangat besar peran dan pengaruhnya untuk membantu memunculkan suatu fenomena yang berusaha digali dan dicari maknanya oleh peneliti, sebab informan merupakan suatu objek dalam kegiatan penelitian yang memberikan jawaban atau tanggapan terkait masalah yang hendak diteliti oleh peneliti. Dalam hal ini menentukan informan kunci dan informan lainnya merupakan sesuatu yang benar-benar harus disesuaikan dengan masalah yang hendak dikaji. Untuk itulah disini ditetapkan bahwa informan kuncinya adalah pimpinan pada Pabrik Es yaitu manager dan juga kepala bagian pemasaran.

3.4 Teknik Pengumpulan Data

3.4.1 Data Primer

Data Primer merupakan bahan mentah yang menjadi inti bagi pengembangan kegiatan penelitian yang sedang berlangsung. Data Primer di peroleh langsung dari tatap muka dan wawancara dengan informan serta pengamatan selama di lapangan.

1.Observasi

Observasi yaitu teknik pengumpulan data yang dilakukan dengan pengamatan oleh peneliti selama berada di lapangan, peneliti melihat bagaimana suasana dan situasi serta merasakan lingkungan tempat penelitian itu. Gejala dan proses bekerja yang berlangsung di tempat penelitian dapat dibaca oleh peneliti dengan teknik observasi ini.

2.Wawancara mendalam

Sebagai penelitian yang membutuhkan data yang valid dan cukup, maka wawancara adalah salah satu teknik pengumpulan data yang begitu penting, karena dari teknik inilah didapatkan informasi secara lisan dari tokoh atau narasumber yang bersangkutan terkait masalah penelitian. Teknik wawancara mendalam akan memberikan jawaban-jawaban yang peneliti butuhkan.

3.4.2 Data Sekunder

Data Sekunder merupakan data kedua setelah data primer dengan kata lain data yang diperoleh secara tidak langsung dari objek penelitian. Data sekunder dapat diperoleh dari sumber yang berada diluar lapangan penelitian seperti mencari referensi dari buku-buku, skripsi, jurnal dan karya ilmiah lain yang berhubungan dengan permasalahan yang di kaji disini. Selain bahan bacaan cetak, media elektronik dan sumber online juga membantu dalam penelitian ini untuk menemukan teori dan dokumen penunjang lainnya terkait masalah yang dikaji disini.

3.5 Interpretasi Data

Interpretasi data adalah memberikan pandangan teoritis, pendapat ataupun kesan terhadap suatu data. Untuk interpretasi data, diawali dengan mempersiapkan bahan-bahan bacaan ataupun berbagai bentuk informasi yang berkaitan dengan penelitian ini. Memahami dan mencoba menyesuaikan masalah yang hendak diteliti dengan ruang lingkup dan batasan yang dikaji agar penelitian fokus dan menggambarkan sesuatu yang benar-benar sesuai dengan topik penelitian. Setelah itu dilanjutkan dengan melakukan pra observasi di lapangan dan mencoba mengurutkan alur cerita daripada masalah yang hendak diteliti.

3.6 Keterbatasan Penelitian

Keterbatasan penelitian yang dialami oleh peneliti adalah keterbatasan dalam hal bertemu secara langsung dengan informan kunci yang seharusnya menjadi informan utama peneliti dalam melakukan penelitian ini. Informan tersebut merupakan seorang pebisnis yang memiliki cukup banyak usaha yang berdiri dan termasuk seseorang yang sibuk sehingga untuk bertemu dengan beliau pun sulit. Selain disebabkan alasan tersebut, pihak perusahaan pun sepertinya tidak mengizinkan dengan mudah peneliti dapat melakukan wawancara atau riset kepada direktur yang adalah pemilik perusahaan. Saat peneliti menghubungi dan meminta izin untuk bertemu dengan direksi, hasilnya adalah negatif, peneliti sudah mencobanya beberapa kali baik berbicara melalui telepon seluler kepada direksi maupun mencoba berdiskusi untuk bertemu dengan beliau dengan pimpinan perusahaan. Owner sendiri mengatakan untuk berurusan langsung kepada manager dan mereka akan memberikan data sesuai yang peneliti minta.

Ditengah kesulitan yang peneliti alami, peneliti menemukan dari karyawan bahwa ada seorang karyawan pada perusahaan yang merupakan orang kepercayaan dari direksi, beliau adalah tangan kanan direksi dalam perusahaan.

Beliau adalah Bapak Sabar Sinaga, yang bekerja sebagai kepala maintenance pada perusahaan. Untuk komunikasi dan interaksi kepada direksi Pak Sabar Sinaga adalah orang yang paling dekat dibandingkan dengan manager atau pimpina dalam perusahaan, bahkan seringkali Pak Sabar Sinaga disebut sebagai wakil direksi. Dengan begitu peneliti melakukan wawancara langsung dengan Pak Sabar

Sinaga. Selain dengan beliau peneliti juga mencoba mengambil informasi dari manager perusahaan.

Selain keterbatasan dalam berinteraksi secara langsung dengan pemilik perusahaan keterbatasan lainnya yang dialami oleh perusahaan adalah, saat melakukan wawancara manager cenderung menjawab pertanyaan peneliti ke arah yang umum dan tidak mendetail, jadi membutuhkan beberapa cara untuk dapat mendapatkan informasi yang dibutuhkan peneliti. Terhadap pegawai yang dijadikan peneliti sebagai informan pendukung juga peneliti mengalami kesulitan sebab mereka cenderung berusaha untuk tidak diwawancarai, dan keadaan pada saat itu juga kurang mendukung karena keadaan pada saat itu adalah aktivitas bekerja pada perusahaan yng sedang berlangsung, seolah-olah penelitian yang dilakukan menjadi sangat mengganggu. Informasi dan pengetahuan yang ada pada peneliti terkait perusahaan dan komponen-komponen serta managemennnya juga terbatas, sehingga agak sulit untuk menjadikannya sebuah acuan dan landasan untuk dapat melakukan penelitian yang cukup efektif.

BAB IV

DESKRIPSI DAN INTERPRETASI DATA PENELITIAN

4.1 Deskripsi Lokasi

Kota Pematangsiantar adalah salah satu kota yang berada di Provinsi Sumatera Utara dan merupakan kota terbesar kedua setelah kota Medan. Kota ini juga merupakan kota industri dimana terdapat beranekaragam bangunan industri yang berdiri. Pembangunan Kota Pematangsiantar ditopang oleh kegiatan perindustrian yang berpengaruh dalam menyokong perekonomian kota. Kota Pematangsiantar menjadi tempat pemilihan didirikannya industri dengan didukung dekatnya daerah ini dengan daerah yang menghasilkan bahan-bahan mentah yaitu daerah Kabupaten Simalungun yang mengitarinya.

Pematangsiantar memang lebih cocok sebagai daerah tempat pengelolaan industri daripada pertanian, mengingat letak geografis dan didukung banyaknya jumlah penduduk yang tinggal di daerah ini. Beranekaragam jenis industri dapat ditemui di kota ini. Industri-industri yang berdiri di Pematangsiantar berupa industri manufaktur, dan lain sebagainya. Industri-industri tersebut juga sudah bertahan sangat lama mencapai usia puluhan tahun. Dengan begitu perusahaan-perusahan yang ada di Kota Pematangsiantar sudah memiliki berbagai ceritanya sendiri seperti sejarah, dan pengelolaan, hingga kemampuan mereka untuk bertahan.

Mengingat semakin banyaknya produk-produk yang dihasilkan perusahaan lain dan persaingan dengan perusahaan asing di Indonesia tentunya ini akan semakin meningkatkan tingkat persaingan antar perusahaan. Jalannya usia perusahaan dalam kurun waktu yang cukup lama tentu dipengaruhi pula dengan sejarah terbentuk, tata cara pengelolaan perusahaan dan lokasi perusahaan pun tak kalah penting sebagai suatu strategi agar perusahaan dapat bertahan. Lokasi suatu perusahaan dipilih berdasarkan kebutuhan perusahaan akan sumberdaya yang ada di lingkungan daerah perusahaan tersebut, seperti contoh bahan baku, konsumen, dan tentu saja dengan tujuan agar proses distribusi bahan mentah nya tidak terlalu jauh dengan tujuan agar dapat menghemat biaya. Lokasi penelitian ini berada di Kota Pematangsiantar, Kecamatan Siantar Barat ,Jalan Pematang.

4.1.1. PT.Pabrik Es Siantar

PT.Pabrik Es Siantar merupakan salah satu perusahaan yang berdiri di Kota Pematangsiantar. Perusahaan ini merupakan bangunan industri yang bergerak di bidang penjualan minuman berupa minuman ringan bersoda. Nama produk yang dihasilkan oleh perusahaan ini adalah minuman cap badak. Bukan hanya memproduksi minuman, PT.Pabrik Es Siantar juga memproduksi Es batangan sebagai pendingin limun atau minuman cap badak. Minuman ini sudah sangat tenar ditelinga masyarakat, khususnya masyarakat Siantar karena produk minuman ini juga merupakan produk lokal yang fokus penjualannya di wilayah Sumatera Utara. Meskipun begitu tidak menutup kemungkinan minuman badak

dapat ditemui di luar Sumut bahkan di luar Sumatera. Sementara yang diketahui bahwa pada saat ini sudah banyak sekali jenis minuman ringan yang di produksi baik dari dalam negeri sendiri maupun dari luar negeri, apalagi ditambah dengan munculnya perdagangan bebas. Kenyataan tersebut akan sangat memperketat dunia persaingan. Meskipun begitu minuman ini dapat tetap eksis selama waktu yang cukup lama.

Minuman cap badak sebenarnya sudah berusia seratus tahun dimana pada saat Indonesia berada pada masa kolonial perusahaan yang mengelola minuman ini bernama NV.Ijs. Fabriek Siantar yang didirikan oleh seorang berkebangsaan Swiss. PT.Pabrik Es Siantar berdiri tahun 1916, didirikan oleh Bapak Heinrich Surbeck yang pertama kali mendirikan pembangkit listrik tenaga air sebagai penerangan di simalungun. Pada awal sejarahnya Bapak Heinrich Surbeck dibawa oleh VOC ke Jawa, Kalimantan dan daerah-daerah lainnya namun yang dia cari tidak ada. Kemudian beliau turun ke Sumatera, dilihat sungai di Simalungun seperti pulau dan bisa sebagai sumber listrik atau sebagai pembangkit listrik dan sungai tersebut banyak mata air, serta modal untuk pengembangan pabrik. Dari mata air yang ada tersebut beliau menciptakan es batangan sebagai pendingin pembuatan limun. Untuk minuman cap badak itu sendiri, resepnya didapatkan dari Swiss yang konsentratnya diimpor dari luar negeri. Sarsaparilla konsentratnya berasal dari tumbuhan semak beduri yang tumbuh di amerika latin yang berasal dari Kota Meksiko dan diimpor melalui kapal kontainer.

Tahun 1945 terjadi revolusi, Heinrich Surbeck mati dibunuh oleh laskar rakyat Indonesia. Anak-anak diungsikan ke luar negeri untuk sementara namun

ada pegawai berkebangsaan Indonesia Pak Elman tanjung, dimasa-masa perjuangan, masa kemerdekaan pengelolaan perusahaan dipercayakan kepada Pak Elman Tanjung. Setelah keadaan sudah damai dan aman, keluarga dan anak Surbeck serta menantu datang dari swiss ke Indonesia untuk melanjutkan usaha ini dan usahanya semakin maju. Namun terjadi dekrit presiden tahun 1949 dan semenjak adanya isu-isu nasionalis dan perusahaan asing yang ada di Indonesia harus di serahkan kepada pribumi maka pada akhirnya kepemilikan perusahaan ini pun berpindah ke tangan seseorang yang bernama Julianus Hutabarat, beliau adalah seorang pengusaha yang membeli perusahaan yang mengelola minuman cap badak ini setelah sebelumnya dipercayakan ke tangan Elman Tanjung yang merupakan teman baik Bapak Julianus Hutabarat. Akhirnya pada tahun 1969 perusahaan tersebut dibeli oleh Bapak Julianus Hutabarat dan berubah nama menjadi PT.Pabrik Es Siantar. Selama ditangan Bapak Julianus Hutabarat perusahaan ini semakin berkembang dimana beliau menambah bangunan baru, memperbarui mesin dengan semi otomatis dan penambahan jumlah karyawan.

Hingga saat ini perusahaan dikelola oleh keturunan Bapak Julianus Hutabarat dan merupakan pengelola perusahaan generasi kedua dimana usia perusahaan keluarga ini sudah mencapai 47 tahun.

Sebelum tahun 90an minuman yang diproduksi oleh PT.Pabrik Es Siantar ada 8 jenis rasa yaitu ananas, grape soda, soda water, ice cream soda, sarsaparilla, coffee bear, orange pop, dan raspberry. Namun yang bertahan hingga kini hanya ada dua rasa minuman yaitu sarsaparilla dan soda water. Hal tersebut disebabkan oleh adanya isu-isu kesehatan bahwa 6 rasa lainnya ini kurang bermanfaat bagi

kesehatan tubuh. Sementara dua rasa lainnya seperti soda water dan sarsaparilla dianggap oleh masyarakat bukan hanya sebagai minuman ringan biasa saja namun juga dapat mengurangi demam. Itu adalah salah satu alasan kedua jenis rasa minuman ini masih banyak disukai dan dikonsumsi oleh masyarakat juga penjualannya tetap eksis. Selain itu pada era 90-an persaingan dengan coca-cola dan sosro mengakibatkan produk cap badak termakan persaingan pasar.

Perusahaan ini merupakan perusahaan skala menengah dimana perusahaan memiliki 49 jumlah karyawan tetap dan sebanyak 23 buruh harian lepas . Perusahaan ini juga memiliki sebuah organisasi yaitu SBSI yang merupakan sarana bagi buruh yang bekerja untuk melindungi dan menjamin hak yang diberikan kepada buruh secara normatif. Letak pabrik ini juga berada di depan sungai bahbolon yang merupakan sungai yang dibendung sebagai SDA untuk pembangkit listrik tenaga air bagi aktivitas produksi pembuatan Es batangan dan minuman cap badak.

Perusahaan PT.Pabrik Es Siantar merupakan perusahaan keluarga dimana pemilik perusahaan ikut pula dalam mengelola perusahaan. Pemilik perusahaan dalam mengelola perusahaan berada pada posisi teratas yaitu sebagai direktur.

Beliau adalah Bapak Immanuel Basar Hutabarat yang merupakan keturunan dari Bapak Julianus Hutabarat. Jadi menurut terminologi bisnis jenis dari perusahaan ini adalah FBE (Family Bussiness Entreprise). Pemilik sekaligus ikut sebagai pengelola perusahaan. Namun perusahaan ini bukan lah menggunakan managemen keluarga akan tetapi menggunakan managemen modern dimana keluarga pemilik perusahaan mempercayakan profesional dari luar untuk diangkat

sebagai seorang manager di perusahaan . Jadi fungsi pemilik bukanlah dirangkap sekaligus dengan fungsi manager seperti managemen tradisional, akan tetapi direktur yang adalah pemilik perusahaan membedakan tugasnya dengan manager pada perusahaan. Untuk pengelola perusahaan PT.Pabrik Es Siantar, untuk saat ini hanya dipegang di posisi kunci atau posisi paling atas dari struktur organisasi perusahaan yaitu hanya posisi direktur saja. Artinya untuk posisi lain keluarga perusahaan tidak melibatkan keluarga seperti misalnya sebagai kepala bagian divisi atau bagian lainnya yang terkadang digunakan oleh perusahaan keluarga lainnya untuk melatih kecakapan calon penerus perusahaan.

4.2. Kondisi dan Keadaan serta Gambaran Umum Perusahaan PT.Pabrik Es Siantar

PT. Pabrik Es Siantar merupakan perusahaan skala menengah, dimana jumlah karyawan tetapnya sebanyak 49 orang dan jumlah buruh harian lepas sebanyak 23 orang, sementara untuk karyawan bagian pemasaran adalah sebanyak 15 orang. PT.Pabrik Es Siantar mengelola produk minuman ringan bekerja sama dengan PT. Jasa Harapan Barat. PT. Jasa Harapan Barat ini bertugas sebagai bagian marketing dari PT. Pabrik Es Siantar. Sementara PT. Pabrik Es Siantar bertugas memanagemen produksi. PT. Jasa Harapan Barat dan PT.Pabrik Es Siantar berada dalam satu atap dan kepemilikan yang sama. PT. Jasa Harapan Barat merupakan anakan dari PT.Pabrik Es Siantar. Kedua perusahaan ini meskipun berada dalam satu atap namun memiliki pimpinan yang berbeda.

Pimpinan PT. Pabrik Es Siantar berwenang mengelola produksi, sementara PT.

Jasa Harapan Barat berwenang memanagemen pemasaran. Perusahaan PT. Pabrik Es Siantar menargetkan produksi minuman itu sebanyak seribu krat setiap harinya, dan untuk memasarkan ini dilakukan oleh karyawan PT. Jasa Harapan Barat.

PT. Pabrik Es Siantar sudah berdiri selama seratus tahun, jadi usia minuman cap badak yang diproduksi tersebut sudah berusia seratus tahun. Pada tahun 1916 awal perusahaan ini berdiri dan tahun 1969 perusahaan ini menjadi milik Bapak Julianus Hutabarat dimana pemilik perusahaan ini sebelumnya adalah Bapak Heinrich Surbeck. Saat ini PT. Pabrik Es Siantar dimiliki oleh generasi kedua Hutabarat. Pemilik perusahaan ini ada 9 orang yang merupakan

anak dari Bapak Julianus Hutabarat. Anak-anak dari Bapak Julianus Hutabarat menginvestasikan sahamnya pada perusahaan dan saham yang ditanamkan merupakan saham keluarga mereka seutuhnya yang adalah saudara sekandung.

Selama di tangan keluarga Hutabarat, perusahaan ini dikelola selama 47 tahun. Produk minuman badak yang tersisa kini adalah 2 rasa yaitu sarsaparilla dan soda water. Namun untuk penjualannya, sarsaparilla cenderung memiliki pasar yang bagus dibanding soda water dan es batangan yang juga di produksi perusahaan ini. Oleh karena itu mereka cenderung lebih mengutamakan produksi sarsaparilla.

Selama ditangan Bapak Julianus Hutabarat perusahaan mengalami perkembangan, namun pada tahun 90-an ditambah krisis moneter yang melanda, perusahaan ini mengalami kejatuhan, namun dapat bangkit kembali. Hingga saat ini memang perusahaan tidak menunjukkan peningkatan enjualan yang begitu berarti, perusahaan ini juga tidak menunjukkan produk berupa kreatifitas dan

Selama ditangan Bapak Julianus Hutabarat perusahaan mengalami perkembangan, namun pada tahun 90-an ditambah krisis moneter yang melanda, perusahaan ini mengalami kejatuhan, namun dapat bangkit kembali. Hingga saat ini memang perusahaan tidak menunjukkan peningkatan enjualan yang begitu berarti, perusahaan ini juga tidak menunjukkan produk berupa kreatifitas dan