• Tidak ada hasil yang ditemukan

ASET TAKBERWUJUD (INTANGIBLE ASSETS)

5. Nilai Residu

Menurut pragraf 100 PSAK 19, nilai residu suatu aset takberwujud dengan umur manfaat terbatas seharusnya diasumsikan nol, kecuali:

(a) ada komitment dari pihak ketiga untuk membeli aset takberwujud tersebut pada akhir umur manfaatnya; atau

(b) ada pasar aktif untuk aset takberwujud tersebut, dan :

i. nilai residu aset takberwujud dapat ditentukan dengan mengacu pada harga yang berlaku di pasar tersebut; dan

ii. terdapat kemungkinan besar bahwa pasar yang aktif tetap tersedia sampai akhir umur manfaat aset tersebut.

Menurut ketentuan peraturan perundang-undangan perpajakan nilai sisa pada akhir masa amortisasi harus nol

95

B A B X SEWA ( LEASING)

1. Pendahuluan

Pada hakikatnya perluasan usaha membutuhkan ketersediaan dana dan peralatan modal. Dalam hal penyediaan dana, selain melalui sistem perbankan dan lembaga keuangan non bank yang sudah lama dikenal, belakangan ini dikenal sistem pembiayaan alternatif lainnya yaitu bisnis “sewa guna usaha” yang dalam bahasa asing dikenal dengan nama “leasing”. Dibandingkan dengan negara maju seperti Amerika Serikat yang sudah mengenal bisnis sewa guna usaha sebelum Perang Dunia II, di Indonesia bisnis sewa guna usaha masih relatif baru yaitu mulai tahun 1974 setelah diterbitkannya Surat Keputusan Bersama Menteri Keuangan, dan Menteri Perdagangan dan Menteri Perindustrian Nomor: Kep 122/MK/2/1974, Nomor32/M/SK/2/1974 dan Nomor 30/Kpb/I/ 1974 tanggal 7 Februari 1974 tentang Perizinan Usaha Leasing.

Sejak saat itu dan utamanya sejak tahun 1980 jumlah perusahaan leasing makin bertambah dan meningkat dari tahun ke tahun untuk membiayai penyediaan barang –barang modal dunia usaha.

Apa sebenarnya yang dimaksud dengan leasing.? Agar memperoleh gambaran yang lebih jelas di bawah ini diberikan beberapa pengertian sebagai berikut :

a. SKB Menteri Keuangan, Menteri Perdagangan dan Menteri Perindustrian

“ Leasing adalah setiap kegiatan pembiayaan perusahaan dalam bentuk penyediaan barang-barang modal untuk digunakan oleh suatu perusahaan untuk suatu jangka waktu tertentu berdasarkan pembayaran-pembayaran secara berkala serta disertai dengan hak pilih (optie) bagi perusahaan tersebut untuk membeli barang-barang modal yang bersangkutan atau memperpanjang jangka waktu leasing berdasarkan nilai sisa yang telah disepakati bersama”

Definisi tersebut hanya menampung satu jenis leasing yang lazim disebut finance lease atau sewa guna usaha pembiayaan. Namun demikian dengan diterbitkannya Keputusan Menteri Keuangan Nomor : 1251/KMK.013/1988 tanggal 20 Desember 1988, jenis sewa guna usaha telah diperluas menjadi finance lease yaitu kegiatan sewa guna usaha, di mana Penyewa Guna Usaha (Lessee) pada akhir masa kontrak mempunyai hak opsi untuk membeli objek sewa guna usaha berdasarkan nilai sisa yang disepakati bersama, dan operating lease yaitu kegiatan sewa guna

96

usaha di mana Penyewa Guna Usaha (Lessee) tidak mempunyai hak opsi untuk membeli objek sewa guna usaha..

b. Keputusan Menteri Keuangan Nomor 1169/KMK.01/ 1991.

Sewa guna usaha (leasing) adalah kegiatan pembiayaan dalam bentuk penyediaan barang modal baik secara sewa guna usaha dengan hak opsi

(finance lease) maupun sewa guna usaha tanpa hak opsi (operating lease)

untuk digunakan oleh lessee selama jangka waktu tertentu berdasarkan pembayaran secara berkala.

c. Kieso, Weygant, Warfield ( Intermediate Accounting)

Sewa guna usaha (lease) adalah perjanjian konraktual antara lessor dan

lessee yang memberikan hak kepada lessee untuk menggunakan properti

tertentu, yang dimiliki oleh lessor selama periode waktu tertentu dengan membayar sejumlah uang (sewa) yang sudah ditentukan, yang umumnya dilakukan secara periodik. Unsur utama dari perjanjian sewa guna usaha adalah bahwa hak kepemilikan lessor atas properti yang disewa guna usahakan menjadi berkurang.

d. International Accounting Standards

Sewa (lease) adalah perjanjian antara lessor dan lessee di mana lessor menerima balas jasa berupa sewa dari lessee sebagai imbalan atas pemberian hak kepada lessee untuk menggunakan suatu aset dalam jangka waktu yang telah disepakati.

( A lease is an agreement whereby the lessor conveys to lessee in return for

rent the right to use an asset for agreed period of time)

e. PSAK 30 ( Revisi 2014)

Sewa (lease) adalah suatu perjanjian yang mana lessor memberikan hak kepada lessee untuk menggunakan suatu aset selama periode waktu yang disepakati. Sebagai imbalannya, lessee melakukan pembayaran atau serangkaian pembayaran kepada lessor.

Dari pengertian sewa yang dikemukakan di atas pada prinsipnya sewa guna usaha mengandung unsur-unsur sebagai berikut:

(a) adanya pihak lessor, (b) adanya pihak lessee, (c) pembiayaan perusahaan, (d) penyediaan barang modal, (e) jangka waktu tertentu, (f) pembayaran secara berkala, (g) adanya hak opsi, (h) adanya nilai sisa yang disepakati bersama. Unsur g dan h hanya ada jika perjanjian sewa guna usaha berupa sewa pembiayaan ( finance lease)

97

Perjanjian sewa ( lease) tidak sama dengan sewa beli (hire purchase), sewa (renting), dan jual beli angsuran ( installment sales)

Berdasarkan Keputusan Menteri Perdagangan dan Koperasi Nomor : 34/KP/II/80 tanggal 1 Februari 1980 tentang Perizinan Kegiatan Usaha Sewa Beli (Hire Purchase), Jual Beli dengan Angsuran (Installment Sales) dan Sewa (Renting) ditentukan sebagai berikut :

(1). “Renting adalah kegiatan di bidang sewa menyewa atas barang, di mana hak milik atas barang yang disewakan tetap berada pada pemilik barang”

Berdasarkan ketentuan tersebut di atas dalam perjanjian sewa

menyewa, kewajiban dari pihak menyewakan adalah menyerahkan barang yang akan dinikmati oleh pihak penyewa, sehingga barang yang diserahkan itu tidak untuk dimiliki, tetapi hanya dinikmati kegunaannya. Jadi unsur terpenting dalam perjanjian sewa menyewa adalah kenikmatan dari suatu barang yang disewakan dan harga sewa. (2). “Sewa Beli (Hire Purchase) adalah jual beli barang di mana penjual melaksanakan penjualan barang dengan cara memperhitungkan setiap pembayaran yang dilakukan oleh pembeli dengan pelunasan atas harga barang yang telah disepakati bersama dan yang diikat dalam suatu perjanjian, serta hak milik atas barang tersebut baru beralih dari penjual kepada pembeli setelah jumlah harganya dibayar lunas pembeli kepada penjual.”

Menurut Amin Wijaya Tunggal dan Arif Djohan Tunggal dalam bukunya “ Akuntansi Leasing” dari pengertian di atas dapat disimpulkan bahwa : (a) Pada sewa (lease) , lessor biasanya adalah penyedia dana dan membiayai pembelian barang tersebut seluruhnya dan bertindak sebagai lembaga keuangan, sedangkan pada sewa beli, penjual adalah produsen atau penjual yang berusaha menjual barangnya. (b) Masa sewa guna usaha biasanya ditetapkan sesuai dengan kegunaan

barang yang diperkirakan, dan angsuran imbalan jasa disesuaikan dengan hasil usaha lessee yang diperkirakan oleh lessor, sedangkan dalam sewa beli tidak selalu demikian halnya, karena masa pembayaran angsuran ditetapkan atas dasar kemampuan pembeli. (c) Dalam sewa beli pembeli bermaksud untuk memiliki barang tersebut,

sedangkan dalam sewa ( lease) belum tentu ada tujuan tersebut pada lessee. Dalam sewa beli, pada akhir masa sewa beli, hak milik atas barang dengan sendirinya beralih kepada pembeli, sedangkan dalam sewa guna usaha, lessee-lah yang memutuskan apakah akan menggunakan hak opsinya untuk membeli, memperpanjang atau

98

mengembalikan barang tersebut kepada lessor, dan hanya setelah pembayaran harga pembelian, hak milik atas barang tersebut beralih kepada lessee.

(3).Jual Beli dengan Angsuran ( Installment Sales) adalah jual beli barang di mana penjual melaksanakan penjualan dengan cara menerima pelunasan pembayaran yang dilakukan oleh pembeli dalam beberapa kali angsuran atas barang yang telah disepakati bersama dan diikat dalam suatu perjanjian serta hak milik atas barang tersebut beralih dari penjual kepada pembeli pada saat barangnya diserahkan oleh penjual kepada pembeli.

Perbedaan sewa dengan jual beli angsuran adalah:

(a) Pada jual beli dengan angsuran, hak milik berpindah pada saat barang diserahkan penjual kepada pembeli, sedangkan pada sewa , hak milik atas barang tetap berada pada lessor.

(b) Pada sewa (lease), jangka waktunya disesuaikan dengan masa manfaat dari barang yang disewa guna usahakan, sedangkan pada jual beli dengan angsuran ditetapkan sepihak oleh penjual. 2.Keunggulan Sewa

Jika dibandingkan antara sewa dengan membeli tunai melalui utang bank, maka sewa memiliki beberapa keuntungan sebagai berikut : (Dwi Martani et al, 2015)

a. Pendanaan 100%. Pembiayaan dengan sewa mencakup 100% atas nilai aset, sedangkan pembiayaan melalui bank biasanya hanya mencakup 80% dari nilai aset, sehingga dengan pembiayaan bank, perusahaan harus mencari dana tambahan sebesar 20% agar dapat membeli aset tersebut.

b. Bunga tetap. Walaupun tidak menutup kemungkinsn tingkat bunga

sewa berfluktuasi, namun sebagian sewa menawarkan tingkat bunga tetap sehingga pembayaran sewa juga tetap. Pembayaran sewa yang tetap lebih memberikan kepastian pada pengelolaan arus kas masa depan perusahaan.

c.Perlindungan terhadap keusangan. Perjanjian sewa terkadang memberikan opsi kepada lessee untuk mengajukan kepada lessor untuk mengganti aset sewaan yang sudah usang atau ketinggalan teknologi dengan aset yang lebih baru. Hal ini menjamin lessee untuk mendapatkan aset yang baik dan terkini.

d.Fleksibel. Perjanjian sewa lebih fleksibel dan tidak seketat perjanjian pinjaman pada bank sehingga lebih menjangkau banyak kalangan

99

termasuk UKM. Lessor yang khusus berbisnis penyewaan, tentunya telah menyediakan berbagai skema jangka waktu dan besaran cicilan yang diinginkan.

e.Bunga lebih rendah. Rata-rata tingkat bunga (leasing) lebih rendah dibandingkan suku bunga pinjaman bank. Hal ini akan menguntungkan lessee karena mendapatkan pendanaan dengan biaya lebih rendah.

f Keuntungan pajak. Dalam sewa pembiayaan, penyerahan aset sewaan tidak dikenakan PPN dan lessee tidak memotong PPh Pasal 23 atas pembayaran sewa kepada lessor

g. Pembiayaan off balance sheet. Dengan menyewa, memungkinkan bagi lessee untuk tidak mengakui aset dan liabilitas sewaan di Laporan Posisi Keuangan, sehingga perusahaan dapat menghindari peningkatan leverage. Sedangkan pembelian yang berasal dari pembiayaan bank, perusahaan tidak mungkin menghindari pengakuan aset dan liabilitas yang timbul dari transaksi tersebut 3. Beberapa Pengertian Istilah yang Digunakan Dalam sewa.

a. Awal Masa Sewa adalah tanggal saat lessee mulai berhak menggunakan aset sewaan. Tanggal ini merupakan tanggal pertama kali pengakuan sewa ( yaitu pengakuan aset, liabilitas, pendapatan, atau beban sewa )

b. Awal Sewa adalah tanggal yang lebih awal antara tanggal perjanjian sewa dan tanggal pihak-pihak berkomitmen terhadap persyaratan pokok sewa. Pada tanggal ini :

1. sewa diklasifikasikan sebagai sewa operasi atau sewa pembiayaan 2.untuk sewa pembiayaan, ditentukan jumlah yang diakui pada awal

masa sewa.

c. Biaya Langsung adalah biaya tambahan yang dapat diatribusikan secara langsung pada negosiasi dan pengaturan sewa, kecuali biaya yang dikeluarkan oleh lessor pabrikan atau dealer.

d. Investasi Sewa Bruto adalah jumlah gabungan dari :

1.pembayaran sewa minimum yang akan diterima lessor dalam sewa pembiayaan; dan

2.nilai residu yang tidak dijamin yang menjadi hak lessor

e. Investasi Sewa Neto adalah investasi sewa bruto yang didiskontokan dengan suku bunga implisit dalam sewa.

f. Masa Sewa adalah periode yang tidak dapat dibatalkan yang mana lessee telah menyepakati perjanjian untuk menyewa aset ditambah dengan persyaratan lain yang mana lessee memiliki opsi untuk melanjutkan sewa tersebut, dengan atau tanpa pembayaran lebih

100

lanjut, jika pada awal sewa hampir pasti lessee akan melakukan opsi tersebut.

g. Nilai Residu yang Dijamin adalah :

1. bagi lessee, bagian dari nilai residu yang dijamin oleh lessee atau pihak yang berelasi dengan lessee ( jumlah jaminan adalah jumlah maksimum yang dapat menjadi terutang dalam kondisi apa pun ) dan ;

2.bagi lessor, bagian residu yang dijamian oleh lessee atau pihak ketiga yang tidak berelasi dengan lessor yang secara finansial memiliki kemampuan untuk menyelesaikan kewajiban atas jaminan tersebut.

h. Nilai Residu yang Tidak Dijamin adalah bagian dari nilai residu aset sewaan yang nilai realisasinya tidak dapat dipastikan oleh lessor atau dijamin semata-mata oleh satu pihak yang berelasi dengan

lessor.

i. Nilai Wajar adalah jumlah suatu aset dipertukarkan, atau liabilitas diselesaikan, antara pihak-pihak yang berkeinginan dan memiliki pengetahuan memadai dalam suatu transaksi yang wajar.

j. Pembayaran Sewa Minimum adalah pembayaran sewa selama masa sewa yang harus dibayar ( atau dapat diharuskan untuk dibayar) oleh lessee, tidak termasuk rental kontinjen, biaya jasa, dan pajak yang dibayar dan diganti kepada lessor, ditambah dengan : (1) bagi lessee, jumlah yang dijamin lessee atau oleh pihak yang

berelasi dengan lessee; atau

(2) bagi lessor, nilai residu yang dijamin oleh : (i) lessee;

(ii) pihak yang berelasi dengan lessee, atau

(iii) pihak ketiga yang tidak berelasi denga lessor secara finansial memiliki kemampuan untuk menyelesaikan kewajiban atau jaminan tersebut.

Akan tetapi, jika lessee memiliki opsi untuk membeli aset pada harga yang diperkirakan lebih rendah daripada nilai wajar pada tanggal opsi dilaksanakan, sehingga pada awal sewa hampir dapat dipastikan bahwa opsi tersebut akan dilaksanakan, maka pembayaran sewa minimum meliputi pembayaran minimum terutang selama masa sewa hingga tanggal pelaksanaan opsi pembelian dan pembayaran yang disyaratkan untuk melaksanakan opsi pembelian tersebut.

k. Pendapatan Keuangan yang Belum Diterima adalah selisih antara : (a) investasi sewa bruto; dan

101

(b) investasi sewa neto.

l. Rental Kontinjensi adalah bagian dari pembayaran sewa yang jumlahnya tidak tetap tetapi didasarkan pada perubahan faktor tertentu di masa depan selain faktor berlalunya waktu ( misalnya persentase dari penjualan masa depan, jumlah penggunaan masa depan, indeks harga masa depan, dan suku bunga pasar masa depan )

m. Sewa yang Tidak Dapat Dibatalkan adalah sewa yang hanya dapat dibatalkan:

(1) dengan terjadinya kontinjensi yang kemunginannya sangat kecil (2) dengan persetujuan lessor;

(3) jika lessee mengadakan perjanjian sewa baru atas aset yang sama atau setara dengan lessor yang sama; atau

(4)dengan pembayaran tambahan yang signifikan oleh lessee sehingga secara ekonomik dapat dipastikan pada awal sewa, tidak akan ada pembatalan.

n. Suku Bunga Implisit Dalam Sewa adalah tingkat diskonto yang pada awal sewa menghasilkan jumlah gabungan nilai kini dari :

(1) pembayaran sewa minimum; dan

(2) nilai residu yang tidak dijamin yang nilainya sama dengan jumlah dari nilai wajar aset sewaan dan biaya langsung lessor.

o. Suku Bunga Pinjaman Inkremental Lessee adalah suku bunga yang harus dibayar lessee dalam sewa yang serupa atau, jika suku bunga tersebut tidak dapat ditentukan, suku bunga pada awal sewa yang ditanggung lessee ketika meminjam dana yang diperlukan untuk membeli aset yang mana pinjaman ini mencakup periode dan jaminan yang serupa.

p. Umur Ekonomik adalah :

(1) periode aset diperkirakan secra ekonomik dapat digunkan oleh satu atau lebih pengguna, atau :

(2) jumlah produksi atau unit serupa yang diperkirakan akan diperoleh dari aset oleh satu atau lebih pengguna.

q. Umur Manfaat adalah estimasi periode tersisa mulai dari awal masa sewa, tanpa dibatasi masa sewa, selama masa manfaat ekonomik aset diperkirakan digunakan oleh entitas.

4 .Klasifikasi Sewa

Berdasarkan PSAK 30 (Revisi 2014) Leasing diterjemahka sebagai “Sewa” .Pengklasifikasian sewa didasarkan pada substansi transaksi dan bukan pada bentuk kontraknya. Sewa diklasifikasikan sebagai berikut :

102

a. Sewa pembiayaan ( finance lease ) yaitu sewa yang mengalihkan secara substansial seluruh risiko dan manfaat yang terkait dengan kepemilikan suatu aset. Hak milik pada akhirnya dapat dialihkan, dapat juga tidak dialihkan.

Contoh dari situasi yang secara individual atau gabungan dalam kondisi normal mengarah pada sewa yang diklasifikasikan sebagai sewa pembiayaan adalah :

(1) sewa mengalihkan kepemilikan aset kepada lessee pada akhir masa sewa;

(2) lessee memiliki opsi untuk membeli aset pada harga yang diperkirakan cukup rendah dibandingkan dengan nilai wajar pada tanggal opsi mulai dapat dilaksanakan, sehingga pada awal sewa dapat dipastikan bahwa opsi tersebut akan dilaksanakan;

(3) masa sewa adalah untuk sebagian besar umur ekonomik aset meskipun hak milik tidak dialihkan;

(4) pada awal sewa, nilai kini dari jumlah pembayaran sewa minimum secara substansial mendekati nilai wajar aset sewaan ; dan

(5) aset sewaan bersifat khusus dan di mana hanya lessee yang dapat menggunakannya tanpa perlu modifikasi secara material.

Indikator dari situasi yang secara individual ataupun gabungan dapat juga menunjukkan bahwa sewa diklasifikasikan sebagai sewa pembiayaan adalah :

(1)jika lessee dapat membatalkan sewa, maka kerugian lessor yang terkait dengan pembatalan ditanggung oleh lessee;

(2) keuntungan atau kerugian dari fluktuasi nilai wajar residu dibebankan kepada lessee ( misalnya, dalam bentuk potongan harga rental yang sama dengan sebagian besar hasil penjualan residu pada akhir sewa); dan

(3) lessee memiliki kemampuan untuk melanjutkan sewa untuk periode kedua dengan nilai rental yang secara substansial lebih rendah daripada nilai pasar rental.

Pada awal masa sewa, lessee mengakui sewa pembiayaan sebagai aset dan liabilitas dalam laporan posisi keuangan sebesar nilai wajar aset sewaan atau sebesar nilai kini dari pembayaran sewa minimum, jika nilai kini tersebut lebih rendah daripada nilai wajar.Penilaian ditentukan pada awal masa sewa. Tingkat diskonto yang digunakan dalam perhitungan nilai kini dari pembayaran sewa minimum adalah suku bunga implisit dalam sewa, jika dapat digunakan secara praktis; jika tidak, digunakan suku bunga pinjaman inkremental lessee yaitu suku bunga yang harus

103

dibayar lessee dalam sewa yang serupa atau, jika suku bunga tersebut tidak dapat ditentukan, suku bunga pada awal sewa yang ditanggung lessee ketika meminjam dana yang diperlukan untuk membeli aset yang mana pinjaman ini mencakup periode dan jaminan yang serupa. Biaya langsung awal dari lessee ditambahkan dalam jumlah yang diakui sebagai aset.

Sewa pembiayaan menimbulkan beban penyusutan untuk aset tersusutkan dan beban keuangan pada setiap periode akuntansi. Kebijakan penyusutan untuk aset sewaan konsisten dengan aset yang dimiliki sendiri, dan penghitungan penyusutan yang diakui berdasarkan PSAK 16 d dan PSAK 19. Jika tidak ada kepastian yang memadai bahwa

lessee akan mendapatkan hak kepemilikan pada akhir masa sewa, maka

aset sewaan disusutkan secara penuh selama jangka waktu yang lebih pendek antara masa sewa dan umur manfaatnya. ( Umur manfaat adalah estimasi periode tersisa dari awal masa sewa, tanpa dibatasi masa sewa, selama masa manfaat ekonomik aset diperkirakan digunakan oleh entitas )

Menurut Keputusan Menteri Keuangan Nomor : 1169/KMK.01/1991 tanggal 27 November 1991 kriteria sewa guna usaha pembiayaan adalah : (a) jumlah pembayaran sewa guna usaha selama masa sewa guna usaha

pertama ditambah dengan nilai sisa barang modal, harus dapat menutup harga perolehan barang modal ditambah keuntungan lessor; (b) masa sewa guna usaha ditetapkan sekurang-kurangnya 2 (dua) tahun

untuk barang modal Golongan I, 3 (tiga) tahun untuk barang modal Golongan II dan III, dan 7 ( tuju) tahun untuk Golongan Bangunan; (c) perjanjian sewa guna usaha memuat ketentuan opsi bagi lessee.

Sedangkan menurut Kieso, Weygant, Warfield kriteria sewa pembiayaan adalah:

(a) lessor mengalihkan kepemilikan properti kepada lessee; (b) lessee memiliki opsi untuk membeli dengan harga khusus;

(c) jangka waktu lease adalah untuk sebagian besar dari estimasi umur ekonomi aset yang disewa;

(d) Nilai sekarang dari pembayaran sewa guna usaha minimum ( tidak termasuk biaya eksekusi) sama dengan nilai wajar properti yang disewa guna usaha.

104

Menurut PSAK 30 (revisi 2014) sewa operasi adalah sewa selain sewa pembiayaan. Suatu sewa diklasifikasikan sebagai sewa operasi jika sewa tidak mengalihkan secara substansial seluruh risiko dan manfaat yang terkait dengan kepemilikan aset.

Lessor menyajikan aset untuk sewa operasi dalam laporan posisi

keuangan. Pendapatan sewa dari sewa operasi diakui sebagai pendapatan dengan dasar garis lurus selama masa sewa, kecuali terdapat dasar sistematis lain yang lebih menceminkan pola waktu yang mana penggunaan manfaat aset sewaan menurun.

Biaya, termasuk penyusutan yang terjadi untuk memperoleh pendapatan sewa diakui sebagai beban.

Sedangkan menurut Keputusan Menteri Keuangan Nomor : 1169/KMK.01/1991 tanggal 27 November 1991 kriteria sewa operasi adalah :

(a) jumlah pembayaran sewa guna usaha selama masa sewa guna usaha tidak dapat menutupi harga perolehan barang modal lessor yang disewa guna usahakan ditambah keuntungan yang diperhitungkan

lessor;

(b) perjanjian sewa guna usaha tidak memuat ketentuan mengenai hak opsi bagi lessee

Menurut Kieso, Weygant, dan Warfield kriteria sewa operasi adalah bila sewa tidak memenuhi kriteria salah satu kriteria sewa pembiayaan 4. Perlakuan Akuntasi atas Sewa.

4.1 Sewa Pembiayaan 4.1.1 Lessee

a. Pengakuan awal.

Pada awal masa sewa, lessee mengakui sewa pembiayaan sebagai aset dan liabilitas dalam neraca sebesar nilai wajar aset sewaan atau sebesar nilai kini dari pembayaran sewa minimum, jika nilai kini lebih rendah dari nilai wajar. Penilaian ditentukan pada awal kontrak. Tingkat diskonto yang digunakan dalam perhitungan nilai kini dari pembayaran sewa minimum adalah tingkat suku bunga implisit dalam sewa, jika dapat ditentukan secara praktis; jika tidak, digunakan tingkat suku bunga pinjaman inkremental lessee. Biaya langsung awal yang dikeluarkan lessee ditambahkan ke dalam jumlah yang diakui sebagai aset. (tingkat bunga inkremental lessee adalah tingkat bunga yang harus dibayar lessee dalam sewa yang serupa, atau jika tingkat bunga tersebut tidak dapat ditentukan, tingkat bunga yang pada awal sewa yang harus ditanggung oleh lessee ketika

105

meminjam dana yang diperlukan untuk membeli aset tersebut yang mana pinjaman ini mencakup periode dan jaminan yang serupa) b.Pengukuran Setelah Pengakuan Awal

Pembayaran sewa minimum harus dipisahkan antara bagian yang merupakan beban keuangan dan bagian yang merupakan pelunasan liabilitas. Beban keuangan harus dialokasikan ke setiap periode selama masa sewa sedemikian rupa sehingga menghasilkan suatu tingkat suku bunga periodik yang konstan atas saldo liabilitas. Rental kontinjen dibebankan pada awal terjadinya

c.Penyusutan

Suatu sewa pembiayaan menimbulkan beban penyusutan untuk aset yang dapat disusutkan dan beban keuangan dalam setiap periode akuntansi. Kebijakan penyusutan untuk aset sewaan harus konsisten dengan aset yang dimiliki sendiri. Jika tidak ada kepastian yang memadai bahwa lessee akan mendapatkan hak kepemilikan pada

Dokumen terkait