BAB IV PEMBAHASAN
C. Nilai- nilai Pendidkan Dalam Tradisi grebeg
1. Nilai Pendidikan Sosial
Nilai adalah prinsip atau hakikat yang menentukan harga atau nilai dan makna bagi sesuatu, atau sesuatu yang tidak terbatas (Abdul Aziz, 2009: 119).
Nilai adalah sifat-sifat (hal-hal) yang penting/berguna bagi kemanusiaan misal, budaya yang dapat menunjang kesatuan bangsa harus dilestarikan (kamus umum bahasa Indonesia, 1982:677)
2. Pendidikan
Pendidikan adalah hidup.Pendidikan adalah segala
pengalaman belajar yang berlangsung dalam segala lingkungan dan sepanjang hidup.Pendidikan adalah segala situasi hidup yang mempengaruhi pertumbuhan individu. (Redja Mudyahardjo, 2010:3).
Dalam (Kamus Besar Bahasa Indonesia, 1982:204)
Pendidikan adalah proses mengubah sikap dan tatalaku seseorang atau kelompok orang dalam usaha mendewasakan manusia melalui upaya pengajaran dan latihan.
3. Tradisi
Dalam (Kamus Besar Bahasa Indonesia, 1982:959).Tradisi
adalah adat kebiasaan turun temurun (dari nenek moyang) yang masih di jalankan dalam masyarakat.
Berdasarkan kepada kepercayaan terhadap nenek moyang
dan leluhar yang mendahului.Tradisi berasal dari kata “traditium”
pada dasarnya berarti segala sesuatu yang di warisi dari masa lalu. Tradisi merupakan hasil cipta dan karya manusia objek material, kepercayaan, khayalan, kejadian, atau lembaga yang di wariskan dari sesuatu generasi ke generasi berikutnya.seperti misalnya
adat-istiadat,kesenian dan properti yang
digunakan.http://tasikuntan.wordpress.com
4. Grebeg
DenysLombard dalam (Santoso, 2010:9) menegaskan bahwa grebeg adalah kelanjutan dari suatu ritual kuno yang telah terbukti ada sejak abad ke-14 yang berfungsi untuk memulihkan kepaduan kerajaan.
Grebeg atau garebeg adalah upacara sesajen yang bertujuan mempersatukan seluruh lapisan masyarakat, diadakan 3 kali setahun yaitu (1) grebeg maulud untuk memperingati lahirnya nabi Muhammad Saw; (2) grebeg besar untuk mengenang tokoh legendaris Islam Hasan dan Husain; (3) grebeg puasa sebagai pernyataan syukur atas berakhirnya bulan puasa Ramadhan (Soemarjan, 1981:33). Dalam skripsi ini penulis akan membahas grebeg yang diadakan dibulan maulud untuk memperingati (haul) pembuka desa dan memperingati lahirnya nabi Muhammad Saw.
F. Landasan Teori
Kehidupan manusia dan alam dipengaruhi oleh dinamika perkembangan yang pesat dan disadari oleh manusia modern.Kesadaran tersebut merupakan suatu kepekaan yang mendorong manusia agar secara kritis menilai kebudayaanya.Evaluasi ini secara praktis mendorong manusia menyusun kembali peradabannya. Usaha untuk menilai proses perkembangan budaya ternyata selalu diajukan dalam setiap lingkungan kebudayaan dan dalam setiap tahap perkembangan. Selain itu ada kecenderungan bahwa budaya semakin berkembang menuju ke suatu
dunia yang oleh Kluckhohn (1999) disebut “dunia yang secara antropologis peka”. Hal demikian berarti manusia dewasa ini semakin sadar akan unsur-unsur persamaan dan perbedaan dalam eksistensi sebagai manusia, antara manusia yang hidup pada zaman dulu dan sekarang dengan kebudayaannya sendiri-sendiri ternyata ada hubungan timbal balik serta ada kesamaan unsur sekaligus perbedaanya (kluckhohn 1999).
Begitu pula dengan sekaten yang mengalami perkembangan sejak awal mulanya hingga sekarang.Perkembangan bertolak dari perubahan yang dalam hal ini terletak pada perbedaan nuansa perayaan sekaten yang semakin komersil dengan penunjukkan jati dirinya sebagai ajang promosi niaga dan pariwisata sehingga perkembangan terkesan cenderung kearah materialistic. Konsekuensi yang timbul yaitu pudarnya makna asli yang sacral dari sekaten itu sendiri sehingga dalam beberapa tahun ini sebagian masyarakat yang dating berkunjung nyaris tidak mengetahui apa makna
essensial-sesungguhnya dari upacara perayaan sekaten karena fokus mereka tertuju hanya pada pameran saja.
Menurut Ragil Pamungkas (2006:31-32), “Dalam Agama Islam
tidak mengajarkan sesembahan terhadap benda-benda selain hanya kepada Allah Swt. Akan tetapi setelah Islam masuk di tanah Jawa, para Walisongo tidak menghilangkan budaya-budaya asli orang Jawa melainkan para Walisongo memasukkan ajaran-ajaran Islam dalam upacara atau ritual tersebut dengan mengganti keberadaan sesaji dengan penyajian baru
seperti menu tumpeng dan kenduri”. Contoh dari ritual-ritual asli Jawa yang telah dimasuki ajaran-ajaran Islam diantaranya seperti upacara :Mitung Dino, Patang Puluh Dino, Nyatus, Mendak, Nyewu, dan lain-lain. Acara-acara tersebut yang dulunya ketika belum dimasuki ajaran Islam hanya diisi dengan acara ritual yang berisi slametan, makan bersama, bahkan bakar kemenyan, kemudian setelah Islam datang dan melalui dakwah para wali, kemudian acara tersebut sedikit-demi sedikit dimasuki ajaran islam dengan di isi dengan bacaan-bacaan kalimat tahlil, tahmid,
serta bacaan-bacaan yang terdapat dalam Al Qur‟an dan Al Hadis.
Upacara tradisi merupakan bagian dari adat istiadat yang merupakan salah satu upaya masyarakat Jawa untuk menjaga keharmonisan dengan alam, dunia roh, sesamanya, sebagai perwujudan
dari itu, masyarakat Indonesia sekarang ini masih memiliki
dilakukanya beberapa upacara tradisional, diantaranya : upacara jamasan pusaka, sekaten, upacara tabuhan, upacara grebeg, dan lain sebagainya.
Dalam agama Islam, Nabi Muhammad merupakan Rosul pembawa ajaran Islam di muka bumi, sehinggah hari kelahirannya diperingati oleh umat Islam.Karena Nabi Muhammad sebagai pembawa kebenaran. Selain itu dalam ajaran Islam disebutkan bahwa orang harus selalu bersyukur atas segala sesuatu yang telah diberikan oleh Allah (QS,14:7). Oleh sebab itu, sebagai ungkapan rasa syukur kepada Allah, masyarakat bentisan mengemasnya dalam bentuk upacara tradisional.Salah satu budaya tradisisonal yang hingga saat ini tetap dipertahankan keberadaanya adalah upacara tradisi Grebeg di Desa Sukomarto.Pada dasarnya upacara tradisi ini merupakan upacara memperingati hari kelahiran Nabi Mihammad Saw.Upacara tersebut sebagai wujud rasa syukur atas diutusnya Nabi Muhammad Saw dan syukur atas nikmat rizki, kesehatan, serta keberkahan hidup yang telah Allah berikan.Maka upacara tersebut diadakan setiap tahun sekali dalam penyelenggaraan grebeg perayaan grebeg ini diadakan pada bulan maulud.
G. Metode Penelitian
1. Jenis Penelitian
Jenis penelitian ini adalah penelitian kualitatif, istilah penelitian kualitatif menurut Kirk dan Miller (1986:9) pada
dipertantangkan dengan pengamatan kualitatif.Mendefinisikan bahwa penelitian kualitatif adalah tradisi tertentu dalam ilmu pengetahuan sosial yang secarafundamental bergantung pada pengamatan pada manusia dalam kawasanya sendiri dan berhubungan dengan orang-orang tersebut dalam bahasanya dan dalam peristilahanya. Sedangkan menurut Bogdan dan Tailor (2010:3) mendefinisikan metodologi kualitatif sebagai prosedur penelitian yang menghasilkan data deskriptif berupa kata-kata tertulis atau lisan dari orang-orang dan perilaku yang dapat diamati, penelitian kualitatif berupa deskriptif kata-kata atau lisan sehingga atas dasar pertimbangan itulah maka kemudian penelitian kualitatif tampaknya diartikan sebagai penelitian yang tidak menggunakan perhitungan.
Metode kualitatif ini digunakan karena beberapa
pertimbangan, pertama, menyesuaikan metode kualitatif lebih mudah apabila berhadapan dengan kenyataan ganda; kedua, metode ini menyajikan scara langsung hakikat hubungan antara peneliti dan responden; dan ketiga, metode ini lebih peka dan lebih dapat menyesuaikan diri dengan banyak penajaman pengaruh bersama dan terhadap pola-pola nilai yang dihadapi (Lexy, 2015:15).
2. Kehadiran Peneliti
Dalam penelitian ini, peneliti bertindak sebagai pengumpul data dan sebagai instrument aktif dalam upaya mengumpulkan data-data di lapangan, sedangkan instrument penelitian data yang lain selain manusia adalah berbagai bentuk alat-alat bantu dan berupa dokumen-dokumen lainnya yang dapat di gunakan untuk menunjang keabsahan hasil penelitian, namun berfungsi sebagai instrument pendukung. Oleh karena itu, kehadiran meneliti secara langsung sebagai tolak ukur keberhasilan untuk memahami kasus yang di teliti, sehinnga keterlibatan peneliti secara langsung dan aktif dengan informan dan atau sumber data lainnya di sini mutlak dilakukan.
3. Lokasi Penelitian
Dusun Bentisan adalah salah satu desa di kecamatan Jumo kabupaten Temanggung Profinsi Jawa Tengah. Desa Bentisan terletak 15 km barat laut dari pusat kota temanggung, dapat ditempuh kurang lebih 45 menit menggunakan kendaraan bermotor, jalan menuju daerah ini berupa jalan aspal dan sebagian masih jalan berbatu yang ditata rapi sehingga mudah untuk mengaksesnya, sepanjang jalan akan menemui pemandanganyang kebanyakan adalah area persawahan baik padi sayuran-sayuran dan ketika musim kemarau sawah-sawah akan ditanami tembakau.
Mayoritas mata pencaharian warga Bentisan adalah bertani.Penulis memilih desa ini sebagai obyek penelitian karena penulis sendiri adalah warga asli desa tersebut, sehingga memudahkan bagi penulis untuk menyelesaikan karya ini dan mudah untuk mengorek berita-berita/info yang dibutuhkan dalam penyelesaian penelitian ini. Selain itu grebeg bentisan terbilang unik karena adanya perpaduan tradisi Jawa dengan tradisi Islam yang sangat apik didalamya sehingga penulis tertarik untuk meneliti apakah dalam tradisi grebeg ini terdapat nilai-nilai pendidikanya ataukah tidak.
4. Sumber data
Jenis data yang di gunakan dalam penelitian adalah data kualitatif yaitu data yang berbentuk kalimat, tata, atau gambar (Sugiono, 2003: 14-15).Data kualitatif yang di maksud dalam penelitian ini adalah dokumen yang berisi nilai-nilai pendidikan dan grebeg.Oleh karena itu, data yang di perlukan adalah data sekunder dan data primer.Data sekunder yaitu data yang bersumber dari pihak ke dua baik berupa catatan, laporan, foto-fotoatau lainnya.Dalam penelitian ini, data sekunder yang di maksud adalah dokumen.Data primer yaitu data yang bersumber dari pihak ke dua, yakni hasil wawancara yang bersumber dari bpk.Kepala desa, tokoh masyarakat, tokoh agama serta warga masyarakat yang menjadi pengunjung acara grebeg tersebut.
H. Prosedur Pengumpulan Data
a. Metode Observasi
Observasi biasa di artikan sebagai pengamatan dan pencatatan secara sistematik terhadap gejala yang tampak pada objek penelitian, (Hadari Nawawi, 1990: 100). Peneliti berusaha untuk mengamati dan mendengarkan dalam rangka mengamati dan mendengarkan dalam rangka memahami, mencari jawaban, mencari bukti terhadap fenomena social keagamaan (perilaku, kejadian-kejadian, keadaan, benda dan simbol-simbol tertentu) selama beberapa waktu tanpa mempengaruhi fenomena yang diobservasi dengan mencatat, merekam, memotret fenomena tersebut guna penemuan dan alalisis. Metode observasi digunakan untuk mengamati tradisi grebeg Bentisan di Desa Sukomarto Kecamatan Jumo Kabupaten Temanggung.
b. Metode Wawancara
Wawancara identik dengan pengumpulan data dengan bertanya langsung, lisan maupun tertulis kepada nara sumber. Jadi,
“wawancara adalah usaha mengumpulkan informasi dengan
mengajukan pertanyaan secara lisan, untuk dijawab secara lisan
pula” (Hadari Nawawi, 1990:111).Ciri utamanya adalah kontak
langsung dengan tatap muka antara penulis dengan sumber informasi.Metode wawancara digunakan untuk menggali informasi
tentang bentuk tradisi grebek Bentisan di Desa Sukomarto Kecamatan Jumo Kabupaten Temanggung.
Sumber berita yang akan diwawancarai oleh penulis beberapa masyarakat Bentisan diantaranya adalah pencetus tradisi grebeg, kepala Desa, tokoh masyarakat, warga Bentisan dan
sekitarnya yang bisa memberikan sumber berita untuk
menyelesaikan penelitian ini.
c. Metode Dokumentasi
Metode dokumentasi merupakan metode pengumpulan data dengan menggunakan dokumen yang ada.Dengan metode ini dapat diperoleh catatan atau arsip yang berhubungan dengan penelitian (Rumidi, 2004:131).Dokumen yang diperoleh penulis dalam hal ini adalah berupa kumpulan dari beberapa pengamatan langsung kelokasi penelitian.
Dokumen-dokumen yang dikumpulkan bermacam-macam dari berbagai sumber, bisa berupa dokumen foto proses tradisi grebeg berlangsung, bisa juga berupa dokumen penting tentang sejarah dan lain-lainya yang berhubungan dengan tradisi grebeg.
I. Analisis Data
Menurut Noeng Muhadjir (1996:104) mengatakan, “Analisis data
hasil observasi, wawancara dan lainya. Untuk meningkatkanpemahaman penelitian tentang kasus yang diteliti dan menyajikanya sebagai temuan bagi orang lain. Sedangkan untuk meningkatkan pemahaman tersebut
analisis perlu dilanjutkan dengan berupaya mencari makna”.
Sedangkan Menurut Imam Suprayogo dan Tabroni (2001:192),
“kegiatan analisis data selama pengumpulan data dapat dimulai setelah
peneliti memahami fenomena sosial yang sedang diteliti dan setelah
mengumpulkan data yang dapat dianalisis”. Kegiatan-kegiatan analisis selama penulisan mengumpulkan data meliputi :
a. Menetapkan fokus penelitian.
b. Penyusunan temuan-temuan sementara berdasarkan data yang telah
terkumpul.
c. Pembuatan rencana pengumpulan data berikutnya berdasarkan
temuan-temuan pengumpulan data sebelumnya.
d. Pengembangan pertanyaan-pertanyaan analitik dalam rangka
pengumpulan data berikutnya; dan
e. Penetapan sasaran-sasaran pengumpulan data berikutnya.
Setelah data terkumpul maka selanjutnya adalah tahap menganalisis data, sebagai tahap akhir suatu penelitian maka penulis menggunakan metode deskriptif yaitu dengan cara data yang dikumpulkan berupa kata-kata, gambar dan bukan angka-angka, hal ini disebabkan oleh adanya penerapan metode kualitatif. Selain itu, semua yang dikumpulkan
berkemungkinan menjadi kunci terhadap apa yang sudah diteliti. Jadi, teknik analisis data yang digunakan dalam penelitian ini adalah reduksi
dat, penyajian data serta menarik kesimpulan (verifikasi),
(Milles,1992:16-18).
Secara garis besar, teknik analisis data dalam penelitian ini dijelaskan sebagai berikut.Setelah data dirasakan cukup, selanjutnya data tersebut ditelaah dan diseleksi.Jika terdapat data yang tidak diperlukan, data tersebut direduksi.Setelah data baru hasil reduksi baik, selanjutnya ditarik suatu kesimpulan, yang merupakan hasil akhir atau jawaban terhadap judul.
BAB II
KAJIAN PUSTAKA A. Grebeg
1. Pengertian Grebeg
Menurut sejarah kata Grebeg berasal dari kata “gumebreg”
yang berarti riuh, ribut, dan ramai.Tentu saja ini menggambarkan suasana grebeg yang memang ramai dan riuh.(Aditya Surya dalam Santoso, 2010:23).
Grebeg atau garebeg adalah upacara sesajen yang bertujuan mempersatukan seluruh lapisan masyarakat, diadakan 3 kali setahun yaitu (1) Grebek maulud untuk memperingati lahirnya nabi Muhammad Saw; (2) Grebek besar untuk mengenang tokoh legendaris Islam Hasan dan Husain; (3) Grebeg puasa sebagai pernyataan syukur atas berakhirnya bulan puasa Ramadhan (Soemarjan, 1981:33).
Inti dari upacara grebeg ini sebetulnya seperti selamatan yaitu makan bersama, hanya saja dalam bentuk besar dan dihadiri oleh masyarakat.Untuk keperluan ini disediakan nasi dan lauk pauk (dibentuk gunungan).Gunungan dipromosikan dari kraton ke Masjid besar, disembahyangi oleh penghulu dan kemudian dibagi kepada hadirin, groneman dalam (Santoso, 2010:24).
2. Sejarah Grebeg
Munculnya tradisi-tradisi kejawen yang berbau Islami tidak terlepas dari peran penyebar agama Islam di Jawa yaitu wali sanga
tidak terkecuali tradisi grebeg ini.Pada awalnya grebeg merupakan upacara yang berwujud pertunjukan Jawa-Islam dengan misi dakwah. Kesenian yang ditampilkan antara lain shalawatan, kubrosiswo,
samporahan, dan dziba‟an yang diiringi gamelan rebana dan terbang.
Upacara itu digelar satu minggu dengan ditandai keluarnya Gamelan (gong) dari keraton untuk dibunyikan di Masjid Agung.Mengingat upacara ini dianggap suci dan sakral, pengunjung yang hendak melihat
disaratkan mencuci kaki dan membaca kalimat syahadat.
(www.Joglo.com)
Sedangkan pada mulanya grebeg diperkenalkan kepada masyarakat Jawa oleh salah satu anggota wali sanga, yaitu Sunan Kalijaga yang hidup pada zaman kerajaan Islam Demak yang didirikan oleh Raden Patah (abad ke-XV).Upacara grebeg ini sudah ada sejak abad ke XII di jaman Kerajaan Majapahit.Sesudah jatuhnya kerajaan tersebut, Keraton Demak pernah menghentikan upacara ini.Hal ini sempat membuat kecewa rakyat karena mereka sudah terbiasa dengan upacara Grebeg. Kemudian Sunan Kalijaga, salah seorang wali sanga yang terkenal amat bijaksana mengusulkan kepada Sultan Demak untuk menghidupkan kembali Grebeg, dengan tujuan untuk menyebarkan agama Islam dan pada saat itu dibunyikan Gamelan di dekat Masjid sehingga banyak rakyat yang datang. Sunan Kalijaga seorang Wali yang berwibawa dan sangat ramah dalam menyebarkan agama Islam tidak pernah mejelek-jelekan kepercayaan lain termasuk
kepercayaan masyarakat setempat yang dulunya masih memeluk agama Hindu dan Budha. Sejak saat itu hingga sekarang Grebeg selalu menarik perhatian banyak orang. (Suryonegoro, 2001:81-82)
Diantara para wali sanga, sunan kali jaga sangat terkenal sebagai seorang wali yang berjiwa besar, ulama, pemimpin, dan filosof. Kaum cendekiawan dan bangsawan simpatik kepada beliau karena caranya menyiarkan agama Islam disesuaikan dengan tata cara budaya masyarakat setempat waktu itu. Disamping itu, beliau juga seorang wali yang kritis dan kreatif. Terbukti dengan inisiatifnya membuat wayang kulit yang mengisahkan cerita Hindu dari Hindia yang kemuadian dimodifikasi mejadi cerita yang syarat akan unsur islam kemudian digunakan oleh sunan kalijaga sebagai media dakwah menyebarkan agama Islam. Hal itu dilakukan karena pertimbangan bahwa masyarakat jawa pada waktu itu masih banyak yang berkepercayaan agama nenek moyang Hindu dan Budha, atu dengan kata lain masyarakat masih memegang teguh tradisi adat istiadat lama.
Tradisi Grebeg apabila didaerah solo disebut dengan tradisi perayaan sekaten, yang dahulunya diadakan oleh sunan Kalijaga bertujuan untuk menarik minat masyarakat Jawa pada saat itu yang masih banyak memeluk agama nenek moyang serta agama Hindu dan Budha.Rangkaian acara dalam sekaten dimulai dari membaca dua kalimat syahadat. Untuk mengikuti acara sekaten tersebut penduduk diharuskan dalam keadaan suci sehingga harus bersuci/wudlu terlebih
dahulu, kemudian membaca dua kalimat syahadat atau dalam bahasa arabnya syahadatain sebagai syarat memeluk agama islam. Istilah dua kalimat syahadat yang diucapkan sebagai syahadatain ini karena orang Jawa susah dalam pengucapanya kemudian berangsur-angsur berubah menjadi syakatain dan pada akhirnya menjadi istilah sekaten sampai sekarang.
Acara sekaten saat itu dimeriahkan dengan pertunjukan pentas seni tradisional, yaitu pertunjukan pentas wayang dengan lakon punokawan dengan senjata ampuh jimat kalimosodo (dua kalimat syahadat).(Santoso, 2010:26) dan pada saat ini acara sekaten kebanyakan ditambah dengan adanya acara pasar malam.
Munculnya beberapa tradisi jawa yang telah diwarnai oleh unsur islam tak luput dari campur tangan penyebar agama Islam sendiri di Jawa, Wali Sanga adalah tokoh agama Islam yang menyerukan kebenaran Islam di Jawa dengan metode penyampuran budaya Jawa dengan unsur Islam sebagai media dakwahnya, berikut ini kita akan membahas bagaimana proses Islamisasi di pulau Jawa. B. Pendidikan
1. Pengertian Pendidikan
Menurut UU No. 20 Tahun 2003, tentang sistem pendidikan nasional, pendidikan adalah usaha sadar dan terencana untuk mewujudkan suasana belajar dan proses pembelajaran agar peserta didik secara aktif mengembangkan potensi dirinya untuk
memiliki kekuatan spiritual keagamaan, pengendalian diri, kepribadian, kecerdasan, akhlak mulia, serta ketrampilan yang diperlukan dirinya, masyarakat, bangsa dan Negara.
Pendidikan menurut Omar Muhammad Toumy Al-Syaibani, pendidikan adalah: proses mengubah tingkahlaku indifidu pada kehidupan pribadi, masyarakat, dan alam sekitarnya, dengan cara pengajaran sebagai suatu aktifitas asasi dan sebagai profesi diantara profesi-profesi asasi dalam masyarakat.
Menurut Hasan Langgunung, pendidikan adalah: suatu proses yang mempunyai tujuan yang biasanya diusahakan untuk menciptakan pola-pola tingkah laku tertentu pada kanak-kanak atau orang yang sedang dididik.
Menurut Ahmad Fuat Al Ahwani pendidikan adalah pranata yang bersifat sosial yang tumbuh dari pandangan hidup tiap masyarakat.Pendidikan senantiasa sejalan dengan pandangan falsafah hidup masyarakat tersebut, atau pendidikan itu pada hakikatnya mengaktualisasikan falsafah dalam kehidupan nyata.
Menurut Ali Halil Abul Ainain Pendidikan adalah program yang bersifat kemasyarkatan dan oleh karena itu, setiap falsafah yang dianut oleh suatu masyarakat berbeda dengan falsafah yang dianut oleh masyarakat lain sesuai dengan karakternya, serta kekuatan peradaban yang mempengaruhinya yang dihubungkan
dengan upaya menegakkan spiritual dan falsafah yang dipilih dan disetujui untuk memperoleh kenyamanan hidupnya.
Makna dari ungkapan tersebut ialah bahwa tujuan pendidikan diambil dari tujuan masyarakat, dan perumusan operasionalnya ditujukan untuk mencapai tujuan tersebut, dan disekitar tujuan pendidikan tersebut terdapat atmosfer falsafah hidupnya.dari keadaan yang demikian itu, maka falsafah pendidikan yang terdapat dalam suatu masyarakat berbeda dengan falsafah pendidikan yang etrdapat pada masyarakat lainya, yang disebabkan perbedaan sudut pandang masyarakat, serta pandangan hidup yang berhubungan dengan sudut pandang tersebut.
Naquib Attas (1992:53), mendefinisikan pendidikan menurut Islam sebagai pengenalan dan pengetahuan yang secara berangsur-angsur ditanamkan ke dalam manusia, tentang tempat-tempat yang tepat bagi segala sesuatu di dalam tatanan Islam adalah usaha agar manusia mengenali kedudukan Tuhan dalam kehidupan ini.
2. Tujuan Pendidikan
Menurut Jalaludin, secara garis besar tujuan pendidikan dapat dilihat dari tujuh dimensi utama:
1) Dimensi hakikat penciptaan manusia pendidikan bertujuan untuk
membimbing perkembangan peserta didik secra optimal agar menjadi pengabdi kepada Allah yang setia.
2) Dimensi tauhid pendidikan bertujuan untuk upaya pembentukan sikap takwa.
3) Dimensi moral pendidikan bertujuan untuk manusia sebagai
pribadi yang bermoral.
4) Dimensi perbedaan individu pendidikan bertujuan untukuntuk
membimbing dan mengembangkan potensi peserta didik secra optimal, dengan tidak mengabaikan adanya factor perbedaan individu serta menyesuaikan pengembangannya dengan kadar kemampuan dari potensi yang masing-masing
5) Dimensi social pendidikan bertujuan untukpembentukan manusia
social yang sebagai dasar perilaku
6) Dimensi professional pendidikan bertujuan untuk membimbing dan
mengembangkan peserta didik sesuai dengan bakatnya masing-masing, dengan demikian diharapkan mereka dapat memiliki keterampilan yang sesuai dengan bakat yang dimiliki, hingga keterampilan itu dapat digunakannya untuk mencari nafkah sebagai penopang hidupnya.
7) Dimensi ruang dan waktu pendidikan bertujuan untuk
membimbing dan mengembangkan potensi peserta didik seccara optimal agar mereka mampu menopang keselamatan dan kesejakteraan hidup di dunia dengan perintah syariat Islam.
Materi pelajaran harus sesuai dengan tujuan pendidikan yang ingin dicapai menurut S.Nasution (1991:69-71).Dalam
menetapkan materi pelajaran, ada beberapa hal yang harus diperhatikan, yaitu :
1) Materi harus sesuai dengan tujuan pembelajaran.