• Tidak ada hasil yang ditemukan

Nilai-Nilai Substansi Islam dalam Pengangkatan dan

Dalam dokumen Hukum Tata Negara - Test Repository (Halaman 172-180)

BAB VIII PEMBERHENTIAN KEPALA NEGARA MENURUT

C. Nilai-Nilai Substansi Islam dalam Pengangkatan dan

Sejak lama masyarakat Indonesia terkenal sebagai masyarakat religius, secara historis paling tidak memiliki sistem kepercayaan tersendiri yang mengakaui adanya kekuatan yang lebih besar di luar dirinya sebagai manusia. Animisme dan Dinamisme sebagai sebuah sistem kepercayaan yang original dimiliki oleh orang-orang asli Indonesia sebelum agama-agama itu masuk ke Indonesia men- jadi bukti bukti bahwa jejak manusia beragama atau berkeper- cayaan terhadap sesuatu yang lebih unggul,lebih mulia dan lebih tinggi telah ada jauh sebelum agama masuk.

Islam sebagai agama mayoritas penduduk Indonesia bukan- lah agama pertama yang dianut masyarakat Indonesia. Agama Is- lam berproses dari daerah-daerah pesisir yang menjadi pusat per- dagangan dan pemerintahan menuju keseluruh pelosok Indonesia membutuhkan waktu ratusan tahun. Pada kurun waktu yang ratu- san tahun itu sangat wajar bila hampir seluruh ajaran agama Islam masuk dan menjadi suatu sistem atau bagian yang tak terpisahkan dalam ragam kehidupan masyarakat Indonesia. Maka tidak heran bila dalam naskah Piagam Jakarta yang menjadi cikal bakal Konsti- tusi UUD 1945 sebuah kalimat (7 kata) yang secara formal menga- rah pada pelaksanaan ajaran Islam bagi masyarakat Idonesia yang beragama Islam. Tujuh kata yang dimaksud adalah “Ketuhanan, dengan kewajiban menjalankan syari’at Islam bagi pemeluk-peme- luknya” Piagam Jakarta tersebut tertanggal 22 Juni 1945.

Piagam Jakarta itulah sesungguhnya awal pembukaan UUD 1945. Satu hari setelah kemerdekaan pada sidang PPKI tanggal 18 Agustus 1945, tujuh kata itu berubah menjadi “Ketuhanan Yang Maha Esa”. Salah satu tokoh yang sangat berperan dalam peruba- han itu adalah Mohammad Hatta.

Dari banyak versi cerita tentang perubahan itu dan sidang- sidang dalam BPUPPKI dan PPKI menunjukkan bahwa pergula- tan politik antara nasionalis sekular dan nasionalis religius sudah terjadi.

Penghilangan tujuh kata itu, oleh kelompok Islamis dianggap sebagai kerugian dan kehilangan yang besar dalam sejarah per- juangan umat Islam memerdekakan Indonesia dan menuduh ada para penghianat yang wanprestasi terhadap gentelment agreement yang telah membuat kesepakatan pada sidang-sidang PPKI.

Terkait tentang hilangnya tujuh kata tersebut, M. Roem men- gatakan, “hilangnya tujuh perkataan itu dirasakan oleh Umat Islam sebagai kerugian besar dan tidak jarang menyayangkannya. Tetapi, karena hilangnya tujuh kata itu dimaksudkan agar golongan Prot- estan dan Katolik jangan memisahkan diri dari Republik Indone- sia, maka umat Islam memberi korban yang besar itu. Karena itu, Menteri Agama Jendral Alamsyah Ratu Prawiranegara, menama- kan Pancasila adalah hadiah terbesar yang diberikan umat Islam kepada Republik Indonesia (http://moulizieenoval.blogspot.com).

Rupanya kehilangan yang dikatakan oleh Alamasyah itu se- bagai hadiah terbesar umat Islam untuk Indonesia, ternyata masih menyisakan asa pada sebagian umat Islam untuk mengembalikan tujuh kata yang hilang tersebut. Kelompok ini kemudian bermeta- morfosis menjadi organisasi masa dan invidu yang rindu tegakn- ya syari’at secara formal di Inonesia. Kelompok atau orang yang semacam ini disebut oleh Masdar F Mas’udi (2013: vi) sebagai orang-orang yang mengembangkan mentalitas “luar pagar” yang memandang konstitusi UUD 1945 semata-mata sebagai produk sekuler yang tercerabut dari nilai-nilai keagamaan. Disisi lain ada pula dari kalangan umat Islam juga yang berupaya “menghibur” seperti Alamsyah demi persatuan dan kesatuan Indonesia. Bahkan

ada diantara mereka yang menulis satu buku khusus tentang syarah (penjelasan) UUD 1945 dalam perspektif Islam.

Berkait dengan kajian ini, penulis sekadar ingin menunjukkan apakah nilai-nilai substantif ajaran Islam telah menjiwai konstitusi dan peraturan perundangan lainnya yang berkaitan dengan pen- gakatan dan pemberhentian kepala negara di Indonesia.

Sebagaimana disampaikan pada awal bab ini, dalam UUD 1945 sebelum amandemen, aturan yang berkenaan dengan pen- gangkatan presiden hanya terdapat dalam pasal 6. Ketentuan itu hanya menyebutkan bahwa presiden di pilih oleh Majelis Per- musyawaratn Rakyat. Terlepas dari sejarah pemilihan presiden yang pernah terjadi sebelum UUD 1945 itu diamandemen, model pemilihan perwakilan sebagaimana yang termaktub dalam konsti- tusi sejalan dengan sejarah yang pernah terjadi dalam sistem keta- tanegaraan negara Madinah (Islam). Lebih khusus adalah peristiwa terpilihnya Utsman bin Affan dalam lembaga yang disebut ahlul halli wal aqdi.

Berkenaan dengan persyaratan bagi calon presiden tertuang dalam TAP MPRS RI No. II/MPR/1973. Persoalan lokalitas Indo- nesia jelas berbeda dengan pendapat para yuris Muslim yang telah merinci syarat-syarat seorang kepala negara Islam. Secara seder- hana, aturan pengangkatan dan mekanisme pengangkatan pres- iden di Indonesia sebelum amandemen UUD 1945 sejalan dengan nilai-nilai Islam. Begitu pula dengan pengangkatan presiden pasca amandemen beserta peraturan yang mengikutinya. Bahkan pasca amandemen justru nilai-nilai itu semakin dekat termasuk sangat dekat dengan pendapat-pendapat para yuris muslim di bidang ket- atanegaraan Islam.

Pemberhentian, pemakzulan atau impeachment presiden dalam sistem ketatanegaraan Islam tidak jelas, maka aturan yang

bersifat local wisdom asal tidak bertentangan secara diametral den- gan nilai-nilai universal Islam dan humanisme dalam pemakzulan presiden di Indonesia dapat dikatan sesuai dengan nilai-nilai keis- laman.

DAFTAR PUSTAKA

A. Mukti Fadjar, Tipe Negara Hukum, Bayu Media, Malang, 2005 Abdurrahman, Ilmu Hukum, Teori Hukum dan Ilmu Perundang-

undangan, Citra Aditya Bakti, Bandung, 1995

Aidul Fitriciada Azhari, “Revolutiegroundwet and Amandement of the 1945 Constitution: From Decolonisasi to Democratiza- tion”, Indonesian Legal Journal, vo. VII, 2007.

____________________, bahan kuliah mata kuliah hukum kons- titusi Pasca Sarjana Program Ilmu Hukum Universitas Muhammadiyah Surakarta, 2007.

Bintan R. Saragih, Majlis Permusyawaratan Rakyat, Gaya Media Pratama, Jakarta, 1992

Chainur Arrasjid, Dasar-Dasar Ilmu Hukum, Sinar Grafika, Jakarta 2004

C.S.T. Kansil, Pengantar Ilmu Hukum, Balai Pustaka, Jakarta, 2002. E. Utrecht / Moh. Saleh Djindang, Pengantar Dalam Hukum Indo-

nesia, Ichtiar Baru, Jakarta, 1989

Endang Saifuddin Anshari, Piagam Jakarta 22 Juni 1945 Sebuah Konsensus Nasional tantang Dasar Negara Republik Indone- sia (1945-1949), Jakarta, Gema Insani Pers, Jakarta, 2001. Hasanuddin AF dkk, Pengantar Ilmu Hukum, al-Husna Baru,

Jakarta, 2004

Jazim Hamidi, Hermeneutika Hukum, UII Press, Yogyakarta, 2005 Jawahir Thontowi, Islam, Politik dan Hukum, Madyan Press, Yog-

Joeniarto, Sejarah Ketatanegaraan Republik Indonesia, Bumi Aksara, Jakarta, 1990.

_______, Selayang Pandang Tentang Sumber-Sumber Hukum Tatanegara di Indonesia, Liberty, Yogyakarta, 1974

J.H. Rapar, Filsafat Politik Plato, Aristoteles, Augustinus, Machiavel- li, Raja Grafindo Persada, Jakarta, 2001

L.J.van Apeldoorn, Pengantar Ilmu Hukum, Noor Komala, Jakarta, 1960

Moh. Mahfud MD, Pergulatan Politik dan Hukum di Indonesia, Gama Media, Yogyakarta, 1999

Moh. Kusnardi dan Harmaily Ibrahim, Pengantar Hukum Tata Negara Indonesia, Pusat Studi Hukum Tata Negara Fak. Hu- kum UI, Jakarta, 1978.

Marwan Mas, Pengantar Ilmu Hukum, Ghalia Indonesia, Jakarta, 2004.

Musa Asy’arie, Filsafat Islam Sunnah Nabi dalam Berpikir, LESFI, Yogyakarta, 1999.

Rabiatul Syahriyah, “Sejarah Hukum Mengungkapkan Fakta Hukum Masa Lampau Dalam Hubungannya Dengan Fakta Hukum Masa Kini”, Makalah pada Digital Library, 2004 Roihan A. Rasyid, Hukum Acara Peradilan Agama, Rajawali Press,

Jakarta, 2000

R. Soeroso, Pengantar Ilmu Hukum, Sinar Grafika, Jakarta, 2002 Satjipto Rahardjo, Ilmu Hukum, Citra Aditya Bakti, Bandung, 2000. Sodjono Didjosisworo, Pengantar Ilmu Hukum, Rajawali Press,

Jakarta, 1991

Soehino, Hukum Tata Negara Sistem Pemerintahan Negara, Liberty, Yogyakarta, 1993

Sri Soemantri, Sistem-Sistem Pemerintahan Negara-Negara ASEAN, Tarsito, Bandung, 1976

Theo Huijbers, Filsafat Hukum, Kanisius, Yogyakarta, 1995

Yefrizawati, “Ilmu Hukum: Suatu Kajian Ontologis” makalah pada e-USU Resipatory, 2005

Zainuddin Ali, Filsafat Hukum, Sinar Grafika, Jakarta 2006.

http//:www.acehinstitute.org http//:sudiknokuliah.blogspot.com http//:www.ummahonline.com http//:www. wikipedia.org http://www.kesimpulan.co.cc http//:www.ruchcitra.blogspot.com http://www.blogcatalog.com

http://islamlib.com/ diakses tanggal 21 Februari 2015 http://www.katailmu.com. diakses tanggal 27 Februari 2015 http:www.artikelsiana.com

Catatan: ...

...

...

...

...

...

...

...

...

...

...

...

...

...

...

...

...

...

...

...

...

...

...

...

...

...

...

Catatan: ...

...

...

...

...

...

...

...

...

...

...

...

...

...

...

...

...

...

...

...

...

...

...

...

...

...

...

Dalam dokumen Hukum Tata Negara - Test Repository (Halaman 172-180)