• Tidak ada hasil yang ditemukan

Tradisi Adat Perkawinan

C. Nilai Perkawinan Adat Komunitas Wabula Buton

Adat yang berada pada tingkat nilai budaya bersifat sangat abstrak, ia merupakan ide-ide yang mengkonsepsikan hal-hal yang paling bernilai dalam kehidupan suatu komunitas. Misalnya nilai perkawinan dalam komunitas Wabula Buton.

Adat pada tingkat norma merupakan nilai-nilai budaya yang telah terkait pada peranan tertentu. Peran sebagai pemimpin, sebagai mamak, dan sebagai guru misalnya membawakan sejumlah norma yang menjadi pedoman bagi kelakuannya dalam hal memainkan peranannya dalam berbagai kedudukan tersebut.

      

66Lihat, Muhaimin, Islam dalam Bingkai Budaya Lokal Potret dari Cirebon (Cet. II; Jakarta: PT. Logos Wacana Ilmu, 2002), h. 165-166.

tertulis. Sedangkan adat pada aturan-aturan khusus merupakan aturan-aturan yang mengatur kegiatan-kegiatan khusus yang jelas dan terbatas ruang lingkupnya, umpamanya sopan santun.

Keberagaman komunitas adat di Indonesia yang kaya dengan kultur dan adat turun temurun dianggap memiliki nilai potensial sebagai unsur penguat negara. Oleh karena itu, berbagai unsur yang bisa mereduksi diharapkan bisa dikurangi, dan unsur penguat kecintaan terhadap komunitas adat harus selalu ditingkatkan. Namun sayangnya, nilai-nilai yang ada dalam komunitas adat seperti dilecehkan dan tidak lagi memiliki nilai di kalangan komunitas umum saat ini. Kondisi tersebut dapat dianggap mencemaskan, mengingat tanpa adanya komunitas adat, tak ada komunitas modern saat ini.

Penurunan nilai terhadap komunitas adat tercermin pada beberapa kasus yang terjadi, seperti keharusan memilih salah satu dari beberapa agama yang ditetapkan pemerintah. Namun secara turun temurun, belum tentu kalangan adat menerima salah satu dari kelima agama tersebut sebagai pilihan. Kondisi tersebut kemudian dianggap sebagai salah satu unsur yang harus direduksi, bila tidak ingin jati diri bangsa Indonesia yang terletak di komunitas adat hilang. Namun bagi komunitas Wabula yang seluruhnya beragama Islam maka adat istiadat yang berkembang harus sesuai nilai-nilai pendidikan Islam.

Masalah yang paling mencemaskan terutama pada stigma negatif yang kerap ditempelkan pada komunitas adat. Stigma negatif tersebut ada pada pandangan keterbelakangan, primitif, dan keragaman pemikiran.

media televisi, hal tersebut dianggap beberapa kalangan adat sangat menyakitkan dan menakutkan. Karena kejadian itu, kalangan media saat ini juga dianggap sebagai salah satu biang penyebab masih tingginya stigma tersebut. Stigma lain yang mencemaskan merupakan cara penamaan dan simbol-simbol yang kerap dikaitkan dengan komunitas adat.

Seperti pada penamaan daerah terbelakang dan primitif, jelas membuat psikologis komunitas adat menjadi terganggu, sebab dianggap sebagai pengganjal kemajuan Indonesia. Padahal secara pribadi, kalangan komunitas adat merupakan komunitas yang terus bergerak dan berubah, serta menyesuaikan zaman tanpa melupakan nilai-nilai leluhur.

Bahkan keragaman cara berpikir komunitas adat kemudian dianggap sebagai bibit perpecahan. Kesalahan pendapat tersebut seharusnya dikurangi, mengingat berbagai perbedaan pemikiran tersebut bukan menjadi bibit perpecahan, justru menjadi sumber kekayaan negara yang tak ternilai harganya.

Setelah memperhatikan kerangka ilmiah mengenai kebudayaan dan kedudukan adat dalam kerangka tersebut, berikut ini akan dibicarakan adat yang bersifat abstrak, yaitu sistem nilai budaya.

1. Makna nilai perkawinan bagi pasangan yang tidak resmi menikah

Perzinahan pada pasangan yang tidak tesmi menikah merupakan suatu fenomena sosial yang tidak lagi mampu disangkal. Keberadaannya disadari sebagai sebuah realita di dalam komunitas.Berbagai macam reaksi diberikan oleh lingkungan sekitarnya terhadap keberadaan pasangan yang tidak resmi menikah. Kebanyakan reaksi komunitas adalah menolak keberadaan pasangan ini dengan cara mengusir

perilaku menyimpang mereka.

Demikian juga ketika Konsep Rancangan Undang Undang Kitab Undang-undang Hukum Pidana (Konsep RUU KUHP) yang menuai pro dan kontra tentang dimasukannya tindakan asusila seperti zina dan kumpul kebo. Hukum di Indonesia telah dianggap terlalu ikut campur masalah pribadi orang lain dan melanggar hak,namun jika hukum tidak ditegakan maka perilaku menyimpang seperti pasangan yang tidak resmi menikah akan semakin banyak dijumpai di Indonesia.

Jika Konsep RUU KUHP tentang tindakan asusila ditolak dan pidana penjara pada pelaku nikah siri ditetapkan maka akan membuat komunitas yang nikah siri lebih memilih atau mengakui bahwa mereka kumpul kebo atau pasangan yang tidak resmi menikah karena tidak ingin di pidana penjara.

Hal ini membuat ada pergeseran makna perkawinan pada pasangan yang tidak resmi menikah, mereka lebih memilih tetap hidup satu atap tanpa menikah dibanding menikah secara sah karena hidup satu atap tanpa menikah dianggap lebih aman.

2. Hilangnya nilai perkawinan

Perkawinan atau pernikahan sudah dianggap oleh kebanyakan manusia sebagai sesuatu yang lumrah, umum, biasa saja, tak ubahnya sebuah kegiatan iseng. Saat ini, perkawinan tak ubahnya sebuah KTP, yang fungsinya untuk identitas belaka. Kawin dan cerai adalah hal biasa, dan sama mudahnya.

Perkawinan atau pernikahan bukanlah sekedar identitas, karena Allah menganjurkan manusia untuk menjalani sebuah perkawinan adalah dengan maksud mulia, untuk mengangkat harga diri antara pria dan wanita, supaya bisa menjadi wadah emosi-nafsu yang terkendali, bermanfaat, dan memberikan jalan serta motivasi

adalah harus berlandaskan Agama, bukan cuma berdasarkan catatan birokrasi pemerintah, karena dalam acara pernikahan secara agama diadakan bentuk sentuhan cinta dan kasih sayang secara mendalam serta janji-komitmen atas nama Allah.

Bila sepasang insan telah terikat dalam sebuah perkwinan resmi secara agama atau kepercayaan maka hendaknya disadari bahwa mereka telah memutuskan dan berkomitmen untuk menyatu di hadapan Allah, satu sama lain merupakan bagian yang harus saling membangun dan melengkapi, masalah salah, benar, suka, duka adalah tanggung jawab dan bentuk harga diri bersama. Jika tidak bisa memiliki kesadaran atas itu semua maka artinya pasangan itu sudah salah mengambil keputusan menikah pada awalnya.

Sebuah keputusan untuk menuju pernikahan hendaknya dipikir dan dipertimbangkan secara matang dan luas, dan harus punya tekad sungguh-sungguh untuk menjadikan pasangan seumur hidup sampai mati, harus selalu disadari bahwa sebuah pernikahan akan membawa tanggung jawab kepada Allah, diri sendiri, orang lain, keluarga, dan anak-anak keturunan.

Saat ini, dengan mudahnya orang berkata dan memutuskan "Cerai" , dengan alasan "sudah tidak ada kecocokan", simple sekali alasan itu, sebuah alasan untuk melarikan diri dari janji dan komitmen yang diikrarkan pada awalnya, dan mereka pikir alasan seperti itu mengesankan diri mereka orang yang rasionalis dan berfikir benar, padahal sebuah fakta yang lebih buruk, bahwa itu bentuk penjatuhan harga diri kepada diri sendiri dan keluarga, mereka keblinger dengan pola modernisasi berfikir. Seharusnya setiap pasangan harus berusaha menghapus kata "sudah tidak ada

Dokumen terkait