BAB II LANDASAN TEORITIS
4. Nilai-nilai Konseling Keluarga
a. Degradasi Nilai-Nilai
1) Nilai-nilai Agama
Degradasi nilai –nilai agama akhir-akhir ini sangat terasa dan kentara. Semua agama merasakan bahwa kebanyakan umatnya kurang setia terhadap agama yang dianutnya. Dengan kata lain, banyak umat saat ini kurang taat beribadah sebagaimana diperintahkan oleh agamanya. Hal ini juga terasa
21 Sri Lestari, Psikologi Keluarga Penanaman Nilai dan Penanganan Konflik dalam Keluarga,... hlm. 22
pada kehidupan keluarga. Khusus bagi umat Islam, banyak keluarga muslim yang tidak melaksanakan ajaran agamanya seperti shalat lima waktu. Suatu pemandangan yang umum di kota-kota pada saat hari Jum‟at. Seharusnya kaum laki-laki wajib melaksanakan shalat Jum‟at pada hari itu. Akan tetapi sayang, pada saat panggilan shalat dikumandangkan (azan), masih banyak orang laki-laki berkeliaran di jalanan baik berkendaraan maupun pejalan kaki.
Di keluarga demikian pula. Jarang anak-anak bahkan yang sudah SMA melaksanakan shalat. Mereka lebih banyak menonton TV atau bermain games. Orangtua pun tidak memberikan contoh atau teladan bagia anak-anaknya. Di samping itu, ada pula orangtua yang aktif beragama, namun sulit mengajak anak-anaknya untuk beribadah. Pengaruh lingkungan yang serba materi dan glamor, telah menyebabkan keluarga-keluarga muslim menghadapi kendala untuk beribadah sesuai tuntutan agamanya. Karena anggota keluarga imannya minim, ketika menghadapi masalah hidup yang sulit, sering mereka terganggu kejiwaannya seperti cepat marah, bertengkar bahkan ada pula yang mengamuk. Ada gangguan jiwa karena kesulitan ekonomi sampai ada seorang ayah beranak lima teganya bunuh diri, sebab tak sanggup menghidupi keluarganya. Di kalangan remaja pun demikian pula. Ada yang bunuh diri karena diputus pacarnya. Jika
manusia tebal keimanannya, lalu menghadapi masalah yang hebat, maka imannya menjadi tameng untuk berbuat negatif terhadap diri dan orang lain. Begitu seseorang misalnya si A mengalami kesulitan hidup, dia akan berusaha sekuat tenaga untuk mengatasinya. Karena demikianlah ajaran Islam, bahwa orang harus berusaha mengubah nasibnya dengan segala daya upaya yang halal. Jika tidak berhasil, dia coba lagi. Akhirnya A menyerahkan urusannya kepada Allah disamping terus berusaha. Si A tidak berhenti berdo‟a setelah shalat. Karena demikian ajaran Tuhannya. Allah memerintahkan “ ud’uuni astajib lakum” artinya berdo’alah kepada-Ku pasti Aku kabulkan.
Masyarakat Islam saat ini makin parah dalam keimanan dan ibadah. Hal ini mengarah kepada statistik umum jumlah umat Islam. Ada yang mengatakan bahwa jumlah umat Islam 90% dari jumlah penduduk Indonesia. Akan tetapi berapakah jumlahnya yang setia dan taat dengan ajaran Islam terutama ibadah shalat? Sedikit sekali, mungkin sekitar 25% saja.
Sisanya sebagian besar lebih mengutamakan urusan hidup di dunia, bahkan banyak yang menjadikan hidup di dunia sebagai tujuannya. Untuk mencapai tujuan itu, segala daya upaya dilakukan, yang penting bisa memenuhi kehidupan dunia seperti harta, uang, makanan, dan sebagainya. Di dalam ajaran Islam harta dan umumnya kehidupan dunia adalah wahana atau
alat untuk mencari keridhaan Allah SWT dalam rangka mencapai kehidupan yang kekal kelak yaitu kehidupan di akhirat.
Kehidupan keluarga yang mengutamakan pencapaian harta dunia, tampak sibuk. Ibu dan bapak bekerja keduanya.
Urusan anak sehari penuh diserahkan kepada pembantu rumah tangga (PRT) yang nota bene rendah pendidikan dan agamanya. Akibatnya anak-anak yang diasuh oleh pembantu (PRT) selama bertahun-tahun sering mengalami kemunduran di bidang akhlak. Bahkan tidak tertutup kemungkinan anak-anak itu mengalami keterbelakangan mental dan kelainan perilaku.
2) Degradasi Nilai Adat Istiadat
Di samping menurunnya (degradasi) nilai-nilai agama, ada pula degradasi nilai-nilai adat istiadat yang sering disebut tata susila atau kesopanan. Hal ini terlihat pada perilaku anak dan remaja akhir-akhir ini. Mereka berlaku tidak sopan terhadap orangtua, guru, dan orangtua lainnya. Di sekolah hal ini juga terasa. Kebanyakan murid sekolah jarang meminta maaf jika lewat di depan guru. Padahal setiap masyarakat di setiap etnis di Indonesia oleh nenek-nenek zaman dulu selalu
diajarkan berlaku sopan jika berhadapan atau lewat di depan orangtua. Diajarkan lewat di depan orangtua agar membungkukkan badan, tangan kanan ke bawah, sambil mengucapkan “maaf pak/buk”.
Saat ini semua berubah secara drastis. Yaitu lenyapnya nilai-nilai adat istiadat dan kesopanan tersebut. Apa sesungguhnya sumber penyebab dari menghilangnya nilai-nilai kesopanan tersebut? Banyak sumber penyebab yang dapat disebutkan. Pertama, menghilangnya kurikulum pendidikan kesopanan di sekolah. Atau dengan bahasa umum dapat dikatakan bahwa di setiap sekolah tidak berminat untuk menjadikan adat kesopanan atau adat tata susila sebagai mata pelajaran muatan lokal. Kedua, kurangnya teladan dari guru dan orangtua pada umumnya dalam hal adat kesopanan.
Misalnya, merokok. Banyak guru dan orangtua melakukannya di depan anak dan remaja. Dampaknya adalah anak dan remaja ikut menjadi pecandu rokok. Dan haruslah anda ketahui bahwa merokok adalah jembatan menuju kecanduan narkoba. Sudah anda ketahui semuanya bahwa 100% pecandu narkoba adalah anak muda.
Kehancuran hidup anak dan remaja terlibat narkoba amat memprihatinkan. Yaitu putus sekolah atau kuliah, kerusakan otak, dan yang parah lagi mereka menderita penyakit hepatitis C dan bahkan penyakit aids yang mengerikan itu. Dengan kata
lain, penderita akibat kecanduan narkoba telah menghancurkan kehidupan mereka. Kalau dapat saya lukiskan secara skematis proses kehancuran akibat narkoba, sebaiknya hindari merokok.
Teladan negatif (merokok)-kecanduan rokok-kecanduan narkoba-penderita kerusakan otak, hepatitis C, aids-kematian.
Dari sekitar 5 juta orang pecandu narkoba di Indonesia, sebagian besar adalah pemuda dan remaja. Mereka kehilangan masa depan, dan bangsa Indonesia kehilangan potensi generasi muda. Akibat narkoba yang berkepanjangan dan terus meluas di kalangan generasi muda, bangsa ini bisa terjadi lost generation atau kehilangan generasi muda, bangsa ini bisa terjadi lost generation atau kahilangan generasi penerus bangsa.
Ketiga, melemahnya ekonomi sebagian besar rakyat sebagai akibat kesulitan ekonomi negara dan meluasnya korupsi. Sehingga negara tidak mampu membuka lapangan kerja khususnya untuk generasi muda di kota dan di pedesaan.
Banyaknya pengangguran generasi muda, berdampak negatif terhadap keamanan dan ketentraman hidup di masyarakat.
Banyak terjadi pencurian, pencopetan, dan bahkan perampokan di masyarakat.
Jadi bagaimana menciptakan masyarakat yang sopan, damai, dan sejahtera jika keadaan masyarakat amat kekurangan
ekonomi bahkan banyak yang jatuh miskin. Tujuan utama mereka adalah “mengisi perut” karena menurut pepatah orang hebat “stomach can not wait”, perut tidak bisa menunggu.
Apalagi kenaikan harga bahan bakar minyak telah menyulut melambungnya harga bahan-bahan kebutuhan pokok seperti beras, minyak goreng, ikan asin, dan sebagainya. Dampaknya adalah kemiskinan. Para peminta-peminta dan pengamen menjamur di kota-kota. Apa artinya? Yaitu telah terjadi secara besar-besaran pindahnya penduduk dari kantong-kantong kemiskinan di desa-desa ke kota-kota (urbanisasi). Sehingga wajah kota telah berubah menjadi semrawut. Banyak pedagang kaki lima, pengamen dan peminta-minta. Para peminta-minta dan pengamen menggelandang di kota-kota. Di pihak lain pemerintah kota (Pemkot) membuat program pembersihan kota dari manusia gelandangan dan sampah serta jongko-jongko kaki lima. Akibatnya, terjadilah penggusuran bangunan liar dan gelandangan. Penggusuran besifat kurang manusiawi, karena dilakukan dengan kekerasan sehingga merugikan harta benda PKL dan penganiayaan terhadap gelandangan dengan cara mendorong dan bahkan memukulnya. Akan tetapi Pemkot ingin mendapatkan hadiah nasional menjadi kota terbersih di nusantara. Segala upaya dana dan tenaga dicurahkan terhadap pencapaian tujuan tersebut. Kapan selesainya, gelandangan
makin banyak, sedangkan pihak Pemkot ingin memperoleh piala kebersihan tingkat nasional.
Dampak negatif kelemahan ekonomi adalah banyak keluarga yang tidak lagi melanjutkan pendidikan anak-anaknya ke SLTP. Akibatnya makin banyak anggota masyarakat yang berpendidikan rendah. Hal ini melemahkan daya saing di tingkat dunia. Bangsa kita masih dipandang sebelah mata dalam segala hal, karena rendahnya pendidikan anak-anak bangsa.
3) Degradasi Nilai-nilai Sosial
Telah umum diketahui bahwa sikap individualistik telah berkembang di masyarakat. Artinya, banyak anggota masyarakat yang hanya mementingkan dirinya sendiri, dan enggan berbagi terhadap orang yang tidak berpunya. Beberapa ciri sikap individualistik yang berkembang di masyarakat, dapat dilukiskan sebagai berikut:
a) Mementingkan diri sendiri dalam segala hal
b) Enggan berbagi harta, pikiran, saran, dan pendapat
c) Tidak mau bergaul terutama dengan orang yang rendahan
d) Memutuskan tali silaturrahim dengan keluarga.
Saat ini sikap indivialistik sudah menyebar di masyarakat. Tidak ada lagi semangat gotong royong. Yang ada kehidupan keras saling jegal. Lihatkah pemilihan kepala daerah (pilkada) di berbagai daerah. Bila seorang calon kalah, maka segala cara dilakukan. Demonstrasi yang keras dengan membakar, merusak dan sebagainya. Segala intrik dan fitnah dilakukan agar calon yang menang tidak jadi kepala daerah misalnya ditunda pelantikan, atau dibatalkan dengan secara licik.
Sikap individualistik dengan mementingkan diri sendiri juga terjadi di keluarga. Mulai dari sikap orangtua terhadap anak dan juga sikap anak terhadap orangtua. Sikap orangtua bersumber dari kesibukan sehingga tidak sempat memberikan kasih sayang dan perhatian. Apalagi jika kedua orangtua bekerja jauh dari rumah. Ayah di Singapura, dan ibu di Jakarta.
Anak-anak bersama pembantu tinggal di Bandung. Jika anaknya sudah dewasa maka timbul sikap egois pula. Mereka jarang tinggal di rumah, main dengan kawan-kawannya di tempat disko, dan tempat hiburan lainnya. Penyebabnya di samping tidak ada orangtua di rumah, remaja itu cukup banyak uang, kartu kredit berapa gesek berapa saja mau. Akibatnya remaja tersebut terjun ke dunia hitam dengan bermain seks, ganja, alkohol, dan sebagainya. Lebih jauh lagi remaja itu terjun ke dunia narkoba, akhirnya tertular penyakit aids karena
sering bergantian memakai jarum suntik. Setelah orangtua sadar akan sikapnya, dan ingin memperbaiki hubungan dengan remajanya, sudah terlambat. Sekarang tinggal mengobati penyakit anaknya karena menderita akibat narkoba.
Pertanyaan yang penting adalah apakah gejala mementingkan diri sendiri di masyarakat bersumber dari pendidikan keluarga? Jawabannya Ya. Semua anggota masyarakat berasal dari keluarga. Aspek penting untuk membina keluarga adalah agama dan pendidikan. Jika dua hal ini tidak berfungsi, maka dipastikan anak-anak akan menjadi anggota masyarakat yang tidak diinginkan. Dia anak nakal, jahat, dan tidak bermoral dan berperikemanusiaan. Kejam, sadis, dan sebagainya sudah kita lihat di masyarakat misalnya teganya memutilasi mayat orang yang dibunuhnya menjadi 9 sampai 10 bagian kecil-kecil. Karena itu rumah tangga dengan pimpinan orangtua harus mendidik anak-anak dengan agama dan pendidikan kemanusiaan, kesopanan, tanggung jawab, dan rasa belas kasihan kepada orang lain. Jangankan membunuh, menyakiti hati orang lain saja anak tidak tega.
Di samping keluarga, lembaga pendidikan menjadi sumber pembentukan sikap dan nilai-nilai sosial, adalah hal yang seharusnya demikian. Karena di mana anak didik yang lama mendapatkan interaksi pendidikan selain rumah.
Jawabannya di sekolah. Di tempat ini peran guru amat penting
untuk mencapai tujuan tersebut. Karena guru adalah “orang tua” kedua bagi anak didik. Apabila guru tidak berperan membentuk pribadi murid, maka dapat dipastikan tujuan pendidikan tidak tercapai. Sebab paling sedikit ada empat peran pembentukan sekolah terhadap anak didik; pertama, pembentukan pribadi yang mandiri, sosial dan moral religius.
Kedua, pembentukan akal dan intelegensi melalui teori dan latihan-latihan, misalnya mengasah kualitas kemampuan berpikir matematis, logis, sistematis, dan teknologis. Ketiga, pembentukan emosi dan karakter jiwa yang sabar, ikhlas, berani bertanggungjawab, serta berakhlak mulia, dan cinta damai. Sifat-sifat ini amat penting terutama menghadapi perubahan zaman yang serba drastis tanpa adanya toleransi.
Lihatlah demonstrasi-demonstrasi yang terjadi di masyarakat penuh dengan emosi tak terkendali, kemarahan yang merajalela, abik dari pihak pendemo, maupun pihak petugas keamanan. Keempat, pembentukan keterampilan seperti teknis, bahasa, manajemen, dan sebagainya. Sekolah adalah lembaga yang tepat untuk membentuk keterampilan-keterampilan, misalnya melalui kegiatan ekstrakurikuler pelajaran agama, seperti shalat, membaca Al-Qur‟an, akhlak, dan sebagainya.
Tujuannya adalah agar pelajaran agama jangan hanya sekedar teori berlaka. Hal ini tidak akan berkesan. Akibatnya pendidikan agama di sekolah tidak mampu membentengi
moral anak didik. Lihatlah tawuran anak sekolah, serta kejahatan lainnya yang mereka lakukan di sekolah maupun di masyarakat. Bahkan sudah tidak asing lagi jika banyak siswa yang minum alkohol dan menghisap ganja.
Masyarakat juga berperan dalam membentuk sikap sosial dan moral para siswa. Banyaknya pornografi yang disebar di film dan video telah mempengaruhi jiwa anak didik. Mereka menggunakan handphone (HP) sebagai alat berbuat kecabulan dengan cara memfoto hubungan seks yang mereka lakukan.
Lalu menyebarkannya kepada kawan-kawannya satu sekolah, akhirnya menyebarkan foto gambar porno tersebut ke seluruh kota. Mengapa demikian? Lihatlah masyarakat kita yang tidak segan-segan berbuat cabul di manapun. Warung remang-remang yang bertebaran di pinggir jalan raya antar kota, adalah tempat mangkal wanita tuna susila alias pelacur. Istilah pekerja seks komersial (PSK) yang disebarkan oleh pers, merupakan istilah keliru. Karena dengan demikian seolah-olah pelacur naik derajatnya setara dengan para pekerja lain seperti pekerja pers, pekerja seni, dan sebagainya. Padahal pelacuran bukan profesi, akan tetapi perbuatan laknat yang seharusnya dibasmi oleh masyarakat dan pemerintah. Jadi, salah besar jika pemerintah sebuah kota melokalisasi pelacuran. Menurut data statistik di Saritem Bandung (sebuah lokalisasi pelacuran), lebih dari 60% pengunjung ke tempat itu adalah pelajar.
Hal ini membuktikan bahwa pelacuran terutama yang dilokalisasi, harus dihilangkan di masyarakat. Pemerintah Kota Jakarta telah mengubah lokalisasi pelacuran Kramat Tunggak menjadi Pusat Islam (Islamic Center) yang megah dengan masjidnya yang besar. Demikian pula pemerintah Kota Bandung telah menutup Saritem. Kedua pemerintah kota ini telah menjalankan ajaran agama islam yang melarang orang mendekati zina. Berarti pula pemerintah tersebut telah menutup kemungkinan makin meluasnya krisis moral di kalangan para pelajar.
4) Degradasi Kesakralan Keluarga
Maksud subjudul ini adalah bahwa makin ke sini makin banyak kekisruhan di dalam keluarga. Ada kasus suami membunuh isteri, dan sebaliknya. Karena persoalan sepele misalnya tidak terhidang makanan ketika suami pulang kerja, maka sang suami naik pitam dan langsung memukuli isterinya sampai mati. Dahulu kala jarang terjadi saling bunuh antara suami dan isteri. Masyarakat zaman dulu lebih terbimbing perilakunya oleh adat dan agama. Saat ini masyarakat amat materialistis, egoistis, dan terimbas perilakunya dari kekejaman-kekejaman manusia yang ditayangkan di TV, film, dan video luar negeri. Padahal aslinya bangsa kita adalah bangsa yang ramah, sabar, dan teratur.
Jadi telah terjadi degradasi (penurunan) kemuliaan dan kesakralan institusi keluarga. Kawin cerai dalam kehidupan keluarga terutama selebriti, adalah hal yang amat sering terjadi.
Akhir-akhir ini angka statistik menunjukkan bahwa kasus perceraian makin marak terjadi. Orang-orang yang terlibat amat egoistis, karena tidak memikirkan kesengsaraan anak-anak yang jadi korban perceraian tersebut. Untuk mengembalikan kesakralan keluarga adalah memperkuat basis pendidikan agama di keluarga terutama orangtua atau calon orangtua. Sebelum mereka dinikahkan harus ada upaya dari lembaga pernikahan bekerja sama dengan orangtua si calon mempelai untuk memberi bimbingan agama. Yaitu bagaimana menjalankan keluarga berdasarkan agama serta nanti mendidik anak-anaknya beragama. Sayang lembaga pernikahan kita lemah dalam membuat program bimbingan tersebut. Kurang mempunyai tenaga ahli. Yang ada hanyalah para penghulu yang bertugas atas dasar tugas tertulis dari atasan. Mereka bahkan mempunyai motif bisnis dalam pernikahan tersebut.
Banyaknya dan maraknya kawin cerai dan pergaulan tanpa menikah adalah masalah yang bersumber dari bisnis pernikahan tersebut. Jika kita menonton di TV sering ditayangkan pernikahan massal orang-orang yang telah punya anak, sudah tua-tua, dari keluarga miskin dan gelandangan.
Hasil wawancara wartawan dengan beberapa peserta nikah
massal itu menunjukkan bahwa hambatan untuk menikah resmi adalah mahalnya biaya pernikahan. Lalu mereka memilih “kumpul kebo” sampai mempunyai anak-anak.
Kembali kepada degradasi kesakralan keluarga terlihat dengan nyata pada fakta-fakta berikut ini.
a) Seringnya terjadi perceraian
b) Banyak terjadi perselingkuhan, baik oleh suami maupun oleh isteri
c) Banyak kasus kekejaman dalam keluarga seperti diceritakan di atas
d) Keluarga retak karena perselingkuhan maupun faktor ekonomi.22