• Tidak ada hasil yang ditemukan

Tema, Alur, Penohkohan, Pusat Pengisahan, Latar dan Gaya

HASIL PENELITAIN DAN PEMBAHASAN

A. Hasil Penelitian

2. Nilai Pendidikan Novel Bekisar Merah

Kehidupan masyarakat Karangsoga masih menjunjung tinggi kebersamaan dan tolong menolong. Kehidupan kaum masyarakat kecil yang selalu bahu membahu dalam keadaan sulit. Kehidupan ini bisa dilihat ketika Darsa jatuh dari pohon kelapa dan masyarakat ikut andil memberikan pertolongan pertama. Kutipan yang menunjukkan pendidikan sosial sebagai berikut.” Orang-orang perempuan mengurus Darsa dan Lasi. Celana pendek Darsa yang basah dilepas dengan hati-hati. Ada yang memaksa Darsa menenggak telur ayam mentah. Mereka lega setelah menemukan tubuh Darsa nyaris tanpa cedera kecuali beberapa luka goresan pada tangan dan punggung”(Tohari, 2005: 21).

Nilai pendidikan sosial ditunjukkan dari kutipan di atas. Orang-orang yang mengurus Darsa merupakan salah satu sikap positif dari perihal sosial yang ditunjukkan masyarakat Karangsoga sebagai bentuk

44

kepedulian sosial. Nilai pendidikan sosial itu ditegaskan memelalui salah satu tokoh yang menolong langsung saat kejadian Darsa jatuh dari pohon kelapa. Kutipan yang menunjukkan sebagai berikut.

Wiryaji terus mengangguk-angguk untuk memberikan tekanan pada nasihatnya. ”untunglah kamu yang ada di dekatnya waktu itu. Bila orang lain yang ada di sana, mungkin ia berteriak-teriak dan mengambil langkah yang keliru. Mukri, terima kasih atas pertolonganmu yang jitu.” (Tohari, 2005: 22).

Selain itu, pendidikan budaya pada novel Bekisar Merah ini ditunjukkan melalui nasihat-nasihat yang berupa bahasa Jawa. Memiliki makna mendalam tentang hakikat kehidupan dan tanggung jawab terhadap kehidupan tersebut. Menuangkan bagaimana sikap seorang manusia yang hidup dengan kebudayaan orang Jawa. Kutipan yang menyatakan nilai-nilai pendidikan budaya sebagai berikut.

”Andai aku jadi kamu aku akan mengambil sikap nrima salah, bersikap taat atas asas sebagai orang yang bersalah. Inilah cara yang paling baik untuk mengurangi beban jiwa dan mempermudah penemuan jalan keluar...(Tohari, 2005: 116).

Kutipan di atas merupakan nilai pendidikan budaya Jawa karena saat Eyang Mus menasehati Darsa, menggunakan istilah Jawa yaitu ”Nrimo salah”.

Nilai pendidikan di atas menjelaskan bahwa, dalam kehidupan hendaknya bersikap mau menerima kesalahan. Dengan rasa ikhlas menerima kenyataan maka hati akan tenang sehingga dapat menemukan jalan keluar.

”Ya. Kamu tak mungkin menghindar dari keputusan para pamong desa dan itu juga wohing pakarti, buah perbuatan yang harus kamu petik. Lagi pula, suweng ireng digadekna, wis kadung meteng dikapakno. Kamu tahu? (Ahmad Tohari, 2005:117).

Nilai pendidikan budaya juga ditunjukkan melalui kutipan kalimat jawa ”wohing pakarti” di atas. Melalui tokoh Eyang Mus, ingin disampaikan nilai pendidikan bahwa dalam bersikap hendaknya hati-hati dan

45

berpikir terlebih dahulu, karena segala perbuatan pasti akan ada akibat dibelakangnya. Apa yang kita kerjakan maka hasil akan diraih setelahnya.

“Las, mereka tahu apa dan siapa kamu sebenarnya. Tetapi aku tak tahu mengapa mereka lebih suka cerita palsu, barangkali untuk menyakiti aku dan kamu. Sudahlah, Las, biarkan mereka. Kita sebaiknya nrima saja. Kata orang, nrima ngalah luhur wekasane, orang yang mengalah akan dihormati pada akhirnya” (Tohari, 2005: 40).

Melalui tokoh Mbok Wiryaji juga dituangkan nilai-nilai pendidikan budaya Jawa. Kembali ditegaskan makna kata nrimo yang ternyata membuahkan hasil bahwa dengan menerima keadaan pada akhirnya hidupnya akan dihormati.

”Mbakyu lupa kita orang Jawa? Di istana sudah ada Naoko Nemoto. Nah bila aku juga membawa gadis jepang seperti Haruko, itu namanya ngembari srengenge, mengembari matahari. Kita orang Jawa pantang melakukan sesuatu yang merupakan prestise pribadi Pemimpin Besar. Mau kualat apa?” (Tohari, 2005: 161).

Selain hal di atas, agama dan pandangan hidup kebanyakan orang menekankan kepada ketentraman batin, keselarasan dan keseimbangan serta sikap menerima terhadap apa yang terjadi. Pandangan hidup yang demikian jelas memperhatikan bahwa apa yang dicari adalah kebahagiaan jiwa, sebab agama adalah pakaian hati, batin atau jiwa.

Mangunwijaya (1982: 11) dalam bukunya Sastra dan Religiositas mengatakan bahwa agama lebih menunjuk kepada kelembagaan kebaktian kepada Tuhan atau kepada “Dunia Atas” dalam aspeknya yang resmi, yuridis, peraturan-peraturan dan hukum-hukumnya, serta keseluruhan organisasi tafsir alkitab dan sebagainya yang melingkupi segi-segi kemasyarakatan.

Religiositas lebih melihat aspek yang ”didalam lubuk hati”, riak getaran hati nurani pribadi; sikap personal yang sedikit banyak misteri bagi orang lain, karena menapaskan intimitas jiwa “du coeur” dalam arti Pascal, yakni cita rasa

46

yang mencakup totalitas (termasuk rasio dan rasa manusiawi) kedalaman si pribadi manusia.

Nilai religius dapat dikatakan nilai dasar kemanusiaan yang berkaitan dengan ketuhanan secara umum dan diakui oleh semua pemeluk agama. Dicontohkan lagu “Tuhan” karya Bimbo, semua pemeluk agama mengatakan bahwa lagu itu mempunyai nilai religius. Dan Mangunwijaya mengatakan bahwa karya sastra yang baik itu religius.

Novel Bekisar Merah dan Wasripin dan Satinah memiliki nilai-nilai pendidikan agama yang kuat. Setiap perilaku tokoh terutama tokoh Eyang Mus dan Paman Satinah menuangkan nilai pendidikan agama. Nilai pendidikan agama yang dituangkan lebihmenuju kepada ketentraman batin tokoh. Sikap dan perilaku yang dituangkan beberapa tokoh dalam ke dua novel ini jika dipandang dari pandangan peneliti lebih mengacu pada kitab Al Quran.

Setiap agama memiliki pandangan dan pedoman sesuai dengan agama masing-masing.

Dalam novel Bekisar Merah tokoh yang banyak menuangkan nilai-nilai pendidikan agama adalah tokoh Eyang Mus yaitu penjaga surau sekaligus imam surau. Orang paling dihormati oleh penduduk Karangsoga. Mereka selalu banyak meminta nasihat. Salah satunya ketika Mbok Wiryaji mendapat nasihat oleh Eyang Mus bahwa Tuhan itu tidak tidur dan janganlah berputus asa dalam menghadapi ujian kehidupan. Kutipan yang menunjukkan sebagai berikut.

” Ya. Ikhtiar harus tetap di jalankan. Juga doa. Dulu kamu sendiri bilang, bila hendak memberikan welas-asih, Gusti Allah tidak kurang cara. Tetapi mengapa sekarang kamu jadi berputus asa? Kamu tak lagi percaya bahwa Gusti Allah ora sare, tetap jaga untuk menerima segala doa?” (Tohari, 2005: 60).

47

Nilai pendidikan agama yang menjelaskan bahwa tuhan itu sebenarnya tidak tidur sebagai berikut.

Lasi terus bekerja mengendalikan api. Nira dalam kawah menggelegak seperti mengimbangi semangat yang tiba-tiba mengembang di hati Lasi. Asap mengepul dan bergulung naik ke udara. Bau nira yang mulai memerah tercium lebih harum. Oh, betul Gusti Allah ora sare, bisik Lasi untuk diri sendiri. Akhirnya Kang Darsa sembuh karena welas asihNya. Orang yang senang menyebutku radha magel, janda kepalang tanggung, boleh menutup mulut, emak yang selalu menyebut-nyebut nama Pak Sambeng juga boleh menutup mulut. Lasi mengembuskan napas lega. Air matanya menggenang (Tohari, 2005:

67-68).

Nilai pendidikan agama berupa keikhlasan juga dijelaskan dalam novel Bekisar Merah ini. Nilai pendidikan agama berupa keikhlasan dituangkan ketika keluarga Lasi mengalami ujian hidup. Penduduk Karangsoga menguatkan hati dan menasehati keluarga Lasi yang mendapat musibah.

Kutipan yang menunjukkan nilai pendidikan agama berupa keikhlasan sebagai berikut.

Beberapa tetangga, lelaki dan perempuan, ikut bicara. Mereka bersama-sama berusaha menenangkan mbok Wiryaji. Seseorang mengingatkan Mbok Wiryaji akan keyakinan orang Karangsoga bahwa segala hal sudah ada yang mengatur, ” Manusia mung saderma nglakoni, ”katanya. Lasi meski terkesan seperti petasan siap meledak, tetap diam. Lenggang, meski kaku dan tegang. Eyang Mus yang semula bermaksud memanggil darsa mengurungkan niatnya.

Mempertemukan Darsa dengan Lasi dan Mbok Wiryaji. Ketika suasana masih panas sama dengan mengumpankan kucing ke depan Merah ini nilai pendidikan agama mensyukuri nikmat yang berlandaskan Al Quran Surat Ibrahim ayat 7, ditunjukkan pada kutipan di bawah ini.

Lasi dan Darsa berpandangan. Lasi tersengat dan ada gelombang kejut menyentak jantungnya. Pipinya merona. Namun Lasi segera menundukkan kepala.

48

”Nanti kita bikin selamatan, ya, Kang. Kita syukuran.”

”Ya, bila aku sudah benar-benar pulih asal, kembali seperti sediakala.”

”Ya, Kang.” (Ahmad Tohari, 2005: 67).

Rasa syukur merupakan nilai pendidikan agama. Agama mengajarkan syukur yang benar ditentukan oleh tiga hal yaitu; 1) mengakui nikmat itu secara batin, 2) menyebut-nyebut nikmat tersebut secara lisan, 3) menggunakan nikmat tersebut demi ketaatan terhadap Allah SWT. Dalam novel Bekisar Merah rasa syukur itu digambarkan memalui masyarakat Karangsoga yang memiliki latar sosial seorang penyadap.

Makin dekat lebaran orang KarangSoga makin banyak senyum karena harga gula kelapa terus naik.Pada puncaknya nanti mungkin harga sekilo gula bisa sepadan dengan satu setengah atau bahkan dua kilo beras.

Apabila keadaan ini tercapai,meskipun tidak lima tahun sekali dan mungkin hanya berlangsung beberapa hari,orang Karangsoga merasa beruntung justru karena mereka adalah penyadap nira.Setelah tersedia beberapa kilo beras dan sedikit uang untuk menyambut lebaran,mereka merasa bahwa hidup adalah kenikmatan yang pantas disyukuri. Dalam rasa beruntung seperti ini mereka pergi menyadap,menembus kabut pagi yang dingin dengan hati yang ringan.Mereka berbagi kegembiraan bila saling berpapasan di jalan dengan tertawa atau bersenandung bahkan ketika mereka sedang berada di ketinggian pohon kelapa.Memang,mereka sangat sadar bahwa harga gula yang pantas tidak pernah berlangsung lama.namun kesadaran itu pula yang mengharuskan para penderes Karangsoga menikmati hari-hari yang langka dan sangat berharga itu. Tertawal selagi ada peluang, meski hanya sejenak (Tohari,2005:237).

Kutipan di atas juga menegaskan bahwa mereka orang miskin yang hidup di Karangsoga juga percaya akan adanya Tuhan, sehingga mereka

49

menerima apapun yang diberikan Tuhan dengan rasa syukur. Seperti yang tertuang dalam Al Quran Surat Al-An’am ayat 53 yang artinya; ”Dan demikianlah kami menguji sebagian di antara mereka (orang kaya) dengan sebagian yang lain (orang miskin), supaya (orang kaya berkata), ’orang-orang semacam inikah di antara kita yang diberi karunia oleh Allah?’ bukankah Allah lebih mengetahui orang-orang yang bersyukur (Alquran, Surat Al-An’am, ayat:

53)

Eyang Mus sebagai tokoh yang dituakan di desa Karangsoga merupakan tokoh yang berperan menyampaikan dakwah dan nasehat. Di sini Eyang Mus menjadi nasehat ketika ada kebimbangan ibadah puasa bagi penderas kelapa. Novel ini menyampaikan nilai pendidikan agama karena menuangkan dakwah tentang anjuran berpuasa.

Anjuran berpuasa yang dituangkan dalam nilai pendidikan agama novel Bekisar Merah, sesuai dengan tuntunan dalam Al Quran Surat Al Baqoroh ayat 183 yang artinya:

Hai sekalian orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu berpuasa, sebagaimana telah diwajibkan kepada orang-orang yang terdahulu dari kamu supaya kamu bertaqwa (Alqurmn, Surat Albqoroh, ayat: 183).

Ajaran puasa yang tidak hanya sekedar untuk menahan diri dari makan dan minum tapi ajaran puasa yang sesungguhnya untuk menahan nafsu.

Dan ajaran puasa sebenarnya tidak memaksakan, dilakukan bagi mereka yang mampu. Tetapi ajaran ini dianjurkan. Kutipan yang menunjukkan sebagai berikut.

”Oh, aku belum menjawab pertanyaanmu? Dengarlah anak muda, sebenarnya orang diberi kekuatan oleh Gusti Allah untuk menepis semua hasrat atau dororngan yang sudah diketahui akibat buruknya. Orang juga sudah diberi ati wening., kebeningan hati yang selalu mengajak eling. Ketika kamu melanggar suara kebeningan hatimu sendiri, kamu dibilang ora eling, lupa akan kesejatian yang

50

selalu menganjurkan kebaikan bagi dirimu sendiri. Karena lupa akan kebaikan, kamu mendapat kebalikannya, keburukan. Mudah dinalar? (Ahmad Tohari, 2005: 115).

Demikian juga petika berikut:

”Nanti dulu, aku belum selesai bicara. Meski kalian bisa memperoleh kemudahan, jangan lupa bahwa dalam bulan Puasa seperti sekarang ini kalian tetap diminta berlatih mengendalikan nafsu, perasaan, dan keinginan. Karena, itulahinti ajaran puasa” (Ahmad Tohari, 2005: 235).

Nilai pendidikan agama untuk berpuasa dituangkan dalam novel ini.

Ahmad Tohari memiliki latar belakang agama yang bagus karena latar belakang pesantren.

Dokumen terkait